Chrisna Adhi Suryono
Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang, 50275, Indonesia

Published : 96 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Kandungan Klorofil Cymodocea serrulata Pada Kedalaman Berbeda di Perairan Pulau Panjang Jepara Kusuma, Almira Nadia; Suryono, Chrisna Adhi; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.27637

Abstract

Klorofil merupakan faktor utama yang mempengaruhi fotosintesis. Cymodocea serrulata membutuhkan intensitas cahaya yang cukup tinggi untuk melaksanakan proses fotosintesis. Perbedaan intensitas cahaya terhadap lamun tersebut diduga akan mempengaruhi pembentukan klorofil, sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbedaan kedalaman perairan terhadap kandungan klorofil C. serrulata. Penelitian ini menggunakan metode spektrofotometri untuk mengetahui absorbansi pigmen klorofil daun lamun C. Serrulata. Analisis statistika digunakan untuk mendeskripsikan pengaruh kecerahan perairan dan stasiun lokasi terhadap kandungan klorofil lamun C.serrulata. Berdasarkan hasil penelitian, kandungan klorofil tertinggi terdapat di kedalaman 1 meter yaitu sebesar 3,061 µg/l, sedangkan kandungan klorofil terendah terdapat di kedalaman 3 meter yaitu sebesar 1,509 µg/l. Kandungan klorofil menurun seiring dengan bertambahnya kedalaman, yang dipengaruhi oleh kecerahan perairan  dan kadar TSS yang dapat menghambat penetrasi cahaya yang menembus perairan. Chlorophyll is the main factor that affects photosynthesis. Cymodocea serrulata requires a high intensity of the light to carry out the process of photosynthesis. In this case, the differences in light intensity will affect the formation of chlorophyll in seagrass leaves. This study aims to determine the effect of different depths on the chlorophyll content of C. serrulata. Therefore, this study used a spectrophotometric method to determine the absorbance of chlorophyll pigment in C. serrulata. Statistical analysis used to describe the water transparency and sampling station on chlorophyll content. Based on the study results, the highest chlorophyll content has found in 1 meter depth of the sea, which is equal to 3,061 µg/l and the lowest chlorophyll content in 3 meter depth of the sea equal to 1,509 µg/l. It can be concluded that the chlorophyll content decreased while the increasing of the depth due to the water transparency and TSS levels, which can inhibit the penetration of light through the water.
Teknologi Drone untuk Estimasi Stok Karbon di Area Mangrove Pulau Kemujan, Karimunjawa Farahdita, Wanda Laras; Soenardjo, Nirwani; Suryono, Chrisna Adhi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i2.30466

