Claim Missing Document
Check
Articles

ADAPTASI PERMUKIMAN TERDAMPAK BENCANA ROB (Studi Kasus: Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan) Adlina, Zata Izzati; Sardjono, Agung Budi; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The occurrence of climate change and environmental problems resulted changes in Bandengan urban Village’s settlements, and especially on its physical elements. Bandengan urban Village as a settlement in coastal area was threatened by the “rob” disaster, which means the phenomenon of flooding result of rising sea levels that regularly occur until now. Moreover, there are also threats from high wave disasters, abrasion, Land Subsidence, and flooding. The existence of these phenomena, bring up responses from the community to adapt and survive in the environment from the threat of its disaster. This study aims to determine the form of adaptation that has been done by the community in settlements affected by the “rob” disaster in Bandengan urban Village. The research uses qualitative methods with descriptive approaches, and uses purposefully select sampling techniques. That is by taking the research zone in an areas that are suspected of having the highest risk, and the areas with the lowest risk level from the threat of “rob” disaster in Bandengan urban Village. The analysis was only focus on the physical form of houses element within the settlement, that’s because to get the specific and comprehensive findings. The results showed that the most dominant form of adaptation was divided into three groups, that were the avoidance adaptation was done by moving to another place that was more secure or evacuate, protect adaptation was done by creating dikes and fill with soil, as well as adaptation to accommodate was done by elevating the floor and lifted up the roof of the houseKeyword: Adaptation, Settlements, “Rob” disasterAbstrak: Terjadinya perubahan iklim dan permasalahan lingkungan mengakibatkan permukiman di kelurahan Bandengan mengalami perubahan secara signifikan, khususnya pada elemen fisik permukiman. Kelurahan Bandengan sebagai permukiman di daerah pesisir terancam oleh bencana rob, yaitu fenomena banjir akibat naiknya permukaan air laut yang rutin terjadi sampai saat ini. Selain itu terdapat pula ancaman dari bencana gelombang tinggi, abrasi, Land Subsidence, dan banjir. Adanya fenomena tersebut memunculkan respon dari masyarakat untuk menyesuaikan diri dan bertahan hidup di lingkunganya dari ancaman bencana. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui bentuk adaptasi yang dilakukan masyarakat pada permukiman terdampak bencana rob di Kelurahan Bandengan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, serta menggunakan teknik sampling purposefully select. Yaitu dengan mengambil zona penelitian pada daerah yang diduga memiliki resiko tertinggi, dan daerah dengan tingkat resiko paling rendah terhadap ancaman bencana rob di Kelurahan Bandengan. Analisis yang dilakukan hanya berfokus pada bentuk fisik elemen rumah dalam permukiman, dikarenakan untuk mendapat hasil temuan secara spesifik dan komperhensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk adaptasi yang paling dominan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu adaptasi menghindar dilakukan dengan pindah ke tempat lain yang lebih aman atau mengungsi, adaptasi melindungi dilakukan dengan membuat  tanggul dan mengurug, serta adaptasi mengakomodasi dilakukan dengan meninggikan lantai dan meninggikan atap rumah.Kata Kunci: Adaptasi, Permukiman, Bencana Rob
KARAKTERISTIK PERMUKIMAN DAERAH KOTO DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI, PROVINSI RIAU Yandri, Sepli; Sari, Suzanna Ratih; Sardjono, Agung Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: An area usually has an important area as the center of government activities. as found in every area in Kuantan Singingi Regency. Every region in Kuantan Singingi district has an area that functions as a customary area. the customary area is named as koto. Traditional Koto settlements are one of the traditional settlements in Kuantan Singingi that try to maintain culture amid the development of modernization. In the Koto area, there are buildings that function as customary buildings, namely in the form of the Koto mosque, balai, and Koto house building. These three buildings are a sign that this area is the center of traditional activities in a region. The purpose of this study was to find buildings that functioned as traditional activities and concluded the characteristics of settlements which became the identity of traditional settlements in Kuantan Singingi. The method of descriptive analysis is used as a