Claim Missing Document
Check
Articles

KUALITAS HIDUP DAN KEMAMPUAN MENYERAP LOGAM BERAT TANAMAN BANGKAL (Nauclea subdita. Merr) YANG DITANAM PADA AREAL PASCATAMBANG DI PT. JORONG BARUTAMA GRESTON KABUPATEN TANAH LAUT KALIMANTAN SELATAN Abdul Hadi; Yudi Firmanul Arifin; Adistina Fitriani; Ihsan Noor
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 2 Edisi April 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i2.8505

Abstract

Acid mine drainage (AMD) is the result of mining, especially coal mining, generally open-pit mining. Any open pit mining will produce voids filled with acid mine drainage (AMD) which is water formed due to the oxidation of sulfide minerals that are exposed or exposed to the water in the presence of water. One of the highly reactive sulfide minerals in the AMD formation process is pyrite. This is a challenge for the environment how to absorb heavy metals contained in water. Here the researchers tried to use the method of Phytoremediation. Phytoremediation is a technology that uses plants, here the researcher uses bangkal plants (Nauclea Subdita Merr.) which are planted in different locations, namely unflooded land, temporarily inundated, and flooded. The purpose of this study was to test the ability of the pods to adapt and grow on post-mining land. Analyzing the quality of life of Bangkal on post-mining land with non-flooded, temporarily inundated and permanently inundated land conditions. Knowing the effect of soil fertility and inundation factors on the growth of bangkal. Analyzing the content of heavy metals Fe and Mn that accumulate in plant parts (roots, stems and leaves). The results of this study indicate that Bangkal plants are able to survive in temporarily flooded land and are able to absorb heavy metals contained in acid mine drainageAir asam tambang (AMT) merupakan dampak hasil dari penambangan khususnya pertambangan batubara, umumnya pertambangan terbuka. Setiap pertambangan terbuka akan menghasilkan void yang diisi oleh air asam tambang (AAT) merupakan air yang terbentuk akibat oksidasi mineral sulfida yang terpajan atau terdedah di udara dengan kehadiran air. Salah satu mineral sulfida yang sangat reaktif dalam proses pembentukan AAT adalah pirit. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi lingkungan bagaimana menyerap logam berat yang terkandung dalam air. Disini peneliti mencoba mengunakan metode Fitoremediasi.  Fitoremediasi adalah suatu teknologi yang menggunaka tanaman, disini peneliti mengunakan tanaman bangkal (Nauclea Subdita Merr.) yang ditanam pada lokasi berbeda, yaitu lahan tidak tergenang, tergenang sementara, dan tergenang. Tujuan penelitian ini bertujuan menguji kemampuan bangkal beradaptasi dan tumbuh pada lahan pasca tambang. Menganalisis kualitas hidup bangkal pada lahan pasca tambang dengan kondisi lahan tidak tergenang, tergenang sementara dan tergenang permanen. Mengetahui pengaruh tingkat kesuburan tanah dan faktor genangan pada pertumbuhan bangkal. Menganalisis kandungan logam berat Fe dan Mn yang terakumulasi pada bagian tanaman (akar, batang dan daun). Hasil penelitian ini menujukan tanaman bangkal mampu bertahan hidup pada lahan tergenang sementara dan mampu menyerap logam berat yang terkandung pada air asam tambang. Hasil pengujian AAT di areal swampy forest dengan tanaman bangkal yang tumbuh hasil analisis laboraturium pH 4.02, fe sebesar 1,38 mg/L yang berarti < 4 mg/ L sesuai Pergub Kalsel No. 36 tahun 2008. Hasil pertumbuhan tanaman tanamn bangkal pada areal yang tergenang sementara standar deviasi 19.63, tidak tergenang 2.69 dan tergenang 22.21. Hasil analisis keragaman menunjukkan hasil bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman gempol karena nilai F hitung = 0,97 lebih rendah  dari F tabel taraf 5% = 3,22 dan  F Tabel taraf 1% = 5,15. Hasil analisis keragaman menunjukkan hasil bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman gempol karena nilai F hitung = 1,06 lebih rendah  dari F tabel taraf 5% = 3,22 dan  F tabel taraf 1% = 5,15
PENGARUH BERBAGAI MACAN PERENDAMAN DAN KEDALAMAN PENANAMAN BENIH TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI MAHONI (Swietenia macrophylla) Wahyu Saputra; Basir Achmad; Adistina Fitriani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9224

