p-Index From 2021 - 2026
6.987
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Pedagogik Pendidikan Dasar JURNAL PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA Educatio Pernik : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini JURNAL PAUD AGAPEDIA JURNAL ILMIAH CAHAYA PAUD Cakrawala Dini : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI Jurnal Pelita PAUD JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Jurnal Pendidikan dan Konseling Journal of Early Childhood Education (JECE) MURHUM : JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Pelangi: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Islam Anak Usia Dini These proceedings represent the work of researchers participating in The International Conference on Elementary Education (ICEE) which is being hosted by the Elementary Education Study Programme School of Postgraduate Studies, Universitas Pendidikan Jurnal Pedagogik Pendidikan Dasar Journal of Early Childhood and Character Education PIWURUK: Jurnal Sekolah Dasar DUNIA ANAK: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Jurnal Ilmiah Profesi Guru (JIPG) Indonesian Research Journal on Education Innovative: Journal Of Social Science Research Jurnal Mutiara Pendidikan Badranaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat JECIE (Journal of Early Childhood and Inclusive Education) JGEN : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat JURNAL PENA PAUD Jurnal Elementaria Edukasia Jurnal Pendidikan Anak Jurnal Pelita PAUD Pelangi: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Islam Anak Usia Dini Indonesian Journal of Elementary and Childhood Education
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : JURNAL PAUD AGAPEDIA

KEMAMPUAN ANAK USIA DINI MENGELOLA EMOSI DIRI PADA KELOMPOK B DI TK PERTIWI DWP KECAMATAN TAWANG KOTA TASIKMALAYA Mulyana, Edi Hendri; Gandana, Gilar; Muslim, Muhammad Zamzam Nurul
JURNAL PAUD AGAPEDIA Vol 1, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.548 KB) | DOI: 10.17509/jpa.v1i2.9361

Abstract

Early childhood ability in managing self-emotion is part of the maturation of the child’s emotional development during the transition from pre-operation to a period of concrete operations. Early childhood abilities in managing their own emotions can be seen from the dimensions of children's capabilities in harnessing their emotions positively, emotion-managing ability in accordance with the situation and condition of themselves, and self-defense capability of the child itself in various forms of children's self issue positions properly. This research was conducted in Pertiwi kindergarten DWP Tawang Subdistrict, Tasikmalaya City that aimed to describe the ability of early childhood in managing self-emotions. The subjects in this study were 18 students from Group B1 that consist of 8 boys and 10 girls. This research used a quantitative approach with descriptive research method. Data collection techniques used in this research are observation, documentation, and field notes. The instrument used in this study are observation sheet and fieldnotes. The data collected was then processed as provided in attachment 1, attachment 2, attachment 3 and attachment 4.The results of the research that has been done in Groups B1 TK Pertiwi DWP Tawang Subdistrict, Tasikmalaya City related early childhood ability in managing self-emotions can be summed up as follows: the majority of early childhood group B1 in Pertiwi kindergartenDWP in terms of early childhood ability in managing self-emotions are on the level of achievement of development judged as DAE (developed as expected). Kemampuan anak usia dini mengelola emosi diri merupakan bagian dari pematangan perkembangan emosi anak dimasa peralihan dari pra operasional memasuki masa operasional konkrit. Kemampuan anak usia dini dalam mengelola emosi dirinya sendiri dapat dilihat dari dimensi kemampuan anak dalam memanfaatkan emosi diri secara positif, kemampuan mengatur emosi sesuai dengan situasi dan kondisi diri, dan kemampuan pertahanan diri anak itu sendiri dalam berbagai bentuk posisi persoalan diri anak secara wajar. Penelitian ini dilakukan di TK Pertiwi DWP Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan anak usia dini mengelola emosi diri. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelompok B1 yang berjumlah 10 anak terdiri dari 8 anak laki-laki dan 10 anak perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, dan catatan lapangan. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan lembar obsevasi dan catatan lapangan. Dari data yang yang terkumpul kemudian diolah seperti yang tertera dalam lampiran 1, lampiran 2, lampiran 3, dan lampiran 4. Hasil penelitian yang telah dilakukan di Kelompok B1 TK Pertiwi DWP Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya terkait kemampuan anak usia dini mengelola emosi diri, maka peneliti ini dapat disimpulkan sebagai berikut: mayoritas anak usia dini pada Kelompok B1 di TK Pertiwi DWP dalam hal kemampuan anak usia dini mengelola emosi diri berada pada tingkat pencapaian perkembangan dinilai BSH (Berkembang Sesuai Harapan).
PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK USIA DINI MELALUI KEGIATAN MERONCE MENGGUNAKAN MANIK-MANIK PADA KELOMPOK B2 DI TK AL- HAMID KECAMATAN KAWALU KOTA TASIKMALAYA Khayyirah, Ghina Khansa; sumardi, Sumardi; Elan, Elan; Gandana, Gilar
JURNAL PAUD AGAPEDIA Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.621 KB) | DOI: 10.17509/jpa.v2i2.24541

