Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

ANALISA BASIL TAHAN ASAM PADA DAHAK PENDERITA TUBERKULOSIS SEBELUM DAN SESUDAH MENDAPAT PENGOBATAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS DI UPT. RUMAH SAKIT KHUSUS PARU MEDAN Ellen Maidia Djatmiko; Debie Rizqoh; Putri Maulida; Elvira Yunita
Jurnal Medika Malahayati Vol 7, No 3 (2023): Volume 7 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v7i3.10845

Abstract

Abstrak: Analisa Basil Tahan Asam pada Dahak Penderita Tuberculosis Sebelum dan Sesudah Mendapat Pengobatan Obat Anti Tuberculosis di UPT. Rumah Sakit Khusus Paru Medan. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular akut maupun kronis, terutama menyerang paru, yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis merupakan penyakit yang menjadi perhatian global. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) adalah komponen terpenting dalam pengobatan tuberkulosis untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari kuman tuberkulosis dan mempercepat proses penyembuhan pasien TB. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui BTA pada dahak penderita TB paru sebelum dan sesudah mendapat pengobatan OAT. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif yang dilakukan di UPT. Rumah Sakit Khusus Paru Medan pada bulan Juli–Agustus 2017. Pemeriksaan ini dilakukan secara mikroskopis dengan menggunakan metode pewarnaan Ziehl Neelsen terhadap 17 sampel yang telah mendapat pengobatan OAT selama 6 bulan secara teratur. Dari hasil penelitian ini dapat menunjukkan adanya perubahan pada pasien TB Paru sebelum dan sesudah mendapat pengobatan OAT selama 6 bulan secara teratur. Data pemeriksaan awal sebelum mendapat pengobatan terdapat 100% dengan hasil pemeriksaan BTA (+3) dan sesudah mendapat pengobatan OAT selama 6 bulan secara teratur tidak ditemukan BTA (negatif) yaitu 0%. Hal ini menunjukkan bahwa efektifitas pengobatan di Labotratorium UPT. Rumah Sakit Khusus Paru Medan dapat dikatakan baik.
Analisis In Silico Potensi Hesperidin sebagai Inhibitor Main Protease (Mpro) Pada SARS CoV-2 dan Reseptor Angiotensin Converting Enzyme-2 (ACE-2) Yunita, Elvira; Sariyanti, Mardhatillah
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 9 No 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v9i2.33465

Abstract

Latar Belakang: Angiotensin Converting Enzyme-2 (ACE-2) dan proses transkripsi dari genome RNA virus oleh Main Protease (Mpro) memiliki peran penting sebagai mekanisme patogenesis virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Penghambatan aktivitas ACE-2 dan Mpro menggunakan berbagai senyawa seperti hesperidin yang terkandung dalam buah kalamansi (Citrus microcarpa) khas bengkulu menjadi salah satu target pengobatannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan senyawa hesperidin dari golongan flavonoid dalam berinteraksi dengan sisi aktif ACE-2 dan Mpro menggunakan metode molecular docking. Metode: Penelitian secara in silico dengan menggunakan metode molecular docking pada struktur 3D ACE-2 (PDB ID 1R4L) dan Mpro (PDB ID 7JQ1) terhadap Hesperidin yang diambil dari situs database Protein Data Bank dan diolah dengan program BIOVIA Discovery Studio dan Autodock Vina. Hasil: Analisis skor docking dan ikatan ligan dan sisi aktif ACE-2 serta Mpro menunjukan bahwa keduanya memiliki ikatan spontan (∆G -12,1 kkal/mol pada ACE-2 dan -9.5 kkal/mol pada Mpro) terhadap hesperidin dan dapat mengikat pada sisi aktif reseptor. Hesperidin hanya memenuhi satu dari tiga kriteria Lipinski’s Rule of five sehingga hesperidin dapat dikembangkan sebagai obat non-oral. Kesimpulan: Hesperidin dapat membentuk ikatan secara spontan (∆G < 0) pada sisi aktif protein ACE-2 dan Mpro berdasarkan hasil molecular docking. Ikatan antara senyawa hesperidin lebih kuat dengan protein ACE-2 dibandingkan dengan protein Mpro. Hesperidin dapat berpotensi sebagai kandidat obat baru sebagai inhibitor ACE-2 dan aktivitas Mpro. Kata Kunci: SARS-CoV-2, Reseptor ACE-2, Mpro, Hesperidin, In Silico
SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW: USIA DAN GOLONGAN DARAH DENGAN POLIMORFISME APO-E PADA PENDERITA JANTUNG KORONER (PJK) Hasanah, Qomariah; Yunita, Elvira; Hasanah, Nur
Edu Masda Journal Vol 7, No 1 (2023): Edu Masda Journal Volume 7 Nomor 1
Publisher : STIKes Kharisma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52118/edumasda.v7i1.173

