Claim Missing Document
Check
Articles

Peningkatan Aktivitas Vulkanik Gunung Api Slamet dan Pengaruhnya Terhadap Sistem Panas Bumi Mamay Surmayadi; Hanik Humaida; Cahya Patria; Adjat Sudrajat; Nana Sulaksana; Mega Fatimah Rosana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 3 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3909.142 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i3.87

Abstract

ABSTRAKSejak awal Maret 2014 status aktivitas Gunung Api Slamet di Jawa Tengah dinaikkan dari normal (level I) menjadi waspada (level II) seiring dengan peningkatan jumlah gempa vulkanik. Seismisitas Gunung Api Slamet yang dipantau melalui empat stasiun seismik memperlihatkangempa letusan terekam sebanyak 1.106 kejadian dengan rata-rata 73 kejadian per hari, gempa hembusan terekam sebanyak 6.857 kejadian dengan rata-rata 457 kejadian per hari, sedangkan gempa vulkanik dalam (VA) hanya terekam sebanyak 2 kali selama periode Maret – Agustus 2014. Sumber gempa tersebut berada pada kedalaman antara 1 - 2 km di bawah kawah Gunung Api Slamet sebagai indikasi gempa permukaan. Peningkatan aktivitas magmatik tersebut menghasilkan pelepasan gasCO2 yang berpengaruh terhadap fluida panas bumi yang ditunjukkan dengan terjadinya perubahan keasaman air dari normal menjadi alkalin, pembentukkan bualan gas CO2 pada air panas Pancuran 3 di Baturraden, dan peningkatan saturasi kalsit. Bualan gas CO2 pada air panas Pancuran 3 menjadi indikasi terjadinya proses pendidihan pada temperatur 273° C pada elevasi kedalaman 454 m dibawah permukaan laut. Kondisi ini menjadikan temperatur reservoar menjadi lebih tinggi sebagai indikasi bahwa sistem panas bumi Gunung Api Slamet merupakan sistem panas bumi aktif (active geothermal system) bertemperatur tinggi (high enthalpy).Kata kunci : bualan gas, fluida panas bumi, gempa permukaan, saturasi kalsitABSTRACTSince the beginning of March 2014 the activity status of The Slamet Volcano in Central Java has been declared from normal (level I) to become alert (level II) due tosignificant increase in the number of volcanic earthquakes. The Slamet Volcano seismicity monitored by four seismic stations shows eruption earthquakes as many as 1,106 events with an average of 73 events per day, gas emission earthquakes as many as 6,857 events with an average of 457 events per day, whereas the deep volcanic (VA) earthquake recorded only 2 times during the period of March to August 2014. The hypocentre of these earthquakes was at a depth of 1-2 km below Slamet Volcano crater as an indication of surface earthquakes. Increased magmatic activity resulted in the release of CO2 gas effect on the geothermal fluid indicated by changes in water acidity from normal to alkaline, formation of CO2bubblegas on Pancuran 3 hot springat Baturraden area, and calcite saturation enhancement. The presence of CO2 bubble gas on Pancuran 3 hot springis an indication of a boiling process at the temperature of 273° C at a depth of 454 m below sea level. This condition makes the reservoar temperature becomes higher as an indication that the geothermal system of The Slamet Volcano is an active geothermal systemwith high temperature (high enthalpy).Keywords: bubble gas, geothermal fluid, surface earthquake, calcite saturation
The Effect Of Rainfall Relationship periode 2003 – 2013 Of Groundwater South Jakarta Region Arini Dian; Nana Sulaksana; A. Asseggaf
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i3.301