Abstract

Hutan mangrove dapat mengurangi emisi karbon dengan menyerap CO2 yang berasal dari udara. Kawasan Tracking Mangrove Pulau Kemujan merupakan salah satu pulau di Taman Nasional Karimunjawa yang didominasi oleh mangrove. Jumlah serapan karbon yang tersimpan di mangrove perlu dihitung sebagai upaya penanganan iklim global dan menambah fungsi mangrove. Pendugaan karbon dapat dilakukan melalui teknologi penginderaan jauh, salah satunya dengan drone. Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung dan memetakan area spasial distribusi stok karbon di area tracking mangrove Pulau Kemujan, Karimunjawa. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif yang didapatkan dari pendekatan analisis spasial dan data pengukuran lapangan. Metode yang diaplikasikan terdiri dari fotogrametri, image classification, dan perhitungan pendugaan karbon. Resolusi hasil foto udara adalah 3,19 cm/pix, uji korelasi dan uji validasi antara nilai karbon dan indeks vegetasi (NDVI) adalah 0,658 dan 10,738%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area tracking mangrove Pulau Kemujan, Karimunjawa memiliki estimasi simpanan karbon antara 8,42–224,6 ton/ha, dominansi karbon tertinggi berkisar antara 19,43-31,20 ton/ha yang mencakup 8,159 ha. Total area yang terpetakan adalah 28,462 ha dengan rata -rata nilai karbon 56,93 ton/ha. Mangrove forests can reduce carbon emissions by absorbing CO2 from the air. Mangrove Tracking Area of Kemujan Island is one of the islands in Karimunjawa National Park which dominated by mangroves. The amount of carbon sequestration in mangroves needs to be calculated in order to reduce the climate change impact and increase the function of mangroves. Carbon estimation could be approached by remote sensing technology, drones are one of them. The study aims to calculate carbon sequestration and mapping the spatial area of carbon stock distribution in the mangrove tracking area of Kemujan Island, Karimunjawa. Quantitative data are obtained from the spatial analysis and field measurement data. The method applied consists of photogrammetry, image classification, and calculation of carbon estimation. Resolution of aerial photo is 3.19 cm/pix, correlation test and validation test between carbon value and vegetation index (NDVI) are 0.658 and 10.738%, respectively. The result showed that the mangrove tracking area of Kemujan Island, Karimunjawa had an estimated of carbon stock ranges from 8.42–224.6 tons/ha, the highest dominance is 19.43-31.20 tons/ha which covered 8,159 ha. The total area mapped as a spatial area of carbon stock distribution is 28,462 ha with an average carbon value of 56.93 tons/ha.
Pertumbuhan Rumput Laut Gracilaria sp Greville, 1830 (Rhodophyta: Florideophyceae) di Tambak Tidak Produktif Mangunharjo Tugu Semarang Suryono, Chrisna Adhi; Irwani, Irwani; Sabdono, Agus; Pribadi, Rudhi; Setyani, Wilis Ari; Indarjo, Agus
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.29215

Abstract

Rumput laut Gracilaria sp merupakan salah satu hasil produk laut yang masih memiliki permintaan yang tinggi di pasar. Permasalahan yang ada masih rendahnya suplai karena masih banyak mengandalka hasil alam.  Tujuan dari penelitian ini melihat pertumbuhkan rumput laut tersebut di tambak yang tidak produktip.  Metoda yag digunakan adalah lepas dasar sesui dengan hidupnya di alam.  Pegukuran dilakuna terhadap 10 contoh rumput laut yang memiliki berat awal sama ±20gr, pengukuran berat dilakukan setiap 10 hari.  Hasil penelitian menunjukan bahwa Gracilaria mampu tumbuh di tambak dengan awal yang lambat kemudian meningkat setalah hari ke 30.  Uji Anova terhadap berat tiap pengukuran menjukan perbedaan yang sangat sigikan (p= 0.00 ≤ 0,01).  Kualitas perairan tambak secara keseluran mendukung untuk pertumbuhan rumput laut Gracilaria sp. Gracilaria sp seaweed one of marine commodity which still has high demand in the market.  The problem of these produck was a supply still low because the min supplay depand on nature produck.  This study aims to determine the growth of seaweed in non productive brackish waters pounds. Off-bottom method was used to application seaweed growth on brackish fish pounds such as life in nature.  Measurement of weigh was carried out on 10 samples of seaweed which had the same initial weight of ± 20 grams, weight measurements were carried out every 10 days.  The results showed that Gracilaria was able to grow in ponds with a slow start and then increased dramatically after 30 days. Anova test on the weight of each measurement showed a very significant difference (p = 0.00 ≤ 0.01).  Futher more the quality of pond waters was supports to growth of Gracilaria sp.
Biomasa dan Simpanan Karbon pada Ekosistem Lamun di Perairan Batulawang dan Pulau Sintok Taman Nasional Karimunjawa, Jepara Rhamadany, Annisa; Suryono, Chrisna Adhi; Pringgenies, Delianis
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.31692

