Claim Missing Document
Check
Articles

COMPARATIVE STUDY BETWEEN CONVENTIONAL AND CONSERVATION TILLAGE SYSTEM OF CORN CULTIVATION IN NGANJUK REGENCY, EAST JAVA PROVINCE OF INDONESIA Nina Lisanty; Nugraheni Hadiyanti; Agustia Dwi Pamujiati; Rasyadan Taufiq Probojati
Agrisocionomics: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Vol 7, No 1 (2023): March 2023
Publisher : Faculty of Animal and Agricultural Science, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/agrisocionomics.v7i1.15991

Abstract

Corn cultivation techniques can be performed using a conventional tillage system (CovTS) and conservation tillage system (CosTS), which consists of minimum tillage (MT) and no-tillage (NT) systems. These systems have been implemented by almost every corn-producing region in Indonesia. One of these areas is Patianrowo District, Nganjuk Regency of East Java Province, Indonesia. The study was conducted to analyze the comparison from the economic side, such as the use and cost of farming inputs, revenue, income, and farming feasibility of the two cultivation systems. The study applied the methods of interview, documentation, and literature study in collecting the required data. Differences in costs, income, and the R/C ratio of maize farming from the two cultivation systems were tested statistically for independent samples. The analysis results stated that the no-tillage system was economically more profitable than the conventional system. A higher R/C Ratio value indicated that the NT system was more efficient in using costs, coupled with production time, than the CovTS. However, statistically, the two cultivation systems did not differ in production and income but showed a significant difference in labor employment. The condition of an area experiencing labor difficulties and supported by soil types such as grumosol is suitable for implementing a no-tillage system. In this case, the local government, through field extension officers, can guide farmers' decision to apply either cultivation system. Providing information, knowledge, and skills will assist maize farmers and other related parties in making decisions to obtain maximum profit and increase welfare.
Pemetaan Sebaran Ternak Kambing di Kabupaten Sidoarjo Menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) Ahmad Haris Hasanuddin Slamet; Dini Nafisatul Mutmainah; Sekar Ayu Wulandari; Agustia Dwi Pamujiati; Siska Elvani
JURNAL ILMIAH SAINS TEKNOLOGI DAN INFORMASI Vol. 1 No. 2 (2023): April
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1195.733 KB) | DOI: 10.59024/jiti.v1i2.116

Abstract

Kabupaten Sidoarjo merupakan yang memiliki potensi besar dalam pengembangan ternak ruminansia, salah satunya adalah kambing. Jumlah ternak kambing di Kabupaten Sidoarjo tahun 2020 mencapai 41.190 yang tersebar di seluruh kecamatan yaitu 16 kecamatan. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pemetaan sebaran populasi ternak kambing di Kabupaten Sidoarjo menggunakan SIG. Informasi sebaran ternak kambing bermanfaat untuk mempercepat pengelolaan informasi sebaran ternak di Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan data deskriptif kuantitatif yaitu data spasial berupa peta administrasi, peta kedalaman laut, dan data sebaran ternak di Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini menghasilakan output berupa peta sebaran ternak di Kabupaten Sidoarjo, dimana dapat memberikan informasi sebaran ternak kambing per kecamatan pada tahun 2018 dan 2020. Data sebaran ternak kambing di seluruh kecamatan menunjukkan fluktuatif. Terdapat tiga kecamatan yang selalu konsisten dalam jumlah sebaran ternaknya yang tinggi yaitu Kecamatan Tarik, Krian, dan Balongbendo. Ketiga kecamatan tersebut jauh dari pusat kota dan memiliki kepadatan penduduk di bawah 2500 penduduk/km2. Tingkat kepadatan penduduk kurang memungkinkan tersedianya lahan yang lebih luas. Faktor lain yang menjadi pendukung dalam pengembangan ternak adalah ketersediaan aliran sungai yang cukup banyak, karena akan menunjang ketersediaan hijauan sebagai bahan pakan ternak.
Penyuluhan teknologi penyimpanan benih kacang panjang sebagai upaya menanggulangi hama pasca panen di Desa Klepek Kecamatan Kunjang Kabupaten Kediri Agustia Dwi Pamujiati; Nugraheni Hadiyanti
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2021): MEI
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v1i1.1676

