Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pelatihan Pengolahan Ampas Tahu menjadi Bahan Pangan di Desa Nglebeng Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek Agustia Dwi Pamujiati; Mariyono Mariyono; Natasya Puspa Rosaning Trisna
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2021): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v1i2.2098

Abstract

The residue of tofu is a solid waste from tofu processing. During this time, the residue of tofu only used as fodder in Desa Nglebeng, Kecamatan panggul, Kabupaten Trenggalek. Nevertheless, the rubble has good nutrition, and hence it can be utilized in food products. One of the food products that can be produced from the residue of tofu is a nugget. The training aimed to empower the communities to create nugget products from the deposition of tofu as a food alternative to fulfill the healthy food. Four steps separated the methods of the training: preparation, socialization, practice, and evaluation. The course was divided into three stages: preparing tools and materials, nugget processing, and selling. The training results showed that nuggets processing from the tofu residue could be run well and have a positive impact. The village government supported this training, and the enthusiastic participants asked questions and discussed with the team. Nugget from the residue of tofu can be used to profitable idea business. The nugget products can increase the selling value of tofu residue and improve the community's economic level.Ampas tahu yaitu suatu limbah padat hasil pengolahan tahu. Sampai saat ini ampas tahu hanya digunakan untuk pakan ternak di Desa Nglebeng Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek. Padahal ampas mengandung berbagai gizi baik yang bisa dimanfaatkan untuk dijadikan produk pangan. Salah satu produk pangan yang dapat diproduksi dari ampas tahu yaitu nuget. Tujuan pengabdian ini untuk memberdayakan masyarakat dalam pengolahan ampas tahu menjadi nugget sebagai pangan alternatif selama pandemi Covid-19 dengan harga yang murah dan memenuhi kebutuhan pangan sehat bagi masyarakat. Metode dalam pelatihan ini terdiri atas empat tahap yaitu persiapan, ceramah/sosialisasi, praktek lapang, dan evaluasi kegiatan. Kegiatan praktek lapang dibagi menjadi 3 tahapan yaitu mempersiapkan alat dan bahan, melakukan pembuatan nuget, dan penjualan. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan pembuatan nuget ampas tahu dapat berjalan dengan lancar serta memberikan manfaat yang positif. Hal ini terlihat bahwa aparat Desa Nglebeng mendukung kegiatan ini dan peserta antusias mengikuti kegiatan pelatihan. Peserta banyak mengajukan pertanyaan dan berdiskusi dengan tim pengabdian. Nuget ampas tahu dapat dijadikan ide bisnis yang menjanjikan karena dapat meningkatkan nilai jual ampas tahu serta memiliki kandungan gizi yang tinggi sehingga dapat meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat.
Pemanfaatan Plastik Kemasan Bekas sebagai Wadah dan Pembuatan Media Tanam, Pupuk Kompos, dan Pupuk Cair Satriya Bayu Aji; Agustia Dwi Pamujiati; Yesy Nur Gunariyati
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2021): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v1i2.2100

