Claim Missing Document
Check
Articles

Effect of Olive Oil and Almond Oil Ratios on the Physicochemical and Sensory Characteristics of Aromatherapy Massage Oil chennia Ofta Fianes; Nur Ermawati
Duta Pharma Journal Vol. 6 No. 1 (2026): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/kf3dfa20

Abstract

Background: Aromatherapy massage oil is a topical preparation in which carrier oil selection critically determines physicochemical performance and sensory acceptance. Studies evaluating olive oil and almond oil combinations as carrier oils in multi-essential oil aromatherapy systems remain limited. Aim: This study aimed to evaluate the effect of different olive oil (Olea europaea) and almond oil (Prunus amygdalus) ratios on the physicochemical characteristics, stability, sensory properties, and skin safety of aromatherapy massage oil containing lavender (Lavandula angustifolia), citronella (Cymbopogon nardus), and chamomile (Matricaria recutita) essential oils. Methods: Three formulations were prepared using a Completely Randomized Design (CRD) with two replications: F1 (50:5 mL), F2 (5:50 mL), and F3 (27.5:27.5 mL). Evaluations included organoleptic characteristics, pH, viscosity, specific gravity, 28-day stability, hedonic test (30 panelists), and skin irritation test (closed patch test, 10 volunteers, 8 hours), analyzed using one-way ANOVA and repeated-measures ANOVA with post-hoc Tukey HSD (? = 0.05, SPSS v.23.0). Results: All formulations were stable over 28 days with consistent organoleptic properties and pH 5.00. Viscosity ranged from 4.106 ± 0.004 cP (F1) to 4.321 ± 0.004 cP (F3), all within 2.3-6.0 cP. Statistically significant viscosity changes were observed (p < 0.05) but were not practically meaningful. No significant difference in sensory preference was found (p = 0.825), with F3 descriptively obtaining the highest score (12.233). All formulations were non-irritating (ICDRG score 0). Conclusion: Carrier oil ratio variation influenced viscosity and specific gravity but not organoleptic stability, pH, or sensory acceptance. F3 was selected as the most optimal formulation based on combined viscosity profile, stability, and descriptive sensory preference. Limitations include short stability duration, absence of microbiological testing, and use of pH indicator paper in an oil-based system.
Edukasi Pemanfaatan Tanaman Herbal Jahe sebagai Obat Tradisional Penyakit Hipertensi pada Masyarakat Desa Ngadirejo Kecamatan Reban Kabupaten Batang: Community Health Education on the Use of Ginger for Hypertension Herbal Remedy in Ngadirejo Village of Reban District Batang Regency Erin Efrilia; Nur Cholis Endriyatno; Aditya Dimas Wahyu; Nur Ermawati; Muhammad Zakki; Adam Kinantaka; Rensisca Marsha Lena; Samira Anissa Azahra; Amelia Reza Agustyne
DARMADIKSANI Vol 5 No 4 (2025): Edisi Desember
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v5i4.8331

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi dan menjadi penyebab utama kematian akibat penyakit kardiovaskular. Edukasi mengenai pencegahan dan pengelolaan hipertensi sejak dini sangat penting dilakukan, terutama kepada masyarakat pedesaan yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat desa Ngadirejo, kecamatan Reban, kabupaten Batang, tentang hipertensi serta pemanfaatan jahe (Zingiber officinale) sebagai tanaman herbal tradisional yang berpotensi membantu menurunkan tekanan darah. Metode pelaksanaan mencakup penyampaian materi edukatif, diskusi interaktif, praktik pembuatan minuman herbal dari jahe, serta pemeriksaan tekanan darah secara gratis. Pengukuran efektivitas kegiatan dilakukan melalui pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan pemahaman peserta, dengan lebih dari 80% peserta menjawab benar pada post-test dibandingkan hanya 20–40% pada pre-test. Peserta juga antusias dalam praktik pembuatan ramuan jahe, menunjukkan ketertarikan pada solusi alami dan lokal. Edukasi ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan hipertensi dengan pendekatan herbal. Kegiatan ini juga membuka peluang untuk pengembangan program lanjutan, seperti pelatihan budidaya tanaman herbal. Diharapkan edukasi serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung upaya preventif terhadap hipertensi di tingkat komunitas.
Jamu Goes to School: Pengenalan Jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda Asli Indonesia pada Anak Sejak Dini di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kauman Wiradesa: Jamu Goes to School: Introducing Jamu as an Authentic Indonesian Intangible Cultural Heritage to School Aged-Children at Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kauman Wiradesa Nur Ermawati; Erin Efrilia; Sri Mumpuni Yuniarsih; Gilang Putra Ramadhan; Muhamad Reza Patra Parama; A’mirotul Hasnah
DARMADIKSANI Vol 5 No 4 (2025): Edisi Desember
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v5i4.8898

