Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Vektor Deformasi Stasiun SuGAr Akibat Gempa Bengkulu 12 September 2007 Hilma, Annisa Zahratul; Pujiastuti, Dwi; Arisa, Deasy
Jurnal Fisika Unand Vol 9 No 3 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.9.3.338-344.2020

Abstract

Telah dilakukan analisis deformasi yang terjadi akibat gempa Bengkulu 12 September 2007.  Dalam penelitian ini vektor deformasi dapat dilihat dari pergeseran beberapa stasiun SuGAr yang tersebar di sepanjang pantai barat Pulau Sumatera.  Data yang digunakan yaitu data pengamatan GPS pada fase koseismik dan pascaseismik dari 9 stasiun SuGAr yaitu stasiun BSAT (Bulasat), LAIS (Lais), LNNG (Lunang), MKMK (Muko-Muko), NGNG (Nyang Nyang), PPNJ (Pulau Panjang), PRKB (Parak Batu), PSKI (PulauSikuai), dan SLBU (Silabu).   Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan software GAMIT/GLOBK 10.70 dan pemetaan vektor deformasi menggunakan software GMT 5.4.5.  Hasil yang didapatkan pada penelitian ini menunjukkan arah pergerakan stasiun SuGAr secara horizontal akibat gempa yaitu ke arah barat laut.  Hal ini menunjukkan bahwa subduksi lempeng ke arah timur laut mengalami perubahan secara signifikan akibat gempa Bengkulu 2007.  Stasiun yang mengalami pergeseran paling besar adalah stasiun  PRKB di Pulau Pagai Selatan  dengan besar pergeseran 180,89 cm, sedangkan stasiun yang memiliki pergeseran paling kecil adalah stasiun NGNG di Pulau Siberut bergeser sejauh 16,38 cm . Pada fase pascaseismik arah deformasi masih mengikuti fase koseismik, tapi nilai pergeserannya lebih kecil. Dapat disimpulkan semakin dekat lokasi stasiun dengan episenter gempa, maka deformasi yang terjadi juga akan semakin besar.   Deformation due to the Bengkulu earthquake on September 12th  2007 has been analyzed.  The deformation vector could be seen from the displacement of SuGAr stations distibuted along the west coast of Sumatra Island. This study used the GPS observation data of  the coseismic and  postseismic phase recorded by 9 SuGAr stations which were BSAT (Bulasat), LAIS (Lais), LNNG (Lunang), MKMK (Muko-Muko), NGNG (Nyang Nyang), PPNJ (Panjang Island), PRKB (Parak Batu), PSKI (Sikuai Island), and SLBU (Silabu).  The data processed by GAMIT / GLOBK 10.70 software and GMT 5.4.5 for mapping of the deformation vector.  The results showed direction of the displacement from the SuGAr station horizontally to the northwest in the coseismic phase.  It showed that the subduction of the plate toward the northeast have a significant change due to Bengkulu Earthquake.  The PRKB station located in South Pagai Island had the biggest displacement value which was  180.89 cm, while the NGNG station  located in Siberut Island had the smallest displacement which was 16.38 cm. At the postseismic phase, direction of deformation following the coseismic phase. Therefore, the closer station located to the earthquake epicenter, the greater deformation occured.
Identifikasi Potensi Likuifaksi di Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman dengan Metode Geolistrik 2D Tahanan Jenis Monica, Fadilla; Pujiastuti, Dwi; Afdal, Afdal
Jurnal Fisika Unand Vol 9 No 4 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.9.4.443-449.2020

