Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Relationship between Risk of Malignancy Index (RMI) and Histopathology of Ovarian Tumors at RSPAL dr. Ramelan Surabaya Daisy Maurent Thetrawan; Verna Biutifasari; Ketut Edy Sudiarta
Bahasa Indonesia Vol 24 No 3 (2025): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v24i3.5179

Abstract

Pendahuluan: Massa adneksa mengindikasikan berbagai kelainan baik yang berasal dari ginekologi atau non ginekologi dan dapat bersifat jinak maupun ganas, seperti kanker ovarium. Kanker ovarium merupakan kanker ginekologi yang memiliki prognosis terburuk dan menempati peringkat kedelapan penyebab kematian wanita di dunia. Lebih dari 70% pasien datang terdiagnosis pada stadium lanjut akibat tidak adanya keluhan penyerta.  Hal ini disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur kesehatan seperti skrining deteksi dini, sehingga mendorong banyak peneliti menciptakan sebuah prediktor sederhana, salah satunya Risk of Malignancy Index  (RMI). Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai RMI yang berkorelasi dengan histopatologi jaringan tumor untuk memprediksi keganasan tumor ovarium. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan teknik consecutive sampling. Besar sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah 42 sampel yang di peroleh dari data rekam medis pasien Departemen Obstetri dan Ginekologi RSPAL dr. Ramelan Surabaya periode Januari 2021 sampai Oktober 2023. Hasil: Pasien dengan kanker ovarium didominasi wanita postmenopause berusia 50–59 tahun. Risk of Malignancy Index dengan nilai cut-off <200 memiliki korelasi yang signifikan (p=0,026) dengan hasil histopatologi jaringan tumor ovarium. Hasil perhitungan statistik menunjukkan nilai sensitivitas RMI <200 sebesar 80% dan spesifisitas sebesar 55%. Nilai cut–off RMI di bawah area kurva (AUC) ROC sebesar 322 dengan sensitivitas sebesar 66,7% dan spesifisitas sebesar 59,3%. Hasil uji korelasi RMI dengan cut-off 322 memiliki p=0,107 yang menunjukkan korelasi tidak signifikan. Simpulan: Risk of Malignancy Index <200 memiliki korelasi signifikan dengan histopatologi tumor ovarium dengan sensitivitas 80% dan spesifisitas 55% dalam memprediksi keganasan tumor ovarium.
Potential Biomarkers and Inflammatory Modulation of Hyperbaric Oxygen Therapy in Long COVID: A Narrative Update Soedarsono Soedarsono; Rike Andy Wijaya; Verna Biutifasari
Jurnal Respirasi Vol. 12 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jr.v12-I.1.2026.90-96

Abstract

Introduction: Long coronavirus disease (COVID-19), also known as post-acute sequelae of severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) infection (PASC), is characterized by persistent, often debilitating symptoms that extend beyond the acute phase of COVID-19. These manifestations are associated with immune dysregulation, chronic inflammation, and oxidative stress. Hyperbaric oxygen therapy (HBOT), which involves inhaling 100% oxygen at elevated atmospheric pressure, has emerged as a potential intervention to mitigate these processes. This narrative review synthesized findings from recent clinical and translational studies evaluating the immunological effects of HBOT in patients with long COVID. Methods: A structured search of PubMed, Scopus, and ScienceDirect was conducted for articles published between January 2020 and April 2025 using predefined keywords related to HBOT, long COVID, inflammation, and biomarkers. Seven primary studies met the inclusion criteria and were analyzed for their clinical outcomes and molecular immunomodulatory effects. Results: Evidence indicates that HBOT contributes to significant reductions in pro-inflammatory cytokines, such as interleukin (IL)-6 and tumor necrosis factor-α (TNF-α), while increasing anti-inflammatory cytokines, such as IL-10. Improvements in systemic biomarkers, including C-reactive protein, ferritin, and reactive oxygen species (ROS), have also been observed. In parallel, HBOT has been linked to enhanced mitochondrial function, immune balance, and tissue oxygenation, all of which support recovery from long COVID-related organ dysfunction. Conclusion: Despite promising results, heterogeneity in study design, small sample sizes, and limited long-term follow-up highlighted the need for further rigorous, standardized clinical trials. Overall, HBOT appears to be a biologically plausible and clinically relevant adjunctive therapy for long COVID, with inflammation-related biomarkers serving as correlates or secondary indicators of therapeutic response.
In Silico Bahan Aktif Epigallocatechin Gallate dari Sargassum cristaefolium untuk Menghambat Pembentukan Interleukin 1B pada Sindroma Mata Kering Muhammad Nabil Faiq; Irma A. Pasaribu; Tamam Jauhar; Verna Biutifasari
Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol 6 No 3 (2025): Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55241/spibio.v6i3.528

