Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

THE POTENTIAL OF POLLARD AND RICE BRAN WITH FRACTIONATION PROCESS AS RAW MATERIALS FOR HIGH FIBER PROCESSED FOOD Ainun Nafisah; Nahrowi Nahrowi
Food ScienTech Journal Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : University of Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/fsj.v3i1.12225

Abstract

Rice bran and pollard are by-products of the rice and wheat milling process. These two ingredients are generally not used as the main raw material for food products and are diverted as feed ingredients due to their low nutritional content. The nutrient content that is still present in pollard and rice bran, especially fiber and anti-nutrients, is very useful for people with diabetes and obesity. The purpose of this study was to analyze the effect of sifting and fractionation on nutrient content and to separate the components of pollard and rice bran using a gravity and molecular weight approach. The experimental design used was CRD (Completely Random Design) Factorial 2 × 3 × 3 for physical test data. Factor A is the material, namely pollard and rice bran, factor B is the position of the fraction, namely top, middle and bottom. Data analysis was performed by analysis of variance (ANOVA) and the significant one will be further analyzed using Duncan's test. The chemical property values were analyzed descriptively. The results showed that the value of bulk density (g l-1), compacted bulk density (g l-1), specific gravity (kg l-1), angle of purpose (o) of pollard and rice bran were significantly different (P<0.05) on all three fractions. The highest physical parameters for pollard were at the bottom fraction with the value 386.47 g g l-1, 537.28 g l-1, 1.42 kg l-1, ST 46.98o. The highest physical parameters for rice bran were at the upper fraction with the value of 394.09 g l-1, 526.33 g l-1, 1.50 kg l-1, ST 46.01o. Crude fiber content (%) of pollard and rice bran were the upper fractions 6.77 and 21.69, middle fractions 8.19 and 34.70, lower fractions 5.52 and 32.76. Fractionation technology can separate food ingredients based on chemical components, especially crude fiber with a molecular weight approach so that it can be seen whether the position of the fraction can be optimized or not as a raw material for making high-fiber biscuits. Physical and chemical properties of pollard and rice bran were best in the lower and upper fractions.
Penyuluhan Cara Pengolahan Pangan yang Sehat dan Baik Kepada Warga Desa Sindangsari Kabupaten Serang Rifqi Ahmad Riyanto; Fitria Riany Eris; Tubagus Bahtiar Rusbana; Vega Yoesepa Pamela; Septariawulan Kusumasari; Winda Nurtiana; Zulfatun Najah; Nia Ariani Putri; Puji Wulandari; Ainun Nafisah; Nezly Nurlia Putri; Filki Ardiansyah; Muhammad Dhabit Dzikribillah
ABDI MOESTOPO: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 4, No 02 (2021): Juli 2021
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.729 KB) | DOI: 10.32509/abdimoestopo.v4i02.1393

Abstract

Cara Pengolahan Pangan yang Baik (CPPB) diperlukan untuk menjamin mutu produk pangan serta menjaga keamanan pangan sehingga produk pangan tersebut aman dan layak dikonsumsi. Seiring berkembangnya daerah Desa Sindangsari dengan telah selesainya pembangunan kampus salah satu PTN di sekitar desa tersebut, perlu adanya keterampilan dan kemampuan pengolahan pangan yang baik di sana. Terlebih lagi semakin banyak peluang untuk membuka usaha berbasis pangan di sekitar kampus nantinya. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan warga Desa Sindangsari agar tercipta lingkungan yang lebih sehat dari segi pengolahan pangan. Langkah kegiatan pengabdian ini terdiri dari persiapan pelaksanaan kegiatan dalam bentuk komunikasi dengan perangkat desa setempat, pemaparan materi dan diskusi oleh dosen yang berkecimpung dalam bidang keamanan pangan, serta evaluasi hasil. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa pemahaman peserta terhadap CPPB menjadi meningkat serta seluruh peserta berkeinginan untuk membagikan pengetahuannya kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya. Tindak lanjut ke depannya salah satunya adalah pelatihan CPPB-IRT dengan fokus pengolahan pangan dari komoditas tertentu sehingga dapat langsung dipraktikkan oleh warga setempat.
Nutrient content and physical characteristics linkage of palm kernel meal and coconut meal after wet separation using molecular weight approac AINUN NAFISAH
Jambura Journal of Animal Science Vol 5, No 1 (2022): Jambura Journal of Animal Science
Publisher : Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35900/jjas.v5i1.15310

Abstract

The use of palm kernel meal and coconut meal is restriction in broiler feed due to the high crude fiber content, caused by the mixture of shells. This study aims to analyze the nutrient content, i.e., crude protein and crude fiber of palm kernel meal and coconut meal before and after using wet separation and molecular weight approach. The wet separation process for palm kernel meal and coconut meal was carried out for 6 hours to obtain a precipitate. The palm kernel meal and coconut meal that have been separated is divided into 3 fractions, i.e., upper, middle and lower. Each fraction was analyzed for crude fiber and crude protein content for chemical characteristics, and bulk density (g l-1), compacted bulk density (g l-1), specific gravity (kg l-1), angle of purpose (o). Crude protein and crude fiber content of palm kernel meal before being separated by wet separation were 11.72% and 13.11%, for coconut meal were 12.65% and 8.67%. The fraction of palm kernel meal has the highest crude protein content of 22.21% with the lowest crude fiber content 9.68%. Coconut meal in the middle fraction had the highest crude protein content 18.92% and the lowest crude fiber content of 11.95% in the upper fraction. The physical characteristics of the upper fraction of palm kernel meal and coconut meal had the lowest values (P0.05) of specific gravity (kg l-1), bulk density (g l-1) and compacted bulk density (g l-1). It can be concluded that the wet separation process with the molecular weight approach is able to increase the nutrient content especially of each fraction and can minimize the mixture of shells in palm kernel meal and coconut meal
Pemanfaatan Sumber Pangan Lokal Khas Provinsi Banten (Talas Beneng Sebagai Bahan Baku Produk Keripik) Putri, Nezly Nurlia; Putri, Nia Ariani; Eris, Fitria Riany; Pamela, Vega Yoesepa; Kusumasari, Septariawulan; Rusbana, Tubagus Bahtiar; Wulandari, Puji; Nurtiana, Winda; Riyanto, Rifqi Ahmad; Najah, Zulfatun; Nafisah, Ainun; Syabana, Mohamad Ana; Dzikribillah, Muhammad Dhabit; Hariyanti, Rahma
abdimesin Vol. 2 No. 2 (2022): Abdi-mesin
Publisher : UPN "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/abdimesin.v2i2.32

Abstract

Pengabdian masyarakat yang sudah dilaksanakan oleh program Studi Teknologi Pangan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di Desa Talaga Warna, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang merupakan salah satu perwujudan dan pengaplikasian bidang ilmu atau kajian pada bidang rekayasa dan pengolahan pangan. Pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh program studi teknologi pangan berkerjasama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pabuaran dalam bentuk pelatihan pengolahan kripik talas beneng yang difokuskan pada penurunan kadar oksalat. Batas konsumsi kalsium oksalat adalah 71mg / 100g berat basah talas. Apabila terkonsumsi dapat menimbulkan pembengkakan pada bibir dan mulut atau rasa gatal pada lidah dan tenggorokan.Kadar kalsium oksalat tepung talas varietas beneng, mentega, semir dan hijau berkisar antara 219.3 - 759.9 ppm. Umbi talas beneng dapat meningkatkan potensi sumber pangan lokal dan pendapatan masyarakat setempat. Salah satunya kandungan karbohidrat yang tinggi dan mensubstitusi beras. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memperkenalkan dan meningkatkan pemanfaatan sumber pangan lokal talas beneng sebagai bahan baku olahan produk pangan, memberikan informasi dan solusi cara menurunkan kandungan oksalat serta meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan masyarakat tentang teknologi pengolahan pangan. Pelaksanaan kegiatan ini terdiri dari tujuh tahapan dengan pendekatan partisipatif. Hasil pengabdian di Desa Telaga Warna adalah Ibu-ibu mampu menjelaskan sumber pangan lokal dan pemanfaatan talas beneng sebagai bahan baku olahan produk pangan, mendapatkan solusi alternatif dari kendala yang ditemukan dilapangan dan kegiatan ini berjalan dengan lancer dimana terlihat antusias dan semangat ibu-ibu mengikuti kegiatan ini.
Training on Domestic Waste Management and Use of Maggots (Black Soldier Fly (BSF) Larvae) for Alternative Animal Feeding for Farmer Groups Meindrawan, Bayu; Nafisah, Ainun; Syaifudin, Rizal; Aini, Fazriati Shofa; Romadoni, Fathurrahman Bintang
MOVE: Journal of Community Service and Engagement Vol. 4 No. 2 (2024): November 2024
Publisher : EQUATOR SINAR AKADEMIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54408/move.v4i2.402

Abstract

This program aims to provide training to the Setia Kawan Farmers Group (Poktan) in Baros Village so that they can optimize organic waste and produce alternative feed from magot (BSF larvae). Poktan raises livestock but this is not accompanied by sufficient knowledge, especially regarding the types of feed ingredients that can be used to meet the daily nutritional needs of livestock. Through the production of animal feed from magot, it is hoped that this can be a solution for the sustainable escalation of the livestock economy. The program starts from the socialization, training and assistance stages in the process of maintaining BSF and its application as an alternative animal feed. Partners are directly involved at all stages, namely by providing the latest information, determining organic waste collection points and maggot cultivation sites. After training, members of farmer groups are generally able to differentiate between organic and inorganic waste and know the basic principles of using maggots as alternative animal feed.
Impact of dietary Sardinella lemuru fish oil supplementation on egg production and fatty acid profile of laying quails in smallholder farming Nafisah, Ainun; Wijaya, Gagah Hendra; Romadoni, Fathurrahman Bintang; Fahri, Mochamad; Syafiyullah, Radian; Liany, Kania Asri
Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 22 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Pertanian
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/jip.v22i2.22287

Abstract

Smallholder quail farms often face limitations in providing high-quality feed that can improve both productivity and nutritional quality of eggs, particularly in enhancing essential fatty acids such as omega-3. Bali sardinella (Sardinella lemuru) fish oil is a rich source of omega-3 fatty acids and holds potential as a dietary supplement to enhance egg nutritional value. This study aimed to evaluate the impact of S. lemuru fish oil supplementation in feed on egg production and fatty acid profile of laying quails under smallholder farming conditions. A randomized block design was applied with four treatments: T0 (0% LFO), T1 (2% LFO), T2 (4% LFO), and T3 (6% LFO), each with two replications and 50 adult female quails per unit. The results showed that S. lemuru fish oil supplementation had no significant effect on egg weight, egg length, viscosity, yolk diameter and height, or other physical egg parameters. However, T3 significantly reduced egg production. The 2% LFO treatment (T1) resulted in the highest crude protein content in the feed and relatively better performance and physical egg quality. The fatty acid profile of eggs was dominated by oleic, palmitic, and linoleic acids, with omega-3 levels increasing in line with higher LFO doses. These findings suggest that 2% S. lemuru fish oil supplementation is suitable for smallholder quail farming to improve egg quality without significantly increasing production costs.
POTENSI SENYAWA AKTIF TANAMAN REMPAH TERHADAP KEMASAN EDIBLE FILM ANTIMIKROBA Putri, Nezly Nurlia; Annazhifah, Nurul; Nafisah, Ainun; Roidelindho, Kiki
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (The Journal of Food Technology and Health) Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Mei
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v5i1.1670

Abstract

Kemasan edible film merupakan pengemasan yang tepat untuk mempertahankan kualitas bahan pangan dan memperpanjang umur simpan produk. Edible film berbentuk lapisan tipis yang terbuat dari bahan biopolimer yang aman untuk dikonsumsi serta dapat diurai oleh mikroba.  Penambahan senyawa aktif tanaman rempah berupa antimikroba mampu menghambat pertumbuhan mikroba patogen dan memperbaiki sifat fisik edible film. Penulisan ini dlakukan berdasarkan hasil penelitian terkait senyawa aktif tanaman rempah dan potensinya terhadap kemasan edible film antimikroba, serta tantangan pengembangannya. Metode yang digunakan berupa kajian literatur dengan pendekatan kualitatif. Sumber kajian literatur dikumpulkan melalui unduhan dari database utama yaitu google scholar, research gate, dan science direct dengan rentang tahun terbit jurnal dari 2006 sampai 2022 yang sumber isinya dapat dipertanggungjawabkan dan relevan dengan penelitian atau kajian yang dilakukan. Proses penyeleksian menghasilkan 11 pustaka sesuai kriteria yang memuat edible film antimikroba. Senyawa penyusun edible film berupa senyawa makromolekul alami seperti polisakarida, protein, atau lipid sedangkan senyawa aktif tanaman rempah sebagai zat antimikroba seperti, kunyit putih, lengkuas, daun beluntas, pinang, kayu manis, jahe merah dan bawang putih. zat antimikroba ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri E.coli dan S.aureus. Potensinya terhadap edible film antimikroba terbukti mampu menghasilkan karakteristik edible film yang dihasilkan sesuai dengan JIS (1975) dan mampu mencegah kerusakan bahan pangan dimana terdapat zona hambat terhadap bakteri serta memperpanjnag umur simpan bahan pangan. Pemanfaatan edible film secara komersial belum banyak dikembangkan, meskipun jumlah produk olahan minimal meningkat di pasar modern. Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengaplikasian edible film antimikroba adalah penambahan zat antimikroba, plastisizer dan bahan tambahan lainnya yang kurang tepat berdampak pada karakteristik edible film yang dihasilkan. Selain itu, Setiap bahan pangan memiliki sifat yang berbeda-beda sehingga membutuhkan informasi yang lebih banyak dalam pengaplikasiannya.
Pelatihan Pembuatan Silase Kelompok Tani di Cireban Jaya Desa Kaduengang Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Kania Asri Liany; Pangesti, Raiza Tri; Wijaya, Gagah Hendra; Armelia, Vony; Syafiyullah, Radian; Magfira; Meindrawan, Bayu; Muztahidin, Nur Iman; Nurrofingah, Ulfa; Mardiyanti, Een; Nafisah, Ainun
SEWAGATI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol. 4 No. 3 (2025): September : Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia
Publisher : BADAN PENERBIT STIEPARI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/sewagati.v4i3.2922

Abstract

The availability of forage as the primary feed for ruminant livestock often fluctuates due to seasonal changes, particularly in smallholder farming systems. This situation is notably evident in the Cireban Jaya Farmers Group located in Kaduengang Village, where farmers struggle to meet forage needs during the dry season. In response to this problem, a community service program was conducted to improve farmers' knowledge and skills in forage preservation by introducing silage-making techniques. The activity involved a series of methods, including socialization to raise awareness, group discussions to facilitate knowledge exchange, and practical demonstrations on how to process forage into silage. The silage was prepared using a mixture of fresh forage, rice bran, molasses, and EM4 as a fermentation starter. Through hands-on experience, farmers learned to identify characteristics of successful silage fermentation, which include a brownish color, a distinct sour aroma, and a compact texture. The silage produced was tested on local sheep, and results indicated positive acceptance after a short adaptation period. This confirms that silage can be an effective alternative feed solution during periods of forage scarcity and nutritional stress. The outcomes of the program revealed increased farmer competence in feed processing and a more resilient approach to livestock feeding. Moreover, the initiative helped reduce the dependence on seasonal forage availability, contributing to the sustainability of small-scale livestock farming. The training also encouraged collaboration among farmers, promoted local innovation, and supported the development of feed preservation strategies tailored to community needs. Overall, the training significantly enhanced local farmers’ capacity to manage feed resources efficiently, ensuring better productivity and animal welfare, particularly in areas prone to seasonal feed shortages and unpredictable climate conditions.
Penyuluhan Pengenalan dan Potensi Talas Beneng sebagai Umbi Khas Provinsi Banten untuk Pakan Ternak Nafisah, Ainun; Armelia, Vony; Syafiyullah, Radian; Fahri, Mochamad; Bakti, Pramudya
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 3 (2025): Edisi Juli - September
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan, berkontribusi hingga 60-80% dari total biaya produksi. Penyuluhan ini betujuan untuk miningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai Talas Beneng sebagai tanaman umbi lokal khas Provinsi Banten yang memiliki potensi tinggi sebagai sumber pakan ternak. Kegiatan pengabdian dilakukan pada masyarakat kelompok tani Setia Kawan dan Kelompok Wanita Tani Matahari, Desa Baros, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, Provinsi Banten pada 10 Juli 2025. Kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre test pada 33 orang anggota kelompok tani Setia Kawan dan Kelompok Wanita Tani Matahari untuk menguji tingkat pengetahuan masyarakat. Materi diberikan secara oral dan diskusi dengan kelompok tani mengenai potensi talas beneng untuk dikembangkan dan limbahnya sebagai pakan ternak. Hasil pre test menunjukan bahwa seluruh masyarakat belum mengetahui tentang potensi talas beneng sebagai umbi khas provinsi Banten, cara pengolahannya, praktik pemberian, dan manfaat talas beneng. Hasil post test menunjukan bahwa sebagian besar masyarakat telah mengetahui potensi talas beneng (93.94%) sebagai umbi khas provinsi Banten (87.88%) untuk pakan ternak (93.94%), memahami bagian talas beneng yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan (100%), cara pengolahannya (60.61%), praktik pemberian (3.03%), dan manfaat talas beneng (96.97%). Sebanyak 96.97% masyarakat tertarik untuk menggunakan talas beneng sebagai pakan ternak dan perlunya sosialisasi lanjutan tentang pengolahan dan pemanfaatannya. Kegiatan pengabdian pada masyarakat meningkatkan pengetahuan kelompok Tani Setia Kawan dan Kelompok Wanita Tani Matahari terkait potensi talas beneng sebagai pakan ternak.
Korelasi Kalsium Darah dan Kalsium Susu pada Sapi Perah Laktasi Awal: Literatur Review Dafa, Adji Muhammad; Hadiputra, Raafi Akbar; Ismail, Abiyyu Hassan; Putri, Liana; Nurrofingah, Ulfa; Nafisah, Ainun
Jurnal Sains Peternakan Nusantara Vol 5 No 02 (2025): Jurnal Sains Peternakan Nusantara
Publisher : Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama Kebumen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53863/jspn.v5i02.1946

Abstract

Calcium plays a crucial role in maintaining physiological functions in dairy cows during early lactation, a period marked by a sharp increase in mineral demand for colostrum formation and milk production. Imbalances in calcium supply during this phase frequently lead to hypocalcemia, affecting health and milk yield. A review of recent literature indicates a strong association between blood calcium concentration and milk calcium levels, where fluctuations in blood calcium tend to correspond with changes in calcium secreted into milk. Previous studies reported a high positive correlation, with a value of 0.905, demonstrating a close relationship between these two variables. Physiological mechanisms involving parathyroid hormone, vitamin D, and bone mobilization play major roles in regulating calcium homeostasis during this critical period. Monitoring both blood and milk calcium serves as an important indicator of metabolic status and supports the development of effective mineral supplementation strategies for transition dairy cows