Abstract

ABSTRACTMotoric skills are abilities that involve muscles in certain body parts such as fingers. One activity that can improve the motoric skills of early childhood is through meronce activities using beads. This study aims to describe the ability of teachers in planning the learning of motoric skills of early childhood through the activity of meronce in group B2 in TK Al-Hamid, describing the ability of teachers in the process of learning fine motor skills of early childhood through meronce using beads in group B2 in TK Al-Hamid, and describes the teacher's ability to improve the motoric skills of early childhood through meronce using beads in the B2 TK Al-Hamid group. The motoric aspects studied include second-hand motion skills, limb movement skills related to fingers, and skills that are able to coordinate the eyes with the hands. This type of research is Classroom Action Research. With the research model of Kemmis and Mc. Taggart. Data analysis in this study researchers used qualitative data and quantitative data. The subjects in this study were 10 early childhood children from B2 TK TK Al-Hamid group, namely 7 boys and 3 girls. The results of this study indicate that children's motoric skills have increased after being given meronce activities using beads.  Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang melibatkan otot-otot pada bagian tubuh tertentu seperti jari tangan. Salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia dini yaitu melalui kegiatan meronce menggunakan manik-manik. Penelitian ini bertujuan untuk peningkatan kemampuan motorik halus anak usia dini melalui egiatan meronce memnggunakan manik-manik pada kelompok B2 di Tk Al- Hamid Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya. Aspek motorik halus yang diteliti antara lain, keterampil dalam menggunkan jari-jemari tangan untuk melakukan aktivitas, terampil dalam menggerakkan jari-jemari tangan, terampil dalam mengerakan kedua tangan, pengendalian gerak, melakukan gerakan terkoordinasi terkontro, terampil dalam kecermatan dan ketepatan.. Jenis penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas. Dengan model penelitian Kemmis dan Mc. Taggart. Analisis data dalam penelitian ini peneliti menggunakan data kualitatif dan data kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah anak usia dini kelompok B2 Tk Al- Hamid berjumlah 10 orang, yaitu 6 orang anak laki-laki dan 4 orang anak perempuan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan motorik halus anak mengalami peningkatan setelah diberikan kegiatan meronce menggunakan manik-manik. 
Peningkatan Kemampuan Mengenal Lambang Bilangan 1-10 melalui Media Balok Cuisenaire pada Anak Usia 4-5 Tahun di TK At-Toyyibah Gandana, Gilar; Pranata, Oyon Haki; Yulia Danti, Tannie Yulia
JURNAL PAUD AGAPEDIA Vol 1, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (821.896 KB) | DOI: 10.17509/jpa.v1i1.7160