Abstract

The purpose of this study was to examine the survival percentage, height growth, and diameter growth of mahogany (Swietenia macrophylla) seedlings. The research method used was a factorial completely randomized design with 2 factors. The first factor consisted of five levels of immersion (control, young coconut water for 12 hours, onion solution for 6 hours, bean sprouts solution for 12 hours, and hot water 60°C for 12 hours). The second factor is the depth of planting with two levels of depth (1 cm and 2 cm). The research data were first analyzed for normality using the Kolmogorov-Smirnov test, followed by analysis of variance, Least Significance Different test, and Duncan’s multiple test. The results showed that there was a relationship between planting depth and immersion had a significant effect on the percentage of germination. Seeds planted two centimeters deep and soaked in various materials had the highest germination rates. The relationship between the immersion treatment and planting depth also had a significant effect on the growth of seedling height. The interaction of soaking treatment using bean sprouts solution for 12 hours at a depth of 2 cm resulted in the highest height growth (27.70 cm), while the treatment interaction that resulted in the lowest height growth (11.20 cm) was soaking with onion solution for 6 hours at 1 cm deep. Diameter growth is also significantly affected by this interaction. Soaking with bean sprouts solution for 12 hours at a planting depth of 2 cm resulted in the largest diameter growth (0.295 cm), while soaking with onion solution for 6 hours at a planting depth of 1 cm resulted in the smallest diameter growth (0.135 cm). The results of the study recommend that in order to obtain fast-growing seedlings, it is recommended to use bean sprouts soaking for 12 hours with a planting depth of 2 cm.Tujuan penelitian ini untuk menguji persentase hidup, pertumbuhan tinggi, serta pertumbuhan diameter dari bibit mahoni (Swietenia macrophylla). Metode penelitian yang digunakan ialah rancangan acak lengkap faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama terdiri dari lima tingkat perendaman (kontrol, air kelapa muda selama 12 jam, larutan bawang merah selama 6 jam, larutan tauge selama 12 jam, dan air panas 60° C selama 12 jam). Faktor kedua yaitu kedalaman tanam dengan dua tingkat kedalaman (1 cm dan 2 cm). Data penelitian terlebih dahulu dianalisis normalitasnya menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, dilanjutkan dengan analisis sidik ragam, uji beda nyata terkecil, serta uji berganda duncan. Hasil penelitian membuktikan bahwa ada hubungan antara kedalaman tanam dengan perendaman berpengaruh nyata terhadap persentase perkecambahan. Benih yang ditanam sedalam dua sentimeter dan direndam dalam berbagai bahan memiliki tingkat perkecambahan tertinggi. Hubungan antara perlakuan perendaman dan kedalaman tanam jugaberpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi semai. Interaksi perlakuan perendaman menggunakan larutan tauge selama 12 jam pada kedalaman 2 cm menghasilkan pertumbuhan tinggi paling tinggi (27,70 cm), sedangkan interaksi perlakuan yang menghasilkan pertumbuhan tinggi paling rendah (11,20 cm) adalah perendaman dengan larutan bawang merah selama 6 jam pada kedalaman 1 cm. Pertumbuhan diameter juga berpengaruh nyata oleh interaksi tersebut. Perendaman dengan larutan tauge selama 12 jam pada kedalaman tanam 2 cm menghasilkan pertumbuhan diameter terbesar (0,295 cm), sedangkan perendaman dengan larutan bawang merah selama 6 jam pada kedalaman tanam 1 cm menghasilkan pertumbuhan diameter terkecil (0,135 cm). Hasil penelitian merekomendasikan agar memperoleh pertumbuhan bibit yang cepat tumbuh disarankan menggunakan perendaman larutan tauge selama 12 jam dengan kedalaman tanam 2 cm.
PENGARUH LAMANYA BENIH SETELAH JATUH DARI POHON DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP PERKECAMBAHAN MERSAWA (Anisoptera marginata Korth.) Sirul Hayati; Basir Achmad; Adistina Fitriani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.10011