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui potensi likuifaksi di Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Data yang digunakan yaitu data sekunder dari Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP) Kota Padang pada tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode geolistrik tahanan jenis 2D konfigurasi Wenner. Pengambilan data dilakukan pada dua lintasan sejajar pantai (L1&L3) dan satu lintasan tegak lurus (L2) pantai dengan panjang lintasan masing-masing 540 m, jumlah titik sounding 54 dan jarak elektroda 10 m. Pengolahan data dilakukan menggunakan software AGI EarthImager 2D. Hasil penelitian menunjukkan lapisan bawah permukaan terdiri dari endapan aluvial berupa pasir dan kerikil yang jenuh air, kedalaman muka air tanah cukup dangkal sekitar 1 – 18 m sehingga berpotensi terjadi likuifaksi. Daerah penelitian juga telah mengalami intrusi air laut sampai sejauh 350 m dari pantai. Intrusi air laut ini membuat sedimen penyusun wilayah semakin jenuh air sehingga potensi likuifaksi lebih tinggi. L1 (lebih dekat ke pantai) memiliki potensi likuifaksi yang relatif tinggi dibandingkan dengan L3 karena kedalaman muka air tanahnya lebih dangkal dan intrusi air laut lebih luas. Research to determine liquefaction potential in Sungai Limau Region, Padang Pariaman Regency, West Sumatra, had been conducted. The data used are resistivity data surveyed by the Research Institute for Coastal Resources and Vulnerability (RICRV) of Padang in 2019. This study applied the Wenner 2D configuration of the resistivity geoelectric method. Data collection was carried out on two main lines, parallel to the coastline (L1 & L3) and one perpendicular to the coastline (L2) with 540 m length, 54 sounding points, and 10 m electrode distance. Data processing was performed using AGI EarthImager 2D software. The results show that the subsurface layer consists of alluvial deposits in water-saturated sand and gravel. The groundwater level's depth is relatively shallow, around 1 - 18 m indicating a liquefaction potential. The study area also undergoes seawater intrusion up to 350 m from the coastline. Seawater intrusion triggers the existence of water-saturated sediment resulting in enhanced liquefaction potential. L1 (near the coast) showed a relatively higher liquefaction potential than line L3 because of its shallow groundwater-surface, triggering the more expansive seawater intrusion.
Tomografi Kecepatan Seismik 3D Daerah Danau Toba Menggunakan SimulPS12 Anggraini, Novia; Pujiastuti, Dwi; Aulia, Atin Nur
Jurnal Fisika Unand Vol 9 No 4 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.9.4.457-464.2020

Abstract

Gunung Toba adalah salah satu gunung purba di Indonesia yang berada di Sumatera Utara. Terdapat dua aktivitas yang mempengaruhi gunung tersebut, yaitu aktivitas vulkanik yang berasal dari magma di bawahnya dan aktivitas tektonik yang berasal dari subduksi Lempang Indo-australia. Meskipun sudah lebih dari 70.000 tahun sejak terakhir kali erupsi dan menyebabkan terbentuknya kaldera vulkano-tektonik tersebar di dunia, yaitu Kaldera Toba, aktivitas-aktivitas tersebut masih ada. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengetahui keadaan di bawahnya adalah dengan melakukan tomografi kecepatan seismik 3D. Pada penelitian ini, program yang digunakan adalah SimulPS12 dan menghasilkan tomogram anomali Vp, Vs dan rasio Vp/Vs.  Berdasarkan hasil tomografi tersebut diketahui bahwa zona lemah terdapat pada kedalaman 30 km di bagian tengah Danau Toba dan kedalaman 50 km. Adapun proses partial melting terjadi pada kedalaman sekitar 130 km hingga 50 km yang berasal dari slab subduksi di bawah Danau Toba.  Pada kedalaman 30 km, selain anomali negatif, juga terlihat pola anomali Vp dan Vs positif yang mengindikasikan keberadaan bekas konduit dari intrusi magma yang membeku. Selain itu, aktivitas seismik juga terlihat tersebar pada beberapa titik di sekitar Kaldera Toba seperti di Gunung Pusuk Buhit dan Gunung Pardepur. Toba volcano is one of the ancient volcanoes in Indonesia located in Northern Sumatera.  There were two activities having an affect on the volcano, the volcanic activity from the magma chamber beneath the Toba caldera complex and the tectonic activity from the subduction of Indo-Australia Plate. Despite the last eruption of Toba was about 70.000 years ago, the activities were still exist.  The 3D seismic tomography could be carried out to understand the conditions beneath Toba Caldera.  In this research, the data was processed using the SimulPS12 program, and tomography images obtained were from Vp, Vs, and Vp/Vs ratio.  The results showed that the weak zones were found in the depth of 30 km in the middle part of Toba Caldera and the depth of 50 km. The partial melting process was in the depth of about 130 km to 50 km beneath Toba Caldera. The depth of 30 km was also found the high anomaly of Vp and Vs which indicated the existence of the remnant conduit of solidified magma.  In addition, the other seismic activities could also be found in its vicinity, i. e., in Pusuk Buhit Volcano and Pardepur Volcano.
Penentuan Zona Intrusi Air Laut di Area Pelabuhan Perikan Samudera Bungus Menggunakan Metoda Geolistrik Tahanan Jenis Konfigurasi Wenner Dua Dimensi Putri, Yoci Darwita; Pujiastuti, Dwi; Afdal, Afdal
Jurnal Fisika Unand Vol 9 No 4 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.9.4.465-471.2020

