Claim Missing Document
Check
Articles

Found 161 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

Ultra Violence Dalam Film Django Unchained Dini Tiara I; Turnomo Rahardjo; Taufik Suprihartini; Hapsari Dwiningtyas
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.624 KB)

Abstract

Kekerasan merupakan aspek yang tidak pernah lepas ditampilkan dalam media. Film merupakan media massa yang menampilkan kekerasan dengan vulgar. Kekerasan yang berlebihan ini disebut dengan ultra violence dimana kekerasan divisualisasikan dengan sekeji mungkin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana teks, dalam hal ini film mendesain kekerasan menjadi suatu hiburan yang kemudian layak dipertontonkan. Penelitian ini menggunakan analisis semiotika The Codes of Television John Fiske, yang meneliti film dengan tiga tahap penelitian. Secara teknis film dilihat melalui level realitas dan representasi, kemudian pada level terakhir dilihat ideologi yang terdapat dalam film.Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kekerasan yang ditampilkan dalam film merupakan bentuk hiperrealitas. Kekerasan yang ditampilkan bukan murni hasil representasi realitas namun merupakan buatan pembuat film yang sama sekali tidak dapat dihubungkan dengan kekerasan pada realitas. Selain itu, pada film ini menunjukkan naturalisasi atas tindakan kekerasan. Kekerasan dianggap sebagai bentuk balas dendam terhadap kaum yang menindas. Pihak yang tertindas berhak “menghukum” pihak yang menindas dengan kekerasan. Secara keseluruhan, kekerasan yang terdapat dalam film ini dibentuk menjadi industri budaya yang sengaja dibuat menjadi objek hiburan. Kata kunci : Kekerasan, Hiperrealitas, Industri Budaya
Adaptasi Komunikasi Mahasiswa Tuli di Perguruan Tinggi Marshya Camillia Ariej; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 8, No 1: Januari 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.096 KB)

Abstract

The communication problem faced by Deaf college students in campus is the difference ability of their communication skills with the hearing students. This difference in ability, led them to some communication barriers. The difference in understanding between Deaf students and their hearing environment arises because there are no mutual understanding between participants in communication caused by verbal symbols that are not captured in their entirety. The verbal symbols that matters are languages. Efforts and processes to achieve mutual understanding between Deaf people and other participants in communication are hampered due to these physical limitations. Deaf people are more dominant using non-verbal symbols (Sign Language) compared to verbal symbols. This study aims to understand the experiences and communication barriers of Deaf students when adapting to the hearing environment in higher education through a phenomenological approach. This study uses the foundation of Communication Accommodation Theory by Howard Giles and Social Learning Theory by Albert Bandura. This study uses in-depth interviews as data collection techniques involving four Deaf students with severe Deaf categories. The results of this study indicate, Deaf students not only face obstacles in verbal but also language communication in the verbal form. Deaf students accept prejudice and discrimination from the environment expressed through refusal and demands to always use verbal symbols when interacting and communicating. In addition, Deaf students also experience anxiety, uncertainty, and foreign language barriers (English) in academic terms. Apprehension that occurs in Deaf students is a Situational Communication Apprehention. Besides experiencing communication apprehension, Deaf students are also faced with uncertain situations when they first become students. Three uncertainty reduction strategies namely passive, active and interactional are used by Deaf students when facing certain situations that cause uncertainty. A new theory emerged and it could explain the phenomenon of adaptation of deaf students in higher education, namely the Interaction Adaptation Theory. The adaptation patterns used by Deaf students in higher education are interactional synchronization, reciprocal, and compensation. Based on this research, it can be concluded that Deaf students adapt by making language adjustments, using verbal symbols, and supported by writing.
Memahami Adaptasi dalam Komunikasi Antarbudaya (Kasus Pernikahan Antaretnis Batak – Cina) Paskah M Pakpahan; Taufik Suprihatini; Wiwid Noor Rakhmad; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.799 KB)

Abstract

Proses adaptasi merupakan hal mutlak yang harus dilakukan oleh individu yang ingin melanjutkan hubungan sampai pada jenjang pernikahan, terlebih lagi pada pernikahan. Pernikahan antaretnis sering menimbulkan konflik yang terkadang berakibat pada perceraian. Realitas itu, menjelaskan bahwa interaksi budaya berbeda etnis mengakibatkan persinggungan budaya yang berlanjut kepada keterbukaan atau ketertutupan diri. Adaptasi akan tercipta setelah adanya interaksi. Sedangkan interaksi antara individu berbeda budaya, yang terikat dalam satu hubungan perkawinan, membutuhkan keterbukaan (self dislosure) agar tercipta pengetahuan dan pemahaman terhadap budaya masing-masing. Fenomena tersebut menggugah keingintahuan penulis mengenai proses adaptasi pasangan antaretnis. Karenanya, penelitian ini kemudian dilakukan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya proses adaptasi pasangan pernikahan antaretnis.Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi agar peneliti mampu memahami makna pengalaman pasangan pada pernikahan antaretnis saat beradaptasi, dari sudut pandang informan sebagai pelaku. Penelitian ini mengambil pasangan yang istrinya dari etnis Batak – suaminya etnis Cina, dan psangan yang istrinya Cina – suaminya etnis Batak sebagai informan penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data fenomenologi.Melalui penelitian ini ditemukan beberapa usaha dari masing-masing individu untuk beradaptasi dengan psangan dan tetap mempertahankan perkawinan. Untuk menyelesaikan setiap konflik yang timbul dalam rumah tangga pasangan antaretnis pada penelitian ini, memiliki usaha-usaha yang dikelompokan menjadi beberapa sintesa diantaranya : pertama, pengalaman informan dalam beradaptasi dengan pasangan. Dari pengalaman beradaptasi dengan masing-masing informan mengaku mampu belajar dan mengetahui karakter pasangannya. Kedua, pola komunikasi dengan pasangan. Dalam berkomunikasi hendaknya menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh pasangan, menjaga intensitas komunikasi, kualitas komunikasi dan pemhaman karakter masing-masing. Ketiga, keterbukaan saat berkomunikasi dengan pasangan untuk menyelesaikan setiap masalah dari konflik yang muncul. Keterbukaan saat berkomunikasi ini kemudian menjadi kunci keberhasilan rumah tangga pasangan antaretnis. Dan saling bertoleransi serta menghargai pasangan adalah salah satu cara yang ditempuh pasangan pernikahan antaretnis untuk mencegah timbulnya konflik dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dari beberapa hasil penelitian di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa keberhasilan dalam proses adaptasi akan mempengaruhi keberhasilan hubungan pasangan suami-istri pada pernikahan antaretnis.
PENGELOLAAN KONFLIK YANG BERSUMBER PADA PRASANGKA SOSIAL (KASUS SUAMI LEBIH MUDA-ISTERI LEBIH TUA) ROBBIANTO ROBBIANTO; Sri Budi Lestari; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.323 KB)

