Claim Missing Document
Check
Articles

Kearifan Lokal Nelayan Sungai Desa Anjir Serapat Muara Indriana Wijayanti; Bambang Subiyakto; Muhammad Rezky Noor Handy; Raihanah Sari; Mutiani Mutiani
The Kalimantan Social Studies Journal Vol 5, No 2 (2024): THE KALIMANTAN SOCIAL STUDIES JOURNAL, APRIL 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/kss.v5i2.8912

Abstract

Kondisi lingkungan dan sumber daya alam saat ini tidak banyak menggunakan kearifan lokal dalam pemanfaatannya, dilihat dari adanya pencemaran di wilayah perairan akibat adanya limbah dan penggunaan alat tangkap illegal tentu menjadi ancaman bagi populasi ikan-ikan diperairan tersebut. Hal ini menyebabkan perlu adanya kesadaran dari masyarakat yang tinggal di sekitaran wilayah tersebut untuk menjaga dan melestarikan potensi kemaritiman yang mereka miliki. Satu diantaranya yakni dengan memanfaatkan kearifan lokal. Tujuan dari penelitian ini sendiri yakni Mendeskripsikan bentuk-bentuk kearifan lokal nelayan sungai desa Anjir Serapat Muara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dimana peneliti menjelaskan mengenai apa saja bentuk-bentuk kearifan lokal nelayan sungai desa Anjir Serapat Muara. Teknik pengumpulan data yang telah dilakukan yakni dengan mengamati jenis alat yang dipakai dan lokasi untuk menangkap ikan, wawancara kepada nelayan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh mereka dan melakukan dokumentasi dalam bentuk foto dan rekaman. Instrumen dalam penelitian yakni peneliti itu sendiri. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Uji keabsahan data dengan menggunakan perpanjangan pengamatan, membercheck dan triangulasi. Pengetahuan lokal nelayan sungai desa Anjir Serapat Muara yakni berupa pengetahuan nelayan dalam menentukan waktu yang tepat untuk menangkap ikan yakni pada malam hari dan mengetahui terjadinya pasang surut air sungai, selain itu para nelayan sungai ini juga memanfaatkan keahlian mereka dalam menangkap ikan dengan menggunakan alat-alat pancing tradisional Banjar seperti rengge, rempa, unjun dan keranjang undang.
Biographical Character Values K.H. Abdul Syukur as a Source for Learning IPS for Strengthening Character Education Akhmad Firdaus; M. Zaenal Arifin Anis; Bambang Subiyakto; Wahyu Wahyu; Herry Porda Nugroho Putro
The Kalimantan Social Studies Journal Vol 5, No 2 (2024): THE KALIMANTAN SOCIAL STUDIES JOURNAL, APRIL 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/kss.v5i2.11644

Abstract

K.H. Abdul Syukur merupakan seorang ulama terkemuka di Kalimantan Selatan, terutama di Pondok Pesantren Darussalam Martapura dan masyarakat di Martapura. K.H. Abdul Syukur mengabdikan dirinya pada pondok pesantren selama 57 tahun dan memimpin pondok pesantren sejak tahun 1992. Selain itu, beliau juga membuka pengajian yang diikuti oleh santri dan masyarakat umum, mengajarkan materi seperti Hadits Bukhari, Tafsir Baidawi, Ilmu Fiqih, serta Muzhab dan Tuhfatul Muhtaz. Beliau juga memegang peran penting di Majelis Ulama Indonesia Banjar sebagai ketua Nazir Masjid Agung Al-Karomah Martapura dan sebagai Mustasyar/sesepuh Nahdatul Ulama cabang Kabupaten Banjar. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai-nilai karakter yang terdapat dalam biografi ulama K.H. Abdul Syukur dan nilai-nilai ini dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran IPS. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan historis. Penelitian dilakukan di Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, dengan melibatkan MTsN 6 Banjar dan beberapa kantor organisasi terkait. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, studi dokumentasi, dan wawancara. Instrumen penelitian mencakup peneliti, lembar observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan ada tujuh nilai karakter yang tercermin dalam kehidupan dan aktivitas K.H. Abdul Syukur, yaitu: religius, disiplin, kerja keras, kreatif, rasa ingin tahu, cinta tanah air, tanggung jawab. Penelitian ini juga membahas upaya penguatan karakter dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di MTsN 6 Banjar, yang mencakup kegiatan rutin seperti doa bersama, pelaksanaan salat berjamaah, kegiatan berinfaq, partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan pemasangan poster pahlawan dan ulama di ruangan kelas.
Exploration of Social Studies Learning Resources Based on Religious Activities Taufik Rahman; Bambang Subiyakto; Jumriani Jumriani; M. Ridha Ilhami; Rusmaniah Rusmaniah
The Kalimantan Social Studies Journal Vol 5, No 2 (2024): THE KALIMANTAN SOCIAL STUDIES JOURNAL, APRIL 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/kss.v5i2.10704