Abstract

Testing the effect of "length of time after falling from the tree" (seed age) and soaking time on mersawa germination aims to analyze the germination rate and percentage of germinating mersawa seeds. The factors studied were LBSJP which consisted of 2 months and 1 month, and soaking of red onion extract which consisted of soaking time of 12 hours (without red onion extract/control), 6 hours, 9 hours, 12 hours, and 15 hours with  red onion extract. Based on the Mann-Whitney U test, the two factors and their interactions did not have a significant effect on the variables analyzed (germination rate and germination percentage). However, the seeds with 1 month age germinated faster, namely 13 days compared to the 2 months aged seed, namely 16 days and also had a higher survival rate in seeds with 1 month age, namely 93.33% compared to 2 months, namely 60%. Furthermore, the soaking factor also did not significantly affect the germination rate and germination percentage; however, the seeds that germinated the fastest were the seeds that were seed age 1 month with soaking for 12 hours compared to the seeds that were aged 2 months with soaking for 15 hours using red onion extract.Pengujian pengaruh “lamanya benih setelah jatuh dari pohon” (LBSJP) dan lama perendaman terhadap perkecambahan mersawa bertujuan untuk menganalisis laju perkecambahan dan presentase berkecambah benih mersawa. Faktor yang diteliti adalah  LBSJP yang terdiri dari 2 bulan dan 1 bulan, dan perendaman ekstrak bawang merah yang terdiri dari lama perendaman 12 jam (tanpa ekstrak bawang merah/konrol), 6 jam, 9 jam, 12 jam, dan 15 jam dengan ekstrak bawang merah. Berdasarkan Uji Mann-Whitney U, kedua faktor tersebut dan interaksinya tidak mememberikan pengaruh nyata terhadap variabel yang dianalisis (kecepatan berkecambah dan persentase berkecambah). Namun demikian benih yang LBSJP 1 bulan lebih cepat berkecambah yaitu 13 hari dibanding LBSJP 2 bulan yaitu 16 hari dan juga pada persentase hidup lebih tinggi pada  benih yang  LBSJP 1 bulan yaitu 93,33% dibandingkan 2 bulan yaitu 60%. Selanjutnya faktor perendaman juga tidak berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan dan persentase berkecambah, namun demikian benih yang paling cepat berkecambah yaitu benih yang LBSJP 1 bulan dengan perendaman selama 12 jam dibandingkan benih yang LBSJP 2 bulan dengan perendaman selama 15 jam menggunakan ekstrak bawang merah.
Teknologi Budidaya Lebah Madu Kelulut Di Desa Pemangkih Tengah Kabupaten Banjar Adistina Fitriani; Adi Rahmadi; Dina Naemah; Risnaniah Husna; M Aldy Rahmat
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v3i2.10145

Abstract

Abstract, Desa Pemangkih Tengah RT.06 memiliki kondisi lahan rawa dengan banyak tanaman pertanian (padi, mangga-manggan, bunga-bungaan). Pada saat musim berbunga dapat dimanfaatkan sebagai pakan madu kelulut (Trigona sp.). Madu kelulut memiliki khasiat sebagai antioksidan, antiinflamasi, meningkatkan stamina tubuh dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dilakukan dengan cara memberikan solusi atas permasalahan yang dimiliki Mitra berupa teknis budidaya madu kelulut dan perbaikan manajemen pemasaran madu kelulut. Berdasarkan analisis situasi tersebut maka dapat di identifikasi bahwa diperlukan pengembangan pengetahuan budidaya madu kelulut dengan diberikan pelatihan. Manfaat pengabdian ini guna membekali petani agar memiliki pengetahuan dan peningkatan pendapatan sebagai peternak madu. Serta membantu mengembangkan budidaya madu kelulut sesuai dengan standar, dengan harapan prosuksi madu dapat lebih meningkat.
IDENTIFIKASI KERUSAKAN BIBIT KAPUK RANDU (Ceiba petandra) DI PERSEMAIAN CEMPAKA KALIMANTAN SELATAN Muhlisah Muhlisah; Susilawati Susilawati; Adistina Fitriani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i6.11018

