Claim Missing Document
Check
Articles

Implikasi Teori Belajar Kognitivistik Jerome S Bruner dalam Pembelajaran PAI Dimas Assyakurrohim; Agung Mandala Putra; Ermis Suryana; Abdurrahmansyah Abdurrahmansyah
JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 9 (2023): JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan)
Publisher : STKIP Yapis Dompu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54371/jiip.v6i9.2249

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas serta menganalisis tentang teori belajar Kognitivistik mulai dari pengertian, proses belajar mengajar, tahapan belajar mengajar, alat-alat mengajar, implikasinya serta kelebihan dan kekurangan dari teori kognitivistik. Teori ini menjelaskan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dsb) melalui contoh-contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumber. Dalam mengkaji artikel ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan mengkaji kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan dengan materi makalah seperti buku dan jurnal yang layak dijadikan referensi. Implikasi Teori Bruner dalam Proses Pembelajaran adalah menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah. Dengan demikian Teori kognitif juga menekankan  bagian-bagian  dari  situasi  yang saling berhubungan  dengan  seluruh  kontek  situasi  tersebut.
Perkembangan Kognitif Menurut Teori Sosio-Kultural dan Implikasinya dalam Pembelajaran Suci Hidayati; Weriana Weriana; Ermis Suryana; Abdurrahmansyah Abdurrahmansyah
JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 9 (2023): JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan)
Publisher : STKIP Yapis Dompu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54371/jiip.v6i9.2305

Abstract

Perkembangan manusia merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Salah satu sering menjadi perhatian orang tua ialah perkembangan koginitif. Dalam pandangan Vygotsky meyakini bahwa aspek sosial dan kultural seseorang membantu membentuk perkembangan kognitif. Penerapan Teori Sosio-Kultural dalam pembelajaran di Indonesia dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi pengembangan pendidikan inklusif dan memperhatikan keberagaman budaya siswa. Adapun metode yang digunakan penelitian ini adalah kualitatif melalui dokumentasi. Penerapan Teori Sosio-Kultural dalam pembelajaran di Indonesia juga memiliki tantangan dan kendala, seperti kurangnya kesadaran akan pentingnya pendekatan inklusif dan memperhatikan keberagaman budaya siswa, kurangnya pelatihan dan pengembangan kurikulum yang relevan, serta kurangnya dukungan dari pihak terkait. Untuk dapat menerapkan Teori Sosio-Kultural dalam pembelajaran di Indonesia, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, seperti pemerintah, lembaga pendidikan, guru, dan masyarakat.
Perkembangan Masa Dewasa Dini dan Madya dalam Implikasinya pada Pendidikan Rahmat Fadli; Dwi Wahyu; Ermis Suryana; Abdurrahmansyah Abdurrahmansyah
JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 9 (2023): JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan)
Publisher : STKIP Yapis Dompu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54371/jiip.v6i9.2793

Abstract

Perkembangan masa dewasa dini adalah periode transisi dari masa remaja ke dewasa, yang biasanya dimulai pada usia 18 hingga 25 tahun. Pada masa ini, individu mulai membangun identitas diri, mengembangkan keterampilan sosial, emosional, dan kognitif, serta mencari tujuan hidup. Sementara itu, masa dewasa madya adalah periode di mana seseorang telah mencapai kedewasaan dan memasuki fase tengah kehidupannya. Masa ini biasanya dimulai pada usia 35 hingga 55 tahun. Pada masa dewasa madya, individu telah mencapai stabilitas finansial dan karir, serta mulai memfokuskan pada pertumbuhan pribadi dan pembelajaran seumur hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implikasi perkembangan masa dewasa dini dan madya pada pendidikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, di mana data diperoleh dari sumber-sumber yang terkait dengan perkembangan masa dewasa dan pendidikan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan masa dewasa dini dan madya memiliki implikasi yang berbeda pada pendidikan. Pendidikan untuk masa dewasa dini perlu berfokus pada pengembangan keterampilan sosial, emosional, kognitif, kepercayaan diri, dan identitas diri. Sedangkan pada masa dewasa madya, pendidikan perlu menekankan pada pembelajaran seumur hidup, pembelajaran yang relevan, pembelajaran berbasis masalah, pengembangan keterampilan khusus, dan penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Dalam kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan perlu mempertimbangkan karakteristik perkembangan masa dewasa dini dan madya dalam merancang kurikulum dan strategi pembelajaran yang sesuai. Hal ini dapat meningkatkan efektivitas pendidikan dalam membantu individu mencapai potensi penuhnya pada kedua masa dewasa tersebut.
Menavigasi Perkembangan Masa Remaja Awal: Perkembangan, Tantangan, dan Kesempatan Hendi Hendi; Dewa Ikhram; Ermis Suryana; Abdurrahmansyah Abdurrahmansyah
JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 10 (2023): JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan)
Publisher : STKIP Yapis Dompu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54371/jiip.v6i10.2991