Abstract

ABSTRAKKebutuhan air bersih di Jakarta sangat meningkat sehingga pemerintah daerah mulai melakukan pengamatan muka airtanah. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis fluktuasi muka airtanah pada AWLR, intensitas curah hujan, dan penampang bawah permukaan pada beberapa buah titik logbor selama tahun 2003 - 2013 di wilayah Jakarta Selatan. Jumlah curah hujan di daerah penelitian berkisar antara 0,2 - 831,4 mm/bulan. Dari data AWLR dapat diketahui ketinggian muka airtanah berkisar antara 9,29 - 13,97 m aml, terdangkal terjadi pada bulan Oktober - Febuari (ketika musim penghujan) dan ketinggian muka airtanah terdalam berkisar antara14,60 - 20,41 m aml terjadi pada bulan Maret - September (ketika musim kemarau). Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya pengaruh hubungan curah hujan dan muka airtanah dengan karakteristik sistem akuifer yang berada pada daerah penelitian sekitarnya khususnya di Jakarta Selatan. Berdasarkan analisis tenggang waktu dan fluktuasi muka airtanah yang dipengaruhi oleh intensitas curah hujan.Serta adanya lapisan akuitar pada penampang geologi dan posisi muka airtanah yang terdapat dibagian atas lapisan akuifer, maka dapat dikatakan bahwa sistem akuifer yang terdapat di daerah penelitian bersifat semi tertekan. Sistem akuifer tersebut pada bagian atasnya merupakan material berbutir halus (akuitar) sehingga airtanah masih memungkinkan untuk bergerak di dalamnya.Kata kunci: airtanah, AWLR, curah hujan, fluktuasi, JakartaABSTRACTThe need for clean water in Jakarta has increased significantly, so the groundwater levels of Jakarta Groundwater Basin need to be researched. This research was conducted by analyzing the fluctuation of the groundwater level using the AWLR data, rainfall intensity, and subsurface sections to several logbor during the year of 2003 - 2013 in South Jakarta area. Rainfall event in the area is in range of 0.2 mm/year up to 831.4 mm/year. From the AWLR data, the highest groundwater level were at 9.29 - 13.97 masl in October - Febuari (during rainy season) and the deepest groundwater level were at 14.60 - 20.41 masl) in March - September (during dry season). Based on the analysis of the timescale and the groundwater level fluctuations that influenced by rainfall, and the aquitard layer in the geology section, and groundwater level exist above the aquifer, so that the aquifer system in this regions is classified as semi depressed aquifer. In this aquifer system, the underlying material is fine grained (aquitard) that allows groundwater moving inside the layer.Keywords: groundwater, AWLR, rainfall, fluctuation, Jakarta
SOSIALISASI MITIGASI BENCANA LONGSOR DAN BANJIR SECARA VIRTUAL DI MASA PANDEMI COVID-19 Nana Sulaksana; Pradnya Paramarta Raditya Rendra; Murni Sulastri
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 3 (2021): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v4i3.35516

Abstract

Indonesia adalah negara kepulauan yang berada pada jalur gunungapi aktif dunia dan garis khatulistiwa. Hal tersebut menjadikan Indonesia memiliki potensi bencana geologi dan bencana hidrometeorologi cukup tinggi. Bencana longsor dan banjir adalah bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Data penelitian menunjukkan bahwa kedua bencana alam ini termasuk dalam daftar teratas bencana alam yang sering terjadi. Jatinangor adalah salah satu kawasan pendidikan yang terletak di kaki Gunung Manglayang dengan pembangunan yang cukup masif, misalnya pembangunan kawasan pemukiman dan pusat perbelanjaan. Kedua hal tersebut dapat menjadi penyebab terjadinya bencana longsor dan banjir, baik di Jatinangor maupun daerah-daerah lain dengan kondisi fisik yang relatif sama di Indonesia. Sebagian masyarakat di Jawa Barat belum teredukasi dengan baik terkait bencana alam dan mitigasi bencana. Di masa pandemi Covid-19 ini, kegiatan sosialisasi ataupun kegiatan lain yang mengumpulkan masyarakat dalam jumlah banyak tidak dapat dilakukan secara langsung di desa-desa. Hal inilah yang melatarbelakangi kegiatan sosialisasi mitigasi bencana dilakukan. Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi mitigasi bencana perlu dilakukan secara virtual menggunakan platform digital dan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) modifikasi kepada masyarakat di beberapa wilayah di Jawa Barat. Tujuannya agar masyarakat lebih sadar dan peduli terhadap kondisi tempat tinggal masing-masing serta lebih teredukasi terkait mitigasi bencana alam. Kegiatan sosialisasi yang dilakukan berjalan baik dan mendapat respon positif dari masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah keikutsertaan masyarakat serta antusiasme selama kegiatan berlangsung. Kegiatan mitigasi bencana direkomendasikan dan perlu terus didukung melalui kolaborasi dan koordinasi berbagai pihak seperti akademisi, bisnis atau industri, masyarakat, pemerintah, media, serta hukum dan regulasi agar program mitigasi bencana di berbagai daerah dapat berjalan dengan baik.
Kendali Tektonika terhadap Morfometri Bentang Alam Gunungapi Sunda, Jawa Barat Nana Sulaksana
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijas.v1i2.1867

