Claim Missing Document
Check
Articles

APAKAH JAMINAN KESEHATAN TERKAIT DENGAN PERILAKU FERTILITAS RISIKO TINGGI SEPERTI HALNYA FAKTOR SOSIODEMOGRAFI? Dian Novriadhy; Muhammad Yazid
Publikasi Penelitian Terapan dan Kebijakan Vol 8 No 2 (2014): Jurnal Pembangunan Manusia
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil kehamilan risiko tinggi dan menjelaskan hubungan faktor sosiodemografi dan jaminan kesehatan dengan perilaku fertilitas risiko tinggi. Faktor paritas, umur ibu dan interval kelahiran digunakan sebagai kriteria penentuan kategori dari kehamilan risiko tinggi. Umur kawin pertama, jumlah anak diinginkan, tingkat pendidikan dan jaminan kesehatan digunakan sebagai variabel bebas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan bersifat potong lintang bertempat di Palembang dilaksanakan pada bulan Maret-April 2014. Sebanyak 124 ibu hamil dengan sifat kehamilan merupakan kehamilan yang diinginkan diwawancarai saat melakukan kunjungan antenatal. Interpretasi hasil menggunakan pendekatan uji beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% dari kehamilan risiko tinggi mememiliki risiko tunggal. Faktor umur kawin pertama, jumlah anak diinginkan istri dan jaminan sosial diketahui memiliki hubungan dengan perilaku fertilitas risiko tinggi. Faktor tingkat pendidikan diketahui tidak membedakan perilaku fertilitas risiko tinggi. Norma sosial pronatalis yang kuat ditenggarai sebagai faktor pendorong dari hubungan yang terjadi. Hasil penelitian mengindikasikan perlunya eksaminasi lebih lanjut untuk mengetahui dampak penerapan reformasi jaminan kesehatan terhadap pembangunan kesehatan reproduksi.
Growth pattern and condition factor of the common silver-biddy Gerres oyena (Forsskål, 1775) juveniles from seagrass ecosystem of Karang Congkak Island, Kepulauan Seribu Adinda Kurnia Putri; Charles P.H Simanjuntak; M. Faris Nazal; Noviana Noviana; Endang Hilmi; Nabela Fikriyya; Ahmad Zahid
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 22 No 2 (2022): June 2022
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v22i2.651

Abstract

A seagrass bed of Karang Congkak Island has been known as the nursery habitat for many marine fishes. The common silver-biddy (Gerres oyena) is one of the temporary resident fishes that inhabits seagrass beds of Karang Congkak Island before they migrate to their adult habitat to join the adult population. The aims of this research are to analyze the growth pattern, condition factor and food preferences of the common silver-biddy while they utilized the seagrass beds of Karang Congkak Island as their nursery ground. Sampling was conducted from March 2018 to March 2019 with 10 times frequency of sampling in total. Sample was towed using a beach seine net with 10x1 m in dimension and 3 mm mesh size. Parameters that were analyzed in this research were a length-weight relationship, condition factor, and food preferences. A total of 2762 juveniles of the common silver-biddy were collected and were classified into 10 length classes. The results showed that in general, the growth pattern of the common silver-biddy was positive allometric (b>3), although some months were isometric (b=3). The overall condition factor ranged from 0.87 – 2,05 and it fluctuated throughout the months. The diet which has the main role in determining the fish growth of the common silver-biddy was dominated by the group of copepods. The positive allometric growth pattern of the common silver-biddy and the high value of condition factor describe that seagrass ecosystem of Karang Congkak Island is a suitable nursery ground for the juveniles of the common silver-biddy. Abstrak Ekosistem lamun Pulau Karang Congkak merupakan habitat pengasuhan yuwana berbagai spesies ikan laut. Ikan kapas-kapas (Gerres oyena) merupakan salah satu ikan penghuni sementara lamun Pulau Karang Congkak sebelum akhirnya beruaya ke habitat induknya untuk bergabung dengan populasi ikan dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pertumbuhan dan faktor kondisi yuwana ikan kapas-kapas selama menghuni perairan ekosistem lamun Pulau Karang Congkak. Penelitian dilakukan dari Maret 2018 sampai Maret 2019 dengan total frekuensi pengambilan sampel selama 10 bulan. Contoh ikan diambil dengan menarik pukat tarik pantai berdimensi 10 m x1 m dan mata jaring 3 mm. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah hubungan panjang-bobot ikan, faktor kondisi, dan preferensi makanan ikan. Selama penelitian terkumpul sebanyak 2765 yuwana ikan yang dapat dikelompokkan menjadi 10 kelompok kelas ukuran panjang. Pola pertumbuhan panjang ikan kapas-kapassecara keseluruhan bertipe alometrik positif (b > 3), namun pada beberapa bulan tertentu ditemukan pola pertumbuhan isometrik (b=3). Faktor kondisi selama penelitian berkisar antara 0,87-2,05 dan berfluktuasi setiap bulan. Makanan ikan yang merupakan faktor penentu pertumbuhan ikan kapas-kapas didominasi oleh kelompok kopepoda. Pola pertumbuhan ikan kapas-kapas yang alometrik positif dengan faktor kondisi yang tinggi memberikan gambaran bahwa padang lamun Pulau Karang Congkak merupakan daerah asuhan yang baik bagi yuwana ikan kapas-kapas.
Feeding preferences and diet overlap of sciaenids fishes in Pabean Bay, Indramayu Charles P. H. Simanjuntak; Kustiyani Kustiyani; Ridwan Affandi; M. Fadjar Rahardjo; Tri Prabowo
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 22 No 2 (2022): June 2022
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v22i2.652