Abstract

Ekosistem lamun memiliki fungsi ekologi dan ekonomi yang tinggi. Peran ekosistem lamun dalam penyimpanan karbon akan tetapi masih belum menjadi sorotan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui nilai biomassa dan estimasi simpanan karbon pada ekosistem lamun di Perairan Batulawang, Pulau Kemujan serta Pulau Sintok, Taman Nasional Karimunjawa. Penelitian ini dilaksanakan pada 7 – 14 Noevmber 2019 di Perairan Batulawang dan Pulau Sintok, Taman Nasional Karimunjawa. Metode penelitian di lapangan menggunakan metode SeagrassWatch, sementara nilai biomassa dan nilai estimasi simpanan karbon dihitung menggunakan metode Metode Loss of Ignition (LOI) di laboratorium. Data yang diperoleh berupa pengukuran berat kering untuk menghitung biomassa dan analisa kandungan karbon pada lamun dan sedimen. Hasil penelitian didapatkan empat jenis lamun di Perairan Batulawang yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea serrulata, dan Thalassodendron ciliatum sedangkan di Pulau Sintok terdapat tiga jenis lamun yang ditemukan yaitu Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Halophila ovalis. Nilai total biomassa lamun terbesar pada Perairan Batulawang yaitu Enhalus acoroides dengan nilai 849,75 gbk/m2 dan nilai total biomassa lamun terkecil Thalassodendron ciliatum dengan nilai 29 gbk/m2. Nilai total biomassa lamun terbesar pada Pulau Sintok yaitu Cymodocea rotundata dengan nilai 177,75 gbk/m2dan nilai total biomassa lamun terkecil Halophila ovalis dengan nilai 4,75 gbk/m2. Hasil pengukuran karbon lamun pada Perairan Batulawang yaitu 12,97 – 359,87 gC/m2­ dan 258,20 – 541,51 gC/m2 pada sedimennya. Hasil pengukuran karbon pada lamun di Pulau Sintok yaitu 2,35 – 85,80 gC/m2 dan 204,92 – 765,92 gC/m2 pada sedimen. Kandungan karbon paling besar terdapat pada bagian bawah substrat (below ground). Kandungan karbon pada bagian bawah substrat tidak terganggu oleh faktor lingkungan (gelombang, arus, dan ulah manusia) sehingga terakumulasi baik. Seagrass ecosystems have high ecological and economic functions. The role of seagrass ecosystems in carbon storage, however, has not yet been highlighted. The purpose of this study was to determine the value of biomass and estimated carbon storage in seagrass ecosystems in Batulawang waters, Kemujan Island and Sintok Island, Karimunjawa National Park. This research was conducted on 7 − 14 November 2019 in Batulawang waters and Sintok Island, Karimunjawa National Park. The research method in the field uses the SeagrassWatch method, while the biomass value and the estimated value of carbon storage are calculated using the Loss of Ignition (LOI) method in the laboratory. The data obtained were measurements of dry weight to calculate biomass and analysis of carbon content in seagrass and sediments. The result shows that there are four species of seagrass in Batulawang Waters, they are Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea serrulata, and Thalassodendron cliatum meanwhile in Sintok Island there are three species, they are, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, and Halophila ovalis. The measurement of carbon is done by using Loss on Ignition Method. The highest total seagrass biomass in Batulawang waters is Enhalus acoroides with a value of 849.75 gbk/m2 and the lowest total seagrass biomass is Thalassodendron ciliatum with a value of 29 gbk/m2. The highest total seagrass biomass on Sintok Island is Cymodocea rotundata with a value of 177.75 gbk/m2 and the lowest total seagrass biomass is Halophila ovalis with a value of 4.75 gbk/m2. The results of measurements of seagrass carbon in Batulawang waters are 12,97 – 359,87 gC/m2­ and 258,20 – 541,51 gC/m2 on the sediments. The result of seagrass carbon measurement in Sintok Island is 2,35 – 85,80 gC/m2 and 204,92 – 765,92 gC/m2 on the sediments. The largest carbon content is at the bottom of the substrate (below ground). The carbon content at the bottom of the substrate is not disturbed by environmental factors (waves, currents, and human activities) so that it accumulates well.
Amankah Mengkonsumsi Kerang Hijau Perna viridis L nnaeus, 1758 (Bivalvia: Mytilidae) yang ditangkap di Perairan Morosari Demak? Arifin, Alvi Akhmad; Suryono, Chrisna Adhi; Setyati, Wilis Ari
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.31650

