Claim Missing Document
Check
Articles

Deteksi pepsin pada saliva pasien refluks laringofaring Ade Asyari; Deni Amri; Novialdi Novialdi; Fachzi Fitri; Eti Yerizal; Hafni Bachtiar; Elvie Zulka Kautzia Rachmawati
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 1 (2018): Volume 48, No. 1 January - June 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.994 KB) | DOI: 10.32637/orli.v48i1.257

Abstract

Latar belakang: Refluks laringofaring (RLF) didefinisikan sebagai aliran balik cairan lambungke daerah laring dan faring, sehingga berkontak dengan saluran pencernaan dan pernapasan bagian atasyang menyebabkan keluhan suara serak, batuk, sensasi globus, throat clearing, dan post nasal drip. RLFmemberikan dampak negatif terhadap kualitas hidup terutama fungsi fisik dan emosi. Diagnosis RLFditegakkan dengan mengetahui riwayat penyakit, gejala klinis, pemeriksaan laringoskopi, serta menentukanadanya aliran balik cairan lambung ke laringofaring. Pemeriksaan ambulatory 24 hours double-probepHmetri merupakan baku emas untuk diagnosis RLF, tetapi pemeriksaan ini masih belum ideal. Salahsatu cara untuk menentukan RLF saat ini adalah dengan menentukan keberadaan pepsin pada laring danfaring, menggunakan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Hal ini berdasarkan faktabahwa pepsin hanya dihasilkan pada lambung. Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien, gambaran refluxsymptom index (RSI), gambaran reflux finding score (RFS) dan mengetahui kadar pepsin pada salivapasien RLF. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mengetahui gambaran hasilpemeriksaan RSI, RFS, dan kadar pepsin dalam saliva pasien RLF dengan metode ELISA di bagian TelingaHidung Tenggorok-Bedah Kepala dan Leher Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang, mulai Januari–Oktober2015. Hasil: Dari 30 responden yang terdiri dari perempuan 23 orang (76,7%), dan laki-laki 7 orang(23,3%), didapatkan kelompok usia terbanyak 48-57 tahun (40%), dengan rata-rata usia 47,2+12,06 tahun.Nilai rerata RSI 18,53+4,46, nilai rerata RFS 11,47+2,50, dan pada semua sampel didapatkan pepsin (+)dengan nilai rerata kadar pepsin dalam saliva responden 2,75+1,23 ng/ml. Kesimpulan: Pepsin terdeteksipada semua sampel saliva responden RLF. ABSTRACTBackground: Laryngopharyngeal reflux (LPR) is defined as the backflow of gastric contents intolarynx and pharynx areas, making contacts with upper digestive and respiratory tracks causing hoarseness,cough, globus sensation, throat clearing and post nasal drip. LPR has a negative impact on quality oflife. LPR diagnosis is confirmed by disease history, clinical symptoms, laryngoscopy examination andthe backflow of gastric fluid into laryngopharynx. Ambulatory examination of 24 hours double-probepHmetry is the gold standard for LPR diagnosis, although it is not yet ideal. To detect the presence ofpepsin in the larynx and pharynx using ELISA is now being used to determine LPR, based on the fact thatpepsin is only produced in the stomach. Purpose: To investigate patient characteristics, reflux symptomindex (RSI) and reflux finding score (RFS) descriptions, and pepsin level in the saliva of LPR patients.Methods: A descriptive research to describe RSI, RFS, and levels of pepsin in the saliva of LPR patientsusing ELISA at the Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Departement of Dr. M. Djamil Hospital,Padang, from January-October 2015. Results: Thirty respondents consisted of 23 females (76.7%),and 7 males (23.3%), revealed the largest age group was 48-57 years (40%), with an average age of 47.2+12.06 years. The average value of RSI 18.53+4.46, the average value of RFS 11.47+2.50, andpepsin result (+) in all samples, with an average value of pepsin level in respondents’ saliva 2.75+1.23ng ml. Conclusion: Pepsin was detected in all samples of LPR patients’ saliva.
DIAGNOSIS AND MANAGEMENT OF A FISH BONE FOREIGN BODY AT ESOPHAGEAL INTROITUS WITH AND WITHOUT RETROPHARYNGEAL ABSCESS Ade Asyari; Novialdi Novialdi; Fachzi Fitri; Yolazenia Yolazenia
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.69 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i3.p238-247.2015

