Chrisna Adhi Suryono
Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang, 50275, Indonesia

Published : 101 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Bioakumulasi Arsen (As) dan Merkuri (Hg) pada Bivalvia dari Pesisir Sekitar Demak dan Surabaya Indonesia Chrisna Adhi Suryono; Agus Sabdono; Subagiyo Subagiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.846 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.6257

Abstract

The coastal waters at Demak and Surabaya as areas for fishing ground bivalve for consumption proposes.  Unfortunately, mostly the coastal land these areas were used for industry and settlement, it will have an impact on the coastal environment.  Heavy metal is one of aspect on coastal environments will give impact, especially on bivalves. This study aims to determine the metal As and Hg in several of bivalves tissue, seawater, sediments and bioaccumulation factors in the of Demak and Surabaya coastal waters. The analysis of As and Hg content in bivalves tissue, sediments and seawater using ICPMS. The results showed bivalves, sediments and seawater samples were found As and Hg concentrations. The highest concentration of As was found in the sediments; meanwhile the highest Hg concentration was found in the bivalve tissue of P. attenuatus > A. pectinata > A.inaequivalvis > A. granosa > P. viridis > P. undulada > M. hiantina respectively.  The BAF bioaccumulation factor a significant difference p = 0.021 and the BSAF sediment bioaccumulation factor showed a very highly significant difference p = 0.009. The concentration of As, Hg and bioaccumulation factors in the two fishing ground bivalves areas shows a difference. Pesisir sekitar Demak dan Surabaya merupakan daerah fishing ground berbagai jenis bivalvia untuk dikonsumsi.  Namun sekarang pesisir daratan sebagian besar dimanfaatkan untuk industri dan pemukiman hal tersebut akan memberi dampak pada lingkungan pesisir.  Logam berat merupakan salah satu aspek yang memberi dampak pada linkungan pesisir terutama pada bivalvia.  Penelitian ini bertujuan mengetahui logam As dan Hg yang terdapat dalam jaringan beberapa jenis bivalvia, air laut, sedimen serta faktor bioakumulasi di pesisir Demak dan Surabaya.  Analisa kandungan As dan Hg dalam jaringan bivalvia, sedimen dan air laut menguunakan ICPMS.  Hasil penelitian menunjukan sampel bivalvia, sedimen dan air laut ditemukan As dan Hg.  Konsentrasi As tertinggi ditemukan dalam sedimen, sedangkan konsentrasi Hg tertinggi ditemukan dalam jaringan bivalvia secara berurutan P. attenuatus > A. pectinata > A.inaequivalvis > A. granosa > P. viridis > P. undulada > T. timorensis. Adanya perbedaan yang nyata p=0.021 terhadap faktor bioakumulasi BAF dan faktor bioakumulasi sedimen BSAF menunjukan perbedaan yang sangat nyata p = 0.009.  Konsentrasi As, Hg dan faktor bioakumulasi di kedua daerah fishing ground bivalvia menunjukan adanya perbedaan.
Kontaminasi pestisida organofosfat dan logam berat pada airtanah di Wilayah Pantai Utara Jawa Tengah dan Jawa Timur B Tyas Susanti; Baskoro Rochaddi; Chrisna Adhi Suryono; Irwani Irwani
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 3 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i3.9398

