Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Analisis Komparatif Pendapatan Usahatani Tebu (Saccharum Officinarum L) Sistem Ratoon Cane (RC) Dan Sistem Plant Cane (PC) di Desa Gondang Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri Yuliandari, Neti; Artini, Widi; Sidhi, Eko Yuliarsha
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 1 (2024): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i1.5059

Abstract

This research analyses differences in production cost levels between Ratoon Cane sugarcane farming and the Plant Cane system. The research was conducted in Gondang Village,Plosoklaten District, Kediri  Regency. The research was carried out from March to May 2023. Respondents were determined using a saturated sampling method. The number of respondents in this study were 10 who were Ratoon Cane (RC) system sugar cane farmers and 10 who were Plant Cane (PC) system sugar cane farmers. Thus, the total number of respondents was 20 farmers. The data analysis method was carried out using qualitative and quantitative analysis. From the results of research and data analysis, it can be obtained that the production costs used for Plant Cane sugar cane farming are higher than for Ratoon Cane sugar cane farming, namely an average per hectare of IDR57,623,212. Meanwhile, the average Ratoon Cane sugar cane farmer per hectare is only IDR46,240,466. There is a difference in production between Ratoon Cane and Plant Cane sugar cane farming in Gondang Village, Plosoklaten District, Kediri Regency, in 2021-2022. The average production per ha of Ratoon Cane farming is 828 quintals, and Plant Cane sugar cane farming is 908 quintals. Thus, it will affect revenue, namely IDR72,233,663 Ratoon Cane sugar cane and Rp78,314,663 Plant Cane sugar cane. There is a difference in revenue of IDR6,081,000 per hectare. Ratoon Cane's sugar cane farming income is IDR25,993,196, higher than Plant Cane's IDR20,691,450.   Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan tingkat biaya produksi antara usahatani tebu Ratoon Cane dengan sistem Plant Cane. Penelitian dilakukan di Desa Gondang Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Penelitian dilaksanakan mulai Bulan Maret sampai dengan bulan Mei tahun 2023. Penentuan responden menggunakan metode sampling jenuh, jumlah responden pada penelitian ini 10 orang responden petani tebu sistem Ratoon Cane (RC) dan 10 orang responden petani tebu sistem Plant Cane (PC). Dengan demikian jumlah responden keseluruhan sebanyak 20 orang petani. Metode analisis data yang dilakukan dengan analisis kualitatif dan kuantitatif. Dari hasil penelitian dan analisa data, dapat diperoleh hasil bahwa penggunaan biayao produksi usahatani tebu Plant Cane lebih tinggi dibanding dengan usahatani tebu Ratoon Cane yaitu rata-rata per hektar sebesar Rp57.623.212,-.Sedangkan petani tebu Ratoon Cane rata-rata per hektar hanya sebesar Rp46.240.466.. Terdapat perbedaan produksi antara usahatani tebu Ratoon Cane dan Plant Cane di Desa Gondang Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri pada tahun 2021-2022. Rata-rata produksi per ha usahatani Ratoon Cane sebesar 828 kuintal dan usahatani tebu Plant Cane sebesar 908 kuintal. Dengan demikian akan berpengaruh terhadap penerimaan yaitu sebesar Rp72.233.663 tebu Ratoon Cane dan sebesar Rp78.314.663 tebu Plant Cane. Terdapat selisih penerimaan sebesar Rp6.081.000,- per hektar. Pendapatan usahatani tebu Ratoon Cane sebesar Rp25.993.196,- lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani tebu Plant Cane sebesar Rp20.691.450.
Kelayakan Usaha Ternak Burung Puyuh di Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk Ta’wim, Akhris Asanit; Artini, Widi; Andajani, Wiwiek; Nina Lisanty
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 1 (2024): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i1.5290

