Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Studi Etnomedisin Tanaman Obat Analgesik Di Desa Simpang Kanan Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus Mida Pratiwi; Sunarmi Sunarmi; Riza Dwiningrum; Risma Rojaton
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3077

Abstract

Etnomedisin merupakan bagian dari kajian etnobotani yang menggambarkan pengetahuan lokal masyarakat dalam memanfaatkan tumbuhan sebagai alternatif pengobatan tradisional, termasuk untuk mengatasi nyeri. Tujuan ini untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat analgesik, oleh masyarakat di Desa Simpang Kanan, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, serta teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, terhadap 20 responden. Hasil penelitian didapatkan 11 spesies tanaman yang dimanfaatkan sebagai analgesik. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun (45%), rimpang (35%), dan umbi (20%). Sementara itu, cara pengolahan yang paling umum adalah direbus (80%) dan ditumbuk (20%).
Formulasi Dan Uji Aktivitas Sediaan Gel Hand Sanitizer Ekstrak Teh Hitam (Camellia sinensis) Terhadap Bakteri Escherichia coli Laili Ismiati; Afi Sania Rosanti; Riza Dwiningrum; Annajim Daskar
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3219

Abstract

Infeksi akibat bakteri Escherichia coli merupakan masalah kesehatan yang serius, terutama di negara berkembang dengan sanitasi yang kurang optimal. Hand sanitizer berbasis alkohol umum digunakan untuk mencegah penyebaran bakteri, namun pemakaian jangka panjang berpotensi menyebabkan iritasi kulit dan kurang efektif terhadap bakteri Gram-negatif seperti Escherichia coli. Oleh karena itu, dibutuhkan alternatif berbahan alami yang aman dan efektif. Teh hitam (Camellia sinensis) mengandung senyawa aktif seperti flavonoid dan theaflavin yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan mengevaluasi gel hand sanitizer yang mengandung ekstrak teh hitam terhadap Escherichia coli. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian diformulasikan dalam tiga konsentrasi: 2,5% (F1), 5% (F2), dan 7,5% (F3). Evaluasi mencakup uji organoleptik, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, serta uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi cakram. Hasil menunjukkan bahwa F3 menghasilkan zona hambat terbesar (12,13 mm) dan memenuhi semua parameter fisik yang disyaratkan. Kesimpulannya, formulasi F3 dengan konsentrasi 7,5% ekstrak teh hitam memiliki potensi sebagai bahan aktif alami dalam sediaan gel hand sanitizer yang efektif terhadap Escherichia coli. Keywords: Teh Hitam, Hand Sanitizer, Camellia sinensis, Escherichia coli, Antibakteri Infection caused by Escherichia coli bacteria is a serious health concern, particularly in developing countries with poor sanitation. Alcohol-based hand sanitizers are widely used to prevent bacterial transmission, but prolonged use may cause skin irritation and show limited effectiveness against Gram-negative bacteria such as Escherichia coli. Therefore, a natural, safe, and effective alternative is needed. Black tea (Camellia sinensis) contains active compounds such as flavonoids and theaflavins, which are known for their antibacterial properties. This study aimed to formulate and evaluate a hand sanitizer gel containing black tea extract against Escherichia coli. The extract was obtained using maceration with 96% ethanol and formulated into three concentrations: 2.5% (F1), 5% (F2), and 7.5% (F3). Evaluations included organoleptic test, pH, viscosity, spreadability, adhesion, and antibacterial activity using the disc diffusion method. The results showed that F3 produced the largest inhibition zone (12.13 mm) and met all required physical characteristics. In conclusion, the 7.5% formulation of black tea extract (F3) demonstrated promising antibacterial activity and meets the quality standards for gel hand sanitizer, making it a potential natural alternative for antiseptic formulations. Keywords: Black Tea, Hand Sanitizer, Camellia sinensis, Escherichia coli, Antibacterial
Studi Etnomedisin Tumbuhan Berkhasiat Sebagai Obat Hipertensi Di Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran Dian Ratnasari; Wina Safutri; Riza Dwiningrum; Annajim Daskar
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3220

