Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN SETING KORIDOR ANJASMORO RAYA DENGAN AKTIVITAS PEDAGANG KAKI LIMA Ibrahim, Stefanus Peter; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The presence of Jenderal Ahmad Yani Semarang International Airport, caused many tourists to come to Semarang, and the impact of one of them was on Anjasmoro Raya corridor whose activities were growing.  This phenomenon can be found with the presence of shops as formal sector activities and the development of pedagang kaki lima activities as a sector informal.  This informal activity uses the shoulder space of the road which should fuction to support the transportation activities in the corridor, but is used as a place of sale by pedagang kaki lima, so there is a strength of property that supports the activities of pedagang kaki lima.  This study aims to find the relationship between the setting of the Anjasmoro Raya corridor and pedagang kaki lima activity through the strength of property in the Anjasmoro Raya corridor.  The research method used is descriptive qualitative, with data collection techniques in the form of place centered mapping.  The result showed that there was a relationship between the setting of the Anjasmoro Raya corridor and the activities of street vendors.Keyword: Settings, Pedagang Kaki Lima Activities, Anjasmoro Raya CorridorAbstrak: Kehadiran Bandar Udara International Jenderal Ahmad Yani Semarang membuat banyaknya wisatawan yang datang ke kota semarang, dan dampak salah satunya pada koridor Anjasmoro Raya yang semakin berkembang aktivitasnya, dimana gejala ini dapat dijumpai dengan hadirnya pertokoan sebagai aktivitas sector formal dan berkembangnya aktivitas pedagang kaki lima sebagai sektor informal.  Aktivitas informal ini menggunakan ruang bahu jalan yang seharusnya berfungsi untuk mendukung aktivitas transportasi yang ada di koridor, namun dimanfaatkan sebagai tempat jualan oleh pedagang kaki lima, sehingga terdapat kekuatan property yang mendukung aktifitas pedagang kaki lima.  Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan seting koridor Anjasmoro Raya dnegan pola aktivitas pedagang kaki lima, melalui kekuatan properti yang ada di koridor Anjasmoro Raya.  Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik analisa data berupa place centered mapping.  Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan seting koridor Anjasmoro Raya dengan aktivitas pedagang kaki lima.Kata Kunci: Seting, Aktivitas Pedagang Kaki Lima, Koridor Anjasmoro Raya
KLASIFIKASI KEKUMUHAN DAN KONSEP PENANGANAN PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN (Studi Kasus : Permukiman Lampu Satu, Merauke) Joenso, Reivandy Christal; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Lampu Satu settlement is one of 12 slum areas in Merauke Regency. Based on the verification results, Lampu Satu slum settlement is the largest, which is 43.67 hectares or 39.44% of the total area of Merauke Regency slum areas. The purpose of this study is to determine the classification and concept of treatment slum settlements in the Merauke One Light settlement. The analytical method used is descriptive quantitative analysis of the characteristics of the Merauke Lampu Satu slums and measurement of the survey results based on the Minister of Public Works and Housing No. 2 of 2016 to determine the classification of slums and to analyze the concept of handling. The final results obtained in this study are the classification of Lampu Satu slums at a moderate level of slums. The concept of treatment that can be done is prevention with the socialization of licensing procedures, healthy living behaviors, waste management, fire disasters, as well as socialization of regional spatial plans. While the improvement of the quality of settlements is carried out on infrastructure and facilities that are still not by applicable standards and criteria as well as by conducting a resettlement program in settlements located in coastal zones.Keyword: classification; slums; concept of treatmentAbstrak: Permukiman Lampu Satu merupakan salah satu dari 12 lokasi kawasan permukiman kumuh pada Kabupaten Merauke. Berdasarkan hasil verifikasi, permukiman kumuh Lampu Satu merupakan yang terluas yaitu 43,67 hektare atau 39,44% dari total luas kawasan permukiman kumuh Kabupaten Merauke. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menentukan klasifikasi kekumuhan dan merumuskan konsep penanganan permukiman kumuh pada permukiman Lampu Satu Merauke. Metode analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif deskriptif terhadap karakteristik permukiman kumuh Lampu Satu Merauke serta pengukuran terhadap hasil survei berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 2 Tahun 2016 untuk menentukan klasifikasi permukiman kumuh dan untuk menganalisis konsep penanganan. Hasil akhir yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu klasifikasi permukiman kumuh Lampu Satu pada tingkat kekumuhan sedang.  Konsep penanganan yang dapat dilakukan adalah pencegahan dengan sosialisasi terhadap prosedur perizinan, perilaku hidup sehat, pengelolaan sampah, bencana kebakaran, serta sosialisasi tentang rencana tata ruang kawasan. Sedangkan peningkatan kualitas permukiman dilakukan pada prasarana dan sarana yang masih belum sesuai standar dan kriteria yang berlaku serta dengan melakukan program permukiman kembali (resettlement) pada permukiman yang berada pada kawasan sempadan pantai.Kata Kunci: klasifikasi; permukiman kumuh; konsep penanganan