Abstract

ABSTRAKJUDUL : PENGELOLAAN KONFLIK YANG BERSUMBER PADAPRASANGKA SOSIAL (KASUS SUAMI LEBIH MUDA-ISTERILEBIH TUA)NAMA : ROBBIANTONIM : D2C007076Fenomena perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua kini tidak hanya populerdi kalangan para pesohor saja, melainkan juga terjadi di kalangan masyarakat umum.Perbedaan usia kedua pasangan itu pun bervariasi antara satu sampai lima tahun ataulebih dari lima tahun. Konsep nilai tradisional memercayai bahwa usia suami yang lebihtua dipercaya akan membawa pernikahan ke arah yang lebih baik, mengingat suamisudah sepantasnya menjadi sosok pemimpin dan pengayom dalam rumah tangga. Dengandemikian, perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua dianggap telah bertentangan nilaitersebut, sehingga pasangan yang menjalani perkawinan tersebut seringkali dihadapkanpada prasangka sosial yang dapat muncul dari lingkungan di sekitar mereka.Penelitian ini bertujuan untuk melihat bentuk prasangka sosial yang muncul dalamkehidupan pasangan suami lebih muda-isteri lebih tua, bagaimana situasi tersebut dapatmemengaruhi keharmonisan perkawinan mereka, dan bagaimana pengalaman komunikasipasangan tersebut dalam hal mengelola konflik yang sumbernya dari prasangka sosial itu.Teori yang digunakan adalah Relational Dialectics Theory yang dikemukakan olehBaxter dan Montgomery dan didukung konsep pengelolaan konflik K.W Thomas danR.H Kilmann (1974) yang dikenal dengan metode “The Thomas-Kilmann Conflict ModeInstrument (TKI)”. Pengalaman individu ini diungkapkan dengan metode fenomenologiyang mengutamakan pada pengalaman individu secara sadar dalam memaknai suatu hal.Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap tiga pasang informan yangmemiliki isterinya lebih tua lebih dari leima tahun daripada suami ,serta telah menikahselama lebih dari sepuluh tahun.Hasil dari penelitian ini menunjukkan untuk menghadapi situasi konflik yangpenuh prasangka sosial, pasangan suami lebih muda-isteri lebih tua secara umummenggunakan seringkali menggunakan metode kompetisi dimana mereka tidak terlalumemperdulikan apa kata orang, menghiraukannya, dan tetap fokus pada pendiriannyauntuk memelihara rumah tangga yang harmonis. Selain itu, tidak jarang mereka jugamelakukan metode kompromi dimana mereka berusaha untuk memberikan penjelasandan pengertian kepada orang-orang yang berprasangka. Faktor internal dari pasangansuami-isteri seperti, komitmen, kebutuhan yang saling melengkapi, dan penerimaan diriyang positif juga membantu mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang diliputiprasangka sosial. Prasangka sosial setidaknya juga telah membawa dampak bagipasangan suami lebih muda-isteri lebih tua. Dampak negatif akibat prasangka sosialantara lain munculnya tekanan di dalam pikiran maupun batin bagi masing-masingpasangan, perubahan emosi yang terkadang dapat memicu pertengkaran di dalam rumahtangga, dan merenggangnya hubungan mereka dengan orang tua, saudara, atau teman.Sedangkan dampak positifnya, yakni dirasakan adanya penguatan hubungan di antarapasangan suami-isteri tersebut dan meningkatnya sikap supportif satu sama lain.Key words : suami lebih muda-isteri lebih tua, pengelolaan konflik, prasangka sosialABSTRACTTITLE : CONFLICT MANAGEMENT WHICH IS BASED ON SOCIALPREJUDICE (THE CASE OF YOUNGER HUSBAND-OLDERWIFE)NAME : ROBBIANTONIM : D2C007076Nowadays, the phenomenon of younger husband-older wife marriage is not onlypopular among celebrities, but also occurs in the general societies. The couple‟s age isvaried between one to five years or more than five years. The concept of traditionalvalues believe that the age of older man was believed to bring the marriage into a betterdirection, it is considered that men should become a leader and protector in the family.Thus, the younger husband-older wife marriage is considered to have conflicting values,so the couples whom undergoing that marriage are faced with the social prejudice oftenlywhich can arise from the people around them.This study aims to look at forms of social prejudice that arise in the life ofyounger husband-older wife, how that situation may affect the harmony of their marriage,and how the couple‟s experience in managing the conflict that comes from socialperjudice. The theory used is Relational Dialectics by Baxter and Montgomery andsupported by the concept of K.W Thomas and R.H Kilmann (1974) conflict managementwhich is known as “The Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI)”. Thisindividual experience is expressed by the phenomenological method which priotitizesindividual experience concious of understanding a thing. The researcher used in-depthinterviewing technique to three pairs of informants who have an age gap of more thanfive years older at the wife than her husband, and has been married for more than tenyears.The results of this study indicate that to deal with situations of social conflictprejudiced, The younger husband-older wife couples in general often use competitionmethod in which they are not too concerned with what people say, ignore it, and remainfocused on the establishment to maintain harmonious family. In addition, not infrequentlythey also do the compromising