Abstract

This study aims to improve the ability to recognize the symbol of the number 1-10 through the medium blocks of cuisenaire in children aged 4-5 years in kindergarten At TK At-Toyyibah, District Sukarame, Tasikmalaya. The type of research used is classroom action research done collaboratively with Kemmis and Mc Taggart research models. This study was carried out in three cycles. Research subjects were teachers and children aged 4-5 years with a total of 12 children, namely: 9 boys and 3 girls. The instrument used is the observation sheet (check list), which consists of teacher activity observation sheet and children activity. Data collection techniques through observation, interviews, and documentation. Data analysis technique is done d descriptively qualitative. The indicator of success in this study, if the ability to recognize the symbol of the number 1-10 in children reached 75% percentage. The ability to recognize the 1-10 number symbols in 4-5 years old children has a significant increase each cycle. The results of observations from pre-action to cycle I showed an increase of only 1% with the average percentage of pre-action by 35% of capable children and 65% of children who have not been able to cycle I by 36% of capable children and 64% of children has not been able to. From cycle I the average percentage of 36% of children are able and 64% of children who have not been able to cycle to 65% capable children and 35% of children who have not been able. Then from cycle II the average percentage of 65% of children capable and 35% of children who have not been able to cycle II of 83% capable children and 17% of children who have not been able and have achieved success indicators. Thus, it can be concluded that the media blocks of cuisenaire can increase the ability to recognize the symbol of the number 1-10 in children aged 4-5 years in kindergarten At-Toyyibah, District Sukarame, Tasikmalaya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan 1-10 melalui media balok cuisenaire pada anak usia 4-5 tahun di TK At-Toyyibah, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif dengan model penelitianKemmis dan Mc Taggart. Penelitian ini dilaksanakan ke dalam tiga siklus. Subjek penelitian yaitu guru dan anak usia 4-5 tahundengan jumlah 12 anak, yaitu: 9 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi (check list), yang terdiri dari lembar observasi aktivitas guru dan aktivitas anak.Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan secara deskriftif kualitatif. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini, apabila kemampuan mengenal lambang bilangan 1-10 pada anak mencapai persentase 75%. Kemampuan mengenal lambang bilangan 1-10 pada anak usia 4-5 tahun mengalami peningkatan yang signifikan setiap siklusnya. Hasil observasi dari pra tindakan ke siklus I menunjukkan peningkatan walaupun hanya 1% dengan rata-rata persentase pada pra tindakan sebesar 35% anak yang mampu dan 65% anak yang belum mampu ke siklus I sebesar 36% anak yang mampu dan 64% anak yang belum mampu. Dari siklus I rata-rata persentase sebesar 36% anak yang mampu dan 64% anak yang belum mampu ke siklus II sebesar 65% anak yang mampu dan 35% anak yang belum mampu. Kemudian dari siklus II rata-rata persentase sebesar sebesar 65% anak yang mampu dan 35% anak yang belum mampu ke siklus III sebesar 83% anak yang mampu dan 17% anak yang belum mampu dan telah mencapai indikator keberhasilan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media balok cuisenaire dapat meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan 1-10 pada anak usia 4-5 tahun di TK At-Toyyibah, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya.
KETERAMPILAN SIKAP TOLERANSI SOSIAL ANAK USIA 4-5 TAHUN Kholby Abqorisa; Elan Elan; Gilar Gandana
JURNAL PAUD AGAPEDIA Vol 6, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpa.v6i2.52015

Abstract

There needs to be an attitude of tolerance that must be applied by every Indonesian society. To implement and instill good values, the importance of character education starts from early childhood education, one of which is the skill of tolerance. In early childhood education there are several aspects of development, tolerance attitude skills contained in aspects of moral and religious values as well as social emotional. The level of children aged 4-5 years towards religious and moral values, namely: Knowing their religion, imitating worship movements in the right order, saying a prayer before or before doing something, recognizing good, polite and bad behavior, behaving well, greeting and replying. regards. In social-emotional aspects, namely being able to interact with peers and adults, showing self-confidence, being able to express feelings or emotions that are still at a reasonable stage, being able to practice independence, starting to maintain discipline, being able to maintain security, and starting to be responsible. In this study, researchers used a qualitative method with a case study approach. Data were taken from several sources including journals, articles, interviews, documentation, and direct fieldwork and observations carried out at the Nur Assalaam TKIP school. The results in this study are the habits given by the teacher and the behavior displayed by the children.Perlu adanya sikap toleran yang harus diterapkan oleh setiap masyarakat indonesia. Untuk menerapkan dan menanamkan nilai-nilai yang baik pentingnya pendidikan karakter dimulai dari pendidikan anak usia dini, salah satunya yaitu keterampilan sikap toleransi. Dalam pendidikan anak usia dini terdapat beberapa aspek perkembangan, keterampilan sikap toleransi ini terdapat dalam aspek nilai moral dan agama serta sosial emosional. Tingkat pencapaian anak usia 4-5 tahun terhadap nilai agama dan moral yaitu: Mengetahui agama yang dianutnya, meniru gerakan beribadah dengan urutan yang benar, mengucapkan doa sebelum atau sesudah melakukan sesuatu, mengenal perilaku baik, sopan dan buruk, membiasakan diri berperilaku baik, mengucapkan salam dan membalas salam. Dalam sosial emosional, yaitu khususnya mampu berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa, menunjukkan rasa percaya diri, mampu mengekspresikan perasaan atau emosi yang masih tahap wajar, mampu melatih kemandirian, , mulai menjaga kedisiplinan, mampu menjaga keamanan,serta mulai bisa bertanggung jawab.Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data yang di ambil dari beberapa sumber diantaranya jurnal, artikel, wawancara, dokumentasi, dan terjun langsung kelapangan dan melakukan observasi yang dilaksanakan di sekolah TKIP Nur Assalaam. Hasil dalam penelitian ini merupakan pembiasaan yang diberikan oleh guru dan perilaku yang ditampilkan oleh anak.
KRISTALISASI NILAI SOCIAL SELF-IMAGE ANAK USIA DINI MELALUI REALISASI MEDIA DIGITAL ETNOPEDAGOGIK BUDAYA SUNDA SEBAGAI UPAYA PENGEJAWANTAHAN FUNGSI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI PROVINSI JAWA BARAT ERA SOCIETY 5.0 Gilar Gandana; Edi Hendri Mulyana; Kholby Abqorisa; Rifki Ahmad Fauzi
JURNAL PAUD AGAPEDIA Vol 6, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpa.v6i2.52017

