Claim Missing Document
Check
Articles

LOKAKARYA PENGUATAN KAPASITAS LEMBAGA PENGELOLA AIR SEBAGAI UPAYA PEMANFAATAN AIR BERKELANJUTAN Desi Yunita; R Nunung Nurwati; Wahyu Gunawan
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 3 (2022): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v5i3.38533

Abstract

Kegiatan ini diawali dari adanya temuan mengenai air yang keruh dan tidak layak konsumsi ketika musim hujan di Desa Genteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, masyarakat terpaksa membeli air isi ulang. Fakta ini yang mendasari dilakukannya kegiatan penguatan kapasitas lembaga pengelola air di Desa Genteng. Metode yang dipilih dalam kegiatan penguatan kapasitas lembaga pengelola air ini adalah lokakarya, dengan pemaparan materi presentasi, diskusi, dan simulasi.  Kegiatan ini telah membuka wawasan mengenai tren pemanfaatan air dan tren pertumbuhan di wilayah Kabupaten Sumedang. Selain itu, kegiatan ini juga membuka wacana mengenai efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan air, serta mengembangkan organisasi pengelola air yang baik dan mampu mencukupi kebutuhan pasokan air untuk seluruh masyarakat desa. Dari kegiatan ini, ada keinginan perangkat desa untuk memperbaiki tata kelola lembaga pengelola air, sehingga dapat memperbaiki tata kelola dan pasokan air bagi masyarakat.
Peningkatan Kualitas Petani Kopi sebagai Modal Sosial di Jawa Barat Bintarsih Sekarningrum; Desi Yunita; Wahju Gunawan
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 3, No 2 (2022): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v3i2.37271

Abstract

Artikel ini berangkat dari kegiatan pengabdian yang dilakukan. Diketahui bahwa gagasan sentral modal sosial tentang ikatan sosial berupa jaringan merupakan aset yang sangat bernilai – dasar bagi kohesi sosial karena mendorong iklim kerjasama untuk memperoleh manfaat. Ditengah pandemic covid yang melanda Indonesia beberapa waktu terakhir ini jaringan-jaringan petani kopi khususnya di jawa barat sedikit merenggang karena berbagai pengaruh. Oleh karena itu untuk Kembali memperkuat jaringan masyarakat petani kopi perlu dilakukan penguatan melalui peningkatan kualitas petani kopi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini penting, karena secara jangka panjang kualitas yang meningkat dan kekuatan jaringan yang terbangun tersebut akan meningkatkan NPT petani kopi,. Metode kegiatan ini adalah pelatihan dan presentasi, Adapun peserta yang terlibat dalam kegiatan ini adalah masyarakat petani kopi khususnya yang tergabung dalam Lembaga masyarakat desa hutan Perhutani. 
Pelatihan Komunikasi Antar Pribadi (KAP) Bagi Kader Posyandu Bintarsih Sekarningrum; Desi Yunita
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 5 No 1 (2023): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v5i1.474

Abstract

Selama pandemi Covid 19, banyak bayi yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap bahkan cakupan imunisasi rutin mengalami penurunan. Hal ini disebabkan terbatasnya mobilitas penduduk dalam berkegiatan selama masa pandemi, Untuk meningkatkan kembali kinerja kader posyandu dalam memberikan pelayanan kesehatan pasca pandemi, maka dilaksanakan kegiatan pelatihan tentang komunikasi antar pribadi (KAP), agar Kader Posyandu memiliki kemampuan komunikasi dialogis dan komunikasi antar pribadi (KAP) dalam pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini terdiri dari ceramah, diskusi dan permainan tentang : (1) komunikasi dialogis dan komukasi antar pribadi; (2) bina suasana dalam komunikasi antar pribadi dan (3) teknik membangun partisipasi. Berdasarkan hasil evaluasi, kegiatan pelatihan telah memberikan manfaat sangat penting bagi Kader Posyandu dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Kemampuan Kader Posyandu dalam komunikasi dialogis dan komunikasi antar pribadi (KAP harus berlangsung dalam situasi yang menyenangkan dan akrab; dan adanya perubahan perilaku dari masyarakat ke arah yang lebih baik, sehingga diharapkan Kader Posyandu memiliki kemampuan komunikasi dalam hubungannya dengan masyarakat yang dilayani.
Pengawasan Terhadap Masyarakat: Panopticon Dan Post-Panopticon (Analisis Diferensiasi Pemikiran Michel Foucault-Deleuze & Guattari) Andi Ainun Juniarsi Nur; Wahyu Gunawan; Saifullah Zakaria; Desi Yunita; Aditya Candra Lesmana
Sosioglobal Vol 7, No 2 (2023): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v7i2.48331

