Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Studi Etnomedisin Tumbuhan Obat Untuk Pengobatan Pasca Persalinan di Desa Tanjung Harapan Lampung Tengah Riza Dwiningrum; Mida Pratiwi; Yenny Marthalena; Etik Purwanti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1935

Abstract

Etnomedisin merupakan ilmu yang mempelajari pengobatan dan keterampilan meracik obat tradisional berdasarkan budaya lokal masyarakat. Masyarakat di Desa Tanjung Harapan Kecamatan Anak Tuha Kabupaten Lampung Tengah masih menggunakan pengobatan tradisional untuk pasca persalinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis ramuan dan tumbuhan obat, bagian tumbuhan obat serta cara pemanfaatan tumbuhan obat pasca persalinan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah snowball sampling. Berdasarkan hasil wawancara dengan 12 informan didapatkan hasil bahwa terdapat 13 jenis ramuan dan 25 jenis tumbuhan obat bahan penyusun ramuan pasca persalinan dengan presentase ramuan tertinggi yaitu jamu beras kencur dan kunyit asam masing-masing dengan persentase 23 %, tumbuhan yang memiliki persentase tertinggi sebagai bahan penyusun ramuan obat pasca persalinan adalah jahe dengan persentase sebesar 12,24 %. Bagian tumbuhan obat yang paling sering digunakan yaitu daun dengan persentase 36%. Cara pemanfaatan yang paling banyak digunakan dengan cara diminum dengan persentase 60%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat 13 jenis ramuan dan 25 jenis tumbuhan obat bahan penyusun ramuan yang digunakan untuk pengobatan pasca persalinan oleh masyarakat di Desa Tanjung Harapan Lampung Tengah.
Uji Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) Dengan Daun Kemangi (Ocimum x africanum L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Riza Dwiningrum; Wina Safutri; Mida Pratiwi; Lintang Sevira
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2038

Abstract

Dental caries infection is one of the most common dental health problems and is caused by the activity of Streptococcus mutans bacteria. Treatment typically involves antibiotics, but irrational use of antibiotics can lead to resistance. Therefore, the development of natural-based treatments is needed. One of the plants utilized for this purpose is bay leaf (Syzygium polyanthum) and basil leaf (Ocimum × africanum). This research objective is to examine the antibacterial activity of the combination of bay leaf and basil leaf extracts against the growth of Streptococcus mutans. The research is a quantitative experimental laboratory study. The bay and basil leaves were extracted using maceration with 96% ethanol as the solvent, followed by phytochemical screening. Antibacterial testing toward Streptococcus mutans was conducted using the disc diffusion method with concentration ratios of 50%:50%, 60%:40%, and 70%:30%. Phytochemical screening of both extracts revealed the presence of flavonoids, saponins, tannins, and alkaloids. The results of the antibacterial test showed that the combination of bay leaf and basil leaf extracts exhibited antibacterial activity, indicated by the formation of clear zones around the paper discs, with average inhibition zone diameters of 6.15 mm (PI: 50%:50%), 8.8 mm (PII: 60%:40%), and 9.47 mm (PIII: 70%:30%), categorized as moderate activity. Based on a One-Way ANOVA test, a significance value of 0.000 (<0.05) indicated a significant difference among the different extract concentrations in inhibiting Streptococcus mutans. Further analysis using Tukey’s HSD test showed that the PIII treatment (70%:30%) differed significantly compared to the other treatment groups. In conclusion, the combination of bay leaf and basil leaf extracts has potential as an antibacterial agent against the growth of Streptococcus mutans.  
Formulasi Dan Uji Mutu Fisik Sediaan Salep Ekstrak Daun Salam (Syzygium Polyanthum) Sebagai Antibakteri Staphylococcus Aureus Riza Dwiningrum; Vicko Suswidiantro; Wina Safutri; Rolinia Dina Marsela
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2107

