Claim Missing Document
Check
Articles

Optimalisasi Media Digital dalam Pengelolaan Public Relations di UIN Raden Mas Said Surakarta Atiya Aena Rahma; Wisnu Widjanarko; Wiwik Novianti
MUKASI: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 5 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/mukasi.v5i1.5965

Abstract

The advancement of digital communication technology has significantly transformed public relations practices, particularly within higher educations institutions. This study aims to explore how digital media optimized in managing public relations at UIN Raden Mas Said Surakarta. Using a gualitative descriotive approach within the constructivist paradigm, data were collected through in depth interviews with the head and staff of the Public Relations Division, as well as documentation of digital communication activities. The findings show that Uin Raden Mas Said Surakarta has implemented an integrated Digital Public Relations strategy tha combines informative, persuasive and educational content across social media platforms. This digital approach effectively strenghens institusional image, build public engagement and enchaces brand awareness. However, the study also indentifies challenges related to limited human resources and the sustainability of content management. Overall, the optimization of digital media in public relations contributes to improving institutional credibility and supports the realization of transparent, interactive and sustainable public communication.
Menggali Makna dalam Ritual Kematian Komunitas Adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Jawa Tengah Haniyah Rizki Oktaviani; Mabdi Rizqi Rofi; Ahmed Benjamin Agung; Wiwik Novianti; Agus Ganjar Runtiko
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.3395

Abstract

Ritual kematian merupakan bagian penting dari budaya Indonesia dan mencerminkan kepercayaan, spiritualitas, serta nilai-nilai sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Secara umum, kematian tidak hanya dipandang sebagai akhir dari kehidupan fisik, tetapi juga sebagai transisi menuju akhirat yang membutuhkan penghormatan dan penyucian. Tradisi ini biasanya meliputi berbagai tahapan mulai dari memandikan hingga selamatan, yang sarat dengan nilai-nilai simbolis. Ritual kematian tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal, tetapi juga berfungsi untuk mempererat hubungan sosial dan keagamaan dalam masyarakat. Termasuk dalam ritual kematian di Komunitas Adat Bonokeling. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam sebagai sumber primer. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat adat Bonokeling memiliki tradisi kematian yang memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal yang sarat dengan makna simbolis sebagai wujud keharmonisan antara manusia, alam dan Sang Pencipta. Dalam masyarakat ini, seluruh proses dilakukan secara kolektif sebagai bentuk solidaritas masyarakat. Dengan menjaga tradisi menunjukkan bahwa Komunitas Adat Bonokeling menjunjung tinggi adat dan tradisi sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
The Silent Communication of Penghayat Kepercayaan: Identity Negotiation and Co-cultural Strategies in a Muslim-Majority Community Hafizh Faikar Agung Ramadhan; Caecilia Menzelthe; Wiwik Novianti; Wisnu Widjanarko; Nana Sutikna
Ijtimā'iyya Journal of Muslim Society Research Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Postgraduate, State Islamic University Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/ijtimaiyya.v10i2.15720

Abstract

This research highlights the paradox of pluralism in Indonesia, where Penghayat Kepercayaan (indigenous faith practitioners) frequently employ defensive communication strategies despite having constitutional guarantees. This study aims to analyze the phenomenon of 'Silent Communication' within the Paguyuban Budaya Bangsa (PBB) community in Kebumen as a mechanism for identity negotiation amidst a Muslim-majority society. Utilizing a qualitative collective case study approach framed by Co-Cultural Theory and Impression Management, this research dissects how minority groups construct communication boundaries. The findings demonstrate that this community adopts 'Pseudo-Administrative Affiliation' and 'Digital Silence' as primary survival strategies. Furthermore, the study identifies an internal 'Spiral of Silence' within the organization that obstructs leadership regeneration and reveals that the younger generation continues to practice self-censorship in digital spaces despite achieving legal recognition. This research concludes that minority silence is not merely a cultural trait but a structural response to social insecurity, necessitating an ethical shift from the majority group to foster inclusive dialogue. Moreover, the Muslim community—theologically anchored by the principles of la ikraha fiddin (no compulsion in religion), qaulan layyinan (gentle speech), and haqqul jawar (the rights of neighbors)—is challenged to actualize these values in daily practice, spanning administrative policies, social interactions, and digital media ethics.
Analisis Feminisme Kultural terhadap Ketidaksetaraan Gender dalam Tradisi Uang Panai di Masyarakat Bugis Raisah Raisah; Wiwik Novianti; Nuryanti Nuryanti
Journal of Gender Equality and Social Inclusion (gesi) Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Pusat Studi GESI - UWP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38156/gesi.v5i1.239