Abstract

Sundanese Volcano were built by two geological systems, as reflected by its geomorphologic appearances. First, the system of tertiary sedimentary rocks stratigraphically composed by Subang Formation and successively overlayed by Kaliwangu and Citalang Formations, and Second, the quaternary volcanic rock system. This research aims to find out tectonic control on both systems by analyzing the morphometry features, and the indication of watershed morphology, by the application of the statistical verification. Data were collected through field observation including the measurement of fractures and other geomorphologic features. The Landsat image analysis and digital topographic interpretation have been undertaken to obtain the data on river segment, the direction of lineament, drainage density, bifurcation ratio of river segment, geomorphological index of Vt (high-low ratio of the valley), Vratio (cross-valley ratio), SL (index gradient of the river), Smf (Mountain-front sinuosity), and Facet percentage (Facet face of the mountains).The geomorphologic features were controlled by the tectonic development. General pattern of the azimuth direction of the fracture, the direction of alignment and the river segments in the Tertiary rocks system exhibited the same direction as the general pattern of fracture azimuth, the direction of alignment and direction of river segments in Quaternary volcanic rocks system. The tectonic control on the Tertiary rocks continued to the Quaternary volcanic rocks. Neo-tectonic evolved the Tertiary sedimentary rocks and the Quaternary volcanic rocks systems. The difference value watershed morphometry, as well as the geomorphological index values on Tertiary sedimentary rocks and Quaternary volcanic rocks demonstrated that the intensity of tectonics differ significantly in both groups. It is presumed that the tectonics in the Quaternary system was more active than the Tertiary system. In conclusion, the Tertiary and Quaternary rocks were influenced by neo-tectonics manifested in a variety of geomorphological features such as typical geomorphic depression (wedging), identifying landslides in both Tertiary and Quaternary rocks systems. The evidence might be important in analyzing the occurances of the landslide in Purbaleunyi highway connecting Jakarta and Bandung which are strongly presumed to be closely related to the neo-tectonic activities. Similarly, the attention should be drawn to anticipate the acute landsliding in the planned Cileunyi-Cirebon highway connecting Bandung and Cirebon.****Gunungapi Sunda tersusun atas dua sistem geologi yang dicerminkan oleh kenampakan geomorfologinya yaitu sistem batuan sedimen tersier yang secara stratigrafi tersusun oleh Formasi Subang dan di atasnya secara tidak selaras ditutupi Formasi Kaliwangu dan Formasi Citalang serta sistem batuan vulkanik kuarter. Metode penelitian dengan analisis variabel morfometri berupa Daerah Aliran Sungai dan Indeks Geomorfologi, serta verifikasi uji statistik. Pengambilan data dilakukan dengan melalui penelitian lapangan meliputi pengukuran azimut kekar, serta penelitian geologi lapangan lainnya. Sementara analisis melalui citra Landsat dan dijital topografi dilakukan untuk mendapatkan data arah segmen sungai, arah kelurusan, kerapatan aliran, nisbah percabangan sungai, indeks geomorfologi Vf (Perbandingan tinggi rendah lembah), Vratio (Rasio penampang lembah), SL (Indeks gradien sungai), Smf (Sinusitas muka pegunungan/ Mountain-front sinusosity), dan Facet % (Facet muka pegunungan). Pola umum azimut kekar, arah kelurusan dan arah segmen sungai pada sistem batuan sedimen Tersier memiliki arah yang sama dengan pola umum azimut kekar, arah kelurusan dan arah segmen sungai pada sistem batuan vulkanik Kuarter. Kendali tektonika yang signifikan pada batuan Tersier berlanjut hingga ke Kuarter. Dengan demikian neotektonik berkembang pada sistem batuan sedimen Tersier dan sistem batuan vulkanik Kuarter. Perbedaan nilai morfometri DAS, serta nilai indeks geomorfologi pada sistem batuan sedimen Tersier dan sistem batuan vulkanik Kuarter menunjukan bahwa intensitas tektonik pada kedua kelompok batuan berbeda. Dapat ditenggarai bahwa tektonika pada sistem Kuarter lebih aktif dari pada sistem Tersier. Secara keseluruhan batuan yang berumur Tersier dan Kuarter dipengaruhi oleh neotektonik yang dicirikan oleh berbagai fenomena geomorfologi berupa morfologi khas/ unik dan adanya zona depresi (wedging) yang dapat diidentifikasi serta longsor yang kerap terjadi pada penyebaran kedua sistem terebut. Nampaknya kejadian longsor pada bahu jalan tol Purbaleunyi tidak terlepas dari gejala neotektonik ini, selanjutnya untuk menjadi perhatian dalam perencanaan jalan tol Cileunyi - Cirebon yang akan datang.
The Evolution of Gajahmungkur Paleovolcano, Wonogiri, Central Java, as A Reference to Revize the Terminology of “Old Andesite Formation” Ildrem Syafri; A. Sudradjat; Nana Sulaksana; G. Hartono
Indonesian Journal on Geoscience Vol 5, No 4 (2010)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.567 KB) | DOI: 10.17014/ijog.5.4.263-268