Abstract

AbstrakBenda asing yang tertelan merupakan kegawatdaruratan di bidang telinga hidung tenggorok (THT). Tulang ikan merupakan salah satu benda asing di tenggorok yang banyak ditemukan. Abses retrofaring merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat tersangkut benda asing ini. Foto polos leher posisi lateral perlu dilakukan untuk kecurigaan adanya lesi di daerah faring. Pasien dengan gejala menetap harus dievaluasi dengan endoskopi, walaupun pada pemeriksaan radiologi tidak tampak. Benda asing harus segera dikeluarkan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Abses retrofaring diterapi dengan medikamentosa dan drainase pus. Jika terdapat benda asing harus dikeluarkan. Dilaporkan dua kasus benda asing tulang ikan di introitus esofagus. Kasus pertama pada seorang pasien laki-laki umur 42 tahun tanpa abses retrofaring dan kasus kedua pada anak laki-laki berusia 8 tahun dengan abses retrofaring. Tulang ikan terlihat pada ronsen foto leher jaringan lunak posisi lateral. Pada kedua pasien dilakukan esofagoskopi untuk mengambil tulang ikannya dan pada pasien kedua dengan abses retrofaring, absesnya sudah pecah dan pus didrainase dikombinasikan dengan pemberian antibiotik intravena.AbstractForeign body ingestion is an emergency in otorhinolaryngology. One of the most common ingested foreign body is a fish bone. Retropharyngeal abscess is well-documented complication from foreign body ingestion. The soft tissue neck radiograph lateral position is the most significant radiologic examination performed in a patient with a suspected pharyngeal lesion. In patient with persistent symptoms should be evaluated with endoscopy, although radiological examination was negative. We have to extract foreign body immediately to prevent further complication. Retropharyngeal abscess should be treated with medical and drainage of pus. If there is a foreign body must be removed. Two cases of a fish bone foreign body at esophageal introitus was reported. First case in 42 year-old male without retropharyngeal abscess and second case in 8 year-old boy with retropharyngeal abscess. Fish bones were seen from lateral neck soft tissue x-ray. Esophagoscopy were performed to removed fish bones and in the second patient, the abscess had ruptured and the pus was drainage as the treatment combined with intravenous antibiotic.
Disfonia akibat polip pita suara Ade Asyari; Novialdi Novialdi; Fachzi Fitri; Nur Azizah
Majalah Kedokteran Andalas Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v40.i1.p52-63.2017

Abstract

Disfonia merupakan gejala utama disebabkan adanya kelainan pada pita suara. Kelainan bisa berupa lesi jinak seperti polip pita suara, sering terjadi karena fonotrauma yang disebabkan vocal abuse. Polip pita suara yang tidak hilang dengan terapi konservatif maka pembedahan merupakan pilihan terapi. Tujuan: Memahami penyebab dan penanganan yang tepat pasien dengan disfonia.  Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus polip pita suara kanan pada seorang perempuan usia 30 tahun dengan keluhan utama disfonia. Disfonia pada pasien membaik setelah dilakukan terapi pembedahan. Kesimpulan: Polip pita suara merupakan salah satu lesi jinak dengan keluhan utama disfonia. Disfonia karena polip pita suara umumnya membaik setelah polip diangkat.
Foreign body a fish in orohypopharynx with complication vocal cord paralysis Ade Asyari; Novialdi Novialdi; Nur Azizah
Majalah Kedokteran Andalas Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v41.i1.p32-39.2018