Abstract

Sumber-sumber lokal di lingkungan dan budaya sekitar siswa diperlukan untuk meningkatkan pemahaman siswa. Namun berdasarkan pemanfaatan lingkungan fisik dan juga lingkungan non fisik, belum dimanfaatkan secara optimal dalam pembelajaran IPS. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian sumber belajar IPS yang datang langsung dari lingkungan siswa. Sejalan dengan hal tersebut, di Desa Anjir Serapat Muara terdapat kegiatan keagamaan yang belum dimanfaatkan sebagai sumber belajar, padahal kegiatan tersebut berpotensi menjadi sumber belajar bagi siswa. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Mendeskripsikan kegiatan keagamaan masyarakat Anjir Serapat Muara. 2). Mendeskripsikan kegiatan keagamaan masyarakat Anjir Serapat Muara sebagai sumber pembelajaran IPS. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Kemudian, validitas data diuji menggunakan triangulasi, yaitu triangulasi sumber dan teknis. Hasil penelitian ini adalah: 1). Kegiatan keagamaan Anjir Serapat Muara meliputi doa, MDA, Maulid Habsyi, Majlis Taklim, kelompok Yasinan untuk ibu dan ayah, Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mi'raj, Idul Fitri dan Idul Adha. 2). Integrasi kegiatan keagamaan masyarakat Anjir Serapat Muara sebagai sumber belajar IPS. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kegiatan keagamaan Anjir Serapat Muara dapat digunakan sebagai sumber belajar IPS karena dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya dalam materi interaksi sosial, lembaga sosial, serta keragaman etnis dan budaya di kelas VII Semester I SMP.
Pemanfaatan Daun Kering Berbasis Pendekatan STM pada Peserta Didik SDN Remo Sukma Ayu Kharismawati; Wahyu Wahyu; Deasy Arisanty; Bambang Subiyakto; Mutiani Mutiani
Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 1 (2024): Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faktor penyebab kerusakan lingkungan khususnya di sekolah adalah kurangnya kesadaran akan pentingnya pembuangan limbah yang benar. Berdasarkan permasalahan tersebut, guru dapat menerapkan pembelajaran dengan pendekatan STM. Pendekatan STM merupakan satu diantara pendekatan pembelajaran kontekstual yang membantu peserta didik menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemanfaatan daun kering untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengkaji pembelajaran berbasis STM. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data dicapai melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknis, sedangkan teknik analisis data dicapai melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti, diperoleh hasil bahwa peserta didik SDN Remo belum sadar akan kepedulian lingkungan. Beberapa sampah ditemukan di sekitar sekolah. Adanya tumpukan sampah di lingkungan sekolah menjadikan lingkungan sekolah terlihat kotor dan kumuh serta mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Guru mencoba mengatasi masalah ini dengan meningkatkan kesadaran lingkungan dengan mengajarkan peserta didik cara membuat kerajinan tangan dari daun-daun kering. Penelitian terhadap pemanfaatan daun kering di SDN Remo membentuk karakter peduli lingkungan pada peserta didik. Mengajarkan peserta didik untuk memanfaatkan daun-daun kering di sekitar sekolah. Menyertakan pendekatan STM memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman hidup, mengenal permasalahan, menemukan cara dan solusi penyelesaiannya. Selain itu, dapat memberikan wawasan tentang teknologi dan masyarakat.
Agrarian Conflict in Indonesia: A Literature Review of The Relationship Between Hegemony and Ecological Impact Dewicca Fatma Nadilla; Bambang Subiyakto; Rochgiyanti Rochgiyanti; Deasy Arisanty; Syaharuddin Syaharuddin
Publikasi Berkala Pendidikan Ilmu Sosial Vol 5, No 2 (2025): PAKIS, September 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/pakis.v5i2.15517

Abstract

Agrarian conflict in Indonesia is a pressing structural issue, as it involves unequal access to land between the state, corporations, and indigenous communities. This study aims to examine the dynamics of agrarian conflict and state hegemony in controlling agrarian resources, while analyzing the resulting ecological impacts. The method used is a literature study with a descriptive qualitative approach, analyzing various legal documents, reports from civil society organizations, and academic and media articles. The results of the study indicate that the state, through national strategic projects and the granting of concessions such as HGU, often ignores the customary rights of local communities, triggering social conflict and damaging the ecological order. This form of domination is reinforced by the weak recognition of customary law and minimal public participation in the formulation of agrarian policies. Ecologically, agrarian conflict has an impact on deforestation, land degradation, environmental pollution, and a sustainability crisis. The study's conclusions confirm that the state exercises hegemony in agrarian conflict in Indonesia through coercive and ideological power, which legitimizes land grabbing in the name of development. Case studies show a pattern of land acquisition without community consent, which causes social conflict and ecological damage, and marginalizes the role of local communities in decision-making.
Studies Theoretical the Contribution of Feminism Philosophy Towards Women's Involvement in the Contemporary World of Work Jumriani Jumriani; Bambang Subiyakto; Rusmaniah Rusmaniah; Syarifuddin Syarifuddin
The Kalimantan Social Studies Journal Vol 7, No 1 (2025): THE KALIMANTAN SOCIAL STUDIES JOURNAL, OCTOBER 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/kss.v7i1.16803