Abstract

DOI: 10.17014/ijog.v5i4.109Gajahmungkur is a Tertiary paleovolcano located in Wonogiri Regency, Central Java. The volcanic product of this volcano are widely distributed and composed of important elements of the stratigraphic sequence in the Southern Mountain area. The volcanic products so far have been simply classified as “Old Andesite Formation” which apparently is not in line with the stratigraphic code and the Indonesian Stratigraphic Code. The description of paleovolcano therefore might contribute to the revision of the “Old Andesite Formation”. The evolution of Gajahmungkur paleovolcano commenced with the formation of a submarine volcano, and then at the second phase a composite volcano emerged above sea level forming a volcano island. The third phase was the self destruction resulting in a formation of a caldera. Pumiceous components dominated the products. At the fourth phase, the activities began to decline producing more basaltic rocks. The statistical analysis of the interrelation between various physical properties of the clastic rocks leads to the identification of volcanic facies and the location of the paleovolcano vent.
Morphotectonics of Mount Rendingan Area Related To the Appearances of Geothermal Surface Manifestations Dewi Gentana; Nana Sulaksana; Emi Sukiyah; Euis Tintin Yuningsih
Indonesian Journal on Geoscience Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.6.3.291-309

Abstract

DOI: 10.17014/ijog.6.3.291-309The researched area is situated at Mount Rendingan and its surrounding area, Lampung Province, the southern part of Sumatra Island. It has a big potential of geothermal resource in line with a unique graben like bowl landform and geothermal surface manifestations. This research was carried out using remote sensing and field observation methods. The remote sensing method used topography and Shuttle Radar Topography Mission -Digital Elevation Model (SRTM-DEM) maps to analyze morphotectonic attributes, and the result was validated by morphotectonic data analysis from field observation. The purpose of this research is to evaluate the relation between morphotectonic and the appearances of geothermal surface manifestations. The interpretation of SRTM-DEM and topographic maps are supported by morphotectonic analyses,which indicate that the geothermal surface manifestations in this area are controlled by tectonic activity. It has various levels of lift which are shown by the values of valley height weight ratio (Vf) from 0.16 to 3.31 and the values of mountain front sinuosity (Smf) from 1.05 to 2.09. The morphotectonic characteristics can describe the geological structure activity levels which are reflected in the landform and its rock. The volcanic areas consist of igneous rocks which have small primary permeabilities. However, the development of geological structure can cause fractures in the rock that step in as a medium for passing geothermal fluid from depth to surface. They are found on the fault intersection zone system trending NE-SW and NW-SE, NNE-SSW and NNW-SSE, and WE system directions that indicate the fault system is correlated with the appearances of geothermal manifestations.
The Determination of Volcanic Characteristics Based on Deuterium and Oxygen-18 Isotope Compositions: A Case Study at Dieng Plateau, Central Java Priatna Priatna; Nana Sulaksana; Johanes Hutabarat; Iyan Haryanto
