Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Riptek

KAJIAN KESIAPAN STAKEHOLDER INDUSTRI PERDAGANGAN DAN JASA TERHADAP ERA INDUSTRI 4.0 Sucihatiningsih DWP; Wahyu Hardyanto; Yozi Aulia Rahman; Phany Ineke Putri; Dyah Maya Nihayah
Jurnal Riptek Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.743 KB) | DOI: 10.35475/riptek.v13i2.66

Abstract

Sektor industri perdagangan dan jasa memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Kota Semarang. Selain, menyumbang kontribusi terhadap PDRB Kota Semarang, juga menyerap tenaga kerja yang banyak. Seiring dengan perkembangan industri 4.0 yang mengarah pada teknologi tinggi (high-tech) dan penggunaan Internet Of Things (IOT), maka Sektor industri perdagangan dan jasa di Kota Semarang harus dapat menyesuaikan diri dan bersiap dengan perubahan mekanisme tersebut.Tujuan penelitian ini untuk (1) Mendeskripsikan dan menganalisis kesiapan stakeholder industri perdagangan dan jasa (industri, pemerintah daerah, masyarakat dan UMKM Perguruan Tinggi dan Media) dalam era industri 4.0. (2) Menyusun rekomendasi strategi yang dapat dilakukan oleh stakeholder industri perdagangan dan jasa dalam menghadapi perkembangan industri 4.0.Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat explorative. Data yang digunakan adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Dalam penelitian ini, data primer yang dibutuhkan mencakup; Survei kesiapan industri perdagangan dan jasa dengan enam indikator penilaian. Survei tersebut ditujukan kepada para pengusaha di bidang industri perdagangan dan jasa. Ada 2 metode analisis yang digunakan untuk menjawan pertanyaan dalam penelitian ini yaitu yang pertama adalah analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif dan yang kedua adalah analisis SWOT.            Hasil penelitian menunjukan bahwa Kesiapan sektor industri Kota Semarang dalam menghadapi era industri 4.0 berada pada level 3 atau experienced (berpengalaman) dengan nilai rata-rata 3,08. Hasil tersebut didorong oleh beberapa perusahaan berskala nasional yang berada di kawasan industri dengan cakupan pasar yang luas dan dalam proses produksi hingga distribusi telah menggunakan bantuan teknologi maupun mesin yang dapat dilakukan secara otomatis. Pemerintah daerah telah menerapkan sistem pelayanan kepada masyarakat secara Online dengan penerapan semarang smart city seperti Smart Governance, Smart Branding, Smart Economy, Smart Living, Smart Society, dan Smart Environment. Masyarakat Kota Semarang memiliki kesiapan dalam menghadapi industri 4.0 baik dinilai dari aspek IPM, pendidikan, garis kemiskinan dan indikator lainnya. Secara garis besar, UMKM di Kota Semarang belum siap dalam penerapan teknologi dalam kegiatan bisnisnya. Dari aspek produk dan layanan, UMKM yang telah menggunakan EDC (Electronic Data Capture) hanya baru 16% dan yang menggunakan metode pembayaran melalui fintech hanya 12%. Kemudian dari aspek model bisnis, UMKm yang telah menggunakan perangkat komputer hanya sekitar 28%,UMKM yang memiliki fasilitas jaringan internet sebesar 38% dan UMKM yang menggunakan mesin dan peralatan otomatis sekitar 41%. Selanjutnya dari aspek strategei dan organisasi, meskipun sebagian besar pelaku UMKM telah memiliki kecakapan dalam penggunaan teknologi, namun UMKM yang menggunakan transaksi non tunai baru sekitar 32%. Perguruan tinggi di Kota Semarang baik negeri maupun swasta telah siap dalam menghadapi era industri 4.0. hal ini dapat dilihat dari sudah tersedianya banyak perguruan tinggi yang telah memiliki kurikulum yang sesuai dengan era industri 4.0. Media massa di Kota Semarang belum sepenuhnya siap dalam menghadapi era industry 4.0, hal ini dapat dilihat dari belum semua media massa yang ada di Kota Semarang yang memiliki aplikasi berbasis smartphone di dalam menjalankan bisnisnya.
KAJIAN INDEKS KEBAHAGIAAN KOTA SEMARANG TAHUN 2018 Etty Soesilowati; Dyah Maya Nihayah; Phany Inneke Putri
Jurnal Riptek Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.247 KB) | DOI: 10.35475/riptek.v12i2.1

