Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Peningkatan Kompetensi Tim Fasilitasi Monitoring Dan Evaluasi Melalui Metode Analisis SWOT/QSPM Setiyono, Setiyono; Abdullah, Sait; Sufianti, Ely; Rahman, Abdul
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 7 No. 3 (2026): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v7i3.10335

Abstract

Sumber daya manusia yang kompeten merupakan faktor kunci keberhasilan pelaksanaan program pembangunan daerah, termasuk Program Pemberdayaan Rukun Warga (P2RW). Tim Fasilitasi, Monitoring, dan Evaluasi (FASMONEV) P2RW Kecamatan Gunungpuyuh memiliki peran strategis dalam memastikan akuntabilitas, transparansi, dan efektivitas program. Namun, pelaksanaan tugas tim masih menghadapi berbagai kendala kompetensi, baik pada aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi kompetensi Tim FASMONEV serta merumuskan strategi peningkatan kompetensi yang tepat dan berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta analisis data secara induktif. Untuk perumusan strategi digunakan analisis SWOT yang diperkuat dengan matriks IFE, EFE, SPACE, TOWS, dan penentuan prioritas strategi menggunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi Tim FASMONEV belum merata, terutama pada pemahaman teknis pembangunan, analisis RAB, serta kemampuan penyusunan rekomendasi berbasis data. Analisis strategis menempatkan tim pada Kuadran I (agresif), yang menunjukkan kondisi internal cukup kuat dan didukung peluang eksternal. Berdasarkan hasil QSPM, strategi prioritas adalah penguatan kapasitas SDM berbasis praktik, diikuti penataan manajemen kerja dan kolaborasi, optimalisasi sistem dan prosedur kerja, serta adaptasi regulasi dan mitigasi risiko organisasi. Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme dan efektivitas pelaksanaan monitoring dan evaluasi P2RW.
MEMBANGUN MENTORING GURU YANG TERSTRUKTUR DAN BERKELANJUTAN: PENGEMBANGAN MODEL DI SMPN 2 CONGGEANG KABUPATEN SUMEDANG Eldiyana Marfury, Intan; Jubaedah, Edah; Listiani, Teni; Sufianti, Ely; Rahman, Abdul
Jurnal Media Administrasi Terapan Vol. 6 No. 1 (2025): Vol. 6, No. 1, Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31113/jmat.v6i1.115

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan belum adanya model dan pedoman mentoring yang terstruktur dan terdokumentasi di SMPN 2 Conggeang. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model mentoring serta menyusun pedoman mentoring dalam upaya pengembangan kompetensi guru di SMPN 2 Conggeang Kabupaten Sumedang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan telaah dokumen. Informan penelitin terdiri dari kepala sekolah, dua orang guru (mentor), dan tiga orang guru (mentee). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan mentoring di SMP Negeri 2 Conggeang masih bersifat informal dan belum memiliki pedoman yang baku. Pelaksanaan mentoring ditentukan oleh beberapa aspek penting, yaitu kualitas dan kompetensi mentor, kesiapan dan karakteristik mentee, kesesuaian materi yang dibahas dalam proses mentoring, ketersediaan fasilitas penunjang, serta pelaksanaan mentoring yang mengikuti tahapan yang sistematis. Kendala utama yang dihadapi meliputi belum adanya regulasi mentoring di tingkat sekolah. Berdasarkan hasil temuan tersebut, untuk menjadikan mentoring sebagai bentuk pengembangan kompetensi guru model mentoring yang perlu dikembangkan adalah bersifat terstruktur, fleksibel, kolaboratif, serta berorientasi pada refleksi dan keberlanjutan. Model dan pedoman yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan mentoring bagi guru, serta mendorong terciptanya sistem pembinaan profesional yang lebih sistematis dan berkelanjutan di lingkungan sekolah.
PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH BERBASIS ASSET LIFE CYCLE MANAGEMENT: STUDI PADA DINAS PERHUBUNGAN KOTA BANDUNG Setiawan, Deni; Wirjatmi Trilestari, Endang; Sufianti, Ely
Jurnal Media Administrasi Terapan Vol. 6 No. 1 (2025): Vol. 6, No. 1, Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31113/jmat.v6i1.120