Abstract

Etnomedisin merupakan salah satu pendekatan yang dapat dimanfaatkan untuk menggali penggunaan tumbuhan yang memiliki khasiat obat, sehingga dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan obat baru, etnomedisin bertujuan mengungkap pengetahuan masyarakat mengenai cara-cara menjaga kesehatan dan mencegah berbagai jenis penyakit, termasuk salah satunya adalah hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pemanfaatan tumbuhan sebagai obat pada penyakit hipertensi di Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran. Metode penelitian menggunakan metode wawancara dengan tekhnik pengambilan sampel snowball sampling. Sampel penelitian adalah masyarakat Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran dengan jumlah 38 responden. Hasil penelitian didapatkan tumbuhan yang digunakan sebagai obat untuk penyakit hipertensi ada 16 jenis spesies tumbuhan. Bagian tanaman yang digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu bagian daun 77%, akar 2%, rimpang (11%), batang (4%), buah (5%), dan umbi (2%). Pengolahan tanaman yang digunakan yaitu dengan cara direbus (38%), diblender (6%), dibakar (1%), dan dikunyah (8%). Kata Kunci: Etnomedisin, Tumbuhan Berkhasiat, Obat Hipertensi Ethnomedicine is an approach that can be utilized to explore the use of medicinal plants, serving as an initial step in the development of new drugs. Ethnomedicine aims to uncover local knowledge regarding ways to maintain health and prevent various diseases, including hypertension. The purpose of this study was to describe the use of plants as traditional remedies for hypertension in Negeri Katon Subdistrict of Pesawaran Regency. The research employed an interview method with a snowball sampling technique. The study sample consisted of 38 respondents from the local community. The results showed that 16 plant species were used to treat hypertension. The plant parts utilized by the community included leaves (77%), roots (2%), rhizomes (11%), stems (4%), fruits (5%), and tubers (2%). The methods of preparation included boiling (38%), blending (6%), roasting (1%), and chewing (8%). Keywords: Ethnomedicine, Medicinal Plants, Hypertension Treatment
Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Pada Masyarakat Desa Kertosari Kabupaten Lampung Selatan Incik Erick Fhatirisq; Riza Dwiningrum; Mida Pratiwi; Edy Syamsuri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3304

Abstract

Di Indonesia, khusunya provinsi lampung penyakit infeksi merupakan masalah penyakit yang banyak diderita. Obat yang paling populer untuk mengobati penyakit infeksi adalah antibiotik. Penggunaan antibiotik yang kurang tepat dapat dapat menyebabkan penurunan efektivitas antibiotik yang dapat menyebabkan resistensi antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalis hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku penggunaan antibiotik pada Masyarakat Desa Kertosari Kabupaten Lampung Selatan. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Sampel pada penelitian ini merupakan Masyaraka Desa Kertosari Kabupaten Lampung Selatan yang berjumlah 100 responden yang memenuhi keriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan antibiotik termasuk dalam kategori rendah, hasil bivariat pada penelitian kali ini menggunakan uji Spearman Rank diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,034 dan koefisiensi korelasi sebesar 0,212 yang menunjukan terdapat hubungan yang rendah pada tingkat pengetahuan terhadap perilaku penggunaan antibiotik tanpa resep Pada Masyarakat Desa Kertosari Kebupaten Lampung Selatan. Kata Kunci: Antibiotik, Pengetahuan, Perilaku, Resistensi ABSTRACT In Indonesia, especially Lampung province, infectious diseases are a common problem. The most popular drugs to treat infectious diseases are antibiotics. Inappropriate use of antibiotics can cause a decrease in antibiotic effectiveness which can cause antibiotic resistance. The purpose of this study was to analyze the relationship between the level of knowledge and the behavior of antibiotic use in the Kertosari Village Community, South Lampung Regency. The method used in this study was observational analytic with a cross-sectional approach with purposive sampling technique. The sample in this study was the Kertosari Village Community, South Lampung Regency, totaling 100 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Based on the research that has been done, the results of the level of knowledge and behavior of antibiotic use are included in the low category, the bivariate results in this study use the Spearman Rank test. The results obtained at the level of knowledge were 69% less, 26% sufficient and 5% good, while the behavior of using antibiotics without a prescription was 50% less, 41% sufficient and 9% good. So it can be concluded that the level of knowledge and behavior of using antibiotics without a prescription in the community of Kertosari Village, South Lampung Regency is in the low category. Then the results of bivariate analysis obtained a significance value of p = 0.034 which means less than 0.05 (p < 0.05) and the correlation coefficient value obtained a value of 0.212. this value is in the range of 0.20 - 0.399 this indicates that the strength of the correlation is in the weak category. So it can be concluded that there is a significant relationship with a weak correlation between the level of knowledge and the behavior of using antibiotics without a prescription in Kertosari Village, South Lampung Regency. Keywords: Antibiotics, Knowledge, Behaviour, Resistance
Formulasi Dan Uji Stabilitas Lotion Kombinasi Ekstrak Biji Kopi Robusta (Coffea Canephora) Dan Minyak Kelapa (Cocos Nucifera) Riza Dwiningrum; Diah Kartika Putri; Afi Sania Rosanti; Khairunisa Azzahra
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3316

