Tjokorda Sari Nindhia
Laboratorium Epidemiologi Dan Biostatistik Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Bali Indonesia

Published : 36 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Dimensi Kuku Sapi Bali Yarisetouw, Nicolas; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.271 KB)

Abstract

Kaki sapi bali yang baik adalah kaki yang proporsional dengan ukuran tubuh, mampu menopang tubuh secara tegak lurus. Bagian kuku perlu diperhatikan karena kuku yang terganggu akan membuat pertumbuhan sapi kurang optimal. Kuku sapi harus kokoh, tidak sensitif, dapat tumbuh dan berkembang terus, dan memiliki elastisitas yang tinggi. Sapi bali yang digemukan cenderung memiliki kuku yang tumbuh lebih panjang dibandingkan dengan sapi bali yang dibiarkan bebas. Tujuan Penelitian untuk mengetahui dimensi ukuran kuku kaki depan dan kaki belakang sapi bali serta menentukan ukuran standar normal (panjang kuku, tinggi kuku, diagonal kuku, lebar kuku, luas kuku, tinggi tumit)  kaki depan dan kaki belakang sapi bali jantan dan betina. Sampel  yang digunakan pada penelitian ini adalah sapi bali dewasa sebanyak 40 ekor, terdiri dari 20 jantan dan 20 betina dewasa di Pasar Hewan Bringkit Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, dan pengukuran dilakukan pada sapi dalam keadaan berdiri. Metode Penelitian ini menggunakan uji Independent-Samples T-test pada selang kepercayaan 95% dan 99% dengan Statistical Program for Social Science(SPSS) for Window versi 17.0. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa dimensi ukuran  kuku  kaki yang terdiri dari ukuran-ukuran standar kuku, panjang, tinggi tumit, diagonal kuku, dan lebar kuku kaki sapi jantan lebih besar dari pada kuku sapi betina.
Keragaman Performa Reproduksi Babi Landrace Betina di Kabupaten Tabanan Bali Pero, Fransisco Victoriano; Nindhia, Tjokorda Sari; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.716 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.54

Abstract

Babi landrace menjadi pilihan pertama para peternak karena babi landrace memiliki rata-rata tingkat kelangsungan hidup tertinggi pasca proses penyapihan sehingga banyak digunakan sebagai indukan. Kabupaten Tabanan merupakan sentra peternakan babi di Provinsi Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman performa reproduksi dan korelasi antar performa reproduksi dari babi landrace betina. Cara pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan kuisioner, data dianalisis dengan analisis faktor komponen utama, dengan 15 komponen variabel yang diambil berdasarkan rata-rata performa reproduksi yang biasanya terjadi. Hasil dari penelitian ini komponen performa reproduksi lama birahi memiliki keragaman paling kecil, sedangkan variabel yang memiliki keragaman yang paling besar adalah umur maksimal beranak. Umur maksimal kawin dan umur maksimal beranak mempunyai korelasi positif yang paling tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat perbedaan keragaman serta korelasi antara komponen penampilan reproduksi babi landrace betina. Perlu dilakukan seleksi babi landrace betina terhadap performa reproduksi yang mempunyai keragaman yang tinggi, sosialisasi terhadap para peternak tentang performa reproduksi yang baik, penerapan manajemen peternakan babi landrace yang berhubungan dengan performa reproduksi serta seleksi terhadap umur maksimal beranak dan umur maksimal kawin yang memiliki keragaman besar untuk mengoptimalkan efisiensi reproduksi babi landrace betina.
Seroprevalensi Tetelo pada Peternakan Itik di Desa Takmung Kabupaten Klungkung Cahyani, Ni Luh Risna; Suardana, Ida Bagus Kade; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (4) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.4.641

