Claim Missing Document
Check
Articles

Sistem Nama Diri Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptagelar Dede Kosasih; Dian Hendrayana; Winci Firdaus; Denny Adrian Nurhuda; Basori Basori
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.6106

Abstract

The background of this research is the curiosity about the practice of giving personal names in the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people. In the name string generally implies faith and wisdom (wisdom) and can reflect prayer, ideals (expectation). This means that the name given (bears) will be in accordance with the demands (expectations) of the community at the time it was made. The purpose of this study is to photograph the practice of giving personal names in the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people and to examine the factors and values underlying this practice. This study uses a qualitative methodological approach, namely descriptive analytical method. The data source in this study is the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people in three generations. Data collection techniques in this study were participant observation and observation and note-taking techniques. Data analysis techniques begin with collecting data, reducing data, conducting analysis based on classification. The results of this study show that the pattern of giving and changing names is caused by several reasons. First, driven for psychological reasons, in the form of hopes such as for the sake of glory, fame, profit and avoidance of disaster as well as inner satisfaction. Second, related to socio-cultural values that have roots in the past. From the diachronic study, the pattern of naming the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people has experienced a shift, although the shift or change is relatively not that massive. This is because the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people still adhere to traditions and customs that have been passed down from generation to generation. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan praktik pemberian nama diri di masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar. Dalam untaian nama itu umumnya menyiratkan keyakinan dan kebijaksanaan (wisdom) serta dapat merefleksikan doa, cita-cita (expectation). Artinya bahwa nama yang diberikan (disandangnya) tersebut akan sesuai dengan tuntutan (harapan) masyarakat pada masa dibuatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memotret praktik pemberian nama diri dalam masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar dan akan mengkaji faktor-faktor dan nilai-nilai apa saja yang melatarbelakangi praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi kualitatif yakni metode deskriptif analitis. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar dalam tiga generasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi partisipan serta teknik simak dan catat. Teknik analisis data dimulai dengan mengumpulkan data, mereduksi data, melakukan analisis berdasarkan klasifikasi. Hasil dari penelitian ini bahwa pola pemberian maupun pergantian nama disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, didorong karena alasan psikologis, berupa harapan seperti demi kejayaan, ketenaran, keuntungan dan terhindar dari malapetaka serta kepuasan batiniah. Kedua, yaitu berkaitan dengan nilai sosio-kultural yang mempunyai akar ke masa silam. Dari kajian secara diakronis pola pemberian nama masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar telah mengalami pergeseran, walaupun pergeseran atau perubahan itu relatif tidak begitu masif. Hal ini dikarenakan masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar masih pengkuh (kuat) memegang tradisi dan adat istiadat yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
Keterancaman Bahasa Roswar: Analisis Daya Hidup Bahasa Santy Yulianti; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2942

Abstract

Roswar language is one of the languages in West Papua which has less than 5000 native speakers, so this language vitality study is needed to measure the vitality of the Roswar language. This paper is the result of research on the vitality of the Roswar language in Waprak and Nordiwar Villages, Roswar District, Teluk Wondama Regency, West Papua Province. This study aims to describe the language vitality in Papua/West Papua. The scope of this research is based on sociolinguistic theories, especially those related to the vitality of language and endangered languages. The use of language in the written domain/expression domain, use of language in the religion domain, and the use of language in the education domain are mostly at a level of decline. Language vitality which is at a threatened level is the use of language in the transactions domain. The vitality of Roswar language is based on the P value (P-value) which explains the relationship between the variables in each index compared to the mobility of the informants in the relative urban-rural position, the use of language in the family domain, the use of language in the written expression domain, the use of language to express expression of feelings, use of language in the religion domain, and use of language in the government domain. AbstrakTulisan ini merupakan hasil penelitian vitalitas bahasa Roswar di desa Waprak dan Nordiwar, Distrik Roswar, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan vitalitas bahasa di Papua/Papua Barat. Cakupan penelitian ini didasarkan pada teori-teori sosiolinguistik khususnya yang berkaitan dengan vitalitas bahasa dan bahasa terancam punah. Penggunaan bahasa pada ranah/ekspresi tulis, penggunaan bahasa pada ranah keagamaan, dan penggunaan bahasa pada ranah pendidikan sebagian besar berada pada tingkat mengalami kemunduran. Vitalitas bahasa yang berada pada tingkat terancam adalah penggunaan bahasa pada ranah transaksi. Vitalitas bahasa Roswar berdasarkan nilai P (P-value) yang menerangkan keterkaitan variabel-variabel dalam tiap indeks yang dibandingkan berada di ranah mobilitas informan pada posisi relatif kota-desa, penggunaan bahasa pada ranah keluarga, penggunaan bahasa pada ranah/ekspresi tulis, penggunaan bahasa untuk mengungkapkan ekspresi perasaan, penggunaan bahasa pada ranah keagamaan, dan penggunaan bahasa pada ranah pemerintahan.                  
Ungkapan Keprihatinan dalam “Maklumat Akal Sehat” (Analisis Wacana Kritis terhadap Maklumat Rocky Gerung dkk) Andi Indah Yulianti; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 8, No 1 (2019): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v8i1.961

