Claim Missing Document
Check
Articles

Found 161 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

Memahami Manajemen Konflik dalam Perkawinan Beda Bangsa Yobelta Kristi Ayuningtyas; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan budaya dalam diri pasangan perkawinan beda bangsa bisa memicu timbulnya konflik di dalam rumah tangga. Pasangan perlu melakukan manajemen konflik yang efektif agar menghasilkan keluaran konflik yang menguntungkan kedua belah pihak. Penelitian ini bertujuan memahami manajemen konflik yang dilakukan pasangan perkawinan beda bangsa di dalam rumah tangga. Teori yang digunakan yaitu Teori Gaya Manajemen Konflik oleh R. R. Blake dan J. Mouton dalam konteks hubungan antar pribadi, serta Teori Negosiasi Muka oleh Stella Ting-Toomey. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa objek konflik dalam perkawinan beda bangsa tidak hanya yang berkaitan dengan urusan domestik rumah tangga seperti jadwal kegiatan pekerjaan pasangan dan tanggung jawab mengurus anak, objek konflik juga bersumber dari perbedaan budaya seperti dalam hal bahasa, gaya berkomunikasi, serta cara mendidik anak yang tidak sama. Lalu gaya manajemen konflik yang digunakan oleh pasangan dalam penelitian ini yaitu, gaya manajemen konflik kompromi dan menghindar. Informan dengan budaya individualistik memandang muka diri (self face) lebih penting sehingga upaya pemeliharaan muka dilakukan ketika menghadapi konflik. Informan dengan budaya kolektivistik, sementara itu, lebih cenderung melakukan upaya penyelamatan muka untuk melindungi dan memperbaiki muka diri dan muka lain (other face).
PENGELOLAAN IDENTITAS DALAM RELASI ROMANTIK PENYANDANG DISABILITAS DAN NON DISABILITAS Aurisa Hangesti Putri; Agus Naryoso; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 10, No 3: Juli 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyandang disabilitas dalam lingkungan masyarakat masih sering mendapatkan stigma negatif. Adanya stigma negatif ini pada akhirnya membuat non penyandang disabilitas memiliki keengganan dan kecanggungan dalam berinteraksi bersama penyandang disabilitas. Perbedaan identitas antara non penyandang disabilitas dan penyandang disabilitas berpotensi menimbulkan hambatan ketika berhubungan. Meskipun begitu namun masih ditemukan adanya non penyandang disabilitas yang sukses untuk menjalin hubungan romantis bersama dengan penyandang disabilitas hingga dapat mempertahankan pernikahan selama bertahun tahun. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk dapat memahami bagaimana pengalaman non penyandang disabilitas yang menjalin hubungan romantis bahkan hingga melangsungkan pernikahan bersama dengan penyandang disabilitas. Teori yang digunakan adalah Teori Negosiasi Identitas dengan menggunakan teknik pengumpulan data in depth interview. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ditemukan adanya pandangan negatif dari masyarakat dan keluarga terkait dengan keputusan non penyandang disabilitas untuk menjalin hubungan romantic dengan penyandang disabilitas. Proses yang dilakukan untuk dapat mengelola identitas dalam hubungan berjalan alami seiring berjalannya waktu dengan ditunjang oleh 3 kemampuan interkultural yang terdiri dari pengetahuan, mindfulness, dan skill negosiasi. Keberhasilan pengelolaan identitas dalam hubungan ditandai dengan adanya perasaan dipahami, dihormati, dan dihargai oleh masing-masing individu dalam hubungan romantis.