method of delivering descriptions relating to the traditional settlement of the Koto area by analyzing traditional settlements in the Koto Benai and Koto Sentajo.Keyword: Traditional Settlement, Vernacular Architecture, Kuantan Singingi Traditional House, Koto House.Abstract: Suatu daerah memiliki sebuah kawasan yang penting sebagai pusat kegiatan pemerintahan. Begitu pula yang terdapat pada setiap kenegrian di Kabupaten Kuantan Singingi. Setiap kenegrian di Kuantan Singingi memiliki daerah yang berfungsi sebagai kawasan adat. Kawasan adat tersebut diberi nama dengan sebutan koto. Permukiman tradisional koto menjadi salah satu permukiman tradisional di Kuantan Singingi yang berusaha mempertahankan budaya ditengah perkembangan modernisasi. Pada daerah koto terdapat bangunan yang berfungsi sebagai bangunan adat yaitu berupa bangunan mesjid, bangunan balai adat, dan bangunan rumah adat. Ketiga bangunan ini menjadi pertanda bahwa daerah ini adalah sebagai pusat kegiatan adat istiadat dalam suatu nagori (negri).  Tujuan penelitian ini untuk menemukan bangunan yang berfungsi sebagai aktivitas adat dan menyimpulkan karakteristik permukiman yang menjadi identitas permukiman tradisional di Kuantan Singingi. Metode deskripsi analisis, di pakai sebagai cara penyampaian deskripsi mendalam terkait permukiman adat daerah koto dengan menganalisa permukiman tradisional pada daerah Koto Benai dan Koto Sentajo.Kata Kunci : Permukiman Tradisional, Arsitektur Vernakular, Rumah Adat Kuantan Singingi, Rumah koto.
SERIAL VISION PADA KORIDOR JALAN MENARA KOTA KUDUS Jamaluddin, Rizqi; Sardjono, Agung Budi; Murtini, Titien Woro
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: In structuring a city there is a high complexity experienced by cities so that existing problems will not be endless. When conducting city structuring there are many factors that influence in creating a good city environment. In providing a strong identity, there needs to be a harmonious relationship between one place and another. To find out the description of the strong characteristics and the clear need for serial vision scanning. Kudus itself is a city that has interesting characteristics on the road corridor. The corridors in the holy area have unique visual characteristics, which triggers the community to remember a building in that location. In this case, the corridor in the Menara Kudus Mosque Area is interesting to be appointed as an effort to revive the identity of the old city of the holy region through serial vision and its components. This research is considered important enough to be one of the basic studies in its design. In addition, it is very important to maintain the visual character of a corridor.Keyword: Serial Vision, Corridor, Jl.Menara KudusAbstrak: Dalam penataan sebuah kota terdapat kompleksitas yang tinggi dialami oleh kota sehingga permasalahan yang ada tidak akan ada habisnya. Saat melakukan penataan kota terdapat banyak faktor yang mempengaruhi dalam menciptakan lingkungan kota yang baik. Dalam memberikan identitas yang kuat perlu adanya keselarasan hubungan antar satu tempat dengan tempat yang lain. Untuk mengetahui gambaran tentang cirikhas yang kuat dan jelas perlu adanya pemindaian secara serial vision. Kudus sendiri merupakan kota yang memiliki cirikhas yang menarik pada koridor jalan. Adapun koridor yang ada di kawasan kudus mempunyai karakteristik visual unik sehingga memicu masyarakat untuk mengingat sebuah bangunan di lokasi tersebut. Dalam hal ini koridor di Kawasan Masjid Menara Kudus menarik untuk diangkat sebagai upaya mengangkat kembali identitas kawasan kota lama kudus melalui serial vision dan komponen didalamnya. Penelitian ini dirasa cukup penting untuk menjadi salah satu dasar kajian dalam perancangannya. Selain itu sangat penting untuk menjaga karakter visual sebuah koridor.Kata Kunci: Serial Vision, Koridor, Jl. Menara Kudus
AKTIVITAS WISATA RELIGI DALAM PERUBAHAN PERMUKIMAN DI KAWASAN BERSEJARAH MENARA KUDUS Adiyati, Arlina; Sardjono, Agung Budi; Murtini, Titin Woro
