Ezra Oktaliansah
Departemen Anestesiologi Dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 74 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBERIAN DINI VASOPRESOR PADA SYOK SEPSIS Ferianto; Oktaliansah, Ezra; Indriasari
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepsis adalah disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat disregulasi respon tubuh terhadap infeksi dan merupakan salah satu penyebab kematian utama di Intensive Care Unit (ICU). Penyebab utama tingginya mortalitas adalah keterlambatan penanganan sehingga pasien jatuh dalam kondisi syok septik. Dua komponen utama penanganan syok sepsis adalah resusitasi cairan dan pemberian vasopresor. Pemberian dini vasopresor bersamaan dengan pemberian cairan dapat menurunkan mortalitas pasien karena mengurangi volume resusitasi sehingga mencegah kelebihan cairan pada pasien. Rekomendasi terbaru dari Surviving Sepsis Campaign (SSC) menyarankan resusitasi cairan dan terapi medikamentosa dalam 1 jam pertama, yang mencakup pemberian vasopresor sedini mungkin pada kasus hipotensi yang mengancam nyawa, bersamaan atau segera setelah resusitasi cairan untuk mempertahankan level MAP ≥ 65mmHg. Penanganan yang holistik akan mengurangi mortalitas pasien syok sepsis di ICU. Tujuan dari penelitian ini Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan penanganan lebih awal pada pasien sepsis. Metode yang digunakan berdasarkan penurunan angka mortalitas atau keberhasilan dalam penanganan pasien syok sepsis yang diberikan Norepinephrine (NEP) di awal berhubungan dengan kecepatan tercapainya nilai Mean arterial pressure (MAP) dan clearance laktat. Dapat disimpulkan Pada sebagian besar pasien syok sepsis memerlukan pemberian dini vasopresor untuk stabilisasi hemodinamik, selain resusitasi cairan yang tepat. Pemberian obat vasopresor sangat penting dalam mencapai target resusitasi hemodinamik yang bertujuan untuk meningkatkan pengantaran oksigen melalui peningkatan curah jantung, perfusi aliran darah organ vital dan tekanan perfusi organ.
Perbandingan antara Sevofluran dan Propofol Menggunakan Total Intravenous Anesthesia Target Controlled Infusion terhadap Waktu Pulih Sadar dan Pemulangan Pasien pada Ekstirpasi Fibroadenoma Payudara Arvianto Arvianto; Ezra Oktaliansah; Eri Surahman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.483 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n1.1002

