Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Protokol Evaluasi Infeksi Jamur dan Parasit Pre dan Pasca-Transplantasi Hati pada Anak Mulya Rahma Karyanti; Nina Dwi Putri; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 21, No 6 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.6.2020.394-400

Abstract

Infeksi jamur menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas paling penting pada pasien pasca-transplantasi hati yang mendapat beberapa imunosupresan. Candida species dan Aspergillus species adalah infeksi jamur paling invasif. Infeksi Candida species dilaporkan menjadi etiologi penyebab infeksi jamur tertinggi pada transplantasi hati. Selain infeksi jamur, parasit juga dilaporkan menjadi penyebab infeksi pada transplantasi hati khususnya pada pasien berasal dari daerah endemis. Artikel ini bertujuan untuk membuat protokol evaluasi infeksi jamur dan parasit pada transplantasi hati anak.
Faktor Risiko Timbulnya Inhibitor Faktor VIII pada Anak dengan Hemofilia A Grace N.A. Simatupang; Endang Windiastuti; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 14, No 5 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.8 KB) | DOI: 10.14238/sp14.5.2013.320-5

Abstract

Latar belakang. Proses timbulnya inhibitor bersifat multifaktorial, baik genetik maupun lingkungan. Beberapa studi telah dilakukan untuk mengetahui faktor risiko terbentuknya inhibitor, namun masih terdapat pendapat yang kontroversial. Di Indonesia, skrining inhibitor tidak rutin dilakukan karena keterbatasan biaya dan alat, sehingga diperlukan suatu penelitian yang dapat dijadikan acuan pemeriksaan inhibitor selektif.Tujuan. Mengetahui prevalensi , karakteristik klinis, dan faktor risiko timbulnya inhibitor pada anak dengan hemofilia A di Departemen IKA- RSCM.Metode. Uji potong lintang dilakukan pada anak usia ≤18 tahun di Pusat Hemofilia Terpadu IKA-RSCM. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Fisher. Analisis multivariat tidak dilakukan karena tidak memenuhi syarat.Hasil. Empatpuluh subjek penelitian, didapatkan prevalensi inhibitor 37,5% (15/40). Rentang usia subjek 10 (1,5-18) tahun, usia saat diagnosis hemofilia pertama kali ditegakkan 8 bulan, dan saat pertama kali mendapat terapi faktor VIII pada inhibitor positif 9 bulan. Hampir seluruh subjek (39/40) mendapat terapi konsentrat plasma, 11/15 subjek dengan inhibitor positif mendapat terapi pertama kali sebelum berusia 1 tahun, 14/15 subjek merupakan hemofilia berat, sebagian besar (12/15) mendapat manifestasi perdarahan sendi. Suku bangsa ibu, Jawa, lebih sering ditemukan pada inhibitor positif (8/15). Tidak ditemukan hasil yang bermakna secara statistik antara faktor risiko dengan timbulnya inhibitor.Kesimpulan. Prevalensi inhibitor 37,5%, inhibitor positif lebih sering ditemukan pada pasien hemofilia berat yang mendapat terapi pertama kali sebelum berusia 1 tahun. Penelitian kami tidak berhasil membuktikan faktor risiko bermakna untuk timbulnya inhibitor pada anak dengan hemofilia A.
Korelasi Nilai APGAR Menit Kelima Kurang dari Tujuh dengan Kadar Transaminase Serum pada Bayi Baru Lahir Ali K Alhadar; Idham Amir; Hanifah Oswari; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.323-7

Abstract

Latar belakang. Asfiksia dapat menyebabkan disfungsi multiorgan pada bayi baru lahir. Belum ada bakuemas mengenai definisi asfiksia. Hingga saat ini belum ada data di FKUI/RSCM mengenai insidens disfungsihati pada bayi yang mengalami asfiksia.Tujuan. Mengetahui insidens disfungsi hati pada bayi baru lahir dengan nilai Apgar menit kelima kurangdari 7 serta mengetahui korelasi antara nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 dengan parameter uji fungsihati (AST/SGOT, ALT/SGPT, bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirek serta waktu protrombin).Penelitian dilakukan di 5 rumah sakit di Jakarta dan Tangerang.Metode. Studi analitik potong lintang sejak Januari-Mei 2010. Subjek penelitian adalah bayi usia gestasi􀁴37 minggu dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7. Dilakukan satu kali pemeriksaan uji fungsihati dalam rentang waktu usia bayi 24-96 jam. Bayi mengalami disfungsi hati bila didapatkan nilai ASTatau ALT lebih dari 100 U/L.Hasil. Disfungsi hati ditemukan pada 16 (34%) bayi dari 47 bayi dengan asfiksia. Tidak ada subjek yangmengalami kolestasis. Terdapat 5 (11%) subjek dengan pemanjangan PT >1,5 kali nilai kontrol. Tidak terbuktiterdapat korelasi antara nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 dengan parameter uji fungsi hati.Kesimpulan. Bayi dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 mempunyai kecenderungan mengalamidisfungsi hati. Namun pada bayi dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7, tidak terbukti adanyakorelasi.
Pemberian Steroid untuk Meningkatkan Bilirubin Clearance pada Pasien dengan Atresia Bilier Pasca Prosedur Kasai Hanifah Oswari; Afina Syarah Lidvihurin
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.215 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.249-57