Abstract

Kerang hijau (Perna viridis) merupakan komoditas perikanan yang sering dikonsumsi sebagai bahan pangan. Sampel yang diambil berasal dari perairan Morosari Demak pada bulan Juni, Juli dan Agustus 2020. Tujuan dari penelitian ini untuk menduga kandungan logam berat Pb dan Cu yang terdapat pada air, sedimen dan kerang hijau serta menentukan batas toleransi untuk mengkonsumsi kerang hijau yang mengandung logam berat. Penelitian ini bertujuan juga untuk menentukan Faktor biokonsentrasi (BCF) yang merupakan nilai akumulasi bahan kimia (polutan) dalam tubuh kerang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, sedangkan metode penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel kerang hijau, air dan sedimen. Parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, oksigen terlarut, kecerahan, pH diukur secara in situ. Hasil penelitian menunjukkan nilai kandungan logam berat dalam daging kerang hijau berkisar 0,140-0,617 mg/kg (Pb) dan 0,035-0,851 mg/kg (Cu). Kandungan Pb dan Cu pada kerang hijau di semua stasiun dan bulan pengambilan sampel masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (2009) untuk logam berat Pb sebesar 1,5 mg/kg dan FAO (1972) untuk logam berat Cu sebesar 1 mg/kg. Kemampuan kerang hijau dalam mengakumulasi logam berat Pb dan Cu pada setiap bulan bervariasi, sebagian besar memiliki kemampuan akumulasi organisme rendah dengan nilai FBK < 1, sebagian memiliki kemampuan akumulasi organisme sedang dengan nilai FBK >1 dan ≤2 dan beberapa memiliki kemampuan akumulasi organisme tinggi dengan nlai FBK >2. Analisis batas aman konsumsi kerang hijau yang tercemar logam berat pada lokasi penilitian menunjukan kerang hijau masih aman dikonsumsi hingga 2,43 kg/minggu pada orang dewasa dengan berat badan rata-rata 60 kg Green mussels, Perna viridis is a fishery commodity that is often consumed as a food. The purpose of this study is to evaluate the concentration of pb and cu heavy metals contained in water, sediment and green mussels. The sample was collected in Morosari coastal waters Demak in June, July and August 2020 and determine the tolerance limit for consuming green mussels containing heavy metals. This research aims to determine the bioconcentration factor (BCF) which is the value of accumulation of chemicals (pollutants) in the body of shellfish. Samples of green mussels were taken from three stations which are ponds of green mussels belonging to Morosari fishermen. This study uses descriptive method, while location determination method using purposive sampling method. The materials used in this study were samples of green mussels, water and sediment. Environmental parameters such as temperature, salinity, dissolved oxygen, brightness, pH are measured in situ. The results showed the value of heavy metals in green shellfish ranging from 0.140-0.617 mg/kg (Pb) and 0.035-0.851 mg/kg (Cu). The content of Pb and Cu in green mussels in all stations and months of sampling is still below the threshold set by the National Standardization Body (2009) for pb heavy metals of 1.5 mg/kg and FAO (1972) for Cu heavy metals of 1 mg/kg. The ability of green shells in accumulating heavy metals Pb and Cu on a monthly vary, most have low organism accumulation ability with BCF value < 1, some have the ability to accumulate medium organisms with BCF values >1 and ≤2 and some have high organism accumulation ability with BCF >2. Analysis of the safe limit of consumption of green mussels contaminated with heavy metals at the research site showed green mussels were still safe to consume up to 2.43 kg/week in adults with an average body weight of 60 kg.
Manfaat Astaxanthin pada Pakan terhadap Warna Ikan Badut Amphiprion percula, Lacepède, 1802 (Actinopterygii: Pomacentridae) Apriliani, Seka Indah; Djunaedi, Ali; Suryono, Chrisna Adhi
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31987