Abstract

Penggunaan total intravenous anesthesia (TIVA) dengan propofol terus meningkat karena mudah untuk dikendalikan, onset cepat, durasi singkat, efek samping minimal, serta pemulihan psikomotor dan kognitif lebih cepat. Teknologi target controlled infusion (TCI) diciptakan untuk mempermudah dilakukan TIVA bagi dokter anestesi. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan waktu pulih sadar dan pemulangan pasien antara teknik anestesi sevofluran dan TIVA TCI propofol. Penelitian ini dilakukan secara acak terkontrol buta tunggal terhadap 36 orang pasien bedah rawat jalan, wanita usia 18–65 tahun dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) kelas I–II yang menjalani operasi biopsi ekstirpasi fibroadenoma payudara satu sisi di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Agustus–November 2015. Sampel dikelompokkan secara random menjadi kelompok sevofluran dan TCI. Kelompok sevofluran mendapatkan anestesi inhalasi sevofluran dan kelompok TCI mendapatkan anestesi TCI propofol dengan metode Schnider Effect Concentration (ec). Waktu pulih sadar dan pemulangan pasien dikumpulkan dan dianalisis menggunakan uji-t, uji Mann-Whitney, dan chi-kuadrat dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan perbandingan waktu pulih sadar pada kelompok sevofluran, 429±0,763 menit, sedangkan kelompok TCI 9,356±2,331 menit. Simpulan penelitian adalah teknik anestesi sevofluran memberikan waktu pulih sadar yang lebih cepat dan TIVA TCI propofol memberikan waktu pemulangan pasien yang lebih cepat.Kata kunci: Fibroadenoma payudara, sevofluran, TIVA TCI propofol, waktu pulih sadar, waktu pemulangan pasien Comparison of Emergence Time and Discharge Time between Sevoflurane and Propofol Using Total Intravenous Anesthesia with Target Controlled Infusion in Patients Underwent Extirpation of Breast FibroadenomaTotal intravenous anesthesia (TIVA) with propofol is increasingly used, because it is easy to control, has rapid onset, short duration, minimal adverse effects, and rapid recovery of the psychomotor and cognitive functions. This study was conducted to compare the emergence and discharge time between patients receiving sevoflurane and propofol with TCI. A single blind randomized controlled clinical trial was conducted on 36 female patients aged 18–65 years with American Society of Anesthesiologists (ASA) physical status I–II, who underwent breast fibroadenoma extirpation biopsy at the outpatient surgical unit in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The subjects were randomized and divided into two groups: sevoflurane group receiving inhalation anesthesia with sevoflurane and target controlled infusion (TCI) group receiving propofol TCI Schnider’s Effect Concentration (ec). The mergence time and discharge time were recorded for each group and analysis was performed using Mann Whitney test, t-test and chi-square/Fisher’s exact with 95% confidence interval. This study showed that the emergence time in sevoflurane group and TCI group were 7.429±0.763 minutes and 9.356±2.331 minutes, respectively. The result showed that sevoflurane provides shorter emergence time while TIVA with TCI propofol provides shorter discharge time.Key words: Breast fibroadenoma, emergence time, patients discharging time TIVA TCI propofol, sevoflurane 
Perbandingan Insidensi Post Dural Puncture Headache (PDPH) Pascaseksio Sesarea Dengan Anestesi Spinal Antara Tirah Baring 24 Jam Dengan Mobilisasi Dini Mohamad Andy Prihartono; Ezra Oktaliansah; A. Himendra Wargahadibrata
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Post Dural Puncture Headache (PDPH) merupakan salahsatu komplikasi iatrogenik dari anestesi spinal. Patofisiologi PDPH sampai saat ini belum jelas, namun teori yang selama ini dianut akibat penurunan volume dan tekanan CSS (Cairan SerebroSpinal). Penelitian terdahulu menyatakan PDPH dapat dicegah dengan tirah baring selama 24 jam. Beberapa penelitian terbaru membuktikan mobilisasi dini tidak meningkatkan resiko PDPH. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa tidak ada perbedaan insidensi PDPH pada pasien yang dilakukan tirah baring selama 24 jam dengan mobilisasi dini segera setelah fungsi motorik pulih.Penelitian dilakukan dengan tipe quasi experimental dan rancangan rangkaian waktu dengan pembanding. Penelitian melibatkan 200 wanita hamil berumur 18-30 tahun, yang akan dilakukan seksio sesarea dengan anestesi spinal, kemudian dibedakan dalam dua kelompok masing-masing 100 orang. Kelompok pertama dilakukan mobilisasi dini segera setelah fungsi motorik pulih (skala Bromage 1) dan kelompok kedua mobilisasi setelah tirah baring selama 24 jam pascaseksio sesarea. Kemudian, setiap kelompok dilakukan pengamatan terhadap ada atau tidaknya PDPH sampai 2 hari pascaoperasi. Dari hasil penelitian dianalisis dengan uji statistik yaitu uji chi kuadrat dan uji Mann Whitney, di mana nilai p<0,05 dianggap bermakna. Analisis statistik menunjukkan bahwa perbandingan insidensi PDPH pada kelompok yang dilakukan mobilisasi dini (setelah fungsi motorik pulih) dan tirah baring selama 24 jam tidak bermakna (p>0,05). Pada kelompok pertama (mobilisasi dini) 100% tanpa PDPH dan kelompok kedua (tirah baring 24 jam) 99% tanpa PDPH. Simpulan dari penelitian ini adalah tidak didapatkan perbedaan insidensi PDPH pada pasien pascaseksio sesarea dengan anestesi spinal yang dilakukan tirah baring selama 24 jam dengan mobilisasi dini segera setelah fungsi motorik pulih.Kata kunci : mobilisasi dini, Post Dural Puncture Headache, seksio sesarea dengan anestesi spinal, tirah baring 24 jamComparison Of Post Dural Puncture Headache (PDPH) Incidence In Post Caesarean Section Using Spinal Anesthesia Underwent Bed Rest Position For 24 Hours Compared With Early MobilizationPost Dural Puncture Headache (PDPH) is defined as an iatrogenic complication of spinal anesthesia. The pathophysiology of PDPH remains unknown until today, but the referenced theory is due to the decrease of the LCS (Liquor Cerebrospinal) volume and pressure. The early studies confirmed that PDPH was preventable with bed rest position for 24 hour. Numerous current studies have proven that early mobilization does not increase PDPH risks. The objective of this study was to prove that there is no significant difference in PDPH incidence in bed rest patients for 24 hours compared with early mobilization patients as soon as the motoric function has been recovered. The study was conducted using quasi experimental type and control time series design. This study involved 200 pregnant women at the age of 18-30 years that were on Caesarean Section using spinal anesthesia then they were classified into 2 groups with 100 subjects, respectively. The first group was conducted early mobilization as soon as the motoric function has been recovered (using Bromage 1 scale) and the second group was conducted mobilization after bed rest 24 hours post sectio Caesarean. And then, each group was observed for the occurrence of PDPH until 2 days post surgery. The study analysis was assessed using chi square test and Mann Whitney test, which the score of p<0,05 was considered statistically significant value. Statistical analysis showed that the comparison of PDPH incidence in the early mobilization group (after motoric function had been recovered) and the bed rest for 24 hour group was not statistically significant (p>0,05). The first group (early mobilization) showed 100% of the patients without PDPH incidence and the second group (bed rest for 24 hour) showed 99% of the patients without PDPH incidence. The summary of this study revealed that there was no significant difference on PDPH incidence in post Caesarean section patients underwent spinal anesthesia with bed rest for 24 hours compared with early mobilization as soon as the motoric function had been recovered. Key words: Cesarean section with spinal anesthesia, early mobilization, Post Dural Puncture Headache, 24 hours bedrestDOI: 10.15851/jap.v1n1.155
Perbandingan Parasetamol dengan Ketorolak Intravena Sebagai Analgesia Pre-emtif terhadap Skala Nyeri Pascabedah Labioplasti pada Pasien Pediatrik Muhamad Adli Boesoirie; Ezra Oktaliansah; Tatang Bisri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1304.678 KB)

