Claim Missing Document
Check
Articles

Paradigma Pedagogi Kritis Paulo Freire dalam Konteks Model Pendidikan yang Adaptif terhadap Masyarakat Multikultural Ni Nyoman Putri Nursanti; Sangputri Sidik; Intan Metrayani Sidauruk
Jurnal Panrita Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Panrita-June
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhamamdiyah Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35906/panrita.v6i1.409

Abstract

This study examines the role of Paulo Freire's critical pedagogy as a basis for designing an educational model capable of adapting to the character of a multicultural society. It was conducted through a qualitative approach using a systematic literature review of scholarly publications with active DOIs published between 2020 and 2025. The author collected, selected, and analyzed literature from indexed national and international journals, then grouped the findings into core themes. The results indicate that critical pedagogy treats education as a practice of liberation that rejects the banking style of teaching and places dialogue, problem-posing, and critical awareness at the heart of learning. An adaptive multicultural education model rests on three pillars, namely recognition of learners' cultural experiences and identities, an egalitarian dialogical relationship between educator and learner, and a learning orientation directed toward social transformation for justice. The educator serves as a facilitator who presents existential problems so that learners construct a critical viewpoint on the reality of racial, ethnic, religious, and class diversity. The study concludes that the relevance of Freire's thought for Indonesian multicultural education stems from its capacity to weave together three dialectical elements of learning, namely educator, learner, and social reality, so that education functions to strengthen democracy and social cohesion in a plural society.
Students’ Multicultural Attitudes and Their Implications for an Inclusive Classroom Environment: A Qualitative Study in the Sociology Education Program at Universitas Negeri Manado Sangputri Sidik; Ni Nyoman Putri Nursanti; Ramdani Sidik
DISCOURSE: Indonesian Journal of Social Studies and Education Vol. 3 No. 2 (2026): March
Publisher : Citra Media Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69875/djosse.v3i2.408

Abstract

Multicultural attitudes among academics constitute a crucial topic in the field of education. Understanding the impact of multiculturalism on student learning is essential for fostering an inclusive and equitable educational environment in Indonesia, a country characterized by diverse ethnicities, religions, and cultures. This study examines students’ multicultural attitudes toward diversity in the classroom within the Sociology Education Study Program at Universitas Negeri Manado. The research employs a qualitative approach, using interviews, observations, and documentation to collect relevant information on the implementation of multicultural education among students. The findings indicate that multicultural education plays a significant role in developing students’ tolerance, acceptance, and harmony toward diversity. The study also reveals that students who internalize multicultural attitudes demonstrate greater understanding and appreciation of different cultures, languages, and traditions. This understanding contributes to a more inclusive and harmonious classroom environment, where students are able to collaborate and learn from one another.
Penerapan Model dan Media Belajar Gallery Walk Dalam Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Pembelajaran Sosiologi Intan Metrayani Sidauruk; Ni Nyoman Putri Nursanti; Reni Kartini Kristin Dian Yunianti; Ashari Ramlan; Sangputri Sidik
JURNAL JENDELA PENDIDIKAN Vol. 6 No. 02 (2026): Jurnal Jendela Pendidikan: Edisi Mei 2026
Publisher : CV. Jendela Edukasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57008/jjp.v6i02.2678

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran Sosiologi  dengan menggunakan metode Gallery Walk; (2) mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa kelas X IPS 1 SMA Athalia, Serpong setelah mengikuti pembelajaran dengan metode Gallery Walk; (3) dan mengetahui prestasi belajar siswa dengan diterapkannya metode Gallery Walk selama pelaksanaan pembelajaran serta adanya peningkatan motivasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data dengan metode dokumentasi, observasi, angket, dan tes prestasi belajar. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi, lembar angket, dan lembar tes. Data yang diperoleh dianalisis secara persentase dan metode deskriptif kualitatif. Hasil analisis data menunjukkan: (1) adanya peningkatan motivasi dan semangat belajar siswa; (2) adanya peningkatan kreativitas berpikir dan belajar siswa; (3) dan adanya peningkatan prestasi belajar siswa dilihat dari hasil ketuntasan belajar siswa dimana siklus II lebih baik dibandingkan siklus sebelumnya, siklus I hanya 11 peserta didik atau 44% yang mampu atau tuntas KKTP setelah tindakan siklus II meningkat menjadi 22 orang peserta didik atau 84%. penerapan metode Gallery Walk dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa.
Solidaritas Gotong Royong dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa Tumaluntung Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara Isabella Julisty Tampi; Veronika E. T. Salem; Sangputri Sidik
ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL) Vol. 2 No. 6 (2025): (SEPTEMBER) ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL)
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Sosiologi Unima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64924/ptj12t11