Indonesian Journal on Geoscience Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.7.2.201-213

Abstract

DOI:10.17014/ijog.7.2.201-213To find out volcanic characteristics, a geochemical approach can be used, one of which is through the measurement of deuterium and oxygen-18 isotopes from condensate and crater water samples. In this study, Dieng Plateau in Central Java was chosen, because it has a wide spread of fumarole fields and crater water. In addition, research in the Dieng Plateau is very useful in the management of geological-based tourism and geopark development in the future. Results of isotope analysis in Candradimuka Crater show the average number of isotope deuterium is δD – 500/00 and isotope oxygen-18 is δ18O –30/00 which produce the value of the mixing fraction of f 18O = 47.11%. This figure is the highest isotope number compared to other craters on the Dieng Plateau. The high value of the isotope-18 mixing fraction is supported by a strong plume from three vents in Candradimuka. Meanwhile, the results of crater water isotope tests obtained the highest results in Sikidang Crater with the value of the deuterium isotope is δD = – 10.300/00 and the isotope oxygen-18 is δ18O = 6.570/00 which are in the metamorphic water area from the mixing of magmatic processes with surface meteoric water. Based on the deuterium isotope approach with oxygen-18 crater water and fumarole condensate supported by subsurface temperature data, most of the Dieng Plateau has magmatic-hydrothermal characteristics, except Candradimuka Crater which belongs to the magmatic group. 
Analisis Teknik dan Tekno Ekonomi Pengusahaan Minyak Kayu Putih sebagai Alternatif Pasca Panen Skala Produksi Desa Cikembang Kecamatan Kertasari Andis Priswantoro; Nana Sulaksana; Cipta Endyana; Anggoro Tri Mursito
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 38, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v38i2.6591

Abstract

Tujuan penelitian untuk menganalisis kelayakan pengusahaan penyulingan minyak kayu putih (MKP) di Desa Cikembang apakah dapat memberikan alternatif pasca panen dengan memberikan kontribusi ekonomi skala produksi. Mesin penyulingan MKP terpasang dengan sistem steam/uap di Kecamatan Kertasari memiliki standar peralatan mesin penyulingan yang dapat mendukung MKP bermutu sesuai SNI. Distilasi skala laboratorium dihasilkan tetesan pertama pada 3 jam pertama. Warna jernih sesuai spesifikasi warna standar minyak atsiri kayu putih berwarna jernih, untuk bau minyak yang dihasilkan khas bau kayu putih dan bobot jenis 0.913 g/ml masuk dalam spesifikasi standar rentang bobot jenis yang dipersyaratkan 0,900 – 0,930 g/ml. Analisis tekno ekonomi ditunjukkan bahwa pengusahaan MKP layak dijalankan dengan parameter dengan beberapa parameter yaitu NPV sebesar Rp. 323.302.615,-; nilai IRR: 22.5% dan pay back period (PB) 6.31 tahun atau 76 bulan. Sesuai analisis sensivitas, pengusahaan MKP tersebut sangat sensitif terhadap parameter menurunnya jumlah produksi bahan baku MKP yaitu daun tanaman kayu putih.
ANALISIS ZONASI LAHAN USAHA TAMBANG MENGGUNAKAN METODE K-MEANS CLUSTERING BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFI Muhammad Lutfi; Emi Sukiyah; Nana Sulaksana
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 15, No 1 (2019): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi Januari 2019
Publisher : Puslitbang tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1189.238 KB) | DOI: 10.30556/jtmb.Vol15.No1.2019.978