Abstract

Ikan Badut Amphiprion percula merupakan ikan hias laut yang mulai dibudidayakan oleh pemerintah pada tahun 2009 yang memiliki keunggulan pada corak warna yang unik dan kelangsungan hidup yang tinggi. Warna tubuh ikan A. percula dapat pudar disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: umur, gen, penyakit, dan pencahayaan. Salah satu cara meningkatkan warna Ikan A. percula adalah dengan pemberian tepung Astaxanthin yang diperoleh secara komersial, dengan komposisi astaxanthin dari limbah kepala udang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan warna dan pertumbuhan Ikan A. percula setelah pemberian tepung astaxanthin, serta mengetahui konsentrasi pemberian tepung Astaxanthin pada warna tubuh Ikan A. percula. Metode penelitian dilakukan dengan pemeliharaan Ikan A. percula selama 28 hari yang terdiri dari perlakuan 0% (kontrol), 1% (Astaxanthin 0,5g/50g), 3% (Astaxanthin 1,5g/50g) dan 5% (Astaxanthin 2,5g/50g), kemudian dilakukan pengamatan menggunakan TCF (Toca Color Finder). Parameter yang diamati antara lain meliputi perubahan warna, pertambahan panjang dan berat, dan kualitas perairan. Hasil yang diperoleh pada perubahan warna Ikan A. percula setelah pemberian tepung Astaxanthin didapatkan kontrol (13,99), 1% (15,63), 3% (16,45), 5% (17,23). Pemberian tepung astaxanthin pada Ikan A. percula tidak mempengaruhi pertambahan panjang dan berat Ikan A. percula. Hasil pemberian tepung Astaxanthin pada Ikan A. percula yang menghasilkan warna sebanyak 17,23 terdapat pada perlakuan 5% (Astaxanthin 2,5g/50g). konsentrasi ini menghasilkan warna tertinggi pada Ikan A. percula.The orange clownfish Amphiprion percula is a marine ornamental fish that was started to be cultivated by the government in 2009 which has advantages in unique color patterns and high survival. The body color of the A. percula can fade due to several factors, including age, genes, disease, and lighting. One way to increase the color of A. percula is to provide commercially obtained Astaxanthin flour, with astaxanthin composition from shrimp head waste. The purpose of this study was to determine the color change and growth of A. percula after administration of astaxanthin flour, as well as to determine the concentration of Astaxanthin flour administration on the body color of A. percula. The research method was carried out by rearing A. percula for 28 days consisting of 0% (control), 1% (Astaxanthin 0.5g/50g), 3% (Astaxanthin 1.5g/50g), and 5% (Astaxanthin 2.5g/50g), then observed using TCF (Toca Color Finder). Parameters observed included changes in color, increase in length and weight, and water quality. The results obtained on the color change of A. percula after administration of Astaxanthin flour were obtained: control (13.99), 1% (15.63), 3% (16.45), 5% (17.23). Giving astaxanthin flour to A. percula did not affect the increase in length and weight of Clownfish (Amphiprion percula). The results of giving Astaxanthin flour to Blackfinned clownfish A. percula which produced 17.23 colors were found in 5% treatment (Astaxanthin 2.5g/50g). This concentration produces the highest color in A. percula.
Perbandingan Tutupan Antar Lamun, Makroalga dan Epifit Di Perairan Paciran Lamongan Rachmawan, Ega Widyatama; Suryono, Chrisna Adhi; Riniatsih, Ita
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31986