Abstract

The trophic ecology of Sciaenid fishes, one group of the demersal fishes in Pabean Bay, Indramayu is described in our study. A total of 14 types of prey were identified belonging to three groups (Decapod Crustacean, Mollusca, and Bony fishes) to analyze the feeding preferences and diet breadth overlap. The preferred prey items of Johnius belangerii (Belanger's croaker) were Calappidae (Ii = 16.12), followed by Squilla sp. (15.5), and Penaeus sp. (14.6); while Johnius borneensis (Sharpnose hammer croaker) were Penaeus sp. (Ii = 86.5), followed by Calappidae (3.45), and Acetes sp. (1.38); Johnius macropterus (Largefin croaker) were Penaeus sp. (Ii = 35), followed by Callapidae (5); Nibea soldado (Soldier croaker) were Penaeus sp. (Ii = 25.63) followed by Squilla sp. (23.98), and Charybdis sp. (16.42); Otolithes ruber (Tigertooth croaker) was Penaeus sp. (Ii = 25.63). The diet breadth (BA) values indicate that Sharpnose hammer croaker (BA = 0.06) and Tigertooth croaker (BA = 0.07) are high specialist consumers, while Belanger's croaker (BA = 0.36) and Soldier croaker (BA =0.34) are considered as non-specialized feeders. Our study showed that sciaenid fishes have overlapping trophic niches intra and inter-specific due to their common feeding on decapod crustaceans. The high trophic overlap between predators suggests that Sciaenid fishes in Pabean Bay are competing with each other when food resources are limited. Abstrak Ekologi trofik famili Sciaenidae, salah satu kelompok ikan demersal di perairan Teluk Pabean, Indramayu dideskripsikan melalui studi ini. Sebanyak 14 jenis makanan dari tiga kelompok utama (Krustasea Decapoda, Moluska, dan ikan bertulang sejati) berhasil diidentifikasi untuk analisis preferensi dan tumpang tindih relung makanan ikan Sciaenidae. Mangsa yang diminati oleh ikan Johnius belangerii (Belanger's croaker) adalah Calappidae (Ii = 16,12), diikuti oleh Squilla sp. (15,5), dan Penaeus sp. (14,6); sementara ikan Johnius borneensis (Sharpnose hammer croaker) menyukai Penaeus sp. (Ii = 86,5), disusul oleh Calappidae (3,45), dan Acetes sp. (1,38); ikan Johnius macropterus (Largefin croaker) menyenangi Penaeus sp. (Ii = 35), diikuti oleh Callapidae (5); sedangkan ikan Nibea soldado (Soldier croaker) cenderung memilikih Penaeus sp. (Ii = 25,63), Squilla sp. (23,98), dan Charybdis sp. (16,42); sedangkan Otolithes ruber (Tigertooth croaker) lebih banyak mengonsumsi Penaeus sp. (Ii = 25,63). Nilai relung makanan (BA) mengindikasikan bahwa ikan Sharpnose hammer croaker (BA = 0,06) dan Tigertooth croaker (BA = 0,07) adalah termasuk pemangsa yang spesialis, sedangkan Belanger's croaker (BA = 0,36) dan Soldier croaker (BA = 0,34) lebih cenderung sebagai pemangsa yang bukan spesialis. Tumpang tindih relung makanan khususnya jenis krustasea decapoda terjadi baik antarspesies maupun antar individu dari spesies yang sama, termasuk antar kelompok ukuran. Tumpang tindih relung makanan yang tinggi antar ikan predator menunjukkan bahwa kelompok ikan Sciaenidae di Teluk Paben berkompetisi memperebutkan makanan saat terjadi kelangkaan sumberdaya makanan.
HUBUNGAN PANJANG-BOBOT, POLA PERTUMBUHAN DAN FAKTOR KONDISI IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN SUKABUMI DAN LEBAK Taufiq Ahmad Romdoni; Taryono Taryono; Charles PH Simanjuntak; Arif Munandar; Seplina Nurfaiqah; Sisilia Eka Aisyah Lisamy
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.1.2023.41-52