method in which they strive to provide an explanation andunderstanding to the prejudiced people. Internal factors of the husband and wife, like thecommitment, complementary needs, and positive self acceptance also help them to live alife filled with domestic social prejudice. The social prejudice also has impact on at leastyounger husband-older wife couple. The negative impact of the emergence of socialprejudices among others in mind as well as the pressure in the inner for each partner,emotional changes that can sometimes lead to quarrels in the household, and theirrelationship with parents, siblings, or friends become distant. While the positive impactare strengthening the relationship between husband and wife, and the increasingsupportive attitude to each other.Key words : younger husband-older wife, conflict management, social prejudicePENDAHULUANDewasa ini, perkawinan suami lebih muda dan isteri lebih tua semakinbanyak dijumpai di masyarakat. Perbedaan usia diantara mereka pun semakinbervariasi, mulai 1-2 tahun, sampai lebih dari 5-10 tahun. Ungkapan “Cintamemang buta, tak lagi memandang status, strata, apalagi usia.” layaknya tepatuntuk menggambarkan tipe perkawinan semacam ini. Hubungan percintaansemacam ini lebih dulu populer di kalangan selebritas yang kemudian seringkalimenjadi bahan perbincangan umum.Namun perkawinan antara pria lebih muda dengan wanita lebih tua inibukannya tanpa masalah, mereka seringkali dihadapkan pada prasangka sosial,yang wujudnya dapat berupa stigma negatif, gunjingan, cibiran, hinggapenolakan, terlebih lagi jika usia wanita tersebut terlampau lebih tua dari sangpria. Beberapa juga menganggap hal ini sebagai ketidaklaziman atau tabu.Berbagai stereotip secara konsisten juga diasosiasikan pada pasangan suami lebihmuda-isteri lebih tua.Terkait perbandingan usia antara pria dan wanita dalam sebuahperkawinan, sesuai dengan konsep pemikiran tradisional atau nilai yang dipegangdalam masyarakat idealnya adalah seorang pria menikah dengan wanita yanglebih muda. Usia suami yang lebih tua dipercaya akan membawa pernikahan kearah yang lebih baik, mengingat suami sudah sepantasnya menjadi sosokpemimpin, pengayom, dan pembimbing dalam rumah tangga dan keluarga. Halini juga sebenarnya tersirat dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun1974 dimana perbandingan usia dalam suatu perkawinan memperlihatkan bahwausia pria lebih tua daripada wanitanya. Dalam Pasal 7 Ayat 1 disebutkan bahwaperkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas)tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun.Dalam Teori Relational Dialektika, Baxter dan Montgomery menyatakanbahwa hubungan tidak terdiri atas bagian-bagian yang bersifat linear, melainkanterdiri atas fluktuasi yang terjadi antara keinginan-keinginan yang kontradiktif(West dan Turner, 2008: 236). Dialektis mengacu pada sebuah tekanan antarakekuatan-kekuatan yang berlawanan dalam sebuah sistem (Littlejohn, 2009: 302).Hubungan perkawinan dalam konteks suami lebih muda-istri lebih tuaberasumsi adanya dialektika yang bersifat kontekstual, yakni antara keputusanmereka untuk menikah berseberangan nilai yang dianut masyarakat yangmeyakini bahwa pernikahan biasanya terjalin antara pria yang lebih tua denganwanita yang lebih muda. Dialektika konstektual yang seperti ini, dinamakan olehRawlins (1992) sebagai dialektik antara yang nyata dan yang ideal. Keteganganantara dialektika yang nyata dan yang ideal (real and ideal dialectic) munculketika orang menerima pesan ideal mengenai seperti suatu hubungan itu, danketika melihat hubungan mereka mendiri, mereka harus menghadapi kenyataanyang berlawanan dengan yang ideal tadi.Perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua juga merupakan sebuahrelasi yang memuat unsur konflik di dalamnya. R.D Nye (1973) menilaiperbedaan nilai sebagai salah satu penyebab atau sumber konflik (dalam Rakhmat,2005: 129). Konflik terjadi karena adanya kontroversi. Sikap kontroversi munculkarena masing-masing pihak mempunyai sudut pandang analisis, argumen yangberbeda (Suranto, 2010: 111). Pertentangan nilai yang dianut pasangan suamilebih muda-isteri lebih tua dengan yang dianut masyarakat mengenaiperbandingan usia antara suami-istri yang ideal dalam perkawinan inilah yangmenjadi situasi konflik dalam relasi perkawinan tersebut. Konflik tidak berasaldari internal kedua belah pihak pasangan melainkan antara masing-masingpasangan dengan pihak di luar pasangan tersebut, yakni masyarakat sekitarmereka.Salah satu teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan pengelolaankonflik dalam penelitian ini adalah Teori Analisis Transaksional dari Eric Berne(1964) yang ditulis dalam bukunya Games People Play. Analisis transaksionalsebagai pendekatan komunikasi interpersonal, bertujuan mengkaji secaramendalam proses transaksi yang berlangsung dalam proses komunikasi, yaknimengenai siapa saja yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang diperlukan.