Abstract

Itik merupakan salah satu jenis komoditas ternak di Indonesia yang mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai penghasil telur dan daging. Salah satu jenis penyakit yang sering menyerang itik adalah tetelo dimana penyakit ini sangat merugikan bagi industri peternakan unggas. Penyakit ini dapat menyerang ayam, itik dan kalkun dengan gejala klinis tremor, tortikolis, dan inkordinasi. Penyebaran penyakit ini melalui kontak langsung dari itik yang terinfeksi ke itik yang sehat. Penyakit ini telah mewabah diseluruh Indonesia termasuk Provinsi Bali. Seroprevalensi tetelo di Kabupaten Klungkung sekitar 46.2% pada tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa seroprevalensi tetelo pada itik di Desa Takmung, Kabupaten Klungkung tahun 2019. Sampel penelitian adalah serum itik yang diambil dari tiga peternakan di Desa Takmung, Kabupaten Klungkung. Pada setiap peternakan diambil sebanyak 50 sampel. Maka total sampel sebanyak 150 sampel serum itik yang tidak divaksinasi. Serum diuji serologi menggunakan uji hambatan hemaglutinasi (HI) di Laboratorium Virologi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Hasil penelitian menunjukan bahwa di Desa Takmung kabupaten, Kabupaten Klungkung terinfeksi virus tetelo dengan seroprevalensi sebesar 5.33%.
Gambaran Hematologi Anjing Peliharaan di Kota Denpasar Mahindra, Aditya Try; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.314

Abstract

Anjing merupakan hewan peliharaan yang memiliki hubungan paling dekat dengan manusia.Pemeriksaan kesehatan yang rutin harus ada untuk menjaga stamina anjing supaya tetap dalam kondisi prima. Salah satu indikator untuk mengetahui kondisi kesehatan melalui pemeriksaan darah. Populasi anjing di Kota Denpasar pada tahun 2019 menurut Dinas Pertanian Kota Denpasar adalah sekitar 97.522 ekor. Berbagai analisis gambaran darah pada anjing dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh lingkungan lokal terhadap faktor fisiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran darah dari anjing peliharaan yang diberi pakan secara rumahan. Objek penelitian yang digunakan adalah anjing yang dipelihara masyarakat di Kota Denpasar dengan jumlah 47 ekor. Pengambilan sampel darah dilakukan pada anjing-anjing yang dipelihara oleh masyarakat Kota Denpasar. Lokasi penelitian dilaksanakan di Labolatorium Diagnosis Klinik, Patologi Klinik, Radiologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan dan di Balai Besar Veteriner Denpasar. Hasil menunjukkan bahwa anjing di Kota Denpasar banyak yang tidak sehat. Kemungkinan yang menyebabkan anjing tidak sehat yaitu dalam hal pemberian gizi yang kurang baik, dan lingkungan yang terinfestasi penyakit. Perlu adanya peningkatan pemantauan pemeliharaan maupun kesehatan anjing di Kota Denpasar, terutama mengenai pemeriksaan laboratorium kemudian peningkatan kebersihan lingkungan supaya anjing terhindar dari serangan penyakit dan pemberian pakan yang memiliki nutrisi yang baik untuk anjing.
Seroprevalensi Penyakit Tetelo pada Peternakan Itik di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali Lijung, Derfina; Suardana, Ida Bagus Kade; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (5) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.5.787

Abstract

Penyakit tetelo atau Newcastle Disease adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh Paramyxovirus dan merupakan penyakit endemik hampir diseluruh dunia kecuali di Benua Antartika. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seroprevalensi penyakit tetelo pada itik di peternakan itik petelur di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Sampel penelitian sebanyak 76 sampel berasal dari darah itik yang diternakkan secara ekstensif di Desa Baha. Pengambilan sampel dilakukan secara acak (random sampling) dan melalui vena brachialis itik yang berumur enam bulan serta belum pernah diberikan vaksin tetelo. Keberadaan virus dideteksi dengan uji hambatan hemaglutinasi (Haemaglutination Inhibition Test/ HI test). Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 76 sampel yang diperiksa, tiga sampel menunjukkan hasil positif dengan titer antibodi 22-25 HI unit. Simpulannya adalah seroprevalensi penyakit tetelo pada peternakan itik di Desa Baha sebesar 3,94%. Seroprevalensi ini menggambarkan bahwa telah terjadi paparan virus tetelo pada ternak itik yang dipelihara secara ekstensif di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
Pendugaan Bobot Karkas Sapi Bali Jantan dan Betina Berdasarkan Panjang Badan dan Lingkar Dada Ananda, Made Krisna; Sampurna, Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (4) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.4.512