Abstract

 Groundwater is the main source of clean fresh water in coastal areas. Coastal cities development in many sectors often produces waste that pollutes groundwater, among others, in the form of pesticides and heavy metals. Chlorpyrifos, mercury and arsenic are contaminants that are toxic and endanger human health or the environment. The purpose of this study was to examine groundwater conditions against contamination of organophosphate pesticides, heavy metals Hg and As in the northern coastal areas of Central Java and East Java. Chlorpyrifos content was found in 4 sample locations with a concentration of 0.0004 - 0.0021 ppm. Hg content was found at 8 sample locations with a concentration of 0.004 - 0.321 ppm and As was found at all locations (26) samples with a concentration of 0.102 - 0.505 ppm. The results of the analysis show that the incidence of pesticides and heavy metals in groundwater has anthropogenic sources due to agricultural, industrial or residential waste activities.  Airtanah merupakan sumber daya air tawar bersih yang utama di wilayah pesisir. Perkembangan kota-kota pesisir di banyak sektor seringkali menghasilkan limbah yang mencemari airtanah antara lain berupa pestisida dan logam berat. Khlorpirifos, merkuri dan arsen merupakan kontaminan yang bersifat toksik dan membahayakan kesehatan manusia ataupun lingkungan. Tujuan penelitian ini mengkaji kondisi airtanah terhadap kontaminasi pestisida organofosfat, logam berat Hg dan As di daerah pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kandungan khlorpirifos ditemukan di 4 lokasi sampel dengan konsentrasi 0,0004 – 0,0021 ppm. Kandungan Hg ditemukan pada 8 lokasi sampel dengan konsentrasi 0,004 – 0,321 ppm dan As ditemukan pada semua lokasi (26) sampel dengan konsentrasi 0,102 – 0,505 ppm. Hasil analisis menunjukkan kejadian pestisida dan logam berat pada airtanah bersumber antropogenik akibat kegiatan pertanian,  industri atau limbah pemukiman.
Hubungan Sebaran Kerang Totok Geloina sp. (Bivalvia: Corbiculidae) dengan Vegatasi Mangrove di Ujung Alang Segara Anakan Cilacap Jawa Tengah Chrisna Adhi Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 2 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.966 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i2.838

Abstract

Segera Anakan is the widest estuaries in Java Island and the famous high diversity.  One of fauna found which associate with the mangroves was totok mussel Geloina sp.  That mussel had economic value so that faced high exploited along season.  Considering that condition a study of the correlation between Geolina distribution and the mangroves vegatiaon. The research was carried out at Ujung Alang areas in Segara Anakan Cilacap on different station which had different mangroves abbundancas.  The case study type research and sampling area method was used to collect the data of information of the Geloina sp.  The data collected in the field was mussel and mangroves population and water quality condition. The result of the study showed, Thad the Geloina sp was uniform distribute along the fourth station which had different diversity and numbers of mangrove.  The class length of 6 – 6,9 cm was the highs number of mussel class on forth station in Ujung Alang Segara Anakan Cilacap  Segara Anakan merupakan salah satu estuaria terbesar di Pulau Jawa yang terkenal dengan keanekaragaman hayatinya.  Diantara biota yang terdapat adalah kerang totok (Geloina sp) yang berasosiasi dengan hutan mangrove.  Karena memiliki nilai ekonomis maka menjadi target penangkapan.  Maka dari itu sangat tepat jika mempelajiti hubungan antara sebaran kerang Totok Geloina terhadap vegetasi mangrove. Penelitian dilakukan di Ujung Alang Segara Anakan di Cilacap pada empat stasiun yang berbeda lokasinya.  Sifat penelitian adalah studi kasus, metoda pengambilan sampel yang digunakan adalah metoda sampling area.  Data yang diambil meliputi kerang, manrove dan kondisi perairan setempat. Hasil penelitian menunjukan kerang totok Geloina yang didapat tidak terpengaruh oleh vegetasi mangrove baik jenis maupun jumlah pohon.  Populasi kerang terbanyak pada semua stasiun adalah kelas ukuran 6 – 6,9 cm di Ujung Alang Seagara Anakan Cilacap
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Pembentuk Biofilm dari Tambak Udang Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara untuk Menghilangkan Amoniak Ria Azizah; Ita Riniatsih; Delianis Pringgenis; Chrisna Adhi Suryono; Suryono Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.123 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1742

