Ezra Oktaliansah
Departemen Anestesiologi Dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 74 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Prevalensi dan Faktor Risiko Nyeri Punggung Bawah di Lingkungan Kerja Anestesiologi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Meilani Patrianingrum; Ezra Oktaliansah; Eri Surahman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.611 KB)

Abstract

Nyeri punggung bawah (NPB) merupakan masalah kesehatan yang banyak dialami oleh tenaga kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko nyeri punggung bawah di lingkungan kerja anestesiologi dan terapi intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan studi potong silang. Subjek penelitian meliputi seluruh peserta pendidikan dokter spesialis (PPDS) dan konsulen anestesiologi di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung periode bulan April─Juni 2014. Analisis data dilakukan dengan uji chi-kuadrat, Eksak Fisher dan Kolmogorov Smirnov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi nyeri punggung bawah yang timbul setelah masuk dalam lingkungan kerja anestesiologi di RSHS adalah 35,7%. Faktor risiko yang signifikan adalah kebiasaan merokok (RR 1,35)  dan kurang olahraga (RR 80,04). Faktor posisi saat melakukan tindakan anestesi signifikan menimbulkan nyeri punggung bawah. Simpulan, prevalensi nyeri punggung bawah setelah masuk lingkungan kerja anestesiologi RSHS Bandung adalah 35,7% dengan faktor risiko adalah merokok dan kurang olahraga. Faktor posisi selama melakukan tindakan anestesi bersama-sama dengan faktor risiko lain mungkin turut memperberat nyeri punggung bawah. Kata kunci: Anestesi, faktor risiko, nyeri punggung bawah, prevalensiPrevalence and Risk Factors of Lower Back Pain in the Anesthesiology Workplace in Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractLower back pain (LBP) is a common health problem in many health professionals. The purpose of this study was to determine the prevalence and risk factors causing lower back pain in the anesthesiology workplace at Dr. Hasan Sadikin Hospital General Bandung. This research is a descriptive study with cross-sectional design. Subjects on this research were the anesthesiology residents and consultants in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung between April and June 2014. Data analysis was performed by chi-square, Exact Fisher and Kolmogorov Smirnov. The results showed that the prevalence of lower back pain that arises after entering the anesthesiology workplace in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung was 37.5%. The significant risk factors were smoking (RR 1.348)  and lack of exercise (RR 80.04) while the position factor during conducting anesthesia did not significantly cause lower back pain. The conclusions of this study indicate that the prevalence of low back pain that arises after entering the anesthesiology and intensive therapy workplace in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung is 37.5%.  In addition, the risk factors that significantly cause lower back pain in the anesthesiology and intensive therapy workplace in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung were smoking and lack of exercise. The position factor during conducting anesthesia together with other risk factors may contribute to the arising of lower back pain. Key words: Anesthesia, lower back pain, prevalence, risk factors DOI: 10.15851/jap.v3n1.379  
Angka Mortalitas pasien Neonatus yang Menjalani Operasi berdasar atas Kenaikan Berat Badan Pascaoperasi yang Dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) Asep Deden Komara; Ezra Oktaliansah; Budiana Rismawan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.698 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n2.1112