Abstract

Kegiatan penyuluhan pertanian di Desa Klepek Kecamatan Kunjang Kabupaten Kediri bertujuan untuk memberikan solusi untuk kendala beberapa petani penanam benih kacang panjang. Salah satu kendala yang dihadapi petani di sana yaitu banyaknya benih yang ditolak (rejected) oleh mitra perusahaan benih dikarenakan benih mengalami kerusakan terserang oleh hama kutu-kutuan. Kegiatan penyuluhan ini merupakan kerjasama Fakultas Pertanian Universitas Kadiri dengan PT. East West Seeds Indonesia. Pemaparan materi dilakukan secara lengkap oleh kedua pemateri dan dilanjutkan dengan diskusi. Diskusi berjalan dengan lancar dan baik. Audients antusias dengan apa yang telah dipaparkan oleh pemateri. Hasil kegiatan penyuluhan ini yaitu peserta penyuluhan mendapatkan pengetahuan dan wawasan tentang teknik penyimpanan benih kacang panjang yang benar serta mengetahui jenis-jenis hama pasca panen yang umumnya menyerang hasil biji-bijian pasca panen khususnya kacang panjang. Dengan begitu, para petani kemitraan benih kacang panjang dapat menerapkan ilmu yang telah didapatkan dalam prakteknya dilapang. Penyuluhan ini bermanfaat sekali bagi petani kemitraan benih kacang panjang karena dapat menjawab dan memberi solusi terhadap permasalahan yang selama ini dihadapi oleh petani kemitraan benih kacang panjang.
Pengelolaan Sampah Terpadu Dan Bank Sampah Al-Ikhlas, di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kota, Kota Kediri Wiwiek Andajani; Agustia Dwi Pamujiati; Yesy Nur Gunariyati
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2021): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v1i2.2093

Abstract

Garbage is a social problem that requires appropriate solutions because waste is generated all the time and occurs anywhere, whether in the village or the city. Both the situation at the source (at the temporary waste disposal site (TPS), as well as the problem at the final waste disposal site (TPA)) and the problem of not segregating the waste cause unpleasant smells. Based on this situation, community service was carried out in the RW 06 Rejomulyo Village, Kota Subdistrict, Kediri City, with the aim of (1) providing education about sorting organic waste and inorganic waste from the source, (2) providing waste management training with the 4 R principles, namely Reduce, Reuse, Recycle and Replant, and (3) to get social and economic benefits from the existence of a waste bank. An example is the Al-Ikhlas waste bank in the RW 06 Rejomulyo Village, Kota Subdistrict, Kediri City. Using the Community Development method is an effort to develop community empowerment by making the community as subjects and objects directly, to increase their participation in development for their interests. The implementation method uses emancipatory participation so that there is interaction, communication, and dialogue with residents through training or counseling activities with four stages: (1) preparation stage, (2) preliminary socialization, (3) implementation of training and practice, and (4) evaluation. The Al-Ikhlas waste bank, in early 2015, consisted of 16 women. However, with increasing awareness of the benefits of waste bank activities, from waste sorting and the implementation of 4Rs that have economic value, in 2021, its members increased dramatically to 55 women.Sampah merupakan masalah sosial yang membutuhkan solusi yang tepat, karena sampah dihasilkan setiap waktu, dan terjadi di mana saja, baik di desa atau di kota. Baik masalah di sumbernya, di tempat pembuangan sampah sementara (TPS), maupun masalah di tempat pembuangan sampah akhir (TPA), juga masalah belum terpilahnya sampah yang pada waktu musim hujan akan tercium aroma yang tidak sedap dan tidak nyaman akibat sampah yang tidak terurai dengan baik. Dari pemikiran tersebut pengabdian masyarakat dilakukan di rukun warga 06 Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kota, Kota Kediri, dengan tujuan : (1) memberikan edukasi tentang pemilahan sampah organik dan sampah an-organik dari sumbernya, (2) memberikan pelatihan pengelolaan sampah dengan prinsip 4 R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle dan Replant, dan (3) untuk mendapatkan manfaat secara social, ekonomi dengan adanya bank sampah. Dalam hal ini sebagai percontohannya adalah bank sampah Al-Ikhlas di rukun warga 06 Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Menggunakan metode Community Development, merupakan upaya pengembangan pemberdayaan masyarakat dengan menjadikan masyarakat sebagai subyeks sekaligus obyek secara langsung, dalam upaya meningkatkan peran serta mereka dalam pembangunan demi kepentingan mereka sendiri. Untuk metode pelaksanannya memakai partisipasi emansipatoris, sehingga terjadi interaksi, komunikasi, dan dialog dengan warga melalui kegiatan pelatihan atau penyuluhan dengan 4 tahapan : (1) tahap persiapan, (2) sosialisasi pendahuluan, (3) pelaksanaan pelatihan dan praktek, dan (4) evaluasi. Bank sampah Al-Ikhlas, awal tahun 2015 beranggotakan 16 ibu, tetapi dengan meningkatnya kesadaran akan manfaat kegiatan bank sampah, dari pemilahan sampah dan pelaksanaan 4R yang mempunyai nilai ekonomi, maka tahun 2021 anggotanya meningkat drastis menjadi 55 ibu.
Pelatihan Pengolahan Ampas Tahu menjadi Bahan Pangan di Desa Nglebeng Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek Agustia Dwi Pamujiati; Mariyono Mariyono; Natasya Puspa Rosaning Trisna
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2021): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v1i2.2098

