Claim Missing Document
Check
Articles

THE OPTIMATION OF FERMENTATION FOR METABOLITE PRODUCTION BY SYMBIONT Penicillium nalgiovense FROM THE SPONGE Gelliodes fibulata Rusmalina, Siska; Mahfur, Mahfur; Ermawati, Nur; Maliah, Nabilatun; Ananda, Luthfiah; Bintang Pratama, Kevin; Evi Ulfiani , Riska; Abdul Aziz, Danang; Husain, Khafidz; Ilma Faza, Febi; Hidayatullah, Adib
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v10i1.1682

Abstract

The fungi are sponge symbionts.  The fungus Penicillium nalgiovense acc MK087096  is a symbiont of the sponge Gelliodes fibulata. This symbiont has antibacterial activity, which supports the development of sponge-based drugs that are as effective as antibiotics. However, the primary challenge in developing marine resource-based medicine is the availability and sustainability of sponge raw materials. Fermentation biotechnology using sponge symbiont fumgi is an effective solution to address these challenges, as it allows the production of bioactive secondary metabolite compounds in large quantities, which can be used as raw materials for pharmaceutical preparation. The aim of this study was to determine the optimal medium and fermentation duration for producing secondary metabolites with antibiotic properties from the symbiotic fungus Penicillium nalgiovense, isolated from the sponge Gelliodes fibulata. This study was conducted naturally. The symbiotic fungus from the sponge Gelliodes fibulata was cultivated to facilitate growth. Fermentation was conducted with variations in secondary metabolite harvesting times of 2, 4, 6, 8, 10, and 12 days.  Secondary metabolites were obstained using liquid-liquid extraction with ethyl acetate. The optimal medium and fermentation time were determined based on the yield percentage for each medium across the six time variations. The fermentation biotechnology of the symbiotic fungus Penicillium nalgiovense acc MK087096 from the spone Gelliodes fibulata was carried out on SDB, PDB, also coconut flake-enriched PDB media.  The results showed the growth of the fungus and the production of bioactive secondary metabolites with antibiotic properties ...
FORMULASI DAN UJI FISIKOKIMIA SALEP KOMBINASI EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera) DAN EKSTRAK DAUN MANGGA (Mangifera indica. L) DENGAN VARIASI BASIS HIDROKARBON Ika Sabrina Rochmanila; Nur Ermawati
FORTE JOURNAL Vol 4 No 1 (2024): Edisi Januari 2024
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v4i1.793