Abstract

Bobot karkas adalah bobot ternak yang sudah disembelih, dikuliti, dan telah dipisahkan bagian kepala, jeroan, keempat kaki mulai dari persedian carpus atau tarsus ke bawah. Jumlah sampel yang diambil yaitu 20 sapi jantan dan 24 sapi betina. Panjang tubuh diukur dari bongkol bahu (tuberositas humeri) sampai ujung tulang duduk (tuber ischii) menggunakan roll meter dan untuk lingkar dada diukur dengan melingkarkan pita ukur pada bagian dada belakang bahu. Karkas yang sebelumnya sudah dikurangi bagian kepala, kulit, keempat kaki bagian bawah termasuk karpal dan tarsal, isi rongga dada, dan isi rongga perut dihitung beratnya menggunakan timbangan duduk. Data yang telah diperoleh dianalisis dengan independent t-test kemudian dianalisis dengan regression metode linear. Hasil pengukuran lingkar dada dan panjang tubuh pada sapi bali diketahui bahwa hasil rerataan lingkar dada sapi bali jantan yaitu 161,4 cm sedangkan pada sapi bali betina 157,2 cm, panjang tubuh sapi bali jantan yaitu 129,5 cm dan betina 116,6 cm, rerataan dari berat karkas pada sapi bali jantan yaitu 171,87 kg sedangkan pada sapi bali betina 115,43 kg. Hasil analisis regresi diperoleh persamaan regresi pada sapi bali jantan Y=0,0005 D2P dengan koefisien korelasi (R)=0,991 sedangkan betina Y=0,0004 D2P dengan koefisien korelasi (R)=0,994. Hal tersebut menunjukkan bahwa panjang tubuh, lingkar dada, dan berat karkas mempunyai keeratan karena mendekati angka 1. Berdasarkan hasil analisis regression metode linear diketahui laju perubahan berat karkas pada sapi bali jantan lebih tinggi daripada sapi bali betina sehingga sapi bali jantan lebih ekonomis untuk dipotong karena memiliki persentase berat karkas lebih tinggi daripada sapi bali betina,
Titer Antibodi Pascavaksinasi Flu Burung Subtipe H5N1 pada Ternak Itik di Baha, Mengwi, Badung, Bali Marson, Fransiska Gratia Sonita; Suardana, Ida Bagus Kade; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (5) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.5.797

Abstract

Itik merupakan satu jenis unggas air yang kini menarik perhatian. Selain sebagai penghasil telur, itik juga merupakan salah satu sumber penyedia bahan pangan berupa daging yang bernilai gizi tinggi. Peternakan itik sering menghadapi kendala serangan penyakit, seperti virus flu burung atau Avian Influenza (AI). Virus AI disebabkan oleh virus dari famili Orthomyxoviridae, genus influenza tipe A, subtipe H5N1. Untuk mengatasi hal tersebut peternak pembibit melakukan vaksinasi pada itik umur 18 hari tanpa dilakukan pengulangan dan akan dijual pada saat itik berusia tiga bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui titer antibodi flu burung subtipe H5N1 pascavaksinasi tunggal pada peternakan itik di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Titer antibodi diuji dengan uji Hemaglutination inhibition (HI) dan dinyatakan dalam rerata titer dengan satuan Log 2. Pengambilan sampel serum dilakukan sebanyak tiga kali dengan jarak waktu pengambilan sampel yaitu dua minggu. Hasil penelitian menunjukan rerata titer antibodi pada tiga kali pengambilan adalah 0 ± 0,000, 0 ± 0,000 dan 0,45 ± 1,395 HI log2. Dari 60 sampel ditemukan dua sampel positif AI dengan persentase seroprevalensi 3,33%. Simpulannya adalah bahwa telah terjadi infeksi virus AI secara alami pada ternak itik yang digembalakan di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
Hasil Pemantauan Pascavaksinasi Flu Burung pada Peternakan Itik di Desa Takmung, Kabupaten Klungkung, Bali Suriana, Ni Komang Valerie; Suardana, Ida Bagus Kade; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (4) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.4.584