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mendeteksi intrusi air laut di area Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus Padang. Data yang diambil merupakan data sekunder dari Loka Riset Sumber Daya Kerentanan Pesisir Bungus Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Data diperoleh dengan metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi Wenner 2 dimensi. Pengukuran dilakukan pada 2 lintasan yang sejajar pantai yaitu Lintasan 1 dan 2, dan 1 lintasan tegak lurus dengan pantai yaitu Lintasan 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga lintasan sudah mengalami intrusi air laut. Intrusi terjadi sejauh 85 m dari bibir pantai. Lintasan 3 telah mengalami pertambahan luas intrusi dibandingkan pada penelitian Kusumah pada tahun 2015 namun kedalaman dan jarak intrusi dari pantai yang hampir sama. A Research to detect seawater intrusion zone in the area of Bungus Ocean Fisheries Port (PPS), Padang has been carried out. The resistivity data taken from the Bungus Coastal Vulnerability and Resource Research Station, Marine and Fisheries Research and Human Resources Agency, Ministry of Marine Affairs and Fisheries. Survey conducted using resistivity geoelectric method with 2 dimensional Wenner configuration. Measurement conducted at two lines paralel to coastal line (Line 1 and 2) and one line prependicular to coastal line (Line 3). The results show that all lines have experienced sea water intrusion. Intrusion occurs as far as 85 m from the shoreline. Line 3 has experienced an increase in area  of intrusion compared to Kusumah's study in the year of 2015 but depth and the distance from intrusion from the coast is almost the same.
Studi Relokasi Hiposenter Aftershock Gempa Yogyakarta 2006 Shinta, Velli; Pujiastuti, Dwi; Aulia, Atin Nur
Jurnal Fisika Unand Vol 9 No 4 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.9.4.502-509.2020

Abstract

Studi relokasi hiposenter aftershock gempa Yogyakarta 2006 telah diteliiti melalui pengolahan data waveform aftershock gempa Yogyakarta pada 16 Juni s.d 5 Juli 2006.  Data model kecepatan gelombang 1D Jawa Tengah digunakan sebagai model kecepatan awal. Identifikasi distribusi hiposenter gempa bumi diperoleh menggunakan metode Joint Hypocenter Determination (JHD) dan program Velest. Lokasi hiposenter ini selanjutnya di plot pada peta menggunakan GMT (Generic Mapping Tools). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa persebaran hiposenter gempabumi membentuk tiga buah cluster, berada dibagian timur kemudian membelok ke arah selatan Sesar Opak. Hiposenter memiliki pola persebaran membentuk suatu bidang sesar. Kemudian, hasil penelitian menemukan adanya rambatan energi di sepanjang zona lemah Sesar Opak dari sesar aktif di bagian timur. Nilai RMS residual relokasi hiposenter  menunjukkan hasil yang cukup akurat yaitu sebesar 0,0596 detik dan menghasilkan model kecepatan yang tidak jauh berbeda dengan model kecepatan awal (Jawa Tengah). The relocation study of the 2006 Yogyakarta earthquake aftershock hypocenter has been investigated through the processing of the Yogyakarta earthquake aftershock waveform data from 16 June to 5 July 2006. Data from the 1D wave velocity model of Central Java is used as the initial velocity model. Identification of the earthquake hypocenter distribution was obtained using the Joint Hypocenter Determination (JHD) method and the Velest program. The hypocenter location is then plotted on the map using GMT (Generic Mapping Tools). The results showed that the hypocenter of the earthquake formed three clusters, located in the eastern part and then veered to the south of the Opak Fault. The hypocenter has a distribution pattern to form a fault plane. Then, the results of the study found energy propagation along the weak zone of the Opak Fault from an active fault in the eastern part. The RMS value of the residual hypocenter relocation shows a fairly accurate result of 0.0596 seconds and produces a velocity model that is not much different from the initial velocity model (Central Java).
Perbandingan Anomali Frekuensi Kritis Lapisan F2 (Fof2) Ionosfer Pada Gempa Bumi Laut Dan Gempa Bumi Darat Pulau Sumatera Hafizhah, Luthfia; Pujiastuti, Dwi
Jurnal Fisika Unand Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.10.1.41-47.2021

