Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Sosiohumaniora

FACTORS DETERMINING BUYER-SELLER RELATIONSHIPS: EMPIRICAL RESULTS FROM AN AGRIBUSINESS PERSPECTIVE Hesty Nurul Utami; Dini Turipanam Alamanda; Risma Muhamad Ramdani
Sosiohumaniora Vol 24, No 1 (2022): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, MARCH 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v24i1.29201

Abstract

Continuous development of the Indonesian agri-food retail in the past decades has shown an evolutionary way on how the buyer and seller build their interaction during the exchange transaction process. It shows the significance of beneficial buyer-seller relationships in the shifting from traditional food retailing model to modern food retailing model, including in developing economy context. The study aims to investigate the factors affecting the buyer-seller relationship concept to access the modern market from the farmer producer perspective in the setting of an emerging market. This study surveyed 75 respondents of vegetable farmer group members located in a vegetable cluster in West Java, Indonesia. An explanatory quantitative method with Confirmatory Factor Analysis (CFA)was used for the data analysis. The findings verified four primary factors that can explain the B2B buyer-seller relationship of farmers deciding to partner with modern retailers such as supermarkets, which consists of trust, loyalty, relationship commitment, and business communication. The findings propose a further understanding related to the factors that influence the buyer-seller inter-relationships in the B2B context of the agriculture sector.
MARKETING COMMUNICATION INNOVATION OF FRESH FRUIT AND VEGETABLES (FFV) MODERN RETAIL LOCAL SUPPLIER: COMPETITIVENESS OF SMALL HOLDER TO ENTER MODERN RETAIL Hesty Nurul Utami; Agriani Hermita Sadeli
Sosiohumaniora Vol 16, No 3 (2014): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2014
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.073 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v16i3.5768

Abstract

Modern retail rapid development is an opportunity for fruit and vegetable farmers to fulfill consumerretail business demand. This research give an insight of how marketing communication innovation suggested forlocal FFV supplier in order to enter modern retail by concerning their competitiveness through modern retailpoint of view and adjusted with modern retail marketing decision. It applies qualitative design through casestudy at Retail XYZ Group. The main FFV supplier criteria appointed by the company are supplier price productoffering, product quantity, quality and continuity. Overall, almost all of local FFV supplier marketing criteria isperceived worst than importer in terms of durability, quantity, service level, after post harvest handling, R&D, andcommodity attribute. An incremental marketing communication innovation could be done via direct partnershipwith small holders who are able to meet retail FFV requirements in commodity quantity, quality, continuity, postharvest handling, durability, research and development facility, product sourcing and availability throughoutseason, and deliver service excellent. This is an opportunity for the small holder to build a long term relationshipmarketing with modern retail.
PENINGKATAN PEMASARAN SUSU KEDELAI BUBUK MELALUI STRATEGI BAURAN: Studi Kasus Pada Pabrik Susu Kedelai Kadungora di Desa Kadungora, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut Dini Rochdiani; Hesty Nurul Utami
Sosiohumaniora Vol 11, No 2 (2009): SOSIOHUMANIORA, JULI 2009
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.173 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v11i2.5415

Abstract

Susu kedelai sebagai alternatif pilihan pemenuhan kebutuhan susu bagi masyarakat sebagai pengganti susu sapi belum tersosialisasi dengan baik. Pabrik Susu Kedelai Kadungora dalam pengembangan usahanya melakukan strategi integrasi ke depan dan strategi penetrasi pasar. Strategi tersebut dapat dilakukan dengan cara mempertahankan kualitas produk dan tingkat harga, memperbaiki sistem kerja sama dengan agen distributor, mengangkat tenaga penjual dalam perusahaan, mengorganisasi tugas dan wewenang staf manajemen perusahaan lebih spesifik dan segera mendapatkan investor baru. Selain itu, perusahaan perlu melakukan strategi perbaikan manajemen organisasi perusahaan terutama yang berkaitan dengan jalinan kerja dengan investor atau menggunakan jasa perbankan untuk menyelesaikan masalah keuangan yang berdampak negatif pada sistem pemasaran produk.
MOTIVASI, PENGETAHUAN, DAN SIKAP KONSUMEN TERHADAP ATRIBUT KOMODITAS APEL LOKAL DAN APEL IMPOR: STUDI KASUS PADA KONSUMEN BUAH APEL LOKAL DAN APEL IMPOR DI WILAYAH KOTA BANDUNG Agriani Hermita Sadeli; Hesty Nurul Utami
Sosiohumaniora Vol 14, No 2 (2012): SOSIOHUMANIORA, JULI 2012
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.421 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v14i2.5485