Abstract

Parasetamol dan ketorolak merupakan analgetik yang biasa digunakan pada tatalaksana nyeri ringan hingga sedang. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek analgesi pre-emtif parasetamol 20 mg/kgBB dengan ketorolak 0,5 mg/kgBB pada pasien pediatrik pascabedah labioplasti yang diukur menggunakan skala nyeri face, legs, activity, crying, consolability (FLACC). Penelitian eksperimental secara uji acak tersamar buta ganda terhadap 66 pasien pediatrik usia 6 bulan–12 tahun dengan status fisik American Society of Anesthesiology (ASA) I–II. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Oktober 2013–Mei 2014. Pasien dibagi menjadi dua kelompok perlakuan, yaitu kelompok parasetamol (P) dan ketorolak (K) yang diberikan 15 menit prabedah. Analisis statistika diuji menggunakan uji-t independen, Mann-Whitney, dan Eksak Fisher. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skala FLACC pada kelompok ketorolak pada jam ke-1, 2, 4, 6, dan 24 lebih rendah secara bermakna (p<0,05) dibanding dengan kelompok parasetamol. Simpulan, skala FLACC pemberian ketorolak 0,5 mg/kgBB prabedah pada pasien labioplasti lebih rendah dibanding dengan parasetamol 20 mg/kgBB.Kata kunci: Analgetik, analgesia pre-emtif, ketorolak, labioplasti, parasetamol, skala FLACCComparison between Intravenous Paracetamol and Ketorolac as Preemptive Analgesia on Postoperative Pain Scale in Pediatric Patients Undergo LabioplastyKetorolac and paracetamol are common analgetics used to treat mild to moderate pain. This study compared the efficacy of preemptive analgesia measured using face, legs, activity, crying, consolability (FLACC) scale between groups receiving 20 mg/kgBW paracetamol (P) and 0.5 mg/kgBW ketorolac (K) for pediatric labioplasty procedure. This experimental study is a are double-blind randomized trial against 66 pediatric patients aged 6 months–12 years with the physical status of the American Society of Anesthesiology (ASA) I–II. The study was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of October 2013–May 2014. The P and K groups received 20 mg/kgBW paracetamol and 0.5 mg/kgBW ketorolac, respectively, 15 minutes preoperatively. Data were analyzed statistically using independent-t, Mann-Whitney, and Fischer’s Exact Test. Results showed that the difference between FLACC scale in P and K groups  was statistically significant (p<0.05). In conclution, FLACC scale in patients who received ketorolac 0.5 mg/kgBW is lower than patients who received paracetamol 20 mg/kgBW.Key words: Analgetics, FLACC scale, ketorolac, labioplasty, paracetamol, preemptive analgesia DOI: 10.15851/jap.v3n1.573
Perbandingan Pemulihan Bising Usus pada Pasien Pascaoperasi Histerektomi per Laparotomi Menggunakan Analgetik Kombinasi Ketamin-Morfin dengan Morfin Intravena Irvan Setiawan; Ezra Oktaliansah; Cindy Elfira Boom
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1130.064 KB)