Abstract

Perairan Lebak, Banten dan Sukabumi, Jawa Barat yang merupakan bagian dari WPPNRI 573 adalah daerah penangkapan ikan pelagis. Kajian mengenai hubungan panjang-bobot serta faktor kondisi ikan pelagis kecil di kedua daerah tersebut masih sangat terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan panjang-bobot, pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan pelagis kecil di perairan Sukabumi dan Lebak. Ikan pelagis kecil yang dijadikan sampel meliputi kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) dan layang (Decapterus macarellus). Sampel ikan diperoleh dari tiga pendaratan ikan yaitu PPI Binuangeun, PPN Palabuhanratu dan PPI Ciwaru dari bulan Juli-Desember 2022. Persamaan hubungan panjang-bobot ikan kembung lelaki adalah W=0,0000075.L3,125 (R2 = 0,93), sedangkan pada ikan layang adalah W=0,0000059.L3,136 (R2 = 0,96). Pola pertumbuhan ikan kembung lelaki dan ikan layang diperoleh alometrik positif. Hasil kondisi relatif (Kn) ikan kembung lelaki berada pada kisaran 0,91-1,06, nilai paling rendah ditemukan pada bulan Agustus dan nilai paling tinggi ditemukan pada bulan Desember. Sementara itu nilai faktor kondisi relatif ikan layang berkisar antara 0,87-1,06, dengan nilai terendah saat bulan Juli dan tertinggi saat bulan Desember. Pola pertumbuhan alometrik positif dan faktor kondisi yang tinggi mengindikasikan bahwa status ikan kembung lelaki dan ikan layang di perairan Sukabumi dan Lebak berada dalam kondisi yang baik.
Persebaran spasial dan temporal ikan endemik pirik (Lagusia micracanthus) Di Das Maros Dan Das Wallanae Cenrana, Sulawesi Selatan Nur, Muhammad; Fadjar Rahardjo, M.; P.H Simanjuntak, Charles; Djumanto, Djumanto; Krismono, Krismono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.4.2022.187-198

