Claim Missing Document
Check
Articles

PERKEMBANGAN KEMATANGAN GONAD DAN TIPE PEMIJAHAN IKAN SELAIS (Ompok hypophthalmus) DI RAWA BANJIRAN SUNGAI KAMPAR KIRI, RIAU [Development of gonad maturity and spawning pattern of Ompok hypophthalmus in floodplain of Kampar Kiri River, Riau] Djadja Subardja Sjafei; Charles P.H. Simanjuntak; M. F. Rahardjo
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v8i2.292

Abstract

The main objective of the study was to determine gonad maturity development and spawning pattern of O. hypophthalmus in floodplain of Kampar Kiri River. Samples were collected from June to December 2006 on a monthly basis. Biological samples were collected from a total of 474 O. hypophthalmus of which 249. females and 224 males were confirmed by macroscopic and histological analysis. Five gonad maturity stages were described based on the macroscopic and histological analysis. The dynamics of oocyte development of O. hypophthalmus, indicated a synchronism of maturation. Oocyte diameter distribution suggested that this species could be grouped as total spawner and iteroparous species.
Diet composition and niche breadth of mullet Chelon subviridis (Valenciennes, 1836) and Moolgarda engeli (Bleeker, 1858) in Pabean Bay, Indramayu Subdistrict, West Java Province Gusti Abi Abi Dzar Al Ghiffary; M. F. Rahardjo; Ahmad Zahid; Charles P. H. Simanjuntak; Aries Asriansyah; Reiza Maulana Aditriawan
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 1 (2018): February 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i1.373

Abstract

The aims of this research was to identify the diet and composition item as well as niche breadth and niche overlap of mullet in Pabean Bay. Fish sampling was carried out from July to December 2016 using trap nets and gill nets. Data analysis including preponderance index, niche breadth, and niche overlap. Chelon subviridis and Moolgarda engeli are two species of mullet that much found in Pabean Bay. The size of body length C. subviridis observed on ranged of 73,34-185,72 mm with a weight of 8,23-115,50 g and M. engeli ranged of 67,51-160,00 mm with a weight of 6,91-96,70 g. Food menu of mullet consists of three groups, namely perifiton, larvae of marine organism, and detritus. Perifiton from Bacillariophyceae was a main diet, particularly Pleurosigma (35,81) in C. subviridis and Nitzschia (27,89) in M. engeli. Changed in composition of each item of diet occurred on any length size group during the observation. C. subviridis and M. engeli have a wide niche breadth with the value were 5,995 and 5,780. Niche breadth of each length group was different. Information on niche breadth indicated the adaptation of mullet to against the availability of diet in the water. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan komposisi serta luas dan tumpang tindih relung makanan ikan belanak di Teluk Pabean. Pengambilan contoh ikan dilakukan pada Juli hingga Desember 2016 dengan menggu-nakan alat tangkap sero dan jaring insang. Analisis data meliputi indeks bagian terbesar serta luas dan tumpang tindih relung makanan. Dua jenis ikan belanak, Chelon subviridis dan Moolgarda engeli, merupakan spesies yang banyak ditemukan di Teluk Pabean. Ukuran panjang tubuh C. subviridis yang diamati berkisar 73,34-185,72 mm dengan bobot 8,23-115,50 g dan panjang tubuh M. engeli berkisar 67,51-160,00 mm dengan bobot 6,91-96,70 g. Menu ma-kanan ikan belanak terdiri atas tiga kelompok besar, yaitu perifiton, larva organisme, dan detritus. Perifiton dari kelas Bacillariophyceae menjadi kelompok makanan yang banyak dimanfaatkan, khususnya Pleurosigma (35,81) oleh C. subviridis dan Nitzschia (27,89) oleh M. engeli. Perubahan komposisi jenis makanan terjadi pada setiap kelompok ukuran ikan. C. subviridis dan M. engeli memiliki relung makanan yang luas dengan nilai luas relung berturut-turut 5,995 dan 5,780. Luas relung makanan pada setiap kelompok ukuran ikan berbeda. Informasi mengenai luas relung makanan dapat menunjukkan adaptasi ikan belanak terhadap ketersediaan makanan di perairan.
Growth of stunted elver of the Indonesian shortfin eel Anguilla bicolor McClelland, 1844 rearing in semi-natural media Latifa Fekri; Ridwan Affandi; M. F. Rahardjo; Tatag Budiardi; Charles P. H. Simanjuntak
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 2 (2019): June 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i2.481

