Claim Missing Document
Check
Articles

ASPEK FASAD BANGUNAN CAGAR BUDAYA YANG MEMPENGARUHI MINAT MASYARAKAT Iffiyah, Khoudiy; Soemardiono, Bambang; Septanti, Dewi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The facade of teh building can affect the public interest in activities around the building. A good building facade can influence people to dare to pass or even stop around the building. Tunjungan as a cultural heritage area, has experienced a phase of lost space which caused a decrease in the intensity of activities on Jalan Tunjungan due to the nonactive frontage. It the importance to understand the facade of the building that is of interest to the community so that the cultural heritage area can develop properly. This study aims to determine the aspects of the facade of cultural heritage buildings that affect the attractiveness and interest of the community in the Tunjungan area. This research uses qualitative phenomenological methods through interview tactics, distributing questionnaires to participants, and observation at the site. This study shows that the aspects that influence people's interest in activities on Jalan Tunjungan are building openings, building shapes, building decorations, building colors and building materials. Facades that attract public interest must maintain uniqueness, aesthetics and classic style to be a community attraction.Abstrak: Bentuk fasad bangunan dapat mempengaruhi ketertarikan masyarakat untuk beraktivitas di sekitar bangunan. Fasad bangunan yang baik dapat mempengaruhi masyarakat untuk berani melintas atau bahkan berhenti di lingkungan sekitar bangunan. Tunjungan sebagai kawasan cagar budaya pernah mengalami fase kawasan lost space yang menyebabkan turunnya intensitas kegiatan di Jalan Tunjungan akibat adanya fasad bangunan yang tidak aktif. Pentingnya pemahaman mengenai fasad bangunan yang diminati oleh masyarakat agar kawasan cagar budaya dapat berkembang dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek fasad bangunan cagar budaya yang mempengaruhi daya tarik serta minat masyarakat di Kawasan Tunjungan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif fenomenologi melalui taktik wawancara dan penyebaran kuesioner terhadap partisipan serta pengamatan langsung pada lokasi penelitian. Penelitian ini menunjukkan bahwa aspek yang mempengaruhi minat masyarakat untuk beraktivitas di Jalan Tunjungan adalah bukaan bangunan, bentuk bangunan, dekorasi bangunan, warna bangunan dan material bangunan. Fasad yang menarik minat masyarakat harus mempertahankan keunikan, estetika dan gaya klasik sehingga dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat. Selain itu penjagaan warna dan material bangunan asli juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
PERKEMBANGAN MORFOLOGI KAWASAN CAGAR BUDAYA DARMO SURABAYA TAHUN 1905-1943 Perkasa, Muhammad Ilham; Soemardiono, Bambang; Santosa, Happy Ratna
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Surabaya City has undergone rapid development characterized by changes in its physical form. A renowned Darmo heritage landscape has been experiencing such things. But none of the research had uncovered the morphological development of Darmo historic landscape. Even if, Darmo is a historic residential area and became the only masterwork in Surabaya by Henri Maclaine Pont, a renowned Dutch architect. Thus, the purpose of this study is to understand the Darmo Area further from the perspective of the area wholeness used in the urban morphological study by identifying the historical stages of morphological development. The strategy used is historical-interpretative which involves data collection methods of archival studies, literature studies, and in-depth interviews with experts. Meanwhile, the method of analysis used is historical diachronic analysis. The results of the study seemingly suggest that the Darmo Area has three major morphological stages, namely the pre and planning period, the development period, and extension. It shows the generative process of the area, and this can be the basis for historic urban landscape management. Hence, these morphological elements should be conserved altogether as urban morphology entities to ensure the unity of the Darmo historic landscape.Abstrak: Kota Surabaya telah mengalami perkembangan yang pesat, ditandai dengan perubahan bentuk fisiknya. Yang menjadi perhatian, kawasan cagar budaya Darmo mengalami hal tersebut. Namun belum ada penelitian yang mengungkap perkembangan morfologi kawasan bersejarah Darmo. Padahal, Darmo merupakan kawasan hunian bersejarah dan menjadi satu-satunya karya di Surabaya oleh Henri Maclaine Pont, seorang arsitek ternama Belanda. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah memahami Kawasan Darmo lebih jauh dari perspektif keutuhan kawasan yang digunakan dalam studi morfologi perkotaan dengan mengidentifikasi tahapan sejarah perkembangan morfologi. Strategi yang digunakan adalah sejarah-interpretatif yang melibatkan metode pengumpulan data studi kearsipan, studi literatur, observasi, dan wawancara mendalam dengan para ahli. Sedangkan metode analisis yang digunakan adalah analisis sejarah diakronik. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kawasan Darmo memiliki tiga tahapan sejarah besar, yaitu periode praperencanaan dan perencanaan, periode pengembangan, dan perluasan. Terlihat proses generatif kawasan dan hal ini dapat menjadi dasar pengelolaan kawasan cagar budaya. Oleh karena itu, elemen-elemen morfologi harus dilestarikan bersama sebagai kesatuan morfologi perkotaan untuk menjamin kesatuan Kawasan Darmo.
HUBUNGAN PLACE IDENTITY DENGAN IDENTITY OF COMMUNITY PADA CO-WORKING SPACE Wulandari, Pristya Any; Soemardiono, Bambang; Faqih, Muhammad
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The continuous development of technology pursues the emergence of co-working, mainly in Surabaya with many enthusiasts, especially startups. Place identity is represented by Koridor Co-working Space. While identity of community by startups is dominated by Z and millennial. It is said that place and user can influence each other. In its application, co-working can accommodate many startups in one location. Co-working needs to express place identity and identity of community as user. Meanwhile startups, in their effort to express identity of community, need more space control. Only a little research has discussed place identity and identity of community that are specific to co-working. Thus this correlational research aims to identify the relationship of place identity and identity of community in co-working. Through post-positivism paradigm and the collected data through observation, documentation, archive and likert-scale questionnaire, data from 67 respondents were analyzed using descriptive statistical analysis. The results show that most startup members consider place identity of Koridor Co-working Space to be unique and very unique. From all aspects identity of community and place identity, two pairs of interconnected were found; education with shape and form of building and income with materials. Thus in this position, the hypothesis can be accepted.Keyword: Co-working space, identity of community, place identity Abstrak: Berkembangnya teknologi berkesinambungan dengan munculnya co-working space terutama di Kota Surabaya dengan banyak peminat, yaitu kelompok startup. Place identity diwakili oleh Koridor Co-working Space. Sementara identity of community diwakili oleh kelompok startup yang didominasi generasi Z dan Y. Diketahui bahwa tempat dan pengguna saling berhubungan. Dalam aplikasinya, co-working space dapat menampung banyak startup dalam satu lokasi. Co-working space perlu memunculkan place identity sekaligus identity of community sebagai penggunanya. Sementara kelompok startup dalam upaya memunculkan identity of community terhalang oleh kendali ruang yang terbatas. Belum banyak penelitian yang membahas tentang konsep place identity dan identity of community yang spesifik pada objek co-working space. Dengan begitu, penelitian correlational research ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi hubungan place identity dengan identity of community pada co-working space. Melalui paradigma post-positivism dan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, arsip dan kuesioner berskala likert, data dari 67 responden dianalisis menggunakan analisa statistik deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas anggota startup menilai place identity Koridor Co-working Space tergolong unik dan sangat unik. Selain itu, dari seluruh sub-variabel identity of community dan place identity yang dihubungan, ditemukan dua pasang yang terbukti berhubungan, yaitu pendidikan dengan bentuk bangunan serta pendapatan dengan material. Dengan demikian, pada posisi ini hipotesis dapat diterimaKata Kunci: Co-working space, identity of community, place identity
Peningkatan Kualitas Walking Tour Kampung Sejarah Peneleh sebagai bagian Pariwisata Berkelanjutan Nugroho, Setyo; Rizqiyah, Fardilla; Sulistyandari, Utari; Soemardiono, Bambang; Kharismawan, Rabbani; Mahendra, Angger Sukma; Ramadhani, Izzah Desta Bastian; Audina, Shafira Zulfa
Sewagati Vol 9 No 2 (2025)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v9i2.2427

