Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Kebebasan Bersuara: Menimbang Risiko dan Ruang Aman di Era Digital Dian Rosita; Amirah Dwi Subarkah; Muthmainnah Barakatun Khoomsiati; Prasasti Nugrahaning Gusti; Afifah Salsabila
Masyarakat Mandiri : Jurnal Pengabdian dan Pembangunan Lokal Vol. 2 No. 4 (2025): Oktober: Masyarakat Mandiri : Jurnal Pengabdian dan Pembangunan Lokal
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/masyarakatmandiri.v2i4.2238

Abstract

Freedom of expression is a fundamental human right, yet it is not absolute, as it may be restricted under certain conditions in accordance with international law, such as the protection of reputation, national security, and public order. In Indonesia, this right is guaranteed by the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia and its derivative regulations. However, the rapid development of information and communication technology has reshaped the landscape of public discourse. The digital space, while facilitating easier access to and dissemination of information, also presents challenges, including hate speech, misinformation, cyberbullying, and the potential for criminalization due to ambiguous regulations.To respond to these challenges, the Regional Board of Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Semarang organized a community service program in the form of a public dialogue titled “Freedom of Speech: Between Rights and Risks” on August 9, 2025, at the Hall of the Central Java Provincial Archives and Library Service. This activity was carried out through a participatory approach by academics who are also members of PDNA, together with the PDNA Semarang board. Two speakers were presented, Dr. Mochamad Riyanto, S.H., M.Si., a legal expert from Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang, and Aris Mulyawan, Chair of the Alliance of Independent Journalists (AJI) Semarang. The dialogue produced three main findings: first, the need for legal awareness so that freedom of expression does not lead individuals into legal problems; second, the importance of digital literacy to reduce the spread of hoaxes and hate speech; and third, the urgency of building safe digital spaces through collaboration among communities, media, and educational institutions. The discussion emphasizes that freedom of expression in the digital era must be understood as both a right and a responsibility, requiring a fair regulatory ecosystem and continuous digital literacy enhancement
Restorative Justice Policy in Law Enforcement Against Perpetrators of Spreading Hoaxes Related to Elections on Social Media Dian Rosita; Endang Setyowati; Suwandoko Suwandoko
International Journal of Sociology and Law Vol. 1 No. 2 (2024): May : International Journal of Sociology and Law
Publisher : Asosiasi Penelitian dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/ijsl.v1i2.104

Abstract

General elections (elections) are a benchmark for the success of democracy for countries that adhere to democratic principles such as Indonesia. The large number of hoax issues surrounding the election that are spread via social media are often considered cybercrime or cybercrime. Meanwhile, criminal law is currently developing discussions about Restorative Justice, which offers forms of settlement with the aim of fulfilling the wishes of the parties with a win-win solution. The legal issue analyzed in this research is how restorative justice policies apply in enforcing the law against perpetrators of spreading fake news (hoaxes) related to elections on social media to see the possibility of using alternative dispute resolution for election violations, especially at the police level. The method used in this research is normative juridical, using literature study and a statutory and regulatory approach related to the legal issue being discussed. This research shows that the Restorative Justice Policy against perpetrators of spreading fake news (hoaxes) taken by the Police is carried out to create a clean, healthy and productive Indonesian digital space so as not to give rise to diversity in investigative administration and differences in interpretations of investigators and irregularities must be carried out in a persuasive, educational manner. so that there is no suspicion of criminalization in the criminal act of spreading fake news (hoax) against the perpetrator or in other words the person being reported. 
PENINGKATAN PEMAHAMAN MASYARAKAT DESA WONOSALAM KABUPATEN DEMAK MENGENAI DASAR HUKUM DAN PENYELESAIAN SENGKETA KOPERASI SYARIAH Dian Rosita; Endang Setyowati
Jurnal Padamu Negeri Vol. 1 No. 2 (2024): April : Jurnal Padamu Negeri (JPN)
Publisher : CV. Denasya Smart Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69714/rekryp02