Abstract

Menggunakan analisis diferensiasi berdasarkan gagasan Michel Foucault, Gilles Deleuze, dan Felix Guattari, artikel ini merinci metode yang digunakan dalam pengawasan panoptikon dan pasca-panoptikon. Tubuh adalah item bermasalah dalam pandangan pemantauan yang diilhami panoptikon Foucault. Alternatifnya, kontrol pasca-panoptikon merupakan indikasi kecenderungan otoritas yang tak terbatas untuk mengumpulkan dan menyandikan fakta ke dalam lingkup otoritas diskursifnya. Dalam artikel ini, menggunakan penelitian literature review, dengan data primer yang berasal dari berbagai sumber baik jurnal, buku, dokumentasi, internet dan pustaka yang relevan.  Ada tema kunci lain dalam filosofi Deleuze yang dapat digunakan untuk mempelajari surveilans pasca-panoptikon, meskipun sebagian besar penelitian Deleuzian bersandar pada paradigma masyarakat kontrol. Penjelasan Deleuze dan Guattari tentang hubungan kekuasaan rhizomatik dalam masyarakat pasca-kapitalis bersandar pada gagasan ini, yang mereka sebut "reteritorialisasi". Berbeda dengan indikator terbatas dari masyarakat kontrol, reteritorialisasi dapat membantu penelitian kita ke dalam bentuk pemantauan individu dan masyarakat. Menggunakan gagasan reteritorialization, yang mengacu pada kekuatan cairan yang melewati tubuh, keinginan, dan sosial, esai ini berusaha membahas praktik pengawasan npanopticon dan pasca-panopticon. Using a differentiation analysis based on the ideas of Michel Foucault, Gilles Deleuze, and Felix Guattari, this article details the methods used in panopticon and post-panopticon surveillance. The body is a problematic item in Foucault's panopticon-inspired view of monitoring. Alternatively, post-panopticon control is indicative of an authority's boundless propensity to collect and encode facts into its discursive sphere of authority. There are other key themes in Deleuze's philosophy that may be utilized to study post-panopticon surveillance, even though most of the Deleuzian research relies on the control society paradigm. Deleuze and Guattari's explanation of rhizomatic power relations in post-capitalist society relies on this notion, which they term "reterritorialization." In contrast to the limited indicators of a control society, reterritorialization may aid our research into individual and societal forms of monitoring. Using the idea of reterritorialization, which refers to the fluid force that goes through the body, desire, and the social, this essay seeks to address npanopticon and post-panopticon surveillance practices.
SOSIALISASI POTENSI KERENTANAN SUMBER DAYA AIR DI DESA KADAKAJAYA DENGAN METODE GIS Yunita, S.Sos., M.Si, Desi; Gunawan, Wahyu; Nurwati, Nunung
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 5, No 1 (2024): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v5i1.52270

Abstract

Kekurangan air sangat terasa belakangan ini, hal ini dipicu dengan perubahan iklim dimana musim kemarau cenderung lebih lama. Selain karena perubahan alami alam, pola-pola yang dikembangkan oleh masyarakat dari aspek social dan lingkungan menambah realitas kerentan jelas nyata terjadi. Tujuan dilakukannya sosialisasi untuk menggmbarkan realitas kekinian bahwa terjadi perubahan tata guna lahan oleh masyarakat dan dari praktik atau tindakan sosial masyarakat dalam pemanfaatan air rumah tangga dan pertanian lebih tergambarkan dan implikasinya pada resiko kerentanan. Pendekatan kualitatif dengan metode GIS dengan konsep kerentanan. Hasil menujukkan bahwa dengan visualisasi data GIS memperlihat terjadi perubahan tata guna lahan sangat terkait pertambahan penduduk, kebutuhan lahan dan air serta aktivitas pertanian yang tidak ramah pada lingkungan. Anlisis peta Gis menunjukkan curah hujannya tipis dan daya serap air kurang, sehingga Desa Kadakajaya dengan model praktik pemanfaatan air selama ini beresiko rentan dimulai dengan rentannya struktur pertanian karena berkorelasi dengan kebutuhan air, mayoritas mata pencahariaan masyarakat petani diprediksikan terancam apa lagi praktik dan tanda masalah lingkungan sudah ada di desa Kadakajaya.
PENDIRIAN PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT SEBAGAI LANGKAH PERSIAPAN KEJAR PAKET B UNTUK MASYARAKAT DI KAMPUNG GUNUNG BUBUT, DESA BANDASARI Gunawan, Wahyu; Yunita, Desi; Zakaria, Saifullah; Lesmana, Aditya Candra
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 4, No 2 (2023): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v4i2.48475