Abstract

Paparan sinar matahari berlebih dapat memicu pembentukan radikal bebas yang berdampak negatif terhadap kesehatan kulit, seperti penuaan dini, kulit kering, hingga risiko kanker kulit. Proteksi terhadap kerusakan tersebut dapat dilakukan melalui penggunaan antioksidan alami. Biji kopi robusta (Coffea canephora) mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin yang bersifat antioksidan, sedangkan minyak kelapa (Cocos nucifera) memiliki efek emolien untuk menjaga kelembapan kulit. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan pendekatan deskriptif kuantitatif yang bertujuan merumuskan sediaan lotion berbasis kombinasi ekstrak biji kopi robusta dan minyak kelapa serta mengevaluasi mutu fisik dan stabilitasnya. Tiga formula diuji, yaitu F1 (4%:2%), F2 (6%:3%), dan F3 (8%:4%). Evaluasi meliputi organoleptik, pH, homogenitas, daya sebar, viskositas, dan stabilitas selama 14 hari penyimpanan pada suhu ruang. Hasil menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi kriteria mutu fisik awal sesuai SNI 16-4399-1996. Variasi konsentrasi ekstrak dan minyak kelapa tidak berpengaruh signifikan terhadap mutu fisik sediaan, namun konsentrasi bahan aktif yang lebih tinggi cenderung menurunkan stabilitas warna akibat oksidasi senyawa aktif. Formula F1 dipilih sebagai yang paling baik karena menunjukkan kestabilan fisik paling konsisten, tidak mengalami perubahan warna selama penyimpanan, serta memiliki daya sebar dan viskositas yang berada dalam rentang standar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi konsentrasi ekstrak biji kopi robusta 4% dan minyak kelapa 2% merupakan formulasi yang optimal berdasarkan uji mutu fisik dan stabilitas.
Formulasi Dan Uji Mutu Fisik Sediaan Gel Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum Basilicum L) Sebagai Anti Bakteri Staphylococcus Aureus Riza Dwiningrum; Wina Safutri; Dela Maya Fitria
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3359

Abstract

Penyakit infeksi salah satu penyebab kematian paling umum yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri Staphylococcus aureus. Pengobatan penyakit infeksi dapat dengan pemberian antibiotik, namun penggunaan antibiotik yang irasional dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. Penggunaan obat-obatan bahan alami lebih aman dalam pengobatan penyakit infeksi, salah satu tanaman obat adalah daun kemangi yang dibuat dalam bentuk gel karena merupakan sediaan topikal yang dapat langsung diaplikasikan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menegetahui aktivitas sediaan gel ekstrak daun kemangi dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan metode difusi cakram. Hasil evaluasi mutu fisik ketiga formulasi sudah memenuhi standar sediaan gel, namun pada uji homogenitas formulasi 1 menunjukkan bahwa sediaan tidak homogen. Hasil aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak daun kemangi formulasi 1 dengan konsentrasi 15% didapatkan nilai rata-rata sebesar 2,70 mm yang dikategorikan lemah. Formulasi 2 dengan konsentrasi 30% sebesar 2,79 mm yang dikategorikan lemah dan formulasi 3 dengan konsentrasi 45% sebesar 2,90 yang dikategorikan lemah. Hasil uji ANOVA didapatkan nilai sig <0,001 yang dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan dari kelompok uji. Uji lanjutan dilakukan dengan menggunakan uji tukey untuk mengetahui kelompok mana yang mempunyai perbedaan yang bermakna. Ketiga formulasi dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan pada uji lanjutan menggunakan uji tukey terdapat perbedaan yang bermakna antara kontrol negatif dengan kontrol positif, FI, FII, dan FIII, kontrol positif dengan FI, FII, dan FIII.
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN LIP BALM DARI EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa x paradisiaca L.) Rismayanti Carla Putri; Riza Dwiningrum; Yurike Elanda; Wina Safutri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3415

