Claim Missing Document
Check
Articles

Found 161 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

Mengidentifikasi Faktor-Faktor Motivasi yang Memengaruhi Perilaku Memainkan Game RPG (Role-Playing Games) Produksi Luar Negeri oleh Pemain Game di Kota Semarang Maulana Ocky Adhicondro; Turnomo Rahardjo; Nurist Surayya Ulfa; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.202 KB)

Abstract

Game merupakan salah satu bentuk implementasi dari kemajuan teknologi di ranah media komunikasi. Game dapat digunakan sebagai media penyampai pesan dan memungkinkan adanya feedback dari pesan tersebut. Game juga didesain sebagai sarana hiburan untuk mengisi waktu luang yang dibuat universal. Namun kenyataannya, beberapa game yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia tidak dibuat universal. Dalam beberapa game beraliran role-playing game (RPG) memuat konten kekerasan, seksual dan nilai-nilai lain yang tidak sesuai dengan nilai kultur lokal khususnya Indonesia. Meskipun mengandung perbedaan, banyak dari kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di Kota Semarang masih tetap memainkan game RPG tersebut dengan berbagai motivasi atas dasar alasan dan tujuan tertentu.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor motivasi yang memengaruhi perilaku memainkan game RPG produksi luar negeri oleh pemain game Indonesia di Kota Semarang. Penelitian ekploratif kuantitatif ini menghimpun data primer dari 100 orang dengan kuesioner. Data dianalisis dengan teknik analisis faktor. Sebanyak 18 faktor telah diuji dengan KMO dan Bartlett’s Test diketahui nilainya 0,958 dengan signifikansi 0,000. Kemudian melalui perhitungan model Principal Component Analysis (PCA) diperoleh 4 kelompok faktor yang memuat 18 faktor yang diuji, dengan kata lain, seluruh faktor yang diuji lolos. Keseluruhan faktor tersebut memberikan kontribusi sebesar 65,367 persen terhadap motivasi memainkan game RPG asing tersebut.Social Factor adalah faktor motivasi yang paling berpengaruh. Diketahui faktor ini menyumbangkan sebanyak 40,663 %. Faktor ini dilabeli social factor karena terdiri dari motivasi untuk berinteraksi dan berkompetisi dengan pemain lain. motivasi ingin mengoptimalkan performa karakter dalam game motivasi ingin menjadi orang lain dan motivasi ingin memperoleh pengetahuan. Ketiga variabel utama dari faktor ini yakni teamwork, socializing dan relathionship termasuk dalam social gratification yaitu suatu bentuk gratifikasi yang mengarah pada keuntungan sosial apa yang didapatkan pemain game dengan memainkan game tertentu.
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI WANITA BERCADAR DALAM PENGEMBANGAN HUBUNGAN DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL Yenny Puspitasari; Turnomo Rahardjo; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.475 KB)