Abstract

This study aimed to evaluate the growth of stunted elver Anguilla bicolor from three different periods of stunting process. Prior to experiment, the stunting process of elver was carried out by limiting the feeding rate at 2% of the fish biomass and temperature media with 24 oC for 2, 4, and 6 months period. The study used a completely randomized design with three different sources of stunted elvers (i.e., A = 2 months; B = 4 months; C = 6 months) as treatments with three replications. Measurement of RNA:DNA ratio, protein content, profile blood description and elver otolith growth was carried out at the beginning and end of rearing process. Post-stunting elvers were reared on artificial media designed according to elver habitat and controlled. Elver was stocked with 15 individuals in the artificial semi-natural media with a temperature of 28 oC and fed with 1 kg media-1 day-1 tubifex worm for three months. The results showed that the compensatory growth of stunted elvers increased two to three times with 100% of survival rate after three months of rearing process. Stunting has a significant effect on treatment B, indicated by the value of weight specific growth rates, RNA : DNA ratio, protein content, blood glucose levels and otolith growth of elvers. This study revealed that the growth performance of stunted elver reared in semi-natural media for four months is better than other treatments. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan elver Anguilla bicolor pascapembantutan dari tiga periode pembantutan yang berbeda. Proses pembantutan yang dilakukan sebelumnya dengan membatasi jumlah pemberian pakan sebanyak 2% dari biomassa dan pengaturan suhu media pemeliharaan 24 oC selama 2, 4, dan 6 bulan. Peneli-tian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan masa pembantutan yang berbeda (yaitu A = 2 bulan; B = 4 bulan; C = 6 bulan) dan masing-masing tiga ulangan. Pengukuran nisbah RNA:DNA, kandungan protein, gambaran profil darah dan pertumbuhan otolit elver dilakukan pada awal dan akhir pemeliharaan. Elver pascapembantutan dipelihara pada media buatan yang dirancang sesuai dengan habitat alami elver dan terkontrol. Elver ditebar 15 ekor per sekat pada media buatan semi alami dengan suhu 28 oC dan diberi pakan sebanyak 1 kg cacing sutera per media per hari selama tiga bulan pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan kompensasi elver pascapembantutan meningkat dua hingga tiga kali dengan sintasan 100% setelah pemeliharaan tiga bulan. Pembantutan memberikan pengaruh yang signifikan pada perlakuan B, ditunjukkan oleh nilai laju pertumbuh-an spesifik bobot, nisbah RNA:DNA, kandungan protein, kadar glukosa darah dan pertumbuhan otolit. Penelitian ini menunjukkan bahwa keragaan pertumbuhan elver pascapembantutan empat bulan yang dipelihara di media semi alami lebih baik daripada perlakuan lainnya.
Spatio-temporal variations of fish assemblages in seagrass ecosystem of Karang Congkak Island, Kepulauan Seribu Adinda Kurnia Putri; Ridwan Affandi; Charles P.H. Simanjuntak; M. Fadjar Rahardjo
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 3 (2019): October 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i3.486