Abstract

Pada saat akan terjadinya gempa bumi, maka akan diikuti dengan peningkatan injeksi gas radon di daerah zona persiapan gempa. Gas radon ini akan menyebabkan perubahan terhadap lapisan ionosfer. Telah dilakukan analisis perbedaan anomali frekuensi kritis lapisan F2 ionosfer (foF2) sebelum kejadian gempa laut dan gempa darat menggunakan ionogram ionosonda FMCW (Frequency Modulation Continous Wave) untuk melihat perbedaan karakteristiknya. Terdapat 5 kejadian gempa darat dan 5 kejadian gempa laut yang dianalisis.  Rentang hari pengambilan ionogram adalah 21 hari sebelum kejadian gempa bumi (analisis prekursor gempa bumi) dan 7 hari setelah kejadian gempa bumi (respon lapisan ionosfer setelah gempa bumi). Terdapat 13.440 buah ionogram yang di-scaling manual. Perbandingan intensitas anomali foF2 pada gempa laut dan gempa darat terlihat acak dan tidak memiliki karakteristik yang berbeda.  Anomali foF2 sudah terlihat 21 hari sebelum gempa darat. Pada gempa laut kemunculan anomali foF2 juga sudah terlihat 21 hari sebelum gempa bumi tetapi hanya untuk gempa dengan magnitudo besar saja yaitu gempa 12 September 2007 (7,7 SR dan 7,9 SR) dan 11 April 2012 (8,4 SR).  Kemunculan anomali foF2 terakhir beberapa jam sebelum gempa bumi darat berakhir lebih cepat dibandingkan dengan gempa laut.  Respon lapisan ionosfer terhadap aktivitas seismik dari gempa darat lebih cepat dari pada gempa laut. Anomali foF2 dipengaruhi oleh sumber gempa bumi, kedalaman dan magnitudo. Comparing the characteristic critical frequency anomaly of the ionosphere F2 layer (foF2) concerning land earthquake and sea earthquake during 2005 – 2016 in Sumatera region has been carried out. Ionogram data from the Frequency Modulation Continous Wave (FMCW) ionosonde instrument were analyzed for each of the five earthquakes. The foF2 anomaly in sea earthquake and land earthquake looks random. The foF2 anomaly was seen 21 before the earthquake. For the land earthquake, the foF2 anomaly has also been seen 21 days before the earthquake but only with large magnitudes (> 7.7 SR). The last foF2 anomaly was observed several hours before the land earthquake, ending the anomaly sooner than sea earthquake. Thus, the ionosphere layer response to seismic activity from the land arthquake was faster than sea earthquakes. The foF2 anomaly is influenced by earthquake source, depth, and magnitude. 
Pemodelan Struktur Bawah Permukaan Formasi Jatibarang Berdasarkan Metode Gayaberat Susanti, Dika Aprilia; Pujiastuti, Dwi; Handayani, Lina
Jurnal Fisika Unand Vol 11 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.11.1.131-138.2022

Abstract

Metode gayaberat digunakan untuk mengukur variasi percepatan gayaberat yang timbul akibat perbedaan densitas antar batuan bawah permukaan. Penelitian ini dilakukan di daerah Indramayu Jawa Barat dengan tujuan untuk menentukan sebaran anomali bawah permukaan yang dapat menggambarkan Formasi Jatibarang dan kedalaman basement (batuan dasar). Pengolahan data yang dilakukan meliputi koreksi Bouguer, udara bebas, terrain, lintang, pasang surut, dan koreksi apungan. Pemisahan anomali regional dan residual dan pemodelan kedepan. Hasil pengolahan menghasilkan peta anomali Bouguer, peta anomali regiona dan peta anomali residual. Pemodelan bawah permukaan menggambarkan perlapisan batuan yang didominasi oleh batuan sedimen yaitu batuan pasiran di bagian tengah daerah penelitian, batuan lempung hingga kedalaman 200 meter, serta batuan tuff hingga kedalaman 700 meter, kemudian batuan dasar dibawahnya.
Identifikasi Sebaran Anomali Magnetik pada Daerah Prospek Panas Bumi Nagari Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar Hidayat, Hanif; Putra, Ardian; Pujiastuti, Dwi
Jurnal Fisika Unand Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.10.1.48-54.2021