Abstract

Daun Kelor (Moringa oleifera L.) Merupakan tumbuhan herbal yang mengandung senyawa kimia diantaranya seperti flavonoid, tanin, senyawa polifenol, saponin dan lain-lain. berkhasiat dapat menyembuhkan luka bakar. Daun mangga (Mangifera indica L.) merupakan tanaman yang berasal dan asli tumbuh di Asia Tenggara. Daun mangga mengandung senyawa metabolit memiliki kandungan senyawa metabolit yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. yang berkhasiat sebagai penyembuh luka yaitu luka bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sifat fisik dari formulasi salep kombinasi ekstrak daun kelor dan daun mangga dengan variasi basis hidrokarbon. Jenis penelitian ini adalah penelitian experimental di laboratorium yang terdiri dari 3 kelompok formulasi sediaan salep kombinasi ekstrak daun kelor dan daun mangga dengan basis hidrokarbon. Basis yang digunakan adalah cera alba dan vaselin album dengan perbandingan konsentrasi 2%;83,8%, 3%;82,8%, dan 4%;81,8%. sediaan salep diperiksa dengan uji evaluasi meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, daya lekat, daya sebar, iritasi, viskositas dan daya proteksi. Hasil dari penelitian sediaan salep dengan basis cera alba dan vaselin album menghasilkan bahwa ketiga formula menghasilkan hasil yang baik sesuai dengan persyaratan sifat fisik sediaan salep. Fomula yang terbaik ditunjukkan pada formula II dengan konsentrasi cera alba dan vaselin album 3%;82,8%.
Formulasi dan Evaluasi Sifat Fisik Gel Ekstrak Rimpang Temu Kunci (Boesenbergia pandurata Roxb) dengan Variasi Konsentrasi Carbopol dan Trietanolamin (TEA) Ermawati, Nur; Rakhim, Erliya
Pena: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol. 38 No. 2 (2024): PENA SEPTEMBER 2024
Publisher : LPPM Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rimpang temu kunci memiliki kandungan minyak atsiri seperti boesenborgin, cardomonin, pinostrobin, 5,7- dimetoksiflavon, 1,8 sineol, dan panduratin. Senyawa flavonoid pada tanaman ini yaitu panduratin memiliki kemampuan yang cukup kuat sebagai antijamur, antibakteri, antikanker, dan antiinflamasi. Formulasi yang akan dibuat sediaan gel sebagai antijamur dengan variasi konsentrasi carbopol 0,7%, 1,2% dan 1,7%. Carbopol dalam formulasi ini digunakan sebagai gelling agent. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan konsentrasi carbopol dalam sediaan gel rimpang temu kunci yang memenuhi persyaratan sifat fisik gel dan mengetahui formula gel ekstrak rimpang temu kunci yang menghasilkan formula terbaik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Terdapat tiga formulasi gel yang akan dibuat dengan variasi gelling agent yaitu : FI (carbopol 0,7%), F2 (carbopol 1,2%), dan FIII (carbopol 1,7%). Dilakukan evaluasi sediaan gel ekstrak rimpang temu kunci yang terdiri dari uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya lekat, daya sebar, dan iritasi. Hasil penelitian menunjukkan sediaan gel ekstrak rimpang temu kunci menggunakan carbopol dengan konsentrasi 0,7% dan 1,2% menunjukkan sifat fisik yang paling baik dibandingkan dengan carbopol konsentrasi 1,7%. Dari hasil uji organoleptis berbentuk semipadat, berwarna kuning, dan memiliki bau khas temu kunci, sediaan homogen, memiliki nilai pH 5,9 dan 5,6, daya lekat, daya sebar, viskositas dan iritasi yang sesuai pada rentang sediaan gel.
Analisis Penetapan Kadar Lemak Ekstrak N-Heksan pada Varian Buah Alpukat Meksiko, Guatemala, dan West-indian Yang Diperoleh Dari Pasar Wiradesa Menggunakan Metode Sokletasi Adinda Putri Aulia; Nur Ermawati
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 5: April 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i5.1513

Abstract

Buah alpukat (Persea americana, Mill.) berasal dari Meksiko Tengah yang mengandung banyak nutrisi salah satunya lemak yang tinggi. Pada umumnya masyarakat Indonesia mengkonsumsi buah alpukat sebagai sumber energi yang lebih efektif dibandingkan karbohidrat dan protein. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar lemak yang terkandung dalam varian buah alpukat meksiko, guatemala, dan west-indian yang diperoleh dari pasar Wiradesa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar lemak dalam buah alpukat meksiko, guatemala, dan west-indian sesuai standar SNI Nomor 3746: Tahun 2008. Penelitian ini secara analisis kuantitatif dengan metode sokletasi menggunakan pelarut N-heksan untuk mengetahui dan menetapkan kadar lemak pada sampel buah alpukat meksiko, guatemala, dan west-indian sesuai standar SNI Nomor 3746: Tahun 2008. Hasil analisis pada varian buah alpukat meksiko sebesar 19,55%, buah alpukat guatemala sebesar 12,88%, dan buah alpukat west-indian sebesar 11,55%. Hal ini sudah memenuhi standar SNI Nomor 3746: Tahun 2008 yaitu minimal 8,48%.
Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Tablet Dari Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper Betle l.) Dengan Variasi Konsentrasi Bahan Pengikat Gelatin Khabibah, Nurul Auliya; Ermawati, Nur
Student Scientific Journal Vol 1 No 2 (2023): Juli
Publisher : Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.621 KB) | DOI: 10.37676/ssj.v1i2.4018