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Menara Kudus area is a settlement of urban villages that has own characteristics and urban embryo of Kudus city. Many traditional houses and ancient buildings can be found in there as a historical area. But, Menara Kudus area continues to develop into a religious tourism area that makes the process changes physically and non-physically. The purpose of this study is to find out what changes occur in Menara Kudus area and the underlying factors. A research method is qualitative explorative with informants as the main resource and uses purposive observation to sample selection. The results of this study indicate a public response to new activities by utilizing residential houses and their residential environment as business space in supporting religious tourism activities. The factors behind the change are increasing the number of visitors, the needs of tourist facilities, type of business space, and orientation of buildings following tourist routes. These changes have an impact on changes in the economy of society, lifestyle, and social society in the Menara Kudus area. But tourism activities are able to maintain the culture and traditions community because it is an interest in tourist visits.Keyword: changes, settlement, houses, religious tourism, historical area, Menara Kudus area.Abstrak: Kawasan Menara Kudus merupakan sebuah permukiman masyarakat kampung kota yang memiliki ciri khas tersendiri dan cikal bakal berdirinya kota Kudus. Banyak rumah-rumah tradisional dan bangunan kuno masih dapat ditemukan disana sehingga ditetapkan sebagai kawasan bersejarah. Namun sebagai kawasan permukiman kawasan Menara Kudus terus berkembang menjadi kawasan wisata religi sehingga mengalami proses perubahan secara fisik maupun non fisik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan apa saja yang terjadi di kawasan Menara Kudus dan faktor yang melatarbelakanginya. Metode penelitian ini adalah kualitatif yang digali secara eksploratif dengan informan sebagai narasumber utama dan menggunakan pemilihan sampel amatan secara purposive. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya respon masyarakat terhadap aktivitas baru dengan memanfaatkan ruang rumah tinggal dan lingkungan permukiman mereka sebagai ruang usaha dalam mendukung aktivitas wisata religi. Faktor yang melatarbelakangi perubahan tersebut adalah adanya faktor peningkatan jumlah pengunjung, kebutuhan fasilitas wisata, perubahan jenis usaha yang dimiliki, dan perubahan arah orientasi bangunan mengikuti akses jalur wisata. Perubahan tersebut berdampak pada perubahan perekonomian masyarakat, gaya hidup, dan sosial kemasyarakatan di kawasan Menara Kudus. Namun aktivitas wisata religi mampu mempertahankan budaya dan tradisi adat istiadat leluhur karena menjadi minat bagi kunjungan wisatawan.Kata Kunci: perubahan, permukiman, rumah tinggal, wisata religi, kawasan bersejarah, kawasan Menara Kudus.
TRANSFORMASI ADAPTASI BANGUNAN DI PERMUKIMAN INFORMAL TEPI SUNGAI KAHAYAN Murti, Nindita Kresna; Suprapti, Atiek; Sardjono, Agung Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Many informal settlements in Indonesia have been unable to survive, this is due to changes that occur in the neighborhood. This change resulted in the not surviving of informal settlements, but this did not affect the informal settlements in the city of Palangkaraya, settlements on the banks of the Kahayan river were even more developed, and began to develop towards the mainland.As climate change and the global environment increase, there is a tendency for people to conceptualize adaptation in residential buildings as a process of survival and how adaptation is practiced by people who face the negative impacts of climate change, for example in informal settlements on the Kahayan river bank, where residents adapt to building their homes to be able to withstand environmental changes. Where the neighborhood is located there are tides of the river, as well as other environmental factorsThis study is to find out how the Kahayan River settlement communities can survive, with changes that occur in the environment by analyzing using 6 strategies in building adaptation, namely: Adjustable, Versatile, Refitable, Convertible, Scalable, and Movable (Robert Schmid, 2009). Adaptation that occurs in these settlements, namely on building houses that follow climate change, times, and the environment.Keyword: Informal Settlements, Kahayan River Edge, Adaptation, Transformation.Abstrak: Permukiman Informal di Indonesia banyak yang sudah tidak dapat bertahan, hal ini di karenakan adanya perubahan yang terjadi di lingkungan permukiman tersebut. Perubahan ini berakibat tidak bertahannya permukiman informal, namun hal ini tidak mempengaruhi permukiman informal di Kota Palangkaraya, permukiman yang berada di tepi sungai kahayan ini malah semakin berkembang, dan mulai berkembang menuju ke daratan.Seiring dengan meningkatnya perubahan iklim dan lingkungan global, ada kecenderungan masyarakat untuk membuat konsep adaptasi pada bangunan rumah tinggal sebagai proses untuk bertahan dan bagaimana adaptasi dipraktikkan oleh orang-orang yang menghadapi dampak negatif perubahan iklim, sebagai contoh pada permukiman informal yang berada di tepi sungai Kahayan, di mana warga beradaptasi pada bangunan rumah mereka untuk dapat bertahan terhadap perubahan lingkungan. Di mana lingkungan permukiman ini terdapat pasang surut air sungai, serta faktor lingkungan lainnya.Penelitian ini untuk mengetahui cara masyarakat permukiman tepi Sungai Kahayan dapat bertahan, dengan perubahan yang terjadi di lingkungan dengan menganalisa menggunakan 6 strategi dalam adaptasi bangunan, yaitu: Adjustable, Versatile, Refitable, Convertible, Scalable, dan Movable (Robert Schmid, 2009). Adaptasi yang terjadi pada permukiman ini, yaitu pada bangunan rumah yang mengikuti perubahan iklim, jaman, dan lingkungan.Kata Kunci: Permukiman Informal, Tepi  Sungai Kahayan, Adaptasi, Transformasi.
