Latar Belakang: Meningitis pada anak merupakan kondisi gawat darurat neurologis yang sering menimbulkan komplikasi, termasuk gangguan pemenuhan kebutuhan dasar tidur dan istirahat. Tidur yang terganggu memperburuk adaptasi fisiologis dan psikososial anak, sehingga berdampak pada proses pemulihan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Roy Adaptation Model (RAM) dalam asuhan keperawatan anak dengan meningitis yang mengalami gangguan tidur dan istirahat. Metode: Penulisan dilakukan melalui studi literatur naratif dari jurnal nasional dan internasional 2016–2025, serta analisis penerapan teori keperawatan RAM berdasarkan empat mode adaptasi (fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan interdependensi). Data dukung diperoleh dari standar keperawatan Indonesia (SDKI, SLKI, SIKI edisi 2023). Hasil: Pengkajian dengan RAM mengidentifikasi mekanisme regulator (demam, nyeri kepala, kejang, aktivasi sistem saraf simpatis) dan kognator (persepsi nyeri, kecemasan, rasa takut, pengaruh lingkungan rumah sakit dan keluarga) yang memengaruhi kualitas tidur anak. Diagnosa keperawatan utama adalah gangguan pola tidur, nyeri, hipertermi, risiko perfusi serebral tidak efektif, dan risiko infeksi. Intervensi keperawatan yang sesuai meliputi manajemen lingkungan, manajemen nyeri, manajemen hipertermi, pemantauan fungsi neurologis, serta pencegahan infeksi. Integrasi RAM dengan standar nasional keperawatan terbukti mendukung adaptasi anak secara holistik. Kesimpulan: Penerapan RAM membantu perawat memahami faktor fisiologis dan psikososial yang menyebabkan gangguan tidur pada anak dengan meningitis. Intervensi berbasis teori dan standar praktik nasional berkontribusi pada peningkatan kualitas tidur, adaptasi, dan proses pemulihan anak.