Abstract

Kulit pisang kepok (Musa x paradisiaca L.) diketahui mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan vitamin C yang berpotensi sebagai antioksidan sekaligus pelembap alami. Namun, pemanfaatannya dalam sediaan kosmetik, khususnya lip balm, masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan lip balm dengan variasi konsentrasi ekstrak kulit pisang kepok (5%, 10%, dan 15%) serta mengevaluasi mutu fisik, keamanan, dan efektivitasnya sebagai pelembap bibir. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi etanol dengan rendemen sebesar 6%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya kandungan flavonoid, tanin, saponin, dan vitamin C. Formula lip balm kemudian diuji mutu fisiknya meliputi organoleptis, homogenitas, dan pH, serta dilakukan uji iritasi pada kulit dan uji kelembaban bibir dengan bantuan alat skin analyzer terhadap 10 panelis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua formula memiliki bentuk semi padat dengan warna kecokelatan yang semakin pekat seiring meningkatnya konsentrasi ekstrak, bersifat homogen, dan memiliki pH dalam rentang aman (5–7). Uji iritasi memperlihatkan tidak adanya reaksi pada semua formula (skor 0), sehingga dinyatakan aman digunakan. Uji kelembaban menunjukkan peningkatan kadar air bibir secara signifikan (p < 0,001) Dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit pisang kepok berhasil diformulasikan menjadi lip balm dengan mutu fisik yang baik, aman digunakan, serta efektif sebagai pelembap bibir. Penelitian ini juga menunjukkan potensi pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai bahan kosmetik alami yang bernilai tambah.
Uji Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum L.) Dan Daun Pandan (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhi Triyani Anggun Sari Sari; Riza Dwiningrum; Vicko Suswidiantoro; Mida Pratiwi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3438

Abstract

Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan global yang dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak. Penyebab infeksi diakibatkan oleh mikroba patogen seperti bakteri, virus, jamur dan parasit. Penelitian bertujuan untuk melihat aktivitas antibakteri ekstrak kombinasi bawang putih dan daun pandan wangi terhadap bakteri Salmonella typhi. Penelitian dilakukan menggunakan metode difusi cakram dengan berbagai kombinasi bawang putih dan daun pandan wangi (80%:20%, 50%:50%, 20%:80%), kontrol positif (ciprofloxacin), dan kontrol negatif (aquadest) menggunakan desain (RAL) yaitu rancangan acak lengkap dengan menghitung rumus pengulangan pada 5 kali perlakuan. Analisis data dilakukan menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat rata – rata diameter hambat secara berturut – turut yaitu 9,39 mm, 7,15 mm, 4,76 mm, 20,33 mm, 0 mm. Konsentrasi terbaik dari kombinasi ekstrak bawang putih dan daun pandan wangi dalam menghambat pertumbuhan Salmonella typhi adalah pada konsentrasi 80%:20%. Hasil skrining dari kedua ekstrak menunjukan positif saponin, alkaloid, tanin, dan flavonoid. Hasil analisis data yang diperoleh adalah (0,389) menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna, karena hasil yang didapatkan (>0,05), artinya tidak ada aktivitas antibakteri yang signifikan dari kombinasi tersebut terhadap bakteri Salmonella typhi. Penelitian ini tidak memiliki perbedaan bermakna dalam pertumbuhan bakteri antara kelompok kontrol positif, negatif, serta kelompok perlakuan. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak bawang putih dan daun pandan wangi memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi serta konsentrasi terbaik dari kombinasi ekstrak bawang putih dan daun pandan wangi dalam menghambat pertumbuhan Salmonella typhi terdapat pada konsentrasi 80%:20%.
Formulasi Blush On Stick Dengan Kombinasi Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Dan Umbi Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas) Adinda Shofa Hermalia Hermalia; Wina Safutri; Riza Dwiningrum; Mida Pratiwi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3439