Abstract

Prambon District in Nganjuk Regency, East Java, has shown its community's adaptation to the COVID-19 pandemic by switching to livestock businesses, significantly raising quail. With mostof the population initially working as farmers, the Work From Home (WFH) policy and Large-Scale Social Restrictions (PSBB) encouraged the Prambon community to choose livestock as an additional source of income. Research in Mojoagung Village involving 23 breeders showed that raising quail in Prambon has promising economic potential. Even though production costs reach IDR33,704,380 for 1000 quails, the net income from selling quail eggs reaches IDR77,220,620 during the production period. Additional income from selling quail meat and quail dung (fertilizer) reached IDR2,250,000 and IDR1,575,000 respectively. This livestock business is profitable and very worthy of development. Policy implications involve government support in the form of training, technical assistance, and market development to support local economic growth and diversification of livelihoods, making quail farming a sustainable option to improve the welfare of the Prambon community.   Kecamatan Prambon di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menunjukkan adaptasi masyarakatnya terhadap pandemi COVID-19 dengan beralih ke usaha peternakan, terutama beternak burung puyuh. Dengan mayoritas penduduk yang awalnya berprofesi sebagai petani, kebijakan Work From Home (WFH) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mendorong masyarakat Prambon untuk memilih usaha peternakan sebagai sumber pendapatan tambahan. Penelitian di Desa Mojoagung melibatkan 23 peternak menunjukkan bahwa beternak burung puyuh di Prambon memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Meskipun biaya produksi mencapai Rp33.704.380 untuk 1000 ekor burung puyuh, pendapatan bersih dari penjualan telur puyuh mencapai Rp77.220.620 selama masa produksi. Pendapatan tambahan dari penjualan daging puyuh dan kotoran puyuh (pupuk) masing-masing mencapai Rp2.250.000 dan Rp1.575.000. Usaha ternak ini menguntungkan dan sangat layak untuk dikembangkan. Implikasi kebijakan melibatkan dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan, bantuan teknis, serta pengembangan pasar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan diversifikasi mata pencaharian, menjadikan beternak burung puyuh sebagai opsi yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Prambon.
Respon Petani Terhadap Penggunaan Pupuk Organik pada Budidaya Padi Sawah di Poktan Tani Makmur II Mojoayu Kecamatan Plemahan Kabupaten Kediri Purbasiswanta, Johan Syahputra; Artini, Widi; Sutiknjo, Tutut Dwi; Pamujiati, Agustia Dwi
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 2 (2024): JULY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i2.5696

Abstract

This study examines farmers' response to using organic fertilizers in paddy cultivation at the Makmur II Mojoayu Farmers Group, Plemahan District, Kediri Regency. The background of this research was the limited stock of subsidized fertilizers and the high prices of chemical fertilizers, which have led farmers to turn to organic fertilizers as an alternative solution. The research method used was quantitative, with survey techniques and questionnaires as data collection instruments. A total of 30 respondents from the Makmur II Farmers Group were involved in this study. Analyzing internal factors such as age, formal education, income, and land size shows a positive relationship with farmers' knowledge, attitudes, and skills in using organic fertilizers. External factors such as expected benefits and non-formal education also positively affect the farmers' responses. The results of this study emphasize the importance of considering these factors in efforts to increase the adoption of organic fertilizers among farmers. This research provides insights for policymakers and practitioners in the agricultural field to design more relevant and effective programs and interventions to enhance the use of organic fertilizers. It highlights the importance of non-formal education in improving farmers' skills and knowledge. Penelitian ini mengkaji respon petani terhadap penggunaan pupuk organik dalam budidaya padi sawah di Kelompok Tani Makmur II Mojoayu, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Latar belakang penelitian ini adalah keterbatasan stok pupuk subsidi dan tingginya harga pupuk kimia, yang mendorong petani untuk beralih ke pupuk organik sebagai alternatif. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik survei dan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Sebanyak 30 responden dari Kelompok Tani Makmur II dilibatkan dalam penelitian ini. Analisis faktor internal seperti usia, pendidikan formal, pendapatan, dan besar lahan menunjukkan hubungan positif dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan petani dalam penggunaan pupuk organik. Faktor eksternal seperti manfaat yang diharapkan dan pendidikan non-formal juga menunjukkan hubungan positif dengan respon petani. Hasil penelitian ini menekankan pentingnya mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam upaya meningkatkan adopsi pupuk organik di kalangan petani. Penelitian ini memberikan wawasan bagi pengambil kebijakan dan praktisi di bidang pertanian untuk merancang program dan intervensi yang lebih relevan dan efektif dalam meningkatkan penggunaan pupuk organik, serta menunjukkan pentingnya pendidikan non-formal dalam meningkatkan keterampilan dan pengetahuan petani.
Analisis Ketergantungan Petani Padi Terhadap Tengkulak Dalam Sistem Pemasaran di Sentra Produksi Padi Kecamatan Pace Agustina, Liya; Sidhi, Eko Yuliarsha; Artini, Widi; Lisanty, Nina
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 2 (2024): JULY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i2.5697

