Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

The Correlations Between Infectious Diseases, LBW History, and IMD with the Incidence of Stunting in Toddlers Aged 24-59 Months Rahman, Prabowo; Mas'Odah, Siti; Sajiman; Aprianti
Jurnal Riset Pangan dan Gizi Vol. 8 No. 1 (2026): JURNAL RISET PANGAN DAN GIZI (JR-PANZI)
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jr-panzi.v8i1.275

Abstract

Stunting remains a national priority. The prevalence of stunting in Hulu Sungai Utara Regency remains above the RPJMN target of 18.37%. The highest number of stunting cases occurs in the 24-59 month age group, accounting for 70.5% of total cases. The combination of early childhood education, a history of low birth weight, and exposure to infectious diseases contributes to the high prevalence of stunting in toddlers aged 24-59 months. The purpose of this study was to determine the relationship between infectious diseases, a history of low birth weight, and early childhood education with stunting in toddlers aged 24-59 months in Kaludan Kecil Village, working area of Public Health Center Banjang. This research is an observational analytical study with a cross-sectional design and quantitative methods. The study was conducted in Kaludan Kecil Village, working area of UPT Public Health Center Banjang. The study sample consisted of mothers and toddlers aged 24–59 months, using a total sampling technique. The study was conducted from September to December 2025. Data were analyzed using the chi-square test and prevalence ratio. The analysis showed that 68.5% of toddlers had a history of infectious diseases, 83.3% did not experience low birth weight (LBW), 68.5% had a history of early breastfeeding (IMD), and 66.7% did not experience stunting. There was a relationship between infectious diseases (p=0.023, PR=3,692), a history of LBW (p=0.004, PR=3,184) and the incidence of stunting in toddlers aged 24-59 months. There was no relationship between a history of IMD and the incidence of stunting in toddlers aged 24-59 months (p=0.836). It is hoped that the Public Health Center can improve health programs to reduce the incidence of infectious diseases, such as increasing education on environmental hygiene and sanitation, conducting evaluations in reducing the incidence of low birth weight through prenatal classes, and socializing the importance of starting breastfeeding early to mothers.
Cowpea–Plantain Composite Flour: An Educational Approach to Dietary Intervention for Blood Pressure Management Zulfiana Dewi; Sajiman Sajiman
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 12 No 2 (2026)
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v12i2.13380

Abstract

Hypertension is a major risk factor for cardiovascular diseases and remains highly prevalent in Indonesia, particularly in South Kalimantan. This study aims to formulate a cowpea–plantain composite flour as a functional food with synergistic potential for blood pressure regulation. Composite flours were produced by processing raw materials through drying, milling, and sieving into formulations ranging from 10:90 to 90:10. Sensory attributes, including color, aroma, texture, and taste, were evaluated by 30 panelists, and the best formulation was determined using the De Garmo effectiveness index. Proximate composition, mineral content (potassium and sodium), and amino acid profiles were analyzed in an accredited laboratory. Sensory evaluation revealed that higher proportions of cowpea decreased taste acceptability, whereas plantain improved organoleptic characteristics. The optimal formulation was identified as KTPR8020 (80% cowpea : 20% plantain), which achieved a balanced profile of texture, aroma, and taste. Nutritional analysis indicated that cowpea increased protein (17.50%) and fat (1.56%) contents, while plantain contributed mainly to carbohydrates. The KTPR8020 formulation contained 5.98 mg/100 g potassium with a K/Na ratio of 7.1, supporting potassium-induced natriuresis. Amino acid profiling showed dominance of lysine, leucine, isoleucine, valine, and arginine, which are known precursors of bioactive peptides with ACE-inhibitory activity
Enhancing Nutritional Education Through the Development of Toddler Biscuits: A Focus on Mung Bean Flour and Patin Fish Paste as Effective Nutritional Interventions Against Malnutrition Sajiman Sajiman; Zulfiana Dewi
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 12 No 2 (2026)
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v12i2.13381

