Claim Missing Document
Check
Articles

Peningkatan Kreativitas Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Media Story Stones Penelitian Tindakan Kelas di TK Cendana Rumbai Patira Azzahra; Suharni; Sean Marta Efastri; Yesi Novitasari
Jurnal Studi Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 2 No. 3 (2026): November
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jspaud.v2i3.2362

Abstract

Kreativitas merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan anak usia dini yang perlu distimulasi melalui proses pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Salah satu media yang dapat dimanfaatkan untuk merangsang kreativitas tersebut adalah Story Stones, yaitu media pembelajaran berupa batu bergambar yang dapat mendorong anak untuk mengembangkan ide, imajinasi, dan cerita secara bebas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak usia 5–6 tahun melalui penerapan media Story Stones di TK Cendana Rumbai. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah anak kelompok usia 5–6 tahun di TK Cendana Rumbai. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi. Aspek kreativitas yang diamati meliputi kemampuan anak dalam menghasilkan ide secara lancar, mengembangkan imajinasi, mengekspresikan gagasan, serta menciptakan karya visual yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kreativitas anak setelah diterapkannya media Story Stones. Pada tahap prasiklus, tingkat kreativitas anak berada pada persentase 35% dengan kategori Mulai Berkembang (MB). Setelah diberikan tindakan melalui penggunaan media Story Stones, kreativitas anak pada siklus II meningkat menjadi 81% dengan kategori Berkembang Sangat Baik (BSB). Peningkatan tersebut terlihat dari kemampuan anak dalam mengemukakan berbagai gagasan, mengembangkan imajinasi melalui kegiatan bercerita, mengekspresikan ide baik secara lisan maupun melalui hasil karya, serta menghasilkan kreasi visual yang semakin beragam. Dengan demikian, penggunaan media Story Stones dalam kegiatan pembelajaran menunjukkan peningkatan terhadap kreativitas anak usia 5–6 tahun di TK Cendana Rumbai.
Penerapan Metode Project Based Learning (PJBL) Untuk Meningkatkan Kemandirian Anak Usia Dini di TK Pertiwi Kota Pekanbaru Lira Efendi; Suharni; Yesi Novitasari; Sean Marta Efastri
Jurnal Studi Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 2 No. 3 (2026): November
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jspaud.v2i3.2366

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian anak melalui penerapan metode Project Based Learning (PjBL) dengan kegiatan kolase di TK Pertiwi Kota Pekanbaru. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam dua kali pertemuan yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 10 orang anak kelompok B yang terdiri dari 3 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Project Based Learning (PjBL) dengan kegiatan kolase dapat meningkatkan kemandirian anak. Pada pra siklus, persentase rata-rata kemandirian anak sebesar 31% dengan kategori Mulai Berkembang (MB). Pada siklus I pertemuan 1 meningkat menjadi 44% dengan kategori Mulai Berkembang (MB), dan pada siklus I pertemuan 2 meningkat menjadi 61% dengan kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH). Selanjutnya pada siklus II pertemuan 1 meningkat menjadi 84% dengan kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), dan pada siklus II pertemuan 2 mencapai 88% dengan kategori Berkembang Sangat Baik (BSB). Dengan demikian, penerapan metode Project Based Learning (PjBL) dengan kegiatan kolase menunjukkan bahwa penerapan PjBL berkaitan dengan peningkatan kemandirian anak dan dapat meningkatkan kemandirian anak di TK Pertiwi Kota Pekanbaru serta telah melampaui indikator keberhasilan penelitian yang ditetapkan sebesar 75%.
Artificial Intelligence in Bilingual Early Childhood Education: Teachers’ Perspectives on Teaching Material Development Yesi Novitasari; Reswita Reswita; Mohammad Fauziddin
Educative: Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2026): January - April 2026
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/educative.v4i1.2182