Abstract

Infeksi menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling umum ditemui. Infeksi disebabkan oleh mikroorganisme yang masuk kedalam tubuh seperti bakteri Staphylococcus aureus. Pengobatan infeksi dapat dilakukan dengan menggunakan antibiotik, namun penggunaan antibiotik dapat menyebabkan resisten. Maka diperlukan alternatif pengobatan dengan menggunakan bahan alami seperti daun salam (Syzygium polyanthum) yang dibuat dalam sediaan salep. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri sediaan salep ekstrak daun salam tehadap bakteri Staphylococcus aureus. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan metode difusi cakram. Hasil uji mutu fisik dari ketiga formulasi menunjukkan bahwa pada uji organoleptis, uji daya lekat, uji daya sebar, uji daya proteksi dan uji pH sudah memenuhi standar sediaan salep, tetapi pada uji homogenitas didapatkan hasil bahwa ketiga formulasi tidak homogen. Hasil penelitian aktivitas antibakteri pada sediaan salep ekstrak daun salam konsentrasi 30% sebesar 3,30 mm yang diketegorikan lemah, konsentrasi 45% sebesar 4,10 mm yang dikategorikan lemah dan konsentrasi 60% sebesar 4,95 mm juga dikategorikan lemah. Hasil uji statistik yaitu Kruskall-Wallis didapatkan nilai sig.<0,05 yang berarti terdapat perbedaan antara kelompok uji. Uji lanjutan dilakukan dengan menggunakan uji Dunn’s test dan didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kontrol negatif dengan kontrol positif dan formulasi 3, sedangkan kontrol positif berbeda nyata dengan formulasi 3. Ketiga formulasi sediaan salep ekstrak daun salam mempunyai mutu fisik yang memenuhi standar sediaan salep dan mempunyai potensi dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Body Scrub Kombinasi Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp. dan Beras Putih (Oryza sativa L. ) Sebagai Antioksidan Riza Dwiningrum; Mida Pratiwi; Vicko Suswidiantoro; Clarissa Helmavicha Amanda
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2247

Abstract

Body scrub is a cosmetic that acts as an exfoliator, which has the ability to remove dead skin cells and provide protection to the skin from free radical attacks. One of the natural ingredients that can be used as raw material for body scrub is bay leaf (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp) and white rice (Oryza sativa L.) with flavonoids, tocopherols, and tocotrienols that act as natural antioxidants. The study purpose was: This study aims to determine the physical quality characteristics and antioxidant activity of bay leaf and white rice extract body scrub preparations using UV-Vis spectrophotometry. Materials and methods. The method used in the study was experimental in the laboratory by making three formulations of body scrub concentrations FI (3%,10%), FII (6%,10%), and FIII (9%,10%). Results: The results of the study stated that the three formulas met the requirements of the physical quality test, but did not meet the protective power test and the preparations had different antioxidant values, where the best formula that had a very strong antioxidant activity value was in formula III with an IC50 value obtained of 45.452, which was included in the very strong category. Conclusions. The research conducted is expected to be an initial reference for further researchers to conduct pharmacological activity tests such as antibacterial or anti-inflammatory in vivo to support the further benefits of the preparations made.
Pengaruh Edukasi Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Mengenai Pemutih Kulit Badan Pada Siswi SMK Widya Yahya Gading Rejo Regita Aulia Safitri; Riza Dwiningrum; Mida Pratiwi; Yenny Marthalena
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2527

Abstract

The large number of dangerous cosmetic products on the market and the low level of knowledge among teenagers regarding skin whitening products mean that the use of skin whitening products requires an understanding of the ingredients used in a product and an awareness of the risks of harmful effects. The aim of this study is to analyze the effect of education on knowledge and attitudes regarding skin whitening products among female students at SMK Widya Yahya Gading Rejo. The method used in this study is a quantitative method employing a quasi-experimental non-equivalent control group design. The study sample consists of 103 respondents from SMK Widya Yahya Gading Rejo, divided into two groups: the treatment group and the control group. The results of the study showed that the percentage of knowledge in the treatment group before education (pre-test) was 82.7% (good category) and after education (post-test) was 94.2% (good category). The percentage of attitudes in the treatment group before education (pre-test) was 98.1% (good category) and after education (post-test) was 100% (good category). The conclusion of this study is that there is an effect of education on knowledge and attitudes regarding skin whitening products among female students at SMK Widya Yahya Gading Rejo with a p-value >0.001. It is hoped that this research will provide information and knowledge to the public and institutions, as well as serve as a scientific reference, particularly in the field of pharmacy.
Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Lotion Dari Ekstrak Daun Sukun (Artocarpus altilis) Sebagai Antioksidan Nurul Fatonah; Riza Dwiningrum; Wina Safutri; Afi Sania Rosanti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2826

