Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : At-Tafkir

DARI ISLAM POLITIK KE ACEHNOLOGI BIOGRAFI PEMIKIRAN KAMARUZZAMAN BUSTAMAM- AHMAD Cibro, Ramli
At-Tafkir Vol 11 No 2 (2018): Vol. 11 No 2 desember 2018
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at.v11i2.733

Abstract

Tulisan ini ingin mengulas biografi pemikiran seorang intelektual muda Aceh yaitu Kamaruzzaman Bustamam Ahmad. Pemilihan nama Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (selanjutnya disebut KBA) dilakukan karena pertama, gagasan intelektualnya yang berpengaruh di Aceh. Secara umum, mazhab Acehnologi yang dikembangkan dari wacana subaltern studies, telah menarik perhatian publik dan diperbincangkan secara nasional maupun internasional. Kedua, karena nama tersebut telah menjadi perhatian penulis sejak tahun 2013, dimana penulis kemudian banyak berinteraksi dengan KBA mengkoleksi hampir seluruh karya tulisnya, dan mempelajari pemikiran-pemikirannya. Metode penelitian yang dilakukan adalah diskursus analisis, berupa analisa dan bedah terhadap karya dan pemikiran KBA. Dari studi pendahuluan, penulis mengetahui bahwa pada mulanya  yakni sejak tahun 1996 KBA memilih konsentrasi Islam Politik perihal hubungan antara keislaman dan kebangsaan. Pada tahun 2015, KBA kemudian beralih pada studi kawasan khususnya studi Asia Tenggara meliputi studi pemikiran Islam, Jama’ah Tabligh dan Terorisme.  Pada tahun 2009 bertepatan dengan saat ia kembali ke Aceh, KBA mengerucutkan kajian ke dalam studi keacehan, hingga melahirkan mazhab Acehnologi pada tahun 2011. Sejak saat itu, hingga selanjutnya, penulis mengasumsikan pemikiran KBA dalam kerangka Acehnologi. Bahkan ketika tahun 2017 KBA melibatkan diri dalam diskusi Masa Depan Dunia, Islam Nusantara dan Imajinasi Kebangsaan, penulis masih meletakkannya dalam kerangka Acehnologi. Artinya, ketiga tema terakhir tersebut dibedah oleh KBA melalui world-view Acehnologi.
DARI WUJUDIYAH KE MA’RIFAH: GENEOLOGI TASAWUF HAMZAH FANSURI Ramli Cibro
At-Tafkir Vol 12 No 1 (2019): AT-TAFKIR: Jurnal Pendidikan, Hukum dan Sosial Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at.v12i1.591

Abstract

Secara umum, ajaran tasawuf Hamzah Fansuri disebut sebagai ajaran Wujǔdiyah. Secara geneologi, kata wujǔdiyah tidak ditemukan dalam karya-karya Hamzah Fansuri. Kata tersebut justru pertama sekali disebutkan dalam tulisan-tulisan Nũr Al-Dîn Al-Rânirî sebagai “tudingan sesat” atas ajaran tasawuf Hamzah Fansuri. Secara ontologi, kata wujǔdiyah justru sering dikaitkan dengan ajaran waḥdatul wujúd-nya Ibnu Arabi. Terakhir, kata wujǔdiyah kemudian menjadi “terma baku” yang digunakan oleh para pengkaji Hamzah Fansuri, baik yang mendukung maupun yang menolak ajarannya. Hanya saja dalam artikel ini penulis mencoba menolak menyematkan kata wujǔdiyah dan menawarkan kata ma’rifah bagi ajaran tasawuf Hamzah Fansuri. Menurut penulis, ajaran tasawuf Hamzah Fansuri lebih layak disebut sebagai ma’rifah, daripada wujǔdiyah. Karena kata wujǔdiyah tidak ditemukan basis geneologi, maupun terma ontologi, epistemologi dan aksiologi-nya dalam ajaran tasawuf Hamzah Fansuri.
SEMANTIK ‘IRFĀNI SEBAGAI MODEL TAFSIR SUFISTIK Ramli Cibro
At-Tafkir Vol 12 No 2 (2019): AT-TAFKIR: Jurnal Pendidikan, Hukum dan Sosial Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini akan membahas mengenai semantik-‘irfânĭ sebagai model penafsiran sufistik. Model tafsir ini telah menjadi tradisi tersendiri di kalangan ulama tasawuf ketika mereka ingin menafsirkan teks secara batini (tafsir mistik).Ulama tasawuf dalam pengertian ini adalah mereka yang memiliki dua kemampuan yaitu kemampuan diskursif dan kemampuan iluminatif. Kemampuan diskursif biasanya didapat dengan belajar dan melakukan olah pikir. Sedangkan kemampuan iluminatif adalah kemampuan yang didapat melalui proses perjalanan suluk (melalui proses penyucian jiwa) dan riyâdhah (atau latihan spiritual). Dengan kedua metode ini, kaum sufi kemudian mencoba menggkaji dan membahasakan makna-makna rahasia teks suci Al-Qur’an yang dalam kajian ini disebut sebagai metode semantik-’irfânĭ.
Epistemologi Tasawuf Hamzah Fansuri dalam Kitab Sharb Al-Ashîqîn Ramli Cibro
At-Tafkir Vol 14 No 2 (2021): AT-TAFKIR: Jurnal Pendidikan, Hukum dan Sosial Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at.v14i2.1936

Abstract

The highest knowledge of the Sufis is ma'rifah which is obtained through disciplinary practice, through riyadhah and mujahada which are here referred to as Sufi epistemology. These paths are cultivated in a disciplined, methodological and objective manner so as to enable the Sufis to compile their treatises in a standard manner. As one of the most famous scholars in the archipelago, Hamzah Fansuri in the book Sharb Al-Ashiqĭn also compiled standard treatises regarding this Sufi path. Through this philosophical analysis, Hamzah Fansuri's model of Sufism epistemology is explained. The results of this study indicate that to reach the state of knowledge, a person must take spiritual steps, be under the guidance of a teacher, lead a simple life and always put their trust in Allah SWT.