Abstract

Jamu adalah bahan atau ramuan yang tersusun dari tumbuhan, hewani, mineral, sediaan galenik, atau kombinasi dari berbagai komponen tersebut, yang secara turun-temurun telah dimanfaatkan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Secara tradisional, ramuan tersebut dikenal sebagai minuman berkhasiat yang berfungsi menjaga kesehatan, mencegah penyakit, serta diyakini mampu mengobati berbagai macam penyakit. Pada tahun 2023, UNESCO menetapkan jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) karena dinilai sebagai bentuk ekspresi budaya yang menghubungkan manusia dengan alam dan menyetujui bahwa praktik kesehatan berbasis jamu selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Oleh karena itu, jamu perlu terus dipelajari, dikembangkan, dan dilestarikan antar generasi, termasuk Generasi Alpha saat ini. Beberapa faktor yang menyebabkan Generasi Alpha kurang memahami jamu antara lain gaya hidup modern dan instan yang dapat mempengaruhi preferensi Generasi Alpha terhadap produk kesehatan, adanya perkembangan teknologi yang menyebabkan generasi ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain gawai dan kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitar termasuk pengenalan budaya dan warisan leluhur seperti jamu. Tujuan kegiatan ini untuk memberikan edukasi tentang jamu dan pengalaman langsung tentang jamu melalui kampanye gaya hidup dengan minum jamu. Metode yang digunakan meliputi survei dan observasi lahan, pemetaan lokasi kegiatan, edukasi, game puzzle dan minum jamu bersama. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta tentang jamu yang mencakup definisi, bahan dan manfaat, yang terlihat dari peningkatan nilai post-test dibandingkan pre-test. Jumlah peserta sebanyak 65 dari siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kauman Wiradesa. Luaran kegiatan ini berupa media edukasi jamu berupa game puzzle, dan artikel ilmiah yang akan diterbitkan pada jurnal nasional terakreditasi.
Formulasi Sediaan Massage Oil dari Lavender, Citronella dan Chamomile dengan Olive Oil Sebagai Medium Pembawa Nur Ermawati; Nazila Azka Zulvika
OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): Maret: OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/obat.v4i2.2196

Abstract

This study aimed to form late and evaluate a natural massage oil preparation using a combination of lavender, citronella, and chamomile essential oils with olive oil as the carrier oil. The background of this research was based on the increasing public demand for natural body care products that are safe, non-irritating to the skin, and provide relaxation effects. The three essential oils used possess therapeutic activities, including relaxation, antimicrobial, anti-inflammatory effects, as well as the ability to relieve stress and muscle tension. The study employed three formulation variations (F1, F2, and F3) with different compositions of essential oils. The evaluation of the preparations included organoleptic tests, pH measurement, viscosity, specific gravity, physical stability testing, hedonic testing, and irritation testing. The organoleptic test results showed that all formulations had a liquid form, a deep light-yellow color, and a characteristic aroma corresponding to the dominant essential oil in each formulation. The pH values of all formulations were stable at 5, indicating safety for skin application. Viscosity values were within the ideal range for massage oil, between 4.124–4.735 cPs, and specific gravity values were within the standard range. Stability testing over 28 days revealed no significant changes in color, aroma, pH, or viscosity. The irritation test indicated that none of the formulations caused skin irritation in panelists. Hedonic testing showed that formulation 2 was the most preferred in terms of aroma, while formulation 3 was preferred for texture. Overall, all three formulations were considered stable, safe, and well accepted by consumers, indicating their potential use as natural massage oil products.