Abstract

Farming activities at this time can be used as a good activity to fill time in the midst of the covid-19 pandemic. These activities can be done around the yard around their respective homes. However, these activities are hindered by costs, such as buying containers for planting media and fertilizers. To reduce the cost of purchasing plastic containers and fertilizers, which are relatively expensive. Plastic containers for planting media can be replaced with used plastic packaging, such as packaged cooking oil containers and so on. Besides being able to save on farming costs, the use of used plastic containers can also reduce plastic waste. The fertilizer that will be used can also be replaced with compost from organic waste. It can also reduce or manage organic waste management. Such conditions can be used as community service activities as a form of the Tri Dharma of Higher Education. This activity aims to introduce, train, and assist in the manufacture of compost and the use of used plastic containers as planting media. This activity is considered relevant and suitable to be given to the community. As an effort to reduce plastic waste and manage organic waste around the community. The benchmark for service activities uses a satisfaction questionnaire assessment given to the target community of service. Based on the results of the questionnaire, the target community for community service activities who live in Jati Hamlet, Jati Village, Tarokan District, Kediri Regency. Proven to have additional insight, to utilize used plastic packaging as a plant medium and to manage solid and liquid compost from organic waste.Aktifitas bercocok tanam pada saat ini bisa dijadikan kegiatan yang bagus untuk mengisi waktu di tengah pandemi covid-19. Aktifitas tersebut bisa dilakukan di sekitar lahan pekarangan yang ada di sekitar rumah masing - masing. Akan tetapi, aktifitas tersebut terhalang dengan biaya, seperti membeli wadah untuk media tanam dan pupuk. Untuk mengurangi biaya pembelian wadah plastik dan pupuk yang relatif cukup mahal. Wadah plastik untuk media tanam bisa diganti dengan kemasan bekas plastik, seperti wadah minyak goreng kemasan dan sebagainya. Selain bisa menghemat biaya bercocok tanam, penggunaan wadah bekas plastik, juga bisa mengurangi sampah plastik. Pupuk yang akan digunakan juga bisa diganti dengan pupuk kompos dari sampah organik. Hal ini juga bisa mengurangi atau manajemen pengelolaan sampah organik. Kondisi seperti bisa dijadikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan yang bertujuan untuk pengenalan, pelatihan, dan pendampingan dalam pembuatan pupuk kompos dan pemanfaatan wadah plastik bekas sebagai media tanamnya Kegiatan ini dinilai relevan dan cocok diberikan kepada masyarakat. Sebagai upaya pengurangan sampah plastik dan pengeloaan sampah organik di sekitar masyarakat. Tolak ukur kegiatan pengabdian menggunakan penilaian kuisioner kepuasan yang diberikan kepada masyarakat sasaran pengabdian. Berdasarkan hasil kuisioner, masyarakat sasaran kegiatan pengabdian masyarakat yang bertempat tinggal di Dusun Jati Desa Jati Kecamatan Tarokan Kabupaten Kediri ini. Terbukti memiliki wawasan tambahan, untuk memanfaatkan kemasan plastik bekas sebagai media tanaman dan pengelolaan pupuk kompos padat dan cair dari sampah organik.
Bimbingan Teknis Pengolahan Wedang Penambah Imunitas Desa Kawedusan Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri Agustia Dwi Pamujiati; Tjatur Prijo Rahardjo; Ahmad Iksan Nudin; Andan Diyah Wulan
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2022): MEI
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v2i1.2557

Abstract

There are various types of herbal plants in Indonesia, such as ginger, turmeric, lemongrass, cardamom, cloves, cinnamon, star anise, and others. Each herbal plant contains various bioactive compounds that have antioxidant activity. Antioxidants can function to increase immunity. The immunity of the residents of Kawedusan Village decreased during the transition period which was marked by many people experiencing symptoms of cough, runny nose, and fever. Due to this phenomenon, it is necessary to conduct training to manufacture immunity-enhancing drinks made from various herbal plants. Community service was carried out for two months starting from January to March 2022 in Sadon Hamlet, Kawedusan Village, Plosoklaten District, Kediri Regency. This community service employed three methods: the preparation stage, lectures, and field practice. The ingredients used in making an immunity-boosting drink include lemongrass, turmeric, ginger, cinnamon, rock sugar, lime, and honey. Community service activities for the manufacture of an immunity-boosting drink were successful and valuable. The Kawedusan Village apparatus supports the activity and the participated residents were highly enthusiastic Tumbuhan herbal di Indonesia beragam jenisnya seperti jahe, kunyit, sereh, kapulaga, cengkeh, kayu manis, bunga lawang, dan sebagainya. Setiap tumbuhan herbal mengandung senyawa bioaktif beragam yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Antioksidan dapat berfungsi untuk meningkatkan imunitas. Imunitas warga Desa Kawedusan mengalami penurunan di masa pancaroba yang ditandai dengan banyaknya orang yang mengalami gejala batuk, pilek, dan demam. Adanya fenomena tersebut maka perlu dilakukan pelatihan pembuatan wedang penambah imunitas dari bermacam-macam tumbuhan herbal. Pengabdian kepada masyarakat dilakukan selama 2 bulan mulai bulan Januari hingga Maret 2022 di Dusun Sadon Desa Kawedusan Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan 3 metode yaitu tahap persiapan, ceramah, dan praktek lapang. Bahan yang digunakan dalam pembuatan wedang penambah imunitas antara lain batang sereh, kunyit, jahe, kayu manis, gula batu, jeruk nipis, dan madu. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat pembuatan wedang penambah imunitas berjalan dengan sukses bermanfaat. Perangkat Desa Kawedusan mendukung kegiatan ini dan antusiame warga sangat tinggi. 
Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai Bahan Minuman Instan Penambah Imunitas Lailatul Azkiyah; Agustia Dwi Pamujiati; Eko Yuliarsha Sidhi; Ahmad Haris Hasanuddin Slamet; Kresna Widigdo Margo Utomo
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2023): MEI
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v3i1.4561