Abstract

Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) kampung sejarah Peneleh dibentuk pada tahun 2023 dan memiliki kegiatan utama yakni walking tour. Namun, dalam penerapannya, Pokdarwis belum memiliki media informasi berupa pamflet untuk peserta walking tour. Ditambah lagi, informasi sejarah arsitektur untuk peserta walking tour dirasa masih sangat kurang. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membantu Pokdarwis Peneleh Heritage dalam meningkatkan kualitas kegiatan walking tour kampung sejarah Peneleh melalui tiga metode kegiatan. Pertama, melakukan pemetaan rute dan mengkaji arsitektur bangunan lama sepanjang rute. Kedua, mengadakan kuliah tamu sebagai sharing session. Ketiga, merancang pamflet walking tour. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa kampung Peneleh memiliki kekayaan gaya arsitektur yang beragam, sehingga bisa disusun sebuah walking tour tematik. Sedangkan rancangan pamflet walking tour memetakan fasilitas, obyek yang menarik di sekitar objek amatan utama. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat meningkatkan kualitas walking tour Pokdarwis Peneleh, dan dalam jangka panjang, dapat meningkatkan nilai pariwisata kampung sejarah Peneleh.
Revitalization of Heritage Buildings through Digital Placemaking: A Case Study of the Kebon Rojo Post Office Surabaya Prakasyawardana, Anak Agung Gde Satyananda; Soemardiono, Bambang; Cahyadini, Sarah
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 No 2, 2025
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jadu.v7i2.25499

Abstract

Over time, significant changes in social, economic, and cultural aspects have profoundly influenced the function and meaning of heritage buildings. These buildings often undergo functional transformations while maintaining their historical forms, presenting challenges in preserving their architectural authenticity and historical value. The concepts of digital placemaking and Soft City theory offer potential approaches to support the preservation of heritage buildings, emphasizing community engagement and the revitalization of historical values without compromising physical authenticity. This study employs literature reviews and precedent analyses to explore how digital technology and adaptive design can meet user needs while preserving the cultural and historical significance of buildings. As a case study, the Kebon Rojo Post Office in Surabaya is analyzed through interviews and data synthesis to demonstrate the application of Soft City principles, such as optimizing the balance between open and closed spaces and utilizing digital technology to create interactive experiences. The findings show that the combination of digital placemaking and Soft City principles can produce hybrid spaces that enrich emotional and sensory connections, promote flexibility, and enhance community inclusivity. This approach integrates physical and digital elements to revitalize heritage buildings, keeping them relevant in the modern urban context. The study also highlights digital interventions such as augmented reality, adaptive lighting, and interactive digital platforms as effective tools to strengthen the cultural and historical value of heritage sites. These technologies enable more dynamic and interactive user engagement, breathing new life into heritage buildings without compromising their architectural authenticity in the digital era.
Cultural Resonance: Enhancing Heritage Identity of Spaces with Digital Engagement Kurniawan, Gabriel Joshua; Soemardiono, Bambang; Novianto, Didit
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 No 2, 2025
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jadu.v7i2.25489

Abstract

Heritage buildings serve as vital markers of cultural identity, historical continuity, and collective memory within the urban landscape. Yet in the context of accelerating urban development, many of these sites suffer from declining relevance, physical neglect, and weakening emotional connections with contemporary communities. This study explores the potential of digital placemaking as an innovative approach to revitalize the cultural significance and public engagement of heritage buildings. By integrating digital technologies with architectural space, digital placemaking reimagines these structures as interactive, inclusive, and emotionally resonant environments that bridge past and present. Employing a qualitative research methodology, this study draws from literature reviews, site analysis, community narratives, and design conceptualization to formulate a framework that supports the transformation of underutilized heritage sites into dynamic public spaces. The research highlights the importance of memory, identity, and cultural resonance as central components of revitalization efforts, proposing a layered approach that merges physical preservation with meaningful digital engagement. The outcomes of this study offer both theoretical and practical contributions to the fields of architectural design and heritage conservation, emphasizing the need for interdisciplinary, adaptive, and community-sensitive methods. This approach ensures that heritage buildings remain relevant, accessible, and culturally valuable in contemporary urban life.
Redesain Masjid Al-Mubaroq dengan Metode Partisipatif dalam Rangka Sosialisasi Konsep Bangunan Sehat Soemardiono, Bambang; Setyo Nugroho; Fardilla Rizqiyah; Angger Sukma Mahendra; Rabbani Kharismawan; Utari Sulistyandari
Sewagati Vol 9 No 5 (2025)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v9i5.6108