Abstract

The residue of tofu is a solid waste from tofu processing. During this time, the residue of tofu only used as fodder in Desa Nglebeng, Kecamatan panggul, Kabupaten Trenggalek. Nevertheless, the rubble has good nutrition, and hence it can be utilized in food products. One of the food products that can be produced from the residue of tofu is a nugget. The training aimed to empower the communities to create nugget products from the deposition of tofu as a food alternative to fulfill the healthy food. Four steps separated the methods of the training: preparation, socialization, practice, and evaluation. The course was divided into three stages: preparing tools and materials, nugget processing, and selling. The training results showed that nuggets processing from the tofu residue could be run well and have a positive impact. The village government supported this training, and the enthusiastic participants asked questions and discussed with the team. Nugget from the residue of tofu can be used to profitable idea business. The nugget products can increase the selling value of tofu residue and improve the community's economic level.Ampas tahu yaitu suatu limbah padat hasil pengolahan tahu. Sampai saat ini ampas tahu hanya digunakan untuk pakan ternak di Desa Nglebeng Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek. Padahal ampas mengandung berbagai gizi baik yang bisa dimanfaatkan untuk dijadikan produk pangan. Salah satu produk pangan yang dapat diproduksi dari ampas tahu yaitu nuget. Tujuan pengabdian ini untuk memberdayakan masyarakat dalam pengolahan ampas tahu menjadi nugget sebagai pangan alternatif selama pandemi Covid-19 dengan harga yang murah dan memenuhi kebutuhan pangan sehat bagi masyarakat. Metode dalam pelatihan ini terdiri atas empat tahap yaitu persiapan, ceramah/sosialisasi, praktek lapang, dan evaluasi kegiatan. Kegiatan praktek lapang dibagi menjadi 3 tahapan yaitu mempersiapkan alat dan bahan, melakukan pembuatan nuget, dan penjualan. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan pembuatan nuget ampas tahu dapat berjalan dengan lancar serta memberikan manfaat yang positif. Hal ini terlihat bahwa aparat Desa Nglebeng mendukung kegiatan ini dan peserta antusias mengikuti kegiatan pelatihan. Peserta banyak mengajukan pertanyaan dan berdiskusi dengan tim pengabdian. Nuget ampas tahu dapat dijadikan ide bisnis yang menjanjikan karena dapat meningkatkan nilai jual ampas tahu serta memiliki kandungan gizi yang tinggi sehingga dapat meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat.
Pemanfaatan Plastik Kemasan Bekas sebagai Wadah dan Pembuatan Media Tanam, Pupuk Kompos, dan Pupuk Cair Satriya Bayu Aji; Agustia Dwi Pamujiati; Yesy Nur Gunariyati
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2021): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v1i2.2100