Abstract

Radikal bebas yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada kulit. Kerusakan pada kulit akibat radikal bebas dapat dihambat oleh senyawa antioksidan. Untuk menjaga kesehatan kulit dapat dilakukan dengan menggunakan produk kosmetik salah satunya lotion yang dapat menangkal radikal bebas. Daun sukun ( Artocarpus altilis) diketahui mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, tanin, flavonoid, steroid, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis formula dan evaluasi sediaan lotion dari ekstrak daun sukun ( Artocarpus altilis) sebagai antioksidan. Metode penelitian ini secara kuantitatif dengan model penelitian eksperimental. Analisis data dilakukan dengan Microsoft Excel dan SPSS uji One Way ANOVA. Hasil dari penelitian ini adalah sediaan lotion ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) pada F1(6%), F2 (8%) dan F3 (10%) memenuhi persyaratan uji evaluasi fisik, yaitu organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas, tipe emulsi, dan uji stabilitas dengan metode Cycling Test , yang menunjukkan bahwa formula ketiga stabil secara karakteristik fisik. Nilai IC 50 pada F1 (6%) sebesar 37,73 ppm, F2 (8%) sebesar 36,46 ppm, dan F3 (10%) sebesar 32,72 ppm, formula ketiga memiliki kategori aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Berdasarkan uji statistik One Way ANOVA dan uji lanjut Post Hoc Tukey , terdapat perbedaan signifikan antar rumus terhadap nilai IC 50 dengan nilai p-value <0,05. Kesimpulan dari penelitian ini sediaan lotion dari ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) dapat berfungsi sebagai antioksidan untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas dan F3 (10%) merupakan formula terbaik. Kata Kunci: Antioksidan, daun sukun, DPPH, lotion evaluasi, Radikal bebas Radikal bebas yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan kulit. Kerusakan tersebut dapat dicegah dengan senyawa antioksidan. Untuk menjaga kesehatan kulit, produk kosmetik seperti losion dapat digunakan untuk menangkal radikal bebas. Daun sukun (Artocarpus altilis) diketahui mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, tanin, flavonoid, steroid, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis formula dan evaluasi sediaan losion berbahan ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) sebagai antioksidan. Metode penelitian ini bersifat kuantitatif dengan model penelitian eksperimental. Analisis data dilakukan menggunakan Microsoft Excel dan SPSS dengan uji One Way ANOVA. Hasil penelitian ini adalah sediaan losion ekstrak daun sukun ( Artocarpus altilis) pada F1(6%), F2 (8%) dan F3 (10%) memenuhi syarat uji evaluasi fisik yaitu organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas, jenis emulsi, dan uji stabilitas menggunakan metode Cycling Test yang menunjukkan bahwa ketiga formula stabil secara fisik. Nilai IC 50 untuk F1 (6%) sebesar 37,73 ppm, F2 (8%) sebesar 36,46 ppm, dan F3 (10%) sebesar 32,72 ppm. Ketiga formulasi tersebut dikategorikan memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat. Berdasarkan uji statistik One Way ANOVA dan uji lanjut Post Hoc Tukey terdapat perbedaan yang signifikan antar formula pada nilai IC 50 dengan p-value < 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sediaan lotion dari ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) dapat berfungsi sebagai antioksidan untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas dan F3 (10%) merupakan formula terbaik. Kata kunci: Antioksidan, daun sukun, DPPH, evaluasi losion, radikal bebas
Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Lotion Dari Ekstrak Daun Sukun (Artocarpus altilis) Sebagai Antioksidan Nurul Fatonah; Riza Dwiningrum; Wina Safutri; Afi Sania Rosanti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2829