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan pengelolaan barang milik daerah pada Dinas Perhubungan Kota Bandung, seperti perencanaan kebutuhan yang tidak berbasis data riil, pengelolaan aset yang belum optimal, ketidakteraturan pelaporan, serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pengelolaan barang milik daerah yang diterapkan di Dinas Perhubungan Kota Bandung serta merumuskan solusi strategis dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan barang milik daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan barang milik daerah di Dinas Perhubungan Kota Bandung belum memiliki standar operasional prosedur yang baku, rendahnya kapasitas sumber daya manusia dalam penatausahaan pengelolaan barang milik daerah, belum optimalnya pemanfaatan teknologi informasi, serta lemahnya pengawasan dan kontrol internal. Selain itu, ditemukan pula ketidaksesuaian antara nilai aset dalam neraca dengan kondisi riil di lapangan akibat minimnya pembaruan data dan keterlambatan dalam penghapusan barang yang rusak atau hilang. Rekomendasi dalam penelian ini yaitu dilaksanakannya penyusunan SOP berbasis ALCM, pelatihan intensif bagi pengelola barang, penguatan sistem pengendalian internal, dan integrasi sistem informasi manajemen aset yang akurat dan real-time berbasis aplikasi yang dapat mengontegrasikan tahap perencanaan hingga tahap penghapusan barang milik daerah.
Dari Kapasitas Ke Kinerja: Strategi Penguatan Kompetensi Pegawai Di UPTD Pengelola Pendapatan Daerah Badan Pengelolaan Keuangan Dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kota Sukabumi Resa Lestari; Teni Listiani; Edah Jubaedah; Ely Sufianti
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 1 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v7i1.10136

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kompetensi pegawai, mengidentifikasi hambatan pengembangan kompetensi, serta merumuskan strategi peningkatan kompetensi aparatur di Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pengelola Pendapatan Daerah BPKPD Kota Sukabumi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pegawai belum berkembang secara optimal. Pada dimensi pengetahuan, ditemukan ketidaksesuaian latar belakang pendidikan dengan tuntutan jabatan serta rendahnya penguasaan aspek teknis pengelolaan pendapatan daerah. Dimensi keterampilan menunjukkan keterbatasan dalam penguasaan teknologi informasi, akuntansi, dan komunikasi kerja. Sementara itu, pada dimensi perilaku kerja, terdapat variasi tingkat disiplin dan etos kerja yang dipengaruhi oleh perbedaan generasi pegawai serta tingginya beban kerja. Hambatan pengembangan kompetensi mencakup keterbatasan jumlah pegawai, alokasi anggaran yang belum memadai, materi pelatihan yang kurang relevan dengan kebutuhan jabatan, serta dinamika regulasi dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan strategi peningkatan kompetensi pegawai melalui lima tahapan sistematis, yaitu dengan cara melakukan: (1) identifikasi kompetensi inti melalui penyusunan Standar Kompetensi Jabatan (SKJ) yang selaras dengan visi dan misi organisasi; (2) penilaian kompetensi aktual melalui asesmen berbasis indikator perilaku; (3) penyusunan Rencana Pengembangan Individual untuk menutup kesenjangan kompetensi; (4) implementasi program pengembangan melalui pelatihan teknis dan non-teknis, coaching, mentoring, serta rotasi jabatan; dan (5) evaluasi serta pemberian umpan balik secara berkelanjutan. Implementasi strategi ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas aparatur UPTD dalam mendukung pengelolaan pendapatan daerah dan mewujudkan pelayanan publik yang profesional dan berkinerja tinggi.
Strategi Peningkatan Kompetensi Tim Fasilitasi Monitoring Dan Evaluasi Melalui Metode Analisis SWOT/QSPM Setiyono Setiyono; Sait Abdullah; Ely Sufianti; Abdul Rahman
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 2 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v7i3.10335