Abstract

Family medicinal plants (TOGA) are efficacious as medicines to fulfil the needs of family medicines. TOGA has many types of plants that can be used for roots, leaves, bark, flowers, and rhizomes depending on the type of plant. One of the TOGA that is used for its rhizomes is ginger. Ginger contains phenolic compounds such as gingerols, shogaols, zingeron, and diarylheptanoids which have antioxidant activity. Ginger is generally used as a ginger drink. Making ginger tea is also considered impractical because you have to peel the ginger first. So it is necessary to carry out technical guidance on processing ginger into instant ginger granules. Processing into granules was chosen because it is more stable physically and chemically and does not easily agglomerate. The purpose of this community service is to transfer knowledge and technology in the cultivation and processing of instant ginger. This community service was carried out for 25 housewives of RT 5 RW 2 in Mojoroto Village, Mojoroto District, Kediri City. This activity was divided into two stages, namely the stage of giving lectures and field practice, namely ginger cultivation and ginger processing. The results of the community service showed that during the lecture stage, the cultivation of ginger in used sacks, and the processing of instant ginger granules received very positive responses from the participants. Many participants followed closely and communicated actively with the community service team.  Tanaman obat keluarga (TOGA) berkhasiat untuk obat dalam mencukupi kebutuhan obat-obatan keluarga. Beberapa jenis TOGA dapat dimanfaatkan akar, daun, kulit batang, bunga, dan rimpangnya. Salah satu TOGA yang dimanfaatkan rimpangnya adalah jahe. Jahe mengandung senyawa fenolik seperti gingerol, shogaol, zingeron, diarilheptanoid yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Jahe umumnya digunakan sebagai wedang jahe. Pembuatan wedang jahe pun dirasa kurang praktis karena harus mengupas jahe terlebih dahulu. Maka perlu dilakukan bimbingan teknis pengolahan jahe menjadi granul jahe instan. Pengolahan menjadi granul dipilih karena lebih stabil secara fisik dan kimia serta tidak mudah menggumpal. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini untuk berbagi ilmu dan teknologi dalam budidaya dan pengolahan jahe instan. Sasaran kegiatan ini adalah ibu-ibu rumah tangga RT 5 RW 2 sebanyak 25 orang di Kelurahan Mojoroto Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Kegiatan ini dilakukan dengan dua Langkah, yaitu memberikan ceramah dan praktek lapang yaitu budidaya jahe serta pengolahan jahe. Hasil pengabdian kepada masyarakat menunjukkan bahwa pada tahap ceramah, budidaya jahe dalam karung bekas dan pengolahan granul jahe instan sangat mendapatkan respon positif dari peserta. Banyak peserta yang mengikuti dengan seksama dan berkomunikasi secara aktif kepada tim pengabdian kepada masyarakat.
Analisis Perbandingan Pendapatan Sistem Panen Tebasan Dengan Sistem Panen Sendiri Usahatani Jagung Hibrida (Studi Kasus Di Desa Nglaban, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk) Linawati Linawati; Wiwiek Andajani; Eko Yuliarsha Sidhi; Agustia Dwi Pamujiati
JINTAN : Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 1 No. 2 (2021): JULY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v1i2.1811