Abstract

Salah satu faktor risiko mortalitas pada neonatus yang menjalani operasi adalah regulasi cairan intraoperatif. Tujuan penelitian ini mengetahui angka mortalitas pada neonatus yang menjalani operasi berdasar atas kenaikan berat badan pascaoperasi yang dirawat di NICU. Metode penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Penelitian ini melibatkan 95 subjek penelitian, yaitu neonatus yang menjalani operasi dan dirawat di NICU RSHS Bandung selama tahun 2010‒2015. Data diambil dari rekam medis, pengambilan data mulai tanggal 1 Februari–29 Maret 2017.  Subjek dibagi tiga kelompok, yaitu neonatus yang telah menjalani prosedur operasi yang mengalami kenaikan berat badan pascaoperasi kurang 10% (I), neonatus yang menjalani prosedur operasi yang mengalami kenaikan berat badan 10‒20% (II), dan kelebihan berat badan ≥20% (III). Neonatus pacaoperasi dengan kenaikan berat badan  ≤10% sebanyak  46 pasien dan yang meninggal  sebanyak 10 pasien pada  kenaikan  berat badan 10‒20%  sebanyak 38 pasien, pasien yang meninggal sebanyak 23 pasien, angka mortalitasnya sebesar 60,5%, sedangkan  pada pasien dengan kenaikan berat badan sama dengan atau lebih dari 20% sebanyak 11 pasien atau 11,5% yang meninggal  sebanyak 10 pasien, angka mortalitasnya sebesar 90,9%. Simpulan angka mortalitas pasien neonatus yang menjalani operasi di RSHS dan pascaoperasi dirawat di NICU RSHS selama periode 2010–2015 adalah 45,3%. Kata kunci: Kenaikan berat badan, mortalitas, neonatus The Mortality Rate in Neonatal Patients which Underwent Surgical Procedures-Defined by the Escalation of Postoperative Weight and Those Who were Admitted in Neonatal Intensive Care Unit (NICU) One of the risk factors contributed to this number was the inappropriate management of intraoperative fluid resuscitation. The aim of this study is to understand the mortality rate in neonatal patients which underwent surgical procedures–defined by the escalation of postoperative weight and those who were admitted in NICU. The research method used in this study was a retrospective approach presented in a descriptive manner. The study involved 95 research subjects, which were neonatal patients which underwent surgical procedures and admitted in NICU RSHS Bandung from 2010‒2015. Data collection from Februari 1st–March 29th  2017. The research subjects were classified into three groups, neonatal patients which had escalation of weight postoperative less than 10% and underwent surgical procedure (I), neonatal patients which had escalation of weight postoperative ranging from 10‒20% and underwent surgical procedure (II), meanwhile consist of neonatal patients which had escalation of weight postoperative ≥20% and underwent surgical procedure (III). Result of the study showed there were 46 neonatal patients with 10% weight escalation and 10 out of 46 patients were ceased, meanwhile there were 38 neonatal patients with 10‒20% weight escalation and 23 out of 38 were ceased, and there were 11 neonatal patients with ≥20% weight escalation and 10 out of 11 were ceased. The conclusions of this study found a mortality rate of neonatal patients who underwent surgery and postoperative treated in  NICU RSHS during the period 2010 to 2015 is 45.3%. Key words: Weight gain, mortality, neonatal
Perbandingan Waktu Induksi, Perubahan Tekanan Darah, dan Pulih Sadar antara Total Intravenous Anesthesia Profopol Target Controlled Infusion dan Manual Controlled Infusion Vick Elmore Simanjuntak; Ezra Oktaliansah; Ike Sri Redjeki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.641 KB)

Abstract

Target controlled infusion (TCI) memberikan kemudahan bagi dokter anestesi dalam pelaksanaan total intravenous anesthesia (TIVA). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan waktu induksi, perubahan tekanan darah, dan waktu pulih sadar antara TIVA propofol TCI dan manual controlled infusion (MCI) pada ekstirpasi fibroadenoma payudara. Penelitian dilakukan terhadap 32 wanita (18–40 tahun), status fisik ASA I, yang menjalani operasi ekstirpasi fibroadenoma payudara di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juli–September 2012, secara uji acak terkontrol buta tunggal dalam anestesi umum. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu 16 orang dilakukan anestesi umum dengan TIVA propofol TCI dan 16 orang dengan TIVA propofol MCI. Waktu induksi TCI (61,44 detik) lebih singkat daripada MCI (78,5 detik) dan perubahan tekanan darah pada TCI (15,6 %) lebih kecil daripada MCI (24,1%). Tidak berbeda bermakna (p>0,05) dalam hal waktu pulih sadar pada kedua kelompok (TCI 8,95 menit dan MCI 9,90 menit). Simpulan, TIVA propofol TCI memberikan waktu induksi yang lebih singkat dan perubahan tekanan darah yang lebih kecil bila dibandingkan dengan TIVA MCI, namun tidak didapatkan perbedaan dalam hal waktu pulih sadar.Kata kunci: Manual controlled infusion target controlled infusion, waktu induksi, waktu pulih sadar Comparison of Induction Time, Changes in Blood Pressure, and Emergence between Target Controlled Infusion and Manual Controlled Infusion of Propofol Total Intravenous AnesthesiaAbstractTarget controlled infusion (TCI) offers anesthesiologists an easier way to conduct total intravenous anesthesia (TIVA). This study was done to compare the induction time, blood pressure and recovery time between propofol TIVA with TCI and the manual controlled infusion (MCI) in patients undergoing breast fibroadenoma extirpation. This study was done on 32 women (aged 18–40 years old), ASA I physical status, who underwent breast fibroadenoma extirpation in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung within July–September 2012, by single blind randomized controlled trial in general anesthesia. Subjects were allocated into 2 groups, the TCI and MCI group, each consisted of 16 women. TCI’s induction time (61.44 seconds) were much shorter compared to MCI (78.5 seconds) and the blood pressure changes, TCI (15.6%) showed smaller changes compared to MCI (24.1%). There were no significant difference (p>0.05) in the recovery time in both groups (TCI 8.95 minutes and MCI 9.90 minutes). In conclusion, propofol TIVA with TCI showed a shorter induction time and less blood pressure changes compared to MCI, but there was no significant difference in recovery time. The adverse effect of postoperative nausea and vomitting did not occur in both groups.Keywords: blood pressure changes, induction time, manual controlled infusion, recovery time DOI: 10.15851/jap.v1n3.194
Pengaruh Penambahan Petidin 0,25 mg/kgBB pada Bupivakain 0,25% untuk Blok Infraorbital terhadap Lama Analgesia Pascabedah pada Operasi Labioplasti Anak Anthon Vermana Ritonga; Ruli Herman Sitanggang; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.574 KB)