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui solidaritas gotong royong dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Tumaluntung. Masalah dalam penelitian ini adalah untuk melihat dan menjelaskan bagaimana peran solidaritas gotong royong dalam memperkuat ikatan sosial antar warga dan perbedaan solidaritas gotong royong dan solidaritas tolong menolong di Desa Tumaluntung dengan Metode pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan metode pendekatan Deskriptif-Kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gotong royong tidak hanya berperan dalam menyelesaikan tugas-tugas fisik pembangunan infrstruktur dan kegiatan sosial, tetapi juga meningkatkan rasa kebersamaan dan saling percaya antar warga. Kegiatan gotong royong menciptakan ruang interaksi sosial, mengurangi konflik sosial dan memperkuat kohesi sosial, sebaliknya solidaritas tolong-menolong cenderung lebih spontan, indivual dan seringkali bersifat sementara. Meski keduanya memperkuat ikatan sosial, gotong royong lebih dominan dalam menciptakan rasa kebersamaan, memperkuat jaringan sosial, dan memberikan dampak jangka panjang pada kesejahteraan masyarakat.
Persepsi Masyarakat Toraja Strata Tana’ Karurung Dan Tana’ Kua-Kua dalam Prosesi Adat Rambu Solo’ Dilembang Rantedada Kabupaten Tana Toraja Reni Reni; Hamdi Gugule; Sangputri Sidik
ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL) Vol. 2 No. 6 (2025): (SEPTEMBER) ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL)
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Sosiologi Unima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64924/jwvmmx84

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat Toraja strata tana’ karurung dan tana’ kua-kua dalam prosesi Adat Rambu Solo’ di Lembang Rantedada Kab. Tana Toraja. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. adapun metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini ialah melalui metode wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan penulis dalam penulisan karya ilmiah ini ialah dengan menggunakan analisi model Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat Toraja secara khusus masyarakat pada Strata Tana’ karurung dan Tana’ Kua-kua tidak begitu merasakan kenyamanan atas perkembangan pesta adat yang semakin hari mereka melihat pesta tersebut semakin meriah dan mengahabiskan cukup banyak biaya dalam pelaksanaannya. Ditambah lagi yang sangat mereka rasakan ialah mereka akan dililit oleh banyak nya hutang oleh karena transaksi hewan kurban yang terjadi sebelumnya. Juga ditemukan dari lokasi penelitian masyarakat mengatakan biaya yang mereka gunakan untuk sebuah pesta lebih besar dari biaya untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
Solidaritas Sosial Mahasiswa Perantauan Suku Batak Karo di Universitas Negeri Manado Wardina Tafnao; Veronika E. T. Salem; Sangputri Sidik
ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL) Vol. 2 No. 6 (2025): (SEPTEMBER) ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL)
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Sosiologi Unima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64924/6r5kw705