“SETTING AREA” PEDAGANG INFORMAL SEBAGAI PENDUKUNG AKTIVITAS DI KORIDOR JALAN KINTAMANI KOTA BATAM Cia, Helen; Sari, Suzanna Ratih; Sardjono, Agung Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Almost every city and every country, besides having a formal sector also has an informal sector. The emergence of street vendors along the Kintamani corridor is an activity that supports the main activities taking place in the area. The main activities include worship, education, commercial and housing. The existence of street vendors trading activities has led to new activities in this road corridor where in addition to being a vehicle circulation, also a parking lot and even a place to gather and relax especially in the afternoon. Setting area aims to find out, recognize the diversity of street vendors activities and know the space needed by street vendors so that they know the pattern of setting areas that accommodate the diversity needs of street vendors as supporting activities without disturbing the main activities of the Kintamani Road corridor and the surrounding environment. The approach taken is to use a qualitative approach with a descriptive exploratory method. Interview with selected respondents based on certain criteria. Data analysis was performed by classifying the diversity of street vendors in the corridor. This area setting is expected to be able to solve city problems, street vendors themselves as perpetrators who are often evicted or forcibly moved and also the Batam city government as a policy maker so that urban spatial planning is synergized to improve the economy of the community and city.Keyword: Setting area, diversity of informal traders, supporting activity.Abstrak: Hampir setiap kota maupun setiap negara, selain mempunyai sektor formal juga mempunyai sektor informal. Kemunculan PKL di sepanjang koridor jalan Kintamani merupakan aktivitas yang mendukung kegiatan utama yang terjadi di kawasan tersebut. Kegiatan utama tersebut antara lain kegiatan ibadah, pendidikan, komersial dan perumahan. Adanya kegiatan perdagangan PKL ini menimbulkan aktivitas baru di koridor jalan ini dimana selain sebagai sirkulasi kendaraan, juga menjadi tempat parkir bahkan menjadi tempat berkumpul dan santai terutama di sore hari.Setting area bertujuan untuk mengetahui, mengenali keragamanan aktivitas PKL dan mengetahui ruang yang dibutuhkan oleh PKL sehingga mengetahui pola setting area yang mengakomodir kebutuhan keragaman PKL sebagai aktivitas pendukung tanpa mengganggu aktivitas utama dari koridor Jalan Kintamani dan lingkungan sekitar. Pendekatan yang dilakukan adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif eksploratif. Wawancara pada beberapa responden yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Analisis data dilakukan dengan melakukan klasifikasi keragaman PKL yang ada di koridor jalan tersebut. Setting area ini diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan kota, PKL itu sendiri selaku pelaku yang seringkali digusur atau dipindahkan secara paksa dan juga pihak pemerintah kota Batam selaku pembuat kebijakan sehingga tercapai tata ruang kota yang saling bersinergi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan kota.Kata Kunci: Setting area, keragaman pedagang informal, pendukung aktivitas
POLA PERMUKIMAN MASYARAKAT ABOGE, DESA CIKAKAK, KEC. WANGON, KAB. BANYUMAS Basalamah, Huda Muhammad; Rukayah, R. Siti; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: In Indonesia, there are still many traditional settlements, where the people who live in it still follow in the footsteps of their ancestors. One of them is a settlement in Cikakak Village, They still respects and preserves the culture of their ancestors before them. The purpose of this study was to determine the pattern of settlements formed in the Village of Cikakak. This is because the people there have quite unique characteristics, firstly because the use of the aboge calendar, the people in this village are the Aboge Kejawen community. The research method used in this study is a qualitative research method with involved observation. It is obvious that each individual group certainly has a variety of different ways of reaching a social agreement, this is what then gives the difference