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan persebaran ikan pirik secara spasial dan temporal serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi persebarannya pada sungai-sungai di DAS Maros dan di DAS Walanae Cenranae. Pengambilan sampel dilakukan dari bulan Mei 2018 hingga April 2019. Penelitian dilakukan di 19 stasiun pengambilan sampel, terdiri atas 6 stasiun di DAS Maros dan 13 Stasiun di DAS Walanae Cenranae, Provinsi Sulawesi Selatan. Penangkapan ikan pirik menggunakan electric shocker (12 V, 9 A) dan jaring lempar. Ikan contoh diawetkan dalam larutan formalin 10% dan alkohol 70 %.  Pengukuran parameter fisik kimiawi perairan meliputi kedalaman, arus, suhu, pH, oksigen terlarut, padatan tersuspensi total (TSS), padatan terlarut total (TDS) dan konduktivitas. Hasil penelitian menujukkan persebaran spasial ikan pirik pada sungai-sungai di DAS Maros terdiri atas empat stasiun yaitu M1 (S. Pattunuang), M2 (S. Bantimurung), M3 (S. Pucak), M4 (S. Batu Bassi) dan pada sungai-sungai di DAS Walanae Cenranae terdiri atas  delapan stasiun yaitu W1 (S. Camba), W2 (S. Sanrego), W4 (S. Batu-Batu), W5 (S. Sawae), W6 (S. Pising), W7 (S. Mutiara), W8 (S. Assanae) dan W10 (S. Ompo). Persebaran temporal ikan pirik terdiri atas tiga kategori persebaran yaitu ikan pirik yang ditemukan pada semua musim, ikan pirik hanya ditemukan ketika musim tertentu, dan ikan pirik yang tidak ditemukan pada semua musim. Jumlah ikan pirik ditemukan terbanyak pada musim penghujan, diikuti awal musim penghujan, kemudian awal musim kemarau dan terendah pada musim kemarau.  Jumlah ikan pirik yang tertangkap dipengaruhi oleh karakteristik fisik kimiawi perairan yaitu kecerahan, oksigen terlarut dan arus.
The effect of temperature on the physiological condition and growth performance of freshwater eel elver Anguilla bicolor bicolor McClelland, 1844 Fekri, Latifa; Affandi, Ridwan; Rahardjo, Muhammad Fajar; Budiardi, Tatag; Simanjuntak, Charles Parningotan Haratua; Fauzan, Tezza; Indrayani, Indrayani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3406.807 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.181-190

Abstract

ABSTRACT This study aimed to analyze the effect of water temperature on the physiological condition and growth performance of freshwater eel elver Anguilla bicolor bicolor (McClelland, 1844). This study was conducted in March 2017 at the Physiology Laboratory of Aquatic Animal, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University. The study used a completely randomized design with five different levels of temperature (22°C, 24°C, 26°C, 28°C, and 30°C) as treatments with two replications. The size of elver was 2‒3 g. Fish were fed with 1 mm pellet containing 45% of protein. The feeding level was 7 % of fish biomass and the feeding frequency was two times a day. The results showed that temperatures range from 24‒30°C could be used for freshwater eel elver rearing and 28‒30°Cwere the best temperatures to support survival and growth performance of eel elver. A temperature of 24°C was the best temperature that could reduce the metabolism rate and did not cause stress on the elver. Keywords: elver, physiological conditions, growth performance, metabolism, temperature  ABSTRAK Penelitian dengan tujuan menganalisis pengaruh suhu terhadap kondisi fisiologis dan kinerja pertumbuhan elver ikan sidat (Anguilla bicolor bicolor McClelland, 1844) telah dilakukan pada bulan Maret 2017 di Laboratorium Fisiologi Hewan Air FPIK IPB. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan suhu berbeda (22°C, 24°C, 26°C, 28°C, dan 30°C) dengan masing-masing dua ulangan. Ukuran benih yang digunakan 2‒3 g. Pakan yang diberikan berupa pellet berukuran 1 mm dengan kadar protein 45%. Jumlah pakan yang diberikan (FR) adalah 7% dari biomassa ikan dan diberikan dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran suhu 24‒30°C dapat digunakan dalam pemeliharaan elver ikan sidat, dan suhu 28‒30°C merupakan suhu yang sangat baik untuk mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan elver ikan sidat. Suhu media 24°C adalah suhu terbaik yang dapat menekan laju metabolisme dengan tidak menyebabkan stres pada elver ikan sidat. Kata kunci: elver, kondisi fisiologis, kinerja pertumbuhan, metabolisme, suhu  
Juvenile Fish Composition and Their Growth Aspects on the East Coast of Banyuwangi, East Java, Indonesia Nazal, Muhammad Faris; Simanjuntak, Charles P.H.; Lumban-Gaol, Jonson; Kurniawan, Fery; Cheung, William W.L.; Reygondeau, Gabriel; Teh, Lydia; Suhita, Ni Putu Asri Ratna
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 32 No. 5 (2025): September 2025
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4308/hjb.32.5.1185-1198