Abstract

Piper betle L. is one of the herbal plants that has antibacterial power due to the presence of various active substances contained therein such as essential oils, flavonoids, saponins, and polyphenols. Gelatin is added as a tablet binder to bind or attach powder particles to tablet granulation. This study aims to determine the effect of gelatin binder concentration on the physical properties of tablets and at what concentration gelatin as a binder can produce good tablets. Thick extract of green betel leaf was obtained by maceration using 96% ethanol solvent. The preparation of green betel leaf extract tablets was made with three formulas, using different concentrations of binders, including formula I containing 1% gelatin, formula II as much as 2%, and formula III as much as 3%. The method used in the manufacture of green betel leaf extract tablets is the wet granulation method. The granules obtained were tested for physical properties including flow speed and angle of repose. The tablets obtained were evaluated for physical quality including weight uniformity, hardness, size uniformity, friability, and disintegration time.Tablet formula of green betel leaf extract (Piper betle L.) with varying concentrations of gelatin binder in terms of physical quality evaluation of granules and physical quality evaluation of tablets showed that 1% gelatin concentration did not meet the requirements in the evaluation of tablet hardness and friability. At 2% concentration does not meet the requirements in the evaluation of hardness and at 3% concentration does not meet the requirements in the evaluation of disintegration time.
Workshop Pembuatan Massage Oil Aromaterapi dan Pijat Bayi sebagai Bekal Swamedikasi bagi Anggota Forum Kota Sehat (FKS) Kota Pekalongan: Workshop on Homemade Aromatherapy Massage Oil Preparation and Infant Massage Tutorial for Self-Medication among Members of the Healthy City Forum of Pekalongan City Indonesia Ermawati, Nur; Oktaviani, Nila; Yuniarsih, Sri Mumpuni
DARMADIKSANI Vol 5 No 1 (2025): Edisi Juni
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v5i1.7250

Abstract

Forum Kota Sehat (FKS) merupakan sarana penyaluran aspirasi masyarakat di Kota Pekalongan guna mendukung Program Kota Sehat. Salah satu upaya yang dilakukan dengan menerapkan budaya serta gaya hidup sehat, melalui penggunaan medikasi herbal. Pengobatan yang menggunakan tanaman obat termasuk dalam kategori pengobatan mandiri (swamedikasi). Swamedikasi tidak terbatas hanya pada penggunaan obat modern, tetapi juga dapat melibatkan obat herbal. Salah satu masalah kesehatan yang bisa diatasi dengan swamedikasi adalah batuk pilek atau selesma (common cold). Pada bayi, batuk pilek sering kali menimbulkan kekhawatiran bagi orangtua, sehingga mereka sering membawa bayi ke dokter. Namun, anak yang mengalami batuk pilek sering kali rewel dan sulit diberi obat. Oleh karena itu, diperlukan alternatif terapi untuk mendukung proses penyembuhannya. Alternatif terapi yang dapat membantu meredakan gejala batuk pilek adalah pijat. Manfaat pijat pada bayi salah satunya dapat mengurangi tingkat infeksi nosokomial, termasuk di antaranya batuk pilek. Minyak pijat (massage oil) dapat digunakan sebagai media dalam terapi pijat untuk meningkatkan efektivitas terapi. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan pelatihan pembuatan massage oil aromaterapi dan teknik pijat pada bayi. Metode yang digunakan meliputi diskusi permasalahan mitra dan observasi lapangan, memetakan lokasi kegiatan, edukasi dan pelatihan, serta evaluasi kegiatan. Kegiatan ini melibatkan 30 peserta dari anggota FKS tingkat kelurahan, kecamatan, dan kota. Kegiatan  ini berjalan lancar dan memperoleh respons positif dari kelompok mitra yang dibuktikan dengan persentase presensi dan antusiasme peserta dalam sesi penyampaian materi, diskusi dan tanya jawab, hasil praktik membuat sediaan dan teknik pijat bayi, serta respons positif peserta dalam kuesioner. Luaran kegiatan ini berupa produk massage oil aromaterapi, buku saku, dan artikel ilmiah yang diterbitkan pada jurnal nasional terakreditasi. Disarankan agar pelatihan ini dilakukan secara berkelanjutan dengan cakupan materi yang lebih luas untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam perawatan kesehatan berbasis herbal.                                                                                            The Forum Kota Sehat (F KS), or Healthy City Forum, functions as a platform for the citizens of Pekalongan City to express their aspirations and support for the local government's the Healthy City Program. One of its key initiatives is promoting a healthy lifestyle and cultural practices, including the use of herbal remedies. Treatments utilizing medicinal plants are categorized as self-medication, which is not limited to modern pharmaceuticals but also encompasses traditional herbal approaches. A common health issue that can be managed through self-medication is the common cold. In infants, colds and coughs often raise concerns among parents, who frequently consult physicians. However, administering medication to infants can be challenging due to fussiness and resistance. This situation highlights the need for complementary therapies to support the healing process. One such therapy is infant massage, which has been shown to help alleviate cold symptoms. The benefits of infant massage include reducing the risk of nosocomial infections, such as the common cold. To enhance the effectiveness of massage, aromatherapy massage oil or balm can be used as a supportive medium. This community service aimed to share information and provide hands-on training on the formulation of aromatherapy massage oils and infant massage techniques. The methods employed included field observation, site mapping, information sharing session, and practical workshops. The program was carried out successfully and received positive feedback from the partner community. Participant engagement was evident during question-and-answer sessions, formulation exercises, and infant massage demonstrations. A total of 30 participants from FKS representatives at the sub-district, district, and city areas took part in the program. The outcomes of this initiative included the production of aromatherapy massage oil, a pocket guidebook, and a scientific article published on a nationally accredited journal. It is recommended that similar training be conducted continuously with broader material coverage to enhance community self-reliance in herbal-based health care.
THE OPTIMATION OF FERMENTATION FOR METABOLITE PRODUCTION BY SYMBIONT Penicillium nalgiovense FROM THE SPONGE Gelliodes fibulata Rusmalina, Siska; Mahfur, Mahfur; Ermawati, Nur; Maliah, Nabilatun; Ananda, Luthfiah; Bintang Pratama, Kevin; Evi Ulfiani , Riska; Abdul Aziz, Danang; Husain, Khafidz; Ilma Faza, Febi; Hidayatullah, Adib
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v10i1.1682

