Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Pengaruh Kondisi Fasilitas Sekolah terhadap Konsentrasi dan Kualitas Belajar: Studi pada Siswa SMPN 2 Sakra Abdul Latif; Baiq Nurlita Handayani; Dini Damayanti; Lia Saputri; Zubaedah Zubaedah
SEMESTA: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Alpatih Harapan Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70115/semesta.v4i1.359

Abstract

This study aimed to investigate the impact of school facility availability and damage on student concentration and learning quality at SMPN 2 Sakra. A quantitative descriptive-correlational approach was employed, involving a survey of 80 students and observations of school facilities. Data were analyzed using correlation and regression analysis. Statistical analysis indicated that higher availability of adequate facilities significantly improves students’ concentration and learning quality, whereas the presence of damaged or inadequate facilities negatively affects these outcomes. The results suggest that maintaining and improving school facilities is crucial for optimizing students’ academic experience. It is recommended that school administrators prioritize facility maintenance and resource allocation to enhance learning conditions. These findings contribute to understanding the role of the physical environment in education.
Optimalisasi Peran Perpustakaan di Desa Embung Kandong Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat Guna Meningkatkan Literasi pada Masyarakat Abdul Latif; Dwi Rahayu Susanti; Abdullah Mzakkar; Baiq Shofa Ilhami; Rohyana Fitriani; Muh. Taufik
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.3796

Abstract

AbstrakMajunya suatu bangsa ditentukan oleh sampai mana masyarakat tingkat kesadaran dalam meningkatkat pengetahuannya. Peningkatan pengetahuan masyarakat, dan juga pendidikan formal menjadi salah sati indikator kemajuan bangsa, disamping itu juga apa bila masyarakat mempunyai budaya literasi terus ditingkatkan. Perpustakan di desa embung kandong Kecamatan terata lombok timur ini sudah memiliki perpustakan tingkat desa, tapi selama ini keberadannya belum reprsentatif dalam mendorong masyarakat memanfaatkannya. Muali kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Tim Universitas Hamzanwadi Lombok Timur dilakaukan kegitan optimalisasi perpustakan desa dalam hal ini dilakaukan dengan método penatan ruanagan, tata letak buka, penabahn sistema perpustakan, sosialisasi perpustakan sebagai tempat yang menyenagkan, sehingga masyarakat dapat informasi serta pengetahuan yang meraka butuhkan dan pelastarian budaya atau wisata desa setempat.Kata Kunci: Perpustakan, Budaya, Literasi dan Pengetahuan AbstractThe progress of a nation is determined by the level of public awareness in increasing their knowledge. Increasing public knowledge, as well as formal education is one of the indicators of the nation's progress, besides that if the community has a literacy culture, it continues to be improved. The library in the village of Embung Kandong, Terata District, East Lombok already has a village level library, but so far its existence has not been representative in encouraging people to use it. Starting from the Community Service (PKM) activities from the Hamzanwadi University Team, East Lombok, village library optimization activities were carried out in this case with the method of room arrangement, open layout, library system enhancement, library socialization as a fun place, so that people can get information and knowledge they need and cultural preservation or local village tourism.Keywords: Library, Culture, Literacy and Knowledge
Kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka di Indonesia dan Relevansinya dengan Era Distrupsi Syaipul Pahru; Abdul Latif; Abdullah Muzakkar; Baiq Shofa Ilhami; Rohyana Fitriani; Muh. Taufik
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.3897