Abstract

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan mewujudkan masyarakat yang maju serta dapat mengembangkan diri. Pendidikan sendiri terbagi menjadi beberapa bagian salah satunya adalah pendidikan nonformal. Salah satu penyelenggara pendidikan nonformal adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Artikel ini membahas mengenai pembangunan pranata pendidikan yaitu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di Pondok Pesantren Al-Qur’an Al Bayum dalam mempersiapkan santri untuk mengikuti ujian kesetaraan khususnya paket B. Adapun jenis penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan wawancara serta menggunakan data sekunder yang berasal dari Badan Pusat Statistik, dan website terkait. Hasil dari pengabdian diperoleh dengan adanya aksi nyata di lapangan yang disertai dengan dokumentasi pribadi. Pengabdian yang dilakukan di Desa Bandasari selama 31 hari berhasil mendapatkan perhatian masyarakat. Dengan adanya program pengabdian ini, masyarakat mendapatkan edukasi secara nyata bahwa pendidikan memang harus disebarluaskan. Oleh karenanya, program Pra-PKBM ini sangat cocok dibangun di wilayah Kampung Gunung Bubut karena bertujuan untuk membantu masyarakat mempersiapkan Ujian Pendidikan Kesetaraan dengan capaian yang memuaskan.
PEMBENTUKKAN PRANATA KESEHATAN DI LINGKUNGAN PESANTREN AL BAYUM DESA BANDASARI KECAMATAN CANGKUANG KABUPATEN BANDUNG Yunita, Desi; Gunawan, Wahyu; Nurwati, R. Nunung
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 4, No 2 (2023): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v4i2.48171

Abstract

Pesantren adalah lembaga Pendidikan berbasis agama baik tradional maupun dengan konsep modern merupakan tempat dimana santri belajar dengan kegiatan terjadwal dan rutin. Santri yang berasal dari berbagai latar belakang daerah dengan tinggal di asrama dan ada yang pulang-pergi. Pesantren yang hanya menekankan pada aspek pendidikan dan tidak memperhatikan aspek kesehatan -lingkungan sangat berpotensi terpapar penyakit menular ataupun penyakit tidak menular. Tujuan untuk melakukan pendampingan pranata kesehatan yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan paparan penyakit yang ditemukan dengan proses dilaksanakan 6 minggu dengan proses mulai dari identifikasi dan simulasi. Metode simulasi lewat mini klinik merupakan cara menemukan masalah dan langsung melakukan layanan dengan belajar berperan sehingga menemukenali jenis penyakit dan pranata kesehatan yang dibutuhkan sebagai pedoman tata kelakuan. Pranata kesehatan yang penting dilakukan adalah pedoman kesehatan reproduksi, pedoman berinteraksi waktu sakit, pedoman budaya hidup sehat, pedoman tata kelakuan penanganan penyakit menular dan tidak menular serta pedoman terintegerasi kesehatan dan lingkungan. Pedoman tersebut merupakan kesepakatan bersama sehingga menjadi nilai dalam berperilaku baik perilaku pencegahan, perilaku saat penanganan, perilaku perawatan dan pemulihan.
Proses Pembentukan Citra Diri Melalui Media Sosial Instagram (Studi Kasus Pada Akun Selebgram @Roro_Yustina): Proses Pembentukan Citra Diri Melalui Media Sosial Instagram (Studi Kasus Pada Akun Selebgram @Roro_Yustina) Nurul Aulia; Wahyu Gunawan; Desi Yunita
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 10 No 1 (2024)
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.10.1.65-81