Abstract

During this time someone's happiness is identical with the material. In other words, the level of welfare is measured by the level of income. Actually, The level of community welfare can actually be measured in two ways, first, using the same standard (objective indicators)and second, unequal standards (subjective indicators). One of welfare indicators that measures achievement based on standards that are not the same for each individual is the Happiness Index. The research objective is to (1) find out how the Semarang City happiness index is in 2018; (2) to see how big is the difference of Happiness Index between people in Semarang City based on their level of education, gender, marital status, income, and length of stay. The main variables used in this study include material and immaterial aspects which include: (1) Household Income that represents individual work & income, (2) Condition of Houses and Assets, (3) Education, (4) Health, (5 ) Family Harmony, (6) Social Relations, (7) Availability of Leisure Time, (8) Environmental & Security Conditions, (9) Affection representing indicators of Achieved Desires/ Expectations & Life Satisfaction, (10) Life Happiness. The results showed that Semarang City Happiness Index in 2018 is 73.50. By gender, men are happier than women. From the level of education, the level of education of S2 and S3 is a group of citizens whose happiness index scores are always the highest. Citizens with married status are the happiest group. From the Income Level category, the happiest people are people with income of more than Rp. 7,200,000.00. The happiest groups of people are those who have lived for 21-30 years. This community group has an index value of 75.15. It turns out that the size of happiness in the city of Semarang is not only seen from a material size, but also obtained from the synergy with aspects of calm and tranquility of life. Therefore, the most important values in the determination of policies (regulation, planning policies, budgeting and finance or even development human resources and infrastructures policies) and The Government should concern on how to gain sustainability and conducive climate in formulating development programs, that can make community feel safe, comfortable, calm and peaceful.
KAJIAN INDEKS KEBAHAGIAAN KOTA SEMARANG 2017 Dyah Maya Nihayah; Etty Soesilowati; Phany Ineke Putri
Jurnal Riptek Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.619 KB) | DOI: 10.35475/riptek.v11i2.26

Abstract

Development progress has been seen more from economic indicators, such as economic growth and poverty reduction. The indicator is considered insufficient to describe the actual level of wellbeing. Economic indicators such as the value of HDI and the growth of GRDP per capita of Semarang City for the last five years continue to increase. However, the high economic growth of Semarang City leaves a gap in problems such as income distribution, poverty and other social problems. So this study aims to examine the index of community happiness Semarang City in 2017 compared with 2016. This study is a study where the data source obtained from a number of 404 samples taken by the method of three stages purposive random sampling. There are ten essential domains / variables that reflect the level of individual happiness, including: (1) health, (2) education, (3) household income, (4) environment and security, (5) family harmony, (6) social relations , (7) availability of free time, (8) Houses and Assets, (9) affection, and (10) happiness of life. The results showed that the happiness index of Semarang City in 2017 was 70.18. This value decreased from IK in 2016, amounting to 1.37 points. Although in general IK value fell, the variable of education and health performance better. This is seen from the value of happiness when the majority of the variable values fall, the variable of education and health, the value rises compared to 2016.
Co-Authors Aditria, Intan Putri Aditya, Agung Afif Dhia Pratama Agung Agung Agus Hermanto Ahmad Shidiq, Ahmad Akhtar, Rana Sharjeel Amin Pujiati Andryan Setyadharma Angelica, Seanita Febriana Anik Susanti Anik Susanti Annis Nurfitriana Nihayah Aulia, Rizka Elfina Avi Budi Setiawan Badar Fadlan Ibrahim Badar Fadlan Ibrahim Cahya Wulandari Damayanti, Anggita Dewanto, Effri Satrio Dewi Karisma Dewi Karisma Dewi, Lutfiani Puspita Dikky Nur Hidayat Dwi Rahmayani, Dwi Eni Kusrini, Eni Etty Soesilowati Fafurida Fafurida Fatimahtuzzahra, Shella Monica Fredericho Mego Sundoro Hakim, Muh. Adrikni Al Imam Mubarok Indung Wijayanto Ita Nuryana Jeane Talakua Karsinah - Khayati, Afif Nur Kholqiyah, Dewi Azizatul Kinasih, Putri Suri Kurniasih Kurniasih Kurniasih Kurniasih Kurniawan, Gilang Fajar Kusumantoro Malia, Shavera Sofiana Margaret, Silvia Medi Elfani Medi Elfani MG. Endang Sri Utari, MG. Endang Sri Moh. Khoiruddin Mukhoyyaroh, Vina Durrotul Mustapa, Alan Nihayah, Annis Nurfitriana Nurfitrokha, Yunilia Nuriya, Alvi Shafira Khoiri Nurjannah Rahayu Kistanti Nursaidah Nursaidah, Nursaidah P. Eko Prasetyo Pangestika, Maulida Dewi Pangestika, Zalma Niendya Phany Ineke Putri Phany Ineke Putri, Phany Ineke Phany Inneke Putri Prasetyo Ari Bowo, Prasetyo Ari Prastiwi, Fifi Setyo Putri Patria Kusuma Putri, Dian Khoiriyani Rachman, Mohammad Aulia Rafikawati, Yulia Fajar Rahayu, Wiwiet Septiani Rahayu, Wiwiet Septiani Rahman, Yosi Aulia Rediana Setiyani, Rediana Reikha Habibah Yusfi Retno Febriyastuti Widyawati Ridzuan, Abdul Rahim Rindra, Sarah Rochaningrum, Eka Rochaningrum, Eka Santos, Nisrina Hanifah Shella Monica Fatimahtuzzahra Sri Utari, MG. Endang Sucihatiningsih DWP Syifa Sa’adah Syifa Sa’adah Tazaruwah, Destin Witari Wahyu Hardyanto Yozi Aulia Rahman, Yozi Aulia Yunilia Nurfitrokha