Abstract

Corn is one of the leading commodities after rice. Apart from being a staple food substitute for rice, corn can be used as animal feed and industrial raw materials. Over time, technology development is increasingly sophisticated, allowing corn to be used as a raw material for cosmetics and health supplies. In this study, the farmers used two harvest systems: the self harvest and slash harvest systems. This research was conducted to analyze the cost of farming and the income of maize farmers using the slash harvest system and the harvest system itself in Nglaban Village, Loceret District, Nganjuk Regency. This study using two variables: the dependent variable (the amount of income earned by corn farmers) and the independent variable (area of land, number of seeds, amount of fertilizer, and labor). The cost of farming and income between the harvest system itself and the cropping system of the two results obtained a homogeneous sample diversity from the F-test research results. The cost of farming showed that farming cost with their self-harvest system was higher than the costs of farming with a slash harvest system from the T-test results. Meanwhile, the T-test results from the farmer's income indicated that the income of maize farmers with the self-harvest system was higher than the income of corn farmers with the slash crop system. Jagung merupakan salah satu komoditas unggulan setelah Padi. Selain sebagai salah satu bahan pokok makanan dengan pengganti beras, jagung umumnya menjadi pakan ternak dan bahan baku industri. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, jagung juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku kosmetik dan kesehatan. Dalam penelitian ini petani menggunakan dua sistem panen yaitu sistem panen sendiri dan sistem panen tebasan. Penelitian ini dilakukan dengan bertujuan untuk mengetahui biaya usahatani dan mengetahui pendapatan petani jagung dengan menggunakan sistem panen tebasan dan sistem panen sendiri di Desa Nglaban, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel dependen (jumlah pendapatan yang diperoleh petani jagung) dan variabel independen (Luas lahan, jumlah benih, jumlah pupuk, dan tenaga kerja). Dari hasil penelitian uji F Biaya usahatani dan Pendapatan antara sistem panen sendiri dan sistem panen tebasan kedunya didapatkan keragaman sampel yang homogen. Dari hasil Uji T biaya usahatani didapatkan bahwa biaya usahatani petani jagung dengan sistem panen sendiri lebih tinggi dari pada biaya usahatani petani jagung dengan sistem panen tebasan. Sedangkan dari hasil Uji T pendapatan petani didapatkan bahwa pendapatan petani jagung dengan sistem panen sendiri lebih tinggi dari pada pendapatan petani jagung dengan sistem panen tebasan.
Pendekatan Eskalasi Usaha Perikanan Mas Koki (Carrasius auratus) di Kabupaten Tulungagung Naning Lailatul Fitriyah; Tutut Dwi Sutiknjo; Eko Yuliarsha Sidhi; Agustia Dwi Pamujiati
JINTAN : Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 2 No. 2 (2022): JULY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v2i2.2784

