Claim Missing Document
Check
Articles

Penataan Ulang Layout Balai Desa Weleri Ema Hidayati; Agung Budi Sardjono
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 16 No. 1 (2022): January 2022
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1319.507 KB) | DOI: 10.56444/sarga.v16i1.106

Abstract

Balai desa Weleri merupakan tempat untuk mewadahi kegiatan pelayanan masyarakat desa. Di area balai desa terdapat polindes yang merupakan fasilitas Kesehatan bagi masyarakat dan PAUD untuk kegiatan belajar anak – anak di desa Weleri. Dengan banyaknya kegiatan yang ada di balai desa pada waktu yang bersamaan sehingga ruang atau fasilitas yang ada di balai desa tidak maksimal untuk mewadahi kegiatan tersebut. Ini dikarenakan penataan layout dan sirkulasi ruang yang ada di balai desa belum terkendali dengan baik. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu untuk memaksimalkan kebutuhan ruang dari kegiatan yang ada di balai desa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif yaitu penelitian yang menggunakan pendekatan studi kasus pada obyek yang dipilih dengan memperoleh data dari pihak yang dituju yang kemudian dikumpulkan menjadi sumber data. Sumber data kemudian diolah dengan dianalisa oleh penulis sehingga menghasilkan sebuah temuan atau solusi dari permasalahan. Pembagian zonasi pada denah Balai Desa dengan mengefektifkan kegiatan dengan sirkulasi ruang menghasilkan penambahan ruang pada zona tertentu yaitu, zona public terdapat ruang pelayanan, warung PKK, Cafetaria, aula, ruang belajar PAUD; zona privat terdapat ruang kepala desa, ruang sekertaris desa, ruang PKK, ruang guru PAUD; zona semi public terdapat ruang staff perangkat.
Pengaruh Masjid Menara Kudus Sebagai Landmark Kota Terhadap Lingkungan Kota Lama Kudus Assa Kamalia; Agung Budi Sardjono; Suzanna Ratih Sari
Jurnal Planologi Vol 19, No 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v19i2.20195

Abstract

ABSTRACT The Formation of a city cannot be sparated from the existence of city-forming elements, one of which is a landmark. Landmark is an identity that is owned by a city. Kudus city has a Menara Kudus Mosque that serves as the city’s identity. This study will find the influence of the Menara Kudus Mosque on the surrounding environtment. The research method used is direct observation in the field and with interviews with informans, namely resident around the Old City of Kudus. From the results of the study, it was found that there were several influences due to the existence of the Menara Kudus Mosque, that a growing economy, crowded and surrounding mosques that were oriented to the Menara Kudus Mosque.Keywords:landmark,menara kudus mosque, old city of kudus  ABSTRAK              Terbentuknya suatu kota tak lepas dari adanya elemen-elemen pembentuk kota salah satunya adalah Landmark. Landmark merupakan suatu identitas yang dimiliki oleh sebuah kota. Kota Kudus mempunyai Masjid Menara sebagai identitas kota. Penelitian ini bertujuan mencari pengaruh Masjid Menara Kudus terhadap lingkungan sekitarnya. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi secara langsung di lapangan dan dengan wawancara kepada informan yaitu penduduk sekitar Kota Lama Kudus.Dari hasil penelitian ditemukan beberapa pengaruh karena keberadaan Masjid Manara Kudus, yaitu aspek fisik dan aspek non fisik pada lingkungan sekitar Masjid Menara.Katakunci:landmark,masjid menara kudus,kota lama kudus
KAJIAN FAKTOR PERILAKU PEMANFAATAN TERITORI PUBLIK OLEH PEDAGANG DI PASAR JATINGALEH SEMARANG Umamah Al Batul; Djoko Indrosaptono; Agung Budi Sardjono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i2.998