Abstract

The fungi are sponge symbionts.  The fungus Penicillium nalgiovense acc MK087096  is a symbiont of the sponge Gelliodes fibulata. This symbiont has antibacterial activity, which supports the development of sponge-based drugs that are as effective as antibiotics. However, the primary challenge in developing marine resource-based medicine is the availability and sustainability of sponge raw materials. Fermentation biotechnology using sponge symbiont fumgi is an effective solution to address these challenges, as it allows the production of bioactive secondary metabolite compounds in large quantities, which can be used as raw materials for pharmaceutical preparation. The aim of this study was to determine the optimal medium and fermentation duration for producing secondary metabolites with antibiotic properties from the symbiotic fungus Penicillium nalgiovense, isolated from the sponge Gelliodes fibulata. This study was conducted naturally. The symbiotic fungus from the sponge Gelliodes fibulata was cultivated to facilitate growth. Fermentation was conducted with variations in secondary metabolite harvesting times of 2, 4, 6, 8, 10, and 12 days.  Secondary metabolites were obstained using liquid-liquid extraction with ethyl acetate. The optimal medium and fermentation time were determined based on the yield percentage for each medium across the six time variations. The fermentation biotechnology of the symbiotic fungus Penicillium nalgiovense acc MK087096 from the spone Gelliodes fibulata was carried out on SDB, PDB, also coconut flake-enriched PDB media.  The results showed the growth of the fungus and the production of bioactive secondary metabolites with antibiotic properties ...
Edukasi Bu Pur (Bumbu Dapur) sebagai Tanaman Obat Tradisional pada Kelompok PD Aisyiyah Kabupaten Pekalongan Ermawati, Nur; Oktaviani, Nila; Rochmalia, Ika Sabrina; Ilmaknun, Luluk
DARMADIKSANI Vol 5 No 2 (2025): Edisi Juli-September
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v5i2.7873

Abstract

Perubahan cuaca adalah perubahan jangka panjang dalam pola sirkulasi cuaca yang terbukti terjadi dalam rentang waktu mulai dari beberapa dekade hingga jutaan tahun. Indonesia menghadapi musim yang mengalami perputaran yang luar biasa. Musim pancaroba merupakan peralihan dua musim yang terdapat di negara tropis yaitu musim hujan dan kemarau. Musim pancaroba tidak hanya mengakibatkan masalah cuaca, namun juga mengakibatkan masalah kesehatan seperti menurunnya daya tahan tubuh, penyakit saluran pernafasan, penyakit saluran pencernaan dan penyakit yang disebabkan oleh virus. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya lonjakan masalah kesehatan akibat pancaroba yaitu diperlukan pemahaman masyarakat mengenai tanaman obat tradisional yang dalam hal ini adalah dari kelompok bumbu dapur. Bumbu dapur telah dikenal kelompok mitra PD ‘Aisyiyah kabupaten Pekalongan sebagai bahan tambahan penyedap masakan, padahal bumbu dapur tersebut memiliki manfaat lain sebagai obat bahan alam. Mitra belum memahami jenis bumbu dapur yang digunakan untuk obat herbal khususnya yang dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk mencegah maupun mengobati penyakit. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai pemanfaatan Bu Pur (Bumbu Dapur) sebagai tanaman obat tradisional. Tahapan kegiatan antara lain: 1) tahap observasi, 2) tahap pelaksanaan yaitu pemberian materi edukasi dan demonstrasi pembuatan simplisia. Kegiatan pengabdian masyarakat berjalan lancar dan mendapat respon positif dari masyarakat yang dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh peserta terkait dengan materi. Dalam kegiatan ini, peserta juga ditunjukkan demonstrasi pembuatan simplisia dari bumbu dapur yang baik dan benar.
Potensi Antioksidan Ekstrak Cangkang Kepiting Rajungan (Portunus pelagicus) dari Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia Ermawati, Nur; Mahbub, Khafid; Yuniarsih, Sri Mumpuni; Wiranti, Kharisma Wido; Octaviani, Felicia Aurelia
PHARMADEMICA : Jurnal Kefarmasian dan Gizi Vol 5 No 1 (2025): April - September
Publisher : LPPM-KI - POLTEKKES PIM (Formerly AKAFARMA-AKFAR PIM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54445/pharmademica.v5i1.79