Abstract

Tradisi uang panai merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Bugis yang masih dipertahankan dalam prosesi perkawinan adat. Namun, pergeseran maknanya menjadi simbol status sosial memunculkan persoalan ketidaksetaraan gender. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketidaksetaraan gender dalam tradisi uang panai dari perspektif feminisme kultural. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap lima informan perempuan Bugis di Desa Jauh, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, yang dipilih secara purposive. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, kemudian diinterpretasikan berdasarkan perspektif feminisme kultural Rosemarie Tong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uang panai masih dipandang sebagai simbol penghormatan dan tanggung jawab, tetapi materialisasi yang berlebihan menyebabkan perempuan dinilai berdasarkan kemampuan ekonomi laki-laki. Di sisi lain, perempuan Bugis menafsirkan kembali uang panai sebagai simbol penghormatan, tanggung jawab moral, dan penghargaan terhadap keluarga, bukan sebagai ukuran martabat perempuan. Temuan ini menunjukkan bahwa perempuan berperan aktif dalam merekonstruksi makna tradisi agar tetap sejalan dengan nilai penghormatan, musyawarah, dan kesetaraan gender tanpa menghilangkan identitas budaya Bugis.
Co-Authors Adhi Iman Sulaiman Afgiansyah Afgiansyah Agoeng Noegroho Agoeng Noegroho Agoeng Noegroho, Agoeng Agus Ganjar Runtiko Ahmed Benjamin Agung Alizar Isna Anggita Ayu Indari Anggun Rahmawati Anwar Anwar Arif Darmawan Atiya Aena Rahma Ayu, Kilau Riksaning Caecilia Menzelthe Chyntia Dewi, Laksmi Denok Kurniasih Dian Bestari Dian Santi Rahayu Edi Santoso Edi Santoso Edi Santoso Gilang Akbar Noviansah Ginadha Putri Pramesyi Hafizh Faikar Agung Ramadhan Haniyah Rizki Oktaviani Haniyah Rizki Oktaviani Harmadhani, Abiyoso Indah Wijaya Antasari Itsna Hidayatul Khusna Kuswidianti Dharma Prewitasari Laksmi Chyntia Dewi Lartceva Natalia Evgenievna Lydia Agustina Mabdi Rizqi Rofi Mansur, Suraya Maria Consulata Wening Mintarti Mintarti Mite Setiansah Mite Setiansah Mite Setiansah Muhammad Yamin Nana Sutikna Nana Sutikna Niken Paramarti Dasuki Nur Sholihatin Nurani, Wilujeng Nurhayani Saragih Nurhayani Saragih nuryanti nuryanti Petrus Imam Prawoto Jati Pratama, Nugra Agung Putri, Rizqi Wulandari Qonita Qonita Raisah Raisah Restiawan, Ilham Rizky S Bekti Istiyanto S Bekti Istiyanto S. Bekti Istiyanto S. Bekti Istiyanto S. Bekti Istiyanto, S. Bekti Santika, MM Bryan Santoso Santoso Saputra, Diki Satyawan, Darmanto Sahat Selamat Riadi Slamet Rosyadi Sri Pangestuti Supriyanto, Dedi Suraya Mansur Tiara Mesias Purbaningrum tri nugroho adi Utas Mahligai Utera Fijar Adha Wahyuningrat Wicaksono, Wilibrordus Megandika Wijaya, Shadu Satwika Wisnu Widjanarko Wisnu Widjanarko Yoga, Prasetya Yusida Lusiana