Abstract

Abstract: Jatingaleh Market is a traditional market with high historical value in the city of Semarang, but currently the market conditions seem dirty. The phenomenon of market corridor’s use by traders is one of the main factors behind it. This phenomenon causes the market corridor become narrow from its proper width. Territory describes an individual's identity related to a sense of belonging to an area. The use of public territory in the market occurs when traders expand their trading area by claiming ownership of territory that is not legally theirs. This study aims to determine the condition of the Jatingaleh market compared to the initial planning and to find out the condition by the phenomenon public territory’s use in the Jatingaleh market and the factors behind it based on a literature study. The research was conducted using observation and mapping methods of the phenomenon and then examining the influencing factors through reference studies. The results showed that the behavior of using public territory was influenced by internal factors from individuals and external factors from settings or the environment.Abstrak: Pasar Jatingaleh merupakan pasar tradisional dengan nilai sejarah tinggi di kota Semarang, namun saat ini kondisi pasar terkesan kotor dan kumuh. Fenomena pemanfaatan koridor pasar oleh pedagang merupakan salah satu faktor utama yang melatarbelakanginya. Pemanfaatan ini menyebabkan koridor pasar menyempit dari lebar yang seharusnya. Teritori meggambarkan identitas seorang individu yang berhubungan dengan rasa memiliki terhadap sebuah area. Pemanfaatan teritori pada pasar terjadi saat pedagang memperluas area dagangnya dengan melakukan klaim kepemilikan terhadap teritori yang secara legal bukan miliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pasar Jatingaleh dibandingkan dengan perencanaan awal dan mengetahui kondisi fenomena pemanfaatan teritori publik di pasar Jatingaleh serta faktor yang melatarbelakanginya berdasarkan studi literatur. Penelitian dilakukan dengan metode observasi dan pemetaan terjadinya pemanfaatan kemudian mengkaji faktor yang mempengaruhi melalui studi referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pemanfaatan teritori publk dipengaruhi oleh faktor internal dari individu dan faktor eksternal dari seting atau lingkungan.
RUANG BERBAGI ANTARA MANUSIA DAN HEWAN TERNAK YANG ADA DI PINGGIRAN KOTA Marsya Paramita Sulistyaningrum; Agung Budi Sardjono; Suzana Ratih Sari
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i3.831

Abstract

Abstract: There are still many people living on the suburbs who have unique and diverse activities and habits. As in Jetis Trawas Village, Cepoko Village, Gunungpati District, Semarang City, some of these unique activities and habits actually trigger the formation of a space that is used for various activities. One of them that is unique is that there are still many houses that are in the same environment as livestock. The purpose of this study is to determine the pattern of sharing space on the suburbs and the factors that influence the formation of sharing space on the suburbs. Through qualitative research methods can provide a clear picture of sharing space based on the culture of the local community. In addition, this method is motivated by the author in conducting research in order to provide knowledge about things that are not widely known. So in this study, it will be explored and discussed further how this sharing space can be formed in the object of this research. The results of this study in Jetis Trawas Village show that the Sharing Room was formed due to economic factors as well as social interaction factors of the villagers.Abstrak: Masyarakat yang ada di pinggiran Kota masih banyak ditemui memiliki aktivitas dan kebiasaan yang unik dan beragam. Seperti yang ada di Desa Jetis Trawas, Kelurahan Cepoko, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Aktivitas dan kebiasaan unik ini ternyata memicu terbentuknya ruang yang digunakan untuk berbagai aktivitas. Salah satunya yang unik yaitu masih banyak terdapat rumah tinggal yang berada satu lingkungan dengan hewan ternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sharing space yang ada di pinggiran kota dan faktor – faktor yang berpengaruh dalam terbentuknya sharing space di pinggiran kota. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif rasionalistik, kualitatif analisis dengan deskriptif untuk menganalisa suatu objek dengan kondisi di lokasi penelitian. Analisis data menggunakan hasil wawancara dari beberapa warga dengan berbagai golongan umur yang objek penelitiannya sesuai dengan tema penelitian, kemudian hasilnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan melalui wawancara tersebut, diketahui bahwa Sharing Spaceterbentuk karena ketersediaan lahan, faktor ekonomi dan juga faktor sosial. 
Redesain Ruang Ibadah Masjid Agung Pati Berdasarkan Performa Kenyamanan Termal, Visual, Dan Akustik ashim furqoni; Eddy Prianto; Agung Budi Sardjono; Gagoek Hardiman
RUAS Vol 20, No 2 (2022)
Publisher : RUAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2022.020.02.4