Abstract

Pembangunan berbagai sektor perekonomian di Indonesia memanfaatkan setiap ruang yang memberi dampak positif dan negatif. Perencanaan pembangunan Daerah Tingkat II yang disesuaikan dengan karakteristik, potensi dan kebutuhan daerahnya memanfaatkan sumberdaya mineral yang ada secara optimal. Oleh karena itu perlu dibuat suatu zonasi kawasan pertambangan, dengan pendekatan analisis spasial dan mempertimbangkan beberapa parameter agar tidak terjadi tumpang tindih dengan sektor lain. Penentuan zonasi lahan usaha tambang telah banyak dilakukan, di antaranya menggunakan metode statistik K-Means Clustering yang berbasis sistem informasi geografi (SIG). K-Means Clustering adalah metode pengujian pengelompokkan potensi bahan tambang di satu wilayah berdasarkan kriteria keruangan (spasial) yang mengacu kepada karakteristik bukan keruangan (non-spasial). Hasil analisis menunjukkan bahwa zonasi kawasan pertambangan dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yaitu kelompok 1 dengan persentase 60,99%, kelompok 2 sebesar 20,63% dan kelompok 3 sebesar 16,38%. Metode ini dapat digunakan untuk memilah suatu daerah yang berpotensi bahan tambang untuk dijadikan lahan usaha tambang serta dapat dialokasikan untuk suatu Wilayah Pertambangan (WP).
KARAKTERISTIK KESTABILAN LERENG DAERAH JATIGEDE KABUPATEN SUMEDANG, PROVINSI JAWA BARAT BERDASARKAN ANALISIS KINEMATIK Sofyan Rachman Idris; Dicky Muslim; Nana Sulaksana; M. Burhannudinnur
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 15, No 2 (2019): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi Mei 2019
Publisher : Puslitbang tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.315 KB) | DOI: 10.30556/jtmb.Vol15.No2.2019.1009