Abstract

Identification of damage to kapok (Ceiba petandra) seeds in Cempaka Nursey South Kalimantan, this research aims to identify damage to kapok seedlings and calculate the percentage of damage to kapok seedlings. The formula used to calculate the percentage of damage form Abadi (2003). The results of the research on the analysis of the causes of the most dominant cause of damage were found namely pests and diseases by 93.2%. The cause of damage to the seedlings is indicated by yellow spots on the leaves due to disease and holes in the leaves due to insect bites. Pests found during the observation were green grasshoppers, wood grasshoppers, ladybugs, red cotton bug, snails, bagworms and silk moth caterpillars. The number of pests found during field observations was caused by the large number of weeds around the beds and in the seed beds. Diseases found in observation were yellow spots or leaf discoloration as many as 679 seedlings; this leaf color change was caused by erratic weather, lack of nutrients obtained by seeds. Other types of damage namely cancer, gummosis and dead shoots in seedlings have symptoms of necrosis which can kill cells in the seeds the shoots and cut off the shoots of the seedlingsIdentifikasi kerusakan bibit kapuk randu (Ceiba petandra) di Persemaian Cempaka Kalimantan Selatan, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kerusakan pada bibit kapuk randu (Ceiba petandra) dan menghitung persentase kerusakan pada bibit kapuk randu. Rumus yang digunakan untuk menghitung persentase kerusakan dari Abadi (2003). Hasil penelitian tentang analisis penyebab kerusakan yang paling dominan ditemukan yaitu serangan hama dan penyakit sebesar 93,2%. Penyebab kerusakan pada bibit ditandai adanya bercak kuning pada daun akibat penyakit dan daun berlubang akibat gigitan serangga. Hama yang ditemukan saat pengamatan yaitu belalang hijau, belalang kayu, kepik, bapak pucung, siput, ulat kantong dan ulat ngengat sutra. Banyaknya hama yang ditemukan saat pengamatan di lapangan diakibatkan oleh banyaknya tumbuhan gulma disekitar bedeng dan di dalam bedeng bibit. Penyakit yang ditemukan pada pengamatan yaitu terdapat bercak kuning atau perubahan warna daun sebanyak 679 bibit, perubahan warna daun ini diakibatkan oleh cuaca yang tidak menentu, kurangnya unsur hara yang didapatkan bibit. Tipe kerusakan lain yaitu kanker, gumosis dan pucuk mati pada bibit terdapat gejala nekrosis yang dapat mematikan sel pada bagian bibit yang menjalar kepucuk dan memetikan bagain pucuk bibit.
PENGARUH PUPUK MIKORIZA TERHADAP TANAMAN KAYU PUTIH (Melaleuca leucadendron Linn) BERUMUR 2 TAHUN Qadar Zailani Arifin; Eny Dwi Pujawati; Adistina Fitriani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i1.11987