Abstract

Sumber daya manusia yang kompeten merupakan faktor kunci keberhasilan pelaksanaan program pembangunan daerah, termasuk Program Pemberdayaan Rukun Warga (P2RW). Tim Fasilitasi, Monitoring, dan Evaluasi (FASMONEV) P2RW Kecamatan Gunungpuyuh memiliki peran strategis dalam memastikan akuntabilitas, transparansi, dan efektivitas program. Namun, pelaksanaan tugas tim masih menghadapi berbagai kendala kompetensi, baik pada aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi kompetensi Tim FASMONEV serta merumuskan strategi peningkatan kompetensi yang tepat dan berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta analisis data secara induktif. Untuk perumusan strategi digunakan analisis SWOT yang diperkuat dengan matriks IFE, EFE, SPACE, TOWS, dan penentuan prioritas strategi menggunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi Tim FASMONEV belum merata, terutama pada pemahaman teknis pembangunan, analisis RAB, serta kemampuan penyusunan rekomendasi berbasis data. Analisis strategis menempatkan tim pada Kuadran I (agresif), yang menunjukkan kondisi internal cukup kuat dan didukung peluang eksternal. Berdasarkan hasil QSPM, strategi prioritas adalah penguatan kapasitas SDM berbasis praktik, diikuti penataan manajemen kerja dan kolaborasi, optimalisasi sistem dan prosedur kerja, serta adaptasi regulasi dan mitigasi risiko organisasi. Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme dan efektivitas pelaksanaan monitoring dan evaluasi P2RW.
Understanding Work Motivation among Urban Park Management Personnel: A Case Study of Sukabumi City Mohammad Sahid; Ely Sufianti; Muhamad Nur Afandi; Teni Listiani
Journal of Governance and Accountability Studies Vol. 6 No. 2 (2026): July
Publisher : Goodwood Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35912/jgas.v6i2.3817

Abstract

Purpose: This study examines the level and determinants of work motivation among urban park management personnel at the Sukabumi City Public Works and Public Housing Agency using Herzberg’s Two-Factor Theory and explores the presence of a mid-career plateau. Methodology: A quantitative descriptive approach was employed using a census of 49 participants. Data were collected through structured questionnaires on motivator and hygiene factors, complemented by semi-structured interviews for data triangulation. Quantitative data were analyzed descriptively, and qualitative data provided contextual interpretation. Results: Findings show that work motivation is generally good, with hygiene factors (mean = 3.31) slightly exceeding motivator factors (mean = 3.19). Working relationships were rated the highest, whereas working conditions and salary were rated the lowest. A mid-career plateau was observed among employees with 6–10 years of service, influenced by limited welfare, constrained career opportunities and inadequate work facilities. Conclusions: Despite overall positive motivation, structural issues related to compensation, career development, and the work environment continue to hinder sustained motivation. Addressing these challenges requires integrated interventions across short-, medium-, and long-term strategies. Limitations: This study was limited by its cross-sectional design, single institutional context, and exclusion of broader attitudinal variables. Contributions: This study provides empirical insights into work motivation among operational-level urban park workers and offers practical recommendations for local governments to improve public service workforce management.
Collaborative Governance in Implementing Child-Friendly City Policy: Bandung City Case Study Yolanda Rossi; Ely Sufianti; Abdul Rahman; Nita Nurliawati
Journal of Governance and Accountability Studies Vol. 6 No. 2 (2026): July
Publisher : Goodwood Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35912/jgas.v6i2.3929