Abstract

Memahami Pengalaman Komunikasi Wanita Bercadar dalam Pengembangan Hubungan dengan Lingkungan SosialABSTRAKKehidupan wanita bercadar di Indonesia menjadi sorotan masyarakat sejak kejadian teror di berbagai wilayah Indonesia yang sebagian besar melibatkan wanita bercadar di dalamnya. Wanita bercadar kemudian diidentikkan dengan terorisme sehingga dalam kehidupannya wanita bercadar menjadi sulit berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Masyarakat pun berusaha menutup diri dengan hadirnya wanita bercadar di lingkungan mereka, hal ini dibuktikan dengan banyak kasus wanita bercadar yang dikucilkan dari lingkungan.Studi ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang berupaya memberikan penjelasan tentang pengalaman komunikasi wanita bercadar dalam pengembangan hubungan dengan lingkungan sosialnya. Penulis menggunakan Teori Penetrasi Sosial, Teori Pengembangan Hubungan, Teori Kompetensi Komunikasi dan Teori Adaptasi untuk memahami bagaimana individu bercadar berkomunikasi dan menjalin kedekatan dengan orang lain. Informan dalam penelitian ini berjumlah empat orang, dimana terdiri dari dua wanita yang mengenakan cadar dan dua wanita yang tidak mengenakan cadar.Temuan penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menggunakan cadar tidak selalu menutup diri dengan lingkungan sekitar. Bahkan di satu sisi, wanita bercadar memiliki potensi-potensi yang dapat dikembangkan dan bermanfaat bagi lingkungan. Kepercayaan diri dan konsep diri yang positif menjadi hal utama yang harus dimiliki oleh wanita bercadar dalam berkomunikasi dengan orang lain. Wanita bercadar juga mempunyai kompetensi komunikasi yang berbeda satu sama lain, artinya komunikasi dengan orang lain dipengaruhi oleh kompetensi komunikasi masing-masing individu. Jika seorang individu mempunyai kompetensi komunikasi yang baik, maka komunikasi akan berjalan dengan baik pula. Dalam hal pengembangan hubungan, informan bercadar juga pernah mengalami kegagalan maupun keberhasilan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kegagalan komunikasi biasanya terjadi karena mereka gagal melawan hambatan psikologis yang menghalangi mereka yaitu stigma masyarakat. Sementara itu, temuan penelitian juga menemukan bahwa kedua informan bercadar belum konsisten mengenakan cadar dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini dikarenakan adanya hambatan diantaranya keterbatasan komunikasi ketika berada di ruang publik dan adanya ketidaksetujuan keluarga dalam keputusan menggunakan cadar.Implikasi penelitian ini secara akademis adalah memperluas pengayaan teoritik mengenai hubungan komunikasi interpersonal dengan nilai-nilai dalam keyakinan. Dalam tataran praktis, studi ini menjelaskan tentang bagaimana seharusnya wanita bercadar melakukan komunikasi yang baik dalam masyarakat sehingga masyarakat dapat mengurangi stereotype dan menghapus stigma. Sementara sebagai implikasi sosial, penelitian ini merekomendasikan kepada masyarakat agar lebih terbuka terhadap wanita bercadar untuk menekan terjadinya konflik dalam hubungan dengan wanita bercadar karena prasangka yang dominan.Kata kunci: pengalaman, cadar, komunikasi, pengembangan hubunganUNDERSTANDING WOMEN WITH VEIL COMMUNICATION EXPERIENCE IN DEVELOPING RELATIONSHIP WITH SOCIAL ENVIRONMENTABSTRACTVeiled woman's life in Indonesia public spotlight since the incident of terror in various regions of Indonesia are mostly involved them. Veiled woman later identified by linkage to terrorist activities so that veiled women in their live find it difficult to communicate with the surrounding environment. The community tried to cover herself with presence of veiled women in their environment, this was evidence by many cases of veiled women were exclude from the environment.This study is a qualitative descriptive study with a phenomenological approach seeks to provide an explanation of veiled women communication experience in developing relationships with their social environment. The author uses social penetration theory, theory of relationship development, communication competence theory and theory of adaptation to understand how individual communicate and veiled attachment to another person. Informants in this study were four people in this study, which consist of two women wearing veils and two women who were not wearing a veil.The study findings indicate that women who use veil does not always cover themselves with their surrounding. Even on the one hand, the veiled woman has potential to be develop and benefit the environment. Confidence and a positive self-concept to be main thing that must be own by a woman veiled in communicate with other. Veiled women also have different communication competence of each other, that communication with other is influence by communication competence of each individual. If an individual has good communication competence, then relationship will run well too. In terms of develop relationship, veiled informants also experienced failures as well as success in communicating with other. Communication failure usually occurs because they fail to resist the psychological barriers that prevent them from stigma society. Meanwhile, the finding of the study also found that both informants veiled were not consistent to wear a veil in the day-to-day activities. This happen because in some situations they feel that they wear veil limitedness communications with others.Implication of this study is to expand academic enrichment of the theoretical relationship interpersonal communication with the values of the faith. In practical terms, this study describes how a woman should be veil to do good communication within the community so that people can receive their state. While the social implication, the study recommends to community to be more open to women veiled and suppress the occurrence of conflict in a relationship with a woman wearing a veil.Keywords: experience, veil, communication, relationship developmentSkripsi berjudul “Memahami Pengalaman Komunikasi Wanita Bercadar dalam Pengembangan Hubungan dengan Lingkungan Sosial” ini berawal dari keprihatinan penulis melihat kondisi dimana wanita bercadar di Indonesia khususnya menjadi kelompok yang minoritas dalam masyarakat. Wanita bercadar menjadi pihak yang berada dalam kondisi sulit untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar karena stigma masyarakat yang negatif tentang mereka yaitu cadar mereka dikaitkan dengan tindakan terorisme.Muncul gagasan di dalam diri penulis mengenai bagaimana sebaiknya wanita bercadar berkomunikasi di dalam masyarakat. Bagaimana mereka bisa diterima di masyarakat tanpa predikat “teroris” seperti yang mereka terima saat ini. Secara praktis, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana wanita bercadar menjalin komunikasi dengan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya. Dari situ dapat diketahui apakah komunikasi yang mereka lakukan itu sudah tepat atau belum. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu mengembangkan pemikiran teoritik tentang teori pengembangan hubungan terutama hubungan komunikasi antara individu dari kelompok minoritas dengan individu dari kelompok mayoritas. Dan secara sosial, penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengertian kepada masyarakat tentang pentingnya toleransi, mampu menerima kehadiran individu individu bercadar dalam masyarakat tanpa memberikan predikat “teroris” serta meminimalisir terjadinya konflik dalam interaksi.Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan fenomenologi yang berupaya menjelaskan pengalaman individu bercadar dalam mengembangkan hubungan dengan lingkungan sosialnya. Penelitian diawali dengan penetapan tujuan penelitian dan pemilihan subyek penelitian. Selanjutnya dengan menggunakan instrumen indepth interview penulis mengumpulkan data pengalaman individu dalam berkomunikasi dengan orang-orang di lingkungan sosialnya. Dalam penelitian ini penulis melibatkan dua informan bercadar dandua informan yang tidak bercadar yang berada di lingkungan sosial dimana wanita bercadar tersebut berinteraksi.Penelitian ini berfokus pada interaksi yang terjadi antara wanita bercadar dengan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya. Interaksi yang terjadi meliputi latar belakang, motivasi, aktivitas komunikasi, stigma dan pengelolaan konflik serta kondisi psikologis wanita bercadar. Hasil wawancara dengan informan kemudian diterjemahkan secara tekstural dan struktural serta tekstural struktural gabungan dan dianalisis dengan menggunakan metode analisis data Van Kaam. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kompetensi Komunikasi, Teori Pengembangan Hubungan, Teori Penetrasi Sosial dan Teori Adaptasi.Data berupa hasil wawancara mendalam terhadap para informan tersebut menjadi bekal bagi penulis untuk menyusun deskripsi tematis, deskripsi tekstural, dan deskripsi struktural. Setelah mendeskripsikan hasil temuan secara tekstural dan struktural tentang pengalaman individu bercadar dalam berkomunikasi dengan individu lain di lingkungan sosialnya, penulis menyusun sintesis makna tekstural dan struktural yang bertujuan untuk menggabungkan secara intuitif (intuitive integration) deskripsi tekstural dan struktural ke dalam sebuah kesatuan pernyataan mengenai esensi pengalaman dari suatu fenomena secara keseluruhan. Dan pada tahap terakhir penulis merumuskan kesimpulan beserta implikasi teoretis, praktis, dan sosial dari keseluruhan hasil penelitian.Pembahasan mengenai temuan studi ini menghasilkan beberapa hal, diantaranya:1)Masyarakat cenderung melekatkan stereotype negatif kepada wanita bercadar sebagai bagian dari terorisme dan dianggap mengancam.2)Masyarakat menganggap bahwa wanita bercadar cenderung menutup diri dan tidak mau bergaul dengan lingkungan.3)Tidak semua wanita bercadar itu hidup tertutup dan tidak mau bergaul dengan lingkungan. Salah satu subyek penelitian ini membuktikan bahwa sebagai wanita bercadar, dia mampu menunjukkan keberhasilannya dalam menjalankan bisnis. Cadar tidak menghalanginya dalam menjalankan roda bisnisnya.4)Wanita bercadar mencoba menerima keadaan mereka yang dianggap sebagai bagian dari terorisme. Namun mereka mencoba melawan pandangan masyarakat itu dengan melakukan hal-hal positif sehingga mereka berharap masyarakat akan menilai mereka positif.5)Meskipun sebagian besar masyarakat mempercayai bahwa wanita bercadar dekat dengan terorisme, ternyata ada sebagian masyarakat yang masih menganggap mereka sebagai seorang individu, bukan sebagai seseorang yang mempunyai atribut tertentu seperti cadar. Mereka menjalin komunikasi sebagaimana menjalin komunikasi dengan orang lain.6)Seorang wanita bercadar membutuhkan kompetensi komunikasi yang baik ketika akan menjalin komunikasi dengan orang lain. Ada pengetahuan, kemampuan dan motivasi yang harus mereka miliki untuk lebih dekat dengan orang lain.7)Wanita bercadar dan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya juga harus memiliki kemampuan adaptasi yang baik dengan orang lain. Self Disclosure merupakan hal yang penting dalam berkomunikasi agar mereka tidak dianggap sebagai kelompok eksklusif.8)Dalam menghadapi konflik, wanita bercadar dan orang di lingkungan sosialnya hendaknya memahami cara-cara penyelesaian konflik yang baik sehingga tercipta win-win solution dalam suatu hubungan.Secara akademis (teoritis) penelitian ini berhasil memberikan kontribusi bagi penelitian ilmu komunikasi dalam mengkaji teori-teori yang berkaitan denganpengembangan hubungan dalam komunikasi interpersonal. Dalam Teori Pengembangan Hubungan, penelitian ini membuktikan bahwa ada tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang individu dalam melakukan aktivitas komunikasi dengan individu lain. Dengan mengkiuti fase-fase tersebut diharapkan individu mampu menjalin komunikasi yang baik sehingga tercipta iklim komunikasi yang baik juga. Sementara dalam Teori Kompetensi Komunikasi, seorang individu harus memiliki kompetensi komunikasi yang baik (meliputi pengetahuan, motivasi dan kemampuan komunikasi) sehingga dia mampu menjalin hubungan dengan baik dengan lingkungannya. Kompetensi komunikasi yang tidak baik, akan membuat individu menjadi kesulitan dalam berkomunikasi. Dalam Teori Adaptasi, seorang individu yang berasal dari golongan minoritas memang harus lebih pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar tempat dia berada sehingga kehadirannya dapat diterima dengan baik. adaptasi yang tidak baik akan membuat individu meraa terkucil dari lingkungan. Terakhir dalam Teori Penetrasi Sosial, individu yang ingin mencapai tataran hubungan yang akrab membutuhkan pengungkapan diri secara pribadi sehingga masing-masing pihak saling mengetahui satu sama lain. Pemikiran teoritik yang bisa dikembangkan dari penelitian ini adalah sebuah pengayaan mengenai hubungan komunikasi interpersonal dan nilai-nilai dalam keyakinan.Dalam tataran praktis, penelitian ini dapat memberikan referensi tentang pengalaman komunikasi antara wanita bercadar dengan orang-orang di sekitarnya. Penelitian ini menjelaskan bagaimana proses adaptasi, kompetensi komunikasi seperti apa yang lakukan oleh informan dalam pengembangan hubungan. Penelitian ini memberikan suatu referensi bagi wanita bercadar agar mampu menciptakan aktivitas komunikasi yang baik sehingga keberadaan mereka di masyarakat dapat diterima dengan baikpula. Secara sosial, melalui pengalaman-pengalaman komunikasi informan bercadar dan yang tidak bercadar dalam penelitian ini, masyarakat hendaknya memahami bahwa berkomunikasi dengan wanita bercadar bukanlah hal yang menakutkan. Memandang seorang wanita yang mengenakan cadar dengan sebelah mata dan stigma yang negatif juga sebaiknya tidak dilakukan karena mereka juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang lain. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan implikasi yaitu mengurangi stigma negatif mengenai wanita bercadar dan mengeliminasi terjadinya konflik di dalam masyarakat.Penelitian ini tentunya memiliki keterbatasan-keterbatasan yaitu di antaranya:1) Dalam penelitian ini, penulis tidak bisa menghadirkan sosok laki-laki sebagai informan, sehingga pengalaman interaksi wanita bercadar dengan laki-laki kurang bisa digali secara lebih detil. Misalnya bagaimana pola komunikasi yang terjadi antara informan bercadar dengan laki-laki. Bagaimana romantic relationship yang terjadi diantara wanita bercadar dengan seorang laki-laki, bagaimana penyelesaian konflik antara wanita bercadar dengan laki-laki dll.2) Penggalian informasi oleh penulis kurang mendalam karena pada tema-tema tertentu, informan merasa bahwa penulis sudah banyak mengetahui tentang tema tersebut sehingga informan memberikan penjelasan yang kurang detil.DAFTAR PUSTAKABuku•Budyatna, Muhammad dan Leila Mona Ganiem. (2011). Teori Komunikasi Antarpribadi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.•Bungin, Burhan (Eds). (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.•Cupach, William R and Daniel J. Canary. (1997). Competence in Interpersonal Conflict. United States of America: Waveland Press, Inc.•Denzin, Norman K and Yvonna S. Lincoln. (2005). Qualitative Research 3rd Edition. California: SAGE Publication.•Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia, Kuliah Dasar Edisi Ke-lima. Jakarta: Professional Books.•Littlejohn, Stephen W and Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi, Theories of Human Communication Edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika.•Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. California: Sage Publication.•Saverin, J Werner dan James W. Tankard Jr. (2007). Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan terapan di Dalam Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.•Soemanto, Wasty. (1987). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Bina Aksara.•Tubbs, Steward L and Sylvia Moss. (1996). Human Communication, Prinsip-prinsip Dasar.. Bandung: PT Remaja Rosadakarya.•Winardi. (1992). Manajemen Perilaku Organisasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.•Tim Penyusun Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro tahun 2010.Proceeding Konferensi•Chariri, Anis. (2009). Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitiatif (pdf). Makalah. Disajikan dalam Workshop Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro Semarang (31 Juli-1 Agustus 2009) : 1-13.Jurnal•Jubaedah, Edah. (2009). Jurnal Ilmu Administrasi (pdf), Analisis Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Kompetensi Komunikasi Dalam Organisasi: 370-375•Ratri, Lintang. (2011). Cadar, Media dan Identitas Perempuan Muslim (pdf). Jurnal Ilmiah Forum Universitas Diponegoro: 29-37.Skripsi•Sapto, Hari. (2009). Memahami Makna Jilbab dan Mengkomunikasikan Identitas Muslimah. Universitas Diponegoro.Internet:• (http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatfatwa&id=760).• (http://www.artikata.com/arti-124402-cadar.html).• (http://news.detik.com/read/2013/05/03/001115/2236851/10/polisi-amankan-seorang-wanita-di-rumah-terduga-teroris-di-jl-bangka).•(/berita/dunia-islam/perancis-tolak-masuk-tiga-wanita-saudi-yang-bercadar.htm#.UWjE91bTOt8).• (http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/muslim-denmark-larangan-cadar-di-prancis-ancam-kebebasan-individu.htm#.UWjFsVbTOt8).• (http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/setelah-mahasiswi-kini-giliran-dosen-bercadar-dilarang-mengajar-di-mesir.htm#.UWq4blbTOt8).• (http://hizbut-tahrir.or.id/2010/07/26/dua-mahasiswi-bercadar-dilarang-naik-bus-di-london/).•(http://www.anashir.com/2012/05/102159/46553/10-negara-dengan-jumlah-penduduk-muslim-terbesar-di-dunia).• (http://nasional.kompas.com/read/2009/08/23/06021424/).• (http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110420201913AAWG8qA• (http://kelaspshama2012.blogspot.com/2012/03/sikap-diskriminasi-di-sekitar-kita.html).• (http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=68450).• (http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/label-teroris-dan-hilangnya-kenyamanan.html).• http://links.org.au/node/1351
Memahami Kompetensi Komunikasi Antarbudaya Antara Pemilik Homestay dengan Wisatawan Asing di Karimunjawa Meidiza Firda Mapikawanti; Sri Widowati Herieningsih; Taufik Suprihartini; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.773 KB)