Abstract

Dengan luasan yang kecil, kegiatan yang dapat ditampung di mushola menjadi terbatas. Selain itu, mushola Al-Mubaroq yang terletak di Sambikerep, Surabaya, ini terdapat beberapa faktor permasalahan yang dapat mengganggu kenyamanan warga seperti kurang baiknya akses menuju mushola, pencahayaan yang kurang memadai, serta penghawaan yang belum maksimal. Sehingga, pengelola ingin mengembangkan mushola ini menjadi masjid namun dengan perencanaan yang baik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini berupa jasa desain (jasa konsultansi) untuk menyusun dokumen teknis desain seperti gambar kerja dan anggaran biaya sebagai acuan dalam pembangunan konstruksinya nanti. Namun, dalam proses penyusunan dokumen ini, masyarakat dilibatkan secara aktif dalam proses desain melalui forum diskusi sekaligus menyosialisasikan konsep bangunan sehat kepada masyarakat melalui desain yang sedang disusun. Selain mendapat dokumen teknis, masyarakat sekitar pengguna masjid juga akan mendapat edukasi mengenai bangunan sehat yang nantinya dapat diterapkan pada hunian mereka.
KONSEP DESAIN BERBASIS NEUROARSITEKTUR UNTUK MENGHADIRKAN NOSTALGIA RUANG Budi Iswara, I Made Bisma; Soemardiono, Bambang; Setijanti, Purwanita
Jurnal Teknik Gradien Vol 18 No 01 (2026): JURNAL TEKNIK GRADIEN (On progress)
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v18i01.1773

Abstract

Penelitian ini berlandaskan pada teori neuroarsitektur yang difokuskan pada peran memori episodik sebagai mekanisme neurokognitif yang membentuk pengalaman dan makna suatu tempat. Melalui kemampuan mental time travel yang dimiliki oleh memori episodik, memungkinkan individu menghadirkan kembali pengalaman masa lalu secara imajinatif dan emosional. Kemampuan ini menjadikan memori episodik memiliki peran penting dalam membentuk keterikatan manusia terhadap suatu tempat, sehingga ingatan tersebut mampu mengonstruksi identitas tempat yang mengalami pelemahan. Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Desa Adat Kuta Bali yang dalam beberapa dekade terakhir mengalami transformasi pesat akibat perkembangan pariwisata secara massa, sehingga memicu terjadinya pergeseran dan pelemahan identitas tempat bagi masyarakat lokal. Sebagai penelitian berbasis perancangan, studi ini bertujuan untuk merumuskan konsep desain untuk membangkitkan kembali identitas tempat yang melemah melalui aktivasi dari memori episodik masyarakat lokal. Metode kualitatif fenomenologi diterapkan untuk menggali pengalaman subjektif masyarakat melalui wawancara secara mendalam, observasi visual terhadapat dokumentasi Kuta tempo dulu dan studi literatur terkait sejarah dan transformasi dari kawasan Kuta. Data selanjutnya ditranslasikan ke dalam domain arsitektur melalui metode domain to domain transfer, sehinggaakumulasi dari memori episodik masyarakat dapat diterjemahkan menjadi strategi desain ruang. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah tujuh konsep nostalgia ruang berbasis pada memori episodik masyarakat yang merepresentasikan visual, auditori dan olfaktori Kuta tempo dulu, sehingga pengalaman ruang dapat memicu keterhubungan emosional yang kuat.
Analisis Ekspresi Kekuasaan dalam Kantor Desa Replika Istana Kepresidenan di Jawa Timur Audina, Shafira Zulfa; Soemardiono, Bambang; Faqih, Muhammad
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 22, No 1 (2024): Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v22i1.82092

Abstract

Architectural activities of rural communities in Indonesia are closely related to local culture and traditions. As part of folk architecture, this activity has led to the phenomenon of village offices replicating the Presidential Palace. This research explores the intentions of the designers of Dadapan Village Office and Kemuningsari Kidul Village Office as replicas of the Presidential Palace to find out the expression of power that they want to communicate. This research uses qualitative methods with the tactics of field observation, in-depth interviews, and literature studies. Dadapan Village Office located in Pacitan Regency has a more complex expression of power than Kemuningsari Kidul Village Office located in Jember Regency. The expression of power intended by the designer of the village office includes the desire to form an identity; as a symbol of splendor; a symbol of wealth; a symbol of authority; a symbol of pride; and a symbol of a community protector.
Strategi Pelestarian Bangunan-Bangunan Lama pada Koridor Heerenstraat Probolinggo Shabri, Sayyidah Rafi Dianya; Soemardiono, Bambang; Cahyadini, Sarah
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 22, No 2 (2024): Arsitektura: Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v22i2.87960