Abstract

Architecture is a place to move comfortably. The mosque is the four worshippers of muslims who should have an optimal level of comfort. This study aims to examine the comfort performance of the prayer room of the Great Mosque of Pati based on applicable theories and standards, then design based on the results of a comfort study to get a prayer room design that meets the comfort criteria for its users. The research was conducted by dividing the prayer room into 16 points. At each point, 3 measurements are carried out, namely thermal, lighting, and noise measurements both in the morning, afternoon, afternoon, and evening. From the measurement results, it is known that the average temperature in the worship room is 27.4 °C, meaning that the temperature is hotter than the standard of comfort (<27 °C). The average exposure is 103.5 lux, meaning the lighting is darker than required (200 lux). The average noise is 61.7 dB, meaning that the situation inside the worship room is noisier than the maximum noise level allowed for the worship space (55 dB).
Penataan Ulang Layout Balai Desa Weleri Ema Hidayati; Agung Budi Sardjono
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 16 No. 1 (2022): January 2022
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v16i1.106

Abstract

Balai desa Weleri merupakan tempat untuk mewadahi kegiatan pelayanan masyarakat desa. Di area balai desa terdapat polindes yang merupakan fasilitas Kesehatan bagi masyarakat dan PAUD untuk kegiatan belajar anak – anak di desa Weleri. Dengan banyaknya kegiatan yang ada di balai desa pada waktu yang bersamaan sehingga ruang atau fasilitas yang ada di balai desa tidak maksimal untuk mewadahi kegiatan tersebut. Ini dikarenakan penataan layout dan sirkulasi ruang yang ada di balai desa belum terkendali dengan baik. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu untuk memaksimalkan kebutuhan ruang dari kegiatan yang ada di balai desa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif yaitu penelitian yang menggunakan pendekatan studi kasus pada obyek yang dipilih dengan memperoleh data dari pihak yang dituju yang kemudian dikumpulkan menjadi sumber data. Sumber data kemudian diolah dengan dianalisa oleh penulis sehingga menghasilkan sebuah temuan atau solusi dari permasalahan. Pembagian zonasi pada denah Balai Desa dengan mengefektifkan kegiatan dengan sirkulasi ruang menghasilkan penambahan ruang pada zona tertentu yaitu, zona public terdapat ruang pelayanan, warung PKK, Cafetaria, aula, ruang belajar PAUD; zona privat terdapat ruang kepala desa, ruang sekertaris desa, ruang PKK, ruang guru PAUD; zona semi public terdapat ruang staff perangkat.
KARAKTER VISUAL ARSITEKTUR BANDARA DI JAWA TENGAH Hilmy, Muhammad Fariz; Sardjono, Agung Budi; Pandelaki, Edward Endrianto
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 6 No 2 (2019): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v6i2a4

