Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pengaruh Latihan Diagonal Passing Square dan Passing Triangle terhadap Ketepatan Passing Futsal Rahman, Rusnaldi; Suprawesta, Lalu; Lukman, Lukman
Sportify Journal Vol. 4 No. 1 (2024): June
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sj.v4i1.5070

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh latihan diagonal passing square dan passing triangle terhadap ketepatan passing pemain Asta Futsal. Penelitian menggunakan desain eksperimen two-group pretest-posttest. Sampel berjumlah 20 pemain yang dibagi menjadi dua kelompok dengan ordinal pairing: 10 pemain mengikuti latihan diagonal passing square dan 10 pemain mengikuti latihan passing triangle. Instrumen penelitian adalah tes passing rendah menuju gawang kecil. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, homogenitas, uji berpasangan, dan uji perbandingan antarkelompok. Hasil menunjukkan latihan diagonal passing square meningkatkan rata-rata skor dari 69,0 menjadi 84,0 (p = 0,001), sedangkan passing triangle meningkat dari 71,0 menjadi 84,0 (p = 0,027). Tidak terdapat perbedaan signifikan antarkelompok (p = 0,707). Kedua latihan efektif meningkatkan ketepatan passing futsal. Effects of Diagonal Passing Square and Passing Triangle Drills on Futsal Passing Accuracy Abstract This study aimed to examine the effects of diagonal passing square and passing triangle drills on passing accuracy among Asta Futsal players. A two-group pretest-posttest experimental design was used. The sample consisted of 20 players divided into two balanced groups through ordinal pairing: 10 players performed diagonal passing square drills and 10 players performed passing triangle drills. The instrument was a low passing accuracy test toward a small target goal. Data were analyzed using normality, homogeneity, paired comparison, and between-group comparison tests. The results showed that diagonal passing square improved the mean score from 69.0 to 84.0 (p = 0.001), while passing triangle improved the mean score from 71.0 to 84.0 (p = 0.027). No significant difference was found between groups (p = 0.707). Both drills effectively improved futsal passing accuracy.
Perbandingan Circle Passing Drill dan Triangle Passing Drill terhadap Akurasi Passing Futsal Siswa Ekstrakurikuler Alfani, Yuda Aditia; Suprawesta, Lalu; Supriyatnak, Kokom
Sportify Journal Vol. 4 No. 1 (2024): June
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sj.v4i1.5077

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui peningkatan akurasi passing futsal setelah latihan circle passing drill dan triangle passing drill serta membandingkan efektivitas keduanya. Penelitian menggunakan desain eksperimen semu two-group pretest-posttest. Sampel berjumlah 20 siswa ekstrakurikuler futsal MTsN 2 Lombok Timur yang dibagi menjadi dua kelompok melalui ordinal pairing berdasarkan skor pretest, yaitu 10 siswa kelompok circle passing drill dan 10 siswa kelompok triangle passing drill. Instrumen penelitian menggunakan short pass test berbasis target. Latihan dilakukan selama 18 pertemuan dalam enam minggu. Data dianalisis menggunakan paired sample t-test dan independent sample t-test. Hasil menunjukkan circle passing drill meningkatkan skor dari 95,00 menjadi 175,00 dengan t = 5,072 dan p = 0,001. Triangle passing drill meningkatkan skor dari 65,00 menjadi 155,00 dengan t = 4,879 dan p = 0,001. Perbandingan peningkatan antarkelompok tidak signifikan dengan p = 0,927. Kesimpulannya, kedua metode meningkatkan akurasi passing, tetapi perbedaan efektivitas keduanya belum terbukti signifikan. Comparison of Circle Passing Drill and Triangle Passing Drill on Futsal Passing Accuracy among Extracurricular Students Abstract This study aimed to examine the improvement in futsal passing accuracy after circle passing drill and triangle passing drill training and to compare their effectiveness. This research used a quasi-experimental two-group pretest-posttest design. The sample consisted of 20 futsal extracurricular students at MTsN 2 Lombok Timur, divided into two groups through ordinal pairing based on pretest scores: 10 students in the circle passing drill group and 10 students in the triangle passing drill group. The instrument was a target-based short pass test. The intervention was conducted for 18 sessions over six weeks. Data were analyzed using paired sample t-tests and an independent sample t-test. The results showed that circle passing drill improved scores from 95.00 to 175.00, with t = 5.072 and p = .001. Triangle passing drill improved scores from 65.00 to 155.00, with t = 4.879 and p = .001. The between-group comparison was not significant, with p = .927. In conclusion, both drills improved passing accuracy, but their comparative effectiveness was not significantly different.
SOSIALISASI DAN PENDAMPINGAN KADER DALAM IDENTIFIKASI FRAILTY PADA LANSIA RUMAH SENJA LOMBOK TIMUR Lalu Suprawesta; Indri Susilawati; Ni Ketut Dewita Putri
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.36443