Abstract

Disfungsi gastrointestinal merupakan penyulit pascaanestesi yang sering terjadi. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan pemulihan bising usus antara pemberian analgetika kombinasi ketaminmorfin dibandingkan dengan morfin. Penelitian dilakukan dengan uji klinis acak terkontrol buta ganda terhadap 36 pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) I dan II yang menjalani operasi histerektomi per laparotomi di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada April–Agustus 2012. Kedua kelompok menerima dosis awal morfin 0,03mg/kgBB, lalu kelompok K diberikan infus ketamin 4 μg/kgBB/menit, dan kelompok M diberikan morfin infus 10 μg/kgBB/jam. Analisis data memakai uji-t dan Uji Mann Whitney, tingkat kepercayaan 95% dan bermakna bila p<0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan waktu pemulihan bising usus pada kelompok K lebih cepat dibandingkan dengan kelompok M dengan berbeda bermakna (p<0,05). Simpulan, pemulihan bising usus lebih cepat pada pemberian analgetika kombinasi ketamin dan morfin dibandingkan dengan morfin pada pasien pascaoperasi histerektomi per laparotomi.Kata kunci: Ketamin, morfin, pemulihan bising usus Comparison of Bowel Sound Recovery in Postoperative Hysterectomy per Laparotomy Patient Between Combination of Intravenous Ketamine - Morphine and MorphineGastrointestinal dysfunction is the most common post anaesthesia complication. The aim of this study is to compare the recovery of bowel sounds between combination of ketamine-morphine analgesia to morphine alone. This is a randomized controlled study on 36 patients with American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status I and II who underwent hysterectomy per laparotomy at Dr. Hasan Sadikin Bandung during April–August 2012. Both groups received an initial dose of morphine 0.03 mg/kgBW, while K group received intravenous ketamine 4 μg/kgBW/min, and the M group received morphine 10 μg/kgBW/hr. The results were analyzed using t-test and Mann Whitney test with a confidence level of 95% and were considered significant if p<0.05. The results of this study showed that the recovery time of bowel sounds in K group was significantly faster than in the M group (p<0.05). In conclusion, recovery of bowel sounds is faster in analgesia using combination of ketamine-morphine than morphine in postoperative hysterectomy per laparotomy patients.Key words: Ketamine, morphine, recovery of bowel DOI: 10.15851/jap.v2n1.238
PERBANDINGAN PERMEN KARET RASA MINT DENGAN ONDANSETRON 4 MG INTRAVENA DALAM MENGATASI KEJADIAN MUAL MUNTAH PASCA OPERASI MASTEKTOMI Nobelia Carnationi; Ezra Oktaliansah; Indriasari Indriasari
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v7n3.1808