Abstract

Brackish water shrimp aquaculture activities often result in organic waste from excess of unconsumed foodstuff and biological waste from shrimp biological waste. The high organic contents increase the levels of ammonia, which is toxic to shrimp and many other aqua lives. One of the most widely used organic material biodegradation system as biofilters, biofilm has not yet seen many uses in shrimp aquafarm waste management. This study aims to isolate and screen biofilm-forming primary bacteria with abilities to degrade ammoniacal nitrogen compounds. The processes involved in this study are location survey, wooden and fiber panel installation, planting of panel in the ponds, isolation of bacteria by dispersion method, purification of primary bacteria by scratch method. Ammoniacal nitrogen degradation test was performed by Microwell Plate Chromatogram Assay and UV-Vis Spectrophotometry. The analysis of the bacteria isolates found 66 primary bacteria with biofilm formation abilities. Based on qualitative analysis, 20 isolates displayed potential in degrading ammoniacal nitrogen compound and 7 isolates showed low (<10%) capacity in degrading ammoniacal nitrogen.  Kegiatan budidaya udang di tambak akan menghasilkan limbah organik yang berasal dari sisa pakan yang tidak termakan maupun kotoran udang. Kandungan bahan organik yang tinggi akan meningkatkan kandungan amonia yang bersifat  toksik bagi udang dan biota air lainnya. Salah satu sistem biodegradasi bahan organik yang telah banyak digunakan sebagai biofilter namun belum dimanfaatkan dalam pengolahan limbah organik tambak udang adalah biofilm. Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi dan skrining bakteri primer pembentuk biofilm yang mampu mendegradasi senyawa amonia nitrogen. Untuk  mencapai tujuan tersebut, maka beberapa tahap penelitian yang telah dilakukan adalah survei lokasi tambak udang, pemasangan panel bahan kayu dan fiber,  penanaman panel dalam badan air tambak, mengisolasi bakteri dengan metode  sebaran, purifikasi bakteri primer pembentuk biofilm dengan metode goresan. Uji oksidasi amonium nitrogen dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan metode Micro well plate chromatogram assay dan UV-Vis Spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil isolasi diperoleh sebanyak 66 isolat bakteri primer pembentuk biofilm. Berdasarkan uji kualitatif diperoleh 20 isolat yang memiliki potensi mendegradasi senyawa amoniurn nitrogen. Namun hasil uji kuantitatif bakteri seleksi pendegradasi amonium nitrogen menunjukkan 7 isolat yang memiliki kemampuan rendah (< 10%) mendegradasi amonium nitrogen.   
Kontaminasi Tembaga pada Mugil dussumieri (Actinopterygii: Mugilidae, Forsskål, 1775) yang Ditangkap di Perairan Semarang, Indonesia Chrisna Adhi Suryono; Endang Sri Susilo; Aldo Rizqi Arinianzah; Wilis Ari Setyati; Irwani Irwani; Suryono Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.214 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.2402

Abstract

Contamination of Copper in Mugil dussumeri (Actinopterygii: Mugilidae, Forsskål, 1775) which was caught in Semarang waters, Indonesia The marine environment in Semarang waters are highly polluted by heavy metals such as copper (Cu).  On the other side, these areas have become producers of fishery commodities such as mullet fish Mugil dussumieri. The aims of this study was to determine the heavy metal content of Cu in mullet fish during wet monsoon (December 2017 and February 2018). Atomic Absorption Spectrophotometer were used to analysis of Cu concentration in marine water and fish meat.  The results show that the Cu content in marine water was not detected while in the meat of mullet fish during December 2017 and February 2018 were 0.66 ± 0.07 mg/kg and 0,604 ± 0.217 mg/kg, respectively. The results were still within the quality standard for maximum limit of Cu content allowed in seafood by FAO/WHO. Lingkungan perairan laut di sekitar Semarang berpeluang sangat tinggi untuk terpolusi logam berat tembaga.  Di lain sisi perairan ini menjadi daerah produksi perikanan seperti ikan belanak Mugil dussumieri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan logam Cu dalam daging ikan belanak yang ditangkap selama musim penghujan (Desember 2017 dan Februari 2018). Untuk mengetahui konsentrasi Cu dalam air laut dan ikan belanak digunakan Atomic Absorption Spectrophotometer.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi logam Cu selama bulan Desember 2017 adalah 0.66 ± 0.07/kg dan selama bulan Februari 0,604 ± 0.217 mg/kg, sedangkan konsentrasi Cu dalam air laut tidak terdeteksi.  Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandungan Cu dalam ikan belanak masih berada pada konsentrasi yang diperbolehkan oleh FAO/WHO.
Efek Panjang Gelombang Terhadap Pertumbuhan Propagul Pada Kultur Jaringan Eucheuma cottonii Doty, 1885 (Rhodophyceae; Solieracea) Wilis Ari Setyati; Rini Pramesti; Delianis Pringgenies; Chrisna Adhi Suryono; Irwani Irwani; Muhammad Zainuddin
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 3 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i3.7075