Abstract

Flu burung atau Avian Influenza (AI) merupakan penyakit virus menular strategis yang bersifat endemis di Indonesia. Virus AI dapat menyerang berbagai jenis unggas peliharaan termasuk kalkun, ayam, burung puyuh, angsa dan itik. Unggas air seperti itik merupakan reservoir semua subtipe H dan N virus Avian Influenza. Penelitian bertujuan untuk memantau hasil titer antibodi pascavaksinasi pada itik petelur dengan vaksin AI-H5N1 inaktif. Peternak melakukan vaksinasi pada umur 12 hari dan pengambilan darah dilakukan pada minggu petama, minggu kedua dan minggu ketiga pascavaksinasi. Sampel serum diambil sebanyak 20 dan di uji dengan uji serologis hambatan hemaglutinasi (HI). Hasil penelitian menunjukkan persentase seropositif pada minggu pertama 0%, minggu kedua 5%, dan minggu ketiga 10%. Periode pengambilan serum tidak berbeda nyata terhadap peningkatan titer antibodi. Sehingga belum mampu menimbulkan kekebalan terhadap AI-H5N1.
Pemberian Pakan Hijauan Lokal yang Disuplementasi Indigofera dan Probiotik terhadap Total Leukosit dan Diferensial Leukosit Kambing Boerka Florensia, Dheadora; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (3) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.3.365

Abstract

Pemberian pakan yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan kondisi fisiologis. Apabila tubuh ternak mengalami perubahan fisiologi, maka dapat berpengaruh pada gambaran darah. Pemeriksaan darah lengkap dilakukan untuk mengetahui status kesehatan hewan, terutama pemeriksaan leukosit yang digunakan untuk penunjang diagnosis terhadap suatu penyakit dan mengetahui adanya respons tubuh terhadap suatu penyakit infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil leukosit kambing boerka yang diberi pakan hijauan lokal dan Indigofera serta probiotik Sampel yang digunakan adalah sampel darah dari 24 ekor kambing boerka betina. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian pakan hijauan sebagai kontrol (P0), pakan hijauan yang diimbuhi Indigofera (P1) dan pakan hijauan yang diimbuhi Indigofera dan Bio-CAS (P2). Pengambilan darah dilakukan pada vena jugularis setelah diberi perlakuan pakan selama enam bulan. Darah dimasukkan ke dalam tabung yang berisi antikoagulan Ethylene Diamine Tetraacetic Acid (EDTA). Pemeriksaan gambaran total dan diferensial sel darah putih secara otomatis menggunakan Hematology Analyzer. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pakan hijauan lokal yang disuplementasi Indigofera dan probiotik tidak berpengaruh nyata terhadap nilai total leukosit dan diferensial leukosit kambing boerka. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan hijauan lokal yang disuplementasi indigofera dan probiotik aman diberikan pada kambing boerka.
Pemberian Pakan Hijauan Lokal yang Disuplementasi Indigofera dan Probiotik terhadap Profil Eritrosit Kambing Boerka Ihtifazhuddini, Fiqi Manaya Tibyana; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (3) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.3.420