Abstract

Cajuput is plants producing NTFPs (Non-Timber Forest Products) which has good prospects for development in the future. Plants with mycorrhizae grow better than plants without mycorrhizae because mycorrhizae can effectively increase nutrient absorption, both macro, and micronutrients. The study aimed to analyze the growth of eucalyptus by administering mycorrhiza and to analyze the health level of eucalyptus by administering mycorrhiza. The study used a completely randomized design with factors of mycorrhizal fertilizer administration with 3 treatments and 25 replications. The results of the study, namely the growth response of eucalyptus aged two years to the application of mycorrhizal fertilizers, obtained 100% survival. Treatment B (40 gr) has the best growth in height (37.80 cm) and diameter (11.87 mm), while treatment A (30 gr) the lowest growth in height (29.88 cm) and diameter (9.57 mm), treatment C (50 gr) have a height (35.56 cm) and diameter (11.59 mm) which was quite high and the highest health level of eucalyptus plants was in treatment B (40 gr) with initial conditions of 4 plants to 19 plants with a percentage of 60%, with higher health conditions, while treatment A (30 gr) with initial conditions of 11 plants became 17 plants with a 24%, treatment C (50 gr) with initial conditions 7 plants to 18 plants with a 44%Tanaman kayu putih merupakan tanaman penghasil produk HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) yang memiliki prospek bagus untuk dikembangkan di masa depan. Tanaman yang memiliki mikoriza bisa tumbuh lebih baik dibandingkan tanaman yang tidak memiliki mikoriza karena membantu dalam penyerapan unsur hara mikro maupun makro. Tujuan dari penelitian yaitu menganalisis pertumbuhan kayu putih dengan pemberian mikoriza dan menganalisis tingkat kesehatan kayu putih dengan pemberian mikoriza. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan faktor pemberian pupuk mikoriza dengan 3 perlakuan dan 25 ulangan, dianalisis secara statistik menggunakan Anova dimana data dilakukan uji kenormalannya dengan uji homogenitas ragam bartlett terlebih dahulu, selanjutnya diuji analisis keragaman. Hasil dari penelitian yaitu respon pertumbuhan kayu putih umur dua tahun terhadap pemberian pupuk mikoriza diperoleh 100% hidup. Pertumbuhan tinggi dan diameter terbaik pada perlakuan B (40 gr) menghasilkan pertumbuhan tinggi (37,80 cm) dan diameter (11,87 mm) tertinggi, sedangkan perlakuan A (30 gr) menghasilkan pertumbuhan tinggi (29,88 cm) dan diameter (9,57 mm) terendah, perlakuan C (50 gr) menghasilkan pertumbuhan tinggi (35,56 cm) dan diameter (11,59 mm) cukup tinggi serta tingkat kesehatan tanaman kayu putih tertinggi pada perlakuan B (40 gr) dengan kondisi awal 4 tanaman hingga menjadi 19 tanaman dengan persentase 60%, dengan kondisi kesehatan lebih tinggi, sedangkan perlakuan perlakuan A (30 gr) dengan kondisi awal 11 tanaman menjadi 17 tanaman dengan pesentase 24%, perlakuan C (50 gr) dengan kondisi awal 7 tanaman menjadi 18 tanaman dengan persentse 44%.
PENGARUH PEMBERIAN HORMON 2,4 D TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN DAUN RAMANIA (Bouea macrophylla Griffith) SECARA IN VITRO Yuda Agus Pratama; Adistina Fitriani; Damaris Payung; Yulianto Syahid; Sigit Kristyanto
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.8817

Abstract

Ramania as known as Gandaria (Bouea macrophylla Griffith), belonging to the Anacardiaceae family. Ramania is a tropical fruit plant native to Southeast Asia and has been commercially grown in the ASEAN region. This research aims to determine the effect of the addition of 2,4 D hormone and the appropriate concentration growth regulator of 2,4 D hormone on the growth of Ramania (Bouea macrophylla Griffith) leaf explants tissue culture Methodology used in this riset was to go directly to the field. The first treatment of hormone 2,4 D with a tissue concentration of 0.8 g for 5 weeks of observation of the size of the callus produced was small and could not last long, and the callus formed from ramania leaf explants on MS tissue culture media (murasihge and Skoog) with 2,4 D treatment all produced a compact textured callus.The use of auxin 2,4 D can affect callus growth in ramania leaf explants (Bouea macrophylla Griffith). The right concentration of 2,4 D hormone for the growth of Ramania leaf explants is the first treatment with a concentration of 0.8 g, the callus produced is the most and fastest growth (day 24).Ramania atau yang dikenal Gandaria memiliki nama latin (Bouea macrophylla Griffith), termasuk famili Anacardiaceae. Ramania merupakan tanaman buah tropis yang berasal dari Asia Tenggara dan secara komersial telah ditanam di wilayah ASEAN. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan hormon 2,4 D dan konsentrasi hormon 2,4D yang tepat terhadap pertumbuhan eksplan daun Ramania (Bouea macrophylla Griffith) secara in vitro. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah turun langsung ke lapangan.. Pertumbuhan kalus yang cepat muncul pada hari ke 24. Perlakuan pertama pada hormone 2,4-D dengan konsentrasi jaringan 0,8 gr selama 5 minggu pengamatan ukuran kalus yang dihasilkan berukuran kecil dan tidak dapat bertahan lama , dan Kalus yang terbentuk dari eksplan daun ramania pada media MS dengan perlakuan 2,4-D semua menghasilkan kalus yang tertekstur kompak.Penggunaan auksin 2,4-D memberikan respon pertumbuhan kalus pada eksplan daun ramania (Bouea macrophylla Griffith). Konsentrasi hormon 2,4-D yang tepat untuk pertumbuhan eksplan daun Ramania adalah perlakuan pertama dengan konsentrasi 0,8 gr, kalus yang dihasilkan paling banyak dan paling cepat pertumbuhannya (hari ke 24).
Sosialisasi Program Perhutanan Sosial bagi Masyarakat Sekitar Hutan Lindung Gunung Lintang Kabupaten Tanah Laut Adistina Fitriani; Trisnu Satriadi; Mahrus Aryadi; Dina Naemah
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v5i2.8692