Abstract

The problem in cultivating Eucheuma cottonii is the procurement of seeds and techniques currently developed through tissue culture. The limiting factor in this technique is the use of optimal light for the growth of the seaweed. The aims of study was to optimize the wavelength of light on the growth of E cottonii propagules. The research method is laboratory experimental with the treatment of different wavelengths of light: red light wavelength (λ = 633.8 nm), green (λ = 515.8 nm), blue (λ = 455.7 nm), combined light on the lamp LED (λ = 456.6 nm, 515.8 nm and 632.9 nm), and fluorescent light in TL lamps (λ = 407 nm, 443 nm, 557 nm and 592 nm). The results showed that the wavelength had a significant effect (p ≤0.05) on the growth of E cottonii. The best treatment for blue light with absolute, relative and specific growth values of propagule weight of 155 ± 11.910 mg, 419 ± 70.849%, and 5.860 ± 0.501% / day. The absolute, relative and specific growth values for propagule diameter were 701 ± 123.1 mm, 63 ± 12% and 1.73 ± 0.27% / day. The percentage of branching growth and the branching index were 60.85 ± 9.16% and 27.77 ± 1.23. Blue light treatment is optimal radiation in the E. cottonii tissue culture  Permasalahan dalam budidaya Eucheuma cottonii adalah pengadaan bibit dan teknik yang berkembang saat ini melalui kultur jaringan. Faktor pembatas dalam teknik ini adalah penggunaan cahaya yang optimal untuk pertumbuhan rumput laut. Penelitian bertujuan untuk melakukan optimasi panjang gelombang cahaya terhadap pertumbuhan propagul E cottonii. Metode penelitian secara experimental laboratoris dengan perlakuan perbedaan panjang gelombang cahaya : panjang gelombang lampu cahaya merah (λ = 633,8 nm), hijau (λ = 515,8 nm), biru (λ = 455,7 nm), cahaya gabungan pada lampu LED (λ = 456,6 nm, 515,8 nm dan 632,9 nm), dan cahaya flourescent pada lampu TL (λ = 407 nm, 443 nm, 557 nm dan 592 nm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang gelombang berpengaruh signifikan (p < 0,05) terhadap pertumbuhan E cottonii. Perlakuan terbaik pada cahaya biru dengan nilai pertumbuhan mutlak, relatif dan spesifik bobot propagul sebesar 155±11,910 mg, 419 ± 70,849 %, dan 5,860 ± 0,501 %/hari. Nilai pertumbuhan mutlak, relatif dan spesifik diameter propagul sebesar 701±123,1 mm, 63±12 % dan 1,73±0,27 %/hari. Persentase pertumbuhan percabangan dan indeks percabangan sebesar 60,85±9,16 % dan  27,77±1,23. Perlakuan sinar biru merupakan penyinaran optimal dalam kultur jaringan E. cottonii.
Logam Berat Anthropogenik Pb dan Cu pada Lapisan Sedimen Permukaan dan Dasar Muara Sungai di Kota Semarang, Jawa Tengah Indonesia Chrisna Adhi Suryono; Ibnu Pratikto; Ajeng Rusmaharani
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.994 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.3223