Abstract

Farming activities at this time can be used as a good activity to fill time in the midst of the covid-19 pandemic. These activities can be done around the yard around their respective homes. However, these activities are hindered by costs, such as buying containers for planting media and fertilizers. To reduce the cost of purchasing plastic containers and fertilizers, which are relatively expensive. Plastic containers for planting media can be replaced with used plastic packaging, such as packaged cooking oil containers and so on. Besides being able to save on farming costs, the use of used plastic containers can also reduce plastic waste. The fertilizer that will be used can also be replaced with compost from organic waste. It can also reduce or manage organic waste management. Such conditions can be used as community service activities as a form of the Tri Dharma of Higher Education. This activity aims to introduce, train, and assist in the manufacture of compost and the use of used plastic containers as planting media. This activity is considered relevant and suitable to be given to the community. As an effort to reduce plastic waste and manage organic waste around the community. The benchmark for service activities uses a satisfaction questionnaire assessment given to the target community of service. Based on the results of the questionnaire, the target community for community service activities who live in Jati Hamlet, Jati Village, Tarokan District, Kediri Regency. Proven to have additional insight, to utilize used plastic packaging as a plant medium and to manage solid and liquid compost from organic waste.Aktifitas bercocok tanam pada saat ini bisa dijadikan kegiatan yang bagus untuk mengisi waktu di tengah pandemi covid-19. Aktifitas tersebut bisa dilakukan di sekitar lahan pekarangan yang ada di sekitar rumah masing - masing. Akan tetapi, aktifitas tersebut terhalang dengan biaya, seperti membeli wadah untuk media tanam dan pupuk. Untuk mengurangi biaya pembelian wadah plastik dan pupuk yang relatif cukup mahal. Wadah plastik untuk media tanam bisa diganti dengan kemasan bekas plastik, seperti wadah minyak goreng kemasan dan sebagainya. Selain bisa menghemat biaya bercocok tanam, penggunaan wadah bekas plastik, juga bisa mengurangi sampah plastik. Pupuk yang akan digunakan juga bisa diganti dengan pupuk kompos dari sampah organik. Hal ini juga bisa mengurangi atau manajemen pengelolaan sampah organik. Kondisi seperti bisa dijadikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan yang bertujuan untuk pengenalan, pelatihan, dan pendampingan dalam pembuatan pupuk kompos dan pemanfaatan wadah plastik bekas sebagai media tanamnya Kegiatan ini dinilai relevan dan cocok diberikan kepada masyarakat. Sebagai upaya pengurangan sampah plastik dan pengeloaan sampah organik di sekitar masyarakat. Tolak ukur kegiatan pengabdian menggunakan penilaian kuisioner kepuasan yang diberikan kepada masyarakat sasaran pengabdian. Berdasarkan hasil kuisioner, masyarakat sasaran kegiatan pengabdian masyarakat yang bertempat tinggal di Dusun Jati Desa Jati Kecamatan Tarokan Kabupaten Kediri ini. Terbukti memiliki wawasan tambahan, untuk memanfaatkan kemasan plastik bekas sebagai media tanaman dan pengelolaan pupuk kompos padat dan cair dari sampah organik.
Bimbingan Teknis Pengolahan Wedang Penambah Imunitas Desa Kawedusan Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri Agustia Dwi Pamujiati; Tjatur Prijo Rahardjo; Ahmad Iksan Nudin; Andan Diyah Wulan
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2022): MEI
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v2i1.2557