Abstract

Coronary Heart Disease (CHD) has two risk factors, namely risk factors that cannot be modified including genetics, age, blood type and gender. Recent research on apo E gene polymorphism in people with CHD shows that there is a relationship between age factors and blood type factors to the incidence of apo-e gene polymorphism. The purpose of this study was to examine the relationship between age and blood group factors on the apo E gene polymorphisms found in CHD patients. This study used the Systematic Literature Review (SLR) method using several article references that are relevant to the relationship of age and blood type factors with the incidence of Apo-E gene polymorphism in patients with coronary heart disease. The search for lliteratur sources focuses on medical and health scientific publications on the NCBI search site (Pubmed) and Google Scholar searches. The secondary data source in this review literature comes from literature published in the last 5 years, namely 2017-2022. The results of the study showed that genetically the apo E4 allele of the APO-E gene is strongly associated with an increase in LDL, resulting in an increase in coleterol in the blood. The age factor shows that the more you get older, the greater the probability of CHD events. A person who has a non-O blood type is more at high risk of developing CHD, that is, the blood type A group is more at high risk when compared to the blood type B group.ABSTRAK Jantung Koroner (PJK) mempunyai dua faktor resiko, yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi meliputi genetik, usia, golongan darah dan jenis kelamin. Penelitian terbaru mengenai Polimorfisme gen apo E pada penderita PJK menunjukkan bahwa ada hubungan antara faktor usia dan faktor golongan darah terhadap kejadian polimorfisme gen apo-e. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan antara faktor usia dan faktor golongan darah terhadap polimorfisme gen apo E yang ditemukan pada penderita PJK. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) menggunakan beberapa refensi artikel yang relevan dengan hubungan faktor usia dan golongan darah dengan kejadian polimorfisme gen Apo-E pada penderita penyakit jantung koroner. Pencarian sumber lliteratur berfokus pada publikasi ilmiah kedokteran dan kesehatan pada situs pencarian NCBI (Pubmed) dan pencarian Google Scholar. Sumber data sekunder dalam literatur review ini berasal dari literatur yang di publikasikan 5 tahun terakhir, yaitu tahun 2017-2022. Hasil kajian penelitian menunjukkan bahwa secara genetik alel apo E4 dari gen APO-E sangat berhubungan dengan peningkatan LDL, sehingga terjadi peningkatan koleterol dalam darah. Pada faktor usia memnunjukkan bahwa semakin bertambahnya usia maka kemungkinan terjadinya kejadian PJK akan semakin besar. Seseorang yang memiliki golongan darah non-O lebih berisiko tinggi terkena PJK, yaitu kelompok bergolongan darah A lebih berisiko tinggi bila dibandingkan dengan kelompok bergolongan darah B. 
HYPOBARIC HYPOXIA, INTERVENTIONS AND OUTCOMES : A SCOPING REVIEW Masengi, Angelina Stevany Regina; Yunita, Elvira
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i2.28765

Abstract

Aktivitas pekerjaan di lingkungan dataran tinggi membuat individu mengalami hipoksia hipobarik dan tekanan atmosfer rendah, yang menyebabkan risiko kesehatan yang unik. Memahami dampak fisiologis dari tenaga kerja di ketinggian sangat penting untuk keselamatan pekerja. Ulasan cakupan ini melihat sifat bervariasi dari penelitian hipoksia hipobarik, menyoroti pentingnya dalam memahami respons fisiologis terhadap keadaan hipoksia. Dari 2019 hingga 2024, ekstensi Item Pelaporan Pilihan untuk Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis untuk Tinjauan Pelingkupan (PRISMA-ScR) digunakan untuk melakukan pencarian literatur di PubMed, Perpustakaan Online Wiley, dan publikasi terpilih. Enam puluh lima makalah yang berpotensi relevan ditemukan, 24 di antaranya memenuhi kriteria inklusi. Investigasi yang disertakan, yang diterbitkan antara 2020 dan 2023, mencakup 15 penelitian pada hewan dan dua studi pada manusia. Hipoksia hipobarik intermiten memiliki efek perlindungan pada tingkat molekuler dan fungsional pada 88,24% penyelidikan, terutama dalam hal penurunan indikator stres oksidatif. Penelitian pada manusia telah menunjukkan pelatihan hipoksia intermiten meningkatkan kinerja atletik dan fungsi hemodinamik. Penelitian pada hewan menunjukkan perubahan dalam karakteristik genetik, histologis, dan fungsional di bawah situasi hipoksia hipobarik yang berbeda. Sementara hipoksia hipobarik intermiten tampaknya melindungi fungsi tubuh, efek pada fungsi kognitif tetap tidak diketahui.
PPAR-γ, but not KCNJ11, Is Associated with Type 2 Diabetes Mellitus Progression among First-Generation Offspring of Lembak Ethnicity in Bengkulu, Indonesia Dita, Diah Ayu Aguspa; Yunita, Elvira; Rizqoh, Debie; Ashan, Hesty Rhauda; Fahira, Dita
Althea Medical Journal Vol 12, No 4 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/amj.v12n4.4448