Abstract

Semarang coastal areas as specially on river down stream have been develop to industrial, dumpping areas and human settlement.  Its will be caused increasing sedimentation and anthropogenic heavy metals accumulation in sediments.  In order to assess Pb, and Cu on diferent layers of sediments on three down stream rivers on Semarang, samples of surface and bed sediment were collected for analyzed by ICPMS.  The result showed that the heavy metal of Pb on bed layer was higher than Pb on surface sediment, on the other hand Cu on surface sediment was higher than Cu on bed sediments.  Unfraternally the heavy metal concentration on surface and beds sediments they do not correlation with totals organic carbon and combination silt and clay in sediment on three down stream rivers on Semarang. Wilayah pesisir Semarang terutama di daerah muara sungai telah berkembang menjadi kawasan industri, penimbunan dan hunian.  Hal tersebut menyebabkan peningkatan sedimentasi dan akumulasi antropogenik logam berat dalam sedimen.  Untuk mengetahui logam berat Pb dan Cu dalam permukaan dan dasar sedimen di tiga muara sungai Semarang.  Maka sampel pada permukaan dan dasar sedimen diambil dan dianalisa dengan ICPMS.  Hasil pengukuran menunjukan bahwa konsentrasi logam Pb pada lapisan dasar lebih tinggi dari pada lapisan permukaan sedimen, sebaliknya konsentrasi logam Cu pada lapisan permukaan lebih tinggi dari pada lapisan dasar sedimen.  Namun keseluruhan antropogenik logam berat Pb dan Cu pada lapisan permukaan maupun bawah sedimen tidak ada korelasinya dengan kandungan total bahan organik karbon dan kombinasi antara silt dan clay dalam sedimen di ketiga mura sungai di Semarang.
Polusi LogamBerat Antropogenik (As, Hg, Cr, Pb, Cu dan Fe) pada Pesisir Kecamatan Tugu Kota Semarang Jawa Tengah Chrisna Adhi Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 1 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.267 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i1.598

Abstract

The concentrations of metals in the marine sediment, groundwater anad marine water werefound in coatal areas of Tugu Semarang. Six metals (As, Hg, Cr, Pb, Cu and Fe) in coastalareas in Tugu Semarang were examined. The gradually decreased concentrations (As, Hg,Cr, Pb, Cu and Fe) in sediment, marine water and groundwater, and the highest concentration of metals found in marine sediment and the lowest in coatal groundwater. The connectivity of metals in marine sediment, groundwater and marine waters was consequently pH and saliniy of land and water environment. The increasing number of reclamation, disposal water from industrial and urban areas may be to support the increasing metals on the coastal areas of Tugu Semarang.  Konsentrasi logam berat telah ditemukan dalam sedimen laut, air tanah dan air laut di daerah pesisir Tugu Semarang.  Enam logam berat seperti (As, Hg, Cr, Pb, Cu and Fe) telah di teliti.  Secara nyata terlihat bahwa logam (As, Hg, Cr, Pb, Cu and Fe) menurun konsentrasinya dari sedimen, air laut dan air tanah, dan konsentrasi tertinggi terdapat dalam sedimen laut dan terendah terdapat pada air tanah.  Konektifitas logam berat dalam sedimen, air laut dan air tanah diakibatkan oleh perubahan pH dan salinitas pada sedimen dan air.  Peningkatan aktifitas reklamasi, buangan air limbah baik dari industri maupun pemukiman kemungkinan menyebabkan peningkatan logam berat di wilayah pesisir Tugu Semarang.  
Ekologi Perairan Semarang – Demak : Inventarisasi Jenis Kerang yang Ditemukan di Dasar Perairan Chrisna Adhi Suryono; Ita Riniatsih; Ria Azizah; Ali Djunaedi; Baskoro Rochaddi; Subagiyo Subagiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.378 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1700