Abstract

Nyeri pascabedah labioplasti dapat dicegah dengan regional blok infraorbital bilateral. Bupivakain 0,25% biasa digunakan untuk blok infraorbital dan penambahan petidin akan memperpanjang lama kerjanya. Penelitian telah dilakukan dengan uji klinis acak terkontrol tersamar tunggal terhadap 40 pasien ASA II usia 3 bulan–1 tahun yang menjalani operasi labioplasti di ruang operasi bedah sentral Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Maret–Mei 2012. Setelah randomisasi secara blok permutasi, subjek dikelompokkan >menjadi dua, yaitu 20 subjek menggunakan bupivakain 0,25% 1 mL pada tiap sisi (kelompok B) dan 20 subjek menggunakan kombinasi bupivakain 0,25% dan petidin 0,25 mg/kgBB 1 mL pada tiap sisi (kelompok >BP) yang diberikan setelah induksi anestesi. Data tentang lama analgesi diuji dengan Mann-Whitney. Analisis statistik menunjukkan bahwa perbedaan lama analgesia antara kedua kelompok sangat bermakna (p<0,0001). Simpulan, peningkatan lama analgesia kombinasi bupivakain 0,25% dan petidin 0,25 mg/kg BB menghasilkan masa bebas nyeri sampai 36 jam, sedangkan pada bupivakain 0,25% lebih singkat sekitar 18 jam. Tidak dijumpai efek samping dalam penelitian ini.Kata kunci: Blok infraorbital, bupivakain, labioplasti, petidinComparison Between the Addition of Pethidine 0.25 mg/kgBW in Bupivacain 0.25% with Bupivacain 0.25% for Infraorbital Blockade in Labioplasty Surgery in Children to the Length of Post Operative AnalgesiaLabioplasty postoperative pain can be prevented by bilateral infraorbital regional block. Bupivacaine 0.25% is usually used in infraorbital block and pethidine as an adjuvant can prolong the postoperative analgesic. The research was a single-blind randomized clinical trial included 40 children ASA II aged 3 months–1 year underwent labioplasty surgery in central operating theatre Dr. Hasan Sadikin Hospital-Bandung during March–May 2012. After block of permutation randomization, the subjects were grouped into two, 20 subjects (group B) using bupivacaine 0.25% 1 mL on each side and 20 subjects (group of BP) using combination of pethidine bupivacaine 0.25% and 0.25 mg/kgBW 1 mL on each side after the induction of anesthesia. Measurement data of length of analgesia were tested with the Mann-Whitney Test. Statistical analysis showed that the difference of the length of analgesia between two groups analgesia was highly significant (p<0.0001). The conclusion of this study is that the increase of the length of analgesia in combination of bupivacaine 0.25% and pethidine 0.25 mg/kgBW produce pain-free period to 36 hours, whereas bupivacaine 0.25% is shorter, about 18 hours. The incidence of adverse effect was not found in this study.Key words: Bupivacaine, infraorbital block, labioplasty, pethidine DOI: http://dx.doi.org/10.15851/jap.v1n2.121
Penggunaan Teknik Obat dan Permasalahan Blokade Epidural di Wilayah Jawa Barat pada Tahun 2015 Muhammad Ibnu; Dedi Fitri Yadi; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.823 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n3.1171

