Articles
Kreativitas Siswa dalam Memecahkan Soal HOTS (High Order Thinking Skills) Berdasarkan Tingkat Kemampuan Matematika
Chyntia Dewi Puspita Rini;
Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (906.801 KB)
|
DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p238-253
Kreativitas adalah suatu kemampuan untuk menciptakan ide baru dengan memodifikasi, mongkombinasikan, atau menggunakan kembali ide yang sudah ada sebelumnya. Komponen dari kreativitas yaitu kefasihan, keluwesan, dan kebaruan. Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan kreativitas siswa dengan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah dalam menyelesaikan soal matematika HOTS. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah 32 siswa kelas XI SMAN Bojonegoro yang dipilih 6 siswa sebagai subjek penelitian dengan acuan hasil nilai UTS dipilih 2 siswa dengan nilai tertinggi, 2 siswa dengan nilai sedang, dan 2 siswa dengan nilai terendah. Data penelitian diperoleh dari tugas pemecahan masalah dan wawancara. Hasil dan penelitian ini siswa berkemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan soal matematika HOTS pada komponen kreativitas kefasihan dapat menemukan 5 jawaban dan pada komponen fleksibilitas serta kebaruan dapat menemukan 3 cara yang berbeda dan salah satu cara yang digunakannya tidak digunakan oleh siswa yang lainnya. Tetapi komponen kebaruan tidak dicapai oleh salah satu siswa. Siswa berkemampuan matematika sedang pada komponen kefasihan dan fleksibilitas dapat menyelesaikan dengan satu cara tetapi menggunakan metode yang berbeda. Komponen fleksibilitas tidak dicapai oleh salah satu siswa berkemampuan sedang karena hanya dapat memberikan satu jawaban dengan satu cara. Pada komponen kebaruan siswa tidak dapat memberikan cara yang berbeda dan unik. Siswa berkemampuan matematika rendah pada komponen kefasihan dapat menemukan satu jawaban dengan satu cara serta lancar dalam menyampaikan idenya, pada komponen fleksibilitas tidak ada siswa yang dapat memberikan cara yang berbeda. Pada komponen kebaruan tidak terdapat keunikan pada jawaban kedua siswa berkemampuan rendah. Kata Kunci: Kreativitas, HOTS, Tingkat kemampuan matematika
Level Kemampuan Literasi Matematis Peserta Didik SMP dalam Menyelesaikan Soal PISA Ditinjau dari Kemampuan Matematika
Ikka Ananda Hakiki;
Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1151.317 KB)
|
DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p385-395
Kemampuan literasi matematis adalah kemampuan menerapkan, menafsirkan, dan menjelaskan proses memecahkan masalah sehari-hari menggunakan konsep matematika. Kemampuan literasi matematis peserta didik dapat ditinjau dari kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Tujuan penelitian ini antara lain: 1) mengidentifikasi level kemampuan literasi matematis peserta didik SMP yang memiliki kemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan soal PISA; 2) mengidentifikasi level kemampuan literasi matematis peserta didik SMP yang memiliki kemampuan matematika sedang dalam menyelesaikan soal PISA, dan; 3) mengidentifikasi level kemampuan literasi matematis peserta didik SMP yang memiliki kemampuan matematika rendah dalam menyelesaikan soal PISA. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif. Subjek dipilih dengan teknik purposive sampling yang diambil berdasarkan kriteria tertentu. Subjek merupakan 3 peserta didik SMP dengan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Data penelitian diperoleh dari tes tulis dan kegiatan wawancara. Instrumen yang digunakan yakni enam soal PISA dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini antara lain: 1) Peserta didik berkemampuan matematika tinggi berada pada level 4 kemampuan literasi matematis; 2) peserta didik dengan kemampuan matematika sedang berada di level 3 kemampuan literasi matematis, dan; 3) peserta didik yang memiliki kemampuan matematika rendah berada pada level 2 kemampuan literasi matematis. Hasil penelitian ini dapat membantu guru dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan matematika peserta didik. Pengetahuan mengenai level kemampuan literasi matematis dapat digunakan oleh guru dalam merancang kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan level kemampuan literasi matematis peserta didik.Kata Kunci: level, kemampuan literasi matematis, PISA, kemampuan matematika.