Abstract

This study analyzes teachers’ prior knowledge of Artificial Intelligence (AI) technology and their perceived role of AI in developing teaching materials for bilingual early childhood education. The study employed a quantitative approach with a descriptive research design. The participants consisted of 10 teachers at Sun Global School and Daycare in Pekanbaru, selected using total sampling. Data were collected using a structured closed-ended questionnaire measured on a five points Likert scale. The data were analyzed using descriptive statistics, including percentage distributions, mean scores, and standard deviations. The findings indicate that teachers have a fairly good foundational understanding of AI technology and perceive AI as beneficial for developing teaching materials. The overall perceived role of AI in teaching material development reached 79.2%, categorized as very high. Teachers perceived AI as useful for generating creative ideas, accelerating the development of teaching materials, and supporting the creation of more engaging and interactive learning media. However, teachers also reported technical challenges and a need for further training in AI use. These findings imply that bilingual early childhood education institutions should provide targeted AI literacy and professional development programs focusing on generating, evaluating, and adapting AI assisted teaching materials according to children’s developmental characteristics and bilingual learning contexts. Institutional support through adequate technological infrastructure and continuous teacher mentoring is also needed to ensure the pedagogically appropriate use of AI.
Pengaruh Cooking Class Berbasis Budaya Melayu terhadap Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini Usia 5-6 Tahun di TK Negeri Pembina Sungai Mandau Ulfa Maharani; Yesi Novitasari
Al-DYAS Vol 5 No 3 (2026): Al-DYAS: Jurnal Inovasi dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/aldyas.v5i3.11842

Abstract

Early childhood cognitive development should be stimulated through concrete and active learning that is consistent with children’s experiences and cultural environments. However, learning dominated by conventional activities may limit children’s opportunities to explore, solve problems, and develop thinking skills through direct experience. This study aims to analyze the effect of a Malay culture-based cooking class method on the cognitive development of children aged 5–6 years at TK Negeri Pembina Sungai Mandau. The study employed a quantitative approach with a quasi-experimental design involving 24 children, comprising 12 children from class B4 as the experimental group and 12 children from class B2 as the control group. Data were collected through observation using an instrument comprising 10 indicators of cognitive development rated on a scale of 1–4. The experimental group received three treatments involving the preparation of Minuman Laksamana Mengamuk, Kue Kemojo, and Roti Jala, whereas the control group participated in conventional learning. The data were analyzed using tests of normality and homogeneity and an independent-samples t test. The findings indicate that the experimental group’s mean cognitive ability score increased from 45.00 on the pretest to 88.95 on the posttest, representing an increase of 43.95 points. Meanwhile, the control group’s mean score increased from 46.87 to 53.54, representing an increase of 6.67 points. The test results revealed a significant difference between the two groups (t = 14.242; p < .001). This study concludes that Malay culture-based cooking classes significantly affect the cognitive development of children aged 5–6 years by facilitating concrete experiences, exploration, problem-solving, creativity, and the introduction of local wisdom. These findings contribute to the development of contextual learning in early childhood education and provide practical implications for teachers seeking to integrate local culture-based cooking activities into learning activities.
Penguatan Kompetensi Pedagogik dan Profesionalisme Guru PAUD: Optimalisasi Pemanfaatan Media Digital berbasis Budaya Melayu Siti Fadillah; Azlin Atika Putri; Yesi Novitasari; Herdi Herdi
Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara Vol 10 No 3 (2026): Volume 10 Nomor 3 Tahun 2026
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/ja.v10i3.28034

