Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Scrambling for Cuan? Social Conflict in the Development of Batu Dinding Waterfall Ecotourism Indrizal, Edi; Ermayanti, Ermayanti; Irwandi, Ade; Nurti, Yevita
Indonesian Journal of Tourism and Leisure Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Lasigo Akademia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36256/ijtl.v5i1.405

Abstract

This paper describes the dynamics of conflict that occurred in the Batu Dinding rural tourism development between the local community and Tanjung Belit Village. The conflict occurred since 2015, and it’s was declared over in 2021. Therefore, what were the dynamics of the conflict during those six years? This research uses a qualitative-descriptive method with data collection through fieldwork. The data collection techniques used were a combination of limited participant observation techniques, informal and semi-structured interviews, and document studies. The results show that the conflict over the management of the Batu Dinding Waterfall tourism area in Tanjung Belit Village originated from agrarian conflicts related to land reoccupation. The motive is motivated by the development of tourism that has economic value and wants to monopolize it to get economic benefits (cuan). So the horizontal conflict between the Domo tribe and Tanjung Belit Village with the Tanjung tribe was resolved through legal channels and the police and the actors who committed acts of violence should also be imprisoned. In the end, the conflict was resolved through inter-tribal deliberation and the land was retained by Tanjung Belit Village.
Meaning of Land: Dynamic Certification of Customary Land Management in Nagari Sungai Kamuyang Fatasa, Uzika Putri; Erwin, Erwin; Nurti, Yevita
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 27 No 2 (2025): December
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v27.n2.p276-287.2025

Abstract

For the Minangkabau indigenous people, property in the form of customary land is an integrated and inseparable customary component. However, agrarian conflicts often erupt, including on customary land. This is the background for the birth of the Nagari Customary Land Management Certification policy by the Ministry of Agrarian Spatial Planning / National Land (ATR/BPN) Agency to provide legal certainty to Indigenous peoples—the Nagari Sungai Kamuyang Customary Land Certificate for an area of 371,095 m2. In the implementation, Bundo Kanduang and Farmer Groups decline this policy. Through ethnographic methods, the basic arguments of each party can be revealed through their interactions with customary land, such as in management cooperation, payment of land interest, and types of plants reviewed based on Nagari Sungai Kamuyang Regulation Number 1 of 2003. These three groups interpret land as property rights, and rejection is based on arguments that tend to be resistant, such as certainty in the certificate format, certainty of the subject, and sentiments on efforts to privatize Nagari Customary Land. In contrast to the Nagari Government and Badan Pengawas Ulayat, this certification is a reality because the Nagari Customary Land only authorizes the Right to use the Nagari Sungai Kamuyang Community.
Sosialisasi Makanan Pendamping ASI (MPASI) dan Inovasi Pembuatan Abon berbahan Ikan di Nagari Sikucur Barat, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman Annisa Putri; Yevita Nurti; Hairul Anwar
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 5 No 2 (2025): JPMI - April 2025
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.3465

Abstract

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tersedianya sumber daya pangan pada satu komunitas tidak menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi dan vitamin, terutama bagi anak-anak. Minimnya pengetahuan ibu untuk variasi makanan menjadi salah satu penyebabnya, terutama makanan pendamping ASI (MP-ASI). Hal ini menjadi satu persoalan di Nagari Sikucur Barat, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman. Nagari Sikucur Barat ini sebagai wilayah pesisir sangat dekat dengan laut dan hasil laut yang merupakan sumber daya pangan utama. Permasalahan prioritas yang dihadapi Nagari Sikucur Barat adalah minimnya pengetahuan ibu terhadap makanan bergizi yang diberikan untuk bayi, khususnya MP-ASI, dan kurangnya pengetahuan ibu-ibu terhadap makanan alternatif untuk bayi. Ikan sebagai sumber bahan pangan utama yang tersedia di Sikucur Barat sangat berlimpah, artinya setiap hari ikan dapat diperoleh dengan mudah. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada masyarakat, khususnya ibu-ibu yang memiliki anak balita mengenai pentingnya makanan yang sehat dan bergizi untuk anak dan variasi makanan dengan bahan utama ikan. Metode yang digunakan adalah sosialisasi dan praktik memasak abon berbahan ikan. Hasil dari kegiatan ini adalah abon ikan yang dimasak bersama-sama dengan para ibu, dan pemberian hadiah kepada lima pemenang yang bisa menjawab pertanyaan setelah sosialisasi dilakukan.
Pemberdayaan UMKM Melalui Pengolahan Produk Turunan Pisang di Nagari Painan Timur Jonson Handrian Ginting; Yevita Nurti; Edi Indrizal; Hairul Anwar; Afrida Afrida
Buletin Dharmas Andalas Vol. 1 No. 2 (2024): Buletin Dharmas Andalas
Publisher : Departemen Budidaya Tanaman Perkebunan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/bda.v1i2.13

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Nagari Painan Timur, Sumatera Barat, dalam mengolah pisang menjadi produk turunan yang bernilai tambah, seperti keripik pisang, pisang molen, dan tepung pisang, mengingat di wilayah tersebut belum mengenal banyak produk turunan pisang. Meskipun durian menjadi komoditas utama di daerah ini, pisang dipilih karena lebih stabil dalam hal produksi. Pelatihan dan demonstrasi pengolahan produk diberikan kepada peserta, diikuti dengan pemantauan implementasi. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan sebesar 80%, serta peningkatan pendapatan rata-rata 25% dalam tiga bulan setelah pelatihan. Meskipun demikian, terdapat kendala berupa keterbatasan akses peralatan dan keterampilan pemasaran digital yang memerlukan dukungan lebih lanjut. Program ini memiliki potensi untuk diperluas melalui inovasi produk dan strategi pemasaran digital. Dengan adanya dukungan dari pemerintah daerah dan pelatihan berkelanjutan, produk turunan pisang diharapkan dapat berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.
Children's Oral Health Behavior in Cultural Practice: A Qualitative Study of Early Childhood Caries in Padang City Pujiastuty, Arymbi; Effendi, Nursyirwan; Machmud, Rizanda; Astoeti, Tri Erri; Nurti, Yevita; Ramdesta, Andry; Fatasa, Uzika Putri; Ramadhan, Fajar
Sosiohumaniora Vol 28, No 2 (2026): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, JULY 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v28i2.69616

Abstract

Early Childhood Caries (ECC) remains a major public health concern in Indonesia. While global studies have widely applied the Health Belief Model (HBM) to explain parental perceptions of oral health, limited research has integrated local cultural values and the role of early childhood education (ECE) in shaping oral health practices. This study explores how cultural norms, parenting styles, and educational settings influence children’s oral health behaviors in Padang City.This study uses a qualitative case study design conducted at three early childhood education institutions with a Holistic Integrative Early Childhood Education program in Padang City (RA Ar Risalah, Adzkia, and Nirbas). Data was collected through observations, semi-structured interviews with parents and teachers and literature review. Purposive sampling identified actor informants (parents of children with and without caries) and ordinary informants (teachers, principals). Data analysis followed Miles and Huberman’s three-stage approach: coding, data display, and conclusion drawing. Findings show that toothbrushing is culturally embedded in bathing routines, maternal control over diet is stronger than paternal or extended family control, and dental care is largely perceived as curative rather than preventive. ECC in Padang City reflects a complex interplay of cultural practices, parental roles, socioeconomic conditions, and institutional support. Addressing ECC requires culturally grounded interventions that involve both family and PAUD educators, while reframing oral health as preventive rather than curative.