Abstract

Abstrak_Bandara merupakan pintu gerbang masuk ke dalam sebuah provinsi atau daerah, sehingga sudah seharusnya bangunan bandara mengandung nilai-nilai kelokalan atau identitas daerahnya. Namun kini bandara di Jawa Tengah telah mengalami perubahan desain, dari yang lama yang masih kental dengan unsur kelokalan, menjadi yang baru yang penuh dengan unsur modern. Karakteristik visual dari kedua bandara ini tentunya berbeda. Meskipun bandaranya terletak di Jawa Tengah namun akan dilihat apakah masih terdapat karakter Jawa pada bangunannya atau muncul karakteristik visual yang lain. Metode deskriptif dan pendekatan rasionalistik kualitatif akan digunakan pada penelitian ini untuk mengidentifikasi kedua bandara untuk diketahui karakteristik visualnya melalui elemen-elemen yang ada pada kedua bandara tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah persamaan elemen kedua bandara, namun menghasilkan karakteristik visual yang berbeda-beda, tergantung dari aspek visual (bentuk, permukaan, dimensi, dan identitas) dari elemen masing-masing bandara.Kata kunci: Karakter Visual; Identitas; Arsitektur Bandara, Jawa Tengah. Abstract_ The airport is the gateway to enter into a province or region, so that airport buildings should contain locality or regional identity values. But now the airports in Central Java have undergone a design change, from the old ones that are still thick with the locality, to a new one full of modern elements. The visual character of the two types of airports is certainly different. Although the airport is located in Central Java, it will be seen whether there are still Javanese characters in the building or other visual characters. Descriptive methods and qualitative rationalistic approaches will be used in this study to identify the two airports to find out their visual characters through the elements at the two airports. The results of this study are differences in the visual character of the architecture of the two airports in Central Java at this time and the similarity of characters that show identity from the province of Central Java itself.Keywords: Visual Character; Identity; Airport Architecture; Central Java. 
IMPLEMENTATION STUDY: UNIVERSAL DESIGN IMPLEMENTATION IN KONGKOW PARK IN JAMBI CITY Lubis, Elektina; Sardjono, Agung Budi
Jurnal Planologi Vol 22, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v22i1.43949