Abstract

Karimunjawa merupakan daerah wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, termasuk wisatawan asing. Banyak masyarakat Karimunjawa memanfaatkan peluang tersebut untuk membuka bisnis homestay. Pemilik homestay dan wisatawan asing, memiliki perbedaan kebudayaan, kebiasaan, dan bahasa, sedangkan mereka harus dapat hidup berdampingan dan saling berkomunikasi setiap harinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kompetensi komunikasi antarbudaya antara pemilik homestay dengan wisatawan asing di Karimunjawa. Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang menjelaskan pengalaman unik pemilik homestay dan wisatawan asing dalam berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik wawancara mendalam (indepth interview) dengan enam subjek penelitian, yaitu tiga orang pemilik homestay dan tiga orang wisatawan asing di Karimunjawa. Penelitian ini menggunakan Teori Kompetensi Komunikasi Antarbudaya oleh Lustig dan Koester (1996), Teori Interaksi Simbolik oleh George Herber Mead (1934), serta Teori Pengelolaan Ketidakpastian dan Kecemasan oleh William Gudykunst (2005) sebagai landasan teori.Berdasarkan hasil penelitian, tidak semua wisatawan asing mengalami ketidakpastian dan kecemasan ketika pertamakali datang ke Karimunjawa, hal ini dikarenakan singkatnya kunjungan mereka yaitu hanya beberapa hari dan tujuan mereka ke Karimunjawa adalah untuk berlibur. Meskipun tidak semua wisatawan asing mengalami kecemasan dan ketidakpastian, namun mereka melakukan strategi aktif, pasif, dan interaktif untuk menghindari dan mengurangi kecemasan dan ketidakpastian mereka. Strategi tersebut mereka gunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai Karimunjawa dan pemilik homestay. Untuk dapat berkomunikasi secara lancar, pemilik homestay dan wisatawan asing menggunakan aktivitas non verbal kinesis, yaitu menggunakan gerakan tangan dan anggota tubuh bersamaan dengan komunikasi verbal dan tergolong dalam perilaku non verbal illustrator yang bersifat komunikatif, informatif, daninteraktif. Penelitian menunjukkan bahwa pemilik homestay dan wisatawan asing memiliki motivasi yang kuat untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi, memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kebudayaan, kebiasaan dan bahasa masing-masing, dan bertindak untuk membaur dan berkomunikasi. Selain itu, mereka juga memahami konteks komunikasi antarbudaya dan memiliki kepantasan dan efektivitas dalam interaksi antarbudaya. Hal-hal tersebut merupakan komponen yang dibutuhkan untuk mencapai kecakapan dalam kompetensi komunikasi antarbudaya.
Kampanye Literasi Media “Cerdas Memilah dan Memilih Tayangan Televisi” Abstraksi Dhyah Shanti Nur Kartika; Tandiyo Pradekso; Turnomo Rahardjo; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.796 KB)

Abstract

Semakin banyak bermunculan stasiun penyiaran televisi yang dapat diaksesdengan mudah menimbulkan keprihatinan atas muatan isi siaran televisi khususnya bagianak. Diketahui bahwa tidak semua sajian isi siaran tayangan televisi berkualitas,terdapat tayangan yang cenderung membodohi bahkan masuknya materi orang dewasapada program anak dan penggunaan pemeran anak dalam tayangan. Hal tersebut tidaksesuai dengan kebutuhan perkembangan khususnya pada anak karena belum memilikifilter secara utuh pada pengalaman mengkonsumsi isi siaran televisi. Melalui kampanyeliterasi media dengan tema “Cerdas Memilah dan Memilih Tayangan Televisi” digunakansebagai alat komunikasi pemasaran yang memiliki tujuan agar anak memilikiketerampilan dalam memilah dan memilih tayangan televisi sesuai dengan usia. Hal inisebagai salah satu upaya mengurangi pengaruh negatif isi siaran televisi yang cenderungkurang ramah bagi anak. Sedangkan strategi yang digunakan pada kampanye literasimedia ini menggunakan pendekatan komunikasi persuasif.Kata Kunci : Kampanye, Literasi Media, Komunikasi Persuasif
MAKNA IDENTITAS FANS KLUB SEPAK BOLA (CHELSEA INDONESIA SUPPORTERS CLUB) Ika Adelia Iswari; Triyono Lukmantoro; Turnomo Rahardjo; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.857 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sekelompok orang yang memiliki kesamaan visi dan misi yang cenderung untuk bergabung ke dalam suatu lingkaran. Lingkaran tersebut diwujudkan dengan terbentuknya suatu komunitas. Komunitas fans klub sepak bola merupakan hal yang biasa ditemui di lingkungan kita. Bermulai dari kegemaran dengan olahraga sepak bola kemudian munculnya keinginan untuk mengenal lebih dalam klub sepak bola yang didukung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana individu bisa memutuskan untuk bergabung ke dalam lingkungan yang baru dan bertemu dengan orang-orang baru dan bagaimana individu tersebut membentuk identitas dirinya yang pada awalnya hanya merupakan penggemar sepak bola menjadi salah satu supporter klub sepak bola tertentu.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Sintalitas Kelompok, Teori Perbandingan Sosial, dan Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth) dan konsep identitas diri. teknik analisis data kualitatif yang mengacu pada penelitian fenomenologi dari Clark Moustakas. Subjek penelitian ini adalah setiap orang (laki-laki dan perempuan) yang merupakan pendukung Chelsea, merupakan anggota komunitas Chelsea Indonesia Supporters Club.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan proses identitas sosial di dalam komunitas Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC) yang dialami oleh setiap individu yang merupakan anggota komunitas terjadi karena banyak faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah keluarga, dan kelompok-kelompok sekunder seperti teman. Individu menginginkan adanya kesamaan visi dan misi yang menurut mereka akan memudahkan dalam berinteraksi. Proses pengambilan keputusan di dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan oleh individu yang tergabung ke dalam komunitas Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC) tidak selalu dipengaruhi oleh interaksi antar sesama individu di dalam komunitas. 
INTERPRETASI KHALAYAK TERHADAP KONSTRUKSI REALITAS DALAM ACARA PARODI POLITIK SENTILAN SENTILUN Karina Puspadiati; Turnomo Rahardjo; Much Yulianto; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.199 KB)

Abstract

Seiring dengan adanya kebebasan pers khususnya penyiaran di Indonesia, semakin banyak media yang memproduksi tayangan di televisi dengan berbagai konsep yang menarik. Talk show bertemakan parodi politik salah satunya yang kini menghiasi program di berbagai stasiun televisi di Indonesia. Masyarakat yang kini sudah mulai jenuh dengan kegiatan politik praktis, menjadikan acara parodi politik sebagai salah satu pilihan acara hiburan yang sekaligus memberikan pendidikan politik. Acara Sentilan Sentilun merupakan salah satu acara parodi politik yang dikemas dengan konsep teater yang membahas mengenai isu sosial politik di Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai pemaknaan khalayak terhadap konstruksi realitas dalam acara parodi politik Sentilan Sentilun. Berangkat dari persoalan tersebut, maka penelitian ini menggunakan metode analisis resepsi. Dalam pelaksanaannya, proses penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam secara tatap muka dengan empat informan. Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakan khalayak yang pernah menonton acara Sentilan Sentilun. Keempat informan tersebut memiliki tingkat pendidikan dan lingkungan sosial yang berbeda. Dalam wawancara tersebut informan sebagai penghasil makna menyampaikan interpretasi mereka masing-masing terkait dengan tayangan Sentilan Sentilunsecara beragam.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa para informan memiliki kemampuan untuk memfilter diri dari apa yang disajikan oleh media massa. Para informan memiliki dasar sebagai khalayak aktif, mereka dapat memilih dan mengambil keputusan sesuai kehendaknya masing-masing dalam penggunaan media apa dan media mana yang diinginkannya. Dalam mengkonsumsi media didasari dengan alasan dan tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan pengetahuan mengenai isu sosial politik yang ada di Indonesia. Terdapat kesamaan pendapat dari para informan bahwa acara Sentilan Sentilun mampu menyampaikan informasi mengenai isu sosial politik yang selama ini terkesan kaku dan berat dengan penyampaian pesan yang lebih santai dan mudah dimengerti oleh khalayak.Kata kunci: parodi politik, Sentilan Sentilun dan konstruksi realitas.
HUBUNGAN TERPAAN IKLAN PROVIDER DI TELEVISI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU IMITASI BAHASA IKLAN OLEH REMAJA Miftakhul Noor Alfiana; Sri Widowati Herieningsih; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.105 KB)