Abstract

Latar belakang. Insidensi atresia bilier di dunia berkisar antara 5-37 kasus/100.000 kelahiran hidup. Setelah prosedur Kasai, bilirubin clearance hanya tercapai 50%. Pemberian steroid diharapkan dapat mengurangi inflamasi, tetapi keuntungan penggunaan steroid belum dapat dibuktikan. Oleh karena itu, dilakukan laporan kasus berbasis bukti untuk menilai bilirubin clearance setelah pemberian steroid pada pasien dengan atresia bilier pasca prosedur Kasai.Tujuan. Mengetahui efektivitas pemberian steroid untuk meningkatkan bilirubin clearance pada pasien atresia bilier pasca prosesur Kasai.Metode. Pencarian studi dilakukan melalui penelusuran tiga pangkalan data ilmiah, yaitu PubMed, Scopus, dan Cochrane. Setelah dilakukan penapisan judul dan abstrak, didapatkan 3 studi yang akan ditelaah secara kritis meliputi validitas, kepentingan, dan kemamputerapan menggunakan Oxford Center of Evidenced-Based Medicine 2011.Hasil. Telaah kritis dilakukan pada 3 studi dan didapatkan hasil yang valid, penting, dan mampu diterapkan. Ketiga studi tersebut menjukkan pemberian steroid dosis sedang-tinggi efektif dalam meningkatkan bilirubin clearance pada pasien atresia bilier pasca prosedur Kasai dibandingkan dengan plasebo atau terapi nonsteroid, terutama pada anak yang berusia kurang dari 70 hari saat prosedur Kasai dilakukan. Pemberian steroid dapat meningkatkan bilirubin clearance setelah follow up jangka pendek (≤1 tahun).Kesimpulan. Pemberian steroid dosis sedang-tinggi efektif dalam meningkatkan bilirubin clearance pada pasien atresia bilier pasca prosedur Kasai yang berusia kurang dari 70 hari saat prosedur dilakukan.
Kejadian Luar Biasa Hepatitis A di SMPN-259 Jakarta Timur Hanifah Oswari; Tuty Rahayu; Julfina Bisanto,; Soedjatmiko Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.172-5

Abstract

Infeksi virus hepatitis A (VHA) ditularkan melalui transmisi fekal-oral, dan merupakanmasalah di banyak negara, termasuk Indonesia. Bila terjadi pada anak usia sekolah akanmempengaruhi proses belajar dan membutuhkan pengeluaran biaya untuk perawatan.Tujuan penelitian ini untuk menentukan attact rate, penyebab, serta gejala penyakitpada Kejadian Luar Biasa (KLB) hepatitis akut di SMPN-259 Jakarta Timur. Penelitianini bersifat prospektif observasional. Pada hasil penelitian didapatkan jumlah muridseluruhnya 1420 orang (usia 12-16 tahun), 1157 orang mengisi kuesioner yang dibagikan.Dari kuesioner didapatkan attack rate penyakit adalah 38,5 % terdiri dari kelas I 165/442 (37,3 %), kelas II 94/338 (27,8 %), kelas III 187/377 (49,6 %). Murid yangmemerlukan perawatan di rumah sakit 19/1157 (4,3 %). Tidak didapatkan murid yangmeninggal (crude fatality rate = 0). Pengambilan sampel dilakukan secara random padakelompok murid yang sakit dengan hasil sebagai berikut: IgM anti HAV positif 38/45(84,4 %) pada murid sakit yang tidak dirawat inap, dan 14/16 (87,5 %) pada muridsakit yang dirawat inap. Gejala klinis pada subyek dengan IgM anti HAV (+) meliputiurin gelap 67 %, lemah 57,7 %, demam 50 %, muntah 48 %, anoreksia 48 %, nyeriperut 46 %, kuning 36,5 %, diare 25 %, dan mialgia 19,2 %. Terdapat 51,6% subyekdengan IgG antiHAV positif pada kelompok subyek yang tidak sakit. Kesimpulan attackrate KLB hepatitis akut di SMPN-259 Jakarta adalah 38,5 % semua anak sembuh 0%.Penyebab KLB hepatitis akut terbukti adalah VHA
Protokol Evaluasi Infeksi Bakteri Pre- dan Pasca-Transplantasi Hati Anak Mulya Rahma Karyanti; Nina Dwi Putri; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.109 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.66-72