Abstract

The city park serves as a public open space in urban areas where people typically release their exhaustion and boredom. Everyone in the city including people with disabilities can access this place. The government has established regulations relating to users with disabilities. All relevant parties and the people of Indonesia can use this regulation to understand the definition, meaning, and various challenges faced by users with disabilities in this country. To determine how to apply a universal design to Kongkow Park in Jambi City is the purpose of this research. The research method employs descriptive qualitative methods, guided by literature guidelines, to assess current data and identify the advantages and disadvantages of park accessibility for individuals with disabilities. The results indicate that Kongkow Park falls short of accessibility standards and universal design principles outlined in the Ministerial Regulation of Public Works and Housing No. 14 of 2017. The universal design principles state that many physical elements of the environment pose risks to people with existing disabilitiesKeywords: Accessibility, City Park, Universal Design.
OMAH KALANG OMAH TRADISI, DESA KALANG DESA TRADISI (Etnografi Tradisi Sub Etnis Jawa, Kalang) Setiohastorahmanto, Prabani; Soetomo, Sugiono; Sardjono, Agung Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Dukuh Lumbu in the village is the village Lumansari (residential) sub ethnic Javanese which is known as the Kalang of Java, they were known as the Kalang people. Group Loop has different traditions with those of Java in General, even some of the traditions are considered strange by some Java. In this article will discuss one of the traditions that are still done i.e. the tradition of Ewuh and Obong.  Both of these traditions is the result of acculturation among the cultural community who had formerly lived on the island of Java, then came the Hindu culture which came from India. Until now, both of these traditions are still carried out by the Circuit as a form of respect for their ancestors. This tradition has a context with their settlement which they refer to as the village of Kalang, similarly to their occupancy is referred to as the House Has.  Javanese traditional House, a House has the traditional Javanese generally inhabited by communities who have the strata below the nobility or priyayi. The House Has this become part of the lives of Kalang Kalang tradition.  Then the munculah questions, namely: 1) How the tradition of the Loop is executed in the context of the House has the traditional context and the settlements?; 2) what is the meaning of Kalang traditions in everyday life people Kalang? Through the deductive paradigm and using the techniques of Ethnography, found the answer to that is: 1) Has traditional houses as a container that traditionally have a philosophy of life for people in the context of the settlement while the Circuit of the village is the village of Kalang The tradition; 3) Kalang Tradition as a form of Thanksgiving to ancestors and beg protection from ghosts of the ancestors are believed to still continues to maintain village life. Keyword: Loop, it has, Obong, Ewuh Abstrak: Dukuh Lumbu yang ada di Desa Lumansari merupakan desa (tempat hunian) sub etnis Jawa yang dikenal dengan nama Kalang, mereka merupakan orang Jawa yang dikenal dengan sebutan orang Kalang. Kelompok orang Kalang ini memiliki tradisi yang berbeda dengan orang Jawa secara umum, bahkan beberapa tradisi dianggap aneh oleh sebagian orang Jawa. Dalam tulisan ini akan membahas salah satu tradisi yang masih dilakukan yaitu tradisi Ewuh dan Obong.  Kedua tradisi ini merupakan hasil akulturasi antara budaya masyarakat yang telah dahulu hidup di Pulau Jawa kemudian datang kebudayaan Hindu yang berasal dari India. Hingga saat ini kedua tradisi ini masih dilaksanakan oleh orang Kalang sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur. Tradisi ini memiliki konteks dengan pemukiman mereka yang mereka sebut sebagai desa Kalang, demikian pula dengan hunian mereka yang disebut sebagai rumah Limasan.  Rumah tradisional Jawa Limasan, sebuah rumah tradisional Jawa yang umumnya dihuni oleh masyarakat yang memiliki strata dibawah bangsawan atau priyayi. Rumah Limasan ini menjadi bagian dari kehidupan orang Kalang dengan tradisi Kalang.  Maka munculah pertanyaan yaitu: 1) Bagaimana tradisi Kalang tersebut dilaksanakan dalam konteks rumah tradisional Limasan dan konteks permukiman?; 2) apa makna tradisi Kalang dalam kehidupan sehari-hari orang Kalang?  Melalui paradigma deduktif dan menggunakan teknik etnografi, ditemukan jawaban yaitu: 1) Rumah tradisional Limasan sebagai wadah yang secara tradisi memiliki filosofi kehidupan bagi orang Kalang sedangkan dalam konteks permukiman desa Kalang adalah desa Tradisi; 2) Tradisi Kalang sebagai  bentuk ucapan syukur kepada leluhur dan mohon perlindungan dari arwah leluhur yang diyakini masih terus menjaga kehidupan desa.Kata Kunci: Kalang, Limasan, Obong, Ewuh