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia menimbulkan tantangan serius dalam bidang kesehatan masyarakat, salah satunya adalah kondisi frailty atau kerapuhan. Rumah Senja di Lombok Timur, yang menaungi lebih dari 100 lansia, belum memiliki sistem skrining rutin, dan kader pendamping belum mampu mngidentifikasi frailty secara mandiri. Program pengabdian masyarakat berbasis penelitian ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader dalam mengidentifikasi frailty menggunakan instrumen fungsional sederhana. Metode pengabdian yang dilakukan adalah community-based research (CBR) dengan tahapan persiapan, pelaksanaan pendampingan, lalu monitoring dan evaluasi. Kegiatan dilakukan selama empat minggu, yang diikuti oleh 10 orang kader dan dihadiri oleh 49 lansia. Hasil pemeriksaan dengan pendampingan menunjukkan bahwa 28 lansia (57,1%) berada pada kategori frail, 16 lansia (32,7%) dalam kategori pre-frail, dan hanya 5 lansia (10,2%) tergolong robust. Pemahaman kader tentang frailty meningkat dari rata-rata 85 menjadi 87 poin, serta persepsi terhadap pencegahan melalui olahraga, nutrisi, dan dukungan sosial naik dari 85,7% menjadi 90,9%. Sebanyak 81,8% kader merekomendasikan skrining bulanan, sedangkan 18,2% menyarankan minimal dua kali setahun. Temuan ini menunjukkan prevalensi frailty di Rumah Senja cukup tinggi. Pelatihan kader dengan instrumen sederhana terbukti efektif meningkatkan kapasitas deteksi dini. Model skrining frailty berbasis komunitas ini memiliki potensi besar untuk dijadikan contoh di wilayah lain sebagai bagian dari strategi nasional mendukung penuaan sehat di Indonesia.Kata kunci: Frailty; Identifikasi; Instrumen Fungsional; Kader Kesehatan; Lanjut Usia. ABSTRACTThe increasing number of elderly people in Indonesia poses serious challenges in public health, one of which is the condition of frailty. Rumah Senja in East Lombok had more than 100 elderly individuals, currently lacks a regular screening system, and its field cadres are unable to independently identify frailty. This research-based community service project aims to enhance the capacity of cadres in identifying frailty using simple functional assessment tools. The method applied is community-based research (CBR) through stages of preparation, implementation of fascilitation, and monitoring and evaluation. The activities were conducted over four weeks, involving 10 cadres and 49 elderly participants. Screening results with guidance showed that 28 elderly (57.1%) were classified as frail, 16 (32.7%) as pre-frail, and only 5 (10.2%) as robust. Cadres’ understanding of frailty improved from an average of 85 to 87 points, and their perception of prevention through exercise, nutrition, and social support increased from 85.7% to 90.9%. A total of 81.8% of cadres recommended monthly screenings, while 18.2% suggested at least twice a year. These findings indicate a high prevalence of frailty at Rumah Senja. This community-based frailty screening model has significant potential to be replicated in other regions as part of a national strategy to support healthy aging in Indonesia. Keywords: Frailty; Identification; Functional Instrument; Health’s Cadres; Elderly.
PELATIHAN TEKNIK RENANG KEPADA ANAK-ANAK DESA MEKARSARI LOMBOK BARAT I Nyoman Sukartidana; Lalu Suprawesta; Muhammad Riyan Hidayatullah
Ite Ngabdi Vol. 1 No. 1 (2025): ITE NGABDI
Publisher : ite ngabdi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wq73cq75

Abstract

Pelatihan teknik renang merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dasar berenang serta kesadaran akan keselamatan di air, khususnya pada anak-anak yang tinggal di wilayah pedesaan. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh rendahnya akses pendidikan olahraga air di Desa Mekarsari, yang berpotensi menghambat pengembangan kemampuan motorik anak serta meningkatkan risiko kecelakaan air. Metode pelaksanaan pelatihan mencakup pendekatan edukatif-partisipatif yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan usia anak. Berdasarkan hasil evaluasi, terjadi peningkatan signifikan pada penguasaan teknik dasar renang meliputi pernapasan, meluncur, dan gaya dada, dengan peningkatan rata-rata sebesar 68% dari penilaian awal. Temuan ilmiah menunjukkan bahwa pelatihan teknik renang secara terstruktur dapat meningkatkan koordinasi motorik kasar, rasa percaya diri, dan kesadaran keselamatan air pada anak-anak. Pelatihan ini juga menjadi wadah pengembangan kapasitas masyarakat melalui keterlibatan aktif para orang tua dan perangkat desa. Dengan demikian, program pelatihan ini dapat direkomendasikan untuk diimplementasikan secara berkelanjutan di wilayah pedesaan lainnya sebagai bagian dari pendidikan preventif dan penguatan budaya hidup sehat
PENERAPAN SPORT MASSAGE SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI RECOVERY ATLET BELA DIRI NTB PADA PON KUDUS JAWA TENGAH I Nyoman Sukartidana; Lalu Suprawesta; Mohammad Syahroni
Ite Ngabdi Vol. 1 No. 2 (2025): ITE NGABDI
Publisher : ite ngabdi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/0bq4j027