Abstract

Infeksi pre- dan pasca-transplantasi hati dipengaruhi oleh gangguan sistem imunonlogi resipien karena penggunaan obat-obat imunosupresi. Komplikasi infeksi tersebut merupakan penyebab penting kejadian infeksi terhadap morbiditas dan mortalitas pada anak anak yang menjalani transplantasi hati.  Obat-obatan profilaksis sebelum dan setelah operasi yang direkomendasikan disesuaikan dengan pola mikroba yang berkaitan di setiap rumah sakit. Uji tapis infeksi bakteri penting untuk mencegah terjadinya infeksi pasca-transplantasi hati. Komplikasi terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri disebabkan oleh karena penggunaan alat-alat invasif dalam jangka waktu yang lama seperti kateter vena sentral, kateter akses arterial, endotracheal tube, kateter ureter, dan sebagainya. Keberhasilan efektivitas pengobatan antimikroba ditentukan oleh pengelolaan pemasangan atau pelepasan semua alat invasif dan pengontrolan infeksi di rumah sakit.
Efektivitas T-Piece Resuscitator Sebagai Pengganti Continous Positive Airway Pressure Dini pada Bayi Prematur dengan Distres Pernapasan Laila Laila; Rinawati Rohsiswatmo; Hanifah Oswari; Darmawan B Setyanto; Teny Tjitra; Rismala Dewi
Sari Pediatri Vol 14, No 6 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.63 KB) | DOI: 10.14238/sp14.6.2013.374-8

Abstract

Latar belakang. Teknik resusitasi yang tepat dengan penggunaan CPAP dini atau t-piece resuscitator di tempatbayi dilahirkan, dapat diturunkan kebutuhan intubasi, mengurangi penggunaan surfaktan, dan menurunkankomplikasi bronchopulmonary dysplasia (BPD). Penting untuk mengetahui peran t-piece resuscitator sebagaipengganti CPAP dini untuk mencegah kejadian intubasi pada bayi dengan distres pernapasan (DP).Tujuan. Mengetahui peran t-piece resuscitator sebagai pengganti CPAP dini untuk mencegah kejadianintubasi dan mengetahui faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kegagalan CPAP pada bayi prematurdengan DP.Metode. Penelitian kohort propektif dengan historical cohort sebagai kontrol pada 141 bayi prematur denganDP di Unit Perinatologi IKA-RSCM, selama Februari-Mei 2011.Hasil. T-Piece Resuscitator terbukti berdampak protektif menurunkan kegagalan CPAP sebesar 90%[RR:0,1,IK95%: 0,02-0,5, dan p=0,003]. Faktor lain yang memengaruhi kegagalan CPAP adalah settingawal FiO2>60% [p=0,005; RR: 1,1,IK95%: 1,03-1,2] dan sepsis neonatal [p=0,000; RR:11,6, IK95%:3,9-34,5].Kesimpulan. T-piece resuscitator berefek protektif menurunkan kegagalan CPAP 90% dan faktor-faktoryang memengaruhi kegagalan CPAP adalah setting awal FiO2>60%, dan sepsis neonatal.
Peran Metode Noninvasif dalam Mendeteksi Varises Esofagus Signifikan pada Anak dengan Hipertensi Portal William Jayadi Iskandar; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 22, No 3 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.3.2020.182-9