Abstract

Goldfish (Carassius auratus) is an ornamental fish with promising agribusiness prospects. One of the cultivation areas with potential for development is Tulungagung Regency. The research was conducted at the Fish Cultivation Group (Pokdakan) Tirto Mulyo Asri, located in Wajak Lor Village, to analyze a particular approach to escalating goldfish culture in the area. The study adopted the Force Field Analysis (FFA) method with a qualitative descriptive analysis approach. The analysis showed five factors driving and inhibiting goldfish cultivation at the research site. The highest driving factor is consumer demand, while the highest inhibiting factor is bad weather conditions, namely the transition season (seasonal shift). The key success factor based on the driving factors for elevated consumer demand means that it focuses on maintaining consumer confidence in the products produced. On the other hand, the key success factor in overcoming the inhibiting factors for bad weather conditions or the transitional season is focusing on weather prediction through collaboration with the government, such as the BMKG. The best approach to halting goldfish culture in the Tirto Mulyo Asri Tulungagung Fish Cultivation Group is to maximize the key driving factors and minimize the key inhibiting factors.
Pendampingan Budidaya Ubi Jalar dan Pemanfaatan Daunnya sebagai Bahan Pangan Slamet, Ahmad Haris Hasanuddin; Pamujiati, Agustia Dwi; Choirina, Vifi Nurul; Sidhi, Eko Yuliarsha; Kusuma, Bagus Cahya; Alpin
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v3i2.5113

Abstract

Sweet potatoes have been used in various processed products such as flour, flakes, crackers and cakes. However, sweet potato leaves are still limited to animal feed. Sweet potato leaves contain fiber, vitamins, minerals and antioxidant compounds such as flavonoids, saponins and polyphenols, which have health potential. This community service was carried out in Kwagean Village, Nganjuk Regency, especially residents of RW 007. This community service aims to develop sweet potato cultivation in the yard and process sweet potato leaves into chips. The stages of this activity include situation analysis, licensing, outreach, cultivation practices, chip of sweet potato leaf processing practices, and mentoring for one year. The results of this activity were expected to increase knowledge and family income in Kwagean Village. This activity provided positive benefits in introducing sweet potato cultivation and sweet potato leaf processing to the Kwagean Village community, as well as enabling the transfer of knowledge and skills that can improve the welfare of residents Ubi jalar telah digunakan dalam berbagai produk olahan seperti tepung, flakes, kerupuk, dan kue. Namun, pemanfaatan daun ubi jalar masih terbatas pada pakan ternak. Padahal, daun ubi jalar mengandung serat, vitamin, mineral, dan senyawa antioksidan seperti flavonoid, saponin, dan polifenol yang memiliki potensi kesehatan. Penngabdian kepada masyarakat ini dilakukan di Desa Kwagean, Kabupaten Nganjuk khususnya warga RW 007. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan budidaya ubi jalar pada pekarangan dan pengolahan daun ubi jalar menjadi keripik. Tahapan kegiatan ini meliputi analisis situasi, perizinan, sosialisasi, praktek budidaya, praktek pengolahan keripik daun ubi jalar, dan pendampingan selama satu tahun. Hasil kegiatan ini diharapkan meningkatkan pengetahuan dan pendapatan keluarga di Desa Kwagean. Kegiatan ini memberikan manfaat positif dalam mengenalkan budidaya ubi jalar dan pengolahan daun ubi jalar kepada masyarakat Desa Kwagean, serta memungkinkan transfer pengetahuan dan keterampilan yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga
Menggalakkan Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan melalui Klinik Agribisnis dan Praktek Pembuatan Biosaka Insiyah, Bindari; Hadiyanti, Nugraheni; Junaidi, Junaidi; Sidhi, Eko Yuliarsha; Arissaryadin, Arissaryadin; Pamujiati, Agustia Dwi
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2024): MEI
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v4i1.5570