Abstract

Latar BelakangIklan dibuat agar konsumen kenal, ingat, dan percaya terhadap suatu produk sehinggamemiliki perasaan ingin seperti yang ditampilkan dalam iklan. Kemampuan persuasif iklanuntuk mempengaruhi persepsi khalayak, tercapai bila iklan tersebut mampu membangkitkanrasa suka terhadap produk yang ditawarkan. Walaupun demikian, daya tarik iklan di televisibelum tentu ditandai terjadinya transaksi pembelian produk yang ditawarkan, karena masihbanyak faktor yang diduga mempengaruhi persepsi akibat menonton iklan tersebut, diantaranyafaktor interaksi dengan teman sebaya. Dalam iklan terdapat bahasa-bahasa yang terkadangdianggap lucu, unik, ataupun khas sehingga kerap dibicarakan oleh remaja yang terkenaterpaan iklan. Oleh karena itu, jika remaja berinteraksi dengan teman sebayanya, dan dalaminteraksi tersebut membicarakan tentang iklan provider tertentu dan juga bahasa yangterkandung di dalam iklan, maka muncullah keinginan untuk meniru apa yang ada di iklan danapa yang diucapkan temannya yang menirukan bahasa iklan.Banyak pengiklan memandang televisi sebagai media yang paling efektif untukmenyampaikan pesan-pesan komersialnya. Salah satu keunggulannya adalah mampumenjangkau khalayak secara luas. Perkembangan kreativitas dalam iklan yang sangat pesatmenyebabkan munculnya banyak persaingan untuk membuat iklan yang lebih kreatif danefektif yang bisa diterima dan dipahami oleh khalayak, termasuk iklan provider. Iklan providerdalam perkembangannya senantiasa berisi kalimat-kalimat kreatif atau jargon tertentu namuntak jarang jargon atau kalimat iklan sebuah produk menjadi tren dan kerap dipakai dalampercakapan sehari-hari. Kata-kata dalam iklan akhirnya berdampak mempengaruhi targetaudiencenya. Kata-kata tersebut awalnya tidak komersil, namun akhirnya menjadi satu bagiandari komunikasi anak muda setelah beberapa oknum masyarakat mulai terpengaruh, lalumereka pun menggunakan kata-kata tersebut untuk berinteraksi dengan sesamanya.Pilihan bahasa sebagai peristiwa sosial tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktorlinguistik, tetapi juga oleh faktor-faktor di luarnya. Pilihan bahasa erat terkait dengan situasisosial masyarakat pemakainya. Perbedaan usia, tingkat pendidikan, dan status sosial seseorangdapat mempengaruhi pilihan bahasanya ketika berbicara dengan orang lain. Demikian pulasituasi yang melatarbelakangi sebuah pembicaraan dapat mempengaruhi bagaimana sebuahbahasa akan dipergunakan. Pengaruh faktor-faktor sosial maupun situasional terhadap pilihanbahasa ini menimbulkan adanya variasi-variasi pilihan bahasa.Penggunaan bahasa dalam komunikasi bersifat berubah-ubah, tidak tetap, dan manasuka.Maraknya penggunaan bahasa iklan sebagai bahasa sehari-hari dalam konteks komunikasipopuler bisa dipahami sebagai ekspresi kaum remaja yang bersifat pragmatis untukmenciptakan situasi pergaulan yang lebih cair dan akrab. Banyak sekali kalimat iklan yangmenjadi populer dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya saja kata-kata„Galau‟ pada iklan IM3 versi anti galau, „Lo-Gue-End‟ pada iklan IM3 versi lo gue end, „LikeThis Yoo‟ pada iklan XL versi like this, “Aku Tak Punya Pulsa” pada iklan Kartu As versidrama gak punya pulsa, “Kim Aku Galau Tanpamu” pada iklan IM3 versi anti galau , “Janganditawar” pada iklan Axis versi kanjeng mami, “Hemat beb” pada iklan Axis versi pacarkelewat hemat (pelit), yang menjadi sangat populer semenjak kemunculannya di iklan. Katakatatersebut ditirukan oleh remaja dan terbawa dalam kehidupan sehari-hari yang akhirnyamenjadi suatu alat untuk berinteraksi dengn sesamanya. Bahkan sebagian dari remaja tersebutmengaku menggunakan kata-kata dalam iklan itu untuk menghibur teman karena kata-katatersebut dianggap lucu, juga agar mereka dianggap keren oleh teman–temannya(Sumber:http://galih-seonega.blogspot.com/2012/04/komentar-mereka-remaja menirukaniklan.html diakses pada 20 Mei 2012).Terpaan media televisi dalam hal ini iklan provider di televisi secara tidak langsungmempengaruhi remaja untuk menirukan konten dalam iklan, termasuk bahasa,kalimat,ataupunjingle iklan. Di sisi lain, teman sebaya mereka juga menggunakan bahasa iklan dalampergaulannya sehari-hari. Disinilah penulis melihat permasalahan adanya hubungan antaraterpaan iklan provider di televisi dan interaksi teman sebaya dengan perilaku remaja menirubahasa iklan.II. Perumusan MasalahIklan bertujuan untuk memperkenalkan suatu produk, atau membangkitkan kesadaran akanmerek (brand awareness), membujuk khalayak untuk membeli produk yang ditawarkan danmemberikan informasi (Sudiana, 1986:6). Iklan berfungsi untuk menyampaikan informasitentang suatu produk kepada masyarakat, namun yang terjadi bukan hanya iklan tersebut yangdapat mempengaruhi masyarakat untuk melakukan pembelian, tetapi bahasa dalam iklan jugaikut merasuk ke dalam benak masyarakat terutama kaum remaja yang menggunakannya untukberkomunikasi dengan sesamanya. Remaja merupakan suatu kelompok yang sedang mencari jatidiri, dan berada di dalam masa transisi dimana sangat mudah terpengaruh dengan lingkungansekitarnya. Salah satu yang mempengaruhi pola perilaku dari remaja ini adalah teman-temansebayanya. Melalui interaksi dengan teman sebayanya, mereka dengan mudah meniru bahasayang dimunculkan lewat sebuah iklan. Remaja sering melakukan kegiatan bersama-sama dalamkelompok teman sebaya, menghabiskan waktu bersama-sama sehingga kecenderungan untukmeniru apa yang dilakukan teman-temannya lebih besar, dalam hal ini adalah kecenderunganuntuk meniru bahasa iklan. Disinilah menarik untuk dikaji, bagaimanakah hubungan terpaaniklan provider dan interaksi teman sebaya dengan perilaku remaja mengimitasi bahasa iklandalam pergaulannya sehari-hari.III. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan dan interaksi temansebaya dengan perilaku imitasi bahasa iklan oleh remaja.IV. Signifikansi Penelitian1. Signifikansi TeoritisSecara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangsih bagi disiplinilmu komunikasi yaitu mengenai perilaku imitasi remaja yang dipengaruhi oleh terpaan iklandi televisi dan interaksi dengan teman sebaya. Teori Efek Media Massa dan Teori Imitasidapat digunakan untuk menunjukkan adanya keterkaitan terpaan iklan di televisi denganperilaku menirukan bahasa iklan yang dilakukan oleh remaja. Teori Kelompok Rujukan(Peer Group) digunakan untuk menunjukan bahwa perilaku individu didasarkan pada sikapdan persepsi kelompok untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang bersangkutan.Dalam hal ini kelompok rujukan tersebut adalah teman sebaya. Penelitian ini diharapkandapat membuka jalan dan memberikan konstribusi bagi penelitian – penelitian lanjutandengan bidang kajian yang sejenis.2. Signifikansi PraktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan bahwa perilaku imitasibahasa iklan berhubungan dengan terpaan iklan dan interaksi teman sebaya.3. Signifikansi SosialSecara sosial, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi masyarakatterutama para remaja agar bisa memahami dan menyaring bahwa tidak semua yang munculdi televisi patut ditiru.V. Hipotesis1. Ada hubungan antara terpaan iklan provider di televisi dengan perilaku imitasi bahasaiklan yang dilakukan oleh remaja. Artinya, semakin tinggi intensitas terpaan iklan makasemakin tinggi pula perilaku imitasi bahasa iklan yang dilakukan oleh remaja.2. Ada hubungan antara interaksi teman sebaya dengan perilaku imitasi bahasa iklan yangdilakukan oleh remaja. Artinya,semakin sering remaja berinteraksi dengan temansebayanya maka semakin tinggi perilaku imitasi bahasa iklan yang dilakukan olehremaja.3. Ada hubungan antara terpaan iklan provider dan interaksi teman sebaya dengan perilakuimitasi bahasa iklan. Artinya semakin tinggi terpaan iklan dan semakin tinggi interaksidengan teman sebaya maka semakin tinggi pula perilaku imitasi bahasa iklan yangdilakukan oleh remaja.Terpaan Iklan Providerdi TelevisiInteraksi Teman SebayaPerilaku ImitasiBahasa IklanVI. Tipe PenelitianTipe penelitian yang digunakan adalah eksplanatori yang bertujuan untuk mengetahui adanyahubungan antara terpaan iklan provider di televisi dan interaksi teman sebaya dengan perilakuimitasi bahasa iklan oleh remaja.VII. PopulasiPopulasi pada penelitian ini adalah remaja berusia 13-18 tahun yang bertempat tinggal di KotaSemarang yang berjumlah 101.495 (Sumber: Data Bappeda Kota Semarang tahun 2010). Berikutrincian data tersebut:Tabel 1.1 Banyaknya Penduduk Menurut Kelompok Usia 13-18 tahundi Kota Semarang Tahun 2010Kecamatan JumlahPenduduk Usia13-18 tahunMijen 5.988Gunungpati 5.676Banyumanik 8.046Gajah Mungkur 6.341Smg. Selatan 5.754Candisari 5.399Tembalang 7.293Pedurungan 7.161Genuk 5.900Gayamsari 4.562Smg. Timur 7.299Smg. Utara 6.203Smg. Tengah 7.175Smg. Barat 6.975Tugu 5.536Ngaliyan 6.890Total 102.248(Sumber: Bappeda Kota Semarang tahun 2010)VIII. SampelSampel dalam penelitian ini adalah remaja yang tinggal di Kecamatan Banyumanikdan terkena terpaan iklan provider di televisi. Diambil Kecamatan Banyumanik karena diwilayah tersebut terdapat paling banyak remaja berusia 13-18 tahun dibandingkankecamatan lainnya.IX. Teknik Pengambilan SampelTeknik pengambilan sampel yang digunakan adalah probability sampling dengan multistagerandom sampling, yakni teknik yang menarik kluster tempat individu berada. Pengambilansampel pada kluster yang lebih kecil yaitu Kecamatan Banyumanik. Kecamatan Banyumanikmerupakan populasi pertama, terdapat beberapa kelurahan yaitu Pudakpayung, Gedawang,Jabungan, Padangsari, Banyumanik, Srondol Wetan, Pedalangan, Sumurboto, Srondol Kulon,Tinjomoyo, Ngesrep. Lalu diambil satu kelurahan secara acak yaitu Kelurahan Sumurboto.Kelurahan Sumurboto memiliki 774 remaja (367 remaja putri dan 407 remaja putra) berusia13-18 tahun. Sehingga total sampel dihitung dengan rumus berikut:n = __ N___1+N.e²= ____774____1+774(0.1)²= 88,5  dibulatkan 89 orangKeterangan:n = Ukuran sampelN = Ukuran populasiE = Kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan sampel yang dapat ditolerir,ditentukan sebesar 10%.Kelurahan Sumurboto memiliki 5 RW, kemudian diacak lagi diambil RW IV dimanadi dalam RW IV terdapat 11 RT. Lalu masing-masing akan diambil 8 sampel dari 10 RT dan9 sampel dari 1 RT sehingga berjumlah 89 sampel.X. Kesimpulan1. Terpaan iklan provider di televisi ternyata berhubungan terhadap perilaku imitasi bahasaiklan oleh remaja. Hal ini dibuktikan dengan perhitungan melalui uji statistik dimanadiperoleh hasil koefisien korelasi sebesar 0,313 dan probabilitas kesalahan (sig) sebesar0,000. Hal ini menunjukkan bahwa terpaan iklan provider yang tinggi menjadikanperilaku imitasi bahasa iklan juga tinggi.2. Interaksi dengan teman sebaya berhubungan dengan perilaku imitasi bahasa iklan olehremaja. Hal ini dibuktikan dengan perhitungan melalui uji statistik dimana diperolehhasil koefisien korelasi sebesar 0,319 dan probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000.Hal ini menunjukkan bahwa tingginya interaksi teman sebaya menjadikan perilakuimitasi bahasa iklan tinggi, begitu pula sebaliknya.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara terpaan iklan provider ditelevisi (X1) dan interaksi teman sebaya (X2) dengan perilaku imitasi bahasa iklan (Y)yang dibuktikan dengan hasil koefisien konkordansi sebesar sebesar 0,77 dan nilaisignifikansi penelitian sebesar 0,000. Hasil ini menunjukkan ada hubungan yangsignifikan antara terpaan iklan dan interaksi dengan teman sebaya dengan perilakuimitasi bahasa iklan oleh remaja.DAFTAR PUSTAKAAl-Ghifari, Abu. 2003. Remaja Korban Mode. Bandung:Mujahid Pers.Deddy, Mulyana. 2001. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar.Bandung:Remaja Rosdakarya.Gerungan,Dr.W.A. 1996. Psikologi Sosial.Bandung:PT.Eresco.Hidayati, Arini. 