Abstract

There are various types of herbal plants in Indonesia, such as ginger, turmeric, lemongrass, cardamom, cloves, cinnamon, star anise, and others. Each herbal plant contains various bioactive compounds that have antioxidant activity. Antioxidants can function to increase immunity. The immunity of the residents of Kawedusan Village decreased during the transition period which was marked by many people experiencing symptoms of cough, runny nose, and fever. Due to this phenomenon, it is necessary to conduct training to manufacture immunity-enhancing drinks made from various herbal plants. Community service was carried out for two months starting from January to March 2022 in Sadon Hamlet, Kawedusan Village, Plosoklaten District, Kediri Regency. This community service employed three methods: the preparation stage, lectures, and field practice. The ingredients used in making an immunity-boosting drink include lemongrass, turmeric, ginger, cinnamon, rock sugar, lime, and honey. Community service activities for the manufacture of an immunity-boosting drink were successful and valuable. The Kawedusan Village apparatus supports the activity and the participated residents were highly enthusiastic Tumbuhan herbal di Indonesia beragam jenisnya seperti jahe, kunyit, sereh, kapulaga, cengkeh, kayu manis, bunga lawang, dan sebagainya. Setiap tumbuhan herbal mengandung senyawa bioaktif beragam yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Antioksidan dapat berfungsi untuk meningkatkan imunitas. Imunitas warga Desa Kawedusan mengalami penurunan di masa pancaroba yang ditandai dengan banyaknya orang yang mengalami gejala batuk, pilek, dan demam. Adanya fenomena tersebut maka perlu dilakukan pelatihan pembuatan wedang penambah imunitas dari bermacam-macam tumbuhan herbal. Pengabdian kepada masyarakat dilakukan selama 2 bulan mulai bulan Januari hingga Maret 2022 di Dusun Sadon Desa Kawedusan Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan 3 metode yaitu tahap persiapan, ceramah, dan praktek lapang. Bahan yang digunakan dalam pembuatan wedang penambah imunitas antara lain batang sereh, kunyit, jahe, kayu manis, gula batu, jeruk nipis, dan madu. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat pembuatan wedang penambah imunitas berjalan dengan sukses bermanfaat. Perangkat Desa Kawedusan mendukung kegiatan ini dan antusiame warga sangat tinggi. 
Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai Bahan Minuman Instan Penambah Imunitas Lailatul Azkiyah; Agustia Dwi Pamujiati; Eko Yuliarsha Sidhi; Ahmad Haris Hasanuddin Slamet; Kresna Widigdo Margo Utomo
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2023): MEI
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v3i1.4561

Abstract

Family medicinal plants (TOGA) are efficacious as medicines to fulfil the needs of family medicines. TOGA has many types of plants that can be used for roots, leaves, bark, flowers, and rhizomes depending on the type of plant. One of the TOGA that is used for its rhizomes is ginger. Ginger contains phenolic compounds such as gingerols, shogaols, zingeron, and diarylheptanoids which have antioxidant activity. Ginger is generally used as a ginger drink. Making ginger tea is also considered impractical because you have to peel the ginger first. So it is necessary to carry out technical guidance on processing ginger into instant ginger granules. Processing into granules was chosen because it is more stable physically and chemically and does not easily agglomerate. The purpose of this community service is to transfer knowledge and technology in the cultivation and processing of instant ginger. This community service was carried out for 25 housewives of RT 5 RW 2 in Mojoroto Village, Mojoroto District, Kediri City. This activity was divided into two stages, namely the stage of giving lectures and field practice, namely ginger cultivation and ginger processing. The results of the community service showed that during the lecture stage, the cultivation of ginger in used sacks, and the processing of instant ginger granules received very positive responses from the participants. Many participants followed closely and communicated actively with the community service team.  Tanaman obat keluarga (TOGA) berkhasiat untuk obat dalam mencukupi kebutuhan obat-obatan keluarga. Beberapa jenis TOGA dapat dimanfaatkan akar, daun, kulit batang, bunga, dan rimpangnya. Salah satu TOGA yang dimanfaatkan rimpangnya adalah jahe. Jahe mengandung senyawa fenolik seperti gingerol, shogaol, zingeron, diarilheptanoid yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Jahe umumnya digunakan sebagai wedang jahe. Pembuatan wedang jahe pun dirasa kurang praktis karena harus mengupas jahe terlebih dahulu. Maka perlu dilakukan bimbingan teknis pengolahan jahe menjadi granul jahe instan. Pengolahan menjadi granul dipilih karena lebih stabil secara fisik dan kimia serta tidak mudah menggumpal. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini untuk berbagi ilmu dan teknologi dalam budidaya dan pengolahan jahe instan. Sasaran kegiatan ini adalah ibu-ibu rumah tangga RT 5 RW 2 sebanyak 25 orang di Kelurahan Mojoroto Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Kegiatan ini dilakukan dengan dua Langkah, yaitu memberikan ceramah dan praktek lapang yaitu budidaya jahe serta pengolahan jahe. Hasil pengabdian kepada masyarakat menunjukkan bahwa pada tahap ceramah, budidaya jahe dalam karung bekas dan pengolahan granul jahe instan sangat mendapatkan respon positif dari peserta. Banyak peserta yang mengikuti dengan seksama dan berkomunikasi secara aktif kepada tim pengabdian kepada masyarakat.
Analisis Perbandingan Pendapatan Sistem Panen Tebasan Dengan Sistem Panen Sendiri Usahatani Jagung Hibrida (Studi Kasus Di Desa Nglaban, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk) Linawati Linawati; Wiwiek Andajani; Eko Yuliarsha Sidhi; Agustia Dwi Pamujiati
JINTAN : Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 1 No. 2 (2021): JULY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v1i2.1811