Abstract

Blokade epidural merupakan salah satu jenis anestesi regional yang memiliki rentang implikasi lebih luas dibanding dengan blokade spinal. Perbedaan teknik maupun rejimen obat untuk blokade epidural meningkat seiring dengan meningkatnya ketertarikan di bidang anestesi regional dikarenakan teknik anestesi regional memberikan efek analgesi yang efektif tanpa memengaruhi kesadaran pasien dan meningkatkan kenyamanan pasien. Tujuan penelitian ini mencari data mengenai penggunaan, teknik, rejimen obat, dan permasalahan yang dialami oleh dokter anestesi di Jawa Barat dalam melakukan blokade epidural. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2016 di Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengambilan data menggunakan kuesioner dan pendekatan cross sectional. Kuesioner dikirimkan kepada 120 dokter spesialis anestesi di Jawa Barat melalui jasa pos dan 30 kuesioner diberikan langsung kepada dokter spesialis anestesi yang bekerja di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Angka respons yang didapatkan sebesar 47,3%. Hasil penelitian ini didapatkan dokter spesialis anestesi yang masih melakukan blokade epidural pada tahun 2015 sebesar 73,2%, teknik penusukan yang paling banyak dilakukan adalah pendekatan midline sebesar 73%, dan identifikasi rongga epidural paling banyak dengan pendekatan lost of resistance sebesar 80,7%. Obat anestesi lokal yang paling banyak digunakan untuk blokade epidural adalah bupivakain sebesar 95,9%. Adjuvan yang paling banyak digunakan adalah fentanil sebesar 92,3%. Permasalahan yang berkaitan dalam pelaksanaan tindakan blokade epidural pada tahun 2015 paling banyak adalah permasalahan staf di ruangan dalam membantu menangani pasien dengan epidural, yaitu sebesar 38,03%.Epidural Blockade Administration Technique and Issues in West Java in 2015Epidural blockade is one of the regional anesthesia techniques with wider implication than the spinal blockade. The techniques and drug regimens used in epidural blockade vary with the increasing interest on regional anesthesia due to its effective analgesic effect without decreasing consciousness and by increasing patients’ comfort. The purpose of this study was to explore the use, techniques, drug regimens, issues experienced by anesthesiologists in West Java in performing epidural blockade. This study was conducted from August to September 2016 at the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy, Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. This was a cross-sectional descriptive study using a questionnaire. Questionnaires were mailed  to 120 anesthesiologists in West Java area and 30 additional questionnaires were distributed directly to anesthesiologists working at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The response was  47.3%. This study showed that 73.2% anesthesiologists performed epidural blockade in 2015, with 73% used the midline approach and 80.7% used the loss of resistance method to identify the epidural space. The majority used bupivacaine (95.5%) as the local anesthetics. The most frequently used adjuvant was fentanyl (95.9%). The most frequently mentioned problem associated with epidural blockade in 2015 was the lack of staff’s ability to assist the anesthesiologist in performing epidural blockade (38.03%).
Perbandingan Bupivakain Infiltrasi Subkutis dengan Kombinasi Bupivakain Intramuskular Rectus Abdominis dan Subkutis terhadap Mulai Pemberian dan Kebutuhan Analgetik Rescue Pascaoperasi Laparatomi Ginekologi Said Badrul Falah; Ezra Oktaliansah; Ike Sri Redjeki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.802 KB) | DOI: 10.15851/jap.v4n1.747