1998. Televisi dan Perkembangan Sosial Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Ibrahim, Idi Subandy . 2007.Budaya Populer Sebagai Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Liliweri, Alo .1992. Dasar–Dasar Komunikasi Periklanan. Bandung: Citra Aditya Bakti.Liliweri, Alo. 2002. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta: LKiS PelangiAksara.McQuail.1996. Teori Komunikasi Massa:Suatu pengantar. Jakarta:Erlangga.Nurudin.2007.Pengantar Komunikasi Massa.Jakarta:PT.Grafindo Persada.Onong,Uchyana Effendi.1993.Ilmu,Teori,dan Filsafat Komunikasi.Bandung:Citra Aditya Bakti.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi . Bandung:Remaja Rosdakarya.Rohim, Syaiful. 2009. Teori Komunikasi: Ragam dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.Santoso, Singgih. 2005. Buku Latihan SPSS Statistik Non-Parametrik. Jakarta: Elex MediaKomputindo.Sudiana, Dendi.1986.Komunikasi Periklanan Cetak. Bandung : Remadja Karya.Susanti H., Esthi.1993. Anak Saya Jenius : Kumpulan Masalah Orang Tua dan Anak. Jakarta :Rasindo.WA.,Gerungan. 2004. Psikologi Sosial. Bandung:Rofika Aditama.Wirawan, Sarlito. 1992. Psikologi Lingkungan. Jakarta : Rasindo.Skripsi :Ade Azwida. (2007). Pemakaian Bahasa Gaul Pada Iklan Produk Komersial Televisi. Skripsi.Universitas Sumatera Utara.Nurul Fatimah. (2010). Hubungan Terpaan Iklan Produk Rokok di Televisi dan TingkatKonformitas Kelompok Sebaya terhadap Kecenderungan Perilaku Merokok. Skripsi. UniversitasDiponegoro.Sumber Internet :http://galih-seonega.blogspot.com/2012/04/komentar-mereka-remaja-menirukan-iklan.htmlartikel oleh Galik Laksono. Diakses pada 20 Mei 2012.http://synersid.blogspot.com/2012/04/tren-remaja-menirukan-iklan.html artikel oleh SMPN 3Tulungagung. Diakses pada 20 April 2012.http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=903&res=jpz diakses pada 20 April 2012.Sumber Koran atau Majalah :Cakram edisi September 2005. Bahasa Iklan dan Pengaruhnya, artikel oleh Sjahrial Djalil.Kompas edisi Kamis 20 Agustus 2009. Diperlukan Strategi Agar Dapat Merebut Hati KonsumenMelalui Iklan , artikel oleh Rosdianah Dewi.
Hubungan Antara Terpaan Promosi Aplikasi My Blue Bird dan Citra Merek dengan Minat Konsumen untuk Menggunakan My Blue Bird sebagai Sarana Transportasi Fatia Maharani; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.854 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi yang semakin maju saat ini menjadikan munculnya berbagai bentuk usaha yang semakin lama semakin berubah. Salah satunya ialah industri jasa transportasi yang semakin tahun semakin berkembang. PT. Blue Bird Tbk. menghadirkan My Blue Bird sebagai bentuk layanan jasa transportasi online yang di dalamnya juga sudah menggunakan sistem moderen berupa pembayaran transaksi non tunai serta beberapa fitur yang mendukung dalam pemesanan easy ride. Guna memaksimalkan penggunaan jasa layanan transportasi online, My Blue Bird menggunakan strategi komunikasi pemasaran salah satunya dengan melakukan promosi penjualan berupa diskon di berbagai merchant yang dilaksanakan untuk meningkatkan frekuensi penggunaan My Blue Bird. Selain promosi, citra merek yang dipersepsikan oleh konsumen juga dapat mempengaruhi perilaku minat konsumen terhadap produk perusahaan khususnya jasa transportasi. Berdasarkan data yang diperoleh dari laporan keuangan Blue Bird ditemukan adanya penurunan pendapatan di tahun 2016 yang menjadikan Blue Bird harus mecari solusi agar bisa bertahan di industri transportasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan positive antara terpaan promosi aplikasi My Blue Bird dan citra merek dengan minat konsumen untuk menggunakan My Blue Bird sebagai sarana transportasi. Teori yang digunakan adalah Teori Advertising Exposure dan Teori Cognitive Response. Populasi penelitian adalah warga di Semarang yang berusia 17-30 tahun yang telah terterpa promosi aplikasi My Blue Bird. Sedangkan sampel penelitian yang diambil yaitu sebanyak 50 konsumen dengan menggunakan teknik purposive sampling. Berdasarkan uji hipotesis yang dilakukan menggunakan analisis korelasi Kendall’s Tau-b, menunjukkan hasil bahwa: Pertama, terdapat hubungan positive antara terpaan promosi aplikasi My Blue Bird dengan minat konsumen untuk menggunakan My Blue Bird sebagai sarana transportasi dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,530. Hal ini menunjukkan keeratan hubungan yang kuat, dengan arah hubungan yang positif. Semakin tinggi terpaan promosi penjualan, maka semakin tinggi minat penggunakan produk My Blue Bird oleh konsumen. Kedua, terdapat hubungan positive antara citra merek dengan minat konsumen untuk menggunakan My Blue Bird sebagai sarana transportasi, dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,620. Hal ini menunjukkan keeratan hubungan yang kuat, dengan arah hubungan yang positif. Semakin tinggi citra merek My Blue Bird, maka semakin tinggi minat untuk menggunakan produk My Blue Bird oleh konsumen, begitu juga sebaliknya. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada pihak Blue Bird untuk lebih memperhatikan publikasi media lini komunikasi (baliho, twitter, facebook, youtube & instagram) yang digunakan dalam memberikan informasi. Selain itu disarankan juga untuk memberikan keterlibatan konsumen dalam kegiatan strategi promosi berbentuk creative campaign dan edukasi mengenai keamanan dan keselamatan berkendara serta mempertimbangkan harga sebagai faktor penting, agar citra My Blue Bird semakin baik dan konsumen menjadi tertarik untuk menggunakan aplikasi tersebut.
ANALISIS ISI TINGKAT KEBERIMBANGAN BERITA RUBRIK NEWS DAN SHOWBIZ YANG DISAJIKAN DALAM PORTAL BERITA LINE TODAY Tiara Astra Parahita; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 7, No 2: April 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.966 KB)