Abstract

Introduction: Foreign body a fish in oro-hypopharynx is a rare case and require rapid diagnosis and immediate treatment to prevent complication. There are some complications that can occur, such as upper airway obstruction, perforation of the pharyngeal wall, vocal cord paralysis, pneumomediastinum, and emphysema. Vocal cord paralysis is rare complication caused by a foreign body in the pharynx. The management for pharyngeal foreign bodies is the extraction of a foreign body with Magill forceps, direct laryngoscopy, and rigid endoscopy. Tracheostomy should be performed if endotracheal intubation could not be done or failed to be performed. Objective: Understanding diagnosis and management of patient foreign body a fish in an oro-hypopharynx. Case report: Reported a case, male 40 years old, with diagnosis foreign body a fish in oro-hypopharynx with complication unilateral vocal cord paralysis. The Foreign body was extracted using Magill forceps and rigid esophagoscopy with tracheostomy preparation if endotracheal intubation was failed to perform. Conclusion: Foreign body a fish in oro-hypopharynx is a rare case. Precise diagnosis and treatment are very important to prevent complication. Vocal cord paralysis is a rare complication caused by a foreign body in oro-hypopharynx.
Penatalaksanaan Malunion pada Fraktur Tulang Hyoid Dian Pratama Putra; Novialdi Novialdi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 45, No 2 (2022): Online April 2022
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v45.i2.p208-220.2022

Abstract

Latar Belakang: Fraktur tulang hyoid sangat jarang terjadi dan biasanya dikaitkan dengan trauma lain seperti fraktur mandibular, vertebra cervical atau bersamaan dengan laserasi jaringan lunak. Hal ini merupakan akibat dari trauma langsung atau hiperekstensi leher. Malunion merupakan salah satu komplikasi dari fraktur tulang hyoid, yang terjadi saat proses penyembuhan tulang dengan deformitas dan gangguan fungsi. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan tomografi komputer dan laringoskopi. Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan jenis cedera, gejala, dan komplikasi potensial yang terkait. Laporan Kasus: Seorang laki-laki berusia 24 tahun dengan keluhan rasa mengganjal di tenggorok sejak 5 tahun yang lalu dan semakin memberat sejak 4 bulan terakhir. Pada pemeriksaan tomografi komputer regio colli, didapatkan kesan asimetris/ dislokasi tulang hyoid (sisi kiri) dengan gambaran garis/ fissure. Pada pasien dilakukan closing wedge osteotomy dan open reduction internal fixation (ORIF) tulang hyoid dengan miniplate dan screw. Kesimpulan: Pemilihan teknik closing wedge osteotomy dan ORIF menggunakan miniplate dan screw memberikan hasil yang memuaskan dalam penyembuhan dan fiksasi optimal pada penatalaksanaan malunion dari fraktur tulang hyoid.
PENGARUH REMUNERASI DAN DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA ANGGOTA POLRES PASAMAN BARAT Mai Yuliza; Novialdi Novialdi
Jurnal Apresiasi Ekonomi Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Institut Teknologi dan Ilmu Sosial Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.407 KB) | DOI: 10.31846/jae.v8i3.296