Abstract

Penanganan nyeri pascaoperatif kurang baik akan membuat pasien trauma terhadap pembedahan dan menimbulkan komplikasi lain. Penelitian ini bertujuan membandingkan pemberian bupivakain secara kombinasi intramuskular (IMSK) dan subkutis dengan pemberian subkutis saja (SK) terhadap mulai pemberian dan kebutuhan analgetik rescue pascaoperasi laparatomi ginekologi. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung bulan September–Desember 2014 terhadap 46 wanita (18–60 tahun) status fisik American Society of Anesthesiology (ASA) I–II yang menjalani pembedahan laparatomi ginekologi secara uji acak terkontrol buta ganda dalam anestesi umum. Pasien dibagi menjadi dua, yaitu 23 orang menerima bupivakain kombinasi pada otot rectus abdominis dan subkutis dan 23 orang menerima bupivakain infiltrasi subkutis saja. Penilaian skala nyeri menggunakan nilai numeric rating scale dan dilakukan pencatatan pada jam ke-1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 12, dan 24 pascaoperasi. Pemberian analgetik rescue dilakukan bila nilai NRS ≥4. Data dianalisis dengan uji-t, chi-kuadrat, dan Mann-Whitney. Pada penelitian ini ditemukan waktu mulai pemberian analgetik rescue pada kelompok IMSK lebih lama (p<0,01) dan kebutuhan analgetik tambahan dalam 24 jam lebih sedikit (p<0,01) dibanding dengan kelompok SK. Simpulan, pemberian bupivakain secara kombinasi intramuskular dan subkutis lebih baik dibanding dengan pemberian subkutis saja terhadap waktu mulai pemberian dan kebutuhan analgetik rescue dalam 24 jam pascaoperasi laparatomi ginekologi.Kata kunci: Bupivakain, numeric rating scale, otot rectus abdominisComparison between Subcutis Bupivacaine Infiltration and Combined Intramuscular Rectus Abdominal and Subcutis Bupivacaine to on Total Need of Rescue Analgesics after Gynecologic LaparatomyAbstractInappropriate management of post-operative pain will cause trauma to the patient regarding the surgical experience and may possibly cause other complications. This study aimed to compare the administration of intramuscular and subcutis bupivacaine to subcutis only bupivacaine on the start and need for rescue analgesics. This study was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of September–December 2014 on 46 females aged 18–60 years old with American Society of Anesthesiology (ASA) I–II who underwent gynecological laparatomy under general anesthesia. This was a randomized controlled study. Patients were dividedinto two groups of 23 patients with the first group received combination infiltration and the other received only subcutis administration. The pain scale used was the numerical rating scale measured -1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 12, and 24 hours after surgery. Rescue analgesics was given if NRS was more than 4. Data were analyzed using t-test, chi-square test, and Mann-Whitney test. Observations were performed on time span until there was a need for analgesics for the first time and additional analgesic needed in 24 hours. In this study, the time span until the first dose analgesics was needed was longer and the amount of required analgesics during 24 hours was lower in the combination group (p<0.01). In conclusion, the combination strategy has a better outcome regarding the time span to the start of rescue analgetic and 24 hours analgesic needs.Key words: Bupivacaine, numeric rating scale, abdominal recti muscle 
Angka Kejadian Hipotermia dan Lama Perawatan di Ruang Pemulihan pada Pasien Geriatri Pascaoperasi Elektif Bulan Oktober 2011–Maret 2012 di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Anggita Marissa Harahap; Rudi K. Kadarsah; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1123.282 KB)