Abstract

This theoretical study examines the contribution of feminist thought to women's involvement in the contemporary workplace, with a particular focus on the interconnections between various feminist theories and their practical implications in the Indonesian context. Through a comprehensive literature analysis and examination of empirical data, this study reveals a complex web of perspectives and theoretical Feminism that has shaped women's participation in the modern workplace. This study demonstrates that integrating various streams of Feminism, from liberal Feminism to Islamic Feminism, has created a more nuanced understanding of gender equality in the workplace. This study identifies how the foundations of theoretical knowledge have influenced the development of organizational policies and practices in Indonesia, demonstrating that successful implementation of gender equality initiatives requires a contextual approach that considers the intersections of gender with class, religion, and local culture. Data analysis from across sectors shows significant progress in women's labor force participation, with organizations adopting an integrated feminist approach experiencing increased productivity. However, the study also reveals ongoing challenges in implementing the theoretical framework in the unique socio-cultural context of Indonesia. This study concludes that the contribution of feminist thought to women's involvement in the workplace is multidimensional and interconnected. This study emphasizes the importance of developing implementation mechanisms that consider local complexities while maintaining universal principles of gender equality. The study recommends strengthening policy implementation mechanisms, developing holistic empowerment programs, and establishing collaborative platforms between academics, practitioners, and policymakers to facilitate ongoing dialogue on implementing feminist theory in contemporary work. 
The traditional custom of Tawas Jaa as a means of strengthening social cohesion among the Dayak Deah community Dewicca Fatma Nadilla; Bambang Subiyakto; Deasy Arisanty; Syaharuddin Syaharuddin; Fitri Mardiani; Ilham Galih Pambudi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.39202

Abstract

The Tawas Jaa tradition practiced by the Dayak Deah community in Upau represents a culturally significant ritual imbued with profound spiritual and social values. Beyond its role as a medium of ancestral veneration, this tradition is an integral mechanism for reinforcing communal bonds. The collective participation of all societal strata in the ritual across gender, generational, and religious lines reflects a strong foundation of social cohesion rooted in shared religious and cultural beliefs. This study examines the sociocultural meaning of the Tawas Jaa tradition as a form of religious-based social cohesion within the Dayak Deah community of Kaong. Employing a qualitative research design with a descriptive approach, the research was conducted in Kaong Village, identified in 2024 & 2025 as the sole remaining village in the Upau subdistrict actively maintaining the Tawas Jaa practice. Data was collected through participant observation and in-depth interviews, with informants selected via snowball sampling techniques. Data analysis employed source triangulation, encompassing data reduction, data display, and conclusion drawing. The research findings indicate that the Tawas Jaa tradition serves as a central pillar of community cohesion, facilitating the integration of diverse social segments through collective involvement. The ritual encompasses elements of mutual cooperation, community-driven fundraising, and the symbolic use of cultural artifacts such as ancak and the dragon boat—each reinforcing collective identity and interdependence. In addition to its spiritual dimensions, the tradition underscores the importance of egalitarianism, social solidarity, and communal self-reliance. Furthermore, by embracing religious plurality, the tradition fosters a resilient social structure and affirms the enduring relevance of ancestral values in shaping communal life.     Tradisi Adat Tawas Jaa pada masyarakat Dayak Deah di Upau merupakan praktik budaya yang tidak hanya sarat nilai spiritual dan sosial, tetapi juga berfungsi sebagai sarana memperkuat kohesi sosial berbasis religi di tengah kehidupan komunitas. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antaranggota komunitas. Melalui pelaksanaan ritual-ritual yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, Tawas Jaa mencerminkan kohesi sosial yang berakar pada nilai-nilai religi yang kuat. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi makna tradisi adat Tawas Jaa sebagai bentuk kohesi sosial berbasis religi bagi masyarakat Dayak Deah Kaong. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Dipilihnya Desa Kaong karena pada tahun 2024 & 2025 merupakan satu-satunya desa yang menyenggarakan Tradisi Adat Tawas Jaa ini di Kecamatan Upau. Data dikumpulkan dari observasi dan wawancara mendalam. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik Snowball Sampling. Analisis data menggunakan teknik triangulasi sumber, melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan Tradisi Tawas Jaa dalam masyarakat Dayak Deah berfungsi sebagai pilar kohesi sosial, mengintegrasikan seluruh lapisan masyarakat melalui partisipasi lintas gender, generasi, dan agama dalam penyelenggaraan nya. Ritual ini melibatkan gotong royong, pengumpulan dana secara mandiri, serta simbol-simbol adat seperti ancak dan perahu naga yang memperkuat identitas budaya mereka. Selain nilai spiritual, Tawas Jaa juga menegaskan pentingnya kesetaraan, solidaritas sosial, dan kemandirian komunitas. Dengan menghormati keberagaman keyakinan, tradisi ini membangun ketahanan sosial dan komitmen terhadap nilai-nilai kolektif yang diwariskan oleh para leluhur.