Articles
PERBANDINGAN METODE PERKIRAAN PREVALENSI RUMAH TANGGA DEFISIT KALORI
Abas B. Jahari;
Basuki Budiman;
Djumadias Abunain;
Mashari Sudjono
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 9 (1986)
Publisher : Persagi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1976.
Dalam memperkirakan prevalensi defisit kalori (PDK) untuk Indonesia berdasarkan data SUSENAS, para peneliti menggunakan cara yang berbeda, terutama dalam penggunaan angka batas "defisit kalori". Adaa yang menggunakan cara "batas tetap" (angka rata-rata kebutuhan energi minimum untuk tingkat nasional), ada pula yang menggunakan "batas relatif" (angka rata-rata kebutuhan energi minimun untuk tingkat rumah tangga denngan mempertimbangkan komposisi anggota rumah tangga menurut umur dan jenis kelamin). Dalam makalah ini dikemukanan kajian perbandingan ketepatan kedua metoda yang digunakan dalam memperkirakan prevalensi defisit kalori untuk Indonesia berdasarkan data SUSENAS 1984. Hasil analisis dengan uji Se (Sensitivity) dan Sp (Specifity) menunjukkan bahwa dalam memperkirakan PDK untuk Indonesia akan lebih tepat bila menggunakan "batas relatif" (70% kebutuhan energi rumah tangga) sebagai patokan "batas defisit kalori". Jika menggunakan "batas tetap" sebaiknya patokan "batas defisit kalori" bukan 1700 kalori, melainkan 1400 kalori.
DETERMINAN PERTUMBUHAN ANAK 6-8 TAHUN DI DAERAH ENDEMIK GAKI
Basuki Budiman
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2278.
Pertumbuhan yang diukur dari tinggi badan pada anak usia 6-8 tahun di daerah endemik Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI) cenderung lebih buruk daripada di daerah non-endemik. Oleh karena pertumbuhan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, maka determinan pertumbuhan di setiap daerah akan berbeda. Penelitian ini mengungkapkan determinan pertumbuhan di daerah endemik GAKI. Rancangan penelitian kasus-kontrol dipilih dengan kasus ditentukan sebagai anak usia 6-8 tahun yang tumbuh di daerah endemik dan mengalami gangguan pertumbuhan; sedangkan kontrol adalah anak yang berjenis kelamin dan berusia relatif sama (toleransi tiga bulan) ang tumbuh di daerah yang sama pula serta tidak mengalami gangguan pertumbuhan. Determinan dianalisis dari regresi ganda logistik pada 52 pasang sampel. Penyusunan model regresi menggunakan paket analisis SPSS versi 3.1. Hasil analisis memberi petunjuk bahwa faktor tinggi badan ayah tidak memberikan resiko terhadap pertumbuhan anak; sedangkan faktor tinggi badan ibu memberikan resiko terhadap pertumbuhan anak sebesar 2.72 (1.08-6.83). Faktor-faktor lain tidak dapat disimpulkan dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
TEMPAT PELAYANAN KESEHATAN DASAR UNTUK ANAK USIA 6-36 BULAN YANG DITUJU MASYARAKAT KOTA
Basuki Budiman
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2279.
Dalam penelitian ini telah dipelajari pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar terutama untuk anak usia 6-36 bulan. Penelitian dilaksanakan di dua kelurahan dari dua kecamatan di Kotamadya Semarang. Dari hasil analisis data penelitian ini dapat diungkapkan bahwa masyarakat kota mempunyai banyak pilihan tempat pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dasar anaknya. Pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang merupakan upaya pemerintah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat ternyata masih lebih banyak digunakan terutama oleh kelompok ekonomi kurang mampu dan ibu rumahtangga yang berpendidikan tamat sekolah lanjutan pertama atau kurang.
HUBUNGAN ANTARA PEMBESARAN KELENJAR GONDOK YANG TAMPAK DENGAN GANGGUAN PERTUMBUHAN ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH GONDOK ENDEMIK
Basuki Budiman;
Ratna D. Hatma;
Pandu Riono;
Sihadi Sihadi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2199.