Abstract

The present study was conducted to inventory the cockles (bivalve) in coastal waters between Semarang to Demak.  The samples were collected by bottom trawl modification (dragger) around those areas.  The results were found ten various cockles there were Anadara granosa, A. pilula, A. gubernaculum, A. inaequivalvis, Pharella javanica, Paphia undulate, Marcia hiantina, Harvella plicataria, Mactra violacea, and Placuna placenta.  Meanwhile the waters quality in the in this areas still support to organisms to survive based on the standard water quality from Indonesian Ministry of Environmental.  Tujuan penelitian ini adalah untuk menginventarisasi jenis jenis kerang yang ada di perairan antara Semarang dan Demak.  Sampel diambil dengan trawl dasar modivikasi (dragger) sekitar perairan tersebut.  Hasil penelitian menunjukakan beberapa jenis kerang didapat seperti: Anadara granosa, A. pilula, A. gubernaculum, A. inaequivalvis, Pharella javanica, Paphia undulate, Marcia hiantina, Harvella plicataria, Mactra violacea, and Placuna placenta. Berdasar Kepmen Lingkungan Hidup kualitas perairan yang ada di daerah tersebut dapat dikatakan masih mendukung untuk kehidupan organisme.
Pertambahan Biomasa Kepiting Bakau Scylla serrata pada Daerah Mangrove dan Tidak Bermangrove Chrisna Adhi Suryono; Irwani Irwani; Baskoro Rochaddi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 1 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.758 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i1.604