ADAPTASI PERMUKIMAN TERDAMPAK BENCANA ROB (Studi Kasus: Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan) Adlina, Zata Izzati; Sardjono, Agung Budi; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The occurrence of climate change and environmental problems resulted changes in Bandengan urban Village’s settlements, and especially on its physical elements. Bandengan urban Village as a settlement in coastal area was threatened by the “rob” disaster, which means the phenomenon of flooding result of rising sea levels that regularly occur until now. Moreover, there are also threats from high wave disasters, abrasion, Land Subsidence, and flooding. The existence of these phenomena, bring up responses from the community to adapt and survive in the environment from the threat of its disaster. This study aims to determine the form of adaptation that has been done by the community in settlements affected by the “rob” disaster in Bandengan urban Village. The research uses qualitative methods with descriptive approaches, and uses purposefully select sampling techniques. That is by taking the research zone in an areas that are suspected of having the highest risk, and the areas with the lowest risk level from the threat of “rob” disaster in Bandengan urban Village. The analysis was only focus on the physical form of houses element within the settlement, that’s because to get the specific and comprehensive findings. The results showed that the most dominant form of adaptation was divided into three groups, that were the avoidance adaptation was done by moving to another place that was more secure or evacuate, protect adaptation was done by creating dikes and fill with soil, as well as adaptation to accommodate was done by elevating the floor and lifted up the roof of the houseKeyword: Adaptation, Settlements, “Rob” disasterAbstrak: Terjadinya perubahan iklim dan permasalahan lingkungan mengakibatkan permukiman di kelurahan Bandengan mengalami perubahan secara signifikan, khususnya pada elemen fisik permukiman. Kelurahan Bandengan sebagai permukiman di daerah pesisir terancam oleh bencana rob, yaitu fenomena banjir akibat naiknya permukaan air laut yang rutin terjadi sampai saat ini. Selain itu terdapat pula ancaman dari bencana gelombang tinggi, abrasi, Land Subsidence, dan banjir. Adanya fenomena tersebut memunculkan respon dari masyarakat untuk menyesuaikan diri dan bertahan hidup di lingkunganya dari ancaman bencana. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui bentuk adaptasi yang dilakukan masyarakat pada permukiman terdampak bencana rob di Kelurahan Bandengan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, serta menggunakan teknik sampling purposefully select. Yaitu dengan mengambil zona penelitian pada daerah yang diduga memiliki resiko tertinggi, dan daerah dengan tingkat resiko paling rendah terhadap ancaman bencana rob di Kelurahan Bandengan. Analisis yang dilakukan hanya berfokus pada bentuk fisik elemen rumah dalam permukiman, dikarenakan untuk mendapat hasil temuan secara spesifik dan komperhensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk adaptasi yang paling dominan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu adaptasi menghindar dilakukan dengan pindah ke tempat lain yang lebih aman atau mengungsi, adaptasi melindungi dilakukan dengan membuat  tanggul dan mengurug, serta adaptasi mengakomodasi dilakukan dengan meninggikan lantai dan meninggikan atap rumah.Kata Kunci: Adaptasi, Permukiman, Bencana Rob
Co-Authors Abdullah Ali Abdullah Ali Aditias Putri, Ninda Adiyati, Arlina Adlina, Zata Izzati Airin Dian Nagari Al Batul, Umamah Alfanadi Agung Setiyawan Anisa Anisa Aprilia Salsabila Nadhifah Arlina Adiyati ashim furqoni Assa Kamalia Astari Wulandari Atiek Suprapti Atiek Suprapti atik suprapti Aulia, Faricha Putri Ayu Kusuma Wardhani Bagus Setiono Bangun IR Harsritanto, Bangun IR Bharoto Bharoto Budi Sudarwanto Cia, Helen Daffa Maulana Rifli Daffa Maulana Rifli Dedi Iskandar Deni Wahyu Setiawan Denny Irwan Aryadi, Denny Dhanoe Iswanto Djoko Indrosaptono Dunga Ayusthi Vembrika, Dunga Eddy Prianto Edi Purwanto Edi Purwanto Edward Endrianto Pandelaki Ema Hidayati Erianti, Devi Dwi Faricha Putri Aulia Fariz Addo Giovano Fariz, Nuthqy Franciskus Xaverius Yudhistira Ricky Kurnia Furqoni, Ashim Gagoek Hardiman Gagoek Hardiman Harsritanto, Bangun I R Harsritanto, Bangun Indrakusumo Radityo Helen Cia Henry Soleman Raubaba, Henry Soleman Hilba Yoga Pratama Hilmy, Muhammad Fariz Husnul Masyitoh Indraswara, Mohammad Sahid Isna Pratiwi Isna Pratiwi, Isna Jamaluddin, Rizqi Lubis, Elektina Marsya Paramita Sulistyaningrum Muhammad Abiyyan Zhafran Murti, Nindita Kresna Nindita Kresna Murti Nuzlia Rahdini Nuzlia Rahdini Permata Widianingrum Permata Widianingrum PRAMESTI, CIPTETY TRISYA R Siti Rukayah Resza Riskiyanto Rizqi Jamaluddin Rukayah, Raden Siti Sarah Aisha Sari, Suzana Ratih Satrio - Nugroho, Satrio - Satrio Nugroho Setiawan, Deni Wahyu Setiohastorahmanto, Prabani Setiyawan, Alfanadi Agung Sholih, Muhammad Najieb Sudarmawan Juwono Sudarmawan Juwono Sugiono Soetomo Sugiono Soetomo Sugiono Soetomo Sukawi Sukawi Sulistyaningrum, Marsya Paramita Suzana Ratih Sari Suzanna Ratih Sari Suzanna Ratih Sari Taqiyudin Shidqi Titien Woro Murtini Titien Woro Murtini Titin Woro Murtini Umamah Al Batul Vivi Kurnia Putri Widiantara, I Wayan Andhika Wijayanti , Wijayanti Wijayanti . Yandri, Sepli Zata Izzati Adlina