The Exploration of Mathematical Objects in Anime Series Reviewed from Onto-Semiotic Approach (OSA) Theory
Muchammad Khafith Octafian Purnomo;
Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 10 No 3 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 3 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (510.376 KB)
|
DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n3.p497-506
Mathematics is often associated with a boring subject in the classroom. There’s a need for innovation, especially in the learning process, so students don’t feel bored learning mathematics. One of the innovations available is to connect mathematics with the student's interests. One of the things the students are interested in is animation works, especially anime series. This research aims to explore the mathematical objects in the anime series reviewed from the Onto-Semiotic Approach (OSA) theory. This research is descriptive exploratory research. Data were collected through observation of 5 anime series titles using a research instrument in the form of an observation sheet. The analysis process was carried out on the identified mathematical objects from the 5 anime series titles, then categorizing the identified mathematical objects according to the characteristics of the 6 categories of primary mathematical objects in OSA theory. The results indicate that there are 6 mathematical objects identified as the language category, such as the quadratic equation and trigonometry, 5 mathematical objects identified as the situation category, no mathematical object identified as the concept category, 1 mathematical object identified as the proposition category, 1 mathematical object identified as the procedure category, and 2 mathematical objects as the argument category. The result of this research can be used as an innovation in mathematics learning and as additional research on the use of popular culture in the classroom.
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA OPEN-ENDED DITINJAU DARI SELF-CONCEPT MATEMATIS SISWA
Anisa'a Faradilla;
Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (582.171 KB)
|
DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p368-377
Kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu kemampuan berpikir yang harus dimiliki siswa, untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa dapat dilakukan dengan memberikan soal matematika open-ended kepada siswa. Adapun tujuan dari penelitian ini yakni untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan soal matematika open-ended ditinjau dari self-concept matematis siswa. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pemilihan subjek yang digunakan pada penelitian ini yakni teknik purposive sampling. Subjek penelitian ini terdiri dari satu siswa dengan kategori self-concept matematis tinggi, satu siswa dengan self-concept matematis sedang, dan satu siswa dengan self-concept matematis rendah. Instrumen yang digunakan meliputi angket self-concept matematis, soal matematika open-ended, dan pedoman wawancara. Metode pengumpulan data pada penelitian ini diantaranya metode angket, tes, dan wawancara. Serta teknik analisis data yang digunakan meliputi analisis angket self-concept matematis, analisis soal matematika open-ended, dan analisis wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kefasihan siswa self-concept matematis tinggi dapat menuliskan tiga jawaban untuk ukuran panjang, dan lebar kolam renang, serta dua jawaban untuk luas kolam renang dengan benar, fleksibilitas siswa self-concept matematis tinggi dapat menggunakan tiga metode penyelesaian yang benar, dan kebaruan siswa self-concept matematis tinggi dapat menggunakan metode matriks yang belum diajarkan di sekolahnya. Kefasihan siswa self-concept matematis sedang dapat menuliskan tiga jawaban untuk ukuran panjang, lebar, dan luas kolam renang dengan benar, fleksibilitas siswa self-concept matematis sedang dapat menggunakan dua macam metode penyelesaian yang benar. Kefasihan siswa self-concept matematis rendah dapat menuliskan dua jawaban untuk ukuran panjang dan lebar kolam renang dengan benar. Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi guru agar melatih kemampuan berpikir kreatif siswa dengan memberikan soal matematika tipe open- ended. Kata Kunci : berpikir kreatif, soal matematika open-ended , self-concept matematis