Abstract

Penelitian ini dilakukan di kantor Polres Pasaman Barat, dan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Remunerasi dan Disiplin Kerja berpengaruh terhadap kinerja Anggota Polres  pasaman barat. Populasi penelitian ini adalah  anggota polres pasaman barat, Jumlah sampel pada penelitian ini di tetapkan sesuai dengan rumus Slovin yaitu sebuah rumus atau pemula untuk menghitung jumlah sampel minimal apabila prilaku dari sebuah populasi tidak di ketahui secara pasti . Pengujian hipotesis digunakan dengan regresi berganda hasil remunerasi berpengaruh positif dan signifikan dengan nilai 0,692 dan nilai signifikan sebesar 0,000<0,05. Disiplin Kerja berpangruh positif dan signifikan demgan nilai 0,361 dan nilai signifikan sebesar 0,000<0,05.Nilai koefisien determinasi sebesar 82,4% sedangkan sisanya sebesar 17,6% dipengaruhi oleh faktor lainnya, implikasi dari hasil penelitian ini adalah untuk meningkatkan kinerja anggota polres pasaman barat, dapat dilakukan dengan meningkatkan remunerasi dan disiplin kerjaKata Kunci : kinerja Anggota, Remunerasi, Disiplin Kerja
Prevalensi biofilm bakteri aerob pada usapan tonsil dengan metode tube pada penderita tonsilitis kronis Ade Asyari; Aci Mayang Sari; Embun Dini; Novialdi Novialdi; Fachzi Fitri; Erly Indrama; Hafni Bachtiar
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 49 No. 1 (2019): Volume 49, No. 1 January-June 2019
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v49i1.274

Abstract

Latar belakang: Tonsilitis kronis merupakan salah satu bentuk infeksi yang paling banyak terdapat pada anak-anak maupun dewasa. Kegagalan terapi antibiotika dalam mengeradikasi bakteri penyebab tonsilitis kronis ini masih menjadi perdebatan dan dihubungkan dengan keberadaan biofilm pada tonsil. Biofilm memiliki peran dalam infeksi kronis dan rekurensi dari tonsilitis kronis. Tujuan: Mengetahui gambaran biofilm bakteri aerob pada usapan tonsil dengan metode tube pada penderita tonsilitis kronis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap 96 responden. Setiap sampel dilakukan pemeriksaan swab tonsil dan kultur bakteri aerob kemudian dilanjutkan pemeriksaan biofilm dengan metode tube menggunakan crystal violet (0,1%) dan dibandingkan dengan kontrol. Data dianalisis secara statistik menggunakan komputer serta disajikan dalam bentuk tabel. Hasil: Terdapat 64,7% dari total bakteri pada usapan tonsil mengandung biofilm. Kesimpulan: Lebih dari separuh sampel terdapat biofilm bakteri aerob pada usapan tonsil dengan metode tube pada penderita tonsilitis kronis. Background: Chronic tonsillitis is one of the most common infections in children and adults. Failure of antibiotic therapy in eradicating the bacteria that cause chronic tonsillitis is still being debated and is associated with the presence of biofilm on the tonsils. Biofilms play a role in chronic infections and recurrence of chronic tonsillitis. Purpose: To determine aerobic bacterial biofilm on tonsil swabs with tube method in patients with chronic tonsillitis. Methods: This was a descriptive study conducted on 96 respondents. Each sample underwent tonsillar swab and aerobic bacterial culture, followed by examination of the biofilm with tube method using crystal violet (0.1%) and compared with controls. Data were analyzed statistically using computer program, and presented in a tabular form. Results: There were 64.7% of total bacteria in tonsil swabs containing biofilm. Conclusion: More than half of the whole samples contained aerobic bacterial biofilms on tonsil swabs with tube method in patients with chronic tonsillitis.
The effect of local ketamine infiltration on post tonsillectomy pain scale Ade Asyari; Novialdi Novialdi; Elniza Morina; Rimelda Aquinas; Nasman Puar; Hafni Bachtiar
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 50 No. 1 (2020): Volume 50, No. 1 January - June 2020
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v50i1.351