Abstract

This study aims to formulate toddler biscuits from mung bean flour and patin fish paste and to analyze their sensory quality, proximate content, amino acid profile, and fatty acid profile. Biscuits were prepared with varying ratios of mung bean flour and patin fish paste (10:90 to 90:10). Sensory quality tests were conducted using a hedonic scale scoring method with 30 trained panelists. The best formulation was selected using the De-Garmo test. Proximate analysis, amino acid profile, and fatty acid profile were performed on the best formulation and compared with standard toddler PMT biscuits. The KHIP5050 formulation (50% mung bean flour: 50% patin fish paste) was determined to be the best treatment based on the highest total De-Garmo score (3.33). Nutritionally, KHIP5050 biscuits had higher energy (479.45 kcal), protein (16.81%), and fat (27.77%) compared to standard PMT biscuits. The fatty acid profile was superior, with higher levels of MUFA and PUFA, and the presence of EPA, DHA, and AA, which were not detected in the standard biscuits. Toddler biscuits based on mung bean flour and patin fish paste, especially the KHIP5050 formulation, have significant potential as a nutrient-dense food product to address malnutrition in toddlers.
EDUKASI POLA MAKAN BERBASIS MODUL 3J DAN POSTER “ISI PIRINGKU” TERHADAP PENINGKATAN KOGNITIF DAN KEPATUHAN NUTRISI PASIEN DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ASTAMBUL Evi Risa Mariana; Jujuk Anton Cahyono; Sajiman Sajiman
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepatuhan manajemen nutrisi harian menjadi pilar utama dalam mengendalikan kadar gula darah dan mencegah komplikasi kronis pada penderita Diabetes Melitus (DM). Namun, rendahnya pemahaman mengenai pembatasan porsi makan sering kali menjadi hambatan utama di tingkat komunitas. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan psikomotorik penderita DM di Desa Pasar Jati melalui intervensi edukasi pola makan berbasis prinsip 3J (Jadwal, Jenis, Jumlah). Metode yang digunakan meliputi skrining klinis kadar gula darah harian pada 25 responden, intervensi edukasi menggunakan Modul 3J, demonstrasi porsi makan sehat dengan metode "Isi Piringku" menggunakan bahan makanan mentah riil, serta pemantauan keberlanjutan melalui kunjungan rumah (home visit). Hasil evaluasi menunjukkan adanya pergeseran kognitif kolektif yang signifikan, di mana akumulasi skor jawaban benar meningkat dari 74,08% saat pre-test menjadi 86,24% saat post-test. Secara individu, 76% responden mengalami peningkatan nilai mandiri, dan kelompok dengan tingkat pengetahuan kategori "Kurang" berhasil ditekan hingga 0%. Kesimpulan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa intervensi komunikasi kesehatan yang terstruktur dan aplikatif terbukti efektif meningkatkan kemandirian penderita DM dalam mengontrol pola konsumsi di lingkungan rumah tangga secara berkelanjutan.
Pengaruh Intervensi Diet Rendah Garam Dan Jus Mentimun Terhadap Tekanan Darah Lansia Di UPT Puskesmas Pulau Kupang Heppi Oktavia; Ermina Syainah; Nurhamidi; Sajiman
Sains Medisina Vol 4 No 3 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i3.920

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama pada populasi lansia yang memerlukan pendekatan pengelolaan komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh intervensi diet rendah garam dan pemberian jus mentimun terhadap perubahan tekanan darah lansia penderita hipertensi. Metode penelitian menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest yang melibatkan 14 responden lansia berusia 60 tahun ke atas di wilayah kerja UPT Puskesmas Pulau Kupang. Responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerima jus mentimun 200 ml dua kali sehari dan kelompok yang menjalani diet rendah garam dengan asupan natrium maksimal 2.000 mg per hari, kedua intervensi dilakukan selama tujuh hari berturut-turut. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter digital. Analisis data menggunakan uji paired sample t-test dan independent sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan penurunan bermakna pada kedua kelompok intervensi dengan nilai p kurang dari 0,001. Kelompok jus mentimun mengalami penurunan rerata tekanan darah dari 179,57 mmHg menjadi 159,29 mmHg, sedangkan kelompok diet rendah garam turun dari 188,00 mmHg menjadi 145,00 mmHg. Perbandingan antarkelompok menunjukkan diet rendah garam lebih efektif menurunkan tekanan darah dibandingkan jus mentimun dengan nilai p sebesar 0,001. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diet rendah garam dan jus mentimun terbukti efektif sebagai intervensi nonfarmakologis dalam menurunkan tekanan darah lansia, dengan diet rendah garam menunjukkan efektivitas lebih optimal.
Hubungan Pengetahuan Gizi Dan Pola Konsumsi Sayuran Dengan Kejadian Anemia Remaja Putri Kelas 7 Dan Kelas 10 Di Puskesmas Tabukan Jumiati; Sajiman; Niken Pratiwi; Ermina Syainah
Sains Medisina Vol 4 No 3 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i3.926