Abstract

Seagrass are globally known as an essential habitat for marine fishes. The study of fish assemblages in seagrass ecosystem is needed as the first base to select the most suitable coastal fisheries management. The study aims to reveal the composition of fish assemblages both seasonally and spatially in Karang Congkak Island, Kepulauan Seribu. Sampling was performed six times in NW monsoon (March), first transitional monsoon (April-May) and SE monsoon (Juni, August, September) 2018. Fish were sampled at four sites at seagrass ecosystem of Karang Congkak Island, namely eastern, southern, western, and northern by using beach seine net. The differences of juvenile fish assemblages were analyzed using One-Way ANOSIM. A total of 6,326 fish were collected belonging to 78 species, 31 families and 10 orders in which Labridae was the most diverse family. The result indicates strong spatial and temporal variation in fish composition. Fish compositions were dominated by juvenile both spatially and temporally. The most common species that inhabits seagrass beds of the Karang Congkak Island as temporary resident such as Gerres oyena and Siganus canaliculatus, and regular visitor namely Halichoeres argus. Cannonical correspondence analysis indicated strong correlation between several fish species and environmental variables. Abstrak Penelitian kumpulan ikan dilakukan untuk mengungkap komposisi ikan secara spasial dan temporal di ekosistem lamun Pulau Karang Congkak. Frekuensi pengambilan sampel ikan dilakukan selama enam kali yaitu pada musim barat (Maret), peralihan (April-Mei) dan timur (Juli, Agustus, September) 2018 pada empat lokasi lamun yakni zona timur, selatan, barat, dan utara Pulau Karang Congkak dengan menggunakan pukat tarik pantai. Perbedaan komposisi spasial dan temporal kumpulan ikan dianalisis menggunakan analisis similaritas satu arah (One-Way ANOSIM). Kumpulan ikan yang terkoleksi terdiri atas 78 spesies dari 31 famili dan 10 ordo. Famili ikan yang dominan adalah Labridae. Hasil analisis similaritas mengindikasikan adanya perbedaan komposisi spesies ikan secara spasial dan temporal. Kumpulan ikan di ekosistem lamun Pulau Karang Congkak didominansi oleh yuwana baik secara spasial maupun temporal. Ikan yang paling banyak ditemukan menghuni ekosistem lamun Pulau Karang Congkak berasal dari kelompok penghuni sementara seperti Gerres oyena dan Siganus canaliculatus, serta ikan pengunjung tetap, yakni Halichoeres argus. Hasil analisis korelasi kumpulan ikan dan lingkungan menunjukkan adanya korelasi erat antara beberapa spesies ikan dengan variabel lingkungan.
Trophic ecology of fish community at Nimbai Stream: Competition and predation interaction to Arfak rainbowfish, Melanotaenia arfakensis Allen, 1990 Emmanuel Manangkalangi; M. Fadjar Rahardjo; Renny K Hadiaty; Sigid Hariyadi; Charles P. H. Simanjuntak
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 3 (2019): October 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i3.505

Abstract

Information on trophic ecology can provide an understanding of the functional role of fish in an ecosystem, including endemic and native fish groups, as well as alien fish that are introduced through anthropogenic activities. The research on the trophic ecology of the fish community in the Nimbai Stream, Prafi River system, is intended to describe the interaction of competition and predation, especially towards endemic fish, Melanotaenia arfakensis. Fish samples were collected monthly from four habitat types, i.e., slow littoral, medium littoral, pool, and run from May 2016 to April 2017. A combination of an electric shocker and a hand net was used to collect fish samples. A total of 16 fish species were collected, consists of one endemic species, namely M. arfakensis, nine species of native fish, and six species of alien fish. The Arfak rainbowfish and three native fish species were categorized as insectivorous, four native fish species as herbivorous, and two other fishes as carnivorous. Three alien fish species also belong to insectivorous, two alien fish species as carnivorous, and one species as herbivorous. The niche breadth of fish communities ranges from 0.071 to 0.857. The trophic niche overlap between the Arfak rainbowfish and three native fish species and three alien fish species was recorded. The results of this study indicate a potential competition and predation interactions between Arfak rainbowfish and native fish as well as with alien fish species. Therefore, introducing alien fish into Prafi River system will disrupt Arfak rainbowfish population. Abstrak Informasi mengenai ekologi trofik dapat memberikan pemahaman tentang peran fungsional ikan dalam suatu ekosis-tem, termasuk pada kelompok ikan endemik, ikan asli, maupun ikan asing yang dimasukkan melalui aktivitas antro-pogenik. Penelitian mengenai ekologi trofik komunitas ikan di Sungai Nimbai, sistem Sungai Prafi, bertujuan untuk mendeskripsikan interaksi kompetisi dan pemangsaan, khususnya terhadap ikan endemik, Melanotaenia arfakensis. Contoh ikan dikumpulkan setiap bulan dari Mei 2016-April 2017 di empat tipe habitat yakni tepi aliran lambat, tepi aliran sedang, lubuk, dan aliran deras. Kombinasi alat electric shocker dan hand net digunakan untuk mengumpulkan contoh ikan. Sebanyak 16 spesies ikan berhasil dikumpulkan yang terdiri atas satu jenis ikan endemik (M. arfakensis), sembilan jenis ikan asli, dan enam jenis ikan asing. Ikan pelangi arfak dan tiga jenis ikan asli termasuk insektivora, empat jenis ikan asli adalah ikan herbivora, dan dua jenis ikan asli lainnya termasuk ikan karnivora. Tiga spesies ikan asing juga termasuk ikan insektivora, dua jenis ikan asing adalah ikan karnivora, dan satu spesies ikan asing lainnya adalah ikan herbivora. Luas relung komunitas ikan berkisar di antara 0,071-0,857. Tumpang tindih relung makanan ditemukan antara ikan pelangi arfak dengan tiga spesies ikan asli serta tiga spesies ikan asing. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya potensi interaksi kompetisi dan pemangsaan antara ikan pelangi arfak dan ikan asli serta dengan ikan asing. Introduksi ikan asing ke dalam sistem Sungai Prafi ditengarai akan mengganggu populasi ikan pelangi arfak.
Reproduction aspect of green swordtail, Xiphophorus hellerii Heckel 1848 in Tamblingan Lake, Bali I Nyoman Yoga Parawangsa; M. Fadjar Rahardjo; Charles P. H. Simanjuntak
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 1 (2020): February 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i1.512