Abstract

This paper seeks to reveal how the use of language in the form of lexical choices in "Maklumat Akal Sehat" when associated to the ideology and academic background of the initiators. This study used Teun van Dijk's Critical Discourse Analysis approach which divides discourse into three dimensions, namely the dimensions of text, social cognition, and social context. From the findings and discussion, it can be concluded that "Maklumat Akal Sehat" are dominant in lexical choices. The emerging lexicon illustrates concerns about democracy in Indonesia. The lexicons that appear are mostly related to politics, law, certain political understandings/ideology, and words that are slightly less prevalent (tunaide, tunakualitas, multimatra), because basically this decree is composed by several figures with different academic background and most of them are activists, writers, human rights watchdogs, lecturers of philosophy, etc. so, those things directly and indirectly influence the lexical choice in the decree.  ABSTRAKTulisan ini berusaha untuk mengungkap bagaimana penggunaan bahasa berupa pilihan leksikal dalam ”Maklumat Akal Sehat” jika dihubungkan dengan ideologi dan latar belakang akademik para penggagasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan Critical Discourse Analysis Teun van Dijk yang membagi wacana ke dalam tiga dimensi yaitu dimensi teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Dari hasil temuan dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa “Maklumat Akal Sehat” dominan pada pilihan leksikal. Leksikon yang muncul menggambarkan keprihatinan terhadap demokrasi di Indonesia. Leksikon-leksikon yang muncul sebagian besar berhubungan dengan politik, hukum, paham/ajaran politik tertentu, dan kata-kata yang sedikit kurang lazim (tunaide, tunakualitas, multimatra), karena pada dasarnya maklumat ini disusun oleh beberapa tokoh dengan latar belakang akademis yang berbeda-beda dan sebagian besar merupakan aktivis, sastrawan, penggiat HAM, dosen filsafat, dan lain-lain sehingga secara langsung dan tak langsung turut memengaruhi dalam pemilihan kata dalam maklumat tersebut.
Membaca Ulang Ande-Ande Lumut: Folklor sebagai Identitas Kolektif dan Kontrol Sosial Aprilia Lailatunnuryah; Setya Yuwana; Rakmat Faisal; Basori Basori; Winci Firdaus
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4815.53-65

Abstract

This study aims to dissect the sociological and psychological dimensions of the Ande-Ande Lumut folktale through a compilation of William R. Bascom's functionalism theory and Alan Dundes's psychoanalytic expression theory. The method used in this study is descriptive qualitative with a library study approach. Data collection techniques were carried out through documentation of Ande-Ande Lumut narrative texts from various written sources. Data analysis techniques used content analysis methods that integrate narrative units into Bascom's four folklore functions and symbolic identification based on Dundes's mental image theory. The results of the study indicate that the Ande-Ande Lumut narrative operates as an effective instrument of social control in upholding norms of loyalty and traditional morality in Javanese society. Psychoanalytically, the characters of Klenting Kuning and Yuyu Kangkang are found to be forms of collective identity projection that express the tension between inner desires and social boundaries (ego and superego). This study concludes that Ande-Ande Lumut is not merely entertainment, but a cultural mechanism that maintains social stability while also serving as a channel for sublimation for the psychological aspirations of its community. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membedah dimensi sosiologis dan psikologis cerita rakyat Ande-Ande Lumut melalui kompilasi teori fungsionalisme William R. Bascom dan teori ekspresi psikoanalitik Alan Dundes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi teks narasi Ande-Ande Lumut dari berbagai sumber tertulis. Teknik analisis data menggunakan metode analisis isi yang mengintegrasikan unit-unit naratif ke dalam empat fungsi folklor Bascom dan identifikasi simbolis berdasarkan teori citra mental Dundes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi Ande-Ande Lumut beroperasi sebagai instrumen kontrol sosial yang efektif dalam menegakkan norma kesetiaan dan moralitas tradisional di masyarakat Jawa. Secara psikoanalitik, tokoh Klenting Kuning dan Yuyu Kangkang ditemukan sebagai bentuk proyeksi identitas kolektif yang mengekspresikan ketegangan antara hasrat batiniah dengan batasan sosial (ego dan superego). Penelitian ini menyimpulkan bahwa Ande-Ande Lumut bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah mekanisme budaya yang menjaga stabilitas sosial sekaligus menjadi saluran sublimasi bagi aspirasi psikologis masyarakat pemiliknya.
REPRESENTASI BUDAYA DALAM NOVEL BOENGA ROOS DARI TJIKEMBANG Syihaabul Hudaa; Ahmad Bahtiar; Novi Diah Haryanti; Winci Firdaus
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3316