Abstract

Sharia Cooperatives are a form of cooperative that has principles, objectives and business activities based on Islamic Sharia, namely the Al-Qur'an and Assunah. The legal basis for establishing a sharia cooperative itself includes the following: Law of the Republic of Indonesia No. 25 of 1992 concerning Cooperatives, PP No. 9 of 1995 concerning the Implementation of Savings and Loans Business Activities by Cooperatives, Minister of Cooperatives and SMEs Regulation No. 11/M.KUKM/XII/2017 concerning Implementation of Savings and Loans and Sharia Financing Business Activities by Cooperatives, Minister of Cooperatives and SMEs Regulation No. 35.2/Per/M.KUKM/X/2007 Concerning Guidelines. Cooperative Management Operational Standards. The problem that often arises in the practice of sharia cooperatives is the emergence of problematic financing or bad credit. Dispute resolution can be resolved in two ways, namely dispute resolution in court or outside court. Due to the negative impact of the emergence of problematic financing, it is necessary for the Community Service Team (PkM) to organize outreach and counseling with the theme "Increasing Community Understanding  Wonosalam Demak Regarding the Legal Basis and Sharia Cooperative Dispute Resolution”. This activity uses methods, namely, counseling, question and answer and discussion methods.
PEMANFAATAN PEPAYA MENTAH MENJADI STIK PEPAYA SEBAGAI ALTERNATIF USAHA BAGI MASYARAKAT Tuti Nadhifah; Devy Aufia Abshor; Cikita Berlian Hakim; dian rosita; Jeki Purnomo; Nelly Rhosyida
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 6, No 1 (2024): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v6i1.2443

Abstract

Pepaya merupakan salah satu tanaman yang banyak dijumpai di Desa Banget, namun masyarakat setempat kurang memanfaatkan buah pepaya. Sleian itu pepaya memiliki nilai jual yang rendah dan permintaan konsumen masih sendikit. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang memiliki tujuan memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat khususnya ibu rumah tangga dalam menghasilkan olahan produk kreatif. Dengan menggali potensi sumber daya alam yang ada dapat bermanfaat dalam meningkatkan usaha sampingan selain bertani maupun pekerjaan lainnya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada bulan oktober 2023 dan diikuti oleh 40 peserta dari ibu-ibu PKK dan masyarakat desa Banget. Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan tiga tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahan evaluasi. Hasil evaluasi dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa penguasaan peserta sebanyak  40 orang atau 80% berada dikategori minimal baik, yang artinya peserta yang mengikuti sosialisasi telah menguasai materi yang di sampaikan TIM PKM. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dilaksanakan di sesa Banget dapat dinyatakan berhasil, karena terjadi peningkatan pengetahuan terhadap peserta kegiatan. Saran bagi masyarakat di Desa banget diharapkan dapat diterapkan dengan mengolah pepaya mentah menjadi aneka makanan yang lain sehingga pepaya dapat bernilai jual tinggi dan dapat menambah keankaragaman makanan untuk bisa dijadikan peluang usaha bagi masyarakat.
PENINGKATAN KESADARAN KEAMANAN DATA PRIBADI dan hukum cyber Taftazani Ghazi Pratama; Dian Rosita; Anwari Anwari; Purbowati Purbowati
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 5, No 2 (2023): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v5i2.2204