“SETTING AREA” PEDAGANG INFORMAL SEBAGAI PENDUKUNG AKTIVITAS DI KORIDOR JALAN KINTAMANI KOTA BATAM Cia, Helen; Sari, Suzanna Ratih; Sardjono, Agung Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Almost every city and every country, besides having a formal sector also has an informal sector. The emergence of street vendors along the Kintamani corridor is an activity that supports the main activities taking place in the area. The main activities include worship, education, commercial and housing. The existence of street vendors trading activities has led to new activities in this road corridor where in addition to being a vehicle circulation, also a parking lot and even a place to gather and relax especially in the afternoon. Setting area aims to find out, recognize the diversity of street vendors activities and know the space needed by street vendors so that they know the pattern of setting areas that accommodate the diversity needs of street vendors as supporting activities without disturbing the main activities of the Kintamani Road corridor and the surrounding environment. The approach taken is to use a qualitative approach with a descriptive exploratory method. Interview with selected respondents based on certain criteria. Data analysis was performed by classifying the diversity of street vendors in the corridor. This area setting is expected to be able to solve city problems, street vendors themselves as perpetrators who are often evicted or forcibly moved and also the Batam city government as a policy maker so that urban spatial planning is synergized to improve the economy of the community and city.Keyword: Setting area, diversity of informal traders, supporting activity.Abstrak: Hampir setiap kota maupun setiap negara, selain mempunyai sektor formal juga mempunyai sektor informal. Kemunculan PKL di sepanjang koridor jalan Kintamani merupakan aktivitas yang mendukung kegiatan utama yang terjadi di kawasan tersebut. Kegiatan utama tersebut antara lain kegiatan ibadah, pendidikan, komersial dan perumahan. Adanya kegiatan perdagangan PKL ini menimbulkan aktivitas baru di koridor jalan ini dimana selain sebagai sirkulasi kendaraan, juga menjadi tempat parkir bahkan menjadi tempat berkumpul dan santai terutama di sore hari.Setting area bertujuan untuk mengetahui, mengenali keragamanan aktivitas PKL dan mengetahui ruang yang dibutuhkan oleh PKL sehingga mengetahui pola setting area yang mengakomodir kebutuhan keragaman PKL sebagai aktivitas pendukung tanpa mengganggu aktivitas utama dari koridor Jalan Kintamani dan lingkungan sekitar. Pendekatan yang dilakukan adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif eksploratif. Wawancara pada beberapa responden yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Analisis data dilakukan dengan melakukan klasifikasi keragaman PKL yang ada di koridor jalan tersebut. Setting area ini diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan kota, PKL itu sendiri selaku pelaku yang seringkali digusur atau dipindahkan secara paksa dan juga pihak pemerintah kota Batam selaku pembuat kebijakan sehingga tercapai tata ruang kota yang saling bersinergi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan kota.Kata Kunci: Setting area, keragaman pedagang informal, pendukung aktivitas