Abstract

Ekosistem padang lamun merupakan suatu ekosistem yang kompleks dan mempunyai fungsi dan manfaat yang sangat penting bagi perairan wilayah pesisir. Lamun, makroalga dan epifit merupakan biota laut yang hidupnya saling berdampingan. Epifit merupakan organisme yang hanya menempel pada permukaan tumbuhan seperti pada bagian daun dan rhizome lamun. Makroalga pada umumnya hidup pada kawasan intertidal yang memiliki variasi faktor lingkungan yang cukup tinggi. Keberadaan makroalga seringkali menjadi kompetitor bagi lamun yang hidup di ekosistem yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tutupan lamun, makroalga dan epifit di Perairan Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Pengambilan data dilakukan di 3 Stasiun yaitu pelabuhan, pemukiman warga dan TPI. Pendataan dilakukan dengan menggunakan metode line transek. Hasil penelitian didapatkan 2 jenis lamun yaitu Enhalus acorodes dan Thalassia hempricii. Prosentase tutupan lamun pada ketiga Stasiun berkisar 16,7% - 34,3%. Hasil rata-rata tutupan makroalga yang terdapat pada ketiga Stasiun yaitu hanya 7%. Rata-rata tutupan epifit yang terdapat pada ketiga Stasiun yaitu sebesar 16%. Kondisi perairan di Paciran masih tergolong baik karena sesuai dengan baku mutu yang ada. The seagrass ecosystem is a complex ecosystem and has very important functions and benefits for coastal waters. Seagrass, macroalgae and epiphytes are marine biota that live side by side. Epiphytes are organisms that only attach to plant surfaces such as leaves and seagrass rhizomes. Macroalgae generally live in intertidal areas that have a fairly high variation of environmental factors. The presence of macroalgae is often a competitor for seagrasses that live in the same ecosystem. This study aims to determine the comparison of seagrass cover, macroalgae and epiphytes in Paciran waters, Lamongan, East Java. Data collection was carried out at 3 stations, namely ports, residential areas and TPI. Data collection was carried out using the line transect method. The results obtained 2 types of seagrass, namely Enhalus acorodes and Thalassia hempricii. The percentage of seagrass cover at the three stations ranged from 16.7% - 34.3%. The average yield of macroalgae cover at the three stations was only 7%. The average epiphytic cover found at the three stations is 16%. The condition of the waters in Paciran is still relatively good because it is in accordance with the existing quality standards.
Persitensi Pestisida Organoklorin pada Sedimen dan air Laut dalam Kaitannya dengan Kelimpahan Komunitas Benthik di Perairan Pantai Mlonggo Jepara Chrisna Adhi Suryono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.848 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.173-179

Abstract

Senyawa pestisida merupakan senyawa persisten yang sangat sulit diuraikan dan akan terakumulasi dalam lemak suatu organisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan senyawa pestisida dan keterkaitannya dengan keanekaragaman makrozoobenthos di perairan Mlonggo Jepara. Metoda survey digunakan dlaam penelitian ini dengan mengambil 3 lokasi titik sampling dan ulangan sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan daerah muara sungai (stasiun II) menunjukkan kandungan pestisida yang lebih tinggi dan keanekaragaman hewan makrozoobenthos yang rendah bila dibandingkan dengan stasiun I (perairan sungai) dan stasiun III (perairan laut).Kata kunci: Pestisida; akumulasi; makrozoobentbos  The pesticide compound has characteristic difficult to degrade in the nature and accumulate in fat tissue of organism. The purpose of the research was to investigate the existance of pesticide compound of Mlonggo waters ,and their correlation to macrozoobenthic diversity. Sampling survey method was applied in this research which take place on 3 stations with 4 replicates. The results show, that the location on the mouth of river (station II) has the highest concentration of pesticide compound and lowest of macrozoobenthic diversity compared with stations I and III which located on the river and sea.Keywords: Pesticide; accumulation; macrozoobenthic
Ekotoksisitas Senyawa Cyanida pada Karang Porites lutea dan Galaxea fascicularis Irwani Irwani; Chrisna Adhi Suryono; Agus Sabdono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.072 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.89-94