Abstract

Salah satu produk kosmetik yaitu blush on, merupakan produk riasan dekoratif yang banyak digunakan karena memberikan warna dan kesan hangat pada wajah. Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan umbi ubi jalar ungu (Ipomoea batatas) merupakan tanaman yang memiliki kandungan antosianin yang berperan penting untuk menghasilkan warna. Tujuan dari penelitian ini adalah memformulasi sediaan blush on stick dengan kombinasi ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan umbi ubi jalar ungu (Ipomoea batatas). Metode penelitian yang dilakukan secara eksperimental, meliputi ekstraksi dengan metode maserasi, pembuatan blush on stick dengan konsentrasi F1 (20%:20%), F2 (10%:20%), dan F3 (20%:10%), dan evaluasi sediaan meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya lekat, uji stabilitas, dan uji iritasi telah memenuhi syarat yang berlaku. Mutu fisik sediaan blush on stick telah sesuai berdasarkan evaluasi uji fisik. Stabilitas sediaan blush on stick tetap stabil dalam penyimpanan selama 7 hari pada suhu kamar. Sediaan blush on stick dengan konsentrasi F3 (20%:10%) banyak disukai panelis berdasarkan parameter warna. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan umbi ubi jalar ungu (Ipomoea batatas) dapat diformulasikan menjadi sediaan blush on stick.
Studi Etnomedisin Tumbuhan Berkhasiat Sebagai Pengobatan Asam Urat Oleh Masyarakat Kampung Kalirejo Kabupaten Lampung Tengah Dinda Naziah; Riza Dwiningrum; Diah Kartika Putri; Wina Safutri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Penyakit asam urat merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dijumpai di wilayah pedesaan. Untuk mengatasi hal tersebut, masyarakat memanfaatkan pengetahuan lokal mengenai tumbuhan obat melalui praktik pengobatan tradisional. Bidang etnomedisin mempelajari pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional yang berkembang di masyarakat dalam memanfaatkan tumbuhan sebagai obat. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan, bagian tumbuhan yang digunakan, dan cara pengolahannya dalam pengobatan tradisional asam urat oleh masyarakat Kampung Kalirejo, Kabupaten Kalirejo. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penentuan narasumber dilakukan menggunakan teknik purposive sampling terhadap 37 responden yang memiliki pengetahuan tentang tanaman obat. Data dianalisis secara deskriptif dengan bantuan Microsoft Excel untuk menentukan persentase setiap kategori. Hasil penelitian memperoleh 16 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat asam urat, Jenis tumbuhan yang paling banyak digunakan dalah Salam (19%). Bagian yang paling banyak digunakan adalah daun (46%), rimpang (27%), batang (19%), herba (5%) dan buah (3%). Cara pengolahan dengan cara direbus paling dominan digunakan sebesar (84%). Kesimpulan dari penelitian ini masih banyak tumbuhan berkhasiat sebagai pengobatan asam urat yang digunakan oleh Masyarakat Kampung Kalirejo Kabupaten Lampung Tengah. Kata Kunci: Asam Urat, Etnomedisin, Pemanfaatan ABSTRACT Hyperuricemia is one of the health problems commonly found in rural areas. To overcome this, communities utilize local knowledge of medicinal plants through traditional healing practices. The field of ethnomedicine studies the knowledge and traditional medical practices developed within communities in utilizing plants as medicine. This research aimed to identify the types of plants, plant parts used, and processing methods in the traditional treatment of uric acid disease by the community of Kalirejo Village, Kalirejo District. The study employed a descriptive qualitative approach, with data collected through interviews, observations, and documentation. Respondents were selected using purposive sampling, involving 37 individuals with knowledge of medicinal plants. Data were analyzed descriptively using Microsoft Excel to determine the percentage of each category. The results showed that 16 plant species were used for uric acid disease treatment, with Syzygium polyanthum (salam) being the most frequently used (19%). The most utilized plant part was leaves (46%), followed by rhizomes (27%), stems (19%), herbs (5%) and fruits (3%). The most dominant processing method was boiling (84%). In conclusion of this study is that there are still many plants with medicinal properties for treating gout that are used by the people of Kalirejo Village in Central Lampung Regency. Keywords: Ethnomedicine, Uric Acid, Utilization