ANALISIS KESALAHAN SISWA SMP PADA MATERI STATISTIKA DITINJAU DARI GAYA BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN INSTRUMEN CRI
Aina Saidah;
Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (646.172 KB)
|
DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p620-629
Siswa seringkali mengalami beberapa kesalahan selama proses pembelajaran, seperti kesalahan siswa dalam membaca serta mencerna soal. Siswa yang kurang memiliki kemampuan untuk memahami informasi lebih besar kemungkinannya untuk melakukan kesalahan dalam menyelesaikan masalah. Karakteristik siswa dalam memahami suatu materi mempengaruhi beberapa kesalahan dalam menyelesaikan masalah, salah satunya adalah gaya belajar yang dimiliki siswa. Gaya belajar adalah cara yang sering dipakai siswa untuk menyerap dan memproses suatu informasi dari lingkungan sekitar. Terdapat tiga jenis gaya belajar, di antaranya gaya belajar visual, gaya belajar auditori, dan gaya belajar kinestetik. Dari ketiga gaya belajar tersebut, terdapat perbedaan gaya belajar yang dimiliki dari masing-masing siswa. Penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengkategorikan kesalahan siswa pada materi statistika ditinjau dari gaya belajar dengan menggunakan instrumen CRI. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 31 siswa yang sudah mempelajari materi statistika. Pada penelitian ini siswa dibagikan angket gaya belajar sehingga dapat dikelompokkan sesuai jenisnya masing-masing, kemudian untuk tes analisis kesalahan menggunakan instrumen CRI yang dilanjutkan dengan wawancara diagnosis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang memiliki gaya belajar visual memiliki kesalahan transformasi dan kesalahan memahami soal. Siswa dengan gaya belajar auditori memiliki kesalahan transformasi dan kesalahan memahami serta mengingat konsep dasar statistika. Siswa dengan gaya belajar kinestetik memiliki kesalahan mengingat konsep dasar statistika dan kesalahan transformasi.
Miskonsepsi Peserta Didik SMP Pada Materi Bentuk Akar Dengan Menggunakan Instrumen Four-Tier Test
Toni Phibeta;
Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (627.313 KB)
|
DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p606-619
Pemahaman konsep merupakan kunci keberhasilan untuk belajar matematika. Jika peserta didik dapat memahami konsep dengan baik, maka peserta didik akan lebih mudah untuk mempelajari atau memahami konsep selanjutnya yang berkaitan. Kesalahpahaman terhadap suatu konsep yang telah disepakati oleh para ahli sehingga menimbulkan kekeliruan terhadap konsep itu sendiri disebut miskonsepsi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan miskonsepsi peserta didik SMP pada materi bentuk akar menggunakan instrumen Four-Tier Test. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan instrumen Four-Tier Test. Sumber data pada penelitian ini yaitu 31 peserta didik SMP kelas IX yang sudah mempelajari materi bentuk akar dan pemilihan subjek pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Data penelitian ini diperoleh dengan cara memberikan tes kepada peserta didik lalu dianalisis berdasarkan kriteria pengelompokan miskonsepsi pada Four-Tier Test dan dilanjutkan dengan wawancara. Pada penelitian ini ditemukan peserta didik SMP yang mengalami miskonsepsi pada materi bentuk akar dengan persentase sebesar 60% dari 31 peserta didik. Miskonsepsi yang ditemukan pada penelitian ini terdapat pada konsep sifat bentuk akar, merasionalkan bentuk akar, dan definisi bentuk akar. Faktor penyebab peserta didik mengalami miskonsepsi tersebut karena jarang mengerjakan soal latihan untuk mengasah pemahaman peserta didik terhadap sifat bentuk akar. Maka dari itu sangat penting bagi guru untuk mengetahui miskonsepsi peserta didik agar guru dapat mengerti konsep yang tidak dipahami oleh peserta didik. Selain itu guru seharusnya memberikan latihan soal dan pemahaman ulang kepada peserta didik agar dapat memahami materi bentuk akar dengan baik.