Abstract

Salah satu cara metoda penangkapan ikan hias yang efektif adalah dengan melakuken pembiusan dengan menggunakan cyanida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas senyawa cyanida terhadap karang Porites lutea dan Galaxea fascicularis. Rancangan penelitian yang digunakan dalah split plot RAK dengan ulangan 3 kali jenis karang merupakan kelompok utama dan konsentrasi cyanide merupakan sub-kelompok. Pengamatan yang diamati adalah jumlah zooxanthellae dan proseptase kematian karang. Hasil penelitian menunjukan semakin tinggi konsentresi cyianida menunjukan semakin tinggi prosentese kematian karang. Semakin tinggi konsentrasi cyanida semakin kecil jumlah zooxanthellae pada karang.Kata kunci: cyanide, toksisitas, Porites luta dan Galaxea fascicularis   One of the methods commonly used to capture ornamental fishes is by using cyanide. The purpose of this study was to investigate the toxicity of cyanide compound on coral Porites lutea and Galaxea fascicularis. The split plot randomized block design with 3 replicate was used in the present study. While the species of corals used as the main block and the cyanide concentration as the sub-block. The study was focused on the analyzed of the number of zooxanthellae and the percentage mortality of corals. The results of the study shows that increasing cyanide concentration increased the percentage mortality of coral and decreased the number of zooxanthellae on the coral.Keywords: cyanide, toxicity, Porites lutea and Galaxea fascicularis
Pestisida Organoklorin pada Aqifer Dangkal di Wilayah Pesisir Kota Semarang Chrisna Adhi Suryono; Baskoro Rochaddi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.377 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.3.155-159