Abstract

Novel bukan hanya menyajikan unsur seni, melainkan unsur budaya, sejarah, dan nilai estetik lainnya melalui bahasa. Akan tetapi, tidak semua pembaca menemukan nilai tersebut dan sekadar menikmati cerita yang dituliskan oleh penulisnya. Tujuan penulisan artikel ini untuk menemukan nilai budaya apa saja yang terdapat di dalam novel Boenga Roos dari Tjikembang karya Kwee Tek Hoay yang merupakan keturunan Tionghoa. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis kualitatif deskriptif di mana peneliti memaparkan hasil penelitiannya menggunakan teks secara deskriptif. Kemudian, peneliti menggunakan pendekatan di dalam penelitian berupa analisis isi dengan memfokuskan pada novel dengan melakukan kajian objektif. Kajian objektif dipilih karena peneliti dapat menelaah secara mendalam nilai-nilai yang terdapat di dalam novel tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan unsur kebudayaan Sunda, Jawa, dan Tionghoa dalam novel Boenga Roos dari Tjikembang.
Toponymy, Identity, and Place Attachment: Toponym Karawaci and Cina Benteng Community in Tangerang, Banten Sonya Ayu Kumala; Evi Maha Kastri; Winci Firdaus
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1705

Abstract

This article examines the toponym Karawaci as a historically and culturally meaningful place name associated with the heritage of the Cina Benteng community in Tangerang, Banten. The study explores how the name Karawaci functions not only as a geographical marker but also as a linguistic representation of collective identity, historical memory, and emotional attachment to place. In the framework of toponymy studies, place names are understood as socio-cultural symbols that preserve narratives of migration, settlement, ethnicity, and local history. This research adopts theories of identity and place attachment to explain the relationship between language, community, and spatial belonging. The concept of cultural identity proposed by Stuart Hall (1990) explains that identity is continuously constructed through history, representation, and collective memory. Through this perspective, the toponym Karawaci reflects the historical existence and cultural continuity of the Cina Benteng community within the socio-cultural landscape of Tangerang. In addition, the study applies the theory of place attachment which emphasizes the emotional and symbolic bonds formed between individuals, communities, and meaningful places. Using a mixed qualitative and quantitative research design, the article analyzes Karawaci through historical-cultural interpretation, textual sources, interview themes, questionnaire percentages, and visual documentation. The findings reveal that Karawaci is understood through overlapping meanings, including historical settlement memory, Cina Benteng identity, family attachment, administrative address value, and uncertain or mixed etymology. A questionnaire involving 120 respondents shows that 71% associate Karawaci with historical settlement memory, 64% with Cina Benteng identity, 51% with family attachment, 46% with administrative address value, and 37% with uncertain etymology. These findings indicate that the toponym serves not merely as a place name, but as an identity-bearing cultural symbol that embodies memory, belonging, and local heritage. Therefore, the article argues that Karawaci should be documented and preserved as part of the intangible cultural heritage of Tangerang. AbstrakPenelitian ini membahas toponim Karawaci sebagai nama tempat yang memiliki makna historis dan kultural yang berkaitan dengan warisan komunitas Cina Benteng di Tangerang, Banten. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana nama Karawacitidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga sebagai representasi linguistik dari identitas kolektif, memori sejarah, dan keterikatan emosional terhadap suatu tempat. Dalam kajian toponimi, nama tempat dipahami sebagai simbol sosial-budaya yang menyimpan narasi migrasi, permukiman, etnisitas, dan sejarah lokal. Penelitian ini menggunakan teori identitas dan keterikatan tempat (place attachment) untuk menjelaskan hubungan antara bahasa, komunitas, dan rasa memiliki terhadap ruang. Konsep identitas budaya yang dikemukakan oleh Stuart Hall (1990) menjelaskan bahwa identitas terus dibentuk melalui sejarah, representasi, dan memori kolektif. Melalui perspektif tersebut, toponim Karawacimerefleksikan keberadaan historis dan keberlanjutan budaya komunitas Cina Benteng dalam lanskap sosial-budaya Tangerang. Selain itu, penelitian ini juga menerapkan teori place attachment yang menekankan adanya ikatan emosional dan simbolik antara individu, komunitas, dan tempat yang bermakna. Dengan menggunakan desain penelitian campuran kualitatif dan kuantitatif, artikel ini menganalisis Karawaci melalui interpretasi historis-kultural, sumber tekstual, tema wawancara, persentase kuesioner, dan dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Karawaci dipahami melalui berbagai makna yang saling bertumpang tindih, termasuk memori permukiman historis, identitas Cina Benteng, keterikatan keluarga, nilai administratif alamat, serta etimologi yang tidak pasti atau bercampur. Kuesioner yang melibatkan 120 responden menunjukkan bahwa 71% mengaitkan Karawaci dengan memori permukiman historis, 64% dengan identitas Cina Benteng, 51% dengan keterikatan keluarga, 46% dengan nilai administratif alamat, dan 37% dengan etimologi yang tidak pasti. Temuan ini menunjukkan bahwa toponim tersebut tidak hanya berfungsi sebagai nama tempat, tetapi juga sebagai simbol budaya yang mengandung identitas, memori, rasa memiliki, dan warisan lokal. Oleh karena itu, artikel ini berpendapat bahwa Karawaci perlu didokumentasikan dan dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya takbenda Tangerang.