Abstract

Eco-biological information of green swordtail in Tamblingan Lake is unknown. This research aimed to reveal sex ratio, gonadosomatic index, viviparity, spawning time and location of green swordtail in Tamblingan Lake. Fish was collected by gill nets with a mesh size of 0.5 and 1.0 cm in five sampling stations from January to June 2019. Total length and body weight of all fish samples were measured then dissected to observe the level of gonad maturity and viviparity in female fish. A total of 373 green swordtail with total length ranged and body weight ranged from 30.4-69.2 mm and 0.7935 – 7.6612 g, respectively. The results showed that males outnumberd of females in all sampling periods. Gonadosomatic index of male and female ranged from 0.159-1.239 and 0.204-13.592, respectively. The mature individuals were captured in all sampling stations and observation times. This species has a good reproductive potential with viviparity ranges between 6-54 juveniles. Abstrak Informasi ekobiologi ikan ekor pedang di Danau Tamblingan belum pernah ada. Penelitian ini bertujuan mengungkap nisbah kelamin, indeks kematangan gonad, viviparitas serta waktu dan lokasi pemijahan ikan ekor pedang di Danau Tamblingan. Ikan ditangkap menggunakan jaring insang dengan ukuran mata jaring 0,5 dan 1,0 cm di lima stasiun pengambilan contoh dari bulan Januari-Juni 2019. Seluruh contoh ikan diukur panjang dan ditimbang bobotnya lalu dibedah untuk melakukan pengamatan terhadap tingkat kematangan gonad serta jumlah telur pada ikan betina. Sebanyak 373 ikan ekor pedang ditemukan selama penelitian dengan kisaran panjang total 30,4-69,2 mm dan bobot 0,7935 - 7,6612 g. Hasil analisis menunjukkan bahwa proporsi jumlah ikan jantan lebih banyak daripada ikan betina pada setiap bulan pengamatan. Indeks kematangan gonad ikan jantan berkisar antara 0,155-1,239 dan ikan betina antara 0,203-13,592 . Ikan yang matang gonad ditemukan di seluruh stasiun pengambilan contoh pada setiap bulan pengamatan. Ikan ini memiliki potensi reproduksi yang baik dengan viviparitas antara 6-54 anak.
Reproduction of Celebes rainbowfish, Marosatherina ladigesi Ahl, 1936 in Pattunuang and Batu Puteh Rivers, South Sulawesi Adiara Firdhita Alam Nasyrah; M.Fadjar Rahardjo; Charles P.H. Simanjuntak
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 2 (2020): June 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i2.523