Abstract

AbstrakTujuan dalam penulisan artikel ini adalah mencoba untuk menelaah tentang Kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka di Indonesia, Tantangan Pendidikan Tinggi dengan Kemunculan Era Distrupsi, dan Relevansi Kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka dengan Era Distrupsi.  Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah jenis literature review. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kurkulum dalam pendidikan memiliki peranan yang Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka dengan Era Distrupsi.  Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah jenis literature review. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kurkulum dalam pendidikan memiliki peranan yang sangat strategis dan kurikulum yang baik adalah kurikulum yang bersifat fleksibel sehingga mampu menjawab tantangan zaman. Negara-negara di dunia tak terkecuali Indonesia tengah menghadapi era distrupsi, dimana era ini perubhan begitu cepat terjadi ranah pendidikan merupakan salah satu sasaran empuk yang paling cepat terdistrupsi. Kurikulum MBKM merupakan salah satu solusi yang ditawarkan oleh pemerintah dalam menghadapi era distrupsi.Kata Kunci: Kurikulum, Merdeka Belajar, Kampus Merdeka Era Distrupsi AbstractThe purpose of writing this article is to try to examine the Policy for the Merdeka Belajar Curriculum for Kampus Merdeka in Indonesia, the Challenges of Higher Education with the Emergence of the Era of Disruption, and the Relevance of the Policy for the Kurikulum Merdeka for Learning in Kampus Merdeka with the Era of Disruption. The method used in this paper is a type of literature review. The results of the study indicate that the curriculum in education has a very strategic role and a good curriculum is a curriculum that is flexible so that it is able to answer the challenges of the times. Countries in the world, including Indonesia, are currently facing an era of disruption, where in this era of rapid change, the realm of education is one of the easiest targets to be disrupted. The MBKM curriculum is one of the solutions offered by the government in dealing with the era of disruption.Keywords: Curriculum, Independent Learning, Independent Campus Distrupsi Era
MAKNA STANDAR BERPAKAIAN TERHADAP PENERIMAAN KELOMPOK DAN POLA INTERAKSI MAHASISWI DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS HAMZANWADI Widiyan Lestari; Abdul Latif; Muh Ridwan Markarma
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.12820

Abstract

Dress standards regulations at religious universities often trigger social categorization phenomena that directly impact female students' psychological comfort in the academic environment. This issue demands an in-depth sociological understanding of the influence of appearance restrictions on the level of closeness between students. The main focus of this study is to analyze the meaning of dress standards on the group acceptance process and social interaction patterns of female students at Hamzanwadi University. This qualitative research, using a phenomenological design, was conducted through purposive sampling of twenty active female students. Primary field data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation, which were then analyzed using open, axial, and selective coding, based on the Miles and Huberman interactive analysis model. Descriptive quantitative data from the research indicate that 40 percent of subjects interpreted dress codes as a form of religiosity, 35 percent as a social identity, and 25 percent as an adaptation strategy. The research findings reveal the formation of symbolic groups in the form of sharia, moderate, and flexible clusters, which trigger dynamics of inclusion and hidden social exclusion, resulting in feelings of awkwardness in the classroom. The main conclusion confirms that dress standards act as a mechanism for collective identity conversion, influencing the symbolic circulation of interactions. Campus management is recommended to evaluate this normative policy to be more responsive to the sociocultural negotiation space and gender agency of female students on an ongoing basis. ABSTRAK Regulasi standar busana pada rumpun perguruan tinggi keagamaan sering kali memicu adanya fenomena kategorisasi sosial yang secara langsung memengaruhi kenyamanan psikologis mahasiswi di lingkungan akademik. Masalah tersebut menuntut adanya pemahaman sosiologis mendalam mengenai pengaruh restriksi penampilan terhadap tingkat kedekatan hubungan antar-lini. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis makna standar berpakaian terhadap proses penerimaan kelompok dan pola interaksi sosial mahasiswi di Universitas Hamzanwadi. Langkah-langkah penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi ini dioperasikan melalui penarikan sampel secara purposive terhadap dua puluh mahasiswi aktif. Pengumpulan data primer lapangan dihimpun lewat teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan pengodean terbuka, aksial, dan selektif model analisis interaktif Miles dan Huberman. Data kuantitatif deskriptif hasil riset menunjukkan bahwa subjek memaknai aturan berbusana sebagai bentuk religiusitas sebesar 40 persen, identitas sosial senilai 35 persen, dan strategi adaptasi sebanyak 25 persen. Temuan riset menyingkap adanya pembentukan kelompok simbolik berupa klaster syar'i, moderat, dan fleksibel yang memicu dinamika inklusi serta eksklusi sosial terselubung berupa rasa canggung di kelas. Simpulan utama menegaskan bahwa standar berpakaian bertindak sebagai mekanisme konversi identitas kolektif yang memengaruhi sirkulasi interaksi secara simbolik. Manajemen kampus direkomendasikan mengevaluasi kebijakan normatif ini agar lebih responsif terhadap ruang negosiasi sosiokultural serta agensi gender mahasiswi secara berkelanjutan.  
Problematika Pembelajaran Sosiologi Dalam Penerapan Metode PBL (Problem Based Learning) di SMA Birrul Walidain NWDI Rensing M. Zainul Hasani; Abdul Latif; M. Zainul Asror
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v6i4.1695