Kredibilitas Tokoh Ulama Dalam Mengedukasi Masyarakat Bukittinggi Tentang Bahaya Covid-19 Amelia Monica; Agus Naryoso; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 10, No 3: Juli 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kredibilitas tokoh ulama dimata masyarakat Bukittinggi sebagai sumber informasi dalam edukasi bahaya Covid19. Metode penelitian yang digunakan adalah tipe kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini didukung oleh source credibility theory serta teori kompetensi komunikasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari empat orang jamaah yang berdomisili di Bukittinggi yang pernah mengikuti kajian terkait bahaya Covid-19. Komunikasi dakwah yang dilakukan oleh beberapa oknum ulama di tengah wabah Covid-19 ini ada yang di luar out of role mereka, hal ini ditunjukkan dengan adanya dari mereka yang tidak menunjukkan dukungan nya terhadap kebijakan pemerintah untuk selalu menerapkan protocol kesehatan yang sudah dianjurkan oleh pemerintah kesehatan maupun WHO demi keselamatan umat. Melalui penelitian ini di temukan bahwa kredibilitas ulama sebagai corong komunikasi mempunyai penilaian masing-masing dimata jamaah. Menurut para informan, ulama yang mereka ikuti sebagai komunikator dakwah yang membahas bahaya Covid-19 menjelaskan dalil Alqur’an dan hadist Rasullah maupun sahabat terkait wabah ini. Tidak hanya itu ulama juga menyampaikan bahwa wabah yang terjadi sekarang ini (Covid-19) bukan hanya terjadi sekarang saja, tetapi juga pernah terjadi pada zaman Rasullah yang disebut dengan wabah Thaun. Penyampaian ulama juga menyesuaikan dengan budaya setempat hal ini agar mudah dipahami dan diaplikasikan oleh jamaah nya. Logika dalam berdakwah yang dibangun pun juga didukung dengan data-data dari pemerintah setempat serta penelitian-penelitian tentang bahaya Covid-19 yang pernah dilakukan. Hasil penelitian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tokoh ulama yang kredibel akan membuah kepercayaan komunikan untuk mengikuti anjuran yang disampaikan, hal ini mempengaruhi keberhasilan dalam berpidato.
Memahami Pengalaman Perempuan Korban Penyebaran Sexting Nadhila Prisca Anjani M; Hapsari Dwiningtyas Sulistyani; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 10, No 3: Juli 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena sexting sudah sering ditemukan terutama pada pasangan-pasangan matang yang menjalin hubungan jarak jauh namun tidak menutup kemungkinan sexting dilakukan oleh pasangan-pasangan dengan usia yang masih muda. Aktivitas sexting menjadi sarana pasangan kekasih untuk menyalurkan hasrat seksual mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bagaimana perempuan mengkomunikasikan pengalaman mereka sebagai korban penyebaran sexting dengan mengembangkan kesadaran sosial untuk menghasilkan perubahan sosial bagi perempuan menjadi manusia yang utuh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi kritis dengan teknik pengambilan data wawancara mendalam atau indepth interview yang menghadirkan tiga informan. Teori yang menjadi acuan yakni Dyadic Power Theory dan Standpoint Theory. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa seluruh informan melakukan sexting untuk mengekspresikan hasrat seksual mereka. Informan melakukan sexting dengan harapan pasangannya bisa menjaga dan menyimpan konten sexting tersebut tetapi kenyataan tidak berjalan sesuai keinginan. Informan melakukan berbagai komunikasi dengan beberapa pihak untuk menemukan solusi atas penyebaran konten sexting yang mereka alami, komunikasi tersebut menghasilkan sebuah kesadaran atas hakikat perempuan sebagai individu yang berhak untuk mengekspresikan dan menentukan kehidupan yang mereka inginkan.