between a settlement with other settlements. There are unique things that emerge from each individual group, including orientation, shape, spatial patterns and religious concepts and traditions that form the basis of the formation of a settlement. The settlement patterns found in Cikakak Village are a combination of cluster settlement patterns and linear settlement patterns formed by kinship relations and components of traditional space types at various scales, and orientation based on the presence of the Kiai H. Mustolih Tomb and Saka Tunggal Mosque, and the spatial hierarchy that is placing space as a pattern forming settlements in the Village Cikakak.Keyword: settlements, pattern area, kejawen, aboge, beliefAbstrak: Di Indonesia, masih banyak terdapat permukiman tradisional, dimana masyarakat yang tinggal di dalamnya masih mengikuti jejak peninggalan dari nenek moyang mereka. Salah satu diantaranya merupakan permukiman di Desa Cikakak, Kec. Wangon mereka masih menghargai dan melestarikan budaya dari leluhur sebelum mereka. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui pola permukiman yang terbentuk di Desa Cikakak. Hal ini dikarenakan masyarakat disana memiliki karakteristik yang cukup unik yakni penggunaan kalender aboge, karena masyarakat di desa ini merupakan kelompok masyarakat kejawen aboge. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode penelitian kualitatif dengan observasi terlibat. Setiap kelompok individu tentunya memiliki berbagai cara yang berbeda dalam mencapai sebuah kesepakatan sosial, hal inilah yang kemudian memberikan berbedaan antara suatu permukiman dengan permukiman lainnya. Ada hal unik yang muncul dari setiap kelompok individu, antara lain orientasi, bentuk, pola ruang serta konsep kepercayaan maupun tradisi yang melatarbelakangi terbentuknya suatu permukiman. Pola permukiman yang terdapat di Desa Cikakak merupakan bentuk gabungan dari pola permukiman kluster dan pola permukiman linear yang terbentuk akibat hubungan kekerabatan dan komponen jenis ruang tradisi dalam berbagai skala, dan orientasi berdasarkan keberadaan Makam Kiai H. Mustolih dan Masjid Saka Tunggal, serta hirarki ruang yang menempatkan ruang sebagai pola pembentuk permukiman di Desa Cikakak.Kata Kunci: permukiman, pola ruang, kejawen, aboge, kepercayaan
PENGEMBANGAN PARIWISATA KAWASAN BATURRADEN Diwangkara, Naufal Kresna; Sari, Suzanna Ratih; Rukayah, R. Siti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The tourism industry in the Baturraden area, can be said to be one of the most popular tourism industries in Banyumas Regency. Judging from the number of visitors, in 2017 even visitors visiting the Baturraden tourist area can be considered quite large, namely a number of 633,420 visitors where an increase of 4.86% from the previous year. The development of tourism around the Baturraden area also experienced changes along with the development of the main tourism area, namely Baturraden tourism. The spatial layout of this region also indirectly changes following the existing tourism patterns, especially areas that are in direct contact with the tourism area. Therefore, this study wants to identify the condition of the Baturraden tourist area seen from 4 indicators namely (Attraction, Amenity, Accessibility, Ancillary) in order to find out the extent to which the Baturraden tourism area has been prepared to accommodate tourist visitors who come by looking at the application of the four indicators. in the field. The method used in this research is a qualitative method with the process of finding data that is done by way of direct surveys to the field, interviews, and literature studies through books, research journals and related through internet pages. The final results of this study in the form of exposure to the identification of Baturraden Tourism area seen from 4 factors, namely Attraction, Amenity, Accessibility, and Ancillary.Keyword: Kata Baturraden Tourism Area, Baturraden Spatial Planning, Identification 4A. Abstrak: Industri pariwisata di kawasan Baturraden, dapat dikatakan sebagai salah satu industri pariwisata yang paling banyak diminati di Kabupaten Banyumas. Dilihat dari jumlah pengunjungnya, pada tahun 2017 bahkan pengunjung yang mengunjungi kawasan wisata Baturraden dapat dibilang cukup besar yaitu sejumlah 633.420 pengunjung dimana terjadi peningkatan 4,86% dari tahun sebelumnya. Perkembangan wisata disekitaran kawasan Baturraden pun turut mengalami perubahan seiring berkembangnya kawasan pariwisata induk yaitu lokawisata Baturraden. Tata ruang kawasan ini pun secara tidak langsung ikut berubah mengikuti pola pariwisata yang ada, terutama daerah yang bersinggungan langsung dengan kawasan pariwisata. Maka dari itu, penelitian ini hendak mengidentifikasi kondisi kawasan wisata Baturraden dilihat dari 4 indikator yaitu (Attraction, Amenity, Accessibility, Ancilliary) dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana kawasan pariwisata Baturraden sudah disiapkan untuk mengakomodir pengunjung wisata yang datang dengan melihat pengaplikasian ke empat indikator tersebut di lapangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan proses pencarian data yang dilakukan dengan cara survey langsung ke lapangan, wawancara, dan studi literatur melalui buku, jurnal penelitian terkait maupun melalui halaman internet. Hasil akhir penelitian ini berupa paparan identifikasi kawasan Pariwisata Baturraden dilihat dari 4 faktor yaitu Attraction, Amenity, Accessibility, dan Ancilliary.Kata Kunci: Kawasan Wisata Baturraden, Tata Ruang Baturraden, Identifikasi 4A.