ANALISA ACTIVITY SUPPORT YANG MENDORONG PERKEMBANGAN SEBUAH KORIDOR (Studi Kasus: Jalan Tlogosari Raya Semarang) Aulia, Faricha Putri; Sardjono, Agung Budi; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrac:The Tlogosari street corridor is one of an example of a commercial corridors with various urban activities including offices, banking food stands, stores, and retail businesses . But, not all the corridors at Tlogosari street grew and lived properly. Only a few corridors are crawded. Far away from the entrance of the Tlogosari’s gate, the corridors were quiet and no street vendors who sell their wares along these street. This study aims to determine the types and forms of support activity that encourage the development of the Tlogosari Raya street corridor.. The research method used is a Qualitative descriptive method. Based on the results of the analysis it was found that street vendors are one of the supporting activities that encourage the development of corridors. There is a positive reciprocal relationship between the existence of stores/ shophouses and street vendors at the Tlogosari Raya Street. Shophouse activities and street vendors' approval are two factors driving the corridor on Tlogosari Raya Street to develop rapidly. Street vendors divided by selecting and choosing location close to a shop that is crowded with visitors. Food and drink street vendors are the kinds of street vendors that are much in demand by the public.Keyword: activity support, corridor developmentAbstrak: Koridor Jalan Tlogosari Raya adalah salah satu contoh koridor komersil dengan berbagai aktivitas masyarakat perkotaan baik berupa perkantoran, perbankan,  warung makan, pertokoan dan bisnis ritel. Tetapi tidak semua koridor di Jalan Tlogosari Raya tumbuh dan hidup. Hanya beberapa koridor saja yang terlihat ramai dan berkembang. Semakin menjauhi pintu masuk  Bumi Tlogosari koridor terlihat sepi dan tidak ada PKL yang ikut mejajakan dagangannya di sepanjang jalan tersebut, walaupun banyak ruko berjajar yang tetap buka melayani konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan bentuk activity support yang mendorong berkembangnya koridor jalan Tlogosari Raya. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode Deskriptif Kualitatif. Berdasarkan hasil analisis diperoleh temuan bahwa PKL merupakan salah satu bagian activity support yang mendorong perkembangan sebuah koridor. Terdapat hubungan timbal balik yang positif dari kebradaan ruko dan PKL pada koridor Tlogosari Raya. Aktivitas  ruko dan keberadaan PKL adalah dua faktor yang mendorong koridor di Jalan Tlogosari Raya berkembang pesat. PKL cenderung mengelompok dengan sejenisnya dan memilih lokasi yang dekat dengan Ruko-ruko yang ramai pengunjung. PKL makanan dan minuman adalah jenis PKL yang banyak diminati oleh masyarakat. Kata Kunci: Activity Support, Perkembangan Koridor
RUANG BERBAGI ANTARA MANUSIA DAN HEWAN TERNAK YANG ADA DI PINGGIRAN KOTA Sulistyaningrum, Marsya Paramita; Sardjono, Agung Budi; Sari, Suzana Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: There are still many people living on the suburbs who have unique and diverse activities and habits. As in Jetis Trawas Village, Cepoko Village, Gunungpati District, Semarang City, some of these unique activities and habits actually trigger the formation of a space that is used for various activities. One of them that is unique is that there are still many houses that are in the same environment as livestock. The purpose of this study is to determine the pattern of sharing space on the suburbs and the factors that influence the formation of sharing space on the suburbs. Through qualitative research methods can provide a clear picture of sharing space based on the culture of the local community. In addition, this method is motivated by the author in conducting research in order to provide knowledge about things that are not widely known. So in this study, it will be explored and discussed further how this sharing space can be formed in the object of this research. The results of this study in Jetis Trawas Village show that the Sharing Room was formed due to economic factors as well as social interaction factors of the villagers.Abstrak: Masyarakat yang ada di pinggiran Kota masih banyak ditemui memiliki aktivitas dan kebiasaan yang unik dan beragam. Seperti yang ada di Desa Jetis Trawas, Kelurahan Cepoko, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Aktivitas dan kebiasaan unik ini ternyata memicu terbentuknya ruang yang digunakan untuk berbagai aktivitas. Salah satunya yang unik yaitu masih banyak terdapat rumah tinggal yang berada satu lingkungan dengan hewan ternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sharing space yang ada di pinggiran kota dan faktor – faktor yang berpengaruh dalam terbentuknya sharing space di pinggiran kota. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif rasionalistik, kualitatif analisis dengan deskriptif untuk menganalisa suatu objek dengan kondisi di lokasi penelitian. Analisis data menggunakan hasil wawancara dari beberapa warga dengan berbagai golongan umur yang objek penelitiannya sesuai dengan tema penelitian, kemudian hasilnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan melalui wawancara tersebut, diketahui bahwa Sharing Spaceterbentuk karena ketersediaan lahan, faktor ekonomi dan juga faktor sosial. 