Abstract

Radikal bebas yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada kulit. Kerusakan pada kulit akibat radikal bebas dapat dihambat oleh senyawa antioksidan. Untuk menjaga kesehatan kulit dapat dilakukan dengan menggunakan produk kosmetik salah satunya lotion yang dapat menangkal radikal bebas. Daun sukun (Artocarpus altilis) diketahui mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, tanin, flavonoid, steroid, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis formula dan evaluasi sediaan lotion dari ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) sebagai antioksidan. Metode penelitian ini secara kuantitatif dengan model penelitian eksperimental. Analisis data dilakukan dengan Microsoft Excel dan SPSS uji One Way ANOVA. Hasil dari penelitian ini adalah sediaan lotion ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) pada F1(6%), F2 (8%) dan F3 (10%) memenuhi persyaratan uji evaluasi fisik, yaitu organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas, tipe emulsi, dan uji stabilitas dengan metode Cycling Test, yang menunjukkan bahwa ketiga formula stabil secara karakteristik fisik. Nilai IC50 pada F1 (6%) sebesar 37,73 ppm, F2 (8%) sebesar 36,46 ppm, dan F3 (10%) sebesar 32,72 ppm, ketiga formula memiliki kategori aktivitas antioksidan sangat kuat. Berdasarkan uji statistik One Way ANOVA dan uji lanjut Post Hoc Tukey, terdapat perbedaan signifikan antar formula terhadap nilai IC50 dengan nilai p-value <0,05. Kesimpulan dari penelitian ini sediaan lotion dari ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) dapat berfungsi sebagai antioksidan untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas dan F3 (10%) merupakan formula terbaik. Keywords: Antioksidan, daun sukun, DPPH, evaluasi lotion, Radikal bebas Excessive free radicals can cause skin damage. Such damage can be prevented by antioxidant compounds. To maintain healthy skin, cosmetic products such as lotions can be used to counteract free radicals. Breadfruit leaves (Artocarpus atlitis) It is known to contain active compounds such as alkaloids, tannins, flavonoids, steroids, and saponins, which have the potential to act as antioxidants that can ward off free radicals. This study aims to analyze the formula and evaluation of lotion preparations made from breadfruit leaf extract (Artocarpus altilis) as an antioxidant. This research method is quantitative with an experimental research model. Data analysis was carried out using Microsoft Excel and SPSS test One Way ANOVA. The results of this study are the preparation of breadfruit leaf extract lotion (Artocarpus altilis) in F1(6%), F2 (8%) and F3 (10%) fulfilled the physical evaluation test requirements, namely organoleptic, homogeneity, pH, spreadability, adhesive power, viscosity, emulsion type, and stability test using the method Cycling Test, which shows that the three formula are physically stable. The IC50 value for F1 (6%) was 37.73 ppm, F2 (8%) was 36.46 ppm, and F3 (10%) was 32.72 ppm. All three formulations were categorized as having very strong antioxidant activity. Based on statistical tests One Way ANOVA and further testing Post Hoc Tukey, there is a significant difference between formula on IC50 value with p-value <0.05. The conclusion of this study is that the lotion preparation from breadfruit leaf extract (Artocarpus altilis) can function as an antioxidant to protect the skin from damage caused by free radicals and F3 (10%) is the best formula. Keywords: Antioxidant , breadfruit leaf, DPPH, lotion evaluation, free radicals
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Clay Mask Ekstrak Daun Kelengkeng (Dimocarpus longan Lour.) Sebagai Antioksidan Dengan Metode 1,1-Difenil-2-Pikrihidazil (DPPH) Riza Dwiningrum; Vicko Suswidiantoro; Mida Pratiwi; Vera Tri Anjani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2866

Abstract

Clay mask is a topical preparation designed to maintain skin hydration while providing protection against oxidative stress induced by free radicals. Longan leaves (Dimocarpus longan Lour.) are known to contain flavonoid compounds that function as natural antioxidants, making them a potential active ingredient in clay mask formulations. The study purpose was: This study aimed to evaluate the physical quality characteristics and antioxidant activity of clay mask preparations containing longan leaf extract using UV-Vis spectrophotometry. Materials and methods. An experimental method was employed, involving the formulation of three clay mask variants with extract concentrations of F1 (5%), F2 (10%), and F3 (15%). Results: The results demonstrated that all formulations met the physical quality standards. Antioxidant activity varied among the formulas, with F3 showing the highest activity, indicated by an IC₅₀ value of 44.046 ppm, categorized as very strong. Conclusions. This study is expected to serve as a preliminary reference for future research, including the incorporation of fragrance, antibacterial activity testing, and pharmacological evaluation using animal models.
Formulasi Dan Uji Mutu Fisik Sediaan Krim Dari Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona Muricata Linn) Sebagai Pelembab Kulit Riza Dwiningrum; Linatul Arifah; Mida Pratiwi; Vicko Suswidiantoro
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3011