Abstract

Latar belakang. Esofagogastroduodenoskopi (EGD) penting dilakukan pada anak dengan hipertensi portal untuk mendeteksi varises esofagus signifikan (derajat II, III, atau stigmata perdarahan), tetapi prosedur ini invasif dan traumatik.Tujuan. Mengetahui kemampuan metode noninvasif dibandingkan EGD dalam menentukan varises esofagus signifikan pada anak dengan hipertensi portal.Metode. Penelusuran literatur melalui Pubmed, Scopus, dan Cochrane Library dilakukan pada tanggal 25 Juni 2019. Kriteria inklusi adalah subyek anak hingga berusia 18 tahun, dipublikasi dalam 5 tahun terakhir, berbahasa Inggris, dan tersedia full text. Kriteria eksklusi adalah subyek pascaoperasi atau tidak membahas metode noninvasif. Artikel terpilih kemudian dinilai secara kritis.Hasil. Tiga buah artikel penelitian ditemukan, terdiri atas sebuah telaah sistematik dan dua buah penelitian observasional. Metode noninvasif yang memiliki sensitivitas tinggi adalah clinical prediction rule (80%), varices prediction rule (80%), dan risk score (85,7%). Metode yang memiliki spesifisitas tinggi adalah King’s variceal prediction score (72,7%).Kesimpulan. Metode noninvasif dapat digunakan untuk memilih prioritas pasien anak dengan hipertensi portal yang perlu dilakukan EGD untuk menentukan varises esofagus signifikan.
Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 – 18 tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia 2017 Hartono Gunardi; Cissy B. Kartasasmita; Sri Rezeki Hadinegoro; Hindra Irawan Satari; Soedjatmiko Soedjatmiko; Hanifah Oswari; Hardiono D Pusponegoro; Jose R Batubara; Arwin AP Akib; Badriul Hegar; Piprim B Yanuarso; Toto Wisnu Hendrarto
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.754 KB) | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.417-22

Abstract

Ikatan Dokter Anak Indonesia melalui Satuan Tugas Imunisasi mengeluarkan rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017 untuk menggantikan jadwal imunisasi sebelumnya. Jadwal imunisasi 2017 ini bertujuan menyeragamkan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI dengan jadwal imunisasi Kementerian Kesehatan RI khususnya untuk imunisasi rutin. Jadwal imunisasi 2017 juga dibuat berdasarkan ketersediaan kombinasi vaksin DTP dengan hepatitis B seperti DTPw-HB-Hib, DTPa-HB-Hib-IPV, dan dalam situasi keterbatasan atau kelangkaan vaksin tertentu seperti vaksin DTPa atau DTPw tanpa kombinasi dengan vaksin lainnya. Hal baru yang terdapat pada jadwal 2017 antara lain: vaksin hepatitis B monovalen tidak perlu diberikan pada usia 1 bulan apabila anak akan mendapat vaksin DTP-Hib kombinasi dengan hepatitis B; bayi paling sedikit harus mendapat satu dosis vaksin IPV (inactivated polio vaccine) bersamaan (simultan) dengan OPV-3 saat pemberian DTP-3; vaksin DTPw direkomendasikan untuk diberikan pada usia 2,3 dan 4 bulan. Hal baru yang lain adalah untuk vaksin influenza dapat diberikan vaksin inaktif trivalen atau quadrivalen, vaksin MMR dapat diberikan pada usia 12 bulan apabila anak belum mendapat vaksin campak pada usia 9 bulan. Vaksin HPV apabila diberikan pada remaja usia 10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons antibodi setara dengan 3 dosis. Vaksin Japanese Encephalitis direkomendasikan untuk diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau pada turis yang akan bepergian ke daerah endemis. Vaksin dengue direkomendasikan untuk diberikan pada anak usia 9-16 tahun dengan jadwal 0, 6, dan 12 bulan. Dengan pemberian imunisasi sesuai rekomendasi, diharapkan anak-anak Indonesia terlindungi dari penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi. 
Korelasi Nilai APGAR Menit Kelima Kurang dari Tujuh dengan Kadar Transaminase Serum pada Bayi Baru Lahir Ali K Alhadar; Idham Amir; Hanifah Oswari; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.562 KB) | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.190-6