Abstract

Digital media is a fundamental part of early childhood education facilities in the era of the industrial revolution 4.0. Along with the development of the times, the concept of fulfilling the needs of human life is also growing. This is inseparable from the need for future educational facilities. The anxiety that arises in the education aspect is nothing but the inculcation of Indonesian traditional values in the era of society 5.0. Indonesia is a multi-cultural country. One of the cultures that tends to be dominantly inhabited by the Indonesian people is Sundanese culture, precisely in the province of West Java. One of the values built in the Sundanese culture is penance, compassion, and parenting. Various efforts continue to be made in order to achieve the hope of a decent future life. One logical and realistic effort to deal with this anxiety is the application of ethnopedagogic digital media as an early childhood education facility in the era of society 5.0. In line with the results of research conducted related to the application of Sundanese culture-based ethnopedagogic digital media for early childhood in the province of West Java, the City of Bandung increased by 31.4%; Bandung Regency increased 50.4%; Purwakarta Regency increased by 37.4%; and Kota Tasikmalaya increased 38.9%. The research data shows a significant effectiveness in increasing the social self-image value of early childhood 5-6 years in West Java Province with an average increase of 40%. Media digital menjadi bagian fundamental dalam fasilitas Pendidikan anak usia dini di era revolusi industry 4.0. Seiring berkembangnya zaman, maka semakin berkembang pula konsep pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Hal tersebut tidak terlepas dari kebutuhan fasilitas Pendidikan masa depan. Kecemasan yang muncul dalam aspek Pendidikan tiada lain adalah penanaman nilai tradisi Indonesia di era society 5.0. Indonesia adalah negara multi budaya. Salah satu budaya yang cenderung dominan dihuni oleh masyarakat Indonesia adalah budaya Sunda tepatnya di provinsi Jawa Barat. Salah satu nilai yang dibangun dalam budaya sunda adalah silih asah, silih asih, dan silih asuh. Berbagai upaya terus dilakukan demi tercapainya harapan kehidupan masa depan yang layak. Salah satu upaya logis dan realistis untuk menanggani kecemasan tersebut yaitu penerapan media digital etnopedagogik sebagai fasilitas Pendidikan anak usia dini di era society 5.0. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan terkait penerapan media digital etnopedagogik berbasis budaya sunda untuk anak usia dini di provinsi Jawa Barat, Kota Bandung meningkat 31,4%; Kabupaten Bandung meningkat 50,4%; Kabupaten Purwakarta meningkat 37,4%; dan Kota Tasikmalaya meningkat 38,9%. Data penelitian tersebut  menunjukan efektivitas yang signifikan dalam meningkatkan nilai social self-image anak usia dini 5-6 tahun di Provinsi Jawa Barat dengan rata-rata peningkatan 40%.
KRISTALISASI NILAI SOCIAL SELF-IMAGE ANAK USIA DINI MELALUI REALISASI MEDIA DIGITAL ETNOPEDAGOGIK BUDAYA SUNDA SEBAGAI UPAYA PENGEJAWANTAHAN FUNGSI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI PROVINSI JAWA BARAT ERA SOCIETY 5.0 Gilar Gandana; Edi Hendri Mulyana; Kholby Abqorisa; Rifki Ahmad Fauzi
JURNAL PAUD AGAPEDIA Vol 6, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpa.v6i2.55715