Abstract

Free radicals contribute to oxidative stress, which plays a key role in degenerative diseases. Antioxidants neutralize free radicals, preventing cellular damage. This study evaluates the antioxidant activity of Portunus pelagicus shell extract from Wonokerto, Pekalongan Regency, using the 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) method. Extraction was performed through demineralization, deproteinization, and maceration with virgin coconut oil. Phytochemical analysis confirmed the presence of terpenoids, which are known for their antioxidant properties, but Thin Layer Chromatography (TLC) did not detect astaxanthin. Antioxidant activity testing at concentrations of 5, 10, 50, and 100 ppm resulted in an IC50 value of 549.40 ppm, indicating very weak antioxidant potential. The absence of astaxanthin and the weak activity may be due to extraction method limitations, solvent choice, or low concentrations of active compounds. These findings highlight the need for optimized extraction techniques to enhance the bioactive potential of crab shell-derived compounds. This study contributes to marine biowaste utilization and provides insights into improving antioxidant properties for pharmaceutical and nutraceutical applications.
Edukasi Bu Pur (Bumbu Dapur) sebagai Tanaman Obat Tradisional pada Kelompok PD Aisyiyah Kabupaten Pekalongan: Health Education on Using Kitchen Spices (Bu Pur) as Traditional Medicinal Plants for the Women’s Group of PD Aisyiyah in Pekalongan Regency Indonesia Ermawati, Nur; Oktaviani, Nila; Rochmalia, Ika Sabrina; Ilmaknun, Luluk
DARMADIKSANI Vol 5 No 2 (2025): Edisi September
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v5i2.7873

Abstract

Perubahan cuaca adalah perubahan jangka panjang dalam pola sirkulasi cuaca yang terbukti terjadi dalam rentang waktu mulai dari beberapa dekade hingga jutaan tahun. Indonesia menghadapi musim yang mengalami perputaran yang luar biasa. Musim pancaroba merupakan peralihan dua musim yang terdapat di negara tropis yaitu musim hujan dan kemarau. Musim pancaroba tidak hanya mengakibatkan masalah cuaca, namun juga mengakibatkan masalah kesehatan seperti menurunnya daya tahan tubuh, penyakit saluran pernafasan, penyakit saluran pencernaan dan penyakit yang disebabkan oleh virus. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya lonjakan masalah kesehatan akibat pancaroba yaitu diperlukan pemahaman masyarakat mengenai tanaman obat tradisional yang dalam hal ini adalah dari kelompok bumbu dapur. Bumbu dapur telah dikenal kelompok mitra PD ‘Aisyiyah kabupaten Pekalongan sebagai bahan tambahan penyedap masakan, padahal bumbu dapur tersebut memiliki manfaat lain sebagai obat bahan alam. Mitra belum memahami jenis bumbu dapur yang digunakan untuk obat herbal khususnya yang dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk mencegah maupun mengobati penyakit. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai pemanfaatan Bu Pur (Bumbu Dapur) sebagai tanaman obat tradisional. Tahapan kegiatan antara lain: 1) tahap observasi, 2) tahap pelaksanaan yaitu pemberian materi edukasi dan demonstrasi pembuatan simplisia. Kegiatan pengabdian masyarakat berjalan lancar dan mendapat respon positif dari masyarakat yang dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh peserta terkait dengan materi. Dalam kegiatan ini, peserta juga ditunjukkan demonstrasi pembuatan simplisia dari bumbu dapur yang baik dan benar.