Abstract

Permen karet rasa mint dapat menstimulasi sefalik vagal yang mampu mencegah mual dan muntah. Penelitian ini bertujuan membandingkan permen karet rasa mint dengan ondansentron 4 mg terhadap mual muntah pascaoperasi. Metode penelitian adalah eksperimental secara acak terkontrol buta tunggal pada 46 wanita yang menjalani mastektomi terhadap wanita (>18 tahun) yang mengalami mual dan muntah pascaoperasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari–Juli 2019. Data perbaikan mual muntah dianalisis dengan uji chi kuadrat. Hasil perhitungan statistik menunjukkan kelompok permen karet rasa mint mampu mengatasi mual muntah lebih banyak dibanding dengan ondansentron (18 orang vs 9 orang) dengan perbedaan yang sangat bermakna (p<0.001). Simpulan penelitian adalah permen karet rasa mint mengatasi lebih banyak pasien yang mual muntah pascaoperasi mastektomi dibanding dengan ondansetron. Comparison between Mint Chewing Gum and 4 mg Intravenous Ondansentron in Nausea and Vomiting Treatment after MastectomyMint flavored gum can stimulate the cephalic vagal that can eventually prevent nausea and vomiting. This study aimed to compare the use of mint flavored gum and 4 mg ondansetron in treating post-operative vomiting. This was a single blind randomized experimental study conducted on 46 women (>18 years old) underwent mastectomy who experienced post-operative vomiting in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung between February and July 2019. Data on postoperative nausea and vomiting were analyzed using chi square. The statistical results showed that the mint flavored gum had a significantly better ability in treating post-operative nausea and vomiting when compared to ondansetron (18 versus 9 person) (p<0.001). In conclusion, mint flavored gum has a better ability in postoperative nausea and vomiting treatment after mastectomy compared to ondansetron.
Penggunaan Anestesi Lokal dan Adjuvan pada Analgesi Epidural di Wilayah Jawa Barat Tahun 2015 Dedi Fitri Yadi; Muhamad Ibnu; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.788 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n2.1107

Abstract

Analgesi epidural yang optimal akan menghasilkan penanganan nyeri yang baik dengan efek samping minimal dan meningkatkan kepuasan pasien. Sampai saat ini belum terdapat data di Indonesia khususnya di wilayah Jawa Barat mengenai penggunaan anestesi lokal dan adjuvan pada analgesi epidural. Tujuan penelitian ini mecari data mengenai penggunaan anestesi lokal dan adjuvan yang digunakan oleh dokter spesialis anestesi di wilayah Jawa Barat pada tahun 2015. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2016 di Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengambilan data menggunakan kuesioner dan pendekatan cross sectional. Kuesioner dikirimkan kepada 120 dokter spesialis anestesi di Jawa Barat melalui jasa pos dan 30 kuesioner diberikan langsung kepada dokter spesialis anestesi yang bekerja di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Angka respons yang didapatkan sebesar 47,3%. Hasil penelitian ini didapatkan dokter spesialis anestesi di Jawa Barat yang masih melakukan analgesi epidural pada tahun 2015 sebesar 73,2%. Obat anestesi lokal yang paling banyak digunakan untuk analgesi epidural adalah bupivakain sebesar 94,23%. Konsentrasi terbanyak 0,125% sebesar 82%. Adjuvan yang paling banyak digunakan adalah fentanil sebesar 96,9%. Simpulan penelitian ini sebagian besar dokter spesialis anestesi masih menggunakan epidural sebagai analgesi sehingga bupivakasin dan fentanil menjadi obat terbanyak yang digunakan.Kata kunci: Analgesi epidural, anestesi lokal, adjuvan  Local Anesthetic and Adjuvan Used for Epidural Analgesia in West Java in 2015Optimal analgesia epidural technique should promote effective pain relief with minor adverse event and major pastient satisfactory. Up till now, there was no data about local anesthetic and adjuvan agent used for epidural analgesia by anesthesiologist in Indonesia, especially in West Java. The purpose of this study to find data regarding local anesthetic and adjuvan agent used for epidural analgesia by anesthesiologist in Indonesia, especially in West Java in 2015. This research was conducted from August to September 2016 in the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy Dr. Hasan Sadikin Hospital in Bandung. This is a descriptive study with cross sectional approach using questionairre. Questionairre was sent to 120 anesthesiologist through mail and 30 questionairre was given to anesthesiologists worked at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Response was obtained 47.3%. This study shows that there were 73.2% anesthesiologist performed epidural analgesia in 2015. The most  local anesthetic used in epidural blockade was bupivacaine, amounted 94.23% and the most concentration is 0.125%, amounted 82%. The most used adjuvant was fentanyl, 96.9%. In Conclusion, most of the anesthesiologist used epidural as an analgesia so bupivacaine and fentanyl used most frequentKey words: Epidural analgesia, local anesthetic, adjuvan
Ketepatan dan Kecukupan Profilaksis Venous Thromboembolism berdasar Pedoman American College of Chest Physicians di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit DR. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari–Desember 2016 Tirto Hartono; Ezra Oktaliansah; Ardi Zulfariansyah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23333.829 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n2.1739