Abstract

The digitalization of media has simplified the process of consuming news by society. One example of digitalization of media is LINE Today which provides access to information for society through news feed. LINE Today as news aggregator compiles various news content from several news portals. Ideally, LINE Today is supposed to apply gatekeeping which include validation level, accuracy, and news balancing. However LINE Today is frequently found to abandon validity of news source and balancing news to provide news as soon as possible. Thus this research aims to find news balance level in LINE Today as news aggregator by using descriptive quantitative analysis and probability sampling purposive technique. The number of sample as many as 50 news article are obtained from LINE Today which consist of five online news portal. They are Suara.com, Kompas.com, VIVA.co.id, Liputan6.com and Kumparan.com. This study found that news contents in LINE Today apply news balance at different levels. News balance is applied gradually in the news updates. Furthermore, observation of Ahmad Dhani’s hate speech verdict coverage in LINE Today is found biased. The result found that only slant element is applied in the news from total three element of news balance level. This is proven by using one-sided news coverage (source bias) which show in selection of opposing and supporting sources portion in the news.
Pengelolaan Kecemasan dan Ketidakpastian Individu dalam Komunikasi Antarbudaya (Kasus Pelajar SMA Papua di Semarang) Fransiska Indria Widiasari; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.395 KB)

Abstract

Interaksi antara pendatang dengan host culture sering memunculkan kecemasan dan ketidakpastian. Kecemasan dan ketidakpastian komunikasi antarbudaya akan muncul ketika kedua pihak menyadari adanya perbedaan pada budaya masing-masing. Strategi pengelolaan kecemasan dan ketidakpastian komunikasi antarbudaya antara pelajar Papua dengan host culture merupakan tujuan penelitian ini. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data diperoleh . melalui wawancara mendalam dengan lima orang pelajar Papua dan tiga orang hostculture. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Teori Pengurangan Kecemasan dan Ketidakpastian dan Teori Pengelolaan Kecemasan dan Ketidakpastian Komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab munculnya kecemasan dan ketidakpastian komunikasi antarbudaya sekaligus mengetahui strategi pengelolaan kecemasan dan ketidakpastian komunikasi yang muncul. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecemasan dan ketidakpastian komunikasi antarbudaya terjadi ketika pertama kali berinteraksi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa faktor perbedaan bahasa, rasa minder dari pelajar Papua dan kurangnya informasi terkait dengan lingkungan baru yang menjadi tempat menetap juga menjadi penyebab munculnya kecemasan dan ketidakpastian ketika berinteraksi dengan hostculture. Interaksi yang terjalin pertama kali lebih sering dimulai oleh hostculture. Komunikasi yang terjalin diantara pelajar Papua dengan hostculture cukup baik namun pelajar Papua masih belum dapat membaur dengan lingkungan yang baru. Pelajar Papua dan hostculture menunjukkan bahwa ketika berkomunikasi antarbudaya harus mampu membuka diri untuk dapat menerima informasi baru dan memiliki kesadaran dalam komunikasi antarbudaya sehingga rasa cemas dan tidak pasti yang muncul ketika berinteraksi mampu dikelola dengan baik dan terjalin komunikasi yang efektif antara kedua budaya tersebut dan dapat meminimalisir konflik yang akan terjadi. Pengalaman dalam mengelola kecemasan dan ketidakpastian komunikasi antarbudaya dapat membantu masyarakat untuk dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan dan budaya baru.
Co-Authors ., Muchibuddin Abdul Malik, Aminullah Adhi Wiryawan, Yudho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adinda, Sarah ADITYA FAHMI NURWAHID Adiyatma, Irfandhika Afri Setya, Rega Agus Naryoso Aisyah Monicaningsih Aisyah Nadhilah Arsyi Malik Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Ajeng Gendari Sayang Aji Kurniawan Ade Purwanto Alif Hibatullah Alifati Hanifah Almanda Prinarenti, Aurelia Amelia Monica Amida Yusriana Andrio, Bimo Anindhita Puspasari Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annie Renata Siagian Annisa Widya Paramitha Annisa Zetta Afiatni Aprilla Agung Yunarto Arif Andhika, Wisnu Arlinda Nurul Nugraharini Asri Rachmah Mentari Asteria Agustin Asyhab Arno Wijaya Aurisa Hangesti Putri Avianto Aryo Wicaksono Ayu Lestari, Mega Ayu Permata Sari Ayudia Putri, Rakhma Azif, Zahra Bayu Hastinoto Prawirodigdo Bayu Widagdo, Muhammad Bening Shabilla Utami Bonaventura Paskaris Kusuma Aji Brillian Barro Vither Conny Brilliant Dwikananda, Kartika Dalil, Firas Dea Dwidinda Lutfi Desastri Ahda Ramadhan, Pimpi Destika Fajarsylva Anggraini Devi Pranasningtias Indriani DEWI IRAWATI Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Obwid Robertus Belarmino Malau Dinaharilala Olivia, Randrianarison Dini Tiara I Dipa Wirayatama Diva Sinar Rembulan Dizafia Zafira Mayyasya Djoko Setyabudi DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dr. Sunarto Dra Taufik Spurihartini Dwi Amanda, Visca Dyah Woro Anggraeni Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elvina Ghozali Erva Maulita Eva Ratna Hari Putri Fariz Dewanto Fatia Maharani Fauzi, Aldi Febrian Aditya Putra Fitria Mahdiyyani, Anisah Fitria Purnama Sari Fransiska Indria Widiasari Gatikasari Mujiastuti Geta Ariesta Herdini Gilang Maher Pradana Gusti Purbo Darpitojati Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hasibuan, Anra Muliasih Sah Bakti Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilham Prasetyo Indra Bagus Kurniawan Irfan Zuldi Isabela Laras Anindyo Isti Murfia Jenny Putri Avianti Jonathan Dio Sadewo Joyo Nur Suyanto Gono Kania Azzahra Wibowo Kania Salsabila Putri Rachmadi Karina Puspadiati Kartika, Muh. Medriansyah Putra Kevin Purba Khurrosidah, Sela Kusuma, Ivana Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Rahmiaji Lucia Eka Pravitasari M Bayu Widagdo Maharani Easter Makarim, Nabil Marlia Rahma Diani Marshya Camillia Ariej Martha Caesarin Putri Yulinta Martina Aurelia Carissa Maulana Khalidin . Maulana Ocky Adhicondro Meidiza Firda Mapikawanti Miftakhul Noor Alfiana Mirtsa Zahara Hadi Monica Hayunindya Patria Paramesthi Much Yulianto Much. Yulianto MUCHAMAD MACHBUB LUTFI Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat Mujahidah Amirotun Nisa Nadhila Prisca Anjani M Nadif Rizqulloh, Muhammad Nadila Opi Prathita Sari Naga Mulia, Wim Naomi Uli Quanti Siahaan Narayani Aberdeen, Avi Nastiti Laksmita Adi Nikolas Prima Ginting NIKOLAUS AGENG PRATHAMA NOVI ADI PUSPITANINGRUM Nur Rahmi, Faurina Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Athira Yahya Nurul Hasfi Nurul Hikmah Octaviani, Averina Olina Hartani Muliani Gultom Osa Patra Rikastana Pandu Hidayat Paskah M Pakpahan Pratiwi, Silvi Primada Qurrota Ayun Puspita Dea Chantika Qonita Andini, Annisa Qury Aini R. Milwanda Nadika S. Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rezeki Amalia, Annisa Ricki Apriliono Rifki Nur Pratiwi Rindiana Kiswari Rizki Fajar Bagaskoro, Sektianto Rizki Kurnia Yuniasti ROBBIANTO ROBBIANTO Rosa Humaira, Almira Rossa Oktaviyani S Rouli Manalu Sabda Nugraha, Detrina Sahfitri, Dwina Salsabila Putri Wasesa, Meidyana Salshabila Putri Persada Sarah Indah Putri Sasaningtawang, Bening Saviera Maharani Doniyar Sefti Diona Sari Sessy Refi Sanina Shafa Amanda, Karina Shafira Inas Nurina Silas Hamenyimana Sony Kusuma Anugerah Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Devi Valentina Simamora Devi Valentina Simamora Sri Nofidiyahwati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tandiyo Pradekso Tansha Nastiti, Talitha Taufik Suprihartini Taufik Suprihartini . Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Tiara Astra Parahita Tiara Ayu Raharjo Tri Yoga Adibtya Tama Trinata Anggarwati, Bunga Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro . Viviana Ardine Mutiara K F Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Nur Hidayati Wiwid Noor Rakhmad Wuriani, Wuriani Yanuar Luqman Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yobelta Kristi Ayuningtyas Yoga Yuniadi Yolanda Audrey Yuanita Putri Melati Yuliana Harianja Yusriana, Amida