Abstract

Marosatherina ladigesi is one of endemic fishes in South Sulawesi and also as ornamental fish. Anthropogenic activities such as destructive fishing and degradation caused by the dredging of sand carried M. ladigesi to the red list of threatened IUCN category as vulnerable species. Accordingly, conservation efforts are needed to maintenance fish population in its habitat. The biologic information for conservation is reproduction of fishes. This research aimed to described reproduction of Celebes rainbow fish including sex ratio, gonad maturity, gonado-somatic index, fecundity, and distribution of egg diameter in Pattunuang and Batu Puteh Rivers, South Sulawesi. This research was conducted from May 2018 to April 2019. The result showed that the sex ratio in Pattunuang and Batu Puteh rivers were 1,00:1,60 and 1,00:1,08, respectively. This species spawned from the end of dry season to the early rainy season. Fecundity of fish in Pattunuang and Batu Puteh rivers were 22-795 eggs and 69-571 eggs, respectively. Based on distribution of egg diameter, Celebes rainbowfish categorized as total spawner. For the conservation of this species is recommended to catch restrictions in the spawning season and for male fish, and needs to be proposed the conservation in situ to determine both of rivers as reservoir area because these habitats are a source of germplasm. Abstrak Marosatherina ladigesi adalah salah satu ikan endemik Sulawesi Selatan dan juga sebagai ikan hias yang telah menguasai pasar internasional. Kegiatan antropogenik seperti penangkapan yang merusak lingkungan dan degradasi akibat pengerukan pasir membawa ikan ini dalam daftar merah IUCN kategori rentan terhadap kepunahan. Upaya konservasi agar ikan endemik tetap lestari, salah satunya diperlukan informasi kajian aspek reproduksi. Penelitian ini bertujuan mengkaji aspek reproduksi ikan beseng-beseng meliputi nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, fekunditas, dan sebaran diameter telur di Sungai Pattunuang dan Sungai Batu Puteh, Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan dari Mei 2018 hingga April 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah kelamin ikan beseng-beseng di Sungai Patunnuang dan Sungai Batu Puteh masing-masing adalah 1,00:1,60 dan 1,00:1,10. Ikan ini memijah pada akhir musim kemarau dan awal musim penghujan. Fekunditas ikan di S. Pattunuang dan S. Batu Puteh masing-masing adalah 22 – 795 butir dan berkisar 69 – 571 butir. Berdasarkan pola sebaran diameter telur, ikan beseng-beseng memiliki tipe pemijahan serempak. Pengelolaan sumber daya ikan beseng-beseng adalah pembatasan penangkapan saat musim pemijahan khususnya ikan jantan dan perlu diusulkan konservasi in situ kedua sungai sebagai daerah perlindungan ikan (reservat) karena merupakan sumber pasma nutfah.
Morphometric and meristic characteristics of an endemic Lagusia micracanthus Bleeker, 1860 in the rivers of Maros and Walanae Cenranae Watersheds Muhammad Nur; M.Fadjar Rahardjo; Charles P.H. Simanjuntak; Djumanto Djumanto; Krismono Krismono
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 2 (2020): June 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i2.524