Abstract

Pasien sakit kritis adalah pasien dengan kondisi mengancam nyawa yang membutuhkan penanganan khusus di ruang rawat intensif (intensive care unit; ICU). Hampir semua pasien kritis yang dirawat di ICU memiliki beberapa faktor risiko yang meningkatkan venous thromboembolism (VTE). Venous thromboembolism merupakan komplikasi yang tersembunyi pada pasien sakit kritis yang dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Venous thromboembolism dapat dicegah dengan tromboprofilaksis yang sesuai dan adekuat. Pedoman pencegahan VTE dikembangkan dalam beberapa dekade salah satunya oleh American College of Chest Physicians (ACCP). Tujuan penelitian ini mengetahui kepatuhan berdasar ketepatan dan kecukupan pemberian tromboprofilaksis terhadap pedoman ACCP. Penelitian deskiripsi observasional retrospektif dilakukan pada Oktober–Desember 2018 terhadap 284 pasien yang dirawat di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari–Desember 2016. Secara keseluruhan proporsi pasien di ICU yang mendapatkan tromboprofilaksis, yaitu 36,1%. Angka kepatuhan pemberian profilaksis VTE di ICU berdasar pedoman ACCP adalah 21,5%. Pemberian profilaksis VTE yang tidak adekuat terdapat pada 12,4% pasien, sedangkan pemberian profilaksis yang tidak sesuai terdapat pada 2,2% pasien. Simpulan, kepatuhan pemberian tromboprofilaksis terhadap pedoman yang diterbitkan ACCP masih rendah. Adequacy and Accuracy of Venous Thromboembolism Prophylaxis based on American College of Chest Physicians Guideline at Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungCritically ill patients are patients with life-threatening conditions that require special treatment in the intensive care unit. Almost all critical patients admitted to the ICU have several risk factors that increase the occurrence of Venous thromboembolism (VTE). Venous thromboembolism is a hidden complication in critically ill patients that can increase morbidity and mortality. Venous thromboembolism can be prevented with appropriate and adequate thromboprophylaxis. Several thromboprophylaxis guidelines have been developed during the last decades, including the American College of Chest Physicians (ACCP) guideline. The purpose of this study was to determine the compliance to ACCP guideline by measuring the the accuracy and adequacy of thromboprophylaxis. This retrospective observational descriptive study was conducted from October–December 2018 on 284 patients treated in the Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The overall proportion of patients in ICU who received thromboprophylaxis was 36.1%. The compliance rate of VTE prophylaxis in ICU based on ACCP guideline was 21.5%. Inadequate VTE prophylaxis was seen in 12.4% of patients while inappropriate prophylaxis was identified in 2.2% of patients. Hence, the compliance to standards on thromboprophylaxis based on the ACCP guideline is still low in this hospital. 
Perbandingan Angka Keberhasilan, Waktu Dan Kenyamanan Intubasi Endotrakea Antara Operator Posisi Berdiri Dan Duduk Pada Pasien Posisi Sniffing Naftalena Naftalena; Ezra Oktaliansah; Ricky Aditya
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v9n2.2424