Abstract

Background: Genetic and environmental factors influence the onset and progression of type 2 diabetes mellitus (T2DM). Variants affecting peroxisome proliferator activated-receptor gamma (PPAR-γ) and potassium, inwardly rectifying channel subfamily J member 11 (KCNJ11) may alter insulin secretion and sensitivity. This study investigated the association between PPAR-γ and KCNJ11 gene expression and the risk of T2DM among first-generation (F1) offspring of T2DM patients of Lembak ethnicity in Bengkulu, Indonesia.Methods: A cross-sectional observational study was conducted from July to September 2024, recruiting 60 unrelated participants aged 18–40 years, all of whom were exposed to the neron tradition (high-sugar consumption). Gene expression of PPAR-γ and KCNJ11 was determined using real-time quantitative PCR (qRT-PCR).Results: F1 offspring of T2DM patients (n=30) had significantly (p<0.05) higher body weight (66.89±15.62 kg; p=0.008), body mass index (BMI) (23.55±3.46 kg/m2), HbA1C (6.55±1.25), random blood glucose levels (median 131 [75–371] mg/dl), and duration of neron consumption (median 3 [1–12] years) compared with controls (n=30). PPAR-γ expression differed significantly between group (1.60±2.91 vs 4.23±8.54; p=0.009), whereas KCNJ11 expression did not (0.79±0.76 vs 1.37±0.89; p=0.124). Multivariate analysis revealed no correlation between gene expression and the patients characteristic (p>0.05). Linear regression showed 30.4% of PPAR-γ and 45.8% of KCNJ11 variability.Conclusions: PPAR-γ expression is associated with T2DM onset among Lembak F1 offspring, whilst KCNJ11 expression is not. Multiple genetic and environmental factors likely contribute to disease progression. Screening for PPAR-γ expression may support interventions targeting insulin sensitivity and lipid metabolism.
Effectiveness of AI-Based Chatbots as Additional Psychiatry Assistive Technology and Alternative to Mental Health Services for Adolescents Rahmat, Arya Dwi; Tauhid, Alfana Yudaru; Mulyadi, Faizah Azzahrah; Ellfazmy, Asyifa; Nikki Aldi Massardi; Elvira Yunita
Surabaya Physical Medicine and Rehabilitation Journal Vol. 8 No. 1 (2026): SPMRJ, FEBRUARY 2026
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/spmrj.v8i1.75554

Abstract

Background: Adolescents' lives have been profoundly impacted by the rapid development of artificial intelligence (AI), especially in mental health. AI provides easier access to learning and psychological support through chatbots. However, it also raises concerns like dependency, reduced critical thinking, risks of stress, and social isolation, especially due to social media algorithms that shape digital behavior. Data privacy and diagnostic accuracy are also key issues in mental health applications. Aim: The main objective of this review is to examine whether AI-based chatbots can serve as an additional psychiatry assistive technology to help adolescents. Scope: The review was carried out by examining research articles from databases including PubMed and Google Scholar, with a focus on papers published between 2020 and 2025. Findings: AI chatbots like Emohaa, Elomia, and SEJATI have proven effective in alleviating symptoms of depression, anxiety, and insomnia. They provide immediate support, promote emotional expression, and foster self-awareness. These chatbots have also shown promise in telerehabilitation contexts by aiding in monitoring, providing behavioral feedback, and facilitating early intervention. However, an overreliance on AI systems might hinder emotional sensitivity and social growth. Conclusion: AI chatbots hold significant promise as therapeutic resources in adolescent mental health, especially in under-resourced environments. However, their application must be carefully weighed against ethical considerations, data privacy safeguards, and continuous professional supervision. The responsible incorporation of AI into mental health care can enhance access and customization while reducing psychological and social risks.