Abstract

The process of forming a self-image on Instagram social media is called impression management, which is formed to give a positive impression to other people. This research uses a qualitative research method with a descriptive approach and focuses on the process of forming a self-image on Instagram social media using Erving Goffman's dramaturgical theory. This qualitative research uses a case study method by investigating how the process of @Roro_yustina's account as a celebrity forms her image through her Instagram social media account, with technical interviews to obtain data results. The results of this research show that the process of forming one's self-image on social media is very important, especially on social media, because the first thing the public sees is one's self-image, which can influence other people's first impressions. Roro Yustina, as a program celebrity, succeeded in forming a good self-image for the first time by carrying out self-presentation and impression management in accordance with the concept of dramaturgical theory. This is done in a way that Roro Yustina can maintain and control the impression given to her followers. Apart from that, using Erving Goffman's theory, especially front stage and back stage, it can be seen that Roro Yustina, as a celebrity, only shares positive things with her followers; on the other hand, there are some things that are not shared, such as her personal life and attitude on stage. behind or backstage
REKAYASA SOSIAL MELALUI APLIKASI TEKNOLOGI PADA MASYARAKAT PENAMBANG PASIR BESI DI PESISIR SELATAN JAWA BARAT Yunita, Desi; Gunawan, Wahju; Paskarina, Caroline; Sutrisno, Budi
CREATIVE RESEARCH JOURNAL Vol 3 No 02 (2017): Creative Research Journal
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34147/crj.v3i02.89

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kegiatan penambangan berdampak pada adanya perubahan dalam masyarakat. Serangkaian tahapan penelitian yang dilakukan memperlihatkan kegiatan penambangan yang dilakukan oleh masyarakat telah mendorong perubahan yaitu pada struktur, budaya dan ekonomi. Tiga elemen yang mengalami perubahan tersebut merupakan akibat langsung dari adanya penambangan pasir besi. Dimana kegiatan penambangan pasir besi tersebut menyebabkan terjadinya perubahan pada pola interaksi, perubahan cara pandang, dan juga memunculkan kelompok-kelompok sosial baru. Perubahan budaya dapat diamati dari berubahnya sistem mata pencaharian masyarakat yang juga mempengaruhi pola relasi dalam masyarakat. sedangkan perubahan ekonomi ditunjukkan dengan beralihnya mata pencaharian, namun hal tersebut tidak secara signifikan merubah kondisi perekonomian masyarakat. Pengaplikasian teknologi telah berhasil mendorong perubahan cara pandang, perubahan sikap, pola pikir, meningkatkan pendapatan masyarakat secara ekonomi, dan mendorong kegiatan penambangan yang ramah lingkungan
SOCIAL PRACTICES IN WATER USE DRIVE VULNERABILITY IN FOREST EDGE VILLAGE COMMUNITIES IN SUMEDANG REGENCY Yunita, Desi; Nurwati, Nunung; Gunawan, Wahyu; Azman, Azlina
Sosiohumaniora Vol 26, No 1 (2024): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, MARCH 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v26i1.50982

Abstract

This research focuses on social practices of water resource use in forest fringe communities. The existence of human water needs interacts with and forms patterns of relationships, with human water forming social institutions and social institutions, and the existence of social practices that abundant water encourages social change in communities facing scarcity. Old knowledge that is maintained and the assumption that water will never run out is seen in water use habits and ignoring water conservation practices. Potentially causing water vulnerability, especially in families working as farmers and families who do not have water reservoirs. The theory used looks at the social practices of Antony Giddens. The qualitative approach with the PRA method, with observation, interview, mapping, and FGD techniques, helps map practices in water use, and then the qualitative analysis is carried out. The results of this study show that there are water groups in hamlet areas that maintain old management practices, where group members who contribute early to finding springs have “patent” rights to obtain water while living in the area. However, this right has yet to adapt to changes in physical environmental conditions, such as reduced forest land cover and changes in the social environment where the village population continues to grow. While the rules made by the “patent” group give dominance to members materially, therefore individual practice still views that abundant water will not run out, so water use tends to be wasteful. Then, the practice of agents perpetuates or maintains a habit, which means that not much effort has been made by the community to carry out preventive practices to protect water resources, as seen from the Competence, namely knowledge and skills of water use are still simple and do not have the Competence to prevent vulnerability risks caused by the water crisis. So, it has the potential to face vulnerability, especially in families that do not have large-capacity shelters and farmer groups that rely on agricultural products. Agents as transformative actors, their practices passive, recursive, and discursive practices continue to be reproduced, maintaining old patterns.