Abstract

Kemampuan untuk visualisasi glotis saat melakukan tindakan laringoskopi direk merupakan kunci untuk melakukan tindakan intubasi endotrakea. Posisi sniffing dan ketinggian meja berpengaruh pada visualisasi glotis dan kenyamanan operator saat intubasi endotrakea. Namun, meja operasi sering ditemukan tidak berfungsi dengan baik. Ketersediaan kursi ergonomis diharapkan sebagai alternatif untuk menjawab permasalahan yang terjadi. Tujuan penelitian ini mengetahui perbandingan keberhasilan, waktu, dan kenyamanan operator pada intubasi endotrakea dengan pasien posisi sniffing menggunakan bantal kepala antara operator posisi berdiri dan duduk. Penelitian ini merupakan penelitian prospective randomized paralel trial, dilakukan pada 44 pasien yang menjalani operasi elektif dan emergensi dengan anestesi umum yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk kriteria eksklusi. Penelitian dilakukan di ruang operasi elektif dan emergensi RSUP Dr. Hasan Sadikin pada bulan Oktober 2020. Analisis statistik menggunakan t independent test untuk lama intubasi dan kenyamanan pasien, sedangkan untuk data kategorik dengan uji chi-square. Keberhasilan dan lama waktu intubasi endotrakea pada pasien posisi sniffing menggunakan bantal dengan operator posisi berdiri dan duduk tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05). Pada variabel skor kenyamanan intubasi endotrakea pada pasien posisi sniffing menggunakan bantal dengan operator posisi berdiri dan duduk terdapat perbedaan rerata yang sangat signifikan (p<0,01). Skor kenyamanan intubasi endotrakea posisi duduk lebih baik dibanding dengan posisi berdiri. Comparison of Success Rate, Time and Comfort of Endotracheal Intubation between Operator Standing and Sitting Position with Patient Sniffing Position The ability to visualize the glottis during direct laryngoscopy is the key to perform endotracheal intubation. Sniffing position and table height affect visualization of glottis and comfort of the operator. However, the operating table often does not function properly. This study aims to determine the correlation of intubation success rate, intubation time, and operator’s comfort in performing endotracheal intubation on a patient in a sniffing position using a head cushion between standing and sitting position of the operator. This was a prospective randomized trial. The study was conducted on 44 patients who underwent elective and emergency surgery under general anesthesia who qualified the inclusion criteria and did not include the exclusion criteria. The research was conducted in the elective operating room and emergency Dr. Hasan Sadikin Hospital in October 2020. Statistical analysis used the independent t test for intubation time and patient comfort, while for categorical data using the chi-square test. There was no significant difference (p>0.05) in intubation time and success rate of endotracheal intubation on patients in sniffing position using a head cushion between sitting and standing position of the operator. There was a significant mean difference (p<0.01) in operator’s comfort in performing endotracheal intubation on patients in sniffing position using a head cushion between sitting and standing position of the operator. The operator’s comfort score in performing endotracheal intubation was higher in sitting position compared to standing position. 
Perbandingan Pengaruh Pemberian Granisetron 1 mg Intravena dengan Plasebo (Salin) untuk Mencegah Kejadian Menggigil Pascaanestesi Spinal pada Seksio Sesarea Heru Wishnu Manunggal; Ezra Oktaliansah; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.215 KB)