Abstract

Corn is one of the leading commodities after rice. Apart from being a staple food substitute for rice, corn can be used as animal feed and industrial raw materials. Over time, technology development is increasingly sophisticated, allowing corn to be used as a raw material for cosmetics and health supplies. In this study, the farmers used two harvest systems: the self harvest and slash harvest systems. This research was conducted to analyze the cost of farming and the income of maize farmers using the slash harvest system and the harvest system itself in Nglaban Village, Loceret District, Nganjuk Regency. This study using two variables: the dependent variable (the amount of income earned by corn farmers) and the independent variable (area of land, number of seeds, amount of fertilizer, and labor). The cost of farming and income between the harvest system itself and the cropping system of the two results obtained a homogeneous sample diversity from the F-test research results. The cost of farming showed that farming cost with their self-harvest system was higher than the costs of farming with a slash harvest system from the T-test results. Meanwhile, the T-test results from the farmer's income indicated that the income of maize farmers with the self-harvest system was higher than the income of corn farmers with the slash crop system. Jagung merupakan salah satu komoditas unggulan setelah Padi. Selain sebagai salah satu bahan pokok makanan dengan pengganti beras, jagung umumnya menjadi pakan ternak dan bahan baku industri. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, jagung juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku kosmetik dan kesehatan. Dalam penelitian ini petani menggunakan dua sistem panen yaitu sistem panen sendiri dan sistem panen tebasan. Penelitian ini dilakukan dengan bertujuan untuk mengetahui biaya usahatani dan mengetahui pendapatan petani jagung dengan menggunakan sistem panen tebasan dan sistem panen sendiri di Desa Nglaban, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel dependen (jumlah pendapatan yang diperoleh petani jagung) dan variabel independen (Luas lahan, jumlah benih, jumlah pupuk, dan tenaga kerja). Dari hasil penelitian uji F Biaya usahatani dan Pendapatan antara sistem panen sendiri dan sistem panen tebasan kedunya didapatkan keragaman sampel yang homogen. Dari hasil Uji T biaya usahatani didapatkan bahwa biaya usahatani petani jagung dengan sistem panen sendiri lebih tinggi dari pada biaya usahatani petani jagung dengan sistem panen tebasan. Sedangkan dari hasil Uji T pendapatan petani didapatkan bahwa pendapatan petani jagung dengan sistem panen sendiri lebih tinggi dari pada pendapatan petani jagung dengan sistem panen tebasan.
Analisis Komparatif Pendapatan Usaha Ternak Sapi Perah Dengan Pola Gaduh dan Mandiri (Studi Kasus di Desa Dompyong Kecamatan Bendungan Kabupaten Trenggalek) Asikin Bahar; Widi Artini; Eko Yuliarsha Sidhi; Agustia Dwi Pamujiati
JINTAN : Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 2 No. 1 (2022): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v2i1.2205