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Problematika yang dihadapi oleh Guru sosiologi dalam menerapkan pembelajaran menggunakan metode PBL di SMA Birrul Walidain NWDI Rensing. Penelitan ini menggunakan metode penelitian kualitatif yakni suatu rancangan metode penelitian yang berfokus pada perspektif, penggalaman, dan perilaku berbagai responden pada suatu kajian penelitian. Penelitian ini dilakukan di SMA Birrul Walidain NWDI Rensing, dari penelitian ini di temukan bahwa probelmatika pembelajaran sosiologi dalam penerapan metode PBL terbagi pada dua problematika yakni problematika yang terjadi pada guru dan problematika yang terjadi pada siswa
Analisis Peran Guru dalam Menciptakan Lingkungan Belajar Kondusif di Madrasah Aliyah NW Kabar Abdul Latif; Nila Lailatul Fitri; Hilmi Najamuddin; Gina Ilhami Fatin; Sefty Cahyaningtyas; Ewit Nurdayanti; Teti Hifsatun Aini; Muhammat Riyandi; M. Sastra Budiyawan
SEMESTA: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 3 (2025): November 2025
Publisher : Alpatih Harapan Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70115/semesta.v3i3.344

Abstract

This study aims to examine how teachers help students learn effectively at MA NW Kabar. When students feel supported and encouraged in their learning, they are more likely to be motivated and perform well (Sardiman, 2020). The study used a learning method that emphasizes detailed understanding, where data was collected through observation, talking with people, and reviewing documents (Sugiyono, 2022). Teachers help students feel comfortable, safe, and engaged in learning. Teachers do more than just teach. They also help students learn, encourage them, and show them how to behave. Strategies used include effective communication, the application of a humanistic approach, and creative and disciplined classroom management (Mulyasa, 2021). In conclusion, the role of teachers in creating a conducive learning environment is crucial to the success of the educational process and the development of student character
MODAL SOSIAL KADER POSYANDU DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT PADA PROGRAM KESEHATAN IBU DAN ANAK Ria Arlina; M. Zainul Asror; Abdul Latif
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14700

Abstract

ABSTRACT The success of maternal and child health programs is determined not only by the availability of healthcare services but also by the level of community participation, which is strongly influenced by the quality of social relationships between Posyandu volunteers and community members. However, studies examining the role of social capital in strengthening community participation remain limited. This study aimed to analyze the social capital of Posyandu volunteers in enhancing community participation in maternal and child health programs in South Korleko Village. A descriptive qualitative approach with a case study design was employed. Data were collected through observations, semi-structured interviews, and documentation involving Posyandu volunteers, mothers of toddlers or pregnant women, and the village midwife, and were analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The findings revealed that the volunteers' social capital was manifested through trust, social networks, and social norms. Trust emerged as the most influential dimension by strengthening community confidence in volunteer services. Social networks facilitated information dissemination through communication and cross-sector collaboration, while social norms reinforced collective cooperation. These three dimensions collectively enhanced community participation and supported the sustainability of community-based maternal and child health programs. ABSTRAK Keberhasilan program kesehatan ibu dan anak tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan layanan kesehatan, tetapi juga oleh tingkat partisipasi masyarakat yang dipengaruhi oleh kualitas hubungan sosial antara kader Posyandu dan masyarakat. Namun, kajian mengenai peran modal sosial kader Posyandu dalam meningkatkan partisipasi masyarakat masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis modal sosial kader Posyandu dalam meningkatkan partisipasi masyarakat pada program kesehatan ibu dan anak di Desa Korleko Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi terhadap kader Posyandu, ibu balita atau ibu hamil, serta bidan desa, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial kader termanifestasi melalui kepercayaan, jaringan sosial, dan norma sosial. Kepercayaan menjadi dimensi yang paling dominan karena meningkatkan keyakinan masyarakat terhadap pelayanan kader. Jaringan sosial memperluas penyebaran informasi melalui komunikasi dan kolaborasi lintas sektor, sedangkan norma sosial memperkuat budaya kerja sama masyarakat. Ketiga dimensi tersebut berkontribusi dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dan mendukung keberlanjutan program kesehatan ibu dan anak berbasis komunitas.
PERILAKU KONSUMTIF MAHASISWI SUKU SUMBAWA DI PULAU LOMBOK: PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK Novitasari Novitasari; Abdul Latif; M. Zainul Asror; Ahmad Tohri
SIBATIK JOURNAL: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol. 5 No. 7 (2026)
Publisher : Penerbit Lafadz Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47353/sibatik.v5i7.5292