Abstract

Prestasi olahraga yang optimal dalam kompetisi multi-event seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) sangat bergantung pada efektivitas proses pemulihan (recovery) atlet. Atlet bela diri, khususnya, menghadapi tuntutan fisik dan mental yang tinggi, meningkatkan risiko kelelahan ekstrem dan cedera. P enelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan recovery atlet bela diri Nusa Tenggara Barat (NTB) pada PON Kudus Jawa Tengah melalui penerapan sport massage. Program ini dilaksanakan pada 80 atlet bela diri NTB selama periode PON (9-26 Oktober 2025), dengan total 285 sesi sport massage yang diberikan sebagai post-event atau inter-event massage. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi oleh 73 atlet, observasi langsung, dan wawancara dengan atlet serta pelatih. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan respons positif yang signifikan: 91,8% atlet melaporkan penurunan kelelahan otot, 88,9% merasakan pengurangan nyeri otot (DOMS), 97,3% mengalami peningkatan relaksasi, dan 87,7% merasa lebih siap secara fisik untuk kompetisi berikutnya. Tingkat kepuasan terhadap layanan sport massage mencapai 95,9%. Analisis kualitatif memperkuat temuan ini, menyoroti pemulihan fisik yang cepat, dampak psikologis positif, peningkatan kualitas tidur, serta dukungan terhadap performa dan pencegahan cedera. Disimpulkan bahwa penerapan sport massage terbukti efektif dalam mengoptimalkan recovery atlet bela diri NTB, memberikan manfaat fisik dan psikologis yang signifikan, serta sangat diterima oleh atlet.
Hubungan Fleksibilitas dan Nyeri Otot Doms pada Atlet Karate Lombok Barat Pratama, Gandi Darma; Esser, Balkis Ratu Nurul Laela; Suprawesta, Lalu
Empiricism Journal Vol. 7 No. 3: September 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v7i3.6014

Abstract

Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) merupakan nyeri otot yang sering dialami atlet setelah melakukan latihan dengan intensitas tinggi dan dapat memengaruhi proses pemulihan serta performa latihan. Salah satu komponen kondisi fisik yang diduga berhubungan dengan tingkat nyeri DOMS adalah fleksibilitas, namun penelitian mengenai hubungan kedua variabel tersebut pada atlet karate masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fleksibilitas dengan nyeri otot DOMS pada atlet karate Kabupaten Lombok Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 33 atlet yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan V-Sit and Reach Test untuk mengukur fleksibilitas dan Numeric Rating Scale (NRS) untuk mengukur nyeri otot DOMS. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas (Shapiro-Wilk), uji Korelasi Pearson Product Moment untuk menganalisis hubungan antara fleksibilitas dan nyeri otot DOMS, serta koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif yang sangat kuat dan signifikan antara fleksibilitas dengan nyeri otot DOMS (r = -0,814; p < 0,001). Fleksibilitas memberikan kontribusi sebesar 66,3% terhadap variasi nyeri otot DOMS, sedangkan 33,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Semakin baik tingkat fleksibilitas atlet, semakin rendah tingkat nyeri otot DOMS yang dialami setelah latihan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa fleksibilitas merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang perlu mendapat perhatian dalam penyusunan program latihan guna mendukung proses pemulihan dan menjaga performa atlet.   The Relationship Between Flexibility and Delayed-Onset Muscle Soreness (DOMS) Among Karate Athletes in West Lombok Abstract Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) is a common form of muscle pain experienced by athletes following high-intensity exercise and may affect the recovery process as well as training performance. One physical fitness component that is presumed to be associated with the severity of DOMS is flexibility. However, studies examining the relationship between these two variables among karate athletes remain limited. This study aimed to determine the relationship between flexibility and DOMS among karate athletes in West Lombok Regency. This research employed a quantitative approach using a correlational research design. The sample consisted of 33 athletes selected through purposive sampling. Data were collected using the V-Sit and Reach Test to measure flexibility and the Numeric Rating Scale (NRS) to assess DOMS intensity. Data were analyzed using descriptive statistics, the Shapiro–Wilk normality test, Pearson Product–Moment correlation analysis to examine the relationship between flexibility and DOMS, and the coefficient of determination. The results revealed a very strong and statistically significant negative correlation between flexibility and DOMS (r = −0,814, p < 0,001). Flexibility accounted for 66.3% of the variance in DOMS, while the remaining 33.7% was influenced by other factors not examined in this study. These findings indicate that athletes with higher levels of flexibility tend to experience lower levels of DOMS following exercise. Therefore, flexibility should be considered an essential component in the development of training programs to support recovery and maintain athletes' performance.
Hybrid Movement Learning untuk Meningkatkan Kebugaran Jasmani dan Prestasi Akademik Siswa Sekolah Dasar di Daerah 3T Sukartidana, I Nyoman; Evitamala, Lilik; Suprawesta, Lalu
Discourse of Physical Education Vol. 5 No. 2 (2026): August
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/dpe.v5i2.6621