NEGOSIASI IDENTITAS PENARI CROSS GENDER PADA LENGGER LANANG Tiara Ayu Raharjo; Turnomo Rahardjo; Muhammad Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 10, No 3: Juli 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni cross gender dalam pementasan merupakan bagian dari permainan peran yang dilakukan oleh seniman yang terlibat dalam pementasan tersebut. Dalam konteks penelitian ini, lengger lanang sebagai penari cross gender membawakan perannya sebagai penari perempuan dengan menggunakan berbagai atribut dan gesture yang menampilkan sisi feminin yang membuat mereka termarjinalkan dari masyarakat. Dalam lingkungan masyarakat dominan, laki-laki yang berpenampilan feminin seringkali dikaitkan dengan pelencengan seksual dan identik dengan sebutan banci. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana upaya yang dimiliki oleh lengger lanang sebagai penari cross gender dalam melakukan negosiasi identitas. Beberapa teori digunakan untuk menelaah fenomena ini, antara lain Teori Identitas Budaya, Teori Negosiasi Identitas, Teori Co-Culture, dan Teori Penjulukkan. Penelitian dengan tipe deskriptif kualitatif ini dilakukan dengan pendekatan femomenologi yang berfokus pada pengalaman yang dimiliki oleh informan. Untuk menggali informasi yang mendalam mengenai pengalaman dalam bernegosiasi identitas, peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam (in depth interview) dalam proses pengambilan data. Hasil dari penelitian ini, lengger lanang sebagai penari cross gender melakukan negosiasi identitas dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat umum (kelompok dominan) terkait nilai dalam budaya lengger seperti hakikat cross gender dalam seni tradisi lengger, perbedaan transgender dan cross gender, dan keyakinan budaya lengger terkait dualisme (feminin dan maskulin) yang harus memperoleh keadilan dalam setiap tubuh individu, serta memberikan citra positif terhadap masyarakat seperti menerapkan profesionalitas dalam membawakan peran pementasan yang berbeda dengan keseharian dan tetap merespon tindakan marginalisasi masyarakat dengan empati dan toleransi yang baik. Julukan banci yang diterima oleh lengger tidak membuat mereka merasa bahwa mereka adalah banci. Hal ini disebabkan oleh adanya pengetahuan dan keyakinan yang telah dipupuk terkait nilai budaya dalam identitas lengger lanang yang sesuai dengan pakem tradisi.
Identity Negotiation in Mixed Marriage Couples Between the Batak and Other Ethnic Without Having to Adopt a Batak’s ‘Marga’ (Clan) Olina Hartani Muliani Gultom; Turnomo Rahardjo; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 10, No 4: Oktober 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Indonesia, there are a variety of ethnic groups, and each one has their own traditions and cultures that they uphold. But in a rapidly increasing rate of globalization and in a densely populated country, cross-cultural marriages are bound to happen and the clash between the two cultural identities are inevitable such as the clash between the Batak tribe’s ethnic’s customs and other traditions in marriage. This is the reason why identity negotiations are crucial for managing the difference in traditions when a Batak person marries outside of their ethnicity to avoid conflict. This paper investigates how Batak people and other ethnicities view their ‘Marga’ (clan) in marriage and how negotiations are conducted for those who opt to not use a ‘Marga’ (clan). The research for this paper is conducted via the phenomenological approach that is conducted on mixed marriage couples where one is of Batak descent and another is of a different ethnicity living outside North Sumatra, the data collected are qualitative through in- depth interviews. The key findings and conclusion of this paper were that the Batak identity within individuals had decreased and began to fade, especially for those that lives outside of North Sumatera and hence do not uphold their traditions anymore. Because of this, an identity negotiation has to be conducted to try and find a compromise that is fair for both parties in a mixed marriage and this process will proceed smoothly if good communication and a supporting relationship pattern are present. The findings within this paper can be used a guide for those who wish to conduct a cross-cultural marriage without giving a ‘Marga’ (clan).