ANALISA ACTIVITY SUPPORT YANG MENDORONG PERKEMBANGAN SEBUAH KORIDOR (Studi Kasus: Jalan Tlogosari Raya Semarang) Aulia, Faricha Putri; Sardjono, Agung Budi; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrac:The Tlogosari street corridor is one of an example of a commercial corridors with various urban activities including offices, banking food stands, stores, and retail businesses . But, not all the corridors at Tlogosari street grew and lived properly. Only a few corridors are crawded. Far away from the entrance of the Tlogosari’s gate, the corridors were quiet and no street vendors who sell their wares along these street. This study aims to determine the types and forms of support activity that encourage the development of the Tlogosari Raya street corridor.. The research method used is a Qualitative descriptive method. Based on the results of the analysis it was found that street vendors are one of the supporting activities that encourage the development of corridors. There is a positive reciprocal relationship between the existence of stores/ shophouses and street vendors at the Tlogosari Raya Street. Shophouse activities and street vendors' approval are two factors driving the corridor on Tlogosari Raya Street to develop rapidly. Street vendors divided by selecting and choosing location close to a shop that is crowded with visitors. Food and drink street vendors are the kinds of street vendors that are much in demand by the public.Keyword: activity support, corridor developmentAbstrak: Koridor Jalan Tlogosari Raya adalah salah satu contoh koridor komersil dengan berbagai aktivitas masyarakat perkotaan baik berupa perkantoran, perbankan,  warung makan, pertokoan dan bisnis ritel. Tetapi tidak semua koridor di Jalan Tlogosari Raya tumbuh dan hidup. Hanya beberapa koridor saja yang terlihat ramai dan berkembang. Semakin menjauhi pintu masuk  Bumi Tlogosari koridor terlihat sepi dan tidak ada PKL yang ikut mejajakan dagangannya di sepanjang jalan tersebut, walaupun banyak ruko berjajar yang tetap buka melayani konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan bentuk activity support yang mendorong berkembangnya koridor jalan Tlogosari Raya. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode Deskriptif Kualitatif. Berdasarkan hasil analisis diperoleh temuan bahwa PKL merupakan salah satu bagian activity support yang mendorong perkembangan sebuah koridor. Terdapat hubungan timbal balik yang positif dari kebradaan ruko dan PKL pada koridor Tlogosari Raya. Aktivitas  ruko dan keberadaan PKL adalah dua faktor yang mendorong koridor di Jalan Tlogosari Raya berkembang pesat. PKL cenderung mengelompok dengan sejenisnya dan memilih lokasi yang dekat dengan Ruko-ruko yang ramai pengunjung. PKL makanan dan minuman adalah jenis PKL yang banyak diminati oleh masyarakat. Kata Kunci: Activity Support, Perkembangan Koridor
DAMPAK PARIWISATA TERHADAP TATA RUANG PERMUKIMAN Wahyono, Sharfina Bella Pahleva; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The tourism sector is currently one of the sectors that are relied upon to improve the economy of a region. Various types of tourism destinations emerge, one of which is a tourist destination that comes from settlements in the form of villages or tourist villages. This gives a variety of impacts including in terms of the social, cultural, economic, and spatial structure of the settlement. The writing of this article aims to get a theoretical foundation that can later support in solving the problem being studied and the writer can better understand the problem being studied. The method used in this paper is to review literature by gathering several journals that are relevant to the topic. The results of writing this article found that spatial changes that occur in settlements that add a new function as a place of tourism are a form of adaptation of people, people, and tourists (tour operators), with their environment in fulfilling these new functions in order to run well. The factors that influence changes in the layout of a settlement with the existence of tourism activities include type, location of tourism, and social-cultural community and tourists who visit.
PENATAAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN STUDI KASUS KECAMATAN ROWOSARI KABUPATEN KENDAL Mujiono, Untung; Sari, Suzanna Ratih; Rukayah, Siti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seeing the very important role of traditional markets for the community, it is necessary to examine several things that can affect the smoothness or success in increasing people's income. Therefore, to improve and maintain the role of traditional markets, there needs to be involvement or coordination with agencies to support the welfare and success of traditional market traders. So, in this study, the location was taken by considering the welfare of the traditional market in Rowosari Village. There is a traditional market that has been around for a long time and is managed by the village government. Descriptive method is used in this research which explains the situation in Rowosari Traditional Market. From the results of the study, Rowosari Traditional market plays a role in increasing the income of the community who generally come from the Rowosari region and surrounding areas. 
MORFOLOGI ALUN-ALUN LASEM Santoso, Rohman Eko; Sari, Suzanna Ratih; Rukayah, R. Siti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lasem is a sub-district on the east side of Rembang regency which is directly adjacent to the province of East Java. Lasem Square has existed since the kingdom era in 1513 and is constantly undergoing changes followed by a reduction in the area, function and activities therein. Along with the shrinking area and even the disappearance of the square that occurred from time to time, it is necessary to research the typology and morphology of the square to be used as a basis for revitalizing the Lasem square. This study aims to analyze the morphology of the Alun-alun Lasem, using historical reference data, books, field surveys, interviews, mapping and digitizing. In this study using descriptive qualitative analysis methods, as ingredients to add analysis based on field findings. Based on the results of this study it was found that the Typology and Morphology of the Lasem Square was influenced by government and ruling policy factors in its era. This is indicated by the changes in the square in terms of the extent, functions and activities that exist within and in the supporting area and its surroundings.