Abstract

Pirik (Lagusia micracanthus Bleeker, 1860) is one of endemic fishes in Sulawesi. Morphometric and meristic infor-mation of Pirik population in various habitats are unknown. The present study aimed to determine the morphometric and meristic variations of Pirik in Maros and Walanae Cenranae Watersheds. Sampling collection was carried out monthly from May 2018 to April 2019 in the Maros watershed, namely Pattunuang River (M1), Bantimurung River (M2), Pucak River (M3); and in Walanae Cenranae watershed particularly in Camba River (W1), Sanrego River (W2), and Ompo River (W3). Morphometric measurements consisted of 31 characters and meristic measurements consisted of 10 characters. Morphometric data was standardized by dividing all morphometric characters by standard length (SL). Analysis of vari­ance (ANOVA) and discriminant analysis (Discriminant Function Analysis) were applied for data analysis. The results showed that the Pirik taken from rivers in the Maros and Walanae Cenranae watershed are two different population groups. There are 12 distinguishing morphometric features for Pirik of the Maros and Walanae Cenranae watershed, i.e. TL (total length), SL (standard length), BDdSA (body depth-dorsal fin origin), HL (head length), Jlup (upper-jaw length), PAfL (pre-anal fin length), ABL (Anal fin base length), PelRL (pelvic ray length), AFRL (anal fin ray length), CPL (caudal peduncle length), CLLup (upper caudal lobe length) and CLLmid (mid-caudal length). There is no significant difference of meristic characters of Pirik obtained from the Maros and Walanae. Abstrak Ikan pirik (Lagusia micracanthus Bleeker, 1860) merupakan ikan endemik Sulawesi. Informasi morfometrik dan meristik untuk mengungkap perbedaan antar populasi L. micracanthus pada berbagai habitat belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan morfometrik dan meristik ikan pirik di Daerah Aliran Sungai (DAS) Maros dan DAS Wallanae Cenrana. Manfaat penelitian ini adalah sebagai dasar dalam penentuan strategi konservasi dan pengelolaan ikan pirik secara berkelanjutan. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Mei 2018 hingga April 2019, di DAS Maros yang meliputi Sungai Pattunuang (M1), S.Bantimurung (M2), S.Pucak (M3) dan DAS Wallanae Cenrana, yang meliputi S.Camba (W1), S.Sanrego (W2) dan S.Ompo (W3). Pengukuran morfometrik terdiri atas 31 karakter dan penghitungan meristik terdiri atas 10 karakterData morfometrik dibakukan dengan membagi semua karakter morfometrik dengan panjang standar (SL). Analisis data menggunakan analisis varian (ANOVA) dan analisis diskriminan (Discriminant Function Analysis). Hasil analisis menunjukkan bahwa ikan pirik yang berasal dari sungai-sungai di DAS Maros dan DAS Wallanae Cenrana merupakan dua kelompok populasi yang berbeda. Terdapat 12 karakter morfometrik yang menjadi penciri ikan pirik sungai-sungai di DAS Maros dan di DAS Wallanae Cenrana yaitu TL (panjang total), SL (panjang baku), BDdSA (tinggi badan dari sirip punggung), HL (panjang kepala), Jlup (panjang rahang atas), PAfL (panjang sebelum sirip anal), ABL (panjang dasar sirip anal), PelRL (panjang sirip perut), AFRL (panjang jari-jari lemah sirip anal), CPL (panjang batang ekor), CLLup (panjang lobus ekor bagian atas), CLLmid (panjang tengah ekor). Karakter meristik antara ikan pirik DAS Maros dan Wallanae Cenrana tidak memiliki perbedaan yang nyata.