(Andayani, 2009: 70). Selain itu penelitian ini juga berbasis pada metodepengelolaan konflik dari K.W Thomas dan R.H Kilmann (1974) yang dikenaldengan metode “The Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI)” tentangpengelolaan konflik yang terdiri atas lima gaya atau cara (five conflict-handlingmodes yang dapat dijabarkan ke dalam dua dimensi yaitu kepedulian terhadap dirisendiri (assertiveness) dan kepedulian terhadap orang lain (cooperativeness).PEMBAHASANUsia merupakan salah satu pertimbangan seorang pria atau wanita dewasadalam memilih pendamping hidup. Di dalam masyarakat pada umumnya terjadiadalah seorang pria yang lebih tua menikah dengan seorang wanita yang lebihmuda darinya. Namun kini fenomena perkawinan antara pria yang lebih mudadengan wanita yang lebih tua juga semakin banyak dijumpai di masyarakatumum, tidak hanya terbatas pada kalangan para pesohor yang lebih dahulupopuler. Perbedaan usia kedua pasangan itu pun bervariasi antara satu sampailima tahun atau lebih dari lima tahun.Konsep nilai tradisional mempercayai bahwa usia suami yang lebih tuadipercaya akan membawa pernikahan ke arah yang lebih baik, mengingat suamisudah sepantasnya menjadi sosok pemimpin dan pengayom dalam rumah tangga.Dengan demikian, perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua dianggap telahbertentangan atau “melanggar” nilai tersebut, sehingga pasangan yang menjalaniperkawinan tersebut seringkali dihadapkan pada prasangka sosial yang dapatmuncul dari lingkungan di sekitar mereka.Penelitian ini menguraikan tentang pengalaman pasangan suami lebihmuda-isteri lebih tua dan prasangka sosial yang mereka hadapi serta bagaimanamereka mengelola situasi tersebut. Penelitian ini melibatkan tiga pasangresponden yang memiliki perbedaan usia di atas lima tahun lebih tua isteridibandingkan suami serta telah menikah selama lebih dari sepuluh tahun. Lewatpenelitian ini peneliti berupaya menggambarkan bagaimana pasangan dengankondisi demikian mengelola konflik eksternal atau dalam hal ini prasangka sosialyang mereka hadapi karena kondisi perkawinan mereka dianggap tidak ideal olehmasyarakat di sekitar mereka. Dengan wawancara mendalam, penelitimengumpulkan informasi tentang kondisi rumah tangga mereka dan metodepengelolaan konflik yang mereka lakukan.Pembahasan tentang penemuan-penemuan penelitian ini menghasilkanbeberapa hal yang dapat disimpulkan dari penelitian yang telah dilaksanakan,yakni:1) Perbedaan usia antara suami dan isteri dalam pasangan suami lebih mudaisterilebih tua tidak menjadi suatu halangan bagi mereka untuk membinahubungan rumah tangga layaknya pasangan–pasangan lain. Walaupun secarabiologis isteri memiliki usia yang jauh lebih tua dibandingkan dengan suami.Namun ketika isteri mampu untuk membuat penampilan mereka lebih muda dansegar maka pasangan pun ini secara kasat mata terlihat layaknya pasanganpasanganpada umumnya. Sifat saling melengkapi yang dimiliki pasangan ini jugamenjadi hal yang mendukung terciptanya suasana rumah tangga yang selaras danbahagia.2) Prasangka sosial yang dialami oleh pasangan suami lebih muda-isteri lebihtua dapat dibedakan menjadi beberapa kategori. Pertama, prasangka sosial inimuncul ke dalam suatu bentuk pembiacaraan negatif (anti-lokusi) mengenaipasangan tersebut. Materi pembicaraan itu pun berkisar pada perbedaan usia diantara pasangan yang terlampau jauh sehingga dianggap tidak ladzim, perbedaanfinansial yang dimiliki pasangan dimana isteri diketahui ternyata lebih mapandibandingkan suami, dan latar belakang isteri yang sebelumnya pernah gagalmenjalin hubungan rumah tangga. Pembicaraan negatif ini juga termasuk didalamnya adalah gurauan yang tidak pada konteksnya dan sifatnya merendahkanatau menyinggung perasaan. Kedua, stereotip secara konsisten diasosiasikankepada masing-masing pasangan, baik suami maupun isteri yang menjalaniperkawinan semacam ini. Salah satunya adalah suami yang lebih muda seringkalimasih dianggap gemar mencari kesenangan pribadi dan kurang dapat diandalkan.Sedangkan isteri yang lebih tua juga masih dipandang akan lebih mendominasi didalam pola komunikasi keluarga tersebut, terlebih lagi jika isteri tersebut jugalebih mapan secara finansial dibandingkan sang suami. Ketiga, prasangka sosialjuga diwujudkan dalam bentuk penolakan dan penghindaran baik secarakomunikasi atau pun tindakan terhadap pasangan suami lebih muda-isteri lebihtua ini.3) Prasangka sosial adalah pengalaman yang kurang menyenangkan bagipasangan suami lebih muda-isteri lebih tua. Dampak negatif yang dialami olehpasangan akibat prasangka sosial tersebut antara lain, munculnya tekanan secarabatin atau pikiran yang dapat membuat pasangan terkadang merasa ragu akanhubungan mereka sendiri dan hampir tenggelam oleh suara-suara dari orang yangberprasangka. Pasangan yang menjalani perkawinan semacam ini membutuhkankesabaran yang lebih untuk membiasakan diri menghadapi prasangka sosial yangmuncul dari lingkungan sekitar mereka tersebut. Melalui penerimaan diri yangpositif, pasangan tersebut dapat mengubah prasangka sosial yang semula adalahancaman bagi keharmonisan rumah tangga mereka menjadi peluang bagi merekauntuk bersikap solid atau saling mendukung (supportif) membina keluarga yangkokoh dan bebas dari pengaruh penilaian orang lain.4) Pertentangan nilai yang dianut masyarakat dan pasangan informanmengenai perbandingan usia yang ideal antara suami dan isteri dalam suatuperkawinan yang kemudian melahirkan