Maintaining Family Communication in Long-Distance Relationship Between International Students and Parents Kania Salsabila Putri Rachmadi; Turnomo Rahardjo; Amida Yusriana
Interaksi Online Vol 11, No 1: Januari 2023
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Communication is an important thing in an individual's life. Communication is also necessary for the family environment to maintain a harmonious relationship among family members. Parents certainly want the best for their children, including children's education, and they are willing to let their children study abroad, which makes them have to undergo long-distance relationships. In long-distance relationships, parents and children will face difficulties and challenges that require them to maintain family communication, including self-disclosure and trust in each other. The theory used in this research is the Self-Disclosure Theory by Altman and Taylor (1973). This study uses a qualitative interpretive research method with a phenomenological approach focusing on the informants' experiences. In addition, the researcher used in-depth interview techniques in the data collection process to gather information about the experience of parents and children on how they maintain family communication in long-distance relationships. Based on the research conducted on children studying abroad and parents experiencing long-distance relationships, it was found that each family has different ways of maintaining family communication during long-distance relationships. Maintaining family communication in long-distance relationships requires self-disclosure and a sense of trust in each other to achieve a harmonious family relationship. In this study, parents and children are committed to maintaining family communication so that family communication can remain stable and effective as before in a long-distance relationship. Overall, results suggested that a person’s commitment to the relationship is enhanced by their maintenance efforts to maintain family communication in a long-distance relationship.
Negosiasi Identitas Pasangan Perkawinan Beda Agama di Gereja Katolik Viviana Ardine Mutiara K F; Turnomo Rahardjo; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 10, No 4: Oktober 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Interfaith marriage is one of the paths taken by couples who undergo interfaith relationships. Globalization and technology allow people with various cultures to interact one another and allow individuals with different cultural backgrounds to be attracted, fall in love, and decide to marry. In the context of this study, the different identities brought by interfaith marriage couples in Catholic Church carry risks and challenges, so that interfaith marriage couples in Catholic Church negotiate their respective identities to get a communication experience that can be accepted, understood, appreciated, and achieve mutual comfort, through the relational identity that is formed. The purpose of this study is to find out how the experience of identity negotiations is carried out by interfaith marriage couples in Catholic Church. Several theories used to examine this phenomenon include Identity Negotiation Theory, Cultural Identity Theory, and Identity Management Theory. This research uses phenomenological approaches and focuses on the experiences of the couples and to explore more deeply of the things related to the experience in negotiating identity, the researcher uses data collection techniques through in-depth interviews. The results of this study, identity negotiations are carried out by interfaith marriage couples in Catholic Church to achieve a balance of identity and comfort in a joint relationship were successfully carried out. The couple succeeded in carrying out interfaith marriages in the Catholic Church while maintaining their respective religious identities and the couples succeeded in creating comfort in their relationship as interfaith marriage couples both in the family they built and in the surrounding community by supporting and respecting each other.
MANAJEMEN KONFLIK DALAM KOMUNIKASI PASANGAN SUAMI-ISTRI BEDA ETNIS R. Milwanda Nadika S.; Turnomo Rahardjo; Joyo Nur Suryanto Gono
Interaksi Online Vol 10, No 4: Oktober 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan latar belakang budaya pada pasangan suami-istri beda etnis dapat memicu terjadinya kesalahpahaman dalam berkomunikasi dan hal tersebut dapat menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Pasangan melewati proses adaptasi budaya dan tantangan budaya sehingga perlu melakukan manajemen konflik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana komunikasi yang terjalin pada pasangan suami-istri dengan melihat adaptasi budaya, tantangan budaya, dan manajemen konflik yang dilakukan pasangan suami-istri beda etnis. Teori yang digunakan adalah Teori Negosiasi Muka oleh Ting Toomey dan Teori Pengelolaan Identitas oleh Imahori dan Cupach. Jenis penelitian ini adalah tipe deskriptif kualitatif dan dilakukan dengan pendekatan fenomenologi yang berfokus pada pengalaman yang dimiliki oleh informan. Untuk menggali informasi mengenai pengalaman dalam manajemen konflik, peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam (in depth interview) dalam proses pengambilan data. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap pasangan Jawa-Koja, Jawa-Tiongoa, dan Jawa-Minang, ditemukan bahwa konflik dalam pernikahan beda etnis berkaitan dengan perbedaan latar belakang budaya, seperti kesalahpahamandalam berkomunikasi, perbedaan karakter, perbedaan cara merespon konflik dan sikap dalam menyelesaikan masalah, kesalahpahaman dalam berkomunikasi hingga perbedaan prinsip dalam mendidik anak. Model manajemen konflik yang digunakan oleh pasangan dalam penelitian ini yaitu, model manajemen konflik menghindar, mengutarakan perasaan, mendominasi, dan kompromi. Dalam hasil penelitian pada pernikahan beda etnis terjadi ancaman terhadap identitas budaya berupa kebekuan identitas dan dialektika rupa sendiri dan orang lain.