Length-weight relationship and condition factor of an endemic Lagusia micracanthus Bleeker, 1860 in Rivers of the Maros Watershed Muhammad Nur; M. Fadjar Rahardjo; Charles P.H Simanjuntak; Djumanto Djumanto; Krismono Krismono
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 3 (2020): October 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i3.532

Abstract

Lagusia micracanthus is one of endemic freshwater fish in Sulawesi. It also has been locally consumed. The purpose of this research was to analyze length-weight relationship and condition factors of L. micracanthus in rivers of the Maros Watershed, South Sulawesi Province . The study was conducted in three rivers, namely Pattunuang River, Bantimurung River and Pucak River. The sampling was conducted monthly from May 2018 to April 2019. Fish samples were collected by an electric shocker (12 V and 9 A). A total of 1850 individual fishes with samples ranging from 31.58-127.79 mm in total length and 0.76-31.07 g in weight. The length-weight relationship was W = 0.00009L2.6241 (r = 0.95) in Pattunuang River, W = 0.0001L2.5237 (r = 0.94) in Bantimurung River, and W = 0.0001L2.4953 (r = 0.92) in Pucak River. The slope (b) values of L. micracanthus obtained a negative allometric growth pattern (b <3). The relative condition factors of L. micracanthus was fluctuated from 0.86 to 1.43 in Pattunuang River, 0.65 to 1.45 in Bantimurung River, and 0.55 to 1.26 in Pucak River. The condition factor increased towards the peak of the spawning season and decreased after the spawning period. The condition factor increased with the increasing of gonad maturity stage up to stage IV and decreased after spawned or stage V. Abstrak Lagusia micracanthus merupakan salah satu ikan endemik air tawar Sulawesi.Ikan ini telah lama dimanfaatkan masyarakat lokal sebagai ikan konsumsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan panjang-bobot dan faktor kondisi L. micracanthus di sungai-sungai pada Daerah Aliran Sungai Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan di tiga Sungai yaitu Sungai Pattunuang, Sungai Bantimurung dan Sungai Pucak. Pengambilan ikan contoh dilakukan setiap bulan dari Mei 2018 hingga April 2019. Penangkapan ikan contoh menggunakan alat tangkap electric shocker (12 V & 9 A). Total ikan yang tertangkap sebanyak 1850 ekor dengan panjang berkisar 31,58-127,79 mm dan bobot 0,76-31,07 g. Hasil penelitian menunjukkan, hubungan panjang bobot L. micracanthus di Sungai Pattunuang adalah W = 0,00009L2,6241 (r = 0,95), Sungai Bantimurung W= 0,0001L2,5237 (r = 0,94) dan Sungai Pucak W = 0,0001L2,4953 (r = 0,92). Berdasarkan nilai b yang diperoleh L. micracanthus tergolong ke dalam tipe pertumbuhan allometrik negatif (b < 3). Nilai faktor kondisi ikan pirik berfluktuasi. Di Sungai Pattunuang nilai faktor kondisi berkisar antara 0,55-1,26, di Sungai Bantimurung berkisar 0,65-1,45 dan di Sungai Pucak berkisar 0,55-1,26. Faktor kondisi meningkat menjelang puncak musim pemijahan dan menurun setelah masa pemijahan. Faktor kondisi meningkat seiring peningkatan tingkat kematangan gonad sampai pada TKG IV dan menurun setelah ikan berpijah atau pada TKG V.
Recruitment patterns of freshwater amphidromous fishes (Pisces: Gobiidae, Eleotridae) to the Cimaja estuary, Palabuhanratu Bay Charles P.H Simanjuntak; Faqih Baihaqi; Tri Prabowo; Shafira Bilqis A; Sulistiono Sulistiono; Ayu Ervinia
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 21 No 3 (2021): October 2021
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v21i3.595