Abstract

The east coast of Banyuwangi, Bali Strait, has the potential to function as a nursery area for juvenile fish. Therefore, it is essential to research the ecology of juvenile fish resources. This study aimed to uncover the composition of juvenile fishes and their growth aspects through length-weight relationships and condition factors. We collected 9748 fish specimens from floating lift nets during April, September, December 2023, and February 2024. Identification and morphometric analysis were conducted to calculate fish juvenile assemblage composition, growth patterns from length-weight relationships, and condition factors. The study found 48 species from 26 families and 17 orders. The small pelagic fish group was the most common, including species from the Carangidae, Dorosomatidae, Spratelloididae, Engraulidae, Atherinidae, and Scombridae families in terms of the number of individuals and overall biomass. The fish growth on the east coast of Banyuwangi is optimal, with most fish species exhibiting positive allometric and isometric growth patterns. The overall condition factor of the juvenile fish is above 1.00, indicating that the health of fish resources is good. This suggests that the east coast of Banyuwangi, Bali Strait, can support the growth of fish juveniles and maintain the sustainability of fish resources.
Eco-Biology of the Orbiculate Cardinalfish, Sphaeramia orbicularis in Seagrass Habitats of Pari Island, Indonesia Khasanah, Siti; Simanjuntak, Charles Parningotan Haratua; Yulianto, Gatot
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.101854

Abstract

The seagrass ecosystem of Pari Island, Kepulauan Seribu National Park, provides essential habitat for various fish resources, such as Sphaeramia orbicularis. Little information has been reported on the biology and ecology of this species in Indonesia. This study describes the growth pattern, feeding ecology, and reproductive biology of S. orbicularis in the seagrass beds of Pari Island. Fish samples were collected monthly from November 2023 to April 2024 using a beach seine net. A total of 542 fish were obtained with a range of 17-85 mm and weights of 0.16-24.28 g. Fish growth patterns were isometric and positive allometric with condition factor values >1. Based on feeding ecology, S. orbicularis is categorized as a specialist and has a low niche breadth (BA=0.2), with the primary diet being Gammaridae, Tanaidacea, and Brachyura. The fish population has a balanced sex ratio and spawns in January. This is indicated by the highest GMS mature gonad and GSI values found in that month. Egg fecundity ranged from 7,239-12,240 eggs with an average diameter of 0.0048-0.0052 mm, indicating a total spawner spawning pattern. The length of the first gonad maturity of male fish was 63.12 mm, while that of female fish was 65.27 mm.
English: Stadia hidup, pertumbuhan, dan kesesuaian habitat Clupeiformesdi Teluk Biru, Selat Bali Nazal, Muhammad Faris; Simanjuntak, Charles Parningotan Haratua; Kurniawan, Fery; Lumban-Gaol, Jonson
Habitus Aquatica Vol 7 No 1 (2026): Habitus Aquatica : Journal of Aquatic Resources and Fisheries Management
Publisher : Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/HAJ.7.1.8