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan pada remaja putri. Data UPTD Puskesmas Tabukan Tahun 2025 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri kelas 7 dan kelas 10 mencapai 55,17%, sehingga diperlukan kajian terhadap faktor penyebabnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan gizi dan pola konsumsi sayuran dengan kejadian anemia pada remaja putri di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tabukan. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 144 remaja putri, dan sebanyak 116 sampel dipilih melalui simple random sampling. Data pengetahuan gizi dikumpulkan menggunakan kuesioner, pola konsumsi sayuran menggunakan SQ-FFQ, serta kadar hemoglobin diukur dengan Hb meter. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 13–15 tahun (55,2%), memiliki pengetahuan gizi kategori kurang (42,2%), dan pola konsumsi sayuran yang juga kurang (59,5%). Prevalensi anemia cukup tinggi, yaitu 55,2%. Analisis bivariat dengan uji Chi-Square (p<0,05) menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan gizi dengan kejadian anemia (p=0,001), serta hubungan signifikan antara pola konsumsi sayuran dengan kejadian anemia (p=0,003). Diperlukan edukasi gizi dan promosi konsumsi sayuran secara berkelanjutan untuk menurunkan prevalensi anemia pada remaja putri.
Hubungan Pola Konsumsi Lemak, Natrium, Serat, Dan Tingkat Stress Pada Penderita Hipertensi Usia Produktif Studi Di UPT Puskesmas Anjir Muara Milawati; Sajiman; Yasir Farhat; Meilla Dwi Andrestian
Sains Medisina Vol 4 No 3 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i3.928

Abstract

Hipertensi pada usia produktif merupakan masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh faktor perilaku dan psikologis. Data masalah yang ada di UPT Puskesmas Anjir Muara terjadi peningkatan kasus dari 714 menjadi 1502 kasus tahun 2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pola konsumsi lemak, natrium, serat, serta tingkat stres pada penderita hipertensi  usia produktif di wilayah kerja UPT Puskesmas Anjir Muara. Desain penelitian menggunakan analitik observasional dengan rancangan case control dengan metode wawancara menggunakan kuesioner pada responden kasus dan kontro, dengan uji chi square.Responden memiliki pola konsumsi lemak dan natrium yang sering, masing-masing sebesar 60,8% dan 57,0%. Konsumsi serat juga relatif sering 52,7%. Tingkat stres sebagian besar berada pada kategori sedang  yaitu 92,5%, sedangkan stres tinggi sebesar 7,5%. Hasil uji bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara konsumsi lemak (p=0,024; OR=0,505) dan tingkat stres dengan hipertensi (p=0,001; OR=14,950). Sementara konsumsi natrium (p=0,300; OR=1,422) dan serat (p=0,078; OR=0,594) tidak menunjukkan hubungan signififikan. Berdasarkan hasil penelitian ini menegaskan bahwa konsumsi lemak tinggi dan stres merupakan faktor dominan dalam peningkatan risiko hipertensi, sehingga pengendalian pola makan dan manajemen stres direkomendasikan sebagai strategi pencegahan. Disarankan kepada masyarakat untuk mengurangi konsumsi lemak, mengelola stres dengan baik, serta meningkatkan konsumsi serat. Pihak puskesmas diharapkan dapat memberikan edukasi rutin mengenai gizi seimbang dan deteksi dini hipertensi.