Abstract

Artikel Ini Berjudul Solidaritas Sosial Mahasiswa Perantauan Suku Batak Karo Di Universitas Negeri Manado. Proses analisis data yang dilakukan dengan mereduksi data, menyajikan data, hasil penelitian dan menyimpulkan data penelitian. Dengan Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi, subjek dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Perantauan Suku Batak Karo Di Universitas Negeri Manado. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Solidaritas Sosial Mekanik dari Emile Durkheim dan teori Gemeinschaft dari Ferdinand Tonnies dengan menggunkan metode penelitian kualitatif. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Solidaritas Sosial Mahasiswa Perantauan Suku Batak Karo Di Universitas Negeri Manado. Penelitian ini melihat adanya keterkaitan antara nilai dan norma (Kebiasaan) yang dilakukan oleh Mahasiswa Perantauan Suku Batak Karo sebagai bentuk solidaritas sosial kerika mereka merantau dan berkuliah di Universitas Negeri Manado. Hasil dari penelitian ini adalah Bahwa Mahasiswa Perantauan Suku Batak Karo Di Universitas Negeri Manado memiliki solidaritas sosial yang tinggi dengan tipe solidaritas mekanik dengan dengan intensitas antara sesama suku Batak Karo (Ikatan Mahasiswa Karo) dalam rangka melakukan kegiatan-kegiatan seperti, ibadah bersama, olahraga bersama, kegiatan dukacita mapun dukacita, Guro-guro Aron (Pesta Tahunan) penerimaan anggota baru, ibadah natal, malam keakraban, paskah dan semangat gontong royong.
Analisis Dampak Penggunaan Media Sosial terhadap Etika Remaja di Desa Buku Tengah Kecamatan Belang Kabupaten Minahasa Tenggara Angelia Yudiastrid Supit; Hamsah Hamsah; Sangputri Sidik
ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL) Vol. 3 No. 1 (2025): (NOVEMBER) ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL)
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Sosiologi Unima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64924/6rhp9m12

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak penggunaan media sosial terhadap komunikasi, penggunaan bahasa, dan sikap sopan santun di kalangan remaja di Desa Buku Tengah, Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan remaja, orang tua dan tokoh masyarakat. Teknik observasi non-partisipan dan partisipatif digunakan untuk memperkuat data wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja cenderung lebih berani berbicara dan berekspresi di media sosial dibandingkan secara langsung. Namun, hal ini juga menyebabkan sikap sopan santun yang lebih santai dan penggunaan bahasa yang tidak formal, seperti singkatan dan bahasa gaul yang sering terbawa dalam percakapan sehari-hari. Para orang tua menyadari adanya perubahan perilaku pada anak mereka, termasuk kecenderungan untuk lebih tertutup dan kurang berinteraksi secara langsung. Mereka juga mengamati bahwa media sosial memengaruhi cara berbicara yang menjadi lebih kasual dan terkadang kurang sopan. Sementara itu, tokoh masyarakat mengungkapkan kekhawatiran terhadap menurunnya nilai-nilai kesopanan akibat penggunaan media sosial yang kurang bijak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan berekspresi bagi remaja, namun di sisi lain juga memengaruhi etika komunikasi dan sikap sopan santun. Diperlukan edukasi yang lebih intensif mengenai etika dalam berkomunikasi di media sosial, baik melalui peran keluarga, sekolah, maupun masyarakat, untuk menjaga nilai-nilai kesopanan dalam kehidupan sehari-hari.
Adaptasi Sosial Mahasiswa Papua Pegunungan pada Masyarakat Lokal Kelurahan Maesa Unima Deni Tabuni; Sangputri Sidik; Hamsah Hamsah
ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL) Vol. 3 No. 2 (2026): (JANUARY) ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL)
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Sosiologi Unima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64924/vr4ek123

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui bentuk adaptasi sosial mahasiswa Papua Pegunungan dalam berinteraksi dengan masyarakat lokal serta faktor-faktor yang mempengaruhi proses adaptasi tersebut. Mahasiswa Papua Pegunungan yang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Manado (UNIMA) merupakan bagian dari masyarakat multikultural yang perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial berbeda dari daerah asal mereka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari mahasiswa Papua Pegunungan yang tinggal di Kelurahan Maesa UNIMA serta masyarakat lokal yang berinteraksi langsung dengan mereka. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa Papua Pegunungan melakukan berbagai bentuk adaptasi sosial seperti penyesuaian bahasa, perilaku, dan pola hidup sehari-hari. Faktor pendukung adaptasi meliputi sikap keterbukaan, toleransi, dan dukungan masyarakat lokal. Namun, hambatan seperti perbedaan budaya, stereotip sosial, dan kurangnya komunikasi efektif juga ditemukan. Kesimpulannya, adaptasi sosial mahasiswa Papua Pegunungan di Kelurahan Maesa UNIMA berlangsung bertahap dan dipengaruhi interaksi sosial antara mahasiswa dan masyarakat lokal. Adaptasi optimal tercapai bila kedua pihak saling menghargai dan membuka ruang dialog budaya.
Pelestarian Bahasa Tontemboan pada Masyarakat Desa Wulurmaatus Kecamatan Modoinding Kabupaten Minahasa Selatan Frenki Kefin Arnol Batas; Nismawati Nismawati; Sangputri Sidik
ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL) Vol. 3 No. 2 (2026): (JANUARY) ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL)
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Sosiologi Unima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64924/ynvcay13