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menganalisis kondisi fisika-kimiawi dan tingkat kontaminasi pestisida organoklorin dalam aqifer dangkal di wilayah pesisir Kota Semarang.  Sampel airtanah diambil di 10 lokasi di pesisir Semarang, yang mewakili daerah industri, pertanian dan pemukiman.  Hasil penelitian menunjukkan nilai parameter fisika-kimiawi airtanah (pH, suhu, salinitas) mempunyai variasi yang rendah.  Ke 10 sampel yang diamati menunjukan warna, rasa dan bau dalam air sampel.  Hasil rata-rata kandungan heptaclor adalah 0.023-0.055 µg L-1 dan enfrin adalah tidak terdeteksi sampai 0.648 µg L-1.  Hasil perbandingan kandungan pestsida organochlorine dalam aqifer dangkal di pesisir Semarang dengan WHO dan IWQS menunjukan bahwa air pada aqifer di Semarang termasuk terkontaminasi pestisida organochlorine dan membuktikan telah ditemukannya pestisida organochlorine pada aqifer dangkal di wilayah pesisir Kota Semarang.Kata kunci: aqifer dangkal, organochlorin pestisida, wilayah pesisir  The present study was conducted to assess psycho-chemical parameters and the level of organochlorine pesticides contamination in shallow aquifer of Semarang city coastal areas.  Ten samples of groundwater were collected in different sites of Semarang coastal i.e. industrial, agriculture and settlement areas. The results indicated that low variation existed among some physico-chemical parameter (pH, temperature, salinity). In the colors, taste and odor of 10 water sample were also investigated.  Mean values found in positive samples were heptachlor, ranging from 0.023 to 0.055 µg L-1, whereas endrin, ranging from undetected to 0.648 µg L-1. Compare to World Health Organization (WHO) limits and Indonesian Drinking and Domestic Water Quality Standard for Ground Water (IWQS) showed that this study proved the presence of organochlorine pesticides contamination of some shallow aquifer supplies in the coastal areas of Semarang city. Key  words : shallow aquifer, organochlorine pesticides, coastal area
Co-Authors Abdul Rohman Zaky Abdul Rohman Zaky Adi Santoso Adi Santoso Agus Indardjo Agus Indarjo Agus Sabdono Ajeng Rusmaharani Al Bar Rauuf Mulki Aldo Rizqi Arinianzah Alfi Satriadi Alghazeer, Rabia Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo Almira Nadia Kusuma Alvi Akhmad Arifin Amri, Fahrizal Dwi Anggada, Rama Annisa Rhamadany Apriliani, Seka Indah Ardi Ristiyanto Ardian Nurrasyid Chamidy Ardiati Widya Wandira Arief, Atthariq Fachri Ramadhan Arifin, Alvi Akhmad Arifin, Muhammad Yusuf Aris Ismanto Asnita Fraselina Samosir Azhar, Nuril Azizah, Pramita B Tyas Susanti Bambang Yulianto Baskoro Rochaddi Baskoro Rochaddi Bayu Khrisna Yudhatama Bima Agung Saputra Chamidy, Ardian Nurrasyid Dara Ramadhania Istiqomahani Delianis Pringgenies Delianis Pringgenis Denny Hendrik Nainggolan Diah Ayu Isti Anti Diah Permata Wijayanti Dian Kharisma Dinar Ayu Budi Dony Bayu Putra Pamungkas Dyah Pitaloka Novitasari Ega Widyatama Rachmawan Endang Sri Susilo Endang Supriyantini Ervia Yudiati Erwin Adriono Fahrizal Dwi Amri Faishal Falah Falah, Faishal Farahdita, Wanda Laras Fitriyani, Naily Gadisza Asmara Yudha Ghea Ken Joandani Joandani Hadi Endrawati Ibnu Praktikto Ibnu Praktikto Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Istiqomahani, Dara Ramadhania Ita Riniatsih Ita Widowati Joandani, Ghea Ken Joandani Johannes Riter Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Khusnul Khotimah Kiuk, Yosni Krisna Dwi Nugroho Krisna Dwi Nugroho Kusuma, Almira Nadia Mahda Veronika Maman Somantri Millenia Dinda Alkautsar Mimie Saputri, Mimie Muhamad Irfan Cahyo Putro Muhammad Arif Romadhi Muhammad Yusuf Arifin Muhammad Zainuddin Naily Fitriyani Naitkakin, Egidius Nathanael Ganang Anindityo Wibowo Nirwani Soenardjo Nor, Muhammad Muallifin Novitasari, Dyah Pitaloka Nur Taufiq-Spj Pangga, R. M. Dio Dwi Pitaloka, Maria Dyah Ayu Pramita Azizah Pramudya, Herning Putro, Muhamad Irfan Cahyo Rachmawan, Ega Widyatama Raden Ario Rafdi Abdillah Harjuna Rafif Rizki Zaidan Ramadhani, Yualita Prasida Rendha Hendyanto Retno Hartati Rhamadany, Annisa Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Rini Pramesti Ristiyanto, Ardi Riter, Johannes Rizky Erdana Rudhi Pribadi Ruri Jupriyati Samosir, Asnita Fraselina Saputra, Bima Agung Sarifah, Almunatus Sarwati, Dhea Erika Satriawan, Erian Febri Seka Indah Apriliani Septiani, Mita Eka Setyani, Wilis Ari Setyo Adi Prasojo Setyo Adi Prasojo Sitanggang, Wanri Soares, Daniel Candido Da Costa Sri Redjeki Sri Redjeki Subagiyo Subagiyo Sugeng Widada Sugiyanto, Nenden Rose Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Teguh Sugiarto The Michael Febrian Wijaya Tunas Pulung Pramudya Vicencius Hendra Adhari Wanda Laras Farahdita Wandira, Ardiati Widya Warsito Atmodjo Wibowo, Nathanael Ganang Anindityo Widianingsih Widianingsih Wilis Ari Setyani Wilis Ari Setyati Yualita Prasida Ramadhani Yudha, Gadisza Asmara Yudhatama, Bayu Khrisna