Abstract

This research was aimed to determine the difference between the costs and income of the partnership and the independent patterns of the dairy cattle business. The research area was determined in Dompyong Village, Bendungan District, Trenggalek Regency, considering that the site has a high dairy cattle population. The purposive sampling method was used to take samples, which took respondents who had two dairy cattle and had been reared for one year. Sampling for this research amounted to 40 farmers, 20 with partnership patterns and 20 with independent practices. Primary data was obtained from observations and direct interviews with the breeders, while secondary data was collected from written reports of various relatedagencies. The independent pattern of dairy cattle business per two cows obtained data on the average production cost of IDR18,779,958. Revenue was IDR25,909,500, and the average income was IDR7,129.541. While the dairy cattle business with a partnership pattern per 2 cows, the average production cost was IDR9,188,550. Revenue was IDR13,150,950, and the average income was IDR3,962,400. From the analysis of the R/C Ratio, the value of the independent dairy cattle business efficiency was 1.37, and the partnership pattern was 1.43. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu agar pendapatan usaha dan perbedaan biaya ternak sapi perah pola gaduh dan pola mandiri dapat diketahui. Penelitian ditentukan pada daerah Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek dengan pemikiran tingginya populasi ternak sapi perah pada daerah tersebut. Dalam pengambilan sampel digunakan metode Purposive Sampling yang mana diambil responden dengan kepemilikan sapi perah sejumlah 2 ekor sapi yang sudah satu tahun dipelihara. Pengambilan sampel untuk penelitian ini sejumlah 20 peternak menggunakan pola mandiri dan 20 peternak menggunakan pola gaduh sehingga ada 40 peternak sebagai sampel. Data yang didapatkan melalui data sekunder dan data primer. Data primer didapatkan dari wawancara dan pengamatan dengan peternak secara langsung sedangkan sumber data sekunder adalah laporan tertulis dari instansi terkait yang bervariasi sebagai pelengkap data penelitian. Pada usaha ternak sapi perah pola mandiri didapatkan hasil penelitian tiap 2 ekor sapi dengan data rata-rata biaya Penerimaan Rp 25,909,500 untuk produksi Rp 18,779,958. dan untuk pendapatan rata-ratanya Rp 7,129,541, sementara itu pada usaha ternak sapi perah pola gaduh tiap 2 ekor sapi di peroleh Penerimaan Rp 13,150,950 untuk biaya produksi rata-ratanya Rp 9,188,550 dan pendapatan memiliki ratarata Rp 3,962,400. Berdasarkan analisis R/C Ratio pola gaduh bernilai efisiensi sebesar 1,43. Sedangkan untuk pola mandiri yang diterapkan pada usaha ternak sapi perah bernilai 1,37.
Co-Authors Abiyyuddin, M. Farras Ahmad Haris Hasanuddin Slamet Ahmad Haris Hassanudin Slamet Ahmad Iksan Nudin Aji Priyanto Alpin Andan Diyah Wulan Arissaryadin, Arissaryadin Asikin Bahar Azkiyah, Lailatul Brihatsama, Brihatsama Dektiyansyah Nusantara Sukoco Dewi, Rifani Rusiana Dione Tabita Shipya Djoko Rahardjo Djoko Rahardjo Djoko Rahardjo Djunaedi Djunaedi Dwi Masahid, Ardiyan Eko Yuliarsha Sidhi Eko Yuliarsha Sidhi Eko Yuliarsha Sidhi Eko Yuliarsha Sidhi Eko Yuliarsha Sidhi FERDIANSYAH, MOCHAMAD Firdausi, Muhammad Riza Fitrania, Fathika Gading Rosiana Yunianto Galuh Salsabila Yusviva Heru Kurniawan Insiyah, Bindari Junaidi Junaidi Kresna Widigdo Margo Utomo Kusuma, Bagus Cahya Linawati Linawati Mariyono Mariyono Mariyono Marwanto, I Gusti Gede Heru Masahid, Ardiyan Dwi Masahid, Ardiyan Dwi Mochamad Jabar Rozaq Zuhdi Mukhammad Fauzi Mukhammad Fauzi Mulyadi, Mochtar Nova Mutmainah, Dini Nafisatul Naning Lailatul Fitriyah Natasya Puspa Rosaning Trisna Nina Lisanty Nopitasari, Santi Nugraheni Hadiyanti Puji Setiono Purbasiswanta, Johan Syahputra Putri Islami, Gadis Tiara Putro, Wahyu Rianto Rahma, Ulfa Nur Rasyadan Taufiq Probojati Rosaning Trisna, Natasya Puspa Rosiana Yunianto, Gading Sa'adah, Enik Nur Saadati, Neli Salsabila Yusviva, Galuh Sari, Difa Pramudita Satriya Bayu Aji Satriya Bayu Aji, Satriya Bayu Sekar Ayu Wulandari Setiawan, Andika Putra Siska Elvani Siti Chumidah Slamet, Ahmad Haris Hasanudin SUNARTO Suryo Wibowo, Mochamad Agus Tafakresnanto, Chendy Tjatur Prijo Rahardjo Tri Widayatsih Tutut Dwi Sutiknjo Vifi Nurul Choirina Wahyu Widiyono Widi Artini Widi Artini Wim Ambawati Wiwiek Andajani WIWIEK ANDAJANI Yesy Nur Gunariyati Yesy Nur Gunariyati Yuli Witono Yuli Witono