PENGEMBANGAN HUBUNGAN MENUJU RELASI ROMANTIK DALAM TA’ARUF Kania Azzahra Wibowo; Turnomo Rahardjo; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 11, No 1: Januari 2023
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The ta’aruf method as a premarital exploratory process can be chosen by Muslim individuals who want to get to know their potential spouse better through a method that is in accordance with Islamic law. In this study, individuals who carry out ta’aruf are seen as a subject who has certain thoughts and feelings in the relationship development process that is passed. The whole process of thinking by individuals gives meaning to the experience of dialogue with other individuals throughout the ta’aruf process. This study aims to understand the stages of relationship development and to understand the communication patterns formed in the experience in ta’aruf. There are two theories used in this study, namely the theory of relationship development and the theory of relational dialectics. This research is a qualitative descriptive study and uses a phenomenological approach that highlights the unique experiences that the informants have gone through. Researchers conducted in-depth interviews with the four research informants to explore the experiences of each informant. The results obtained from this study are that the stages of developing relationships in ta’aruf are a dynamic process. Relationship development is not tied to a fixed path. Interpersonal relationships in ta’aruf cover the stages of contact, involvement, intimacy, deterioration, repair, and dissolution which consist of the process of exchanging personal profiles, discussion processes, and engagement, until a decision is made to marry or not to marry. Furthermore, the pattern of communication formed in ta’aruf is determined by the background of the informant and partner, the mediator, the form and the system of communication, and the involvement of the nuclear family. Belief become a factor that influences individual decision-making to move forward or backward to a certain stage in the relationship. Confidence comes from a collection of information obtained through dialogue and dialectics which is then managed within the individual.
Co-Authors ., Muchibuddin Abdul Malik, Aminullah Adhi Wiryawan, Yudho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adinda, Sarah ADITYA FAHMI NURWAHID Adiyatma, Irfandhika Afri Setya, Rega Agus Naryoso Aisyah Monicaningsih Aisyah Nadhilah Arsyi Malik Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Ajeng Gendari Sayang Aji Kurniawan Ade Purwanto Alif Hibatullah Alifati Hanifah Almanda Prinarenti, Aurelia Amelia Monica Amida Yusriana Andrio, Bimo Anindhita Puspasari Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annie Renata Siagian Annisa Widya Paramitha Annisa Zetta Afiatni Aprilla Agung Yunarto Arif Andhika, Wisnu Arlinda Nurul Nugraharini Asri Rachmah Mentari Asteria Agustin Asyhab Arno Wijaya Aurisa Hangesti Putri Avianto Aryo Wicaksono Ayu Lestari, Mega Ayu Permata Sari Ayudia Putri, Rakhma Azif, Zahra Bayu Hastinoto Prawirodigdo Bayu Widagdo, Muhammad Bening Shabilla Utami Bonaventura Paskaris Kusuma Aji Brillian Barro Vither Conny Brilliant Dwikananda, Kartika Dalil, Firas Dea Dwidinda Lutfi Desastri Ahda Ramadhan, Pimpi Destika Fajarsylva Anggraini Devi Pranasningtias Indriani DEWI