Pada tahun 2021 produksi ikan lele di Indonesia mencapai 1.04 ton dan ekspor ikan lele mencapai 2.520 ton (Statistik KKP, 2021). Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi adalah melalui sistem budi daya secara intensif. Sehingga penerapan intensifikasi budi daya rentan terhadap serangan penyakit dan dapat menimbulkan kerugian ekonomi (Ulkhaq et al., 2014). Hal ini sesuai dengan pernyataan Swann dan White (1984) dalam Muslikha et al., (2016), Ikan lele yang terinfeksi A.hydrophila memiliki banyak gejala yang berbeda. Ini berkisar dari kematian mendadak pada ikan sehat kurangnya nafsu makan, berenang kelainan, insang pucat, kembung penampilan, dan kulit ulserasi. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 29 Juli - 14 September 2024 yang berlokasi di Balai Pengujian Kesehatan Ikan dan Lingkungan Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, Serang, Banten. Metode pengambilan data yang digunakan pada saat penelitian yaitu menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Menunjukkan bahwa sampel dengan kode kontrol memiliki hasil positif pada organ hati dan ginjal serta pada kode 108 hasil positif terdapat pada organ otot dengan hasil karakterisasi berupa bakteri Gram negatif, bersifat beta (β) hemolisa, berbentuk basil pendek berwarna merah muda, bersifat motil, positif rimmler shotts, oksidase positif, katalase positif, tumbuh pada NaCl 0,5% dan 3%, dan bersifat fermentatif. Ikan lele (Clarias gariepenus) yang terinfeksi A.hydrophila memiliki gejala klinis,dan A.hydrophila yang menginfeksi ikan lele setelah diuji biokimia menghasilkan karakteristik berupa bakteri Gram negatif, bersifat beta (β) hemolisa, berbentuk basil pendek berwarna merah muda, bersifat motil, positif rimmler shotts, oksidase positif, katalase positif, tumbuh pada NaCl 0,5% dan 3%, dan bersifat fermentatif