suatu prasangka sosial adalah bentukkonflik eksternal yang terjadi pada pasangan suami lebih muda-isteri lebih tua.Sangatlah penting bagi pasangan tersebut untuk mengetahui cara pengelolaankonflik agar keharmonisan rumah tangga dapat terjaga. Secara umum carapengelolaan konflik yang lebih sering dilakukan pasangan suami-isteri adalahdengan tetap fokus pada komitmen awal menjalin hubungan rumah tangga dantidak menaruh perhatian yang besar terhadap berbagai prasangka yang hadirdalam kehidupan mereka.PENUTUPPenelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi penelitian komunikasidalam mengkaji teori-teori yang berkaitan dengan Dialektika Relasional yangdikemukaan oleh Baxter dan Montgomery. Dalam teori tersebut hubunganpasangan suami-isteri bukan hanya dilihat dari pendekatan monologis maupundualistik yang melihat hubungan dimulai dari dekat menjadi sangat intimmelainkan bagaimana individu menangani pertentangan dalam hubungannya.Pasangan dalam kondisi demikian tidak perlu menutup diri dari pergaulansosial dan merasa malu atau rendah diri karena merasa atau dianggap berbedadibandingkan pasangan-pasangan suami-isteri pada umumnya. Pasangan suamiisteripun juga tidak perlu merasa terancam kehidupan rumah tangganya denganadanya prasangka sosial di seputar kehidupan mereka. Komitmen dari awal untukmembina rumah tangga yang harmonis kiranya harus terus dijaga agar pasangansemacam ini tidak tenggelam dalam suara-suara dan pendapat dari luar yang tidakselalu sesuai atau benar.Sebagai syarat menjadi pengayom dan pemimpin keluarga yang baik makakedewasaan pun diperlukan, salah satunya oleh masyarakat sosial hal ini dicirikandengan usia yang lebih tua. Nilai itu pun diteruskan secara turun-temurun darigenerasi ke generasi. Masyarakat seringkali tidak mau memahami kenapa ada priayang lebih muda mau menikah dengan wanita yang lebih tua. Memahamikeputusan orang lain memang tidak selalu mudah. Lebih mudah mengungkapkanketidaksetujuan dengan komentar atau ejekan. Perkawinan semacam ini pun padaakhirnya dijadikan sasaran prasangka sosial oleh masyarakat. Komentar negatifhingga penolakan seringkali ditujukan bagi pasangan tersebut. Seharusnyamasyarakat tidak mudah memberikan penilaian atau penghakiman (judgement)kepada seseorang tanpa mengetahui kebenaran atau alasan ketika seseorangmenjadi berbeda dengan apa yang biasanya terjadi dalam masyarakat itu sendiri.Masyarakat agaknya dapat lebih berempati dan lebih bijak lagi dalam menilaikarena pada hakikatnya manusia secara individu juga memiliki kemauan atauprinsip yang tidak dapat dikendalikan orang lain, termasuk dalam memilihpasangan hidup.Daftar Pustaka:Andayani, Tri Rejeki. 2009. Efektivitas Komunikasi Interpersonal. Semarang:Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.Beebe, Steven A. 2005. Interpersonal Communication Relation With Other.Boston: Pearson Education, Inc.Harsanto, Priyatno. 2006. Pendekatan Interpretif dalam Ilmu Sosial:Fenomenologi, Etnometodologi dan Simbolik Interaksionisme. Modul PelatihanPenelitian Kualitatif. Semarang: FISIP UndipKnapp, Mark L & Anita L. Vangelisti. 1992. Interpersonal Communication andHuman Relationships. Boston: Allyn and BaconKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Liliweri, Alo. 1991. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi. Jakarta:Salemba Humanika.Littlejohn. 1999. Theories of Human Communication. Belmont, California:Wadsworth Publishing Company.Moleong, Lexy J. Dr. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakaryaMorissan, M.A. 2010. Psikologi Komunikasi. Bogor: Ghalia IndonesiaMoustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. California: SagePublications, IncNarwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. 2007. Sosiologi Teks Pengantar danTerapan. Jakarta: Kencana Prenada.Older Women-Younger Men Relationships: The Social Phenomenon of„Cougars‟. A Research Note. Institute of Policy Studies, Working Paper, January2010.Olson, David H., dan John DeFrain. 2006. Marriages & Families: Intimacy,Diversity, and Strengths. Lindenhurst, NY: McGraw-Hill Humanities Social.Rakhmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya: Bandung.Thomas, K.W., & R.H. Kilmann. 1974. Thomas-Kilmann Conflict ModeInstrument. Sterling Forest, NY: Xicom, Inc.Tubbs, Stewart L., dan Sylvia Moss. 1996. Human Communication Prinsip-Prinsip Dasar Buku Pertama, diedit dan diterjemahkan oleh Dr. Deddy Mulyana,M.A. dan Gembirasari. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.West, Ricard dan Lyn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi Analisis danAplikasi Edisi 3. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.Sumber Internet:http://id.omg.yahoo.com/news/kisah-nunung-mencari-cinta.htmlhttp://www.vemale.com/relationship/love/13801-wanita-paruh-baya-suka-melirikpria-muda.htmlhttp://life.viva.co.id/news/read/321023-ada-apa-di-balik-wanita-pencinta--daunmudahttp://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/500613htttp://www.selebrita.com/entertainment/nassar-muzdalifah-menikah.html
INTIMATE RELATIONSHIP IN TA’ARUF COUPLE Marlia Rahma Diani; Sri Widowati Herieningsih; Turnomo Rahardjo; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.758 KB)