Abstract

Perhutanan sosial sebagai sebuah sistem pengelolaan hutan secara lestari yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraannya. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani hutan tentang program perhutanan sosial. Sasaran kegiatan adalah kelompok masyarakat sekitar kawasan hutan lindung gunung lintang.  Kegiatan pengabdian meliputi penyampaian materi, diskusi, dan evaluasi.  Masyarakat sangat antusias dan bersedia terlibat dalam program perhutanan sosial.  Berbagai syarat usulan program akan dilengkapi oleh masyarakat.   Rencana awal untuk kegiatan fisik di lapangan adalah rehabilitasi hutan dengan pola agroforestri.  Solusi untuk kendala permodalan adalah dengan bekerjasama sama dengan berbagai lembaga seperti pemerintah dan perusahaan swasta
TINGKAT KEMERATAAN JENIS GULMA DI AREAL HUTAN SKUNDER Naemah, Dina; Fitriani, Adistina; Rachmawati, Normaela; Payung, Damaris
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 3 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 3 Edisi September 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i3.20559

Abstract

Undergrowth and weeds function as soil cover, prevent erosion, and provide habitat for various small fauna. The presence of these plants also affects the nutrient cycle and soil quality. Undergrowth have an important role in maintaining the balance of the forest ecosystem. Variations in undergrowth species and density can be influenced by factors such as light intensity, soil moisture, and interactions with other plants. This research underscores the importance of undersgrowth conservation as part of a sustainable forest management strategy. Research was carried out in secondary forests that were established for specific purposes. Data collection was carried out through field surveys involving direct observation, vegetation sampling. Analysis was carried out to identify the type and level of mastery of each type based on the density and frequency of the types that appeared in the observation plots. Apart from inventorying weed types, this research aims to see the diversity and evenness values in the observation area. The findings show that the undergrowth and weeds in secondary forests, in this case the sengon plant (Paraserianthes falcataria) have 17 types belonging to 7 families, the diversity value (H') is 2.35 and the evenness index (E) is 0.83.
PENGARUH PERMBERIAN HORMON IBA TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN DAUN TANAMAN KASTURI (Mangifera casturi) SECARA IN VITRO Hidayat, Akhmad Noor; Fitriani, Adistina; Payung, Damaris; Syahid, Yulianto; Kristyanto, Sigit
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i5.8927

Abstract

Kasturi (Mangifera casturi) is an identity manga plant of South Kalimantan flora that is almost extinct. Kasturi preservation can be done in vitro, which is an efficient species propagation technique. The in vitro method is an aseptic culture of cells, tissues, organs and their components that have the same function and form. This study aims to determine the effect of IBA hormone administration and the right concentration of IBA (Indole Butyris Acid) hormone on the explants of kasturi (Mangifera casturi) leaf growth in vitro. The dose of IBA hormone used is 0.8 mg; 1.0 mg; 1.2 mg; 1.4 mg; and 1.6 mg with 5 replicates each. The results of the study are quantitative data and qualitative data. Quantitative data are the days of callus formation on explants obtained from observations in the laboratory, recorded and recapitulated. As for qualitative data in the form of explant characteristics which include (color, texture, and size) are described based on the results of the study. The results of this study are the use of auxin IBA gives a response to callus growth in kasturi leaf explants (Mangifera casturi) and the fastest concentration of IBA hormone that is appropriate for the growth of kasturi leaf explants is the first treatment with a concentration of 1 gram with the most callus produced, the fastest growth and free from browning