POTENSI PENERAPAN KONSEP “LINGKUNGAN 20 MENIT” PADA KAWASAN PERMUKIMAN DI KOTA SEMARANG Rahdini, Nuzlia; Sardjono, Agung Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The 20-minute neighbourhood is becoming a popular concept today to create inclusive, livable, and sustainable residential areas. Namely by designing residential areas that are living locally, where residents can move and fulfill their daily lives just by walking for 20 minutes. To achieve this, it takes a residential area that has characteristics following the concept of a 20-minute neighbourhood. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. This study aims to examine the elements of residential areas located in Krobokan Village, West Semarang District, so that its potential is known for the application of the concept 20-minute neighbourhood in Semarang City. The results of the study indicate that the residential areas have been following the characteristics of the concept of the 20-minute neighbourhood, namely an area equipped with various basic facilities with a short distance from the place of residence. It's just that the condition of the existing neighbourhood infrastructure is not yet walkable or friendly to pedestrians.Abstrak: Lingkungan 20 menit menjadi konsep yang populer saat ini untuk menciptakan suatu kawasan permukiman yang inklusif, layak huni, dan berkelanjutan. Yaitu dengan merancang kawasan permukiman yang bersifat living locally atau hidup secara lokal, dimana penghuninya dapat beraktivitas dan memenuhi kehidupan sehari – hari hanya dengan berjalan kaki selama 20 menit. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan kawasan permukiman yang memiliki karakteristik sesuai dengan konsep lingkungan 20 menit. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Bertujuan untuk mengkaji unsur – unsur kawasan permukiman yang berlokasi di Kelurahan Krobokan Kecamatan Semarang Barat, agar diketahui potensinya bagi penerapan konsep lingkungan 20 menit di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan permukiman telah memiliki kesesuai dengan karakteristik konsep lingkungan 20 menit, yakni kawasan yang dilengkapi dengan berbagai sarana fasilitas dasar dengan jarak yang dekat dari tempat tinggal. Hanya saja kondisi prasarana lingkungan yang ada belum walkable atau ramah bagi pejalan kaki.