Abstract

Background: Post tonsillectomy pain is one of the surgery side effects that most disturbing for patient’s comfort and will cause dysphagia, low intake, dehydration, secondary infection and bleeding. Ketamine is an anesthetic drug that has strong analgesic effect and easily available in any hospital at relatively cheap price. Objective: To find out the effect of local ketamine infiltration on the post tonsillectomy pain scale. Method: An experimental study during tonsillectomy with a Post Test Control Group on 12 samples without local infiltration of ketamine and 12 samples with local infiltration of ketamine in peritonsillar pillar. The pain was assessed 2 hours and 24 hours post extubation with pain Visual Analog Scale (VAS). Result: The VAS value from patients who were given local infiltration of ketamine in peritonsillar pillar were lower (5.83 ± 0.72 at 2 hours and 2.83 ± 0.58 at 24 hours post extubation) compared to patients without ketamine infiltration (7.83 ± 0.58 at 2 hours and 3.58 ± 0.51 at 24 hours post extubation). The result showed statistically significant difference (p <0.05) at 2 hours and 24 hours post extubation. Conclusion: The VAS score of the ketamine infiltration group is lower at 2 hours and 24 hours post extubation than the group without ketamine infiltration, showing there was a noticeable effect of local ketamine infiltration on the post tonsillectomy pain scale.Keywords : post tonsillectomy pain, ketamine, local infiltration, visual analog scale ABSTRAKLatar belakang: Nyeri pascatonsilektomi adalah salah satu efek samping operasi yang sangat mengganggu kenyamanan pasien, dan dapat menyebabkan gangguan menelan, kurangnya asupan nutrisi, dehidrasi, infeksi sekunder dan perdarahan. Ketamin merupakan obat anestesi yang memiliki efek analgetik yang kuat dan mudah didapatkan di semua tipe rumah sakit dengan harga yang relatif murah. Tujuan: Mengetahui efek pemberian infiltrasi lokal ketamin terhadap skala nyeri pascatonsilektomi. Metode: Penelitian eksperimental dengan desain Post Test Control Group pada 12 sampel tanpa pemberian infiltrasi lokal ketamin dan 12 sampel dengan pemberian infiltrasi lokal ketamin di pilar peritonsil saat tonsilektomi. Dilakukan penilaian nyeri 2 jam dan 24 jam pascaekstubasi menggunakan skala nyeri Visual Analog Scale (VAS). Hasil: Nilai VAS pasien yang diberi infiltrasi lokal ketamin di pilar peritonsil lebih rendah (5,83±0,72 pada 2 jam dan 2,83 ± 0,58 pada 24 jam pascaekstubasi) dibanding tanpa diberi infiltrasi lokal ketamine (7,83 ± 0,58 pada 2 jam dan 3,58± 0,51 pada 24 jam pascaekstubasi), dan bermakna secara statistik (p<0,05) pada kedua penilaian. Kesimpulan: Terdapat efek nyata infiltrasi lokal ketamin terhadap skala nyeri pascatonsilektomi, dimana nilai VAS kelompok yang diberi infiltrasi ketamin lebih rendah, baik pada 2 jam ataupun 24 jam pascaekstubasi dibanding kelompok yang tidak diberi infiltrasi ketamin.
Diagnostic of lingual tonsil hypertrophy with lateral soft tissue cervical X-ray on laryngopharyngeal reflux Ade Asyari; Novialdi -; Bonny Murizky; Wahyu Julianda; Esmaralda Nurul Amany; Tuti Handayani; Hafni Bachtiar
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 51 No. 1 (2021): Volume 51, No. 1 January - June 2021
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v51i1.381