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran anomali magnetik pada daerah prospek panas bumi Nagari Aie Angek untuk mengetahui potensi panas bumi yang digambarkan dalam bentuk pemodelan sistem panas bumi. Penelitian yang dilakukan pada daerah berdimensi 1300 m × 1300 m yang terdiri dari 198 titik pengambilan data. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai anomali magnetik yang berada pada daerah tersebut berada pada rentang -2800 nT hingga 1800 nT dan didominasi oleh nilai magnetik negatif. Anomali magnetik negatif ini disebabkan oleh adanya sumber panas, reservoir dan pengaruh batuan sedimen vulkanik yang telah mengalami demagnetisasi. Data sebaran anomali magnetik ini diplot menjadi peta kontur yang selanjutnya dikontinuasi ke atas (smoothing) untuk menghilangkan pengaruh magnetik pada permukaan dan menekankan pengaruh regional. Berdasarkan hasil pemodelan dari sistem panas bumi didapatkan adanya indikasi caprock, reservoir dan batuan panas serta zona sesar yang berkaitan erat dengan sistem fluida hidrotermal. This research aims to identify the distribution of magnetic anomalies in the Nagari Aie Angek geothermal prospect area and determine the geothermal potential described in geothermal system modeling. This research was conducted in an area with 1300 m × 1300 m, consisting of 198 data collection points. From the research result, the magnetic anomaly values obtained are in the range -2800 nT to 1800 nT and are dominated by negative magnetic values. This negative magnetic anomaly is caused by heat sources, reservoirs, and the influence of demagnetized volcanic sedimentary rocks. This magnetic anomaly distribution data is plotted into a contour map, which is then performed by upward continuation (smoothing) to eliminate magnetic influence on the surface and emphasize regional effects. Based on the geothermal system’s modeling results, it is found that there are indications of caprock, reservoir, and hot rock, as well as a fault zone that is closely related to the hydrothermal fluid system.
Anomali Total Electron Content (TEC) di Ionosfer Sebagai Prekursor Gempa Bumi di Sumatra Syafda, Rohadatul Aisy; Pujiastuti, Dwi; Afrizal, Afrizal
Jurnal Fisika Unand Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.10.1.96-103.2021

Abstract

Anomali Total Electron Content melalui data sinyal radio frekuensi-ganda GPS dapat menunjukkan adanya perubahan aktivitas ionik di ionosfer yang dapat disebabkan oleh badai geomagnetik maupun peristiwa seismo-ionospheric coupling. Pantai barat Sumatera merupakan lokasi yang rawan akan bencana gempa bumi akibat batas dari zona subduksi. Penelitian beberapa gempa dalam kurun beberapa dekade terakhir di barat Sumatra menggunakan data SuGAr dan IGS telah dilakukan untuk mengetahui adanya prekursor gempa bumi melalui analisis anomali TEC. Terdapat lima gempa yang dianalisis  dengan skala 5 hingga 9 SR dengan menggunakan teknik korelasi dan analisis spasial. Dari hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh empat gempa yang menunjukkan anomali TEC yaitu gempa dengan magnitudo 6 hingga 9 SR dimana terdapat satu hari atau dua hari anomali TEC yang dianggap sebagai prekursor gempa bumi.Total Electron Content anomalies from dual-frequency GPS radio signals can shown the change of ionic activity on ionosphere that caused by geomagnetic storm or seismo-ionospheric coupling. The East coast of Sumatera is a very vulnerable location of earthquakes because it adjust with subduction zone. Research on some earthquake in last decade on the east part of Sumatera has been identified use SuGAr and IGS data to determine the earthquake precursors from TEC anomaly analysis. Five earthquakes were analyzed on a scale of 5 to 9 SR using correlation techniques and spatial analysis. From the analysis results that have been carried out, it was found that four earthquakes showed TEC anomalies, namely earthquakes with a magnitude of 6 to 9 SR where there were one day or two days of TEC anomalies which were considered as earthquake precursors.
Pemodelan Kedalaman Air Tanah pada Zona Sulit Air Bersih Desa Sijantang Kota Sawahlunto Menggunakan Formulasi Water Seismic Index Safrima, Ikhwan; Pujiastuti, Dwi; Pohan, Ahmad Fauzi
Jurnal Fisika Unand Vol 10 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.10.2.177-183.2021