KAJIAN FAKTOR PERILAKU PEMANFAATAN TERITORI PUBLIK OLEH PEDAGANG DI PASAR JATINGALEH SEMARANG Al Batul, Umamah; Indrosaptono, Djoko; Sardjono, Agung Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Jatingaleh Market is a traditional market with high historical value in the city of Semarang, but currently the market conditions seem dirty. The phenomenon of market corridor’s use by traders is one of the main factors behind it. This phenomenon causes the market corridor become narrow from its proper width. Territory describes an individual's identity related to a sense of belonging to an area. The use of public territory in the market occurs when traders expand their trading area by claiming ownership of territory that is not legally theirs. This study aims to determine the condition of the Jatingaleh market compared to the initial planning and to find out the condition by the phenomenon public territory’s use in the Jatingaleh market and the factors behind it based on a literature study. The research was conducted using observation and mapping methods of the phenomenon and then examining the influencing factors through reference studies. The results showed that the behavior of using public territory was influenced by internal factors from individuals and external factors from settings or the environment.Abstrak: Pasar Jatingaleh merupakan pasar tradisional dengan nilai sejarah tinggi di kota Semarang, namun saat ini kondisi pasar terkesan kotor dan kumuh. Fenomena pemanfaatan koridor pasar oleh pedagang merupakan salah satu faktor utama yang melatarbelakanginya. Pemanfaatan ini menyebabkan koridor pasar menyempit dari lebar yang seharusnya. Teritori meggambarkan identitas seorang individu yang berhubungan dengan rasa memiliki terhadap sebuah area. Pemanfaatan teritori pada pasar terjadi saat pedagang memperluas area dagangnya dengan melakukan klaim kepemilikan terhadap teritori yang secara legal bukan miliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pasar Jatingaleh dibandingkan dengan perencanaan awal dan mengetahui kondisi fenomena pemanfaatan teritori publik di pasar Jatingaleh serta faktor yang melatarbelakanginya berdasarkan studi literatur. Penelitian dilakukan dengan metode observasi dan pemetaan terjadinya pemanfaatan kemudian mengkaji faktor yang mempengaruhi melalui studi referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pemanfaatan teritori publk dipengaruhi oleh faktor internal dari individu dan faktor eksternal dari seting atau lingkungan.
Co-Authors Abdullah Ali Aditias Putri, Ninda Adiyati, Arlina Adlina, Zata Izzati Al Batul, Umamah Alfanadi Agung Setiyawan Arlina Adiyati ashim furqoni Assa Kamalia Atiek Suprapti Atiek Suprapti atik suprapti Aulia, Faricha Putri Ayu Kusuma Wardhani Bangun IR Harsritanto, Bangun IR Bharoto Bharoto Budi Sudarwanto Cia, Helen Dedi Iskandar Deni Wahyu Setiawan Denny Irwan Aryadi, Denny Dhanoe Iswanto Djoko Indrosaptono Dunga Ayusthi Vembrika, Dunga Eddy Prianto Edi Purwanto Edward E. Pandelaki, Edward E. Edward Endrianto Pandelaki Ema Hidayati Erianti, Devi Dwi Faricha Putri Aulia Fariz, Nuthqy Furqoni, Ashim Gagoek Hardiman Gagoek Hardiman Ghifari, Ardhan Naufal Giovano, Fariz Addo Harsritanto, Bangun I R Harsritanto, Bangun Indrakusumo Radityo Helen Cia Henry Soleman Raubaba, Henry Soleman Hilba Yoga Pratama, Hilba Yoga Pratama Hilmy, Muhammad Fariz Huda, Bagus Amirul Huwaida, Nurma Mediasri Indraswara, Mohammad Sahid Isna Pratiwi, Isna Jamaluddin, Rizqi Lubis, Elektina Marsya Paramita Sulistyaningrum Masyitoh, Husnul Murti, Nindita Kresna Nadhifah, Aprilia Salsabila Nindita Kresna Murti Nuzlia Rahdini Nuzlia Rahdini Permata Widianingrum Permata Widianingrum PRAMESTI, CIPTETY TRISYA Pratama, Hilba Yoga R Siti Rukayah Ricky Kurnia, Franciskus Xaverius Yudhistira Rizqi Jamaluddin Rizqi Pramudita, Novian Rukayah, Raden Siti Sarah Aisha Sari, Suzana Ratih Satrio - Nugroho, Satrio - Satrio Nugroho Sejati, Anang Wahyu Setiawan, Deni Wahyu Setiohastorahmanto, Prabani Setiyawan, Alfanadi Agung Shidqi, Taqiyudin Shofiyah Nurmasari Sholih, Muhammad Najieb Sudarmawan Juwono Sudarsono, Henry Sugiono Soetomo Sugiono Soetomo Sugiono Soetomo Sulistyaningrum, Marsya Paramita Suzana Ratih Sari Suzanna Ratih Sari Suzanna Ratih Sari Syamsul Arifin Titien Woro Murtini Titien Woro Murtini Titin Woro Murtini Umamah Al Batul Vivi Kurnia Putri Widiantara, I Wayan Andhika Wijayanti , Wijayanti Wijayanti . Wijayanti Wijayanti Yandri, Sepli Zata Izzati Adlina