Abstract

Marriage is something coveted in every relation. There are some ways of introducing to acouple before the wedding. Ta’aruf couples through their introducing and also developing oftheir relationship in a very short. So they didn’t know each other in a specific things.Communication between ta’aruf couples also must go by a mediator. It causes for thedistortions messages in their communication. Besides information about the couple obtainedfrom the process of ta’aruf is also limited because of the intercommunication limits that mustbe obeyed restrictions in accordance with islamic syariah.The purpose of this research is to find the experience of the ta’aruf couples in undergothe process at the communication time and knowing that occur in pairs of closeness inrelationships or intimate relationship. The used theories are Penetration Social Theory byIrwin Altman Damask and Taylor and the Dialectics Relational Theory by Baxter andMontgomery. To describe in detail to the development of intimate relationship in the ta’arufcouples. This research is using qualitative methodology with the approach phenomenology.Subject in this research is the newly married ta’aruf couples, with two or three months ofmarried using ta’aruf process.Based on the results, ta’aruf became a means to know each other and get informationfrom each other to minimize uncertainty information between one another. The ta’arufcouples began to minimize the uncertainly general information of themselves by exchangetheir curriculum vitae who mediated by a mediator.Trust, self disclosure, and responsibilities are becoming a key in relations developingfor a familiar intercourse between ta’aruf couples. In facing a conflict, a ta’aruf couple like todiscussing with a mediator to the conflict that appears. So it would not be a failed factor inta’aruf process.
Strategi Public Relations Majlis Tafsir Al-Qur’an dalam Pengelolaan Krisis Dampak Isi Siaran Dakwah Islam pada Komunitas Masyarakat Blora Anindhita Puspasari; Much. Yulianto; Turnomo Rahardjo; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.112 KB)

Abstract

Perbedaan pandangan mengenai Islam sering kali terjadi antar organisasi – organisasi Islam. Tidak dipungkiri perbedaan pandangan dalam keyakinan yang sama pun dapat menimbulkan konflik. Konflik dalam Islam yang dipicu dengan perbedaan pandangan pernah dialami oleh Majlis Tafsir Al-Qur’an di desa Kamolan Blora pada tahun 2012. Konflik disebabkan beberapa faktor diantaranya isi siaran dakwah yang cenderung keras dan berani, memuat perbedaan pandangan dalam ajaran Islam diantara kelompok – kelompok organisasi Islam yang lain. Akibat yang akan timbul apabila terjadi sebuah konflik yang menimpa organisasi ialah krisis yang dapat mengganggu kestabilan organisasi. Organisasi dapat dikatakan sedangan mengalami krisis ialah ketika terjadi peristiwa, rumor, atau informasi yang membawa pengaruh buruk terhadap reputasi, citra, dan kredibilitas dalam organisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi public relations Majlis Tafsir Al-Qur’an dalam pengelolaan krisis isi siaran dakwah Islam pada komunitas masyarakat Blora. Pendekatan metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini termasuk kategori kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Pendekatan manajemen krisis yang dilakukan melalui beberapa tahapan diantaranya analisis situasi, penetapan tujuan, identifikasi khalayak, strategi dan taktik yang digunakan, serta evaluasi. Dalam prosesnya, perencanaan komunikasi pengelolaan krisis tidak dilakukan secara spesifik. Dalam penyelesaiannya, Majlis Tafsir Al-Qur’an melakukan beberapa pendekatan diantara pendekatan hukum, personal, serta media relations. Sebagai respon organisasi pasca krisis Majlis Tafsir Al-Qur’an secara inisiatif melakukan program – program CSR. Berhasil atau tidaknya sebuah kegiatan komunikasi sangat ditentukan melalui kegiatan evaluasi. Majlis Tafsir Al-Qur’an belum melakukan kegiatan – kegiatan komunikasi secara maksimal. Sebagai lembaga yang besar, perlu untuk memiliki tim PR serta tim manajemen yang mampu menjalankan fungsi dan peran PR dalam organisasi yaitu sebagai pembangun opini, persepsi, citra baik bagi organisasi dalam prinsip – prinsip hubungan yang harmonis, baik internal relations maupun external relations.
MEMAHAMI IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI DALAM FORUM KELOMPOK USAHA BERSAMA (KUB) NELAYAN TAMBAK LOROK Isabela Laras Anindyo; Turnomo Rahardjo; Hapsari Dwiningtyas Sulistyani
Interaksi Online Vol 10, No 1: Januari 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Forum Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Tambak Lorok as a fisherman organization formed by Dinas Kelautan Kota Semarang with the aim of improving the welfare of self-reliance. In fact, fishermen have another goal in organization which causes low productivity inside. The existence of an organizational communication climate affects organizational productivities. For this reason, this study aims to describe the organizational communication climate which formed in the Forum based on the dimensions of openness communication, supportiveness, participation in decision making and high work motivation of members. This study uses a qualitative research method with an ethnographic approach to communication that is supported by the concept of Organizational Communication Climate. The research subjects are the committee and members of the Forum Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Tambak Lorok. Based on the data which obtained through observation and interview, the result shows that the communication behaviours of members in Forum indicate a closed communication which can be seen from verbal and non-verbal communication that appears such as distance, non-dramatizing attitudes, and unfriendly attitudes. The unsupportive attitude is also seen among members which is indicated by low concern for fellow members, indifferent attitude, and a low sense of belonging. Unsupportive behavior is motivated by the "I" or "selfness" mindset which prioritizes personal interests rather than togetherness. This mindset leads to the high work motivation of Forum members to only get material assistance. Member’s participations are relatively low in decision-making forums due to the dominance of the committee. Based on the communication behavior in the Forum viewed by the dimensions of the organizational communication climate, it can be concluded that the organizational communication climate formed in the Forum Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Tambak Lorok is an unfavourable climate.
Representasi Perempuan dalam Budaya Patriarki (Studi Semiotika pada Film Sang Penari) Jenny Putri Avianti; Hedi Pudjo Santosa; Turnomo Rahardjo; M Bayu Widagdo; Hapsari Dwiningtyas
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.024 KB)