Abstract

Kulit kering merupakan kondisi yang sering terjadi akibat menurunnya kadar air dan natural moisturizing factor (NMF) pada permukaan kulit. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan penggunaan pelembab berbahan dasar alami. Daun sirsak (Annona muricata Linn) diketahui memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan alkaloid yang berfungsi sebagai antioksidan dan dapat membantu meningkatkan kelembapan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi mutu fisik sediaan krim dari ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata Linn) sebagai pelembab kulit. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium. Ekstrak daun sirsak diformulasikan dalam bentuk sediaan krim dengan konsentrasi 10%, 15%, dan 20%, serta dibandingkan dengan kontrol positif (Dorskin) dan kontrol negatif (blanko). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula krim memiliki mutu fisik yang memenuhi standar, seperti tampilan organoleptis yang stabil, homogenitas merata, pH berada dalam kisaran aman untuk kulit (5,84–6,39), daya sebar optimal (5,3–6,4 cm), daya lekat sesuai standar (3,8–4,9 detik), viskositas stabil (3.400–7.000 cP), dan tidak mengalami perubahan signifikan selama uji stabilitas. Formula dengan konsentrasi 20% ekstrak daun sirsak (F3) menghasilkan rata-rata peningkatan kelembapan kulit sebesar 61,87%, yang merupakan hasil terbaik di antara semua formula. Hasil uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar kelompok konsentrasi (p = 0,000), yang menandakan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak daun sirsak berpengaruh nyata terhadap kelembapan kulit. Disarankan agar ekstrak daun sirsak digunakan dalam konsentrasi optimal sebagai bahan aktif alami dalam sediaan krim pelembab kulit, serta dilakukan uji lanjutan untuk menilai keamanan dan stabilitas jangka panjang.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Tingkat Kepatuhan Terhadap Penggunaan Obat Antihipertensi Di Puskesmas Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Turisma Alfi Arizona; Riza Dwiningrum; Vicko Suswidiantoro; Wina Safutri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3058

Abstract

Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan dan penyebab kematian utama di negara maju maupun negara berkembang. Penyakit hipertensi tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol melalui pengobatan dan perubahan gaya hidup. Tingkat pengetahuan penyakit hipertensi yang baik akan berpengaruh pada sikap kepatuhan penggunaan obat. Pemilihan lokasi penelitian di Puskesmas Sukoharjo didasarkan pada tingginya jumlah kasus hipertensi yang tercatat setiap tahun serta masih rendahnya tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani terapi obat, sehingga wilayah ini dianggap representatif untuk mengevaluasi keterkaitan antara pengetahuan dan kepatuhan pasien hipertensi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Sukoharjo Kabupaten Pringsewu. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan pengambilan data menggunakan kuesioner pengetahuan HFQ (Hypertension Fact Quisionnare) menghasilkan kategori sedang (64%) dan kuesioner kepatuhan MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale) menghasilkan kategori sedang (64%) dengan besar sampel 100 responden. Hasil analisis hubungan antara variabel tingkat pengetahuan terhadap tingkat kepatuhan terhadap penggunaan obat antihipertensi didapatkan dengan nilai p value 0,068 yang menunjukkan tidak adanya hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap penggunaan obat antihipertensi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Sukoharjo Kabupaten Pringsewu. Kata Kunci: Hipertensi, Pengetahuan, Kepatuhan, Penggunaan Obat Hypertension remains a significant health problem and is a leading cause of death in both developed and developing countries. Although hypertension cannot be cured, it can be controlled through medication and lifestyle changes. A good level of knowledge about hypertension can influence patients' adherence to antihypertensive medication. Sukoharjo Public Health Center was chosen as the research site due to its high number of hypertension cases reported annually and the observed low adherence among patients in undergoing treatment, making it a representative location to evaluate the correlation between patients’ knowledge and adherence. The aim of this study was to determine the relationship between the level of knowledge and the level of adherence to antihypertensive drug use at Sukoharjo Public Health Center, Pringsewu Regency in. This research used a cross-sectional design, with data collected using the Hypertension Fact Questionnaire (HFQ) to assess knowledge resulting in a moderate category (64%) and the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) resulting in a moderate category (64%) to measure medication adherence with a sample size of 100 respondents. The relationship analysis between knowledge and adherence levels showed a p-value of 0.068, indicating that there was no significant correlation between knowledge level and adherence to antihypertensive drug use. The conclusion of this study is that there is no significant relationship between knowledge and adherence to antihypertensive medication among patients at Sukoharjo Public Health Center, Pringsewu Regency in. Keywords: Hypertension, Knowledge, Adherence, Drug Use