Abstract

Lahan mangrove mempunyai potensi dikembangkan untuk usaha penggemukan kepiting tanpa merusak, yaitu melalui konsep silvofishery.  Tujuan dari penelitian ini adalah menjajaki pemeliharan kepiting bakau Scylla serrata didaerah mangrove. Metoda yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan acak kelompok.  Perlakuan yang diterapkan adalah kepadatan yang berbeda (4 ekor/m2, 6 ekor/m2 dan 8 ekor/m2) dengan kelompok (daerah mangrove dan tidak bermangrove) dengan ulangan 3 kali.  Data yang diperoleh berupa penambahan biomasa dianalisa dengan balanced designs anova. Hasil yang didapat menunjukan kepiting bakau yang dipelihara didaerah mangrove memiliki penambahan biomasa yang lebih besar bila dibandingkan dengan yang dipelihara pada daerah tidak bermangrove.  Kepiting bakau yang dipelihara didaerah mangrove dengan kepadatan  ekor/m2 pertambahan biomasanya rata rata 81,7 gr/bulan; dan kepadatan 6 ekor/m2 bertambah rata rata 77,8 gr/bulan, sedang kepadatan 8 ekor/m2 73,9 gr/bulan.  Hal tersebut sangat berbeda dengan kepiting yang dipelihara pada daerah yang tidak bermangrove dimana untuk kepadatan 4 ekor/m2 rata rata hanya bertambah 68,75 gr/bulan dan yang berkepadatan kepadatan 6 ekor/m2 bertambah rata rata 39,1 gr/bulan sedangkan yang berkepadatan 8 ekor/m2 32,2 gr/bulan.  Interaksi antara kepadatan dan lokasi (bermangrove dan bukan) memberikan pengaruh yang sangat nyata pada penambahan berat kepiting bakau (p<0,001).  
Co-Authors Abdul Rohman Zaky Abdul Rohman Zaky Adi Santoso Adi Santoso Agus Indardjo Agus Indarjo Agus Sabdono Ajeng Rusmaharani Al Bar Rauuf Mulki Aldo Rizqi Arinianzah Alfi Satriadi Alghazeer, Rabia Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo Almira Nadia Kusuma Alvi Akhmad Arifin Amri, Fahrizal Dwi Anggada, Rama Annisa Rhamadany Apriliani, Seka Indah Ardi Ristiyanto Ardian Nurrasyid Chamidy Ardiati Widya Wandira Arief, Atthariq Fachri Ramadhan Arifin, Alvi Akhmad Arifin, Muhammad Yusuf Aris Ismanto Asnita Fraselina Samosir Azhar, Nuril Azizah, Pramita B Tyas Susanti Bambang Yulianto Banafsha Ambarwati Baskoro Rochaddi Baskoro Rochaddi Bayu Khrisna Yudhatama Bima Agung Saputra Chamidy, Ardian Nurrasyid Dara Ramadhania Istiqomahani Delianis Pringgenies Delianis Pringgenis Denny Hendrik Nainggolan Diah Ayu Isti Anti Diah Permata Wijayanti Dian Kharisma Dinar Ayu Budi Dony Bayu Putra Pamungkas Dyah Pitaloka Novitasari Ega Widyatama Rachmawan Endang Sri Susilo Endang Supriyantini Ervia Yudiati Erwin Adriono Fahrizal Dwi Amri Faishal Falah Falah, Faishal Farahdita, Wanda Laras Fitriyani, Naily Gadisza Asmara Yudha Ghea Ken Joandani Joandani Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Ibnu Praktikto Ibnu Praktikto Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Ikfanul Firdosyah Ilman Fari Muhammad Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Istiqomahani, Dara Ramadhania Ita Riniatsih Ita Widowati Joandani, Ghea Ken Joandani Johannes Riter Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Khusnul Khotimah Kiuk, Yosni Krisna Dwi Nugroho Krisna Dwi Nugroho Kusuma, Almira Nadia Mahda Veronika Maman Somantri Millenia Dinda Alkautsar Mimie Saputri, Mimie Mita Eka Septiani Muhamad Irfan Cahyo Putro Muhammad Arif Romadhi Muhammad Faiz Abadi Muhammad Muallifin Nor Muhammad Yusuf Arifin Muhammad Zainuddin Naily Fitriyani Naitkakin, Egidius Nathanael Ganang Anindityo Wibowo Nirwani Soenardjo Nor, Muhammad Muallifin Novitasari, Dyah Pitaloka Nur Chofifah Nur Taufiq-Spj Pangga, R. M. Dio Dwi Pitaloka, Maria Dyah Ayu Pramita Azizah Pramudya, Herning Putro, Muhamad Irfan Cahyo Rachmawan, Ega Widyatama Raden Ario Rafdi Abdillah Harjuna Rafif Rizki Zaidan Rama Anggada Ramadhani, Yualita Prasida Rendha Hendyanto Retno Hartati Rhamadany, Annisa Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Rini Pramesti Ristiyanto, Ardi Riter, Johannes Rizky Erdana Rudhi Pribadi Ruri Jupriyati Samosir, Asnita Fraselina Saputra, Bima Agung Sarifah, Almunatus Sarwati, Dhea Erika Satriawan, Erian Febri Seka Indah Apriliani Septiani, Mita Eka Setyani, Wilis Ari Setyo Adi Prasojo Setyo Adi Prasojo Sitanggang, Wanri Soares, Daniel Candido Da Costa Sri Redjeki Sri Redjeki Subagiyo Subagiyo Sugeng Widada Sugiyanto, Nenden Rose Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Teguh Sugiarto The Michael Febrian Wijaya Tunas Pulung Pramudya Vicencius Hendra Adhari Wanda Laras Farahdita Wandira, Ardiati Widya Warsito Atmodjo Wibowo, Nathanael Ganang Anindityo Widianingsih Widianingsih Wilis Ari Setyani Wilis Ari Setyati Yualita Prasida Ramadhani Yudha, Gadisza Asmara Yudhatama, Bayu Khrisna