Abstract

This community service activity aims to enhance ecological awareness in agriculture through agribusiness clinics and the production and application of biosaka. Biosaka, as part of organic farming, can be processed independently using organic materials that are available in the surrounding environment. The methods employed in this activity include issue identification, socialization, practical demonstrations, and sustainable mentoring. The activity took place at the Kedungdowo Farmer Group Association in Kedungdowo Village, Ploso District, Jombang Regency, on February 9, 2023. The community service activity has significantly promoted the adoption of biosaka. The implementation of biosaka has resulted in positive impacts on increasing crop productivity. From the activity, participants understand the importance of agribusiness clinics and the utilization of biosaka as one of the biotechnologies in agricultural practices. Participants can utilize agribusiness clinics for consultations and exchanging ideas about agricultural endeavors. This community service activity illustrates that with the right approach and strong collaboration among various stakeholders, meaningful changes toward more sustainable and environmentally friendly agriculture can be achieved.Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan kesadaran ekologis dalam usaha pertanian melalui klinik agribisnis dan pembuatan, serta penerapan biosaka. Biosaka bagian dari pertanian organik dapat diolah sendiri dengan bahan organik yang bisa diperoleh lingkungan sekitar. Metode dalam kegiatan ini adalah melalui identifikasi permasalahan, sosialisasi, demonstrasi praktis, serta pendampingan yang berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan di Gabungan Kelompok Tani Kedungdowo Desa Kedungdowo Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang pada tanggal 9 Februari 2023. Kegiatan pengabdian masyarakat telah mendorong adopsi biosaka dalam skala yang signifikan. Implementasi biosaka telah menghasilkan dampak positif dalam meningkatkan produktivitas tanaman, Dari kegiatan tersebut peserta mengerti arti penting klinik agribisnis dan pemanfaatan biosaka sebagai salah satu bioteknologi dalam praktik pertanian. Peserta kegiatan khususnya dapat memanfaatkan klinik agribisnis untuk konsultasi, bertukar pikiran tentang usaha pertanian. Dari kegiatan tersebut adanya kerjasama, pendekatan yang tepat dan kolaborasi yang kuat antara berbagai pemangku kepentingan, dapat menciptakan perubahan yang berarti menuju pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Pendampingan dan Edukasi Petani Padi dalam Penerapan Pertanian Berkelanjutan Organik di Desa Sukorame Sunarto; Dewi, Rifani Rusiana; Pamujiati, Agustia Dwi; Hadiyanti, Nugraheni; Tafakresnanto, Chendy
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v4i2.6135

Abstract

Pesticides are one of the components of agri input needed to protect plants from plant pests. However, massive use of pesticides can cause various negative impacts on plants, the environment, and human health. Excessive use of pesticides in rice cultivation is still a problem that is often found in Sukorame Village, Trenggalek. Seeing this condition, there needs to be more intensive education efforts for farmers. Seeing this problem, community service activities were carried out by the Faculty of Agriculture team at Kadiri University. Community service activities were carried out with the aim of providing education to farmers regarding more environmentally friendly and sustainable pest management. This program is also expected to reduce dependence on chemical pesticides and introduce Integrated Pest Management (IPM) techniques that can help farmers increase productivity without damaging the environment. Community service activities were carried out using the Participatory Aural Appraisal (PRA) approach. This method emphasizes community participation and involvement starting from the preparation, education, training and mentoring stages. Overall, the main objectives of the program to increase farmer awareness of the dangers of pesticides and introduce the IPM method have been achieved. The community began to understand the importance of environmentally friendly pest management. After the program was implemented, farmers began to provide follow-up. It is seen that some farmers have started to adopt the IPM method as a sustainable agricultural system.  Pestisida merupakan salah satu komponen agri input yang dibutuhkan untuk melindungi tanaman dari organisme pengganggu tanaman. Namun, penggunaan pestisida secara masif dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik bagi tanaman, lingkungan, maupun kesehatan manusia. Penggunaan pestisida berlebihan dalam budidaya padi masih menjadi masalah yang sering dijumpai di Desa Sukorame, Trenggalek. Melihat kondisi ini, perlu adanya upaya edukasi yang lebih intensif kepada para petani. Melihat permasalahan tersebut, maka dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat oleh tim Fakultas Pertanian Universitas Kadiri. Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan dengan tujuan memberikan edukasi kepada petani terkait pengelolaan hama yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Program ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia dan memperkenalkan teknik Integrated Pest Management (IPM) yang dapat membantu petani meningkatkan produktivitas tanpa merusak lingkungan. Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan dengan pendekatan Participatory Aural Appraisal (PRA). Metode ini menekankan partisipasi dan keterlibatan masyarakat mulai dari tahap persiapan, edukasi, pelatihan dan pendampingan. Secara keseluruhan, tujuan utama program untuk meningkatkan kesadaran petani tentang bahaya pestisida dan memperkenalkan metode IPM telah tercapai. Masyarakat mulai memahami pentingnya pengelolaan hama ramah lingkungan. Setelah pelaksanaan program, petani mulai memberikan tindak lanjut. Hal ini terlihat bahwa beberapa petani mulai mengadopsi metode IPM sebagai salah satu sistem pertanian berkelanjutan.
Analisis Pendapatan Usaha Abon Tuna Dengan Perbedaan Metode Penjualan Pada UMKM “Inti Rasa Bu Peni” Kabupaten Cilacap Priyanto, Aji; Andajani, Wiwiek; Sidhi, Eko Yuliarsha; Pamujiati, Agustia Dwi
JINTAN : Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 5 No. 1 (2025): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v5i1.6336