Abstract

Masa remaja adalah masa yang penuh dengan kejutan. Sebab pada masa ini anak akan mengalami berbagai macam hal yang baru ia temukan dan alami. Baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik misalnya, terjadi perubahan mendasar dari seorang anak perempuan dengan penonjolan pada bagian dada, penumbuhan rambut ketiak, dan suara yang mulai terasa berat bagi anak lelaki. Sementara secara psikis munculnya pemikiran abstrak, kemampuan menyerap cara pandang dan sudut pandang orang lain, meningkatnya daya introspeksi, identitas pribadi dan pembentukan sistem nilai. Perubahan yang terjadi itu sangatlah alami dan natural, sehingga hasilnya bisa saja berakhir menjadi pribadi yang baik atau malah sebaliknya mennjadi pribadi yang buruk. Tergantung bagaimaimana proses itu dibimbing dan diarahkan ke arah yang lebih baik. Jika tidak, maka akan berakibat kepada penyelewengan dan berimbas kepada perilaku kenakalan remaja. KPAI merilis setidaknya masih ditemukan kenakalan remaja sebanyak 187 kasus pada tahun 2022. Siti Fatimah dan M Towil Umuri dalam jurnal mereka menyebutkan selain dari diri sendiri, sekolah, dan keluarga, linkungan adalah faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan pada remaja. Hal ini dikarenakan faktor-faktor tersebut adalah bagian yang selalu bersentuhan dengan anak remaja. Akan sangat baik bila faktor-faktor tersebut memberikan dampak yang baik bagi kehidupan remaja. Dalam hal ini, faktor keluarga sebagai lingkungan informal bagi remaja, harusnya memiliki peran lebih untuk menghindarkan remaja dari perilaku-perilaku negatif. Orang tua tentunya memiliki kewajiban untuk menghindarkan anaknya dari perilaku buruk sebab dampak baik dan buruknya akan kembali kepada keluarga.
Pendidikan dan Pembelajaran Rauhah: Studi Analisis Pada Masyarakat Alawiyin Di Kota Palembang Musthafa Haidar; Abdullah Idi; Abdurrahmansyah Abdurrahmansyah
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 12, No 02 (2023): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v12i02.4311

Abstract

Rauhah (perkumpulan) sama halnya seperti dengan Cawisan dalam bahasa lokal di Sumatera Selatan yang kemudian dialkuturasi dari Timur Tengah yang kemudian digunakan sebagai sarana untuk pembinaan moral dan spiritual. Rauhah ini akan dikaji mengunakan penelitan lapangan (field research) dan menggunakan pendekatan kualitatif  dikumpulkan dengan teknik waancara, observasi dan dokumentasi, serta di analisis dengan menggunakan reduksi data, model data dan penarikan/verifikasi kesimpulan, lalu kemudian menggunakan uji kredibilitas dengan metode trianggulasi unruk uji keabshahan data. Hasil penelitian ini terdapat empat bagian yaitu dimulai dari peserta didik, pendidik, proses pembelajaran serta kurikulum rauhah. Adapun peserta didik dalam pelaksanakan rauhah ini yaitu hampir segala usia hadir dalam proses rauhah ini. Kemudian dalam proses pendidikan pada rauhah yaitu Dimulai dari pembacaan qasidah. Pembacaan qasidah ini biasanya tergantung dari munsyid (pembaca qasidah) merujuk dari Hadhramaut, seperti syair dari Imam Haddad. Setelah pembacaan qasidah, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan dalam hal ini langsung dibuka oleh Pengasuh rauhah tersebut dan diiringi dengan pembacaan doa untuk leluhur alawiyin, tabi-tabiin, peserta didik rauhah yang telah meninggal.Selanjutnya yaitu penyampaian materi rauhah. Pada proses penyampaian materi ini, pemateri menyampaikan reviewsedikit dari pertemuan sebelumnya guna menyambungkan pembahasan dahulu dan sekarang. Setelah selesai penyampaian materi, rauhah kemudian ditutup dengan doa penutup majlis.
Scrutinizing the Awareness of Hidden Curriculum: Connecting Lecturers to Themselves, Students, and Non-Engineering Study Programs Welly Ardiansyah; Risnawati; Zakaria; Lutfi Asyari; Abdurrahmansyah -
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol 12 No 4 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpiundiksha.v12i4.60678