Abstract

Keterbatasan akses pembelajaran, teknologi, dan kesempatan aktivitas gerak masih menjadi tantangan bagi siswa sekolah dasar di daerah 3T. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Hybrid Movement Learning (HML) terhadap kebugaran jasmani dan prestasi akademik siswa. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental nonequivalent control group pretest–posttest dengan 26 siswa kelas IV SDN 2 Gegerung yang dibagi menjadi kelompok eksperimen (n = 13) dan kontrol (n = 13). Kebugaran jasmani diukur menggunakan Tes Kebugaran Siswa Indonesia (TKSI), sedangkan prestasi akademik diukur melalui tes pilihan ganda. HML mengintegrasikan media digital, demonstrasi gerak, praktik tatap muka, aktivitas di luar kelas, dan umpan balik guru. Skor kebugaran kelompok eksperimen meningkat dari 16,92 menjadi 19,77, sedangkan kelompok kontrol dari 16,46 menjadi 16,62. Perbedaan perubahan antar-kelompok signifikan, t(24) = 5,82, p < .001, η²p = .585. Prestasi akademik kelompok eksperimen meningkat dari 65,0 menjadi 88,2. HML menunjukkan potensi kuat dalam meningkatkan kebugaran jasmani dan memberikan indikasi positif terhadap prestasi akademik siswa.
Effects of a Community-Based Multicomponent Exercise Program on Frailty, Mobility, Strength, and Balance Among Older Adults in East Lombok Lalu Suprawesta; Indri Susilawati; Ni Ketut Dewita Putri; Siti Ainun Ma'rufa
Surabaya Physical Medicine and Rehabilitation Journal Vol. 8 No. 2 (2026): SPMRJ, AUGUST 2026
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/spmrj.v8i2.84582

Abstract

Background: Frailty is a common geriatric syndrome that increases vulnerability to falls, disability, hospitalization, and loss of independence, particularly among older adults living in rural and low-resource settings. Preventive strategies that are feasible, community-oriented, and clinically relevant are essential to support healthy aging. Aim(s) (including purpose setting): This study aimed to evaluate the effects of a community-based multicomponent therapeutic exercise model on frailty status and functional performance among older adults in East Lombok, Indonesia, as a preventive approach against frailty progression. Material and methods: A pre-experimental one-group pretest–posttest design was conducted involving 20 community-dwelling older adults recruited through purposive sampling at Rumah Senja, East Lombok. Frailty status was assessed using the Indonesian version of the FRAIL scale (Ina-FRAIL). Functional performance was evaluated using handgrip strength, the Timed Up and Go test, and the Five Times Sit-to-Stand test. Participants completed a structured multicomponent exercise program consisting of strength, balance, aerobic, and functional training, delivered three times per week over a three-month period. Result: Following the intervention, the proportion of participants classified as robust increased from 30% to 65%. Changes in Ina-FRAIL scores did not reach statistical significance (p = 0.090); however, a large effect size was observed (r = 0.69), indicating a clinically meaningful improvement. Functional performance improved significantly, with TUG time decreasing by 2.2 seconds (p < 0.001; Cohen’s d = 1.24) and FTSTS time decreasing by 4.4 seconds (p < 0.001; Cohen’s d = 1.16). Handgrip strength increased by 1.1 kg but was not statistically significant (p = 0.102), although a moderate effect size was identified (r = 0.37). Conclusions: A community-based multicomponent therapeutic exercise program demonstrates clinically meaningful benefits in preventing frailty progression and improving functional capacity among older adults in rural communities, supporting its integration into community-based physiotherapy and healthy aging programs.