Abstract

This study analyzes the income and R/C ratio in the Tuna Shredded Fish business, Inti Rasa Bu Peni UMKM, with a wholesale and retail sales system. This research used a case study, and the sample was determined purposively (purposive sampling). The research location was Inti Rasa Bu Peni UMKM, Tegalkamulyan Village, South Cilacap District, Cilacap Regency. The data used were primary and secondary. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and recording. The study results showed that the total costs incurred by the MSME businessman Inti Rasa Bu Peni's shredded tuna in 2022 are IDR115,654,500 with each sales system of IDR56,682,250 for wholesale sales and IDR58,972,250 for retail sales. Revenue obtained in 2022 with a wholesale and retail sales system is IDR118,750,000 and IDR113,750,000, total IDR232,00,000. The income earned by shredded tuna entrepreneurs in 2022 is IDR57,067,750 for wholesale sales, and IDR59,777,750 for retail sales, with a total value of IDR116,845,500. The R/C ratio obtained is 2.00 for wholesale sales and 2.01 for retail sales. With this business analysis, both sales systems are profitable and feasible. Perbedaan sistem penjualan akan mempengaruhi pendapatan suatu usaha. Tujuan riset ini untuk menganalisis pendapatan dan R/C Ratio pada usaha Abon Tuna UMKM Inti Rasa Bu Peni dengan sistem penjualan grosir dan ecer. Riset ini menggunakan studi kasus dan sampel ditentukan secara sengaja. Penelitian berada di UMKM Inti Rasa Bu Peni Kelurahan Tegalkamulyan Kecamatan Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap. Data yang digunakan melibatkan penggunaan data primer dan data sekunder. Proses pengumpulan data dilaksanakan melalui metode pengamatan, interview serta pencatatan. Hasil riset mengemukakan bahwa total biaya pengolahan abon ikan pada UMKM Inti Rasa Bu Peni pada tahun 2022 adalah Rp115.654.500 dengan masing-masing sistem penjualan sebesar Rp56.682.250 untuk penjualan grosir dan Rp58.972.250 untuk penjualan ecer. Penerimaan yang diperoleh pada tahun 2022 dengan sistem penjualan grosir dan ecer yaitu sebesar Rp118.750.000 dan 113.750.000 dengan nilai total senilai Rp232.00.000. Pendapatan yang diperoleh oleh pengusaha abon ikan tuna pada tahun 2022 adalah Rp57.067.750 untuk penjualan grosir Rp59.777.750 untuk penjualan ecer dengan nilai total Rp116.845.500. Nilai R/C Ratio yang didapat adalah 2,00 untuk penjualan grosir dan 2,01 untuk penjualan ecer. Sistem penjualan grosir maupun ecer sama-sama menguntungkan serta layak untuk diusahakan.