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk pendugaan kedalaman air tanah di desa Sijantang Sawahlunto dengan menggunakan metode seismik refraksi. Data diambil dari 3 lintasan di daerah yang memiliki struktur geologi endapan aluvial.  Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metoda Water Seismic Index (WSI), yang merupakan metoda pemanfaatan dari perlambatan gelombang geser sebagai ciri-ciri adanya air di lapisan bawah permukaan tanah. Indeks WSI 0,8 – 2,0 merupakan  nilai yang menunjukkan keberadaan air tanah. Dari interpretasi pengolahan data diperoleh bahwa  lapisan tanah di daerah tersebut tersusun dari  lapisan atas yang  berupa  kerikil  di dekat permukaaan dan lapisan berikutnya  merupakan lapisan tanah pasir kering, pasir basah, lempung dan lempung lanau. Lapisan akuifer berada pada kedalaman 6.5 – 16 m dan dikategorikan sebagai akuifer dangkal. Dari pengolahan data dapat dibuktikan bahwa daerah bekas tambang batubara desa Sijantang, Sawahlunto masih memiliki ketersediaan air tanah yang dapat digunakan. Research has been carried out to modeling the depth of groundwater in the village of Sijantang, Sawahlunto by using the seismic refraction method. The data were taken from 3 trajectories in areas that have a geological structure of alluvial deposits.  Data processing was carried out using the Water Seismic Index (WSI) formulation, which is a method of exploiting shear wave retarding as a characteristic of water in the subsurface layers of the soil. WSI value from 0.8 to 2.0 are values that indicate the presence of ground water. From interpretation of data processing obtained that the soil layer in the study area is composed and the top layer in the form of gravel near the surface and the next layer is a layer of dry sand, wet sand, loam and silt loam.  The aquifer layer is at a depth of 6.5 - 16 m and is categorized as shallow aquifer. The result showed that the former coal mining area of Sijantang village, Sawahlunto still has groundwater that can be used.
Co-Authors - Afrizal Adrial, Rico Afdal Afdal Afdal Afdal Afdal Afdal, Afdal Afdal, Afdal Afdhal Muttaqin Afrizal Afrizal Agfustian, Muhamad Rizki Ahmad Fauzi Pohan Ahmad Furqan Alifvia Daswita Alimin Mahyudin Amirudin, Muhammad Ridho Ananda, Nadya Rezky Andini, Mayang Putri Andiyansyah Sabarani Andiyansyah Z Sabarani Andiyansyah Z Sabarani, Andiyansyah Z Anggriani, Regina Mai Annisa Zahratul Hilma Annisa Zahratul Hilma Aperus, Rahmad Ardelia, Ariqah Ardian Putra Ardian Putra Ardian Putra Ari Febriana Kabisat Ari Febriana Kabisat, Ari Febriana Arif Budiman Arif Budiman Arif, M. Ariqah Ardelia Arisa, Deasy Asep Firman Ilahi Asep Firman Ilahi, Asep Firman Astuti Astuti - Astuti Astuti Astuti Astuti Atin Nur Aulia Atin Nur Aulia Aulia Latifah Aulia, Atin Nur Aulya Rahayu Aulya Rahayu, Aulya Badrul Mustafa Badrul Mustafa, Badrul Baihaqi, Rahmad Br. Sitanggang, Regina Mai Anggriani Dahyunir Dahlan Damayanti, Elok Dari, Riska Wulan Daswita, Alifvia Daz Edwiza, Daz Deasy Arisa Deasy Arisa Deasy Arisa