Abstract

This study aims to analyze the forms of consumptive behavior and the factors influencing consumptive behavior among Sumbawanese female students pursuing higher education on Lombok Island, with particular attention to their experiences as migrant students and the role of social interaction. The study employed a qualitative approach with a descriptive design. Informants were selected purposively and consisted of nine Sumbawanese female students enrolled in higher education institutions on Lombok Island. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, involving data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. Data credibility was strengthened through source and technique triangulation. The findings indicate that consumptive behavior is not limited to purchasing unnecessary goods but also takes the form of trend-oriented consumption, lifestyle consumption, peer-mediated purchasing, spontaneous buying, and the use of digital payment services. Social media, peer conformity, transaction convenience, lifestyle, and economic conditions operate as interrelated factors. As migrant students, the participants negotiate consumption practices associated with their home culture with consumption patterns encountered in their university and residential environments. From a symbolic interactionist perspective, commodities and consumption activities acquire social meanings through interaction, allowing consumption to function as a mechanism of social adjustment and identity presentation. These findings highlight the importance of financial literacy, self-control, and media literacy in fostering more reflective and rational consumption practices among university students.
Beban Ganda Perempuan Single Parent: Strategi Pemenuhan Ekonomi Keluarga Jefa Utomo; Abdul Latif; Zulkarnain Zulkarnain
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 4 (2025): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i4.36633

Abstract

The phenomenon of single parent women is an emerging social reality in various regions of Indonesia, including West Nusa Tenggara. This study aims to describe the strategies and obstacles faced by single parent women in fulfilling family economic needs. Using a qualitative approach with phenomenological design, this study involved 15 informants selected purposively in North Tanak Malit Hamlet, South Masbagik Village, Masbagik District. Data collection techniques included participatory observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis used the Miles and Huberman model with source triangulation as validity testing. The results showed that single parent women's strategies include optimizing domestic and public roles through the use of agricultural land, laundry-ironing services, selling snacks, and borrowing from close relatives. The obstacles faced include limited rest time, difficulty managing time between work and childcare, and problematic financial management. This study confirms that the double burden experienced by single parent women is a social construction that requires policy interventions based on economic empowerment and strengthening of social capital.
Dominasi Politik Bangsawan dalam Pemerintahan Desa Dasan Lekong Rama Dhani; Abdul Latif; Abdurrohman
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 4 (2026): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Agustus 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i4.2564

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dominasi politik golongan bangsawan dalam pemerintahan Desa Dasan Lekong Kecamatan Sukamulia Kabupaten Lombok Timur, serta mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan reproduksi kekuasaan elite lokal terus bertahan dari masa ke masa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling dengan melibatkan kepala desa, mantan kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, perangkat desa, dan masyarakat setempat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi politik bangsawan di Desa Dasan Lekong dipengaruhi oleh faktor keturunan, legitimasi sejarah, tingginya kepercayaan masyarakat, pengaruh budaya tradisional, modal ekonomi, modal sosial, dan dominasi simbolik yang dimiliki golongan bangsawan. Golongan bangsawan mampu mempertahankan kekuasaan melalui pembangunan sistem kepercayaan masyarakat, hubungan sosial yang erat, pelaksanaan birokrasi yang dianggap baik, serta keterlibatan dalam kegiatan adat dan sosial masyarakat. Dominasi tersebut menyebabkan kekuasaan politik cenderung diwariskan secara turun-temurun kepada kelompok elite tertentu sehingga peluang golongan amaq (jajar karang) untuk memperoleh jabatan kepala desa menjadi lebih terbatas. Penelitian ini juga menemukan bahwa stratifikasi sosial dan budaya memiliki pengaruh besar terhadap dinamika politik desa. Masyarakat masih memandang bangsawan sebagai kelompok yang lebih layak menjadi pemimpin karena dianggap memiliki kewibawaan, kharisma, dan jasa besar dalam membangun desa. Akibatnya, demokrasi desa berjalan kurang kompetitif karena pilihan politik masyarakat lebih banyak dipengaruhi oleh status sosial dan faktor keturunan dibandingkan kualitas kepemimpinan calon kepala desa. Dengan demikian, dominasi politik bangsawan di Desa Dasan Lekong menunjukkan adanya reproduksi kekuasaan elite lokal yang dipertahankan melalui legitimasi sosial, budaya, dan simbolik dalam kehidupan masyarakat desa. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pendidikan politik dan keterbukaan partisipasi masyarakat untuk mewujudkan pemerintahan desa yang lebih demokratis dan inklusif.