Abstract

Teluk Biru, yang merupakan daerah penangkapan bagan apung di Selat Bali, berperan penting dalam mendukung produksi perikanan ikan Clupeiformes di Muncar dan wilayah sekitar Selat Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi komposisi spesies dan pola pertumbuhan hasil tangkapan Clupeiformes di Teluk Biru dan keterkaitannya dengan parameter lingkungan. Pengambilan contoh dilakukan selama musim barat (Desember 2023, Februari 2024) dan musim peralihan-1 (Maret–April 2024). Analisis data mencakup penilaian komposisi spesies, hubungan panjang-bobot, faktor kondisi, variabilitas spasio-temporal parameter oseanografi, dan Analisis Korespondensi Kanonik. Tangkapan Clupeiformes selama kedua musim terdiri atas enam spesies, dengan adanya variasi bulanan pada spesies dominan. Sebagian besar individu merupakan fase yuwana, kecuali Spratelloides delicatulus yang banyak ditemui stadia dewasanya. Mayoritas spesies memiliki pertumbuhan alometrik positif dan berada dalam kondisi pertumbuhan yang baik (FK > 1,00). Parameter fisik-kmiawi perairan berbeda signifikan antarwaktunya dan mendukung kehidupan ikan di dalamnya. Klorofil-a cenderung menurun pada musim barat dan meningkat menjelang musim peralihan-1, berbanding terbalik dengan suhu permukaan laut. Terdapat empat parameter lingkungan utama yag berasosiasi dan berpengaruh signifikan terhadap komposisi ikan Clupeiformes, yakni suhu, salinitas, oksigen terlarut, dan klorofi-a. Status sumber daya Clupeiformes di Teluk Biru berada dalam lingkungan yang sesuai, namun mengalami tekanan penangkapan dari bagan apung, terutama pada anak-anak ikan.
Co-Authors . Zairion Adiara Firdhita Alam Nasyrah Adinda Kurnia Putri Ahmad Zahid Aldi Chandra Khoncara Allen Yeoh Ari Purbayanto Aries Asriansyah Aries Asriansyah Aries Asriansyah Arif Munandar Arif Purnomo Ario Damar Ayu Andriani Ayu Ervinia Bebas Widada Candra Budiman Cheung, William W.L. Chilmia Ayu Annisa Damiati - Dedi Soedarma Dian Novriadhy Djadja S. Sjafei Djadja Subardja Sjafei Djumanto Djumanto Dwi Remawati Dwi Yuni Wulandari Emmanuel Manangkalangi Endang Hilmi Erdianto Etty Riani Fadjar Rahardjo, M. Faqih Baihaqi Fauzan, Tezza Fery Kurniawan Fifit Maulani Fitrianingrum Kurniawati, Fitrianingrum Gani, Abdul Gatot Yulianto Ghinarrahmi Afiyatillah Gusti Abi Abi Dzar Al Ghiffary Hefni Effendi Heri Yusuf Muslihin I Nyoman Yoga Parawangsa Ida Lapadi Ikhsan Hasibuan Imam Aliani Putra INDRAYANI INDRAYANI Jonson Lumban Gaol Krismono Krismono Krismono Krismono Kustiyani Kustiyani Laksono Trisnantoro Latifa Fekri M F Rahardjo M F. Rahardjo M Fadjar Raharjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. F. Rahardjo M. Fadjar Rahardjo M. Fadjar Rahardjo M. Fadjar Rahardjo M. Fadjar Rahardjo M. Fadjar Rahardjo M. Fadjar Rahardjo M. Faris Nazal M.Fadjar Rahardjo M.Fadjar Rahardjo Made Wira Lega Saputra Miftah Miftah Mohammad Fadjar Rahardjo Mohammad Fadjar Rahardjo Muhamad Radifa Muhammad Fadjar Rahardjo Muhammad Nur Muhammad Nur MUJIZAT KAWAROE Murniarti Brodjo Murniarti Brojo Nabela Fikriyya Narto Narto Nazal, Muhammad Faris Noviana Noviana Nur Jannah Paskalina Theresia Lefaan Prawira Atmaja R.P. Tampubolon Prawira Atmaja R.P. Tampubolon Rahardjo, Muhammad Fajar Rahmi Jamza Reiza M Aditriawan Reiza Maulana Aditriawan Reiza Maulana Aditriawan Renny K Hadiaty Renny K. Hadiaty Reygondeau, Gabriel Ridho Gotho Ridwan Affandi RIDWAN AFFANDI Rifqie Mardiansyah Purmadi Rita Rostika Romdoni, Taufiq Ahmad Ronny I. Wahju Sarah Nadya Fhonna Sarina Sarina Seplina Nurfaiqah Shafira Bilqis A Shafira Bilqis Annida Sigid Hariyadi Sisilia Eka Aisyah Lisamy Siti Khasanah Sonja Kleinertz Suhita, Ni Putu Asri Ratna Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sulistiono Sumarto Sumarto Sunardiyanta Sunardiyanta Sunarto Sunarto Suparmi Suparmi Sutaman, Sutaman Sutaryo Sutaryo Sutrisno Sukimin Sutrisno Sukimin Suyono Suyono Taopik Rahman Taryono Taryono Tatag Budiardi TATI NURHAYATI Teh, Lydia Tri Prabowo Tri Prabowo Tria Eva Chrisdayanti Vera Dewiana Bakhris Yeow Liang Yudanto Yudanto Yurilla Endah Muliatie, Yurilla Endah Yusli Wardiatno Zulkarnain