Claim Missing Document
Check
Articles

Jamu Goes to School: Pengenalan Jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda Asli Indonesia pada Anak Sejak Dini di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kauman Wiradesa: Jamu Goes to School: Introducing Jamu as an Authentic Indonesian Intangible Cultural Heritage to School Aged-Children at Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kauman Wiradesa Ermawati, Nur; Efrilia, Erin; Yuniarsih, Sri Mumpuni; Ramadhan, Gilang Putra; Parama, Muhamad Reza Patra; Hasnah, A’mirotul
DARMADIKSANI Vol 5 No 4 (2025): Edisi Desember
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v5i4.8898

Abstract

Jamu adalah bahan atau ramuan yang tersusun dari tumbuhan, hewani, mineral, sediaan galenik, atau kombinasi dari berbagai komponen tersebut, yang secara turun-temurun telah dimanfaatkan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Secara tradisional, ramuan tersebut dikenal sebagai minuman berkhasiat yang berfungsi menjaga kesehatan, mencegah penyakit, serta diyakini mampu mengobati berbagai macam penyakit. Pada tahun 2023, UNESCO menetapkan jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) karena dinilai sebagai bentuk ekspresi budaya yang menghubungkan manusia dengan alam dan menyetujui bahwa praktik kesehatan berbasis jamu selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Oleh karena itu, jamu perlu terus dipelajari, dikembangkan, dan dilestarikan antar generasi, termasuk Generasi Alpha saat ini. Beberapa faktor yang menyebabkan Generasi Alpha kurang memahami jamu antara lain gaya hidup modern dan instan yang dapat mempengaruhi preferensi Generasi Alpha terhadap produk kesehatan, adanya perkembangan teknologi yang menyebabkan generasi ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain gawai dan kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitar termasuk pengenalan budaya dan warisan leluhur seperti jamu. Tujuan kegiatan ini untuk memberikan edukasi tentang jamu dan pengalaman langsung tentang jamu melalui kampanye gaya hidup dengan minum jamu. Metode yang digunakan meliputi survei dan observasi lahan, pemetaan lokasi kegiatan, edukasi, game puzzle dan minum jamu bersama. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta tentang jamu yang mencakup definisi, bahan dan manfaat, yang terlihat dari peningkatan nilai post-test dibandingkan pre-test. Jumlah peserta sebanyak 65 dari siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kauman Wiradesa. Luaran kegiatan ini berupa media edukasi jamu berupa game puzzle, dan artikel ilmiah yang akan diterbitkan pada jurnal nasional terakreditasi.
Studi Formulasi Massage Oil Aromaterapi dari Lavender, Citronella dan Chamomile dengan Kombinasi Olive Oil, Almond Oil, dan Virgin Coconut Oil sebagai Carrier Oil Nur Ermawati; Alya Rahma Oktaviana
Quantum Wellness : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2026): Maret: Quantum Wellness : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/quwell.v3i1.2983

Abstract

The cosmetic industry continues to grow rapidly along with the increasing demand for natural-based body care products, one of which is massage oil. Essential oils such as lavender, citronella, and chamomile are known to have synergistic effects as relaxation agents, anxiety reducers, and anti-inflammatory agents. To support the safety and effectiveness of their use, the selection of appropriate carrier oils, such as olive oil, almond oil, and virgin coconut oil (VCO), is required due to their good penetration ability and moisturizing properties. This study aimed to determine the effect of variations in carrier oils on the physical and sensory characteristics of aromatherapy massage oil preparations and to identify the most optimal formulation. The research was conducted experimentally by formulating three massage oil formulations using a combination of lavender, citronella, and chamomile essential oils with different carrier oil compositions. The evaluations included organoleptic tests, pH, viscosity, specific gravity, stability, irritation tests, and hedonic tests. The results showed that all formulations were liquid, homogeneous, stable for 28 days, had pH values within the normal skin pH range, met the required viscosity and specific gravity standards, and did not cause skin irritation. Based on the hedonic test, formulation F2 was the most preferred by respondents and was determined to be the best formulation due to its most favorable aroma, texture, and comfort during use. Therefore, variations in carrier oils influence the characteristics of massage oil preparations and enable the determination of the optimal formulation
Formulasi dan Evaluasi Aromaterapi Topical Berbasis Minyak Zaitun dan Minyak Almond dengan Variasi Minyak Essential Yulianti, Eka; Nur Ermawati
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i2.332

Abstract

Latar Belakang: Aromaterapi merupakan salah satu terapi komplementer yang memanfaatkan minyak esensial seperti minyak citronella dari tanaman Cymbopogon nardus, minyak lavender dari Lavandula angustifolia, dan minyak chamomile dari Matricaria chamomilla untuk memberikan efek relaksasi serta meningkatkan kenyamanan fisik dan mental. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi sediaan massage oil aromaterapi berbasis olive oil dan almond oil dengan variasi kombinasi essential oil citronella, lavender, dan chamomile. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan tiga formula yang dibuat menggunakan metode pencampuran sederhana tanpa pemanasan dan dievaluasi melalui uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, bobot jenis, stabilitas selama penyimpanan 28 hari, uji iritasi kulit, serta uji hedonik untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis. Hasil: Seluruh formula menunjukkan karakteristik organoleptik yang baik dengan warna jernih kekuningan, aroma khas sesuai kombinasi minyak esensial, dan tekstur lembut, bersifat homogen serta stabil selama penyimpanan. Nilai pH seluruh formula stabil pada pH 5 selama 28 hari, nilai viskositas berada pada kisaran 3,915–3,919 cPs, dan bobot jenis berkisar antara 0,8837–0,9416 g/mL. Uji iritasi kulit menunjukkan tidak adanya reaksi eritema, edema, maupun ulserasi pada seluruh formula, sedangkan uji hedonik menunjukkan tingkat kesukaan panelis yang baik dengan Formula 2 memperoleh nilai rata-rata tertinggi sebesar 13,8667. Kesimpulan: Sediaan massage oil aromaterapi yang diformulasikan memenuhi persyaratan mutu fisik, aman digunakan, serta dapat diterima dengan baik oleh panelis.