Abstract

Tindakan anestesi dan pembedahan adalah salah satu penyebab kejadian hipotermia. Keadaan ini sangat tidak menguntungkan bagi pasien geriatri dengan gangguan fungsi kardiopulmonal. Penelitian dilakukan dengan metode prospektif observasional dengan rancangan penelitian deskriptif kasus kontrol terhadap 129 orang pasien geriatri pascaanestesi umum dan pascaanestesi regional yang masuk ke ruang pemulihan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Oktober 2011 sampai Maret 2012. Angka kejadian hipotermia pada pasien geriatri pascaanestesi di ruang pemulihan sebanyak 113 orang (87,6%). Terdapat hubungan bermakna kejadian hipotermia dengan lama perawatan di ruang pemulihan pada pasien geriatri yang telah menjalani operasi elektif di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung (p≤0,05). Lama tinggal di ruang pemulihan rata-rata pada pasien hipotermia adalah 110 menit dan pada pasien yang tidak hipotermia 70 menit. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa angka kejadian hipotermia pascaoperatif geriatri adalah 87,6% dan pasien dengan hipotermia mendapatkan perawatan lebih lama di ruang pemulihan.Kata kunci: Hipotermia pascaanestesi, lama perawatan, geriatri, ruang pemulihanThe Incidence of Hypothermia and Duration of Care in the Recovery Room on Postoperative Geriatric Patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung During October 2011–March 2012Anesthesia and surgery is one of the causes of the incidence of hypothermia . This situation is not favorable for geriatric patients with impaired cardiopulmonary function. This was a prospective observational study with a descriptive case-control design on 129 geriatric patients post general and regional anaesthesia in the recovery room of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during the period of October 2011 to March 2012. The incidence of hypothermia in geriatric patients post anaesthesia in recovery room was 113 people (87.6%). There was a significant relationship between the incidence of hypothermia and the duration of care in the recovery room in geriatric patients who have undergone elective surgery at the Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung (p≤0.05) . Average the length of stay in recovery room was 110 minutes in patients experiencing hypothermia while it was 70 minutes in those whom did not experience hypothermia. In conclusions, the incidence of postoperative hypothermia in geriatric patients was 87.6% and patients whom experienced hypothermia have a longer care in the recovery room.Key words: Geriatric, hypothermia post anesthesia, length of stay DOI: 10.15851/jap.v2n1.236
Perbandingan Kebutuhan Propofol dan Lama Bangun antara Kombinasi Propofol-Ketamin dan Propofol-Fentanil pada Pasien yang Dilakukan Kuretase yang Diukur dengan Bispectral Index (BIS) Wirawan Anggorotomo; Rudi K. Kadarsah; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.96 KB)

Abstract

Pemberian sedasi dan analgesi yang efektif, efisien, aman, mudah didapat, dan juga murah diperlukan untuk mengurangi nyeri serta kecemasan selama kuretase.  Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan kebutuhan propofol dan lama bangun antara propofol-ketamin dan propofol-fentanil pada pasien yang dilakukan kuretase. Dilakukan penelitian uji klinis acak tersamar tunggal pada 60 pasien yang menjalani kuretase di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode September–November 2014.  Pasien dibagi dalam dua kelompok, yaitu propofol-ketamin (PK) dan propofol-fentanil (PF). Data hasil penelitian  untuk tekanan darah, laju nadi, laju napas, saturasi oksigen, dan skor bispectral index (BIS) dianalisis dengan uji-t dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan kebutuhan propofol berbeda secara sangat bermakna (p<0,001), pada kelompok PK terdapat 4/30 subjek yang mendapatkan tambahan propofol, sedangkan pada kelompok PF sebanyak 14/30 subjek. Lama bangun pada kelompok PK adalah 25,75±2,47 menit, sedangkan pada kelompok PF adalah 21,08±2,52. Secara statistik hasil tersebut berbeda secara sangat bermakna (p<0,001). Simpulan, kebutuhan propofol pada kelompok PK lebih sedikit dibanding dengan kelompok PF dan lama bangun pada kelompok PK lebih lama dibanding dengan kelompok PF. Kata kunci: Bispectral index, kebutuhan propofol, kuretase, lama bangun Comparison of Propofol Requirements and Emergence Time between Propofol-Ketamine and Propofol-Fentanyl Combinations in Patients Undergoing Curretage using Bispectral Index (BIS) MonitoringAdequate administration of safe, easy-to-obtain, and constantly available sedatives and analgesia, is needed for pain reduction throughout curettage procedures. The goal of this study was to examine differences in propofol requirements and emergence time between propofol-ketamine and propofol-fentanyl combinations in patients undergoing curettage. A single-blind randomized controlled trial study was performed on 60 patients who underwent curettage procedures. The patients were divided into two groups: propofol-ketamine (PK) and propofol-fentanyl (PF). Blood pressure, pulse rate, respiration rate, and oxygen saturation and BIS data were analysed using a t-test and Mann-Whitney test. This study showed that propofol requirements differ significantly (p<0.001) between the two groups where in PK group where 4/30 subjects received additional propofol, compared to PF group 14/30 subjects received additional propofol. The wake up time for PK group was 25.75±2.47 minutes compared to 21.08±2.52 minutes for the PF group. The difference was statistically significant (p<0.001). The conclusions of this study are propofol requirements for PK group is less compared to PF group and the emergence time for PK group is longer compared to PF group. Key words: Bispectral index, curettage, emergence time, propofol requirements DOI: 10.15851/jap.v3n3.611
Perbandingan Pemberian Cairan Liberal dan Restriktif terhadap Mean Arterial Pressure, Laju Nadi, dan Capaian Nilai Post Anesthetic Discharge Scoring System Usia 1–3 Tahun di Bedah Rawat Jalan Melliana Somalinggi; Reza Widianto Sudjud; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.073 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1289