Abstract

Film merupakan media massa yang paling efektif untuk menyebarkan ideologi-ideologi baru pada masyarakat. Sekarang ini, sebuah film dapat berpengaruh terhadap perilaku sosial dalam masyarakat, tentunya sesuai dengan pesan apa yang di dapat dari sebuah film yang mereka nikmati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika untuk menganalisa obyek audio-visual yang diteliti. Teknik analisa data menggunakan teori John Fiske “the codes of television”. Film Sang Penari diuraikan secara sintagmatik pada level realitas dan level representasi. Sedangkan penguraian level ideologi menggunakan analisa secara paradigmatik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perempuan di representasikan dalam film Sang Penari. Film ini menggambarkan budaya patriarki yang sangat lekat dengan budaya Jawa. Ketimpangan gender dan penindasan terhadap perempuan penari ronggeng memunculkan wacana yang berkembang di masyarakat bahwa ronggeng identik dengan kekerasan dan praktik pelacuran terselubung. Penggunaan istilah “tradisi” menjadikan penari ronggeng sebagai wanita terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di masyarakat. Akan tetapi, status terhormat tersebut hanya untuk melegalkan proses pelacuran terselubung pada penari ronggeng. Hasil dari penelitian ini yakni perempuan pekerja seni terutama penari ronggeng dalam film Sang Penari hanya dianggap sebagai penghibur laki-laki bukan perempuan yang memiliki bakat bernyanyi dan menari. Film ini juga menunjukkan kemandirian dan kemampuan perempuan penari ronggeng sebagai seorang penghibur atau seniman. Kata kunci : Film, Perempuan, Patriarki
MEMAHAMI PEMELIHARAAN HUBUNGAN ANTAR PRIBADI DALAM HUBUNGAN SUAMI DAN ISTRI YANG MEMILIKI PERBEDAAN TINGKAT PENGHASILAN Asri Rachmah Mentari; Sri Widowati Herieningsih; Agus Naryoso; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.564 KB)

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada ketidakmampuan seorang suami untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehingga mendorong istri untuk ikut bekerja menafkahi keluarga. Seorang istri yang bekerja dan memiliki penghasilan yang lebih tinggi menimbulkan perubahan pembagian tanggung jawab dan peran dari masing-masing pasangan, perubahan tersebut memberikan dampak pada proses pemeliharaan hubungan, keseimbangan dan kepuasan hubungan diantara suami dan istri sebagai upaya menjaga keharmonisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengalaman hubungan antar pribadi suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan terkait dengan proses pemeliharaan hubungan, dan untuk mengetahui kepuasan dan keseimbangan hubungan yang diperoleh pasangan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Relational Dialektic Theory (RDT), Equity Theory, dan konsep mengenai peran dalam keluarga, aspek-aspek pemeliharaan hubungan antar pribadi, dan aspek-aspek kepuasan hubungan antar pribadi. Teknik analisis yang digunakan adalah mengacu pada metode fenomenologi dari Von Eckartsberg, dan subjek penelitian adalah pasangan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam hubungan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan mengalami ketidakseimbangan pembagian tanggung jawab sehingga mengarahkan pada perubahan peran, selain itu pasangan suami dan istri merasakan adanya kontradiktif dalam diri mereka antara harapan dengan realita hubungan yang dijalani. Upaya pemeliharaan hubungan yang dilakukan masih pada tahap keakraban yaitu pasangan hanya saling terikat, berkomitmen dan membina primary relationship. Pasangan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan masih dimungkinkan memperoleh keseimbangan dan kepuasan hubungan, selama keduanya menilai perbedaan sebagai suatu hal yang konstruktif dan menerapkan sistem sharing. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan metode penelitian lain seperti metode studi kasus, dan dapat menemukan variasi pengalaman pada hubungan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan.
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI INSTRUKSIONAL GURU DALAM MENGEMBANGKAN MINAT DAN BAKAT SISWA TUNAGRAHITA Yuanita Putri Melati; Turnomo Rahardjo; Taufik Suprihartini; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.707 KB)