Dedi Mardiansyah Denisa Syafriana Denisa Syafriana, Denisa Desi Indriani Desi Indriani, Desi Dian Fitriyani Dian Milvita Diana Saputri Dika Aprilia Susanti Dimas Pramudito Dimas Pramudito Dwi Puryanti Ednofri - Ednofri - Ednofri - Ednofri Ednofri, Ednofri Edwards Taufiqurrahman, Edwards Ekarama Putri Ekarama Putri, Ekarama Eldiani Arifya Elistia Liza Namigo, Elistia Elvaswer Elvaswer Fadilla Monica Fadilla Monica Fariza, Mayola Feriska Handayani Irka, Feriska Handayani Fery Kurnia Sandi Fhatihatul Rahmi Fidia, Rahma Fitri Gustiana Fitri Gustiana Friska Puji Lestari Friska Puji Lestari, Friska Puji Friska, Vira Furqan, Ahmad Gustiana, Fitri Gustiana, Fitri Hafizhah, Luthfia Hamdy Arifin Hamdy Arifin Hamdy Arifin, Hamdy Hanif Hidayat Harmadi Harmadi Herifa - Herifa -, Herifa Hidayat, Hanif Hilma, Annisa Zahratul Ikhwan Safrima Illona giovanni, Vannessa Imam Taufik Imam Taufiq Indah Putri Utami Indah Putri Utami Indri Septiani Indriani, Widi Satria Iqbal Ramadhan Irma Kurniawati Irma Kurniawati Jarnal Witarsa Koko Ondara Koko Ondara, Koko Latifah, Aulia Lina Handayani Lina Handayani Lusi Fitrian Sani Lusi Fitrian Sani, Lusi Fitrian Luthfia Hafizhah M. Arif Mairisdawenti - Mairisdawenti -, Mairisdawenti Marlisa Marlisa Marlisa Marlisa, Marlisa Marzuki Marzuki Marzuki Marzuki Marzuki Marzuki Maya Minangsih Maya Minangsih Mayang Putri Andini Mayola Fariza Meqorry Yusfi Minangsih, Maya Minangsih, Maya Mochammad Imron Awalludin Mohammad Ali Shafii Monica, Fadilla Mora Mora Muhamad Rizki Agfustian Muhammad Arif Muhammad Kahfi Muhammad Razi Muhammad Razi Muhammad Ridho Amirudin Muldarisnur, Mulda Mutya Vonnisa Nadila Syarah Nadya Rezky Ananda Naela Amalia Zulfa Nini Firmawati Nofaslah, Rido Novia Anggraini Novia Anggraini Novia Dwi Agusri Nurdin Nurdin Nurdin Nurdin Nurul Annisa Nurul Hasanah Okci Mardoli Okci Mardoli, Okci Oktaviani, Violina Pertiwi, Rahmi Nanda Puspasari, Trevi Jayanti Putri, Yoci Darwita Rachmad Billyanto Rachmad Billyanto Rachmad Billyanto Rachmad Billyanto, Rachmad Rahma Fidia Rahmad Aperus Rahmad Aperus Rahmad Baihaqi Rahmat Rasyid Rahmi Nanda Pertiwi Rahmi, Fhatihatul Ramacos Fardela Regina Mai Anggriani Regina Mai Anggriani Br. Sitanggang Rido Nofaslah Rido Nofaslah Rika Desrina Saragih Rika Desrina Saragih Riska Wulan Dari Rita Ummi Sahida Tanjung Rohadatul Aisy Syafda Sabarani, Andiyansyah Safrima, Ikhwan Sandi, Fery Kurnia Saputri, Diana Septiani, Indri Shinta, Velli Solly Aryza Sri Handani Sri Oktamuliani Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sucy Lestari Wirma Sumi Daniati, Sumi Susanti, Dika Aprilia Syafda, Rohadatul Aisy Tanjung, Rita Ummi Sahida Titi Anggono Titi Anggono Toni Widianto Trengginas Eka Putra Sutantyo Trevi Jayanti Puspasari Usna, Sri Rahayu Alfitri Velli Shinta Violina Oktaviani Vira Friska Wendi Harjupa Widi Andewi Widi Satria Indriani Widianto, Toni Wildan Hafni Wildan Hafni, Wildan Witarsa, Jarnal Wiwit Reflidawati Wiwit Reflidawati, Wiwit Yoci Darwita Putri Yoci Darwita Putri Yudi Darma Yudi Darma Zulfi Zulfi Abdullah