Abstract

Latar belakang. Asfiksia dapat menyebabkan disfungsi multiorgan pada bayi baru lahir. Belum ada bakuemas mengenai definisi asfiksia. Hingga saat ini belum ada data di FKUI/RSCM mengenai insidens disfungsihati pada bayi yang mengalami asfiksia.Tujuan. Mengetahui insidens disfungsi hati pada bayi baru lahir dengan nilai Apgar menit kelima kurangdari 7 serta mengetahui korelasi antara nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 dengan parameter uji fungsihati (AST/SGOT, ALT/SGPT, bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirek serta waktu protrombin).Penelitian dilakukan di 5 rumah sakit di Jakarta dan Tangerang.Metode. Studi analitik potong lintang sejak Januari-Mei 2010. Subjek penelitian adalah bayi usia gestasi􀁴37 minggu dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7. Dilakukan satu kali pemeriksaan uji fungsihati dalam rentang waktu usia bayi 24-96 jam. Bayi mengalami disfungsi hati bila didapatkan nilai ASTatau ALT lebih dari 100 U/L.Hasil. Disfungsi hati ditemukan pada 16 (34%) bayi dari 47 bayi dengan asfiksia. Tidak ada subjek yangmengalami kolestasis. Terdapat 5 (11%) subjek dengan pemanjangan PT >1,5 kali nilai kontrol. Tidak terbuktiterdapat korelasi antara nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 dengan parameter uji fungsi hati.Kesimpulan. Bayi dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 mempunyai kecenderungan mengalamidisfungsi hati. Namun pada bayi dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7, tidak terbukti adanyakorelasi.
Co-Authors Abdul Latief Afina Syarah Lidvihurin Ali K Alhadar Alif Gilang Perkasa Arfianti Chandra Dewi Ari Prayitno, Ari Arwin AP Akib Ashadi, Dhiya Athaullah Nurfateen Badriul Hegar Badriul Hegar Badriul Hegar Badriul Hegar Sjarif Bambang Supriyatno Bernie Endyarni Medise Bina Akura Catrawardhana, Prajnadiyan Cissy B. Kartasasmita Cissy B. Kartasasmita Clara Riski Amanda Darmawan B Setyanto Darmawan B. Setyanto Diah Rini Handjari Diah Rini Handjari Djajadiman Gatot Dominicus Husada Dwi Prasetyo Eka Laksmi Hidayati, Eka Laksmi Elina Waiman Elina Waiman Elizabeth Yohmi Elizabeth Yohmi Elizabeth Yohmi Ellen Gandaputra Endang Windiastuti Endang Windiastuti Ening Krisnuhoni Eveline Nainggolan Eveline Nainggolan Eveline Panjaitan Fadilah Fadilah, Fadilah Ferry Damardjati Ferry Damardjati S.P. Gatot Irawan Sarosa, Gatot Irawan Grace N.A. Simatupang Hardiono D Poesponegoro Hardiono D Pusponegoro Harijadi Harijadi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hendri Tanu Jaya Henny Adriani Puspitasari, Henny Adriani Hindra Irawan Satari I Gusti Ayu Nyoman Partiwi I Gusti Ayu Nyoman Partiwi I Gusti Ayu Nyoman Partiwi Idham Amir Idham Amir Imral Chair Irawan Mangunatmadja Ismoedijanto Jason, Jason Jose RL Batubara Julfina Bisanto Julfina Bisanto Julfina Bisanto, Kadim S. Bachtiar Kemas Firman Kristo B. P. Siahaan Kusnandi Rusmil Laila Laila Lee, Hee Jae Maddepunggeng, Martira Maheranny, Marethania Marini Stephanie Marini Stephanie Mei Neni Sitaresmi Meutia Ayuputeri Kumaheri Muhamad Rizqy Fadhillah Mulya Rahma Karyanti, Mulya Rahma Najib Advani Nanis S. Marzuki Nanis Sacharina Marzuki Nanis Sacharina Marzuki Nastiti Kaswandani Nina Dwi Putri Nur Azizah Nur Azizah Nur Rahadiani Nurul Gusti Khatimah Pamela Kartoyo Pardede, Sudung Oloan Partini Pudjiastuti Trihono, Partini Pudjiastuti Partini Trihono Perkasa, Alif Gilang Piprim B Yanuarso Purnama, Asep Aziz Purnamawati S P Purnamawati S Pujiarto Purnamawati SP Puspaningtyas, Niken Wahyu Pustika Amalia Rachmajati, Arinurtia Rahadiani, Nur Raihan Raihan, Raihan REZA FAHLEVI Rhea Putri Ulima Rinawati Rohsiswatmo Rismala Dewi Rita Mey Rina Rizky Clarinta Putri Roro Rukmi Windi Perdani, Roro Rukmi Sanstiono, Sastiono Sastiono, Sastiono Setyo Handryastuti SJATHA, FITHRIYAH Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Sri Rezeki Hadinegoro Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sri Rezeki S. Suraiyah Suraiyah Teny Tjitra Thandavarayan, Rajarajan Amirthalingam Theola, Jason Toto Wisnu Hendrarto Tri H. Rahayatri Tuty Rahayu Wardani, Amanda Saphira Wawaimuli Arozal William Jayadi Iskandar Yovita Ananta Yulfina Bisanto Zakiudin Munasir Zuraida Zulkarnain