Abstract

Siswa tunagrahita merupakan siswa dengan keterbatasan intelegensi. Keterbatasanintelegensi menyebabkan lemahnya kemampuan komunikasi siswa tunagrahita.Siswa tungarhita kerap dianggap “tidak berguna” dan memliki masa depan yangkelam. Namun, dengan pendidikan dan penanganan dari sekolah dan guru yangsesuai dengan kemampuan dapat melatih ketrampilan siswa tunagrahita sehinggamenjadi pribadi yang mandiri di tengah masyarakat. Keterbatasan komunikasiyang dimiliki siswa tunagrahita menjadi salah satu kendala guru dalam usahanyauntuk memberikan pengajaran kepada siswa tunagrahita.Penelitian yang bertujuan menjelaskan pengalaman komunikasiinstruksional guru dengan siswa tunagrahita ini menggunakan pendekatankualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Coordinated Management OfMeaning dariW. Barnett Pearce dan Vernon Cronen (1980), konsep mengenaikomunikasi instruksional, dan Teori Belajar Aperpesi menurut Johan F. Herbartdari abad 20. Teknik analisis yang digunakan adalah mengacu pada metodefenomenologi dari Von Eckartsberg, dan subjek penelitian adalah guru kelasketrampilan SLB Negeri Semarang yang mengampu siswa tunagrahita.Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam memberikanpembelajaran kepada siswa tunagrahita, guru berusaha menjalin “ikatan” agardapat memahami karakter dan latar belakang siswa. Hal ini berguna untukmenentukan pola pembelajaran yang sesuai bagi masing-masing siswa. “Ikatan”tersebut dihasilkan melalui interaksi dan sharing yang dilakukan sehari-hari olehguru di sekolah kepada siswa tunagrahita. Melalui interaksi dan sharing, gurumendapat pemahaman tentang latar belakang dan karakteristik masing-masingsiswa. Pemahaman karakter siswa berpengaruh pada pola pembelajaran yangdigunakan guru untuk mengembangakan potensi siswa. Pola pembelajaran yangdigunakan oleh guru dengan memberikan demontrasi dan mengikuti imajinasisiswa. Hal ini juga untuk melatih kemampuan komunikasinya. Guru dituntut lebihaktif dalam berinteraksi dengan siswa di kelas. Hal ini bertujuan agar siswamerasa nyaman dan semangat belajar di kelas. Kendala yang dihadapi guru dalammengembangkan minat dan bakat siswa tunagrahita adalah keadaan siswa tersebutyang memiliki disabilitas intelektual serta orang tua siswa yang kurang memberidukungan. Guru aktif berdiskusi dengan keluarga dan orang tua siswa berkaitankelas ketrampilan yang sesuai dengan minat dan bakat siswa tunagrahita.
Co-Authors ., Muchibuddin Abdul Malik, Aminullah Adhi Wiryawan, Yudho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adinda, Sarah ADITYA FAHMI NURWAHID Adiyatma, Irfandhika Afri Setya, Rega Agus Naryoso Aisyah Monicaningsih Aisyah Nadhilah Arsyi Malik Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Ajeng Gendari Sayang Aji Kurniawan Ade Purwanto Alif Hibatullah Alifati Hanifah Almanda Prinarenti, Aurelia Amelia Monica Amida Yusriana Andrio, Bimo Anindhita Puspasari Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annie Renata Siagian Annisa Widya Paramitha Annisa Zetta Afiatni Aprilla Agung Yunarto Arif Andhika, Wisnu Arlinda Nurul Nugraharini Asri Rachmah Mentari Asteria Agustin Asyhab Arno Wijaya Aurisa Hangesti Putri Avianto Aryo Wicaksono Ayu Lestari, Mega Ayu Permata Sari Ayudia Putri, Rakhma Azif, Zahra Bayu Hastinoto Prawirodigdo Bayu Widagdo, Muhammad Bening Shabilla Utami Bonaventura Paskaris Kusuma Aji Brillian Barro Vither Conny Brilliant Dwikananda, Kartika Dalil, Firas Dea Dwidinda Lutfi Desastri Ahda Ramadhan, Pimpi Destika Fajarsylva Anggraini Devi Pranasningtias Indriani DEWI IRAWATI Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Obwid Robertus Belarmino Malau Dinaharilala Olivia, Randrianarison Dini Tiara I Dipa Wirayatama Diva Sinar Rembulan Dizafia Zafira Mayyasya Djoko Setyabudi DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dr. Sunarto Dra Taufik Spurihartini Dwi Amanda, Visca Dyah Woro Anggraeni Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elvina Ghozali Erva Maulita Eva Ratna Hari Putri Fariz Dewanto Fatia Maharani Fauzi, Aldi Febrian Aditya Putra Fitria Mahdiyyani, Anisah Fitria Purnama Sari Fransiska Indria Widiasari Gatikasari Mujiastuti Geta Ariesta Herdini Gilang Maher Pradana Gusti Purbo Darpitojati Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hasibuan, Anra Muliasih Sah Bakti Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilham Prasetyo Indra Bagus Kurniawan Irfan Zuldi Isabela Laras Anindyo Isti Murfia Jenny Putri Avianti Jonathan Dio Sadewo Joyo Nur Suyanto Gono Kania Azzahra Wibowo Kania Salsabila Putri Rachmadi Karina Puspadiati Kartika, Muh. Medriansyah Putra Kevin Purba Khurrosidah, Sela Kusuma, Ivana Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Rahmiaji Lucia Eka Pravitasari M Bayu Widagdo Maharani Easter Makarim, Nabil Marlia Rahma Diani Marshya Camillia Ariej Martha Caesarin Putri Yulinta Martina Aurelia Carissa Maulana Khalidin . Maulana Ocky Adhicondro Meidiza Firda Mapikawanti Miftakhul Noor Alfiana Mirtsa Zahara Hadi Monica Hayunindya Patria Paramesthi Much Yulianto Much. Yulianto MUCHAMAD MACHBUB LUTFI Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat Mujahidah Amirotun Nisa Nadhila Prisca Anjani M Nadif Rizqulloh, Muhammad Nadila Opi Prathita Sari Naga Mulia, Wim Naomi Uli Quanti Siahaan Narayani Aberdeen, Avi Nastiti Laksmita Adi Nikolas Prima Ginting NIKOLAUS AGENG PRATHAMA NOVI ADI PUSPITANINGRUM Nur Rahmi, Faurina Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Athira Yahya Nurul Hasfi Nurul Hikmah Octaviani, Averina Olina Hartani Muliani Gultom Osa Patra Rikastana Pandu Hidayat Paskah M Pakpahan Pratiwi, Silvi Primada Qurrota Ayun Puspita Dea Chantika Qonita Andini, Annisa Qury Aini R. Milwanda Nadika S. Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rezeki Amalia, Annisa Ricki Apriliono Rifki Nur Pratiwi Rindiana Kiswari Rizki Fajar Bagaskoro, Sektianto Rizki Kurnia Yuniasti ROBBIANTO ROBBIANTO Rosa Humaira, Almira Rossa Oktaviyani S Rouli Manalu Sabda Nugraha, Detrina Sahfitri, Dwina Salsabila Putri Wasesa, Meidyana Salshabila Putri Persada Sarah Indah Putri Sasaningtawang, Bening Saviera Maharani Doniyar Sefti Diona Sari Sessy Refi Sanina Shafa Amanda, Karina Shafira Inas Nurina Silas Hamenyimana Sony Kusuma Anugerah Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Devi Valentina Simamora Devi Valentina Simamora Sri Nofidiyahwati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tandiyo Pradekso Tansha Nastiti, Talitha Taufik Suprihartini Taufik Suprihartini . Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Tiara Astra Parahita Tiara Ayu Raharjo Tri Yoga Adibtya Tama Trinata Anggarwati, Bunga Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro . Viviana Ardine Mutiara K F Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Nur Hidayati Wiwid Noor Rakhmad Wuriani, Wuriani Yanuar Luqman Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yobelta Kristi Ayuningtyas Yoga Yuniadi Yolanda Audrey Yuanita Putri Melati Yuliana Harianja Yusriana, Amida