Salah satu spektrum gangguan akibat iodium (GAKI) adalah gangguan pertumbuhan ragawi. Pembesaran kelenjar gondok, disatu pihak merupakan salah satu manifestasi kekurangan iodium, sementara di lain pihak, defisit tinggi badan merupakan petunjuk gangguan pertumbuhan. Hasil penelitian Bautista et.al. dan Koutras et.al. tidak menunjukkan hubungan antara pembesaran kelenjar gondok dengan postur tubuh. Penelitian untuk konfirmasi hasil penelitian tersebut dengan keadaan di Indonesia telah dilakukan di daerah gondok endemik di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sebanyak 1110 siswa sekolah dasar (7 SD) diperiksa pembesaran gondoknya dengan palpasi dan diukur tinggi badannya secara antropometri. Data yang diperoleh dianalisis secara kasus-kontrol dan distratifikasi menurut jenis kelamin dan umur. Kasus adalah anak penderita gangguan pertumbuhan pada nilai Z-skor 2.51 dari sebaran tinggi badan NCHS/WHO. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa resiko anak yang terganggu pertumbuhannya karena menderita kekurangan iodium sama besar dengan resiko anak yang pertumbuhannya normal (rasio odd, OR=0.84); demikian pula resiko pertumbuhan, pada anak perempuan (OR=0.90) hampir sama besar dengan pada anak laki-laki (OR=0.81). Efek umur, tampaknya, juga tidak menunjukkan perbedaan resiko. Disimpulkan bahwa hasil penelitian ini menegaskan hasil penelitian Bautista et.al. dan Koutras et.al.
EVALUASI MANAJEMEN PEMBERIAN MINYAK BERIODIUM: STUDI KASUS DI KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR
Syarifudin Latinulu;
Basuki Budiman;
Edwi Saraswati;
Syafrudin Syafrudin
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2290.
Program Nasional penanggulangan masalah gondok endemik (sekarang GAKI) berupa pemberian suntikan lipiodol sejak 1974-1992 dan iodisasi/distribusi garam konsumsi bagi desa-desa gondok endemik (1976-sekarang). Sejak Oktober 1992 program pemberian Lipiodol diganti dengan pemberian kapsul minyak beriodium sementara pemasaran garam beriodium tetap dilaksanakan. Keterbatasan Lipiodol, sarana dan dana operasional merupakan kendala serius dalam upaya pencapaian cakupan desa dan penduduk secara luas. Penelitian manajemen distribusi minyak beriodium ini dilakukan agar kendala dan hal-hal negatif yang terjadi pada pemberian Lipiodol tidak terulang pada distribusi Kapsul Iodium. Penelitian dilakukan di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di Kabupaten Malang terdapat 241 desa endemik berat (61.5%), 64 desa (16.3%) endemik ringan, 59 desa (15.1%) endemik sedang dan 28 desa (7.1%) non endemik dari 392 desa yang disurvei sejak tahun 1980-1993. Di daerah ini baru sekitar 20% sasaran yang sudah pernah disuntik Lipiodol yang mendapat suntikan ulang. Pelaksanaan penyuntukan Lipiodol didasarkan atas prinsip atau azas pemerataan. Demikian juga distribusi kapsul minyak beriodium masih menganut "azas pemerataan" karena keterbatasan kapsul, dan masih ada 21% penduduk sasaran di Kabupaten Malang yang belum terjangkau kapsul. Kapsul diperoleh melalui dana APBN dan APBD mengikuti mekanisme perencanaan dari bawah. Terdapat penajaman ibu hamil dan bayi guna mencapai bebas kretin baru dan prevalensi TGR<18% pada tahun 2000.
PENILAIAN STATUS GIZI DENGAN PENYINARAN TELAPAK TANGAN DAN PERBANDINGAN DENGAN PENGUKURAN TINGGI BADAN
Basuki Budiman;
Edwi Saraswati;
Syarifudin Latinulu
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 20 (1997)
Publisher : Persagi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2353.
Radiografi telah lama digunakan untuk penilaian umur kronologis, pengukuran densitas tulang, penelitian genetika dan patologi osteoporosis. Perkembangan teknologi elektronika memungkinkan dibuat alat radiografi yang portable dan sangat aman dari efek radiasinya. Dengan menggunakan alat ini, dilakukan penilaian status energi protein dan membandingkannya dengan penelitian secara antropometris yang telah dikenal luas terutama tinggi badan. Penelitian ini melibatkan 161 anak usia 6-30 bulan yang bebas dari penyakit kronis dan telah dilapis menurut postur tubuhnya. Setelah mendapat persetujuan orangtua anak, telapak tangan dan pergelangan anak-anak itu diperiksa secara radiografis. Umur tulang (=umur biologis) dinilai mengikuti metode Tanner-Whitehouse-II (TW-2). Anak-anak yang mengalami retardasi (terlambat) menurut radiografis (sebesar 38,5%) hanya terdeteksi sebesar 15,5% menurut antropometri. Hal ini disebabkan perbedaan umur kronologis dan umur biologis (1; 0-2,5 bulan). Dengan penyinaran ini, dapat diketahui bahwa anak-anak yang berpostur pendek (terhambat pertumbuhannya), pertumbuhan tulangnya belum tumbuh secara optimum.
PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG DIARE DAN PENCARIAN PENGOBATANNYA DI DUA DESA DI KABUPATEN BOYOLALI
Iman Sumarno;
Basuki Budiman;
Edwi Saraswati;
Sri Prihartini
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 18 (1995)
Publisher : Persagi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2223.
Diare masih merupakan penyebab penting kematian bayi dan balita di Indonesia. Telah dipelajari persepsi masyarakat tentang diare serta cara penanggulangannya di desa Manyaran dan Sempulur Boyolali sebagai bahan untuk penanggulangan diare oleh masyarakat. Diare tidak dianggap sebagai penyakit yang terlalu serius. Menurut masyarakat, penyebab diare ada yang langsung terhadap anak yaitu masuk angin, terlalu lama mandi, makan makanan rasa asam (kecut), dan tidak langsung bila ibu menyusui masuk angin atau makan makanan yang pedas-pedas, air susu menjadi jelek dan anak menderita mencret. Tidak ada kepercayaan bahwa diare disebabkan oleh roh halus. Persepsi masyarakat/ibu-ibu tentang diare dan penyebabnya menghasilkan perilaku pengobatan diare pada anak sebagai berikut: Mula-mula ditangani sendiri dengan ramuan tradisional, bila tidak sembuh diobati dengan pil "Ciba" yang dijual bebas di warung-warung yang tersebar di desa, bila tetap belum sembuh baru di bawa ke petugas kesehatan.
KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN RUMAH TANGGA DI INDONESIA MENURUT SUSENAS 1993
Iman Sumarno;
Syafrudin Syafrudin;
Syarifudin Latinulu;
Basuki Budiman
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 18 (1995)
Publisher : Persagi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2224.
Telah dilakukan studi untuk mempelajari konsumsi energi dan protein rumahtangga di Indonesia. Data yang digunakan adalah data belanja makanan (termasuk produksi sendiri, membeli, atau diberi) dari SUSENAS 1993 yang dikumpulkan Biro Pusat Statistik. Penghitungan konsumsi dilakukan dengan mengkonversi bahan makanan yang namanya jelas tertulis dan dapat diketahui beratnya kedalam energi protein dengan menggunakan daftar komposisi bahan makanan yang dikeluarkan oleh Direktorat Gizi, tahun 1972. Bahan makanan lain (yang namanya tidak tercantum) pada masing-masing kelompok bahan makanan dihitung nilai gizinya berdasarkan perbandingan harganya terhadap total bahan makanan kelompoknya dikalikan dengan nilai energi dan protein total bahan makanan yang diketahui beratnya pada kelompok yang bersangkutan. Untuk makanan jadi nilai energi dan protein dihitung berdasarkan perbandingan harganya terhadap total harga bahan makanan yang dimasak rumahtangga yang bersangkutan dikurangi faktor koreksi 0.4. Konsumsi energi dan protein disajikan dalam bentuk perkapita dan per-Unit Konsumsi Kalori dan Unit Konsumsi Protein (per laki-laki dewasa). Hasil menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi energi perkapita pada tingkat nasional mendekati kebutuhan yang dianjurkan. Tetapi dalam per Unit Konsumsi Kalori sudah melampaui kebutuhan 2380 kilo kalori. Namun masih ada 4 provinsi dengan rata-rata konsumsi energi masih di bawah 2380 kilo kalori. Rata-rata di tingkat provinsi konsumsi energi rumahtangga di pedesaan lebih tinggi dari perkotaan. Pada tingkat nasional rata-rata konsumsi protein sudah mencapai kebutuhan. Berbeda dengan konsumsi energi rata-rata konsumsi protein rumahtangga di perkotaan relatif lebih tinggi dari rumahtangga pedesaan. Namun hasil ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati.