Ezra Oktaliansah
Departemen Anestesiologi Dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 74 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Angka Kejadian Delirium dan Faktor Risiko di Intensive Care Unit Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Adiwinata, Rakhman; Oktaliansah, Ezra; Maskoen, Tinni T.
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.923 KB) | DOI: 10.15851/jap.v4n1.744

Abstract

Delirium ditandai dengan perubahan status mental, tingkat kesadaran, serta perhatian yang akut dan fluktuatif. Keadaan ini merupakan kelainan yang serius berhubungan dengan pemanjangan lama perawatan di Intensive Care Unit (ICU), biaya yang lebih tinggi, memperlambat pemulihan fungsional, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah mengetahui angka kejadian delirium dan faktor risiko terjadinya delirium di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Pengambilan sampel dilakukan selama tiga bulan (Januari–Maret 2015) di ICU RSHS Bandung. Metode penelitian ini deskriptif observasional secara kohort prospektif, menggunakan alat ukur Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit (CAM-ICU), sebelumnya dilakukan penilaian dengan Richmond agitation-sedation scale (RASS) pada pasien yang tersedasi. Hasil penelitian ini dari 105 pasien, 22 pasien dieksklusikan, dari 83 pasien didapatkan 31 pasien positif delirium, angka kejadian 37%. Faktor-faktor risiko pada pasien positif delirium terdiri atas geriatri 15 dari 31, pemakaian ventilator 12 dari 31, pemberian analgesik morfin 9 dari 31, sepsis atau infeksi 9 dari 31, kelainan jantung 8 dari 31, acute physiology and chronic health evaluation (APACHE) II skor tinggi 8 dari 31, kelainan ginjal 7 dari 31, laboratorium abnormal 7 dari 31, pemberian sedasi midazolam 6 dari 31 kelainan endokrin 5 dari 31, pemberian analgesik fentanil 2 dari 31, dan strok 1 dari 31. Simpulan, angka kejadian delirium di ICU RSHS Bandung cukup tinggi sebesar 37% dengan faktor risiko terbesar adalah pasien geriatrik.Kata kunci: Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit, delirium, faktor risiko, Richmond agitation-sedation scale Incidence and Risk Factors of Deliriumin in the Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractDelirium ditandai dengan perubahan status mental, tingkat kesadaran, serta perhatian yang akut dan fluktuatif. Keadaan ini merupakan kelainan yang serius berhubungan dengan pemanjangan lama perawatan di Intensive Care Unit (ICU), biaya yang lebih tinggi, memperlambat pemulihan fungsional, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah mengetahui angka kejadian delirium dan faktor risiko terjadinya delirium di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Pengambilan sampel dilakukan selama tiga bulan (Januari–Maret 2015) di ICU RSHS Bandung. Metode penelitian ini deskriptif observasional secara kohort prospektif, menggunakan alat ukur Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit (CAM-ICU), sebelumnya dilakukan penilaian dengan Richmond agitation-sedation scale (RASS) pada pasien yang tersedasi. Hasil penelitian ini dari 105 pasien, 22 pasien dieksklusikan, dari 83 pasien didapatkan 31 pasien positif delirium, angka kejadian 37%. Faktor-faktor risiko pada pasien positif delirium terdiri atas geriatri 15 dari 31, pemakaian ventilator 12 dari 31, pemberian analgesik morfin 9 dari 31, sepsis atau infeksi 9 dari 31, kelainan jantung 8 dari 31, acute physiology and chronic health evaluation (APACHE) II skor tinggi 8 dari 31, kelainan ginjal 7 dari 31 laboratorium abnormal 7 dari 31, pemberian sedasi midazolam 6 dari 31 kelainan endokrin 5 dari 31, pemberian analgesik fentanil 2 dari 31, dan strok 1 dari 31. Simpulan, angka kejadian delirium di ICU RSHS Bandung cukup tinggi sebesar 37% dengan faktor risiko terbesar adalah pasien geriatrik.Key words: Confusion Assessment Methode-Intensive Care Unit, delirium, Richmond agitation-sedation scale, risk factor DOI: 10.15851/jap.v4n1.744
Perbandingan Kombinasi Tramadol Parasetamol Intravena dengan Tramadol Ketorolak Intravena terhadap Nilai Numeric Rating Scale dan Kebutuhan Opioid Pascahisterektomi Karmena, Dendi; Oktaliansah, Ezra; Surahman, Eri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.386 KB)

Abstract

Nyeri pascabedah adalah masalah penting dalam pembedahan. Penelitian ini bertujuan membandingkan kombinasi tramadol parasetamol intravena dengan tramadol ketorolak intravena terhadap nilai numeric rating scale (NRS) dan kebutuhan opioid pascabedah histerektomi abdominal. Uji klinik acak terkontrol buta ganda dilakukan terhadap 42 wanita (18–60 tahun) status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) I–II yang menjalani pembedahan histerektomi abdominal dalam anestesi umum di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Agustus–November 2014. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 21 orang menerima kombinasi tramadol parasetamol intravena dan 21 orang menerima kombinasi tramadol ketorolak intravena yang diberikan saat dilakukan penutupan peritoneum. Penilaian skala nyeri dilakukan dengan menggunakan nilai numeric rating scale baik pada saat istirahat maupun saat mobilisasi. Analisis menggunakan Uji Mann-Whitney. Pada penelitian ini ditemukan nilai NRS pada kelompok tramadol parasetamol dan kelompok tramadol ketorolak tidak berbeda bermakna (p>0,05). Simpulan penelitian ini adalah pemberian kombinasi tramadol parasetamol intravena sebanding dengan kombinasi tramadol ketorolak terhadap nilai NRS dan kebutuhan opioid pascabedah histerektomi abdominal.Kata kunci: Kebutuhan opioid, ketorolak, numeric rating scale, parasetamol, tramadolComparison of Combined Intravenous Tramadol-Paracetamol Versus Tramadol-Ketorolac on Numeric Rating Scale and Opioid Requirement on Post Histerectomy PatientsPostoperative pain is an important problem in surgery. This study aimed to compare the combination of intravenous tramadol paracetamol and tramadol ketorolac to numeric rating scale (NRS) to postoperative opioid requirements in abdominal hysterectomy. Double blind randomized controlled trial was conducted on 42 women (18–60 years) with ASA physical status I–II who underwent abdominal hysterectomy surgery under general anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung within the period of August–November 2014. Subjects  were divided into two groups: 21 subjects received a combination of intravenous tramadol paracetamol and 21 subjects received combination of intravenous  tramadol ketorolac that was given when peritoneum was closure. The assessment of postoperative pain was performed using a numeric rating scale  both at rest and during mobilization. Correlation analysis is conducted using Mann-whitney test. Result shows that the value of the NRS in group tramadol paracetamol compared to tramadol ketorolac  was not significantly different (p>0.05). This study concludes that the combinations of intravenous tramadol paracetamol and  tramadol ketorolac are the same in terms of the NRS and postoperative opioid requirement after abdominal hysterectomy.Key words: Ketorolac, numeric rating scale, opioid requirement, paracetamol,  tramadol DOI: 10.15851/jap.v3n3.612
Perbandingan Kombinasi Bupivakain 0,5% Hiperbarik dan Fentanil dengan Bupivakain 0,5% Isobarik dan Fentanil terhadap Kejadian Hipotensi dan Tinggi Blokade Sensorik pada Seksio Sesarea dengan Anestesi Spinal Okatria, Ahmado; Oktaliansah, Ezra; Bisri, Tatang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.221 KB)

Abstract

Anestesi spinal mejadi teknik pilihan untuk seksio sesarea karena lebih aman dan efisien dibanding dengan anestesi umum. Anestesi spinal pada wanita hamil menyebabkan hipotensi lebih berat dan cepat. Hipotensi berhubungan dengan ketinggian blokade simpatis yang dipengaruhi oleh barisitas anestetik lokal. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kejadian hipotensi dengan tinggi blokade sensorik antara kombinasi bupivakain 0,5% hiperbarik 12,5 mg dan fentanil 25 µg dengan bupivakain 0,5% isobarik 12,5 mg-fentanil 25 µg pada anestesi spinal untuk seksio sesarea. Penelitian dilakukan di Central Operating Theatre (COT) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung selama bulan April‒Mei 2015 dengan uji klinis acak tersamar ganda terhadap 40 pasien yang menjalani seksio sesarea dengan status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) II. Kejadian hipotensi dan tinggi blokade sensorik dinilai setelah pemberian anestesi spinal. Data penelitian dianalisis menggunakan uji-t, Mann-Whitney, dan chi-kuadrat. Hasil penelitian bermakna jika nilai p<0,05. Kejadian hipotensi antara kelompok hiperbarik dan isobarik adalah 75% vs 100% (p=0,017). Tinggi blokade sensorik rata-rata antara kedua kelompok di T6 vs T4 (p=0,000). Kejadian hipotensi dan blokade sensorik lebih tinggi pada kombinasi bupivakain 0,5% isobarik 12,5 mg dan fentanil 25 µg dibanding dengan bupivakain 0,5% hiperbarik 12,5 mg dan fentanil 25 µg.Kata kunci: Anestesi spinal, bupivakain hiperbarik, bupivakain isobarik, seksio sesareaComparison between Combination of Hyperbaric 0.5% Bupivacain with Fentanyl and 0.5% Isobaric Bupivacain with Fentanyl Use on Incidence of Hypotension and Sensoric Blockade Level in Caesarian Section with Spinal AnesthesiaSpinal anesthesia technic has been the technic of choice for caesarean section due to its safety and efficiency compared to general anesthesia. Spinal anesthesia in pregnancy causes hypotension in a heavier and more rapid manner. Hypotension is associated with the height of the sympathetic block influenced by the baricity of the local anesthetics. This study aimed to compare hypotension incidence and sensory blockade height between combination of 12.5 mg 0.5% hyperbaric bupivacaine with 25 µg fentanyl and 12.5 mg 0.5% isobaric bupivacaine with fentanyl 25 µg in spinal anesthesia for caesarean section. The study was performed at the central operating theatre (COT) of Dr. Hasan Sadikin General Hospital during April‒May 2015 using double blind randomized control trial method on 40 patients underwent caesarean section with American Society of Anesthesiologist (ASA) II physical status. The hypotension incidence and sensory blockade height were assessed after spinal anesthesia and measured by t-test, Mann Whitney, and Chi-square tests. Significancy was declared when p value <0.05. The hypotension incidence between the hyperbaric and isobaric groups were 75% vs. 100% (p value=0.017). The mean sensory blockade height was at T6 vs. T4 (p value=0.000). The hypotension incidence and sensory blockade are significantly higher in isobaric 12.5 mg 0.5% bupivacainewith 25 µg fentanyl compared to those in 12.5 mg hyperbaric 0.5% bupivacaine with fentanyl 25 µg.Key words: Caesarean section, hyperbaric bupivacaine, isobaric bupivacaine, spinal anesthesia  DOI: 10.15851/jap.v4n2.820
Perbandingan antara Sevofluran dan Propofol Menggunakan Total Intravenous Anesthesia Target Controlled Infusion terhadap Waktu Pulih Sadar dan Pemulangan Pasien pada Ekstirpasi Fibroadenoma Payudara Arvianto, Arvianto; Oktaliansah, Ezra; Surahman, Eri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.483 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n1.1002

Abstract

Penggunaan total intravenous anesthesia (TIVA) dengan propofol terus meningkat karena mudah untuk dikendalikan, onset cepat, durasi singkat, efek samping minimal, serta pemulihan psikomotor dan kognitif lebih cepat. Teknologi target controlled infusion (TCI) diciptakan untuk mempermudah dilakukan TIVA bagi dokter anestesi. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan waktu pulih sadar dan pemulangan pasien antara teknik anestesi sevofluran dan TIVA TCI propofol. Penelitian ini dilakukan secara acak terkontrol buta tunggal terhadap 36 orang pasien bedah rawat jalan, wanita usia 18–65 tahun dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) kelas I–II yang menjalani operasi biopsi ekstirpasi fibroadenoma payudara satu sisi di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Agustus–November 2015. Sampel dikelompokkan secara random menjadi kelompok sevofluran dan TCI. Kelompok sevofluran mendapatkan anestesi inhalasi sevofluran dan kelompok TCI mendapatkan anestesi TCI propofol dengan metode Schnider Effect Concentration (ec). Waktu pulih sadar dan pemulangan pasien dikumpulkan dan dianalisis menggunakan uji-t, uji Mann-Whitney, dan chi-kuadrat dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan perbandingan waktu pulih sadar pada kelompok sevofluran, 429±0,763 menit, sedangkan kelompok TCI 9,356±2,331 menit. Simpulan penelitian adalah teknik anestesi sevofluran memberikan waktu pulih sadar yang lebih cepat dan TIVA TCI propofol memberikan waktu pemulangan pasien yang lebih cepat.Kata kunci: Fibroadenoma payudara, sevofluran, TIVA TCI propofol, waktu pulih sadar, waktu pemulangan pasien Comparison of Emergence Time and Discharge Time between Sevoflurane and Propofol Using Total Intravenous Anesthesia with Target Controlled Infusion in Patients Underwent Extirpation of Breast FibroadenomaTotal intravenous anesthesia (TIVA) with propofol is increasingly used, because it is easy to control, has rapid onset, short duration, minimal adverse effects, and rapid recovery of the psychomotor and cognitive functions. This study was conducted to compare the emergence and discharge time between patients receiving sevoflurane and propofol with TCI. A single blind randomized controlled clinical trial was conducted on 36 female patients aged 18–65 years with American Society of Anesthesiologists (ASA) physical status I–II, who underwent breast fibroadenoma extirpation biopsy at the outpatient surgical unit in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The subjects were randomized and divided into two groups: sevoflurane group receiving inhalation anesthesia with sevoflurane and target controlled infusion (TCI) group receiving propofol TCI Schnider’s Effect Concentration (ec). The mergence time and discharge time were recorded for each group and analysis was performed using Mann Whitney test, t-test and chi-square/Fisher’s exact with 95% confidence interval. This study showed that the emergence time in sevoflurane group and TCI group were 7.429±0.763 minutes and 9.356±2.331 minutes, respectively. The result showed that sevoflurane provides shorter emergence time while TIVA with TCI propofol provides shorter discharge time.Key words: Breast fibroadenoma, emergence time, patients discharging time TIVA TCI propofol, sevoflurane 
Penggunaan Anestesi Lokal dan Adjuvan pada Analgesi Epidural di Wilayah Jawa Barat Tahun 2015 Yadi, Dedi Fitri; Ibnu, Muhamad; Oktaliansah, Ezra
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.788 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n2.1107

Abstract

Analgesi epidural yang optimal akan menghasilkan penanganan nyeri yang baik dengan efek samping minimal dan meningkatkan kepuasan pasien. Sampai saat ini belum terdapat data di Indonesia khususnya di wilayah Jawa Barat mengenai penggunaan anestesi lokal dan adjuvan pada analgesi epidural. Tujuan penelitian ini mecari data mengenai penggunaan anestesi lokal dan adjuvan yang digunakan oleh dokter spesialis anestesi di wilayah Jawa Barat pada tahun 2015. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2016 di Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengambilan data menggunakan kuesioner dan pendekatan cross sectional. Kuesioner dikirimkan kepada 120 dokter spesialis anestesi di Jawa Barat melalui jasa pos dan 30 kuesioner diberikan langsung kepada dokter spesialis anestesi yang bekerja di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Angka respons yang didapatkan sebesar 47,3%. Hasil penelitian ini didapatkan dokter spesialis anestesi di Jawa Barat yang masih melakukan analgesi epidural pada tahun 2015 sebesar 73,2%. Obat anestesi lokal yang paling banyak digunakan untuk analgesi epidural adalah bupivakain sebesar 94,23%. Konsentrasi terbanyak 0,125% sebesar 82%. Adjuvan yang paling banyak digunakan adalah fentanil sebesar 96,9%. Simpulan penelitian ini sebagian besar dokter spesialis anestesi masih menggunakan epidural sebagai analgesi sehingga bupivakasin dan fentanil menjadi obat terbanyak yang digunakan.Kata kunci: Analgesi epidural, anestesi lokal, adjuvan  Local Anesthetic and Adjuvan Used for Epidural Analgesia in West Java in 2015Optimal analgesia epidural technique should promote effective pain relief with minor adverse event and major pastient satisfactory. Up till now, there was no data about local anesthetic and adjuvan agent used for epidural analgesia by anesthesiologist in Indonesia, especially in West Java. The purpose of this study to find data regarding local anesthetic and adjuvan agent used for epidural analgesia by anesthesiologist in Indonesia, especially in West Java in 2015. This research was conducted from August to September 2016 in the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy Dr. Hasan Sadikin Hospital in Bandung. This is a descriptive study with cross sectional approach using questionairre. Questionairre was sent to 120 anesthesiologist through mail and 30 questionairre was given to anesthesiologists worked at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Response was obtained 47.3%. This study shows that there were 73.2% anesthesiologist performed epidural analgesia in 2015. The most  local anesthetic used in epidural blockade was bupivacaine, amounted 94.23% and the most concentration is 0.125%, amounted 82%. The most used adjuvant was fentanyl, 96.9%. In Conclusion, most of the anesthesiologist used epidural as an analgesia so bupivacaine and fentanyl used most frequentKey words: Epidural analgesia, local anesthetic, adjuvan
Perbandingan Blokade Kaudal Bupivakain 0,25% dengan Kombinasi Bupivakain 0,25% dan Klonidin 1 µg/kgBB terhadap Waktu Kebutuhan Analgesik Pascaoperasi Hipospadia Atmoko, Agus Fitri; Yadi, Dedi Fitri; Oktaliansah, Ezra
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.028 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n2.1271

Abstract

Blokade  kaudal merupakan salah satu blokade regional yang digunakan pada pediatrik. Teknik ini digunakan sebagai tata laksana nyeri pascaoperasi urogenital, rektal, inguinal, dan operasi ekstremitas bawah. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan waktu kebutuhan analgesik pascaoperasi hipospadia pada blokade kaudal bupivakain 0,25% dengan kombinasi bupivakain 0,25% dan klonidin 1 µg/kgBB. Penelitian menggunakan uji klinis acak terkontrol buta tunggal dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung bulan November 2017 sampai Januari 2018. Pasien dibagi menjadi grup bupivakain 0,25% (grup B, n=15) dan grup kombinasi bupivakain 0,25% klonidin 1 µg/kgBB (grup BK, n=15). Uji statistik menggunakan uji-t tidak berpasangan dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian mengungkapkan waktu kebutuhan analgesik pertama lebih lama pada grup BK (766,46±75,34 menit) dibanding dengan grup B (344,4±59,46 menit) dengan perbedaan signifikan (p<0,05). Simpulan, kombinasi bupivakain 0,25% dan klonidin 1 µg/kgBB pada blokade kaudal menghasilkan waktu kebutuhan analgesik pertama lebih lama dibanding dengan bupivakain 0,25% pascaoperasi hipospadia. Kata kunci: Blokade kaudal, bupivakain, hipospadia, klonidin, waktu kebutuhan analgesik  Comparison of Bupivacaine Caudal Blockade with Bupivacaine Clonidine Caudal Blockade to Timing of Post-operative Hypospadias Analgesic Requirement Caudal blockade was one of the regional blocks used in pediatrics. This technique was used as a post-operative pain management measure in urogenital, rectal, inguinal and lower extremity surgeries. The purpose of this study was to compare the first analgesic requirement between 0.25% bupivacaine caudal blockade and 0.25% bupivacaine and 1 µg/kgBW clonidine caudal blockade combination for post-operative hypospadia. The study used a single blind randomized control trial conducted at Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS) Bandung in the period of November 2017 to January 2018. Patients were divided into 0.25% bupivacaine group (B group, n=15) and 0.25% bupivacaine and 1 µg/kgBW clonidine combination group (BK group, n=15). Statistical test using unpaired t test and Mann Whitney test. Results revealed that the time of first analgesic requirement was longer in BK group (766.46±75.34 min) than in B group (344.4±59.46 min) with a significant difference (p<0.05). In conclusion, 0.25% bupivacaine and 1 µg/kgBW clonidine combination in caudal blockade resulting in a time analgesic requirement that is longer than 0.25% bupivacaine for post-operative hypospadias.                Key words: Analgesic requirement time, bupivacaine, caudal blockade, clonidine, hypospadias
Pengaruh Pemberian Lidokain 2% sebelum Ekstubasi terhadap Penurunan Kejadian Batuk saat Proses Ekstubasi Suryaningrat, IGB; Bisri, Tatang; Oktaliansah, Ezra
Majalah Anestesia dan Critical Care Vol 32 No 3 (2014): Oktober
Publisher : Perdatin Pusat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batuk saat ekstubasi pada pasien dengan anestesi umum dan endotrakeal merupakan masalah klinis yang dihadapi. Angka kejadian berkisar 38%−96%. Pemberian lidokain sebelum ekstubasi secara laringotracheal instilation of topical anesthesia endotracheal tube (ETT LITA) dapat mengurangi kejadian batuk saat ekstubasi. Tujuan penelitian adalah menilai efek pemberian lidokain 2% 1,25 mg/kgBB endotrakeal sebelum ekstubasi terhadap kejadian batuk saat ekstubasi. Penelitian kuantitatif intervensi dengan uji klinis acak terkontrol buta tunggal dengan subjek penelitian: 50 pasien laki-laki, usia 18−60 tahun, status fisik American Society of Anesthesiologists I dan II, operasi elektif dengan endotrakeal. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok I yang mendapat lidokain 2% 1,25 mg/kgBB endotrakeal 5 menit sebelum ekstubasi dan kelompok kontrol yang tanpa perlakuan. Data diuji dengan uji chi-kuadrat dan uji t. Penelitian dilakukan periode Februari−April 2014 di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Kejadian batuk rata-rata saat ekstubasi pada kelompok lidokain lebih rendah dibanding dengan kelompok kontrol dengan hasil yang bermakna (p&lt;0,05). Derajat batuk 5 menit pascaekstubasi antara kedua kelompok menunjukkan berbeda bermakna (p=0,00046). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian lidokain 2% 1,25 mg/kgBB endotrakeal sebelum ekstubasi dapat menurunkan kejadian batuk saat ekstubasi. Kata kunci: Anestesi umum, batuk, ekstubasi, lidokain endotrakeal Cough during extubation under general anesthesia with endotracheal intubation is a clinical problem that encountered. The Incidence rates ranged from 38%−96%. Lidocaine spray given before extubation through instillation process into the laringotracheal instilation of topical anesthesia endotracheal tube (ETT LITA) significantly lower the incidence of coughing during extubation. The goal of this research is to see the effect of lidocaine 2%, 1,25 mg/kgbw through endotracheal before extubation toward cough incidence during extubation of endotracheal tube process. In our prospective, single-blind randomized controlled clinical trial, we enrolled 50 male patients aged 18−60 years, ASA physical status I and II underwent elective surgery with generalwith endotracheal tube insertion. The subject was then divided into 2 groups, first group had lidocaine 2% 1,25 mg/kgBW endotracheal 5 minute before extubation and the control group without any intervention. The data result was tested statistically with chi-square and t-test. This study was conducted from February ̶ April 2014 in the operating room Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung.Tthe statistic result, cough incidence was found at extubation process in the group that had lidocain 2% 1.25 mg/kgbw is lower than control group with significant result (p&lt;0.05). the cough degree 5 minutes post extubation in the grup that had lidocain 2% 1.25 mg/kgbw compare to control group in significantly different (p=0.00046). The conclusion is shows lidocaine 2% 1.25 mg/kgbw effect through endotracheal before extubation significantly lower cough incidence throughout extubation process. Key words: Cough, endotracheal lidocaine, extubation, general anesthesia Reference Minogue SC, Ralph J, Lampa MJ. Laryngotracheal topicalization with lidocaine before intubation decreases the incidence of coughing on emergence from general anesthesia. Anesth Analg. 2004;99:1253−7. Jee D, Park SY. Lidocaine sprayed down the endotracheal tube attennuates the airwaycirculatory reflexes by local anesthesia during emergence and extubation. Anesth Analg. 2003;96(1):293−7. Ki YM, Kim NS, Lim SH, Kong MH, Kim HZ. The effect of lidocaine spray before endotracheal intubation on the incidence of cough and hemodynamics during emergence in children. Korean J Anesthesiol .2007;53:1−6. Morgan EG, Mikhail MS, Murray MJ. Management airway. Dalam: Morgan EG, Mikhail MS, Murray MJ, penyunting. Clinical anesthesiology. Edisi ke-4. New York: McGraw-Hill;2006. Hlm. 91−116. Henderson J. Airway management in adult. Dalam: Miller RD, penyunting. Miller’s Anesthesia. Edisi ke-7. Philadelphia: Elsevier Churcill Livingstone; 2010. Hlm.1573−610. Karmarkar S, Varshney S. Tracheal extubation. Continuing education in anaesthesia, Crit are &amp; Pain 2008;8(6):214−20 Gonzalez RM, Bjerke RJ, Drobycki T. Prevention of endotracheal tube-induced coughing during emergence from general anesthesia. Anesth Analg. 1994;79:792−5. Diachun CD, Tunink BP, Brock-Utne JG. Suppression of cough during emergence from general anesthesia: laryngotracheal lidocaine through a modified endotracheal tube. J Clin Anesth 2001;13:447−57 Nishino T, Hiraga K, Sugimori K. Effects of intravena lignocaine on airway reflexes elicited by irritation of the tracheal mucosa in humans anesthetized with enflurane. Br J Anaesth. 1990;64:682−7. Hamaya Y, Dohi S. Differences in cardiovascular response to airway stimulation at different sites and blockade of responses by lidocaine. Anesthesiol.2000;93(1):95−103 Orandi AN, Hajimohammadi F. Post-Intubation Sore Throat and Menstrual Cycles. Anesth Pain. 2013;3(2):243−9. Liu J, Zhang X, Gong W, Li S, Wang F, FuS, dkk. Correlations between Controlled endotracheal tube pressure and postprocedural comploication: a multicenter study. Anesth Analg 2010;111;1133−7 Jaicbandran VV, Bhanulaksmi IM, Jagadeesh V. Intracuff buffered lidocaine versus saline or air-A comparati.v.e study for smooth extubation in patients with hyperactive airways undergoing eye surgery. SAJAA .2009;15(2):114 Navarro LHC, Lima RM, Aguiar AS, Braz JR, Carness JM, Modolo NS. The effect of intracuff alkalinized 2% lidocaine on emergence coughing, sore throat, and hoarseness in smokers. Rev Assoc Med Bras. 2012;58(2):248−53. Canning BJ. Anatomy and neurophysiology of the cough reflex. Chest. 2006;129:Suppl:33−47. Widdicombe JG. A brief overview of the mechanisms of cough. Dalam: Chung KF, Widdicombe JG, Boushey HA, penyunting. Cough: Causes, mechanism and therapy. Massachusetts: Blackwell Publishing: 2003.hlm.17−25.
Pengaruh Magnesium Sulfat Intravena terhadap Kebutuhan Fentanil dan Propofol Intraoperatif pada Pasien yang Dilakukan Histerektomi dengan Anestesi Umum Thayeb, Srilina; Bisri, Tatang; Oktaliansah, Ezra
Majalah Anestesia dan Critical Care Vol 32 No 3 (2014): Oktober
Publisher : Perdatin Pusat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian adjuvan analgetik dan sedatif intraoperatif bisa mengurangi pemakaian fentanil dan propofol sehingga akan mengurangi efek samping. Magnesium sulfat (MgSO4) mempunyai efek analgetik dan sedatif dengan bekerja sebagai antagonis reseptor N-Methyl D-Aspartat (NMDA) dan menghambat saluran kalsium (Ca-channel blocker). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian MgSO4 untuk mengurangi penggunaan fentanil dan propofol intraoperatif. Penelitian dilakukan di Central Operating Theatre (COT) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung sejak bulan Agustus−Oktober 2013 dengan uji klinis acak tersamar ganda pada 58 pasien yang menjalani histerektomi dengan anestesi umum. Pasien dibagi dalam 2 kelompok, masing-masing 29 orang. Kelompok MgSO4 mendapatkan MgSO4 30 mg/kgBB sebelum induksi anestesi dilanjutkan 10 mg/kgBB/jam sampai akhir operasi. Kelompok kontrol mendapatkan NaCl 0,9% dengan jumlah yang sama. Anestesi yang adekuat dinilai dengan patient response to surgical stimulus (PRST) dan bispectral index (BIS). Data hasil penelitian diuji dengan uji-t dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian didapatkan bahwa dengan pemberian MgSO4 untuk mempertahankan nilai BIS 40−60 dan PRST 2−4 menggunakan fentanil dan propofol yang lebih sedikit dibanding dengan kelompok kontrol, dengan pebedaan sangat bermakna (p&lt;0,01). Simpulan penelitian ini adalah pemakaian MgSO4 bisa mengurangi kebutuhan fentanil dan propofol intraoperatif. Kata kunci: Bispectral index, fentanil, propofol, patient response to surgical stimulus Administration of intraoperative analgetic adjuvant will reduce major fentanyl requirement dose, in consideration of increasing fentanyl dose denotes more side effects. Magnesium sulphate (MgSO4 )acts as NMDA receptor – antagonist and blocks calcium channel (Ca channel blocker) and give effect analgesia and anesthesia. The aim of this study is to understand effectiveness of magnesium sulphate administration to reduce fentanyl and propofol requirement intraoperative.This study was conducted with double blind randomized controlled trial method to 58 patients who underwent hysterectomy in general anesthesia and divided into two groups of 29 persons .The MgSO4 group was administered 30mg/kgBW MgSO4 intravenously before induction and 10 mg/kgBW during surgery. The NaCl group was administered NaCl 0,9% intravenous. In both groups, PRST and BIS was assessed. This test results in administration of magnesium sulphate to maintain BIS score 40−60 and PRST 2–4 could reduce dose fentanyl and propofol requirement dose the lower in magnesium group (p&lt;0,01). The Conclusion of this study is there is MgSO4 can reduce fentanyl and propofol intraoperatif. Key words: Bispectral index, fentanyl, propofol, patient response to surgical stimulus Reference Chin KJ, Yeo SW. Bispectral index values at sevoflurane concentrations of 1% and 1.5% in lower segment cesarean delivery. Anesth Analg. 2004;98:1140–4. Barbosa FT, Barbosa LT, Jucá MJ, Cunha RMd. Applications of magnesium sulfate in obstetrics and anesthesia. Rev Bras Anestesiol. 2010;60:481–97. Nurrochmad A, Masahiko O, Narita M, Suzuki T. The advantages of fentanyl for the treatment of pain: studies of pharmacological profiles and fentanyl related side effects. Majalah Farmasi Indonesia. 2004;15:185. Ray M, Bhattacharjee DH, Hajra B, Pal R, Chatterjee N. Effect of clonidine and magnesium sulphate on anaesthetic consumption, haemodynamics and postoprative recovery: a comparative study. Indian J Anaesth.2010;54:137–41. Kothari D, Mehrotra A, Choudhary B, Mehra A. Effect of intravenous magnesium sulfate and fentanyl citrate on circulatory changes during anaesthesia and surgery: a clinical study. Br J Anesth.2008;52:800–4. Na HS, Lee JH, Hwang JY, Ryu JH, Han SH, Jeon YT, dkk. Effect of magnesium sulphate on intraoperative neuromuscular blocking agent requrements and postoperative analgesia in children with cerebral palsy. Br J Anesth. 2010;104:344–50. Jee H, Lee D, Yun S, Lee C. Magnesium sulphate attenuates arterial pressure increase during laparoscopic cholecystectomy. Br J Anesth. 2009;103:484–9. Lee DH, Kwon IC. Magnesium sulphate has beneficial effects as an adjuvant during general anaesthesia for caesarean section. Br J Anesth.2009;103:861–6. Choi JC, Yoon KB, Um DJ, Kim C, Kim JS, Lee SG. Intravenous magnesium sulfate administration reduces propofol infusion requirements during maintenance of propofol–N2O anesthesia. Anesthesiology 2002;97:1137–41. Levaux CB, Dewandre PY. Effect of intraoperative magnesium sulphate on pain relief and patient comfort after major lumbar orthopedic surgery. Anaesthesia 2003;58:131–5. Širvinskas E, Laurinaitis R. Use of magnesium sulfate in anesthesiology. Medicina.2002;38:695. Dube LG, JC. The therapeutic use of magnesium in anesthesiology, intensive care and emergency medicine: a review. Can J Anesth. 2003;50:732–46. Rao M. Acute postoperative pain. Indian JAnaesth 2006;50:340–4. Koinig H, Wallner T, Marhofer P, Andel H, Rauf KH, Mayer N. Magnesium sulfate reduces intra and postoperative analgesic requirements. Anesth Analg. 1998;87:206–10. Morgan JM, Murray MJ. Pain management. Dalam: Morgan JM, Murray MJ, penyunting. Clinical Anesthesiology. Edisi ke-4. New York: McGraw Hill Companies; 2006. Hlm.359–411. Seyhan TO, Tugrul M, Sungur MO, Kayachan S, Telci L, Pembeci K, dkk. Effect of three diffrent dose regimens of magnesium on propofol requirements, haemodynamic variables and postoperative pain relief in gynaecological surgery. Br J Anaesth. 2006;96:247–52.
MOBILISASI DINI DI ICU Muhari, Andie; Suwarman; Oktaliansah, Ezra; Sitanggang, Ruli H
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mobilisasi dini dan rehabilitasi pada pasien di perawatan ruang intensif harus dilaksanakan sesegera mungkin. Tindakan mobilisasi pada pasien di ruang perawatan intensif merupakan tindakan dasar keperawatan dan kebutuhan berdasar alasan klinis. Terjadinya gejala sisa jangka panjang termasuk terjadinya ICU-acquired muscle weakness (ICUAW) terjadi hingga 50% dari pasien yang dirawat dan berhubungan dengan kelemahan tubuh pada pasien dengan perawatan yang lama secara fungsi dan kualitas hidup. Risiko terjadinya perubahan kondisi dan atrofi otot sangat cepat pada keadaan tirah baring yang lama. Mobilisasi dini juga dapat mempercepat waktu pulih, mengurangi lama perawatan di ICU, mengurangi perawatan kembali ke ICU dan bahkan meningkatkan waktu survival rate. Mobilisasi dini pada pasien ICU secara konvensional dan mode baru pada perawatan penyakit kritis bertujuan untuk mengurangi efek buruk imobilisasi pada pasien kritis. Rehabilitasi fisik berjalan linier mulai dari aktifitas di tempat tidur, duduk, berdiri, dan berjalan. Penilaian fungsi di ICU berupa keluaran fungsi tubuh, kekuatan otot, massa otot, fungsi mobilitas, dan kualitas hidup. Tindakan fisioterapi penting dikerjakan di ICU untuk mengoptimalkan fungsi kardiopulmonal dan fungsi secara fisik. Fisioterapis harus mengikuti, mengevaluasi, dan memberikan terapi sejak fase akut hingga fase rehabilitasi.
TATALAKSANA PASIEN SEPSIS YANG DISEBABKAN OLEH PERITONITIS DIFUS ec. PERFORASI DUODENUM: (LAPORAN KASUS) Arvianto; Oktaliansah, Ezra; Suwarman
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi intra abdomen adalah penyebab kedua tersering dari sepsis dan kematian akibat infeksi pada pasien-pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU). Faktor kunci yang menentukan keberhasilan terapi pada infeksi intra-abdomen adalah diagnosis segera, source control yang adekuat dan pemberian antibiotik yang tepat. Resusitasi yang adekuat dengan pemberian obat vasopresor dini bila pasien mengalami syok sepsis merupakan tindakan yang sangat penting. Pemberian antibiotik empiris untuk kasus sepsis maupun syok sepsis akibat infeksi intraabdomen complicated dapat mengikuti panduan The Infection Diseases Society of America (IDSA) atau panduan antibiotik di Indonesia. Perawatan pasca operasi di ICU harus dilakukan dengan optimal, diantaranya dengan memberikan dukungan ventilasi mekanik dan terapi cairan yang tepat. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan dan mendokumentasikan keberhasilan tatalaksana penanganan perforasi difus dengan komplikasi sepsis yang disebabkan oleh perforasi duodenum, di ruang perawatan intensif Rumah Sakit Gatot Soebroto Jakarta pada bulan Agustus 2020. Metode yang digunakan adalah laporan kasus dengan pendekatan retrospektif kemudian dianalisis secara deskriptif. Pasien dirawat 2 hari dengan ventilasi mekanik dan pindah ruangan setelah 3 hari dirawat di ruang perawatan intensif. Dapat disimpulkan bahwa angka mortalitas sepsis akibat perforasi difus masih tinggi disebabkan komplikasi dan kebutuhan pengelolaan kondisi kritis di ruang perawatan intensif dalam jangka waktu panjang.
Co-Authors A. Himendra Wargahadibrata A. Himendra Wargahadibrata Achmad Noerkhaerin Putra Afifuddin Afifuddin Afifuddin Afifuddin, Afifuddin Agus Fitri Atmoko Ahmado Okatria Anggita Marissa Harahap Anggita Marissa Harahap Anna Christanti Anthon Vermana Ritonga Anthon Vermana Ritonga Ardi Janardika Ardi Zulfariansyah Arvianto Arvianto Arvianto Arvianto, Arvianto Asep Deden Komara Atmoko, Agus Fitri Bernadeth Bernadeth Budiana Rismawan Cindy Elfira Boom Cindy Elfira Boom Dedi Fitri Yadi Dendi Karmena Dendi Karmena, Dendi Dhany Budipratama Doddy Tavianto Eri Surahman Eri Surahman Eri Surahman Erwin Pradian Ferianto Ferianto Ferianto Gavrila Diva Amelis Heru Wishnu Manunggal Heru Wishnu Manunggal Ibnu, Muhamad Ihrul Prianza Prajitno Ihrul Prianza Prajitno Ike Sri Redjeki Ike Sri Redjeki Immanuel Wiraatmaja Immanuel Wiraatmaja Indra Wijaya Indriasari Indriasari Indriasari Indriasari Indriasari Irvan Setiawan Irvan Setiawan Iwan Fuadi Jauharul Alam Jauharul Alam Keshina Amalia Mivina Mudia Keshina Amalia Mivina Mudia, Keshina Amalia Mivina Komara, Asep Deden Linggih Panji Nugraha M. Andy Prihartono M. Erias Erlangga Maria Agnes Berlian Yulriyanita Meilani Patrianingrum Meilani Patrianingrum Melliana Somalinggi Mira Rellytania Sabirin Mira Rellytania Sabirin Mohamad Andy Prihartono Mohamad Andy Prihartono Muhamad Adli Boesoirie Muhamad Adli Boesoirie, Muhamad Adli Muhamad Ibnu Muhammad Ibnu Muhari, Andie Naftalena Naftalena Nelly Margaret Simanjuntak Nobelia Carnationi Novie Salsabila Nurchaeni, Ati Nurchaeni Okatria, Ahmado Putra, Rifki Dwi Anugrah Radian Ahmad Halimi Radian Ahmad Halimi Rakhman Adiwinata Rakhman Adiwinata, Rakhman Rangga Saputra Reza Widianto Sudjud Ricky Aditya Rudi K. Kadarsah Rudi K. Kadarsah Ruli Herman Sitanggang Said Badrul Falah Said Badrul Falah, Said Badrul SATRIYAS ILYAS Septian, Dendi Simanjuntak, Nelly Margaret Sitanggang, Ruli H Somalinggi, Melliana Stefi Berlian Soefviana Suryaningrat, IGB Suwarman Tatang Bisri Tatang Bisri Thayeb, Srilina Tinni T. Maskoen Tinni T. Maskoen Tirto Hartono Vick Elmore Simanjuntak Vick Elmore Simanjuntak Wirawan Anggorotomo Wirawan Anggorotomo, Wirawan