Abstract

Purpose: This study examines the collaborative governance model in the implementation of the Child-Friendly City (Kota Layak Anak/KLA) policy in Bandung City, identifies the key driving and inhibiting factors, and formulates strategic efforts to strengthen multi-stakeholder collaboration in child protection policy. Methodology: A qualitative case study approach was employed, using in-depth interviews, observations, and document analysis. Data were analyzed using an interactive qualitative model guided by the Ansell and Gash collaborative governance framework, focusing on initial conditions, institutional design, facilitative leadership, and collaborative processes. Results: The findings show that collaborative governance in the implementation of KLA in Bandung is present but not yet optimal. Collaboration remains fragmented across sectors, with challenges including unequal stakeholder capacity, limited incentives for non-governmental actors, and insufficient meaningful child participation. Existing initiatives rely heavily on administrative coordination, rather than sustained trust-based collaboration. Conclusions: The KLA policy’s success is strongly influenced by the quality of collaborative governance. Strengthening collaboration requires improving initial collaborative conditions, institutionalizing cross-sector mechanisms, enhancing facilitative leadership, and promoting inclusive stakeholder engagement, particularly at the community level. Limitations: This single-case study may limit the generalizability of the findings to other regions. Contributions: This study enriches the collaborative governance literature by applying the Ansell and Gash model to child protection policy. It also provides practical recommendations for strengthening multi-stakeholder collaboration for more effective Child-Friendly City initiatives.
Dinamika Kolaborasi Ekonomi dalam Implementasi Program TJSL di Sektor Pengelolaan Sampah Kota Bandung Amara Citta Wibowo; Ely Sufianti
RJABM (Research Journal of Accounting and Business Management) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : LPPM University 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/rjabm.v9i2.8918

Abstract

This study discusses the dynamics of collaboration in the implementation of the Corporate Social and Environmental Responsibility (TJSL) Program in waste management in Bandung City. As the economic and cultural center of West Java, Bandung faces significant waste management challenges due to rapid population growth and increasing economic activity. TJSL emerges as an alternative solution involving collaboration among the government, companies, and communities. This research aims to analyze how such collaboration is implemented, identify existing obstacles, and provide recommendations to enhance program effectiveness. A qualitative descriptive method was employed, using data collection techniques such as in-depth interviews, observation, and document analysis. The analysis refers to the Collaborative Governance theory by Emerson, Nabatchi, and Balogh (2012), which consists of three key components: principled engagement, shared motivation, and capacity for joint action. The findings show that although collaboration has taken place through the TJSL Forum and initiatives like waste cart assistance, its implementation still faces several challenges, including limited community capacity, lack of transparency from companies, and suboptimal cross-sector coordination. Strengthening institutional capacity, enhancing technical capabilities, and encouraging more meaningful community involvement are essential for TJSL to contribute effectively to waste management and sustainable development in Bandung City.
Analisis Keberhasilan Sistem Informasi Pelayanan Publik Berbasis Online di Kota Bandung Firlly Anggraeni Cahyaningrum; Ely Sufianti; Achmad Sodik Sudrajat; Endah Mustika Ramdani
Jurnal Ilmu Administrasi Negara Vol. 22 No. 2 (2025): Desember: Jurnal Ilmu Administrasi Negara
Publisher : Universitas Mbojo Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59050/jian.v22i2.317

Abstract

This study aims to analyze the success of online-based public service systems in Bandung City and formulate recommendations for improvement. Issues identified include low ratings for the Lapor!, Gampil, and Bandung Sadayana applications, as well as slow data updates on the Open Data portal. The method used is quantitative descriptive through questionnaires, documentation, and interviews. The results indicate that the usage dimension received the lowest score, indicating that service utilization remains low. Meanwhile, the system quality dimension received the highest average score, indicating that users' perceptions of the system are generally positive. The Gampil application received the highest satisfaction rating (87.61%), while Salaman received the lowest (69.72%). In conclusion, online public services in Bandung City are considered suboptimal because they are technically adequate but underutilized. These results are important as a basis for evaluating the city government's digital policies. Based on these findings, it is recommended to educate the public about all online public services and develop application features based on real community needs to make services more effective and inclusive.
Evaluasi Program Pemberdayaan Dan Pengawasan Melalui Kegiatan Safari Ormas Oleh Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik Kota Bandung Rahma Siti Fadillah; Ely Sufianti; Achmad Sodik Sudrajat; Alikha Novira
Jurnal Ilmu Administrasi Negara Vol. 22 No. 2 (2025): Desember: Jurnal Ilmu Administrasi Negara
Publisher : Universitas Mbojo Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59050/jian.v22i2.318