Profil Metakognisi Siswa SMA dalam Memecahkan Masalah Matematika Materi Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers Ditinjau dari Kemampuan Siswa
Prasetyo Kurniawan;
Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (584.8 KB)
|
DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p644-656
Metakognisi adalah kesadaran tentang proses berpikirnya sendiri, dari merencanakan (planning), memantau (monitoring), sampai memeriksa kembali (evaluating) hasil pikirannya sendiri. Dalam proses pembelajaran, kemampuan metakognisi dapat dibangun saat siswa memecahkan masalah. Saat siswa menemui masalah yang membutuhkan proses cukup panjang, di sinilah kemampuan metakognisinya dibutuhkan. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kemampuan metakognisi berperan penting dalam pemecahan masalah. Kemampuan matematika berperan penting dalam aktivitas pemecahan masalah dan juga dimungkinkan dengan adanya perbedaan kemampuan matematika maka berbeda pula penggunaan metakognisinya dalam memecahkan masalah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan profil metakognisi siswa SMA dalam memecahkan masalah matematika materi fungsi komposisi dan fungsi invers ditinjau dari kemampuan siswa yang dilaksanakan di kelas X MIA 2 di salah satu MAN di kota Kediri dengan satu siswa untuk tiap tingkatan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa Tes Pemecahan Masalah (TPM) dan wawancara. Teknik analisis yang digunakan adalah reduksi dan penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan profil metakognisi siswa berkemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah dalam memecahkan masalah matematika materi fungsi komposisi dan fungsi invers menunjukkan bahwa semuanya memiliki kemiripan dalam kemampuan metakognisinya karena mampu memahami permasalahan, sadar dengan langkah yang diambil, dan melakukan peninjauan ulang. Namun pada siswa berkemampuan rendah perbedaannya adalah tidak melakukan peninjauan ulang. Dari hasil penelitian ini, terdapat beberapa implikasi diantaranya adalah penanaman konsep yang matang kepada siswa sangat berpengaruh pada pemahaman siswa dan kemampuan metakognisinya.
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA dalam Menyelesaikan Soal Matematika Higher Order Thinking Skills (HOTS) Ditinjau dari Jenis Kelamin
Nur Izzatul Isslamiyah;
Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (639.027 KB)
|
DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p754-764
Berpikir kritis sebagai salah satu keterampilan berpikir yang perlu dimiliki oleh setiap siswa. Pemberian soal matematika higher order thinking skills (HOTS) pada siswa dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa SMA dalam menyelesaikan soal matematika higher order thinking skills (HOTS) ditinjau dari jenis kelamin. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari dua siswa SMA, satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan dengan kategori kemampuan yang tinggi. Instrumen yang digunakan meliputi tes soal matematika higher order thinking skills (HOTS) beserta pedoman wawancara. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yakni metode tes dan wawancara. Teknik analisis data pada penelitian ini diantaranya analisis soal matematika higher order thinking skills (HOTS) dan analisis wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interpretation siswa laki-laki mampu menuliskan permasalahan yang terdapat pada soal, analysis siswa laki-laki mampu menuliskan setiap langkah yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan pada soal, evaluation siswa laki-laki mampu menuliskan penyelesaian soal, inference siswa laki-laki mampu menarik kesimpulan pada setiap langkah yang digunakan, explanation siswa laki-laki mampu menuliskan hasil akhir dari penyelesaian soal, self-regulation siswa laki-laki mampu mereview ulang jawaban hasil pekerjaanya. Interpretation siswa perempuan mampu menuliskan permasalahan yang terdapat pada soal, analysis siswa perempuan mampu menuliskan setiap langkah yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan pada soal, evaluation siswa perempuan mampu menuliskan penyelesaian soal, inference siswa perempuan mampu menarik kesimpulan dari setiap langkah yang digunakan, explanation siswa perempuan mampu menuliskan hasil akhir dari penyelesaian soal, self-regulation siswa perempuan mampu mereview ulang jawaban hasil pekerjaanya. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi guru agar lebih memahami serta mengetahui kemampuan berpikir kritis yang dimiliki siswa jika ditinjau dari jenis kelamin untuk memperbaiki mutu pengajaran serta membiasakan siswa untuk menyelesaikan soal matematika HOTS guna untuk melatih kemampuan berpikir kritisnya.
Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Tunarungu pada Aljabar: Unsur dan Bentuk Operasi Aljabar
Candra Ainur Rofiq;
Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (432.323 KB)
|
DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p884-893
Siswa berkebutuhan khusus adalah siswa yang memiliki keterbatasan fisik, emosi dan sosial. Salah satu siswa berkebutuhan adalah siswa tunarungu. Konsep unsur dan operasi bentuk aljabar wajib dikuasai oleh siswa karena merupakan materi dasar aljabar dan menjadi prasyarat untuk materi-materi berikutnya. Kemampuan pemahaman konsep matematika menjadi salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah yang harus dicapai oleh siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk emberikan gambaran bagaimana kemampuan siswa tunarungu memahami konsep matematika pada topik aljabar dalam materi unsur dan operasi bentuk aljabar menurut teori APOS. Subjek penelitian ini adalah seorang siswa tunarungu kelas X. Subjek penelitian yang dipilih adalah siswa tunarungu kurang dengar dengan tujuan memungkinkan interaksi yang baik antara peneliti dan subjek. Instrumen penelitian menggunakan tes dan wawancara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Siswa tunarungu belum mampu menjelaskan unsur-unsur dan operasi bentuk aljabar secara langsung dengan benar; 2) Siswa tunarungu dapat menyelesaikan sebagian masalah aljabar menggunakan sifat-sifat operasi aljabar dari tes yang diberikan, tetapi siswa tidak memberikan respon ketika diminta menjelaskan hasil kerja siswa dalam menyelesaikan permasalahan mengenai sifat-sifat operasi aljabar; 3) Siswa tunarungu tidak memperhatikan nilai negatif pada suatu suku dalam memilah dan mengelompokkan unsur-unsur aljabar. Dalam menghadapi masalah pengelompokkan unsur-unsur aljabar, siswa tunarungu tidak menyederhanakan bentuk aljabar terlebih dahulu untuk kemudian memilah dan mengelompokkan unsur-unsur aljabar; 4) Siswa belum mampu mengaplikasikan operasi bentuk aljabar. Siswa tunarungu juga hanya menyebutkan dan tidak dapat menjelaskan contoh masalah kehidupan sehari-hari yang dapat diselesaikan dengan memanfaatkan konsep unsur dan operasi bentuk aljabar. Kata Kunci: Pemahaman Konsep, Siswa Tunarungu, Aljabar
Kemampuan Literasi Matematika Siswa SMP Ditinjau dari Perbedaan Kecerdasan Visual-Spasial
Yusril Rahmat Hidayat;
Pradnyo Wijayanti
MATHEdunesa Vol 12 No 1 (2023): Jurnal Mathedunesa Volume 12 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (608.833 KB)
|
DOI: 10.26740/mathedunesa.v12n1.p55-72
The capacity to formulate, apply, and understand mathematics in a variety of problem contexts is known as mathematical literacy. This study is a qualitative descriptive study that collects data from subjects consisting of one student with high visual-spatial intelligence, one student with moderate visual-spatial intelligence, and one student with low visual-spatial intelligence. The goal is to describe students' mathematical literacy in terms of visual-spatial intelligence differences. Mathematical literacy tests, interviews, and visual-spatial intelligence tests were all used in the study. The information is then researched by utilizing the stages of formulation, application, and interpretation of the mathematical process as defined by mathematical literacy. The results showed that students who had high visual-spatial intelligence were able to formulate by identifying the mathematical aspects of the problems obtained, able to design or use mathematical concepts to make strategies to get solutions to problems, and able to apply facts, rules and algorithms in solving problems, able in the process of interpreting by interpreting the results of the solution to the given problem. the mathematical literacy ability of visual-spatial intelligence students is able to formulate by identifying the mathematical aspects of the problems obtained, able to design and or use mathematical concepts to make strategies to obtain solutions to problems and be able to apply facts, rules and algorithms in solving problems, able to the process of interpreting by interpreting the results of the solution to a given problem. The mathematical literacy ability of students with low visual-spatial intelligence is less able to formulate, namely identifying the mathematical aspects in the problem, students are also lacking in interpreting the answers found whether they make sense to the problems at hand.