Abstract

Digital media is a fundamental part of early childhood education facilities in the era of the industrial revolution 4.0. Along with the development of the times, the concept of fulfilling the needs of human life is also growing. This is inseparable from the need for future educational facilities. The anxiety that arises in the education aspect is nothing but the inculcation of Indonesian traditional values in the era of society 5.0. Indonesia is a multi-cultural country. One of the cultures that tends to be dominantly inhabited by the Indonesian people is Sundanese culture, precisely in the province of West Java. One of the values built in the Sundanese culture is penance, compassion, and parenting. Various efforts continue to be made in order to achieve the hope of a decent future life. One logical and realistic effort to deal with this anxiety is the application of ethnopedagogic digital media as an early childhood education facility in the era of society 5.0. In line with the results of research conducted related to the application of Sundanese culture-based ethnopedagogic digital media for early childhood in the province of West Java, the City of Bandung increased by 31.4%; Bandung Regency increased 50.4%; Purwakarta Regency increased by 37.4%; and Kota Tasikmalaya increased 38.9%. The research data shows a significant effectiveness in increasing the social self-image value of early childhood 5-6 years in West Java Province with an average increase of 40%.Media digital menjadi bagian fundamental dalam fasilitas Pendidikan anak usia dini di era revolusi industry 4.0. Seiring berkembangnya zaman, maka semakin berkembang pula konsep pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Hal tersebut tidak terlepas dari kebutuhan fasilitas Pendidikan masa depan. Kecemasan yang muncul dalam aspek Pendidikan tiada lain adalah penanaman nilai tradisi Indonesia di era society 5.0. Indonesia adalah negara multi budaya. Salah satu budaya yang cenderung dominan dihuni oleh masyarakat Indonesia adalah budaya Sunda tepatnya di provinsi Jawa Barat. Salah satu nilai yang dibangun dalam budaya sunda adalah silih asah, silih asih, dan silih asuh. Berbagai upaya terus dilakukan demi tercapainya harapan kehidupan masa depan yang layak. Salah satu upaya logis dan realistis untuk menanggani kecemasan tersebut yaitu penerapan media digital etnopedagogik sebagai fasilitas Pendidikan anak usia dini di era society 5.0. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan terkait penerapan media digital etnopedagogik berbasis budaya sunda untuk anak usia dini di provinsi Jawa Barat, Kota Bandung meningkat 31,4%; Kabupaten Bandung meningkat 50,4%; Kabupaten Purwakarta meningkat 37,4%; dan Kota Tasikmalaya meningkat 38,9%. Data penelitian tersebut  menunjukan efektivitas yang signifikan dalam meningkatkan nilai social self-image anak usia dini 5-6 tahun di Provinsi Jawa Barat dengan rata-rata peningkatan 40%.
Co-Authors Ade Rokhayati, Ade Adilah, Dila Aini Loita Aisyahni, Nur Laela Almufidah, Ajriya Annisa Shofaril Wahidah Annisa, Maulida Nur Arosyidah, Risa Asah Siti KF Asri Ashari Astagini, Virda Anggi Aviva Ayuningtias Barokah, Annisa Naelul Bela Nur Oktavia Chusna Arifah Dadan Nugraha Dadan Nugraha Damayanti , Maharani Delia Nurlina Dewi, leni Puspita Dewi, Liestya Regina Dindin Abdul Muiz Lidinillah DWI ALIA, DWI Elan Elan, Elan Empat Patimah Farah, Siti Sobariah Miftahul Fauzi, Rifki Ahmad Fauziah Syarifatul Huriyah Firdaus, Nadya Azzahra Salsabila Gina Nurdiani Ginayanti, Daniati Hanum, Azzahra Nurfauziyyah Hashipah, Hani Hidayah, Fina Nur Huriyah, Fauziah Syarifatul Huriyah, Fauziyah Syarifatul Khayyirah, Ghina Khansa Kholby Abqorisa Kholby Abqorisa Kotrunnada, Seli Amalia Laelasari, Heni Loita, Aini Maitsa Munifah Mulya, Bintang Mutiara Mulyana, Edi Hendri Muslim, Muhammad Zamzam Nurul Mutiara, Wida Nadya Vegaputri Handiani Nadya Noeraisyiah, Syanie Nugraha, Aziz Ayi Nur, Lutfi Nuraly Masum Aprily Nurpatimah, Aam Nursarofah, Nisna Nurussakinah, Thiana Nurzaman, Istikhoroh Palentin, Fitria Pidi Mohamad Setiadi Pranata, Oyon Haki Pratiwi, Srie Maya Purwati Purwati Rahman , Taopik Rahmat, Mohd Khairezan Ramandhini, Rifdah Fauziah Ramdani, Diani Rizki Regina, Silvia Respati, Resa Resviani, Resi Reva Fauzia Haristawati Rifki Ahmad Fauzi Rifki Ahmad Fauzi Rifqi Ilhamul Fauzi, Muhamad Risa Arosyidah Rismyanti, Sri Ayu Rizqi, Anggi Maulana Rosarina Giyartini Rosi Rosmeilani Saputri, Ririn Oktavini Sari, Hera Ratna Sianturi, Risbo Sianturi, Risbon Sima Mulyadi, Sima Siti Aminah Adawiah Suciawati, Dewinta Tri Sudarso, Dina Anggraeni Sumardi . Sumardi, Sumardi Taopik Rahman Teny Nur Islami Wahidah, Annisa Shofaril Yasbiati Yasbiati Yulia Danti, Tannie Yulia