Abstract

Menggigil pascaanestesi merupakan komplikasi yang sering terjadi pada tindakan anestesi. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pemberian granisetron 1 mg intravena dalam mengurangi kejadian menggigil pada pasien yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal. Metode penelitian klinis acak terkontrol tersamar ganda pada 38 pasien yang menjalani seksio sesarea di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada April–September 2011, usia 20–35 tahun, status fisik American Society of Anesthesia (ASA)  II dan  dikelompokkan secara random menjadi  2 kelompok, yaitu kelompok yang menerima granisetron 1 mg intravena atau salin sebelum dilakukan anestesi spinal dengan bupivakain 12,5 mg. Kejadian menggigil dicatat berdasarkan derajat 0–4. Hasil penelitian menunjukan secara statistik data karakteristik pasien dan suhu tubuh inti tidak berbeda antara kedua  kelompok. Kejadian menggigil lebih sedikit pada kelompok granisetron (21,1%) dibandingkan dengan kelompok plasebo (52,6%) dengan hasil statistik bermakna (p<0,05). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian granisetron 1 mg intravena sebelum anestesi spinal pada seksio sesarea mengurangi kejadian menggigil pascaanestesi yang dibandingkan dengan plasebo.                                          Kata kunci: Granisetron, menggigil, pascaanestesi spinalEffect of  Granisetron 1 mg Intravenously  to Prevent of Shivering After Spinal Anesthesia for Cesarean SectionPost anesthesia shivering is one of the complications that often occur in anesthetic action. The purpose of this study was to assess the administration of intravenous granisetron 1 mg in reducing the incidence of shivering in patients undergoing caesarean section with spinal anesthesia. Clinical research methods in double-blind randomized controlled 38 patients who underwent seksios esarea at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during April–September 2011, aged 20–35 years overall status American Society of Anesthesia (ASA) II physical and random into two groups: the group that received granisetron 1 mg intravenously or saline prior to spinal anesthesia with bupivacaine 12.5 mg. Incidence of shivering recorded by degrees 0–4. The results showed statistically significant patient characteristic data and core body temperature did not differ between the two groups. Shivering less in granisetron group (21.1%) than the placebo group (52.6%) with statistically significant results (p<0.05).The conclusions of this study indicate that administration of granisetron 1 mg intravenously before spinal anesthesia in Caesarean section reduces the incidence of shivering postanesthesia.Key words: Granisetron, shivering, post anesthesia spinal DOI: 10.15851/jap.v2n2.303
Co-Authors A. Himendra Wargahadibrata A. Himendra Wargahadibrata Achmad Noerkhaerin Putra Afifuddin Afifuddin Afifuddin Afifuddin, Afifuddin Agus Fitri Atmoko Ahmado Okatria Anggita Marissa Harahap Anggita Marissa Harahap Anna Christanti Anthon Vermana Ritonga Anthon Vermana Ritonga Ardi Janardika Ardi Zulfariansyah Arvianto Arvianto Arvianto Arvianto, Arvianto Asep Deden Komara Atmoko, Agus Fitri Bernadeth Bernadeth Budiana Rismawan Cindy Elfira Boom Cindy Elfira Boom Dedi Fitri Yadi Dendi Karmena Dendi Karmena, Dendi Dhany Budipratama Doddy Tavianto Eri Surahman Eri Surahman Eri Surahman Erwin Pradian Ferianto Ferianto Ferianto Gavrila Diva Amelis Heru Wishnu Manunggal Heru Wishnu Manunggal Ibnu, Muhamad Ihrul Prianza Prajitno Ihrul Prianza Prajitno Ike Sri Redjeki Ike Sri Redjeki Immanuel Wiraatmaja Immanuel Wiraatmaja Indra Wijaya Indriasari Indriasari Indriasari Indriasari Indriasari Irvan Setiawan Irvan Setiawan Iwan Fuadi Jauharul Alam Jauharul Alam Keshina Amalia Mivina Mudia Keshina Amalia Mivina Mudia, Keshina Amalia Mivina Komara, Asep Deden Linggih Panji Nugraha M. Andy Prihartono M. Erias Erlangga Maria Agnes Berlian Yulriyanita Meilani Patrianingrum Meilani Patrianingrum Melliana Somalinggi Mira Rellytania Sabirin Mira Rellytania Sabirin Mohamad Andy Prihartono Mohamad Andy Prihartono Muhamad Adli Boesoirie Muhamad Adli Boesoirie, Muhamad Adli Muhamad Ibnu Muhammad Ibnu Muhari, Andie Naftalena Naftalena Nelly Margaret Simanjuntak Nobelia Carnationi Novie Salsabila Nurchaeni, Ati Nurchaeni Okatria, Ahmado Putra, Rifki Dwi Anugrah Radian Ahmad Halimi Radian Ahmad Halimi Rakhman Adiwinata Rakhman Adiwinata, Rakhman Rangga Saputra Reza Widianto Sudjud Ricky Aditya Rudi K. Kadarsah Rudi K. Kadarsah Ruli Herman Sitanggang Said Badrul Falah Said Badrul Falah, Said Badrul SATRIYAS ILYAS Septian, Dendi Simanjuntak, Nelly Margaret Sitanggang, Ruli H Somalinggi, Melliana Stefi Berlian Soefviana Suryaningrat, IGB Suwarman Tatang Bisri Tatang Bisri Thayeb, Srilina Tinni T. Maskoen Tinni T. Maskoen Tirto Hartono Vick Elmore Simanjuntak Vick Elmore Simanjuntak Wirawan Anggorotomo Wirawan Anggorotomo, Wirawan