Abstract

One of the Dutch legacies in Probolinggo is the Heerenstraat Corridor. Despite having high historical value, the buildings along this corridor face major challenges in terms of preservation, mainly due to changes that change the characteristics of the corridor as a Dutch heritage. Therefore, this study aims to develop an effective preservation strategy for old buildings on Jalan Suroyo or the Heerenstraat corridor. The research method is to analyze the condition of the building, identify preservation constraints, and formulate a preservation strategy to ensure the sustainability of the buildings and corridor. This study highlights the lack of awareness, changes in building functions, and the absence of detailed regulations that cause problems in building preservation in Heerenstraat Probolinggo. Physical protection is needed to maintain and restore buildings. Various preservation approaches such as preservation, conservation, reconstruction, and adaptation are proposed as steps to preserve old buildings in the Heerenstraat corridor.
Co-Authors Ade Imelda W Br Purba Adyatma, Radya Wafi AF Asri Primastuti Alfin Ragil Budi Perkasa Alifaldo Arnello Angga Dwi Susilohadi Angger Sukma Mahendra Angger Sukma Mahendra Ardianta, Defry Agatha Arie Ranuari Arina Hayati Arina Marta Setya Putri Asri Dinapradipta Atikah Atikah Audina, Shafira Zulfa Ayutaffana, Athifa Pradya Bachtiar, Raditio Badai Samodra, FX Teddy Budi Iswara, I Made Bisma Cahyadini, Sarah Cahyadini, Sarah Choirur Roziqin Darmansjah Tjahja Prakasa Deasy Tuffahati Defiana, Ima Destia Raudha Fatma Dewi Ardit Arin Dewi Septanti Dirthasia Gemilang Putri Eko Budi Santoso Endang Titi Sunarti Erli, Vania Erwin Sudarma Erwindi, Collinthia Fachrurrazi Fachrurrazi Fardilla Rizqiyah Fatimatuzzahro, Putri Ayu Fitri Amalia Ghina Alifia Nabilah Happy Ratna Santosa Hutama, Shinta Fiqi I Gusti Ngurah Antaryama Iffiyah, Khoudiy Ima Defiana Irfan Falih Mahdi Irvansjah, I Irviandy Setyanto Ismail Wahyu Widodo Ivan Gunawan Johan Silas Kapindro Hari Sasmita Kirami Bararatin Krisdianto, Johanes Kurniawan, Gabriel Joshua Lanta Kautsar Akromi Melati Rahmi Aziza Muchlis, Nurfahmi Muhamad Himawan Luthfillah Muhammad Alfreno Rizani Muhammad Faqih Muhammad Ilham Perkasa Muhammad Syafiq Mukhammad Haniv Vairuz Murni Rachmawati Nashrisaf Muhammad Resal Ngurah Antaryama, I Gusti Ni Komang Indra Mahayani Nisa, Gita Khoirin Nisrina Aulia Rahma Noerwasito, Vincentius Totok Novianto, Didit Nungki Meiriya Perkasa, Muhammad Ilham Prakasyawardana, Anak Agung Gde Satyananda Purwanita Setijanti Rabbani Kharismawan Rabbani Kharismawan Rahma Sakinah Ramadhani, Izzah Desta Bastian Rima Dewi Suprihardjo Rimadewi Suprihardjo Rizvanda Ryan Savero Samsul Budi Akmal Satria Hervanda Savitri Retno Kusumastuti Setyo Nugroho Setyo Nugroho Shabri, Sayyidah Rafi Dianya Soebijantoro Soebijantoro Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi Sulistyandari, Utari Sumartinah, Happy Ratna Sumartinah, Happy Ratna Tiara Kartika Rini Utari Sulistyandari Widjaya, Joyce Martha Wulandari, Pristya Any Yostia Muhaimi Yudi Hartono