Abstract

Dry eye syndrome is a multifactorial condition that disrupts the tear film and ocular surface, causing discomfort, visual disturbances, and damage to the ocular surface. Sargassum cristaefolium, a brown alga found in Indonesia, contains the active compound Epigallocatechin gallate (EGCG), which has anti-inflammatory potential. EGCG can inactivate interleukin-1B signaling, thereby triggering the activation of MMPs that play a role in epithelial barrier degradation and maintaining lubrication of the corneal surface. EGCG also exhibits functions comparable to Cyclosporin A, a drug used for dry eye syndrome. This study aims to determine the performance of EGCG in suppressing interleukin-1B to inhibit the production and activation of MMPs through an in-silico approach. The method involves several stages, namely molecular docking, ADME prediction, and toxicity prediction of the active compound EGCG. EGCG is predicted to have potential equivalent to Cyclosporin A in inhibiting interleukin-1B. EGCG shows advantages such as good distribution in blood plasma, no effect on CYP3A4 enzymes, and no influence on OCT2 substrates. In addition, EGCG has a slower excretion rate, is non-mutagenic, does not cause skin sensitization, and is non-hepatotoxic. Thus, EGCG found in Sargassum cristaefolium may serve as an anti-inflammatory agent and inhibit interleukin-1B protein in dry eye syndrome through in silico mechanisms.
Pengaruh Terapi Oksigen Hiperbarik Terhadap Kadar Enzim Katalase Jaringan Otak Tikus Model Alkohol Kronis VIRA AULIA KUSUMA WARDANI; NI KOMANG SRI DEWI UNTARI; KETUT EDY SUDIARTA; VERNA BIUTIFASARI
Hang Tuah Medical Journal Vol 21 No 2 (2024): Hang Tuah Medical Journal
Publisher : Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/htmj.v21i2.362

Abstract

Latar belakang: Penyalahgunaan alkohol merupakan salah satu permasalahan serius setelah penyalahgunaan zat dan obat terlarang. Sebanyak 3,3 juta orang meninggal di dunia akibat penggunaan alkohol pada tahun 2018 dan bertanggung jawab atas 5,1% beban penyakit global. Penyalahgunaan alkohol dapat meningkatkan produksi reactive oxygen species (ROS). ROS menimbulkan dampak negatif terhadap serebelum yang berakibat pada penurunan kadar enzim katalase. Terapi oksigen hiperbarik (TOHB) dapat menurunkan produksi ROS dan berpengaruh terhadap kadar enzim katalase jaringan otak. Tujuan: Membuktikan pengaruh terapi oksigen hiperbarik terhadap kadar enzim katalase jaringan otak hewan coba model alkohol kronis Metode: Tikus putih galur wistar diinduksi dengan alkohol 20% 4,5ml/kgBB setiap hari selama 6 minggu untuk mendapatkan model alkohol kronis. Penelitian ini menggunakan tiga kelompok yaitu kelompok kontrol yang tidak diinduksi (K0), kelompok perlakuan yang diinduksi alkohol tanpa TOHB (K1), kelompok intervensi yang diinduksi alkohol dan TOHB (K2). Hasil: Pengukuran kadar katalase didapatkan rerata dan standar deviasi sebesar K0 (877,74 ± 69,54), K1 (617,8 ± 245,32), dan K2 (952,85 ± 47,40); Uji statistik MWU pada kadar katalase mengalami perbedaan yang signifikan di tiap kelompok (p < 0,05). Kesimpulan: Terapi oksigen hiperbarik terbukti berpengaruh terhadap kadar enzim katalase pada hewan coba model alkohol kronis