Abstract

The sustainability of amphidromous fishes is determined by the success of the larval recruitment process from marine to freshwaters habitats. This study aimed to determine the recruitment pattern of freshwater amphidromous fish to the Cimaja River estuary, Palabuhanratu Bay in terms of season and daily. Amphidromous fish were caught monthly on the 25th of Hijri or waning crescent from December 2020 to August 2021. Sampling in one whole day with observation intervals every 4 hours was carried out in June 2021 to reveal the time of larvae and juveniles of the amphidromous fish recruit to the Cimaja River estuary. A total of 13 species of amphidromous fishes representing five genera and two families was captured. The recruitment of amphidromous fishes into the Cimaja River occurs between the peak of the rainy season to dry season. Generally, amphidromous recruit into the estuary waters of the Cimaja River is at the juvenile stage (11.9-21.8 mm body length). However, the recruitment of some amphidromous fish species appears at the postflexion stage (6.9-11.9 mm BL). Based on diel observations, larvae and juveniles of amphidromous fish are generally preferred to recruit to the Cimaja River estuary in the early morning (03:00 am) and afternoon (03:00 pm). Recruitment of amphidromous fish larvae to the Cimaja River follows a semi-diurnal tidal cycle which is a tidal type in Palabuhanratu Bay. Amphidromous fishes use tidal flux to recruit and migrate upstream of the Cimaja River through estuaries. Abstrak Keberlanjutan sumber daya ikan amfidromus ditentukan oleh keberhasilan proses rekrutmen larva dari habitat laut menuju perairan tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola rekrutmen ikan amfidromus air tawar menuju perairan estuari Sungai Cimaja, Teluk Palabuhanratu ditinjau dari musim dan harian. Ikan amfidromus ditangkap setiap bulan pada tanggal 25 Hijriah atau awal bulan baru dari Desember 2020 sampai Agustus 2021. Sampling dalam satu hari penuh dengan interval pengamatan setiap 4 jam dilakukan pada Juni 2021 untuk menentukan waktu larva dan yuwana ikan amfidromus rekrut ke estuari Sungai Cimaja. Sebanyak 13 spesies anak ikan amfidromus mewakili lima genera dan dua famili ditemukan. Puncak rekrutmen anak ikan amfidromus di Sungai Cimaja terjadi antara pertengahan musim penghujan sampai musim kemarau. Anak ikan amfidromus yang melakukan rekrutmen ke perairan estuari Sungai Cimaja umumnya berada pada stadia yuwana (panjang tubuh 11.9-21.8 mm). Namun proses rekrutmen ke wilayah estuari Cimaja pada beberapa spesies ikan amfidromus lainnya terjadi pada stadia postflexion (6,9-11,9 mm). Berdasarkan pengamatan harian ditemukan bahwa larva dan yuwana ikan amfidromus umumnya memilih rekrut ke estuari Sungai Cimaja pada dini hari (pukul 03:00) dan sore hari (15:00). Puncak rekrutmen larva ikan amphiromus menuju Sungai Cimaja mengikuti siklus pasang semi-diurnal yang merupakan tipe pasang di Teluk Palabuhanratu. Ikan amphidromous memanfaatkan gelombang pasang untuk rekrut dan beruaya ke arah hulu Sungai Cimaja melewati daerah estuari.
Co-Authors . Zairion Adiara Firdhita Alam Nasyrah Adinda Kurnia Putri Ahmad Zahid Aldi Chandra Khoncara Allen Yeoh Ari Purbayanto Aries Asriansyah Aries Asriansyah Aries Asriansyah Arif Munandar Arif Purnomo Ario Damar Ayu Andriani Ayu Ervinia Bebas Widada Candra Budiman Cheung, William W.L. Chilmia Ayu Annisa Damiati - Dedi Soedarma Dian Novriadhy Djadja S. Sjafei Djadja Subardja Sjafei Djumanto Djumanto Dwi Remawati Dwi Yuni Wulandari Emmanuel Manangkalangi Endang Hilmi Erdianto Etty Riani Fadjar Rahardjo, M. Faqih Baihaqi Fauzan, Tezza Fery Kurniawan Fifit Maulani Fitrianingrum Kurniawati, Fitrianingrum Gani, Abdul Gatot Yulianto Ghinarrahmi Afiyatillah Gusti Abi Abi Dzar Al Ghiffary Hefni Effendi Heri Yusuf Muslihin I Nyoman Yoga Parawangsa Ida Lapadi Ikhsan Hasibuan Imam Aliani Putra INDRAYANI INDRAYANI Jonson Lumban Gaol Krismono Krismono Krismono Krismono Kustiyani Kustiyani Laksono Trisnantoro Latifa Fekri M F Rahardjo M F. Rahardjo M Fadjar Raharjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. Fadjar Rahardjo M. Fadjar Rahardjo M. Fadjar Rahardjo M. Fadjar Rahardjo M. Fadjar Rahardjo M. Fadjar Rahardjo M. Faris Nazal M.Fadjar Rahardjo M.Fadjar Rahardjo Made Wira Lega Saputra Miftah Miftah Mohammad Fadjar Rahardjo Mohammad Fadjar Rahardjo Muhamad Radifa Muhammad Fadjar Rahardjo Muhammad Nur Muhammad Nur MUJIZAT KAWAROE Murniarti Brodjo Murniarti Brojo Nabela Fikriyya Narto Narto Nazal, Muhammad Faris Noviana Noviana Nur Jannah Paskalina Theresia Lefaan Prawira Atmaja R.P. Tampubolon Prawira Atmaja R.P. Tampubolon Rahardjo, Muhammad Fajar Rahmi Jamza Reiza M Aditriawan Reiza Maulana Aditriawan Reiza Maulana Aditriawan Renny K Hadiaty Renny K. Hadiaty Reygondeau, Gabriel Ridho Gotho RIDWAN AFFANDI Ridwan Affandi Rifqie Mardiansyah Purmadi Rita Rostika Romdoni, Taufiq Ahmad Ronny I. Wahju Sarah Nadya Fhonna Sarina Sarina Seplina Nurfaiqah Shafira Bilqis A Shafira Bilqis Annida Sigid Hariyadi Sisilia Eka Aisyah Lisamy Siti Khasanah Sonja Kleinertz Suhita, Ni Putu Asri Ratna Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sumarto Sumarto Sunardiyanta Sunardiyanta Sunarto Sunarto Suparmi Suparmi Sutaman, Sutaman Sutaryo Sutaryo Sutrisno Sukimin Sutrisno Sukimin Suyono Suyono Taopik Rahman Taryono Taryono Tatag Budiardi TATI NURHAYATI Teh, Lydia Tri Prabowo Tri Prabowo Tria Eva Chrisdayanti Vera Dewiana Bakhris Yeow Liang Yudanto Yudanto Yurilla Endah Muliatie, Yurilla Endah Yusli Wardiatno Zulkarnain