Abstract

Background: Lingual tonsil hypertrophy (LTH) evaluation could be performed by flexible fiberoptic laryngoscopy, lateral soft tissue cervical X-ray, CT scan, and magnetic resonance imaging (MRI). Lateral soft tissue cervical X-ray examination is considered as a procedure-of-choice for diagnostic testing of LTH, which, aside from being low cost, the examination could also be conducted in all hospitals and easy to be performed on children. Objective: To compare the lingual tonsil enlargement with examination procedure using lateral soft tissue cervical X-ray as an LTH diagnostic measure compared to the flexible fiberoptic laryngoscopy examination as the gold standard examination. Methods: A retrospective analytic study with cross-sectional design on 30 respondents of laryngopharyngeal reflux (LPR) patients who came for routine ENT physical examination, followed by flexible fiberoptic laryngoscopy examination along with lateral soft tissue cervical X-ray. Results: The sensitivity level of 65.38% was acquired from the statistical tests, along with specificity level of 100%, positive predictive value (PPV) of 100%, and negative predictive value (NPV) of 30.37%. Conclusion: Based on sensitivity and specificity, lateral soft tissue cervical X-ray examination could be used as a diagnostic measure and have an accurate capability to diagnose LTH.ABSTRAK Latar belakang: Evaluasi hipertrofi tonsil lingual (HTL) dapat dilakukan menggunakan laringoskopi serat optik fleksibel, foto Rontgen cervical soft tissue lateral, CT scan, dan magnetic resonance imaging (MRI). Foto Rontgen cervical soft tissue lateral dapat dipertimbangkan sebagai pilihan pemeriksaan diagnostik HTL, karena selain biayanya terjangkau, pemeriksaan ini dapat dilakukan di semua rumah sakit serta mudah dilakukan pada pasien anak. Tujuan: Membandingkan hasil pemeriksaan pembesaran tonsil lingual menggunakan foto Rontgen cervical soft tissue lateral dengan pemeriksaan laringoskopi serat optik fleksibel sebagai pemeriksaan baku emas. Metode: Penelitian analitik retrospektif dengan desain potong lintang pada 30 pasien laryngopharyngeal reflux (LPR) yang dilakukan pemeriksaan fisik THT rutin, diikuti dengan pemeriksaan laringoskopi serat optik fleksibel serta foto Rontgen cervical soft tissue lateral. Hasil: Didapatkan tingkat sensitivitas dari uji statistik sebesar 65,38%, dengan tingkat spesitivitas sebesar 100%, dan didapatkan nilai prediksi positif (NPP) sebesar 100% serta nilai prediksi negatif (NPN) sebesar 30,37%. Kesimpulan: Berdasarkan sensitivitas dan spesifisitas, foto Rontgen cervical soft tissue lateral dapat digunakan sebagai alat diagnostik dan memiliki kemampuan yang akurat dalam diagnosis HTL. Kata kunci: hipertrofi tonsil lingual, laryngopharyngeal reflux, laringoskopi serat optik fleksibel, foto Rontgen cervical soft tissue lateral 
Nilai ASTO Pasien Tonsilitis Kronis Pre dan Pasca Tonsiloadenoidektomi Dengan Riwayat Endokarditis Infeksi Syahri Gunawan; Novialdi Novialdi; Rismawati Yaswir; Didik Hariyanto; Aulia Rahman
Majalah Kedokteran Andalas Vol 46, No 6 (2023): Online Oktober
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v46.i6.p1118-1127.2023

Abstract

Tonsilitis merupakan salah satu manifestasi paling sering dari infeksi saluran nafas atas. Pada pasien dengan tonsilitis kronis terdapat kecenderungan peningkatan titer Anti Streptolisin O, sebuah antibodi terhadap antigen Streptolisin O yang dihasilkan oleh bakteri Streptokokus β Hemolitikus grup A. Bakteri yang juga diketahui menjadi agen penyebab pada penyakit jantung infeksi. Tujuan: Mengetahui dan menginterpretasikan nilai ASTO pasien tonsilitis pre dan paska tonsiloadenoidektomi dengan riwayat endokarditis infeksi Laporan Kasus: Seorang anak perempuan 15 tahun dilaporkan dengan tonsilitis kronis dan post infective endocarditis definite. Pada pasien dilakukan pengukuran titer ASTO sebelum dan sesudah tindakan tonsiloadenoidektomi. Setelah dilakukan tonsiloadenoidektomi didapatkan bahwa titer ASTO menjadi negatif. Kesimpulan: Tonsiloadenoidektomi pada pasien dengan tonsilitis kronis dapat menurunkan kadar ASTO dan reaktivasinya sehingga dapat menghindari resiko terjadinya komplikasi yang berhubungan dengan Streptokokus β Hemolitikus grup A