Abstract

Buah apel sebagai salah satu jenis buah favorit masyarakat, sehingga pasar domestik banyak dibanjiri oleh apel impor. Kondisi fisik buah apel sebagai bagian dari atribut produk dan perilaku psikologis diantaranya motivasi, pengetahuan, dan sikap konsumen diduga mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh skor dan kajian tentang motivasi, pengetahuan, dan sikap konsumen terhadap buah apel lokal dan impor di wilayah Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah survei deskripstif dengan responden konsumen buah apel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi utama konsumen untuk membeli buah apel lokal dan impor adalah (1) faktor kebutuhan gizi, yang berarti faktor fisiologis merupakan faktor yang paling besar memotivasi konsumen untuk membeli apel; (2) pengetahuan konsumen tentang atribut produk yang paling tinggi baik untuk buah apel lokal maupun apel impor adalah faktor kesegaran buah yang artinya konsumen memiliki pengetahuan yang cukup tinggi mengenai kondisi kesegaran yang dimiliki buah apel; sementara itu, (3) sikap konsumen yang paling tinggi dalam keputusan pembelian buah apel impor adalah warna buah apel impor yang menarik, sedangkan untuk buah apel lokal adalah faktor kesegarannya yang dianggap baik.
MODEL PEMBIAYAAN PRA PANEN PADA RANTAI PASOK AGRIBISNIS BERDASARKAN SISTEM PRODUKSI KOMODITAS CABAI MERAH DENGAN ORIENTASI PASAR TERSTR UKTUR Eddy Renaldi; Tuti Karyani; Agriani Hermita Sadeli; Hesty Nurul Utami
Sosiohumaniora Vol 15, No 3 (2013): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2013
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.228 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v15i3.5750

Abstract

Fluktuasi harga cabai merah yang cukup tinggi saat ini ini disebabkan oleh pasokancabai merah dari sentra produksi ke pasar yang tidak berkesinambungan dan tidak terstruktur sebagaiakibat petani yang tidak mengembangkan basis produksi. Salah satu komponen pengembangan basisproduksi cabai merah di Indonesia adalah komponen keuangan yang dapat dilakukan melalui SupplyChain Financing dimana resiko dan pengembalian dari penyedia keuangan ditanggung bersama olehpelaku dalam rantai pasok. Komponen keuangan berupa modal usaha di sistem produksi menjadi salahsatu kendala pengembangan agribsnis cabai merah, karena sulitnya memperoleh bantuan pembiayaanakibat karakteristik usaha agribisnis dan risiko yang ditimbulkannya. Model pembiayaan pra panenpada rantai pasok agribisnis akan memperkuat pengembangan basis produksi yang selanjutnya dapatdiperluas menjadi klaster agribisnis cabai merah di Jawa Barat, bahkan dapat direplikasi pada tingkatnasional. Melalui pembiayaan rantai pasok diharapkan dapat meningkatkan pengembalian atas investasidan pertumbuhan dan daya saing rantai pasok itu. Riset aksi ini dilakukan melalui metode studi kasusmelalui identifikasi Value Stream Mapping dan pendekatan pemodelan kualitatif yang dilakukan disalah satu sentra produksi cabai merah di Jawa Barat, yakni Kabupaten Garut, Desa Cigedug. Untukmenghasilkan cabai dengan kualitas yang baik dan kontinyu harus didukung dengan ketersediaansarana produksi yang sesuai dengan kebutuhan petani benih cabai dan petani cabai yang diberikanpada tingkat kelompok tani atau koperasi yang memasarkan cabai ke pasar terstruktur. Pembeli daripasar terstruktur melalui kontrak yang memuat jumlah, kualitas dan harga cabai yang disepakati dapatmenjamin kesetabilan pendapatan petani. Dalam hal ini pembeli menjadi penjamin dalam kelancaranpembayaran dari pembiayan yang diberikan kepada petani.
STRATEGI PEMASARAN MELALUI MODEL PEMASARAN RELASIONAL UNTUK KOMODITAS WORTEL (Studi Kasus di Klaster Agribisnis Sayuran) Agriani Hermita Sadeli; Hesty Nurul Utami; Endah Djuwendah
Sosiohumaniora Vol 19, No 1 (2017): SOSIOHUMANIORA MARET 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (754.324 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v19i1.9573

Abstract

Kondisi pasar dan persaingan antar pelaku usaha agribisnis sayuran yang semakin ketat menuntut petani untuk melakukan berbagai upaya strategi bisnis untuk memenangkan persaingan diantaranya dari sisi strategi pemasaran melalui pemasaran relasional. Membangun pemasaran relasional dengan stakeholder termasuk konsumen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus. Penelitian ini dilakukan di Klaster Agribisnis Sayur Kelompok Tani Katata yang terletak di Kampung Cinangsi, Desa Margamekar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan di kelompok tani ini karena berlokasi di sentra sayuran dan mengembangkan komoditas wortel sebagai komoditas utamanya. Fokus dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan Kelompok Tani Katata dengan semua pemangku kepentingan berdasarkan enam pasar. Model ini akan mengidentifikasi potensi petani wortel dalam hubungan dengan pemangku kepentingan dari domain enam pasar serta pertukaran nilai antar pelaku. Pihak yang mempengaruhi kelompok tani berada pada keenam pasar dan tercipta pertukaran nilai dalam jaringan. Strategi yang diterapkan harus mempertahankan dan meningkatkan kolaborasi dalam pertukaran nilai dalam jaringan.