Abstract

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang bekembang saat ini dapat membantu dan menunjang aktivitas sehari-hari. Di samping itu TIK juga memiliki dampak negatif apabila disalahgunakan untuk tindakan kriminal. Tindakan kriminal yang memanfaatkan Teknologi Informasi dikenal dengan istilah Cybercrime. Untuk mengantisipasi adanya cybercrime  maka masyarakat perlu diberikan wawasan dan pengetahuan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang disampaikan dalam bentuk sosialisasi. Sosialisasi dilaksanakan secara tatap muka dengan para peserta berasal dari Ibu-Ibu Ranting Ranting Aisiyah Kedungdowo. Tujuan dari sosialiasi ini yaitu membekali para peserta agar lebih waspada dan hati-hati terhadap cybercrime, memberikan langkah pencegahan dari cybercrime, melindungi data pribadi, dan memberikan rasa aman dengan adanya hukum cyber. Hasil evaluasi dari sosialiasi ini para peserta mendapatkan pengetahuan meningkat sebanyak 50% dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat.  
PENERAPAN RESTORATIVE JUSTICE SEBAGAI BENTUK PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM Dwi Saputro Adjie Witjaksono; Naili Azizah; Dian Rosita
JURNAL KEADILAN HUKUM Vol 4, No 2 (2023): JURNAL KEADILAN HUKUM
Publisher : JURNAL KEADILAN HUKUM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Restorative Justice adalah penyelesian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga korban/pelaku, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesain yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula. Penelitian ini mengkaji tentang  penerapan Restorative Justice sebagai bentuk perlindungan anak terhadap  Anak yang Berhadapan dengan Hukum. Jenis penelitian hukum yang digunakan dalam penyusunan penelitian ini adalah Yuridis Normatif dengan landasan Putusan hakim pada pengadilan tingkat pertama Nomor 15/Pid.Sus-Anak/2014/PN Tng. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Pendekatan  perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pidana penjara sebagai upaya terakhir dalam penyelesaian tindak pidana anak dan hukuman tersebut diberikan sebagai efek jera atau lebih tepatnya sebagai pembelajaran terhadap terdakwa bahwa perbuatannya yang memiliki senjata tajam tanpa ijin dari pihak yang berwenang dan disertai dengan pencurian sepeda motor adalah melanggar hukum. Hukuman tersebut diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi terdakwa anak untuk tidak mengulangi perbuatannya dan memperbaiki kehidupannya di masa depan. Kata Kunci :  anak berhadapan dengan hukum,  restorative justice, perlindungan anak
PERCERAIAN AKIBAT PERKAWINAN USIA MUDA DALAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG PERKAWINAN DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM Dian Rosita; Abinzar Putra Fendito
JURNAL KEADILAN HUKUM Vol 4, No 1 (2023): JURNAL KEADILAN HUKUM
Publisher : JURNAL KEADILAN HUKUM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang perceraian akibat perkawinan usia muda dalam perspektif Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam. Jenis penelitian hukum yang digunakan dalam penyusunan penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (empiric library), yakni prosuder penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan, dengan melakukan kajian normatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu yuridis empiris (Statute Approach). Sedangkan metode penelitian yang digunakan penulis yaitu penelitian yuridis normative yang artinya permasalahan yang diteliti berdasarkan peraturan perundang-undnagan, literatur hukum, dan media. Hasil penelitian menunjukan bahwa kontradiksi batas usia minimal perkawinan  berpotensi menimbulkan multitafsir sehingga dapat menimbulkan potensi pelanggaran hukum berupa terjadinya banyak kasus perkawinan dibawah umur, berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 perceraian hanya sah jika dilakukan di hadapan pengadilan sementara berdasarkan Kompilasi Hukum Islam, cerai gugat dan cerai talak hanya dapat dilakukan dan sah secara hukum jika melewati proses sidang Pengadilan Agama, kemudian faktor perceraian pasangan usia muda biasanya disebabkan karena masalah ekonomi, kurangnya pemahaman agama, selingkuh dan pendidikan.
UPAYA DIVERSI PADA TAHAP PENUNTUTAN TERHADAP TINDAK PIDANA ANAK DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK Dian Rosita
JURNAL KEADILAN HUKUM Vol 1, No 2 (2020): JURNAL KEADILAN HUKUM