Abstract

Teknik pemberian cairan liberal yang masih banyak digunakan sering menjadi berlebihan termasuk pada bedah rawat jalan. Puasa yang tepat, operasi yang singkat, serta perdarahan yang minimal pada bedah rawat jalan hanya memerlukan pemberian cairan restriktif. Penelitian ini bertujuan mengetahui mean arterial pressure (MAP) dan laju nadi intraoperatif serta capaian postanesthetic dischange skoring system (PADSS) antara pemberian cairan liberal dan restriktif anak usia 1−3 tahun di bedah rawat jalan. Penelitian bersifat eksperimental acak terkontrol buta tunggal dengan randomisasi secara acak sederhana pada 42 anak usia 1−3 tahun, status fisik American Society of Anesthesiology (ASA) I-II di bedah rawat jalan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Desember 2016 sampai Mei 2017. Subjek penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok liberal diberikan cairan rumatan intraoperatif formula Holiday-Segar, penggantian puasa serta penggantian cairan ‘ruang ketiga’; dan kelompok restriktif diberikan hanya cairan rumatan intraoperatif 2 mL/kgBB/jam. Data dianalisis dengan uji-t dan Uji Mann-Whitney. Dari hasil penelitian didapatkan gambaran MAP dan laju nadi intraoperatif, serta capaian PADSS pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0,05). Simpulan, tidak terdapat perbedaan gambaran MAP dan laju nadi intraoperatif, serta capaian PADSS antara pemberian cairan liberal dan restriktif pada anak usia 1−3 tahun yang menjalani bedah rawat jalan.Kata kunci: Cairan intraoperatif, laju nadi, mean arterial pressure, pediatrik, postanesthetic discharge scoring system
Perbandingan Penambahan Neostigmin 2 mg/kgBB dengan Fentanil 1 µg/kgBB dalam Bupivakain 0,125% sebagai Anestesi Kaudal terhadap Lama Analgesia Jauharul Alam; Ezra Oktaliansah; Cindy Elfira Boom
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1087.724 KB)