Abstract

Daerah penelitian secara administratif berada di Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan sudut pandang geologi, daerah Jatigede memiliki beberapa permasalahan yang timbul akibat kondisi geologi daerah tersebut yaitu berupa pengaruh keberadaan struktur geologi yang berhubungan dengan stabilitas maupun keruntuhan lereng. Untuk dapat mengidentifikasi tipe keruntuhan lereng batuan, dapat dilakukan analisis kinematik menggunakan metode scanline sampling. Penelitian ini dibagi menjadi 15 lokasi scanline sampling. Pada penelitian, dilakukan juga perhitungan uniaxial compressive strenght (UCS) dan rock quality designation (RQD) pada lereng tumpuan barat Bendungan Jatigede. Hasil analisis kinematik mendapatkan potensi tipe keruntuhan baji pada lereng scanline (SL) 1, 4 – 11 sedangkan pada lereng SL 2 dan 3 tidak memenuhi syarat keruntuhan baji serta didapatkan kualitas massa batuan (RQD) sedang-sangat baik serta penentuan nilai UCS yang menunjukan kekuatan material batuan yang lemah.
Co-Authors A. Asseggaf A. Sudradjat A. Sudradjat ACHMAD RIFAI Achmad Sjafrudin, Achmad Adjat Sudrajat Adjat Sudrajat Agoes Loeqman Agus W Oscar Aliyuddin Jamil Andi Makawaru Yasin, Andi Makawaru Andis Priswantoro Ando, Ferry Anggito Saputra Anggoro Tri Mursito Arini Dian Asep Nursalim, Asep Bombom Rachmat Suganda, Bombom Rachmat Boy Yoseph Cahya Sunan Sakti Syah Alam Brilian, Ciria Humanis Budi Muljana Burhanidunnur, Muhammad Cahya Patria Cipta Endayana Cipta Endyana Dadan Wildan, Dadan Daliman, Shaparas Binti Denny Lumban Raja Dewandra Bagus Eka Putra Dewandra Bagus Eka Putra, Dewandra Bagus Eka Dewi Gentana Dicky Muslim Djapani, Yuspian Dudi Nasrudin Usman Dwi Putranto Waloeyo Dyah Ayu Setyorini Emi Sukiyah Euis Tintin Yuningsih Fachrur Reza Assegaff Febri Hirnawan Febri Hirnawan Febri Hirnawan Fikri Abdulah, Fikri G. Hartono G. Hartono Hanik Humaida Hartono, G. Helman Hamdani Hendarmawan Hendarmawan HS, Karyono Ildrem Syafri Imam Santosa Indrakususma, Riko Ardiansyah Indrakususma, Riko Ardiansyah Inu Zaini Yasir -, Inu Zaini Yasir Isandarsyah, Teuku Yan Waliana Muda Iskandarsyah, Teuku Y. M. W. Iwan Nursahan Iyan Haryanto Jamal Jamal Jamal Jamal Johanes Hutabarat Johanes Hutabarat Kamaruddin, Hashari Kamaruddin, Hashari Karyono HS Khoirullah, Nur M. Nursiyam Barkah, M. Nursiyam Mamay Surmayadi Mega Fatimah Rosana Mochamad Aufar Muttaqin Mohamad Sapari Hadian Mudiarsono Mudiarsono Muhammad Agil Prasetyo Muhammad Burhannudinnur Muhammad Kurniawan Alfadli Muhammad Lutfi Muhammad Tobibi Pratama Pohan Murni Sulastri Murni Sulastri Murni Sulastri Murni Sulastri Murni Sulastri Muttaqin, Mochamad Aufar Novi Triany Nurasa , Heru Nurohim, Dede Nursahan, Iwan Nursahan, Iwan Oscar, Agus W Oscar, Agus W P Paramarta Raditya Rendra Persulessy, Janeth Angel Pradnya P. Raditya, Pradnya P. Pradnya Paramarta Raditya Rendra Pradnya Raditya Rendra, Pradnya Raditya Priatna Priatna Priatna, Priatna Priatna, Priatna Princessca, Channia Priswantoro, Andis Andis Puguh Setiyanto, Puguh Rendra, P Paramarta Raditya Rita Yulianti, Rita Rizki Satria Rachman Salsabila, Unik Hanifah Saputra, Adang Setyorini, Dyah Ayu Sipahutar, Sumahang R. Sofyan Rachman Idris Sri Wahyuni Sudradjat, A. Suherman Dwi Nuryana Suherman Dwi Nuryana Sulastri, Murni Syamsul Irham, Syamsul T Yan Waliana T Yan Waliana, T Yan Teuku Yan Waliana Muda Iskandarsyah Tri Mursito, Anggoro Anggoro Trisnadiansyah, Mochamad Ridfan Vijaya Isnaniawardhani Waliana, Teuku Yan Wening Sulistri Winantris Winantris Yoga Andriana Sendjaja Yudhi Listiawan Yuniarti Yuskar Yuniarti Yuskar, Yuniarti Zakia Lukman Zufialdi Zakaria