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk meneliti tentang bagaimana pelestarian bahasa Tontemboan di masyarakat desa Wulurmaatus Kecamatan Modoinding Kabupaten Minahasa Selatan dengan bertujuan untuk mengeksplorasi pelestarian bahasa Tontemboan di desa Wulurmaatus Kecamatan Modoinding Kabupaten Minahasa Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan Teknik triangulasi wawancara, observasi dan dokumentasi maka hasil penelitian yang di peroleh adalah sebagai berikut: penggunaan bahasa Tontemboan di desa Wulurmaatus masih digunakan atau sering digunakan meskipun di dominasi oleh orang-orang tua. Faktor yang menyebabkan bahasa Tontemboan tidak diwariskan atau tidak dilestarikan di desa Wulurmaatus yaitu seperti orang-orang tua tidak mengenalkan dan mengajari anak-anaknya tentang bahasa Tontemboan, anak-anak muda sudah tidak berminat untuk belajar bahasa daerah, ada juga karena pengaruh pendatang dari daerah lain dan kurangnya kesadaran diri dan kepedulian akan budaya daerah. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu: pelestarian bahasa Tontemboan di desa Wulurmaatus masih belum terlaksana karena sudah sangat kurang dan jarang digunakan bahasa Tontemboan ini. Di desa Wulurmaatus yang masih menggunakan bahasa Tontemboan hanyalah orang-orang tua dulu sedangkan orang-orang muda sudah jarang menggunakan bahasa Tontemboan apalagi anak-anak muda sudah tidak tertarik lagi dengan bahasa ini karena menurut mereka bahasa ini sudah ketinggalan zaman atau kuno dan lebih memilih untuk belajar bahasa internasional atau bahasa asing. Bagi masyarakat di harapkan menggunakan dan menerapkan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari serta keluarga harus berperan aktif dalam memperkenalkan bahasa daerah, bagi pemerintah diwajibkan memberikan arahan, penjelasan serta motivasi kepada masyarakat akan pentingnya kesadaran diri dan kepedulian terhadap warisan budaya terutama bahasa daerah.
Reproducing Mane’e: Social Practices and Cultural Continuity in the Kakorotan Island Community Junianti Sahea; Ferdinand Kerebungu; Sangputri Sidik
DISCOURSE: Indonesian Journal of Social Studies and Education Vol. 3 No. 3 (2026): July
Publisher : Citra Media Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69875/djosse.v3i3.456

Abstract

The Mane’e tradition in one of the island communities of the Talaud Islands is not merely a cultural performance, but a way in which people organize their shared life with the sea. Through this practice, fishing is not treated as an individual activity, but as something that is arranged, limited, and decided together. In recent years, however, this tradition has been placed under pressure. Changes in fishing technology, economic needs, shifting ways of life, and the reduced involvement of younger people have all affected how Mane’e is carried out. This study looks at how Mane’e continues to exist in such conditions. It focuses on the ways the community keeps the practice alive through everyday social relations, rules that are agreed upon together, and the passing of knowledge from one generation to the next. The research is based on field interviews, observations, and documentation of community practices. The findings show that Mane’e is maintained because people continue to take part in it, not only during the ritual itself but also in the decisions and preparations that surround it. Community discussions, the sharing of responsibilities, and the learning process between older and younger generations all play a role in keeping the practice going. The eha rule, which sets a period when the sea cannot be used, is especially important. It is not just a restriction, but a shared agreement that shapes how people relate to marine resources and to each other. At the same time, Mane’e is not unchanged. Its form and meaning shift as the community responds to new economic demands and the growing presence of tourism. What remains constant is not the form of the ritual, but the way people continue to negotiate its place in their lives. This study concludes that the survival of Mane’e depends on how people keep working it into their social life—through cooperation, shared rules, and the passing of knowledge—while also adjusting it to the changes around them.