Abstract

Blokade kaudal dengan injeksi tunggal sering digunakan untuk penatalaksanaan nyeri intra dan pascabedah pada pasien pediatrik. Penelitian ini bertujuan mengkaji lama analgesi setelah blokade kaudal injeksi tunggal preoperatif antara penambahan neostigmin 2 µg/kgBB dan fentanil 1 µg/kgBB dalam bupivakain 0,125% (volume 0,5 mL/kgBB) pada pasien anak yang menjalani operasi hipospadia dalam anestesi umum di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Desember 2011–Februari 2012. Metode penelitian adalah penelitian eksperimental secara acak terkontrol buta ganda pada 24 anak berusia 1–7 tahun. Data pengukuran lama analgesi diperoleh dengan Children and Infant Postoperative Pain Scale (CHIPPS) yang dianalisis dengan Uji Mann-Whitney, data laju nadi dan laju napas dianalisis dengan uji-t. Hasil perhitungan statistik diperoleh lama analgesi pada kelompok BN lebih panjang mencapai 675 menit dibandingkan dengan kelompok BF 480 menit dengan hasil yang sangat bermakna (p<0,001). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi bupivakain 0,125% dan neostigmin 2 µg/kgBB untuk blokade kaudal injeksi tunggal memberikan lama analgesia yang lebih panjang.Kata kunci: Anestesi kaudal, bupivakain, fentanil, lama analgesia, neostigminComparison between Caudal Blockade with Additional 2 µg/kgBW Neostigmine and 1 µg/kgBW Fentanyl to 0.125% Bupivacaine on the Duration of AnalgesiaAbstractSingle shot injection caudal blockade were used extensively for intra and post operative pain management in pediatric patients. The purpose of this study was to assess duration of analgesia following a single shot injection of caudal blockade with additional 2 µg/kgBW neostigmine and 1 µg/kgBW fentanyl into 0.125% bupivacaine (volume 0.5 mL/kgBW) in pediatric patients who underwent hypospadias surgery at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung from December 2011 to February 2012. This experimental study was conducted using randomized control trial (RCT) method in 24 pediatric patients, aged 1–7 years. The duration of analgesia data were obtained using Children and Infant Pain Scale (CHIPPS) post operatively and analyzed using Mann-Whitney Test, whereas the heart rate and respiratory rate data were analyzed by t-test. The result of statistical analysis showed significant difference between duration of analgesia in group BN (675 minutes) compared with the BF group (480 minutes) with p<0.001. The conclusion of this study was that combination of 0.125% bupivacaine and 2 µg/kgBW neostigmine as a single shot injection in caudal blockade provides longer duration of analgesia compared to 0.125% bupivacaine and 1 µg/kgBW fentanyl combination.Key words: Bupivacaine, caudal anesthesia, duration of analgesia, neostigmine DOI: 10.15851/jap.v1n3.191
Co-Authors A. Himendra Wargahadibrata A. Himendra Wargahadibrata Achmad Noerkhaerin Putra Afifuddin Afifuddin Afifuddin Afifuddin, Afifuddin Agus Fitri Atmoko Ahmado Okatria Anggita Marissa Harahap Anggita Marissa Harahap Anna Christanti Anthon Vermana Ritonga Anthon Vermana Ritonga Ardi Janardika Ardi Zulfariansyah Arvianto Arvianto Arvianto Arvianto, Arvianto Asep Deden Komara Atmoko, Agus Fitri Bernadeth Bernadeth Budiana Rismawan Cindy Elfira Boom Cindy Elfira Boom Dedi Fitri Yadi Dendi Karmena Dendi Karmena, Dendi Dhany Budipratama Doddy Tavianto Eri Surahman Eri Surahman Eri Surahman Erwin Pradian Ferianto Ferianto Ferianto Gavrila Diva Amelis Heru Wishnu Manunggal Heru Wishnu Manunggal Ibnu, Muhamad Ihrul Prianza Prajitno Ihrul Prianza Prajitno Ike Sri Redjeki Ike Sri Redjeki Immanuel Wiraatmaja Immanuel Wiraatmaja Indra Wijaya Indriasari Indriasari Indriasari Indriasari Indriasari Irvan Setiawan Irvan Setiawan Iwan Fuadi Jauharul Alam Jauharul Alam Keshina Amalia Mivina Mudia Keshina Amalia Mivina Mudia, Keshina Amalia Mivina Komara, Asep Deden Linggih Panji Nugraha M. Andy Prihartono M. Erias Erlangga Maria Agnes Berlian Yulriyanita Meilani Patrianingrum Meilani Patrianingrum Melliana Somalinggi Mira Rellytania Sabirin Mira Rellytania Sabirin Mohamad Andy Prihartono Mohamad Andy Prihartono Muhamad Adli Boesoirie Muhamad Adli Boesoirie, Muhamad Adli Muhamad Ibnu Muhammad Ibnu Muhari, Andie Naftalena Naftalena Nelly Margaret Simanjuntak Nobelia Carnationi Novie Salsabila Nurchaeni, Ati Nurchaeni Okatria, Ahmado Putra, Rifki Dwi Anugrah Radian Ahmad Halimi Radian Ahmad Halimi Rakhman Adiwinata Rakhman Adiwinata, Rakhman Rangga Saputra Reza Widianto Sudjud Ricky Aditya Rudi K. Kadarsah Rudi K. Kadarsah Ruli Herman Sitanggang Said Badrul Falah Said Badrul Falah, Said Badrul SATRIYAS ILYAS Septian, Dendi Simanjuntak, Nelly Margaret Sitanggang, Ruli H Somalinggi, Melliana Stefi Berlian Soefviana Suryaningrat, IGB Suwarman Tatang Bisri Tatang Bisri Thayeb, Srilina Tinni T. Maskoen Tinni T. Maskoen Tirto Hartono Vick Elmore Simanjuntak Vick Elmore Simanjuntak Wirawan Anggorotomo Wirawan Anggorotomo, Wirawan