IRAWATI Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Obwid Robertus Belarmino Malau Dinaharilala Olivia, Randrianarison Dini Tiara I Dipa Wirayatama Diva Sinar Rembulan Dizafia Zafira Mayyasya Djoko Setyabudi DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dr. Sunarto Dra Taufik Spurihartini Dwi Amanda, Visca Dyah Woro Anggraeni Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elvina Ghozali Erva Maulita Eva Ratna Hari Putri Fariz Dewanto Fatia Maharani Fauzi, Aldi Febrian Aditya Putra Fitria Mahdiyyani, Anisah Fitria Purnama Sari Fransiska Indria Widiasari Gatikasari Mujiastuti Geta Ariesta Herdini Gilang Maher Pradana Gusti Purbo Darpitojati Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hasibuan, Anra Muliasih Sah Bakti Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilham Prasetyo Indra Bagus Kurniawan Irfan Zuldi Isabela Laras Anindyo Isti Murfia Jenny Putri Avianti Jonathan Dio Sadewo Joyo Nur Suyanto Gono Kania Azzahra Wibowo Kania Salsabila Putri Rachmadi Karina Puspadiati Kartika, Muh. Medriansyah Putra Kevin Purba Khurrosidah, Sela Kusuma, Ivana Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Rahmiaji Lucia Eka Pravitasari M Bayu Widagdo Maharani Easter Makarim, Nabil Marlia Rahma Diani Marshya Camillia Ariej Martha Caesarin Putri Yulinta Martina Aurelia Carissa Maulana Khalidin . Maulana Ocky Adhicondro Meidiza Firda Mapikawanti Miftakhul Noor Alfiana Mirtsa Zahara Hadi Monica Hayunindya Patria Paramesthi Much Yulianto Much. Yulianto MUCHAMAD MACHBUB LUTFI Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat Mujahidah Amirotun Nisa Nadhila Prisca Anjani M Nadif Rizqulloh, Muhammad Nadila Opi Prathita Sari Naga Mulia, Wim Naomi Uli Quanti Siahaan Narayani Aberdeen, Avi Nastiti Laksmita Adi Nikolas Prima Ginting NIKOLAUS AGENG PRATHAMA NOVI ADI PUSPITANINGRUM Nur Rahmi, Faurina Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Athira Yahya Nurul Hasfi Nurul Hikmah Octaviani, Averina Olina Hartani Muliani Gultom Osa Patra Rikastana Pandu Hidayat Paskah M Pakpahan Pratiwi, Silvi Primada Qurrota Ayun Puspita Dea Chantika Qonita Andini, Annisa Qury Aini R. Milwanda Nadika S. Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rezeki Amalia, Annisa Ricki Apriliono Rifki Nur Pratiwi Rindiana Kiswari Rizki Fajar Bagaskoro, Sektianto Rizki Kurnia Yuniasti ROBBIANTO ROBBIANTO Rosa Humaira, Almira Rossa Oktaviyani S Rouli Manalu Sabda Nugraha, Detrina Sahfitri, Dwina Salsabila Putri Wasesa, Meidyana Salshabila Putri Persada Sarah Indah Putri Sasaningtawang, Bening Saviera Maharani Doniyar Sefti Diona Sari Sessy Refi Sanina Shafa Amanda, Karina Shafira Inas Nurina Silas Hamenyimana Sony Kusuma Anugerah Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Devi Valentina Simamora Devi Valentina Simamora Sri Nofidiyahwati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tandiyo Pradekso Tansha Nastiti, Talitha Taufik Suprihartini Taufik Suprihartini . Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Tiara Astra Parahita Tiara Ayu Raharjo Tri Yoga Adibtya Tama Trinata Anggarwati, Bunga Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro . Viviana Ardine Mutiara K F Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Nur Hidayati Wiwid Noor Rakhmad Wuriani, Wuriani Yanuar Luqman Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yobelta Kristi Ayuningtyas Yoga Yuniadi Yolanda Audrey Yuanita Putri Melati Yuliana Harianja Yusriana, Amida