Abstract

Kambing boerka adalah hasil perkawinan silang antara ternak kambing boer jantan dengan kambing kacang betina. Faktor utama yang dapat menunjang usaha peternakan dan produktivitas ternak adalah pakan. Pakan merupakan bahan yang penting untuk metabolisme darah sebab dibutuhkan protein, vitamin, dan mineral dalam pembentukan sel darah merah. Pemberian pakan selain hijauan memungkinkan terjadinya perubahan fisiologis tubuh ternak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil eritrosit kambing boerka yang diberi pakan hijauan lokal dan disuplementasi Indigofera sp. serta probiotik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas tiga perlakuan dan setiap perlakuan terdiri atas delapan ekor kambing boerka, dengan total 24 sampel darah. Perlakuan pakan berupa hijauan lokal sebagai kontrol (P0), perlakuan pakan yang disuplementasi Indigofera (P1), dan perlakuan pakan yang disuplementasi Indigofera serta bio-CAS (P2). Data hasil pemeriksaan dianalisis menggunakan uji sidik ragam (ANOVA), untuk mengetahui pengaruh antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pakan hijauan lokal yang disuplementasi indigofera serta probiotik secara statistika tidak berbeda nyata terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin, nilai MCV, MCH dan MCHC, kecuali nilai hematrokit untuk kelompok perlakuan P1 menunjukkan beda nyata terhadap P0.
Co-Authors ANAK AGUNG NGURAH OKA PUJAWAN Anak Agung Sagung Kendran Ananda, Made Krisna Angelica Ramadya Putri Candrianisa Brigita Galilea Adu Cahyani, Ni Luh Risna D.N.K.P. Negara Dewa Kade Agung Hendra Putra Dinata Dwi Arum Permatasari Elfani Sarah Faradina Elizabeth Kezi Damayanti Florensia, Dheadora Geidha Lailia Luzain I Gusti Agung Ayu Suartini I Gusti Komang Dwijana I Gusti Ngurah Kade Mahardika I Gusti Ngurah Sudisma I K. SUATHA I Ketut Suada I Ketut Suatha I Made Bagus Arya Permana Ardiana Putra I Made Kardena I Made Widiyarta i Nengah Wandia I Nyoman Dodik Gunawan I Nyoman Suarsana I Nyoman Suartha I Putu Sampurna I Putu Windhu Mahardika I Wayan Batan I Wayan Suardana I Wayan Suardana I Wayan Surata I.B.P. Purwadnyana I.D.G.P. Swastika I.D.N.P. Swastika I.G.N.W. Gunawan I.W.A.R. Dana Ida Ayu Pasti Apsari Ida Ayu Pasti Apsari Ida Bagus Bagus Kade Suardana Ida Bagus Kade Suardana Ida Bagus Kade Suardana Ida Bagus Kade Suardana Suardana Ida Bagus Ketut Indra Permana Ida Bagus Ngurah Swacita Ida Bagus Oka Winaya Ihtifazhuddini, Fiqi Manaya Tibyana Iwan Harjono Utama Kadek Karang Agustina Kakang, Dorteany Mayani Keliat, Dosmonytha Br Ketut Ari Andhita Badraresta Arnaya Ketut Ayu Cudemani Putri Korbinianus Feribertus Rinca Kristianto, Kartika Leonardo, Edo Lijung, Derfina Mahindra, Aditya Try Marson, Fransiska Gratia Sonita Messy Saputri Boru Sembiring Negara, Putu Maha Suta Ni Ketut Suwiti Ni Luh Eka Setiasih Ni Luh Eka Setiasih Ni Luh Made Ika Yulita Sari Hadiprata Ni Made Suksmadewi Wisnantari Ni Nyoman Werdi Susari Nicolas Yarisetouw, Nicolas Oktryna Hodesi Sibarani Pero, Fransisco Victoriano Pratama, Rendi Tegar Putra, I Made Wira Diana Sadipun, Elizabeth Liliane Sri Kayati Widyastuti Sunarko, Stefanie Nadya Stellanora Suputra, Gusde Wahyu Krisna Suriana, Ni Komang Valerie Tjokorda Gde Tirta Nindhia Tomáš Ruml Yizhar Eka Zdenek Knejzlík