Abstract

Community Organization (Ormas) development is an essential aspect of maintaining social stability and enhancing public participation in development. The Bandung City Government, through the National Unity and Political Agency (Bakesbangpol), organizes the Safari Ormas program as a means of facilitation and education for local community organizations. This study aims to: (1) evaluate the empowerment and supervision program through Safari Ormas by Bakesbangpol Bandung; (2) identify the challenges in implementing the Safari Ormas activities in Bandung; and (3) formulate recommendations to improve the effectiveness of Safari Ormas in supporting empowerment and supervision efforts. This research employed a qualitative approach with data collection techniques including interviews, observations, and documentation. The informants consisted of Bakesbangpol Bandung officials directly involved in Safari Ormas and representatives of several participating organizations. The study applied the CIPP evaluation model developed by Daniel L. Stufflebeam to assess program success. The findings indicate that the implementation of Safari Ormas still faces several challenges, including the low level of organizational understanding among communities, limited budget and human resources (only 2–3 personnel), inconsistent scheduling, and the lack of continuous follow-up after the activity. The recommendations include developing digital training media such as posters, strengthening inter-agency collaboration and utilizing webinars or e-learning, preparing a more structured annual schedule disseminated to Ormas, and reinforcing periodic monitoring and evaluation to ensure the sustainability of program outcomes.
Co-Authors Abdul Rahman Abdul Rahman Abdul Rahman Abdullah Sait Abdullah, Sait Achmad Sodik Sudrajat Adhika Bergi Nugroho Adiyatama, Sanen Afandi Muhamad Nur Afandi, Muhamad Nur Agung Tri Dharma Aji Surya Utama Alikha Novira Amara Citta Wibowo Anggi Syahadat Harahap Asmara, Nefi Aris Ambar DARMANTO, DARMANTO Darti Sugiharti Deni Fauzi Ramdani DENI SETIAWAN Dewi Sawitri Dharma, Agung Tri Dijah, Arundina DRP, Arundina Dwi Harjanti Dwi Dwiputrianti, Septiana Edah Jubaedah Eldiyana Marfury, Intan Endah Mustika Ramdani Endang Wirjatmi Tri Lestari Endang Wirjatmi Trilestari Firlly Anggraeni Cahyaningrum Futiha Nazar Ghea Ananda Nurhaliza Gian Aditya Chandra Hafid Aditya Pradesa Hapsari Kharisma Maharani Hendrikus T. Gedeona Hendrikus Tri Gedeona Hendrikus Tribawanto Gedeona Hilda Nurul Anggraeni Ida Yati Jubaedah , Edah Jubaedah, Edah Krishnai Nur Pribadi Lestari, Resa Listiani , Teni Listiani, Teni Mohammad Sahid Muhamad Nur Afandi Muhamad Nur Afandi Muhamad Rezqi Kurniawan Mukarom, M. Multazam All Nefi Aris Ambar Asmara Nita Nurliawati Nita Nurliawati Nur Rohman Nuraindah, Nendah Nurdiati Hildania Nurliawati, Nita Ono Taryono Rahma Siti Fadillah Resa Lestari Rini Oktoyani Rofik Sandra Herdian Sait Abdullah Setiyono Setiyono Setiyono Setiyono Sutarto Mochtar Sutarto Mochtar Sutisna, Dinar Nur Fadz Niar Teni Listiani Teni Listiani Tommy Firman Trilestari, Endang Wirjatmi Vira Junita Budiawati Wahyu Purwasto, Bambang Wirjatmi Trilestari, Endang Wirjatmi, Endang Wisata, Prabu Aditia Yolanda Rossi