Abstract

Kompetensi pedagogik dan profesionalisme guru PAUD merupakan hal yang sangat krusial dalam peningkatan mutu pendidikan anak usia dini, khususnya pada era transformasi digital yang menuntut integrasi teknologi baik secara pedagogis maupun kontekstual dalam pembelajaran. Adapun permasalahan yang dihadapi guru PAUD dilapangan antara lain terbatasnya kemampuan dalam mengintegrasikan media digital secara bermakna serta belum mengoptimalkan integrasi nilai budaya lokal, termasuk budaya melayu Riau dalam pembelajaran. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk penguatan dalam pemanfaatan media digital berbasis budaya melayu dalam meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesionalisme guru PAUD pada HIMPAUDI kota Pekanbaru. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini yaitu pendekatan partisipasif melalui tahapan analisis kebutuhan, pelatihan, serta evaluasi. Adapun mitra dari kegiatan ini yaitu terdiri atas 30 guru PAUD. Pengumpulan data dilakukan melalui angket pre-test dan post-test, serta dokumentasi kegiatan. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk melihat perubahan kompetensi guru sebelum dan sesudah intervensi. Hasil pengabdian menunjukkan terdapat peningkatan yang signifikan pada seluruh aspek yang diukur. Rata-rata kompetensi pedagogik guru meningkat dari 55% pada pre-test menjadi 82% pada post-test, profesionalisme guru meningkat dari 58% menjadi 85%, pemanfaatan media digital meningkat dari 52% menjadi 80%, dan kemampuan integrasi budaya Melayu dalam pembelajaran meningkat dari 50% menjadi 83%. Kegiatan pengabdian ini berkontribusi secara nyata dalam meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesionalisme guru PAUD melalui pemanfaatan media digital yang berakar pada budaya lokal melayu Riau. Pendekatan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan terbukti efektif dalam mendorong transformasi praktik pembelajaran yang inovatif, reflektif, dan berkelanjutan.
Kegiatan Cooking Class Sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan Makanan Bergizi Pada Anak Usia 5-6 Tahun di TK Pertiwi Kota Pekanbaru Sepri Zela; Heleni Filtri; Yesi Novitasari; Suharni
Jurnal Studi Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 2 No. 3 (2026): November
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jspaud.v2i3.2425

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya pengetahuan makanan bergizi pada anak usia 5–6 tahun di TK Pertiwi Kota Pekanbaru. Pembelajaran yang dilakukan sebelumnya masih menggunakan lembar kerja sehingga anak kurang memahami jenis makanan bergizi, manfaat makanan sehat, serta cara memilih makanan yang baik untuk dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan makanan bergizi melalui kegiatan cooking class pada anak usia 5–6 tahun. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan subjek penelitian sebanyak 14 anak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi. Pengetahuan makanan bergizi diukur melalui beberapa indikator utama, yaitu kemampuan anak menyebutkan contoh makanan bergizi, mengenal bahan yang digunakan dalam kegiatan cooking class, membedakan makanan sehat dan tidak sehat, serta menyebutkan manfaat makanan sehat bagi tubuh. Penilaian juga didukung oleh indikator keterlibatan anak dalam kegiatan, meliputi kemampuan bekerja sama,mengikuti kegiatan dengan baik, aktif bertanya dan menjawab, melakukan kegiatan sederhana, mengikuti arahan guru, serta merapikan bahan dan alat setelah kegiatan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan cooking class dapat meningkatkan kemampuan anak berdasarkan persentase rata-rata hasil observasi. Persentase meningkat dari 39% pada pra-siklus menjadi 57% pada siklus I, kemudian meningkat menjadi 84% pada siklus II. Jumlah anak yang mencapai ketuntasan juga mengalami peningkatan, yaitu dari 6 anak pada pra-siklus menjadi 9 anak pada siklus I dan 13 anak pada siklus II. Peningkatan tersebut dilakukan melalui kegiatan cooking class yang melibatkan anak secara langsung dalam membuat sate buah, sandwich sehat, bubur kacang hijau, dan sup telur puyuh. Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada anak untuk mengenal jenis makanan, bahan makanan, membedakan makanan sehat dan tidak sehat, serta memahami manfaat makanan bergizi bagi tubuh. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kegiatan cooking class dapat meningkatkan pengetahuan makanan bergizi pada anak usia 5–6 tahun di TK Pertiwi Kota Pekanbaru