Abstract

The hidden curriculum plays a crucial role in the entire teaching process, and there is no doubt about that. It possesses the irreplaceable value and function of explicit curriculum. Therefore, teaching at a college should pay attention to utilizing hidden curriculum. On the basis of fully understanding the characteristics and functions of the hidden curriculum, this study analyze the understanding of the hidden curriculum, interviewed selected lecturers to probe deeper regarding how they use the hidden curriculum and made observations notes on classroom environments and interactions. A mixed-method approach is used in this study. Purposive sampling was used to select 100 non-engineering lecturers in State Polytechnic of Sriwijaya for the statistical society. To collect information, survey, interview, and observation were applied. The findings showed that the majority of lecturers had knowledge of the hidden curriculum and utilized it to improve their classroom through body language, tone of voice, physical classroom changes, setting and maintaining expectations and norms, and reflecting upon their teaching. It was also found that all departments brought their mission statements and ethos to life.. A further contribution of the study is to provide a deeper understanding of the hidden curriculum enacted in private higher education, as well as what lecturers experience the hidden curriculum to be like. A better understanding of hidden curriculum is necessary to improve its use in higher education.
Implementasi Pendidikan Inklusi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Anak Berkebutuhan Khusus di SMP Negeri 13 Palembang Maria Maria; Mulyadi Eko Purnomo; Abdurrahmansyah Abdurrahmansyah
Raudhah - Proud To Be Professional مجلد 8 عدد 1 (2023): Raudhah Proud To Be Professionals: Jurnal Tarbiyah Islamiyah-APRIL 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Raudhatul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48094/raudhah.v8i1.230

Abstract

Penelitian ini mencari pemecahan masalah penyelenggaraan pendidikan lnklusi yang dapat mcnjangkau sernua warga negara dengan tanpa rnemperhatikan kelemahan dan kekurangan peserta didik. Dinas Pendidikan Kota Palembang menyelenggarakan pendidikan inklusi pada jenjang Sekolah Menengah Pertarna, sebagai Pilot Project-nya sekolah yang ditunjuk di SMP Negeri 13 Palembang, Jenis penelitian ini deskriftif kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Informan penelitian kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru di SMP Negeri 13 Palembang. Pengumpulan data dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data, verifikasi atau pengambilan kesimpulan. Hasil temun penelitian ini yaitu, upaya guru PAI hendaknya dirancang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, kemampuan dan karakteristik peserta didiknya serta mengacu kepada kurikulum yang dikembangkan. Simpulan Jmplementasi pada sekolah inklusi Pada Anak Berkebutuhan Khusus menunjukkan bahwa sudah berjalan sesuai dengan pelaksanaan program sekolah inklusi, tetapi masih belum optimal. Hal Ini disebabkan karena penyelenggaraan sekolah inklusi yang dicanangkan oleh pemerintah pusat dan diteruskan oleh sekolah pelaksana tclah tersampaikan dan dilaksanakan dengan mengikuti situasi dan kondisi yang disesuaikan disetiap sekolah. Jadi untuk Anak Berkebutuhan Khusus belum bisa untuk menyesuaikan dengan apa yang dibutuhkan oleh Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
KEBIJAKAN PENDIDIKAN UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN DASAR DI ERA DIGITAL Adelia Dwi Pareza; Annisa Apsari; Dewi Dewi; Abdurrahmansyah Abdurrahmansyah
Muallimuna : Jurnal Madrasah Ibtidaiyah Vol 10, No 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Fakultas Studi Islam UNISKA MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/muallimuna.v10i2.18791

Abstract

The education system, especially Madrasah Ibtidaiyah (MI) and Elementary Schools (SD), needs to undergo a major transformation in the digital era. Teachers, as pillars of education, must have sufficient digital skills to use technology in the learning process. The purpose of this article is to investigate various education policies that can be used to improve the ability of MI/SD teachers to face the challenges of the digital era. examining relevant literature on national policies and teacher training programs. The study shows that policies such as the Continuous Professional Development Program (PKB), Digital Education Training, and Merdeka Curriculum Integration help improve teacher and technology competencies. To realize an inclusive and sustainable digital education ecosystem, the government, educational institutions, and the community must work together to achieve this goal, because there are still obstacles that hinder the implementation of these policies, such as limited infrastructure, inequality in access to technology, and the need for continuous mentoring.