Abstract

In the current era, farmers in Indonesia, as an agricultural country, face significant challenges in post-harvest and marketing activities, often relying heavily on middlemen. This dependence is influenced by limited capital, transportation assistance, and kinship relationships. Farmers usually sell their crops to middlemen at lower prices, which affects their income and sustainability. This research aims to analyze the factors that cause the dependence of rice farmers in Pace District on middlemen in the marketing system. This research used a purposive sampling method in three villages in Pace District, involving 40 rice farmers and five key informants (middlemen). Data were analyzed using logistic regression and Spearman correlation to determine the influence of various factors on dependency and satisfaction levels. Logistic regression results show that limited capital and kinship relationships significantly influence farmers' dependence on middlemen. Spearman's correlation showed a weak and insignificant relationship between reasons for dependence and level of satisfaction. Policy interventions should focus on providing alternative capital and improving transportation and market access to reduce reliance on middlemen. Creating agricultural cooperatives and rural financial institutions can empower farmers, ensuring more equitable and sustainable relationships. Di era sekarang, petani di Indonesia, sebagai negara agraris, menghadapi tantangan signifikan dalam kegiatan pascapanen dan pemasaran, sering kali sangat bergantung pada tengkulak. Ketergantungan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keterbatasan modal, bantuan transportasi, dan hubungan kekerabatan. Petani sering menjual hasil panen mereka kepada tengkulak dengan harga yang lebih rendah, yang mempengaruhi pendapatan dan keberlanjutan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan ketergantungan petani padi di Kecamatan Pace terhadap tengkulak dalam sistem pemasaran. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling di tiga desa di Kecamatan Pace, melibatkan 40 petani padi dan 5 informan kunci (tengkulak). Data dianalisis menggunakan regresi logistik dan korelasi Spearman untuk menentukan pengaruh berbagai faktor terhadap ketergantungan dan tingkat kepuasan. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa keterbatasan modal dan hubungan kekerabatan secara signifikan mempengaruhi ketergantungan petani pada tengkulak. Korelasi Spearman menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak signifikan antara alasan ketergantungan dan tingkat kepuasan. Untuk mengurangi ketergantungan pada tengkulak, intervensi kebijakan harus fokus pada penyediaan modal alternatif dan peningkatan akses transportasi dan pasar. Pembentukan koperasi pertanian dan lembaga keuangan pedesaan juga dapat memberdayakan petani, memastikan hubungan yang lebih adil dan berkelanjutan.  
Tingkat Kemampuan Penggunaan Media Sosial Petani dalam Upaya Pemasaran Tanaman Hias di Desa Banjarejo Kabupaten Kediri Sari, Difa Pramudita; Artini, Widi; Sutiknjo, Tutut Dwi; Pamujiati, Agustia Dwi
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 2 (2024): JULY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i2.5703

Abstract

This research aims to find out what types of social media are widely used by ornamental plant farmers, find out the length of use of social media by ornamental plant farmers, know the function of ornamental plant farmers' social media for their business, determine the level of ability to use social media of ornamental plant farmers. The research sample consisted of 30 ornamental plant farmers who were chosen randomly. This research used qualitative descriptive methods and linear regression analysis to analyze the research data that has been collected. Based on the analysis and discussion results, it is known that Facebook social media is a type of social media that is widely used by ornamental plant farmers in Banjarejo Village, with 17 users out of 30 respondents. The duration of ownership of social media by ornamental plant farmers in Banjarejo Village is more than 3 years, with the usage of 30-40 hours per week. Ornamental plant farmers widely use social media in Banjarejo Village to market commodities. The ability of ornamental plant farmers in Banjarejo Village to use social media is on a sufficient scale.   Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui jenis media sosial apa yang banyak digunakan oleh petani tanaman hias; mengetahui lama penggunaan media sosial oleh petani tanaman hias;  mengetahui fungsi media sosial petani tanaman hias untuk usahanya; mengetahui tingkat kemampuan penggunaan media sosial petani tanaman hias. Sampel penelitian berjumlah 30 orang petani tanaman hias yang dipilih secara acak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif serta analisis regresi linear untuk menganalisis data penelitian yang telah dikumpulkan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan diketahui bahwa media sosial facebook merupakan jenis media sosial yang banyak digunakan oleh petani tanaman hias di Desa Banjarejo, dengan jumlah pengguna 17 orang dari 30 responden. Lama kepemilikan media sosial petani tanaman hias di Desa Banjarejo lebih dari 3 tahun dengan, lama penggunaan sebesar 30-40 jam per minggu. Fungsi media sosial yang banyak digunakan oleh petani tanaman hias di Desa Banjarejo untuk memasarkan komoditas. Tingkat kemampuan petani tanaman hias di Desa Banjarejo dalam penggunaan media sosial berada pada skala cukup.
STRENGTHENING MODEL FOR DAIRY CATTLE BREEDERS WITH PROFIT-SHARING SYSTEM IN TRENGGALEK REGENCY Artini, Widi; Sidhi, Eko Yuliarsha; Lisanty, Nina; Sutiknjo, Tutut Dwi; Bahar, Asikin
Jurnal Ilmu Ilmu Agribisnis: Journal of Agribusiness Science Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Lampung University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jiia.v13i1.8806

Abstract

The Government of Trenggalek Regency is strongly committed to advancing the dairy cattle industry and boosting milk production in the region, with particular emphasis on Dompyong Village, Bendungan District.  This research aims to assess the capital requirements for dairy cattle farming and develop a model to strengthen the position of breeders using a profit-sharing system.  A survey method, incorporating both quantitative and qualitative descriptive approaches, was employed to gather comprehensive data.  The study revealed that independent dairy cattle farming requires a total capital of IDR 23,150,000.  However, under the profit-sharing system, breeders need only IDR 9,900,000 due to shared costs for purchasing dairy cows.  The profit-sharing arrangement generally involves a 50:50 split between breeders and investors, including income from the sale of calves and milk, resulting in a total profit-sharing value of IDR 23,000,000 per year.  Additionally, breeders receive 10 to 20 percent of the revenue from the sale of dairy cows, depending on the agreement.  The proposed model for strengthening breeders focuses on developing their character and credibility to build investor trust, advocating for written profit-sharing agreements to prevent disputes, and enhancing institutional support to improve business efficiency and provide technical guidance. Keywords : dairy cows; livestock, profit-sharing system.
Inovasi Diversifikasi Pangan Lokal melalui Pemanfaatan Daun Singkong menjadi Keripik sebagai Upaya Pengurangan Limbah dan Peningkatan Pendapatan Masyarakat Pamujiati, Agustia Dwi; Artini, Widi; Andajani, Wiwiek; Widiyono, Wahyu; Mulyadi, Mochtar Nova
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.7079

Abstract

Community service aims to increase the utilization of cassava leaves as a value-added food ingredient by innovating cassava leaf chips (Daun Crips) in Jombok Village, Pule District, Trenggalek Regency, East Java. Cassava leaves, which have traditionally been considered agricultural waste, have a high protein content and significant economic potential if processed properly. The implementation method was carried out through a participatory approach that involves the community in counseling, technical training in production, packaging, branding, and product economic analysis. Evaluation of activities using pre-tests and post-tests on six assessment aspects revealed an increase in the average score from 57.2 to 86.8, representing a 51.8% improvement. The highest increases were observed in technical processing skills (63.6%) and production cost analysis (57.7%). The resulting product has characteristics of being crispy, savory, and having a low water content (3.8%), in accordance with snack food quality standards. This activity has a positive impact by increasing the knowledge, skills, and entrepreneurial motivation of the community, as well as encouraging the formation of Joint Business Groups as the foundation for productive economic businesses based on local potential. This program is a real-world example of the implementation of local food diversification, which can reduce agricultural waste, increase community income, and support sustainable village economic development. Pengabdian kepada masyarakat memiliki tujuan meningkatkan pemanfaatan daun singkong sebagai bahan pangan bernilai tambah melalui inovasi produk keripik daun singkong (Daun Crips) di Desa Jombok, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Daun singkong yang selama ini dianggap limbah pertanian memiliki kandungan protein tinggi dan potensi ekonomi yang besar apabila diolah secara tepat. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat dalam penyuluhan, pelatihan teknis produksi, pengemasan, branding, serta analisis ekonomi produk. Evaluasi kegiatan dengan menerapkan pre-test dan post-test pada enam aspek penilaian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor dari 57,2 menjadi 86,8 atau meningkat sebesar 51,8%, dengan peningkatan tertinggi pada keterampilan teknis pengolahan (63,6%) dan analisis biaya produksi (57,7%). Produk yang dihasilkan memiliki karakteristik renyah, gurih, serta kadar air rendah (3,8%), sesuai dengan standar mutu pangan ringan. Kegiatan ini memiliki efek positif dengan meningkatnya pengetahuan, keterampilan, dan motivasi kewirausahaan masyarakat, serta mendorong terbentuknya Kelompok Usaha Bersama sebagai embrio usaha ekonomi produktif berbasis potensi lokal. Program ini menjadi contoh nyata penerapan diversifikasi pangan lokal yang mampu mengurangi limbah pertanian, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mendukung pembangunan ekonomi desa berkelanjutan.