KARAKTER VISUAL GANG GAMBIRAN KAWASAN PECINAN, SEMARANG Lestari, Kristiani Budi; Sari, Suzanna Ratih; Rukayah, R. Siti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract : Chinese culture played a major role in forming the identity of the semarang city, which is seen by the Chinatown as both economic and Tionghoa cultural center in Semarang. As a result of growing economic activity, the building with Chinese architectural in Chinatown had physical changes that adjusted the needs of the region’s residents. This resulted a change in the visual quality of the Semarang Chinatown as a historic settlement in Semarang. However, observations have shown that there are still quite a few historical houses, especially in Gang Baru, Gang Gambiran, Gang Besen. The study aims to learn how houses in the Gang Gambiran as one of the corridors that still maintain traditional characteristics on the facade may affect the characteristics of space in the Semarang Chinatown. The study employed qualitative methods with the facade of buildings in Gang Gambiran as a component that affected the visual character of the region. That indicator became the guide in data collection and analysis. As a result, the visual character of the Chinatown in the Gang Gambiran as one of the corridors in Semarang Chinatown settlement was strongly influenced by a dwelling that still retained the architectural significance of China.Abstrak: Kebudayaan Tionghoa berperan besar dalam membentuk identitas kota Semarang, hal tersebut terlihat dengan adanya Kawasan Pecinan (Chinatown) sebagai kawasan sentra ekonomi yang padat dan juga pusat kebudayaan warga Tionghoa di Semarang. Akibat kegiatan ekonomi yang semakin bertumbuh, bangunan dengan ciri arsitektur Tionghoa di Pecinan mengalami perubahan fisik bangunan yang menyesuaikan dengan kebutuhan penghuni kawasan. Hal tersebut mengakibatkan perubahan kualitas karakter visual kawasan Pecinan Semarang sebagai permukiman bersejarah di Semarang. Namun, dari pengamatan yang dilakukan ditemukan masih cukup banyak bangunan, khususnya tipe hunian di dalam beberapa koridor yang masih mempertahankan bentuk fasad sesuai ciri khas arsitektur Tionghoa. Bangunan-bangunan tersebut khususnya berada di koridor Gang Baru, Gang Gambiran, Gang Besen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hunian di Gang Gambiran sebagai salah satu koridor yang masih terdapat ciri khas tradisional pada fasad bangunan dapat mempengaruhi karakteristik ruang di Kawasan Pecinan Semarang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan fasad bangunan di Gang Gambiran sebagai komponen yang mempengaruhi karakter visual kawasan.  Indikator tersebut menjadi patokan di dalam pengumpulan data dan analisa. Hasil dari penelitian ini adalah karakter visual Kawasan Pecinan di Gang Gambiran sebagai salah satu koridor di Kawasan Pecinan Semarang cukup kuat dipengaruhi oleh hunian yang masih mempertahankan ciri khas arsitektur China.
Co-Authors -, Sukawi Abdillah , Rangga Fajar Adlina, Zata Izzati Agung Budi Sardjono Agung Budi Sardjono Andriani, Risa Arieska Avianda Rachmayanie Arnis Rochma Harani, Arnis Rochma Aseani, Wingky Aulia, Faricha Putri Bambang Setioko Basalamah, Huda Muhammad bio bhirawan Carina Sarasati Cia, Helen Dea Shamara, Dea Desetyaningrum, Imbar Devara, Hafiz Rama Dhanoe Iswanto Diananta Diananta Dika Fitriyati Diliawan, Yudha Bhakti Diwangkara, Naufal Kresna Djoko Indrosaptono Edward endrianto Pandelaki Edward Endrianto Pandelaki Edy Darmawan Erni Setyowati Fahmi Arifan Fitriyati, Dika Fuad Muhammad Gunawan, I Gusti Ngurah Anom Hasritanto, Bangun IR. Henry Soleman Raubaba, Henry Soleman Hermin Werdiningsih Hilmy, Muhammad Fariz Ibrahim, Stefanus Peter Ikhsani, Muhammad Azmy IRH, Bangun Iskandar, Puteri Ismail, Nurwidyah Azizah Isna Pratiwi Isna Pratiwi, Isna Joenso, Reivandy Christal Kamalia, Assa Leony, Melinda Lestari, Kristiani Budi Lestari, Marselli Widya Lestari, Ria Ripardi Wahyu Mira Fitriana Mohammad Debby Rizani Mujiono, Untung Nindyo Suwarno Niswah, Ulfatun Pratama, Bagus Iqbal Adining Pudji Teguh Rahardjo Putri, Dwiani Intan Kartika R Siti Rukayah Rachmayanie, Arieska Avianda Rara Sugiarti Risdian, Happy Rohman Eko Santoso Rukayah, Raden Siti Septo Pawelas Arso Setiyawan, Alfanadi Agung Shafa, Astrihasna Shafar, Muhammad Uliah Sukawi , Sukawi sukawi sukawi Sukawi Sukawi Triyono Triyono Tundjung Wahadi Sutirto Wahyono, Sharfina Bella Pahleva Widya Prasongko, Datta Sagala Wijayanti , Wijayanti Wijayanti Wijayanti Windu Nuryanti Wuryaningsih, Teti Indrawati Wuryaningsih, Teti Indrawati Yandri, Sepli