Publisher : JURNAL KEADILAN HUKUM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya tindak pidana yang dilakukan oleh anak mengakibatkan adanya upaya guna mencegah dan menanggulanginya, salah satunya adalah penyelenggaraan Sistem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Criminal Justice System). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU-SPPA) memberikan definisi berupa keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana. UU-SPPA merumuskan diversi sebagai pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana keproses diluar peradilan pidana. Penuntut Umum Anak sebagai aparat fungsional dari Lembaga Kejaksaan Republik Indonesia merupakan salah satu bagian pelaksana sistem peradilan pidana anak di Indonesia. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa diversi di tingkat penuntutan dikatakan berhasil apabila para pihak mencapai kesepakatan, dan hasil kesepakatan tersebut dituangkan dalam bentuk kesepakatan diversi. Namun diversi ditingkat penuntutan dikatakan gagal apabila tidak terjadi kesepakatan bersama antara pelaku dan korban. Implementasi Diversi Sebagai Suatu Perlindungan Bagi Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Pada Tingkat Penuntutan dilakukan oleh Penuntut Umum Anak yang bertindak sebagai fasilitator dan dilakukan dengan memanggil para pihak yaitu terdakwa, orang tua terdakwa, para korban (keluarga korban yang meninggal serta korban yang mengalami luka berat), perwakilan dari BAPAS, Penasihat Hukum yang mendampingi terdakwa. Kendala dalam pelaksanaan upaya diversi pada tingkat penuntutan antara lain : Kurangnya keahlian yang dimiliki seorang jaksa untuk menjadi fasilitator, belum tersedianya Ruang Khusus Anak, kurangnya pemahaman para pihak tentang pelaksanaan diversi, serta pengiriman berkas perkara dari penyidik ke kejaksaan terlalu dekat dengan habisnya masa penahanan.
TANGGUNG JAWAB OTORITAS JASA KEUANGAN DALAM PENGAWASAN PENGELOLAAN DATA PRIBADI NASABAH PENGGUNA LEMBAGA PENYEDIA JASA KEUANGAN DI TENGAH DISRUPSI TEKNOLOGI Dika Anggara Putra; Arina Novitasari; Dian Rosita
JURNAL KEADILAN HUKUM Vol 5, No 1 (2024): JURNAL KEADILAN HUKUM
Publisher : JURNAL KEADILAN HUKUM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Disrupsi teknologi sangat  berperan penting dalam mempengaruhi perilaku kehidupan Masyarakat secara mendasar, tak ubahnya di dalam dunia perbankan dalam perkembangan digitalisasi di Tengah era disrupsi Masyarakat dipaksa untuk mengikuti cara bertransaksi dan digitalisasi data yang dilakukan oleh Lembaga penyedia jasa keuangan. Metodelogi penelitian yang  digunakan dalam penelitian ini adaalah Non Doktrinal dengan bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat yang belum siap akan sangat mudah melakukan kesalahan dalam melakukan proses transaksi dan menjadi sasaran tindak kejahatan yang memanfaatkan data pribadi para nasabah Lembaga penyedia layanan keuangan dan nasabah harus diawasi ketat oleh regulator yaitu otoritas jasa keuangan sehingga proses bisnis dalam keguatan transaksi keuangan bisa berjalan denga naman dan semestinya.Kata Kunci: Digital, Keamanan dan Teknologi
TINJAUAN YURIDIS PERNIKAHAN SIRI DARI SEGI HUKUM PERDATA DAN HUKUM PIDANA Arina Novitasari; Dian Rosita; Muhammad Ayub
JURNAL KEADILAN HUKUM Vol 4, No 1 (2023): JURNAL KEADILAN HUKUM
Publisher : JURNAL KEADILAN HUKUM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menikah siri atau sering dikenal dengan nikah siri di Indonesia bukanlah hal baru bahkan semakin mencuat dikalangan masyarakat. Nikah siri yang kerapkali terjadi diberbagai wilayah sering dijadikan sebagai alternatif mengantisipasi pergaulan bebas dan biasanya dilakukan oleh anggota masyarakat yang ingin berpoligami atau ingin beristri lebih dari satu. Berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia, hukum perkawinan pada dasarnya menganut asas monogami, artinya adalah hanya memberikan peluang seorang pria untuk mempunyai seorang istri, begitu juga sebaliknya. Jika menganut asas terebut maka nikah siri adalah perkawinan yang dilakukan tanpaadanya pencatatan perkawinan dicatatan sipil bagi non muslim, sedangkan bagi muslim perkawinannya tidak dicatat di Kantor Urusan Agama (KUA). Fenomena pernikahan siri di Indonesia sendiri ternyata memiliki konsekuensi secara pidana maupun perdata. Oleh karenanya perlu adanya kajian secara spesifik tentang adanya perilaku pernikahan siri di masyarakat untuk membantu menyelesaiakan konflik tentang akibat hukum nikah siri dari kacamata hukum perdata maupun hukum pidana. Metode yang digunakan dalam kajian ini menggunakan metode yuridis normatif. Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa  seorang pria beristri melakukan poligami dengan cara nikah siri tanpa adanya restu dari istri pertama maka itu urusan hukum administrasi. Dalam hal ini, menilai nikah siri masuk dalam ranah hukum perdata karena pihak istri merasa dirugikan tanpa adanya persetujuan tersebut. Kemudian Pria yang sudah berumah tanggga dan melakukan perkawinan tanpa seijin istri pertamanya dapat dijerat dengan Pasal 279 KUHP. Namun Jika seorang Pria atau wanita melakukan hubungan seks bukan dengan pasangannya dapat dijerat Pasal 284 KUHP. Kemudian berdasarkan UU No. 22 Tahun 1946 sanksi pidana bukan hanya ditujukan bagi pelaku Nikah siri saja tetapi juga orang yang menikahkannya.Kata Kunci : Nikah Siri, Pidana Perdata